• Tidak ada hasil yang ditemukan

Profesi Advokat

Dalam dokumen Etika Profesi Hukum (Widodo (Z-Library) (Halaman 143-155)

PROFESI

6.3 TANGGUNG JAWAB PROFESI

6.3.2 Profesi Advokat

seorang hakim dalam menjalankan profesinya. Dari hati nurani seorang hakim merupakan sandaran dan harapan terakhir bagi pencari keadilan.

Untuk mendekatkan hukum pada keadilan diperlukan hakim manusia yang memutus tidak hanya berdasarkan peraturan dan logika hukum semata melainkan juga kepekaan nurani.

Hipotesisnya, berhukum dengan nurani akan menghasilkan kualitas putusan hukum yang berbeda dibandingkan yang be- kerja hanya berdasarkan bunyi teks peraturan semata. Dalam kasus-kasus yang dilematis (hard cases), seperti kasus Prita dan Baiq Nuril (kasus ITE), jika perkara itu ditangani dengan hati nurani atau tanpa nurani, mempunyai derajat kualitas keadilan yang berbeda dalam putusannya.

masih belia dan umurnya sekitar 15 tahun. Caius diadili karena dituduh menikam mata ayahnya hingga mati. Persidangan itu tentunya menarik perhatian warga Romawi. Cicero saat itu bertindak sebagai pedarius, jenjang sebelum praetor. Namun, Cicero tetap bertekad membela anak muda tersebut. Jika Cicero gagal membela dan tidak bisa memberi keyakinan kepada juri, anak muda itu akan dihukum bersalah. Hukumannya pun sangat kejam, yakni ditelanjangi dan dihukum cambuk hingga berdarah.

Lalu dimasukkan ke kurungan yang di dalamnya berisi anjing dan ular berbisa. Lalu dikurung dan dijahit rapat kemudian di- lemparkan ke sungai Tiberias. Begitulah model hukuman di era Romawi kala itu.122

Saat itu pun Cicero membuat gebrakan dalam pembelaan- nya. Cicero berpanjang lebar menyampaikan alibi bahwa anak muda Romawi itu tak bersalah, karena anak tersebut sebenarnya difitnah. Pembelaan Cicero tersebut ternyata mengguncang Ro- mawi. Jagad imperium itu terkesima. Enam ratus anggota Senat, terperangah dengan gaya pembelaan Cicero. Kepiawaian men- gajukan pertanyaan-pertanyaan yang kritis dan argumentasi hukum, Cicero berhasil membebaskan anak muda itu dari huku- man.123 Namun, kisah kehebatan Cicero bukan tanpa lawan. Ci- cero sebagai pembela juga pernah dikalahkan oleh praetor lain, yakni Julius Caesar. Meski kita ragu, apakah persidangan masa itu fair, karena ia putera mahkota yang kemudian didaulat men- jadi Kaisar Romawi. Caesar mengalahkan Cicero dalam kasus

‘Conspiracy of Catiline’ yang merupakan kasus politik, sebuah upaya kudeta terhadap kaisar Romawi.124

Advokat bisa belajar dari kisah klasik Cicero yang telah mempertontonkan bagaimana menjadi praetor yang mulia.

122 Robert S. Broughton, The Magistrates of the Roman Republic, (New York: American Philological Association, 1951), hlm. 102.

123 James M. May, Cicero: How to Win an Argument, diterjemahkan oleh Y. D Anugrah- bayu, (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2021), hlm. 52.

124 Michael Grant, Cicero: Murder Trials, (New York: Penguin, 1975), hlm. 29.

PRENADAMEDIA

Tugas dari seorang praetor yang kini bisa disamakan dengan profesi advokat. Pertama, menjaga hukum agar tetap berjalan dan dipatuhi. Kedua, menjaga marwah profesi. Ketiga, menjaga setiap orang Romawi cinta akan negerinya karena keberadaban bisa terjaga tanpa takut akan ketertindasan dari sang pengua- sa. Praetor tak bertugas membebaskan orang yang bersalah.

Namun, menjaga agar orang yang bersalah itu diberikan sanksi sesuai dengan koridor kesalahannya.

Meski zaman sekarang jauh berbeda, tetapi spirit dasarnya masih relevan. Lantas, apakah tanggung jawab untuk menegakkan hukum dan menjaga kewibawaan hukum masih tetap dapat kita lihat dalam diri advokat?

Sebagaimana kita ketahui, di dunia praktik, kemahiran hu- kum bagi seorang advokat sangat penting. Menurut advokat senior, seorang advokat harus piawai berdebat, mampu meya- kinkan hakim dengan alat-alat bukti serta argumentasi hukum, akan mampu membuat sebuah kasus atau proses peradilan se- suai dengan yang diinginkan. Hanya saja, tak banyak orang yang mempunyai kemampuan seperti ini karena satu dan lain hal. Nah, oleh karenanya kemudian jasa pengacara sangat dibutuhkan.125

Itulah yang membuat kantor-kantor advokat, terutama di kota-kota besar dikenal sangat komersial. Meski tarifnya tinggi, klien-klien yang berurusan dengan hukum sering kali tak terlalu memikirkan jumlah uang yang dikeluarkan. Yang penting mereka bisa memenangkan perkara dengan segala cara, sebagaimana contoh “permainan hukum” di bawah ini:

“Permainan Hukum”126

Seorang advokat membela A (klien) melawan C dalam perkara perdata jual beli tanah. Uniknya, A minta advokatnya untuk membuat pembelaan yang melemahkan posisi A agar nanti putusan hakim mengalahkan

125 Wawancara 28 Januari 2020.

126 Sumber: wawancara dengan advokat yang tidak mau disebut namanya mencerita- kan pengalamannya, 11 September 2021.

PRENADAMEDIA

dirinya. Posisi kasusnya, A menjual tanah bersertifikat kepada seorang spekulan B dengan harga yang telah disepakati. Tetapi, jual beli tanah antara A dan B hanya sebatas perikatan (Surat Perikatan Jual Beli/

SPJB) dihadapan PPAT, B tidak segera membuat Akte Jual Beli (AJB) dan melakukan balik nama karena menghindari pajak dan bermaksud menjual kembali tanah itu nanti apabila harganya lebih tinggi sehingga ada selisih laba. Ternyata, dikemudian hari A tahu bahwa ada seorang investor D mencari tanah dengan harga sangat tinggi karena terta­

rik tanah tersebut yang sebelumnya telah dijual A kepada B. A kemu­

dian bersekongkol dengan C, bekas pemilik asal tanah yang awalnya dahulu tanahnya dibeli A di bawah tangan agar menggugat dirinya (A) seolah—olah belum pernah terjadi jual beli antara A dan C. C kemudian menggugat A.

Sebagaimana cerita di muka, A meminta advokat agar membuat tan g­

kisan gugatan C yang sengaja dibuatkan celah hukum agar hakim yakin bahwa C adalah pemilik yang sesungguhnya atas tanah dan peralihan hak atas tanah tidak sah, sehingga A tidak berhak atas tanah tersebut dan terbitnya sertifikat atas nama A cacat prosedur. Harapannya, jika A kalah maka implikasinya jual beli antara A dan B tidak mempunyai kekuatan hukum, apalagi hanya sebatas akte perikatan jual beli ta­

nah antara A dan B. Advokat tahu bahwa tujuan persekongkolan itu, nantinya tanah sengketa apabila dimenangkan oleh C, maka akan dijual oleh C dan A kepada investor D. Meski advokat tahu, karena dibayar mahal, ia tetap meneruskan mendampingi kliennya di pengadilan se­

bagaimana skenario kliennya.

Anda bisa membayangkan, bagaimana “permainan kotor”

itu bagai rayap yang merusak rumah pengadilan. Tentu, “per- mainan” itu tidak bisa digeneralisasi kepada semua advokat.

Meski jumlahnya tidak banyak, sebagian advokat mengabdikan diri melakukan advokasi tanpa berorientasi profit di antaranya dalam kasus Pabrik Semen vs Rakyat di Kendeng Pati dan Rem- bang, kasus Nuril di Lombok, kasus Joki Anak di Sumbawa, me reka menjadi pembela rakyat tanpa menghiraukan berapa harus dibayar. Advokat-advokat muda yang mendampingi ma- syarakat itu Asfinawati, Isnur, Zaenal, Yogi, Rahmah, Badar, Yan

PRENADAMEDIA

Mangandar, Eri adalah advokat yang “bertelanjang kaki” (bare- foot lawyer) mendampingi rakyat dalam kasus penggusuran dan perusakan lingkungan oleh perusahaan tambang dengan ber- bagai risiko. Mereka mengabdikan waktu, pikiran dan tenaga un - tuk melakukan advokasi kaum papa berhadapan dengan pemo- dal raksasa yang berkolaborasi dengan penguasa.

Ada advokat Handoko Wibowo di kota kecil Batang – Ja- wa Tengah, yang memilih mengabdikan ilmu hukumnya untuk melakukan advokasi kasus-kasus penggusuran lahan petani tan pa berorientasi bayaran. Handoko mengorganisasi ribuan pe tani dalam wadah organisasi tani “Omah Tani”. Sebelumnya lahan petani-petani itu dirampas tanahnya oleh “investor hitam”, sekarang balik melakukan reclaiming. Atas kegigihannya, Handoko dianugerahi penghargaan Yap Thiam Hien Award di Museum Nasional, Jakarta, Rabu, 20 Januari 2016.127

Belum lama ini sejumlah advokat dan kantor-kantor hukum menerima penghargaan Hukumonline Award. Mereka dino bat- kan sebagai Pro Bono Champions 2019 untuk dedikasi menu- naikan pro bono (layanan jasa hukum gratis) bagi kalangan mar- ginal. Mendiang advokat kenamaan Trimoelja D. Soerjadi yang membela kasus Buruh Marsinah juga dinobatkan penghargaan khusus untuk Lifetime Achievement pada Hukumonline Award tahun 2019. Advokat David Tobing mendapat penghargaan se- bagai “The Most In The Field of Pro Bono Litigation”.128

Advokat-advokat tersebut patut menjadi teladan. Kehidupan advokat memang tidak selalu hitam-putih, sebagaimana to koh dalam sinetron. Luthfi Yazid advokat dan konsultan dengan tarif tinggi dengan klien perusahaan besar, tapi juga mendam- pingi korban kasus penipuan berkedok umrah tanpa dibayar.

127 Pengamatan dan wawancara dengan petani Batang, Jawa Tengah 21 – 23 Januari 2016.

128 Hukum Online, Ini Dia Para Juara Hukum Online Award Pro Bono Champions, 2019, diakses melalui https://www.hukumonline.com/berita/baca/lt5df103d90cb83/

ini-dia-para-juara-hukumonline-award-pro-bono-champions-2019/.

PRENADAMEDIA

Luthfi juga membantu membiayai calon advokat muda yang tidak mampu membayar Pendidikan Khusus Profesi Advokat dengan janji jika nanti berpraktik sebagai advokat harus menjaga integritas.129

Advokat menyandang “Officium” yang berarti jasa, kesediaan menolong atau kesediaan melayani. Sementara “Nobilis” merujuk pada konsep yang luhur dan mulia.

Sebagai profesi yang mulia, itulah mengapa seorang advokat tidak boleh mengiklankan dirinya sebagaimana jasa-jasa yang lain. Akan tetapi seperti telah diuraikan sebelumnya bahwa telah terjadi pergeseran semangat profesi dari yang awalnya ber si- fat pro bono130 menjadi pro lucro.131 Namun dalam perjalanan nya, profesi ini mendapat nilai yang buruk dari masyarakat. Advokat dianggap profesi yang identik dengan uang-bayaran. “Maju tak gentar membela yang bayar”.

Adapun Raison d’etre mengapa advokat menurut kode etik dilarang menawarkan diri adalah, karena advokat merupakan profesi yang mulia (officium nobile), sehingga tidak etis menja- jakan diri atau menawar-nawarkan diri langsung pada orang yang berperkara atau melalui perantara. Oleh karena itu, setiap advokat harus menjaga citra dan martabat kehormatan profesi, serta setia dan menjunjung tinggi Kode Etik dan Sumpah Pro fesi.

Larangan untuk mengiklankan diri tersebut termuat dalam Pasal 8 huruf b Kode Etik Advokat Indonesia (KEAI) Tahun 2002 yang menyebutkan bahwa, “Pemasangan iklan semata- mata untuk menarik perhatian orang adalah dilarang termasuk pemasangan papan nama dengan ukuran dan atau bentuk yang berlebih-lebihan”. Bahkan Pasal 9 ayat (6) Kode Etik Bersama IKADIN, AAI, dan IPHI Tahun 1996 sebagai cikal bakal KEAI lebih

129 Wawancara dengan sejumlah advokat muda, 11 Januari 2021.

130 Pro Bono adalah suatu perbuatan atau pelayanan hukum yang dilakukan untuk ke- pentingan umum atau pihak yang tidak mampu tanpa dipungut biaya atau keuntungan.

131 Pro Lucro merupakan perbuatan atau pelayanan hukum yang dilakukan untuk ke- pentingan umum atau pihak tertentu dengan memungut biaya atau keuntungan.

PRENADAMEDIA

tegas lagi dengan menyebutkan, “Advokat/Penasihat Hukum harus menunggu permintaan dari klien dan tidak boleh mena- warkan jasanya, baik langsung maupun tidak langsung, misalnya dengan melalui orang-orang perantara”.

Dalam konteks etis, advokat sifatnya pasif menunggu. Klien- lah yang datang padanya untuk meminta pertolongan. Atas da- sar permintaan klien itu, seorang advokat mempertimbangkan apakah kasusnya memiliki dasar hukum untuk ditangani dan apa kah ia memiliki keahlian untuk mengurus perkara tersebut.

Terhormat atau nobilis-nya profesi advokat adalah terle- tak pada bagaimana ia memberikan jasa dan membantu klien berpegang pada prinsip kemanusiaan dengan tidak memper- dulikan latar belakang klien yang dibelanya. Untuk itu balasan yang diterima oleh advokat justru diistilahkan dengan “honor”

bukan “bayaran”. Honor (bahasa Inggris) bermakna “kehor mat- an”132 merujuk pada penghargaan atas profesi yang melekat pada diri advokat.

Sebagaimana telah disinggung dalam pembahasan sebelum- nya bahwa istilah profesi yang dalam bahasa Latin “professues

semula memiliki arti suatu acara manusia atau pekerjaan insan yang dikaitkan dengan sumpah suci. Sehingga atas dasar sum- pah itulah seorang advokat mesti menjalankan profesi dengan penuh tanggung jawab dan memegang nilai luhur yang terta nam dalam diri profesi itu sendiri (Lebih jelasnya lihat kembali Bab IV mengenai Profesi).

Dilekatkannya istilah “honor” dan bukannya “bayaran” pada diri profesi dikarenakan profesi berbeda dengan pekerjaan umum nya. Dalam pandangannya Brandeis, agar pekerjaan da- pat disebut profesi, maka harus tercermin dukungan-dukungan tertentu dalam pekerjaan tersebut, yakni:133

132 Menurut Kamus Bahasa Inggris terjemahan Indonesia, honor berarti memuja, meng hargai, menghormati, kebesaran, kemuliaan, dan kemurnian.

133 Brandeis dalam Liliana Tedjosaputro, Etika Profesi Notaris dalam Penegakan

PRENADAMEDIA

1. Ciri-ciri pengetahuan (intellectual character);

2. Diabdikan untuk kepentingan orang lain;

3. Keberhasilan tersebut bukan didasarkan pada keuntungan finansial;

4. Didukung oleh adanya organisasi (association) profesi, dan organisasi profesi tersebut antara lain menentukan ber- bagai ketentuan yang merupakan kode etik, serta pula ber- tanggung jawab dalam memajukan dan menyebarkan profesi yang bersangkutan; dan

5. Ditentukan adanya standar kualifikasi profesi.

Berdasarkan pandangan di atas, menunjukkan bahwa pro- fesi advokat adalah pekerjaan yang membutuhkan persyaratan- persyaratan tertentu. Hal ini yang membedakannya dengan pe- kerjaan pada umumnya. Sebagaimana halnya yang disampaikan oleh Clyde Kluckhohn dan Florence Kluckhohn, terdapat nilai- nilai budaya yang memandang kerja itu sekadar untuk meme- nu hi nafkah hidup, meskipun ada juga yang memandang kerja merupakan upaya menggapai kedudukan dan kehormatan.134 Apabila dikaitkan dengan pandangan Brandeis di atas, maka di- dapatkan perbedaan bahwa profesi merupakan suatu konsep yang lebih spesifik daripada pekerjaan umumnya.

Dari uraian di atas yang ingin saya sampaikan dalam kait- an nya dengan advokat sebagai profesi yang mulia atau ter- hor mat (officium nobile), sebagai penyandang profesi, maka pe kerjaannya diabdikan untuk kepentingan orang lain. Keberha- sil an dalam menjalankan profesi bukan didasarkan pada keun- tungan finansial. Itulah mengapa seorang advokat tidak boleh mengiklankan dirinya.

Hukum Pidana, (Yogyakarta: Bigraf Publishing, 1995), hlm. 33.

134 Clyde Kluckhohn dan Florence Kluckhohn dalam Shidarta, Moralitas Profesi Hu­

kum: Suatu Tawaran Kerangka Berpikir, (Bandung: PT Refika Aditama, 2006), hlm. 99.

PRENADAMEDIA

Penegakan terhadap kode etik advokat, khususnya ber- kaitan dengan larangan untuk mengiklankan diri di tengah per- kembangan teknologi saat ini sangat sulit untuk dilakukan. Iklan, promosi dan marketing dilarang kode etik karena dikha watirkan profesi makin mengomoditikan dirinya, sehingga hilang spirit pengabdian dan pelayanan kepada publik dan cenderung me- nguat orientasi bisnisnya.

Tetapi di sisi lain, di zaman internet penyebarluasan informasi profesi juga membuat masyarakat jadi mengetahui akan layanan hukum yang terdekat dan yang terbaik. Harapannya, masyara- kat mengetahui mana profil praktisi hukum yang sesuai dengan kebutuhan hukum mereka. Di mana advokat di wilayah terde- kat? Mana advokat yang berkualitas dengan melihat ulasan dan bintang? Bagaimana memilih jasa hukum yang profesional dan berkualitas untuk menghindari oknum yang hanya menyedot uang masyarakat pencari keadilan tanpa kepastian ujung kasus.

Masyarakat sekarang memerlukan kepraktisan dalam sega- la hal, termasuk dalam mencari jasa hukum yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Dengan kemudahan internet, semua seha- rusnya dapat dilakukan dengan genggaman tangan. Orang yang makin pragmatis mungkin akan berpikir, alangkah lebih baik jika kita dapat mencari jasa advokat melalui gawai kita, sesuai de- ngan profil yang cocok dengan kebutuhan. Bukan hanya sekadar memilih advokat secara acak tanpa mengetahui bagaimana per- forma mereka. Ibaratnya, masak kalah sama memilih driver ojek online yang bisa dilihat performanya dari bintangnya? Atau me- lihat online shop dari rating dan testimoninya. Masyarakat yang memiliki masalah hukum, sepertinya akan lebih terbantu ketika sedang berselancar di internet lalu menemukan informasi jasa advokat atau notaris.

Sementara terkait penegakan kode etik advokat, tampak- nya makin rumit mengingat advokat-advokat di Indonesia tidak berada di bawah satu rumah organisasi advokat. Hal itu diakui

PRENADAMEDIA

Vice President Kongres Advokat Indonesia (KAI) TM Luthfi Yazid, sebagai berikut:

“Untuk advokat­advokat yang mengiklankan diri melalui berbagai platform memang saat ini masih cukup sulit untuk dilakukan penegakan, terlebih dengan banyaknya organisasi advokat, sehingga pengawasan pun juga sangat minim. Di samping itu, meskipun semua organisasi advokat mengacu pada kode etik yang sama, namun penegakannya dikembalikan ke masing­masing organisasi advokat. Sehingga, apabila ada advokat yang diberhentikan, advokat yang bersangkutan bisa pindah ke organisasi advokat yang lain. Hal inilah yang menurut saya masih menjadi kelemahan, dan perlu adanya regulasi yang jelas terkait dengan penegakan kode etik profesi advokat agar jangan sampai ada advokat yang bisa seenaknya masuk ke organisasi yang lain ketika diberhentikan”.135

Hal senada juga disampaikan oleh Sekretaris Komisi Peng- awas Peradi, Victor Nadapdap dalam kasus pemberhentian salah seorang karena alasan integritas, sebagai berikut:

“Seharusnya jika sudah diberhentikan dari advokat tidak bisa berprak­

tik lagi. Tapi dengan banyaknya organisasi advokat berdasarkan surat ketua MA N.o 73 Tahun 2015 maka jika diberhentikan dari Peradi masih memungkinkan praktik dengan pindah organisasi. Ini salah satu yang kita khawatirkan jika organisasi advokat banyak.”136

Dari pendapat para praktisi hukum, Luthfi Yazid dan Victor Nadapdap tersebut, menunjukkan bahwa UU Advokat saat ini belum komprehensif mengatur segala hal mengenai advokat. Salah satunya adalah belum adanya aturan tertentu terkait syarat-syarat kembalinya seorang advokat untuk dapat berpraktik setelah menjalani hukuman atau apabila yang ber- sangkutan diberhentikan.

135 Hasil wawancara dengan TM Luthfi Yazid selaku Vice President Kongres Advokat Indonesia melalui telpon WhatsApp, tanggal 21 Oktober 2022.

136 Desyinta Nuraini, “Langgar Kode Etik Advokat, Fredrich Yunadi Diberhenti- kan”, 2018, diakses melalui https://www.jawapos.com/nasional/hukum-kriminal/04/

02/2018/langgar-kode-etik-advokat-fredrich-yunadi-diberhentikan/.

PRENADAMEDIA

Tidak dikenalnya definisi dan syarat-syarat kembalinya se orang advokat berpraktik setelah menjalani hukuman pem- berhentian tetap, tentu terlihat sangat kontras apabila kita ban- dingkan dengan negara lain yang telah memiliki aturan yang jelas mengenai hal tersebut, contohnya Amerika Serikat.

Sebagai perbandingan, merujuk pada Poin 2.3 American Bar Association Standards for Imposing Lawyer Sanctions, As Approved, February 1986, And as Amended, February 1992 (Standards for Imposing Lawyer Sanctions), Suspension ada lah “Suspension is the removal of a lawyer from the practice of law for a specified minimum period of time.” Adapun meru- juk kepada Poin 2.2 Standards for Imposing Lawyer Sanc- tions, Disbarment adalah: “Disbarment terminates the indivi- dual’s status as a lawyer.”137

Keputusan Suspension dan Disbarment dijatuhkan oleh pengadilan setelah melalui berbagai tahapan dan persyaratan dalam perundang-undangan dan peraturan lain yang dimiliki oleh negara tersebut. Dalam Poin 2.10 Standards for Imposing Lawyer Sanctions, dijabarkan bahwa “In jurisdictions where disbarment is not permanent, procedures should be established to allow a disbarred lawyer to apply for readmission. Procedures should be established to allow a suspended lawyer to apply for reinstatement.”

Amerika Serikat memberikan kesempatan bagi para ad- vo kat yang melakukan kesalahan dan dikenakan keputus an suspension/disbarment untuk kembali berpraktik me lalui ta- hap an Reinstatement/Readmission yang diatur di da lam Stan - dards for Imposing Lawyer Sanctions. Dengan ke ten tu an ini, maka seorang advokat dapat kembali berpraktik setelah men- jalani keputusan Suspension/Disbarment yang dite tap kan

137 Frans H. Winarta, “Menelusuri Nasib Advokat Setelah Diputus Melanggar Kode Etik”, 2021, diakses melalui https://www.kai.or.id/berita/19542/menelu- suri-nasib-advokat-setelah-diputus-melanggar-kode-etik.html.

PRENADAMEDIA

oleh Supreme Court. Institusi yang mengeluarkan keputusan sank si terhadap advokat adalah pengadilan berda sar kan Com- mentary Rule 10 Point A Model Rules for Lawyer Diciplinary Enforcement, sebagai berikut: “Since the court has exclusive responsibility to license lawyers, it has the sole authority to remove the license.”

Syarat–syarat secara formil maupun materiil yang harus dipenuhi dan pembuktian yang harus dilakukan dalam rang- ka Reinstatement/Readmission advokat bertujuan untuk men- jaga integritas dan kualitas advokat tersebut untuk dapat kembali lagi memberikan jasa hukum kepada masyarakat. Syarat-syarat tersebut dijabarkan jelas dalam Poin E.5 Rule 25 Model Rules for Lawyer Diciplinary Enforcement (American Bar Association), beberapa di antaranya adalah: (i) Advokat tidak terlibat atau berusaha untuk terlibat dalam praktik hukum yang tidak sah selama periode penangguhan atau pemberhentian, (ii) Advokat mengakui kesalahan dan keseriusan tindakan buruk yang menyebabkan advokat ditangguhkan atau diberhentikan, (iii) Advokat tidak terlibat dalam pelanggaran profesional lainnya sejak penangguhan atau pemberhentian, (iv) seorang advokat yang telah diberhentikan harus lulus ujian advokat dan ujian karakter dan kelayakan, (v) dan lain-lain.

Terkait aturan penjatuhan sanksi seperti Suspension/

Disbarment serta aturan mengenai Reinstatement/Readmis- sion yang sama sekali belum diatur di dalam UU Advokat se- harusnya bisa dimasukkan ke dalam RUU Advokat yang hingga kini belum juga disahkan. Tujuannya, selain menghindari ada- nya ketidakseragaman pendapat mengenai apakah seorang ad- vokat bisa kembali mendapatkan keanggotaannya setelah di- ber hentikan dan dapat dipulihkan atau diterima kembali ke da lam organisasi advokat tempatnya bernaung tanpa harus ber- pindah-pindah keanggotaan ke organisasi advokat lainnya un-

PRENADAMEDIA

tuk menghindar dari stigma buruk yang diemban akibat per nah melakukan pelanggaran kode etik profesi advokat.

Untuk konteks Indonesia yang organisasi advokatnya ter- pecah menjadi banyak organisasi, apakah keterlibatan negara atau lembaga peradilan dibutuhkan dalam hal pengawasan dan/

atau penjatuhan sanksi putusan pemberhentian advokat, atau cukup diserahkan kepada organisasi-organisasi advokat yang terpecah dan jumlahnya begitu banyak?

Dalam dokumen Etika Profesi Hukum (Widodo (Z-Library) (Halaman 143-155)