• Tidak ada hasil yang ditemukan

SPIRIT PROFESI

Dalam dokumen Etika Profesi Hukum (Widodo (Z-Library) (Halaman 118-125)

PROFESI

6.1 SPIRIT PROFESI

Mengapa hakim, advokat, notaris, dokter harus disumpah, sementara tukang ojek yang memberikan jasa transportasi tidak disumpah? Mengapa profesi harus disumpah adapun pekerjaan umumnya tidak perlu disumpah? Apa yang membedakan profesi dengan pekerjaan umum?

82 Burdju dipecat berdasarkan keputusan Jaksa Agung 25 Agustus 2008 dengan No- mor Surat Kepja No. KET-088/JA/08/08 tentang Pemberhentian Secara Tidak Hormat sebagai PNS.

PRENADAMEDIA

Kita perlu menelusuri makna moral profesi hingga spirit- nya, sehingga secara mendasar membedakan dengan pekerjaan umumnya. Pertanyaan-pertanyaan itu menuntut kita mengkaji apa itu profesi, serta menyelami bagaimana sejarah dan spiritnya sehingga membedakan dengan pekerjaan umumnya?

Kita sering mengucapkan kata profesi tanpa definisi yang jelas. Orang biasanya menyamakan profesi dengan pekerjaan bayaran. Saya meminta mahasiswa menyebutkan apa saja yang mereka anggap sebagai profesi. Biasanya mereka menyebut dokter, advokat, hakim, bahkan ada yang menyebut pembunuh bayaran sebagai profesi.

Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia kata “profesi”

berarti:83

“Bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian (dalam arti keterampilan atau kejuruan) tertentu”. Sementara kata sifat “profe­

sional” artinya: “a) bersangkutan dengan profesi, b) memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya (seorang juru masak pro­

fe sional), c) mengharuskan adanya pembayaran (dilawankan dengan amatir)”.

Saya percaya makna profesi tidak sedangkal sebagaimana diartikan sebagai orang yang mempunyai kepandaian khusus misalnya koki dan mengharuskan adanya pembayaran seba- gaimana arti dalam kamus tersebut. Atau, membedakan “pro fe- sional” dengan “amatir” sebagaimana petinju “profesional” yang mendapat bayaran tinggi adapun petinju “amatir” tidak.

Mengingat istilah profesi bukan berasal dari bahasa Indo- nesia, kita perlu menelusuri akar kata “profesi” baik secara se- mantik, spirit, dan sejarahnya. Profesi dalam bahasa Inggris

Profess” berasal bahasa Latin Abad Pertengahan “Professus” dan dalam bentuk past participleProfiteri” yang berarti “menyatakan secara terbuka, bersaksi secara sukarela, mengakui, membuat

83 Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga, (Jakarta: Balai Pustaka, 2001).

PRENADAMEDIA

pernyataan publik”.84

Ada yang menelusuri kata “profesi” awalnya berakar dari dari tradisi keagamaan “Professio Fidei” yang berarti “Pernyataan Iman”.85 Pada tahun 1675, makna “profesi” bergeser dari agama menjadi lebih sekuler, yakni diartikan “memiliki klaim atas kua- lifikasi yang layak.” Profesi sekuler pertama yang “memiliki klaim atas kualifikasi yang layak” adalah kedokteran dan advokat.86

Talcott Parsons membedakan antara bisnis dengan profe- sional. Orientasi bisnis mengejar laba atau keuntungan, seba- liknya kaum profesi tidak mengejar keuntungan pribadi, tetapi melakukan pelayanan kepada pasien atau kliennya, atau pada nilai-nilai pengembangan ilmu pengetahuan, sebagai berikut:

“…For the dominant keynote of the modern economic system is almost universally held to be the high degree of free play it gives to the pursuit of self­interest. It is the ‘acquisitive society,’ or the ‘profit system’ as two of the most common formulas run. But by contrast with business in this interpretation the professions are marked by ‘disinterestedness.’ The pro­

fessional man is not thought of as engaged in the pursuit of his personal profit, but in performing services to his patients or clients, or to impersonal values like the advancement of science.87

Roscoe Pound menegaskan profesi adalah “the term refers to a group … pursuing a learned art as a common calling in the spirit of a public serviceno less a public service because it may incidentally be a means of livelihood. The pursuit of learned art in the spirit of public service is primary purpose88

84 Online Etymology Dictionary, “Profess (v)”, https://www.etymonline.com/word/

profess

85 F. Budi Hardiman (Ed.), Filsafat untuk Para Profesional, (Jakarta: Kompas, 2016), hlm. 4.

86 JoAnne Brown, The Definition of A Profession, (New Jersey: Princeton University Press, 1992), hlm. 18.

87 Talcott Parsons, “The Professions and Social Structure,” Social Forces 17, No. 4 (May, 1939), hlm. 457-467.

88 Roscoe Pound, In the Spirit of Public Service: A Blue Print for Rekindling of Lawyer Professionalism, (Chicago: American Bar Association Comission on Professionalism, 1986), hlm. 10.

PRENADAMEDIA

Hakim Agung AS., Henry Frye, mengisahkan bagaimana sewaktu ia masih berprofesi sebagai pengacara, janda miskin datang kepadanya untuk meminta bantuan dengan surat wa- siatnya. Frye membantu perkara itu tanpa mempersoalkan ba- yaran. Sebagai pengacara, merupakan kewajibannya untuk mem beri pelayanan kepada orang-orang yang membutuhkan ke ahliannya. Kalaupun pelayanan profesi itu layak untuk men- dapat bayaran, itu bukan tujuan. Motivasi utama profesi hukum, adalah memberi pelayanan sesuai dengan keahliannya.

Meski Frye menyadari jika petuahnya itu sudah kuno, ber- seberangan dengan kehidupan “law firm” di AS, tetapi ia tetap harus mengatakan keutamaan profesi sebagai panggilan pela- yanan publik.

This is a little old fashioned, I suppose, but I think of a lawyer as being a person who is performing a service and that your primary interest ought to be in performing a service for someone, realizing that you need to be paid for your work, but that you’re working not just for the pay: you’re working because you want to perform a service. And whether that’s helping someone who needs to have a will drawn or handling their estate or advising them about various things or whether it’s representing a big corporation, or whatever it is, that the idea is service. Of course, the servant is worthy of his hire. But the emphasis ought to be placed on service; then the money is another thing.”89

Definisi Parson, Pound, dan Frye terlalu altruis sehingga seolah merangkai mimpi indah di atas awan. Terlebih lagi, ma- syarakat sekarang semakin komersial sehingga mungkin pen- dapat altruis atau idealis semacam itu agak sulit diterima secara umum.

Memang utopis, tapi jika kita kembali pada spirit profesi, justru spirit dan tanggung jawab etis itu yang membuat profesi hukum layak menyandang “officium nobile” (profesi bermarta-

89 Dikutip oleh Walter Bennett, The Lawyer’s Myth Reviving Ideals in The Legal Pro­

fession, (Chicago: The University of Chicago Press, Tt), 2001, hlm. 88-89.

PRENADAMEDIA

bat, terhormat). Sebagamana kita ketahui, di AS tempat Parson, Pound dan Frye lahir, sejak tahun 1970-an, pengadilan telah mencabut larangan bagi para pengacara untuk mengiklankan biaya dan jasa hukum atas dasar bahwa larangan semacam itu menghalangi kebebasan komersial.90 Sementara di Indonesia, kode etik advokat dan notaris melarang pemasangan iklan semata-mata untuk menarik perhatian dan mencari publisitas bagi diri advokat,91 meski kenyataannya kantor advokat dan notaris di Indonesia semakin komersial.

Ini salah satu tantangan etika profesi mengembalikan pada dasar spirit; sebuah panggilan untuk mengabdi pada kepentingan masyarakat sesuai dengan keilmuan dan keahlian yang dimiliki.

Tentu, tidak mungkin sepenuhnya melawan arus zaman yang semakin komersial dan kapitalistik. Tapi, tetap harus ditemukan sintesisnya, bahwa keahlian dan pengabdian diri tidak boleh dipisahkan!

Pada umumnya orang berpendapat bahwa pekerjaan disa- makan dengan profesi, sehingga bekerja sama dengan berprofe- si. Pekerjaan tidak sama dengan profesi, untuk itu Soetandyo menjelaskan bahwa profesi pada hakikatnya adalah suatu la- pangan pekerjaan yang berkualifikasi yang menuntut syarat keahlian tinggi kepada para pengemban dan pelaksananya.

Se lanjutnya Soetandyo menjelaskan bahwa kriteria utama un- tuk mengkualifikasi suatu pekerjaan sebagai profesi sebagai berikut:92

90 Bates v. State Bar of Arizona, 443 US 350 (1976).

91 Sebagai contoh Pasal 8 huruf (b) Kode Etik Advokat Indonesia berbunyi Pemasangan iklan semata-mata untuk menarik perhatian orang adalah dilarang termasuk pemasangan papan nama dengan ukuran dan atau bentuk yang berlebih-lebihan. Begitu pula, Pasal 8 huruf (f) KEAI, Advokat tidak dibenarkan melalui media massa mencari publitas bagi dirinya dan atau untuk menarik perhatian masyarakat mengenai tindakan-tindakannya sebagai Advokat mengenai perkara yang sedang atau telah ditanganinya, kecuali apabila keterangan-keterangan yang ia berikan itu bertujuan untuk menegakkan prinsip-prinsip hukum yang wajib diperjuangkan oleh setiap Advokat.

92 Soetandyo Wignjosoebroto, Hukum: Paradigma, Metode dan Dinamika Masalahnya, (Jakarta: ELSAM dan HUMA, 2002), hlm. 316.

PRENADAMEDIA

Pertama, suatu profesi berbeda dengan pekerjaan karena pro fesi dilaksanakan atas dasar keahlian yang tinggi, dan ka- re na itu hanya dapat dimasuki oleh mereka yang telah menja- lani dan latihan teknis lanjut; sehubungan dengan hal itu setiap profesi pun selalu mengembangkan pranata dan lem ba- ga untuk menetapkan standar keahlian yang diperlukan untuk mengefektifkan jasa profesi, dan sekaligus juga menilai ke mam- puan individu-individu yang menjalani profesi itu (untuk men- jaga agar standar keahlian tetap terjaga).

Kedua, bahwa profesi itu mensyaratkan agar keahlian yang dipakainya selalu berkembang secara nalar dan dikembangkan dengan teratur seiring dengan kebutuhan masyarakat yang minta dilayani oleh profesi yang menguasai keahlian profesional itu; dengan demikian standar keahlian yang dituntut oleh profesi tidaklah statis dan konservatif, melainkan selalu dinamik dan progresif, berkembang sesuai dengan perkembangan masyarakat yang harus dilayani oleh profesi tersebut.

Ketiga, profesi itu selalu mengembangkan pranata dan lem- baga untuk mengontrol agar keahlian-keahlian profesional di- dayagunakan secara bertanggung jawab, bertolak dari iktikad pengabdian yang tulus dan tak berpamrih, dan dihajatkan untuk kepentingan publik.

Jika direlasikan dengan profesi di bidang hukum, maka di tuntut adanya (1) untuk menjadi anggota profesi hukum diten tukan standar kualifikasi profesi secara selektif, hal ini ber tujuan agar yang dapat menjadi anggotanya adalah orang- orang yang telah memenuhi standar profesi yakni tingkat pe- ngetahuan dan keahlian di bidang ilmu hukum; (2) pengetahu- an di bidang hukum tadi diabdikan untuk kepentingan publik atau masyarakat secara luas; (3) Motif utama profesi bukan se mata-mata mencari uang atau bayaran sebanyak-banyak- nya, melainkan panggilan untuk memberikan pelayanan sesuai dengan keahliannya. Mutu pelayanan seharusnya tidak boleh

PRENADAMEDIA

tergantung pada jumlah uang yang menjadi imbalannya. Tingkat keberhasilan tidak didasarkan pada keuntungan finansial akan tetapi didasarkan pada keberhasilan untuk memberikan man- faat bagi kehidupan masyarakat dalam rangka menghadirkan prinsip kemanusiaan, keadilan, kepatutan, dan kejujuran, (4) un tuk itu perlu didukung adanya wadah atau organisasi profesi hukum sebagai moral community yang senantiasa mengontrol agar keahlian-keahlian profesional didayagunakan secara ber- tang gung jawab, memastikan para pengemban profesi agar me laksanakan perannya sesuai dengan tujuan profesi, sehu- bungan itu diperlukan adanya lembaga dan pranata yang ber- wi bawa sehingga kemerosotan profesi dapat dihindari atau di minimalisasikan, (5) pranata yang demikian ini diwujudkan dalam kode etik profesi hukum. Kode etik semacam pedoman bagi suatu profesi dan sekaligus menjamin mutu moral profesi di mata masyarakat. Untuk menegakkan kode etik, dibutuhkan adanya lembaga yang memiliki kewenangan sekaligus memiliki wibawa untuk melakukan pengawasan sekaligus memberikan sanksi bila ada pelanggaran kode etik profesi hukum.

Profesi hukum, misalnya advokat, ada organisasi yang me- naungi, sistem pendidikan yang harus ditempuh, lisensi yang ketat, sanksi hukum bagi praktik tanpa lisensi, kode etik, dan sumpah.

Profesi itu eksklusif, sehingga tidak semua orang bisa berada di dalamnya, dan itulah yang membedakan dirinya dengan pe- kerjaan pada umumnya. Profesi pasti adalah pekerjaan tapi tidak semua pekerjaan adalah profesi. Ia mempunyai sistem pen- didikan dan keahlian yang tertutup bagi orang lain.93 Seorang profesional itu harus memiliki keahlian yang berkualitas tinggi yang dicapai melalui proses pendidikan dan/atau pelatihan yang panjang. Kerja seorang profesional—diukur dengan kualitas

93 K. Bertens, Keprihatinan Moral Telaah Atas Masalah Etika, Op. cit., hlm. 280.

PRENADAMEDIA

teknis dan kualitas moral—harus menundukkan diri pada sebuah me ka nisme kontrol berupa kode etik yang dikembangkan dan di sepakati bersama didalam sebuah organisasi profesi. Dengan keahlian saja dari pendidikan, belum cukup menyatakan suatu pekerjaan disebut profesi. Itulah mengapa seorang profesional itu diwajibkan berikrar atau bersumpah untuk merealisasikan kebajikan demi tegaknya kehormatan profesi yang digeluti.

Itu pula mengapa tidak semua orang tiba-tiba bisa menjadi advokat, hakim, jaksa, notaris. Seorang sarjana hukum, meski telah melewati masa pendidikan dan magang yang cukup pan- jang hingga mempunyai keahlian hukum, masih belum boleh beracara di pengadilan sebelum disumpah atau berikrar. Seorang calon hakim, calon jaksa penuntut umum, calon advokat, calon notaris masih harus melewati satu tahap yang paling sakral, yakni sumpah. Perlu ditekankan bahwa sumpah profesi itu bukan prosedur atau tahapan yang harus dipenuhi agar bisa berpraktik, melainkan ia adalah spirit dasar profesi yang harus dipegang teguh oleh setiap profesi hukum dalam menjalankan praktiknya.

Dalam dokumen Etika Profesi Hukum (Widodo (Z-Library) (Halaman 118-125)