• Tidak ada hasil yang ditemukan

Profesi Notaris

Dalam dokumen Etika Profesi Hukum (Widodo (Z-Library) (Halaman 160-165)

PROFESI

6.3 TANGGUNG JAWAB PROFESI

6.3.4 Profesi Notaris

dalam dugaan kasus suap dan korupsi. Bersama staf ahlinya, ia biasa bekerja hingga pukul 23.00 setiap hari.144 Untuk konteks integritas profesi hukum Jaksa di Indonesia, apakah merupakan masalah sistem atau individu?

Notaris adalah salah satu profesi yang menjalankan pe- layanan hukum kepada masyarakat luas, ia memiliki tanggung jawab terkait dengan alat bukti autentik berupa surat-surat, akta-akta maupun dokumen yang dibuatnya secara tertulis atas berbagai perbuatan hukum. Posisi notaris sangat penting dalam membantu menciptakan kepastian dan perlindungan hukum bagi masyarakat. Notaris sebagai bagian dari profesi hu- kum yang tidak hanya menyangkut amanat kepercayaan yang berkaitan dengan kepentingan individu (private trust), tetapi juga menyangkut kepentingan umum (public trust), maka notaris memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan profesinya dengan penuh kejujuran dan mengedepankan nilai-nilai moral.148

Apabila profesi hukum seperti hakim, advokat, dan juga jaksa harus menjalankan profesinya dengan penuh tanggung jawab dan mengedepankan nilai-nilai moral, lantas mengapa notaris juga harus demikian? Di sinilah etika mengambil bagian untuk menjelaskan mengapa notaris harus menjalankan profesinya dengan penuh tanggung jawab.

Notaris juga disebut sebagai pejabat mulia oleh karena pro- fesi notaris sangat erat hubungannya dengan kemanusiaan. Ak- ta yang dibuat oleh notaris dapat menjadi alas hukum atas sta- tus harta benda, hak dan kewajiban seseorang. Kekeliruan atas akta yang dibuat notaris dapat menyebabkan tercabutnya hak seseorang atau terbebaninya seseorang atas suatu kewajiban.149 Selain itu, notaris dalam menjalankan kewenangan jabatannya dipandang sebagai seseorang yang diberi amanah oleh para pihak dan keterangan-keterangannya dapat diandalkan serta dapat dipercayai yang tanda tangannya serta segel memberi jamin- an dan bukti kuat dalam akta autentik yang dibuatnya.150 Dalam

148 Suhrawardi K. Lubis, Etika Profesi Hukum, (Jakarta: Sinar Grafika, 2008), hlm. ix.

149 Anshori, A.G., Lembaga Kenotariatan Indonesia, Perspektif Hukum dan Etika, (Yog- yakarta: UII Press, 2009), hlm. 28.

150 Maria S.W. Sumardjono, Kebijakan Pertanahan Antara Regulasi dan Implementasi, (Jakarta: Kompas, 2001), hlm. 14.

PRENADAMEDIA

menjalankan jabatannya tersebut, notaris harus mematuhi se- luruh kaidah moral yang telah hidup dan berkembang di ma- syarakat. Selain dari adanya tanggung jawab dan etika profesi, adanya moral yang baik merupakan syarat penting yang harus dimiliki seorang notaris, karena tanggung jawab dan etika profesi mempunyai hubungan yang erat dengan integritas dan moral.

Oleh karena itu, seorang notaris dalam melaksanakan ja- batannya harus dijiwai sikap etis tertentu yaitu yang dijiwai etika profesi notaris. Salah satu ungkapan latin yang tidak asing bagi kita adalah, “Bonum communae bono privato praeferri debet”. Ka- limat yang patut untuk kita refleksikan dalam rangka menjalan- kan hukum, khususnya profesi hukum seperti notaris.

Keluhuran profesi notaris tidak bisa diraih hanya dengan slogan. Sebab, profesi luhur dari notaris adalah terkait dengan pelayanan yang terikat pada kebutuhan-kebutuhan praktis ma- syarakat. Dengan kata lain, keluhuran profesi ini akan diuji lang- sung oleh masyarakat melalui pengalaman-pengalaman kon kret ketika memberi pelayanan. Lulus tidaknya mereka da lam ujian tersebut sangat menentukan layak tidaknya profesi notaris tetap disebut sebagai profesi luhur.

Notaris dalam menjalankan tanggung jawabnya memiliki kewajiban untuk bertindak jujur, saksama, mandiri, tidak ber- pihak, dan menjaga kepentingan pihak yang terkait dalam per- buatan hukum. Bahkan kewajiban tersebut juga dirumuskan me- lalui ketentuan Pasal 16 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris. Lantas pertanyaannya adalah mengapa notaris wajib untuk jujur, mandiri, dan tidak berpihak? Kewaji- ban tersebut tidak lepas dari kondisi di mana seorang notaris terkadang memiliki kedekatan emosional dengan para pihak (klien). Kedekatan emosional tersebut dalam praktiknya mem- berikan celah bagi notaris untuk menyalahgunakan kewenangan atau menjadi kurang hati-hati dan teliti dalam membuat akta

PRENADAMEDIA

dari para pihak yang datang ke kantor notaris.151 Sebab, notaris/

PPAT sering berurusan dan menerima berkas (klien) dari sau- dara, teman, maupun sahabat baik bahkan sudah menjadi lang- ganan selama bertahun-tahun dan keluar masuk kantor notaris dengan biasanya.

Terkait penegakkan kode etik, pengawasan terhadap notaris meliputi pengawasan perilaku notaris dan pelaksanaan jabatan Notaris.152 Pengawasan tersebut berlaku juga bagi Notaris Peng- ganti dan Pejabat Sementara Notaris.153

Majelis Pengawas Daerah (MPD) yang dibentuk di setiap kabupaten/kota melakukan pengawasan secara berkala 6 bu- lan sekali dengan melakukan pemerikasaan protokol No taris, memberikan izin cuti selama 6 bulan dan pemeriksaan ada- nya laporan atau pengaduan dari masyarakat terhadap Nota- ris. Apabila ada pengaduan dari masyarakat terhadap Notaris yang melakukan pelanggaran kode etik maupun pelanggaran Undang-Undang Jabatan Notaris, maka MPD berwenang me- nyelenggarakan sidang tertutup untuk umum. MPD akan me- meriksa dan mendengar keterangan pelapor, tanggapan terlapor, memeriksa bukti yang diajukan pelapor dan terlapor, kemudian hasil pemeriksaan dituangkan dalam Berita Acara pemeriksa- an (BAP) dan wajib diberikan kepada Majelis Pengawas Wilayah dalam waktu 30 hari dengan tembusan kepada notaris yang bersangkutan, pengurus Daerah Ikatan Notaris Indonesia dan Majelis Pengawas Pusat. MPD tidak berwenang membebankan penilaian pembuktian terhadap fakta-fakta hukum dan juga tanpa kewenangan untuk menjatuhkan sanksi.154

Majelis Pengawas Wilayah (MPW) berwenang memberikan

151 Agus Santoso, “Tindak Pidana Korupsi yang Dilakukan Notaris-PPAT dalam Menjalankan Kewenangan Jabatannya,” Jurnal Hukum dan Kenotariatan 4, no. 1 (2020), hlm. 67.

152 Pasal 67 ayat (3, 4 dan 5) UU No. 2 Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris.

153 Pasal 67 ayat (6) UU No. 2 Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris.

154 Pasal 69 UU No. 2 Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris.

PRENADAMEDIA

cuti untuk 6 bulan sampai 1 tahun. Berdasarkan BAP yang te- lah diberikan kepada MPW melalui MPD, MPW berwenang me- lakukan Sidang Pemeriksaan Tertutup untuk umum dan Sidang Pengambilan Keputusan yang terbuka untuk umum. Blla dalam sidang pemeriksaan MPW Notaris tidak terbukti melakukan pe- langgaran, maka laporan BAP ditolak dan Notaris direhabilitasi nama baiknya. Bila Notaris terbukti melanggar, putusan harus memuat alasan dan pertimbangan yang cukup yang dijadikan dasar untuk menjatuhkan putusan.155

MPW membuat berita acara atas setiap keputusan penja- tuhan sanksi, yang kemudian disampaikan kepada Menteri, pe- lapor, terlapor, MPD, MPP dan pengurus Pusat Ikatan Notaris Indonesia. Apabila Notaris terlapor keberatan alas putusan si- dang MPW, maka Notaris dapat mengajukan banding pada ting- kat Majelis Pengawas Pusat.

Majelis Pengawas Pusat (MPP) berwenang memberi cuti notaris untuk jangka waktu 1 tahun lebih. Menindaklanjuti No- taris yang melakukan banding yang disampaikan melalui MPW.

MPP juga wajib melakukan Sidang Pemeriksaan dan Sidang Pengambilan Putusan yang terbuka untuk umum.

Institusi penegak etika notaris berdasarkan Kode Etik notaris dilakukan pada tingkat kabupaten/kota oleh pengurus dae- rah dan dewan kehormatan daerah. Pada tingkat provinsi oleh pengurus wilayah dan dewan kehormatan wilayah, adapun pada tingkat nasional oleh pengurus pusat dan dewan kehormatan pusat.

Dewan kehormatan daerah, dewan kehormatan wilayah atau dewan kehormatan pusat dapat mencari fakta atas duga- an pelanggaran kode etik anggota perkumpulan atas prakarsa sendiri atau setelah menerima pengaduan secara tertulis dari anggota perkumpulan atau orang lain disertasi bukti-bukti

155 Suparman Marzuki, Etika dan Kode Etik Profesi Hukum, Op. cit., hlm. 226.

PRENADAMEDIA

yang meyakinkan bahwa telah terjadi dugaan pelanggaran kode etik oleh anggota perkumpulan. Secara normatif dan da lam praktiknya selama ini, pelanggaran ataupun penerimaan peng- aduan yang terlebih dahulu diperiksa oleh satu dewan kehor- matan, tidak boleh lagi diperiksa oleh dewan kehormatan lainnya.

Dalam dokumen Etika Profesi Hukum (Widodo (Z-Library) (Halaman 160-165)