MAKALAH
KONSEP MENSTRUASI DAN GANGGUAN MENSTRUASI
Disusun oleh:
1. Angga Dharmasaputra (231611007)
2. Annisa Xenoglosi Widyadhana J (231611008) 3. Ardhana Nafhan B (231611009)
4. Andri Nur Hidayat
Dosen Penilai : Ns. Luluk Eka Meylawati, M.kep Mata Kuliah : Keperawatan Maternitas
PRODI D III KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS DIRGANTARA MARSEKAL SURYADARMA TAHUN 2024/2025
KATA PENGANTAR
Segala Puji Bagi Allah SWT telah memberikan Rahmat dan Hidayah-Nya kepada kita semua.
Salam sejahtera semoga tetap senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah menuntun kita menuju jalan kebenaran.Alhamdulillah kami telah meyelesaikan tugas makalah ini yang berjudul “Konsep Menstruasi dan Gangguan Mesntruasi” tahun akademik 2024-2025.
Kami ucapkan terima kasih kepada dosen yang telah memberikan arahan dan bimbingannya dalam menyelesaikan makalah ini. Makalah ini tidak lepas dari segala kekurangan, karena mengingat pengalaman dan pengetahuan kami yang sangat terbatas, oleh karena itu kami tidak menutupi diri dari segala saran dan kritik dari pembaca untuk penyempurnakan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat berguna kepada para pembaca sekalian dan terlebih khusus kepada kami.
Jakarta, 12 Septermber 2024
Kelompok 6
DAFTAR ISI
COVER i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I PENDAHULUAN 4 A. Latar Belakang 4 B. Rumusan Masalah 4 C. Tujuan 4
BAB II PEMBAHASAN 5 1. Definisi Menstruasi 5.6 2. Siklus Menstruasi 6
3. Tanda dan Gejala Menstruasi 8 4. Siklus Menstruasi 8.9.11 BAB III PENUTUP 11
A. Kesimpulan 11 B. Saran 11
DAFTAR PUSTAKA 12
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di Indonesia, angka pembunuhan janin per tahun sudah mencapai 3 juta. Angka yang tidak sedikit mengingat besarnya tingkat kehamilan di Indonesia. Ada yang mengkategorikan aborsi itu pembunuhan. Namun ada juga yang melarang atas nama agama. Selain itu ada yang menyatakan bahwa bayi juga punya hak hidup sehingga harus dipertahankan, dan lain-lain. Aborsi merupakan
masalah kesehatan masyarakat karena memberikan dampak pada kesakitan dan kematian ibu.
Sebagaimana diketahui penyebab utama kematian ibu hamil dan melahirkan adalah perdarahan, infeksi dan eklampsia.Namun sebenarnya aborsi juga merupakan penyebab kematian ibu, hanya saja muncul dalam bentuk komplikasi perdarahan dan sepsis. Akan tetapi, kematian ibu yang disebabkan komplikasi aborsi sering tidak muncul dalam laporan kematian, tetapi dilaporkan sebagai perdarahan atau sepsis. Hal itu terjadi karena hingga saat ini aborsi masih merupakan masalah kontroversial di masyarakat. Di satu pihak aborsi dianggap ilegal dan dilarang oleh agama sehingga masyarakat cenderung menyembunyikan kejadian aborsi, di lain pihak aborsi terjadi di masyarakat. Ini terbukti dari berita yang ditulis di surat kabar tentang terjadinya aborsi di masyarakat, selain dengan mudahnya didapatkan jamu dan obat-obatan peluntur serta dukun pijat untuk mereka yang terlambat datang bulan.
Abortus merupakan salah satu masalah di dunia yang mempengaruhi kesehatan, kesakitan dan kematian ibu hamil. Abortus merupakan pengeluaran hasil konsepsi yang terjadi pada umur kehamilan < 20 minggu dan berat badan janin ≤ 500 gram. Dampak dari abortus jika tidak mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat akan menambah angka kematian ibu yang disebabkan oleh komplikasi dari abortus yaitu dapat terjadi perdarahan, perforasi, infeksi dan syok (Sujiyatini, 2009).Abortus dapat terjadi secara tidak sengaja maupun disengaja. Abortus yang berlangsung tanpa tindakan disebut abortus spontan, sedangkan abortus yang dilakukan dengan sengaja disebut abortus provokatus dan abortus yang terjadi berulang tiga kali secara berturut-turut disebut habitualis (Prawirohadjo, 2010).
Abortus adalah penghentian atau berakhirnya suatu kehamilan pada usia 20 minggu dan berat janin masih kurang dari 500 gr. Abortus merupakan salah satu masalah kesehatan “unsafe abortion” menimbulkan angka kesakitan dan kematian ibu yang tinggi. Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator keberhasilan layanan kesehatan di suatu Negara. (Sarwono. 2010).
Abortus imminens adalah peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu, dimana hasil konsepsi masih dalam uterus dan tanpa dilatasi serviks. Pada kondisi seperti ini, kehamilan masih mungkin berlanjut dan dipertahankan. (Khumaira. 2012).
Abortus imminens dapat berujung pada abortus inkomplet yang memiliki komplikasi yang dapat mengancam keselamatan ibu karena adanya perdarahan massif yang bisa menimbulkan kematian akibat adanya syok hipovolemik, apabila keadaan ini tidak mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat. Seorang ibu hamil yang mengalami abortus inkomplet dapat mengalami
guncangan psikis, tidak hanya pada ibu namun juga pada keluarganya, terutama pada keluarga yang sangat menginginkan anak. Sangat penting bagi para pelayan keseshatan untuk mengetahui lebih dalam tentang abortus iminens agar mampu menegakkan diagnosis dan kemudian memberikan penatalaksanaan yang sesuai dan akurat, serta mencegah komplikasi. (Dharma A.A Gde Kiki Sanjaya. 2015). Berdasarkan dari uraian data kasus abortus di atas, tampak terjadi peningkatan untuk kasus abortus iminens disetiap tahunnya.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimanakah asuhan keperawatan terhadap pasien Abortus Inkomplit?
1.3 Tujuan Penulisan 1.3.1 Tujuan Umum
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas terstruktur keperawatan maternitas dan untuk memberikan wawasan kepada mahasiswa/i tentang tindakan asuhan keperawatan pada pasien dengan Abortus Inkomplit.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Untuk melakukan pengkajian pada Ny. R dengan diagnose Abortus Inkomplit.
2. Untuk merumuskan diagnosa utama keperawatan pada Ny. R dengan diagnose Abortus Inkomplit Untuk merumuskan intervensi keperawatan terhadap Ny. R dengan diagnose Abortus Inkomplit
3. Untuk melakukan implementasi keperawatan terhadap Ny. R dengan diagnose Abortus Inkomplit
4. Untuk melakukan evaluasi keperawatan terhadap Ny. R dengan diagnose Abortus Inkomplit
BAB II
TINJAUAN TEORITIS 2.1 Konsep Dasar Medis
2.1.1 Defenisi Abortus Inkomplit
Keguguran adalah setiap kehamilan yang berakhir secara spontan sebelum janin dapat bertahan (Yulia, 2012).
Menurut Amru Sofian (2012) abortus merupakan pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar kandungan yang menurut para ahli ada sebelum usia 16 minggu dan 28 minggu dan memiliki BB 400-1000 gram, tetapi jika terdapat fetus hidup dibawah 400 gram itu dianggap keajaiban karena semakin tinggi BB anak waktu lahir makin besar kemungkinannya untuk dapat hidup terus.
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar kandungan. Sebagai batasan ialah kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram (Sarwono, 2014). Jadi dari beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa abortus merupakan pengeluaran hasil konsepsi pada kehamilan berumur kurang dari 20 minggu dengan berat janin kurang dari 500 gram.
2.1.2 Etiologi
Menurut Sucipto Nur Ilhaini (2013), penyebab abortus iminens adalah sebaga berikut:
1. Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi, menyebabkan kematian janin atau cacat, penyebabnya antara lain:
a. Kelainan kromosom, misalnya trisomy, poliploidi dan kelainan kromosom seks b. Endometrium kurang sempurna, biasanya terjadi pada ibu hamil saat usia tua, dimana
kondisi abnormal uterus dan endokrin atau sindroma ovarium polikistik.
c. Pengaruh eksternal, misalnya radiasi, virus, obat-obatan, dan sebagainya dapat mempengaruhi baik hasil konsepsi maupun lingkungan hidupnya dalam uterus, disebut teratogen
2. Kelainan plasenta, misalnya endarteritis terjadi dalam vili koreales dan menyebabkan oksigenasi plaseta terganggu, sehingga mengganggu pertumbuhan dan kematian janin.
Keadaan ini dapat terjadi sejak kehamilan muda, misalnya karena hipertensi menahun.
3. Penyakit ibu, baik yang akut seperti pneumonia, tifus abdominalis, pielonefritis, malaria dan lain-lain, maupun kronik seperti, anemia berat, keracunan, laparatomi, prioritis umum, dan penyakit menahun seperti brusellsis, mononucleosis infeksiosa, toksoplasmosis.
4. Kelainan traktus genitalis, misalnya retroversion uteri, mioma uteri, atau kelainan bawaan uterus. Tertama retroversion uteri gravidi inkerserata atau mioma submukosa yang memegang peranan penting. Sebab lain keguguran dalam trimester dua ialah serviks inkompeten yang dapat disebabkan oleh kelemahan bawaan pada serviks, dilatasi serviks berlebihan, konisasi, amputasi, atau robekan serviks yang luas yang tidak dijahit.
2.1.3 Tanda dan Gejala
Abortus inkomplit ditandai dengan dikeluarkannya sebagian hasil konsepsi dari uterus, sehingga sisanya memberikan gejala klinis sebagai berikut (Soepardan, 2010):
1. Amenore
2. Perdarahan da[pat dalam jumlah sedikit atau banyak, perdarahan biasanya dalam darah beku.
3. Sakit perut dan miules-mules dan sudah keluar jaringan atau bagian janin.
4. Pemeriksaan dalam didapatkan servik terbuka,pada palpasi teraba sisa-sisa jaringan dalam kantung servikalis atau kavum uteri.
Gejala lain dari abortus inkomplit yang dapat muncul adalah sebagai berikut:
1. Perdarahan biasa sedikit/banyak dan biasa terdapat bekuan darah.
2. Rasa mules (kontraksi) tambah hebat
3. Ostium uteri eksternum atau serviks terbuka.
4. Pada pemeriksaan vaginal, jaringan dapat diraba dalam cavum uteri atau kadang-kadang sudahmenonjol dari eksternum atau sebagian jaringan keluar.
5. Perdarahan tidak akan berhenti sebelum sisa janin dikeluarkan dapat menyebabkan syok (Maryunani, 2009).
2.1.4 Klasifikasi
Abortus dapat digolongkan atas dasar: a. Abortus Spontan
Abortus spontan adalah abortus yang terjadi dengan tidak didahului faktor-faktor mekanis ataupun medisinalis, semata-mata disebabkan oleh faktorfaktor alamiah. Abortus spontan dapat dibagi menjadi beberapa yaitu:
- Abortus imminens
Merupakan peristiwa terjadinya perdarahan pervaginam pada kehamilan kurang dari 20 minggu, dimana hasil konsepsi masih dalam uterus dan tanpa adanya dilatasi serviks.
- Abortus insipiens
Merupakan peristiwa perdarahan uterus pada kehamilan kurang dari 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks yang meningkat dan ostium uteri telah membuka, tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus. Dalam hal ini rasa mules menjadi lebih sering dan kuat, perdarahan bertambah. - Missed abortion
Tertahannya hasil konsepsi yang telah mati didalam rahim selama ≥8 minggu. Ditandai dengan tinggi fundus uteri yang menetap bahkan mengecil, biasanya tidak diikuti tanda– tanda abortus seperti perdarahan, pembukaan serviks, dan kontraksi.
- Abortus habitualis
Merupakan abortus spontan yang terjadi 3x atau lebih secara berturut-turut. Pada umumnya penderita tidak sulit untuk menjadi hamil, tetapi kehamilan berakhir sebelum mencapai usia 28 minggu. - Abortus infeksiosa & Septik
Abortus infeksius adalah abortus yang disertai infeksi pada genitalia bagian atas termasuk endometritis atau parametritis. Abortus septik juga merupakan komplikasi yang jarang terjadi akibat prosedur abortus yang aman. Abortus septik adalah abortus infeksius berat disertai penyebaran kuman atau toksin ke dalam peredaran darah atau peritonium. Infeksi dalam uterus/sekitarnya dapat terjadi pada tiap abortus, tetapi biasanya ditemukan pada abortus inkomplet dan lebih sering pada abortus buatan yang dikerjakan tanpa memperhatikan asepsis dan antisepsis
- Abortus inkompletus
Merupakan pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus. Perdarahan abortus ini dapat banyak sekali dan tidak berhenti sebelum hasil konsepsi dikeluarkan. Ciri dari jenis abortus ini yaitu perdarahan yang banyak disertai kontraksi, kanalis servikalis masih terbuka, dan sebagian jaringan keluar
- Abortus kompletus
Abortus kompletus terjadi dimana semua hasil konsepsi sudah dikeluarkan. Pada penderita ditemukan perdarahan sedikit, ostium uteri sebagian besar telah menutup, dan uterus sudah banyak mengecil.
b. Abortus Provakatus (induced abortion)
Abortus provokatus adalah abortus yang disengaja, baik dengan memakai obat-obatan maupun alat-alat. Abortus ini terbagi lagi menjad
- Abortus Medisinalis (abortus therapeutica)
Abortus medisinalis adalah abortus karena tindakan kita sendiri, dengan alasan bila kehamilan dilanjutkan, dapat membahayakan jiwa ibu (berdasarkan indikasi medis).
- Abortus Kriminalis
Abortus kriminalis adalah abortus yang terjadi oleh karena tindakantindakan yang tidak legal atau tidak berdasarkan indikasi medis
2.1.5 Patofisiologi Abortus Inkomplitus
Dikembangkan oleh Winkjisastro 2005, Williams 2006, dan Sarwono 2010 Syok Hipovolemia
Nyeri Kekurangan Volume Cairan
Perdarahan Nyeri perut
Jaringan Terputus Kuretase Ansietas
Kematian Janin Berduka
Abortus Inkompletus Defesit Pengetahuan Terlepasnya hasil konsepsi
Perdarahan di vagina Terlepas seluruh jaringan plasenta Uterus terstimulasi dan berkontraksi Nekrosis jarinngan mengalami perdarahan
Perdarahan dalam desidua basalis Kelainan traktus genitalis d.
Penyakit ibu c.
Kelainan plasenta b.
Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi a.
2.1.6 Komplikasi
Komplikasi Komplikasi yang serius kebanyakan terjadi pada fase abortus yang tidak aman (unsafe abortion) walaupun kadang-kadang dijumpai juga pada abortus spontan. Komplikasi dapat berupa perdarahan, kegagalan ginjal, infeksi, syok akibat perdarahan dan infeksi sepsis.
(D. Nita Norma & Mustika Dewi S. 2013).
1. Perdarahan
Perdarahan dapat diatasi dengan pengsongan uterus dari sisa-sisa hasil konsepsi dan jika perlu pemberian transfuse darah. Kematian karena perdarahan dapat terjadi apabila pertolongan tidak diberikan pada waktunya.
2. Perforasi
Perforasi uterus pada keroka dapat terjadi terutama pada uterus dalam posisi hiperetrofleksi. Jika terjadi peristiwa ini penderita perlu diamati dengan teliti jika ada tanda bahaya, perlu segera dilakukan laparatomi, dan tergantung dari luas dan bentuk perforasi, penjahitan luka perforasi atau perlu histerektomi. Perforasi uterus pada abortus yang dikerjakan oleh seorang awam menimbulkan persoalan gawat kerena perlukaan uterus biasanya luas, mungkin pula terjadi pada kandung kemih atau usus. Dengan adanya dugaan atau kepastian terjadinya perforasi, laparatomi harus segera dilakukan untuk menentukan luasnya cedera, untuk selanjutnya mengambil tindakan-tindakan seperlunya guna mengatasi komplikasi.
3. Infeksi
Infeksi dalam uterus dan adneksa dapat terjadi dalam setiap abortus tetapi biasanya didapatkan pada abortus inkomplet yang berkaitan erat dengan suatu abortus yang tidak aman (unsafe abortion).
4. Syok
Syok pada abortus bisa terjadi karena perdarahan (syok hemoragik) dan karena infeksi berat (syok endoseptik).
2.1.7 Pemeriksaan Penunjang a. Laboratorium
1. Darah Lengkap
- Kadar hemoglobin rendah akibat anemia hemoragik;
- LED dan jumlah leukosit meningkat tanpa adanya infeksi.
2. Tes Kehamilan
Terjadi penurunan atau level plasma yang rendah dari β-hCG secara prediktif. Hasil positif menunjukkan terjadinya kehamilan abnormal (blighted ovum, abortus spontan atau kehamilan ektopik).
3. Ultrasonografi
- USG transvaginal dapat digunakan untuk deteksi kehamilan 4 - 5 minggu;
- Detik jantung janin terlihat pada kehamilan dengan CRL > 5 mm (usia kehamilan 5 - 6 minggu);
- Dengan melakukan dan menginterpretasi secara cermat, pemeriksaan USG dapat digunakan untuk menentukan apakah kehamilan viabel atau non-viabel.
2.1.8 Penatalaksanaan
Menurut Rukiyah Ai Yeyeh & Lia Yulianti (2014) penatalaksanaan pada abortus iminen adalah sebagai berikut:
1. Bila disertai syok karena perdarahan, berikan infus cairan NaCl fisiologis atau ringer laktat yang disusul dengan ditransfusi darah.
2. Setelah syok diatasi, lakukan kerokan dengan kuret lalu suntikkan ergometrin 0,2 mg intramuskular untuk mempertahankan kontraksi otot uterus.
3. Lakukan tindakan kuretase (dengan anjuran dokter).
4. Berikan antibiotik untuk rnencegah infeksi.
2.2 Konsep Kuretase 2.2.1 Defenisi Kuretase
Kuretase adalah cara membersihkan hasil konsepsi memakai alat kuretase (sendok kerokan).
Sebelum melakukan kuretase, penolong harus melakukan pemeriksaan dalam untuk menentukan letak uterus, keadaan serviks dan besarnya uterus gunanya untuk mencegah terjadinya bahaya kecelakaan misanya perforasi (Sofian, 2011).
2.2.2 Tujuan Kuretase
Menurut Damayanti (2014) bahwa tujuan kuretase dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Kuret sebagai diagnostik suatu penyakit rahim Yaitu mengambil sedikit jaringan lapis lendir rahim, sehingga dapat diketahui penyebab dari perdarahan abnormal yang terjadi misalnya perdarahan pervaginam yang tidak teratur, perdarahan hebat, kecurigaan akan kanker endometriosis atau kanker rahim, pemeriksaan kesuburan/fertilitas.
2. Kuret sebagai terapi Bertujuan menghentikan perdarahan yang terjadi pada keguguran kehamilan dengan cara mengeluarkan hail kehamilan yang telah gagal berkembang, menghentikanperdarahan akibat mioma dan polip dari dalam rongga rahim, menghentikan perdarahan akibat gangguan hormone dengan cara mengeluarkan lapisan dalam mengeluarkan lapisan dalam rahim misalnya kasus keguguran, tertinggalnya sisa jaringan janin di dalam rahim setelah proes persalinan, hamil anggur, menghilangkan polip rahim.
2.2.3 Manfaat Kuretase
Manfaat Kuretase Kuretase ini memiliki beberapa manfaat tidak hanya untuk calon ibu atau wanita yang mengalami keguguran, namun juga beberapa hal lainnya untuk memeriksa masalah atau kesehatan pada rahim, diantaranya adalah:
a. Membersihkan rahim sesudah keguguran.
b. Mendiagnosa keadaan tertentu yang ada pada rahim.
c. Pendarahan pervaginam yang tidak teratur.
d. Membersihkan jaringan plasenta yang tersisa sesudah proses persalinan di kemudian hari.
e. Menghilangkan blighted ovum atau tidak ada janin dalam kandung telur.
f. Hamil anggur
g. Menghindari rahim tidak bisa kontraksi karena pembuluh darah pada rahim tidak menutup sehingga terjadi pendarahan.
h. Membersihkan sisa jaringan pada dinding rahim yang bisa menjadi tempat kuman berkembang biak dan timbul infeksi.
2.2.4 Indikasi Kuretase
Menurut Supriyadi (1994), indikasi kuretase dibagi menjadi dua yaitu : a.
Diagnostik : Jaringan endometrium untuk diagnosis histologi
b. Terapeutik : Pengangkatan jaringan plasenta setelah abortus atau melahirkan, mengangkat polip atau endometrium hiperplastik.
2.2.5 Teknik Kuretase a. Menentukan Letak Rahim
Yaitu dengan melakukan pemeriksaan dalam dengan menggunakan alat-alat yang ummnya terbuat dari metal dan biasanya melengkung. Karena itu alat-alat tersebut harus dimasukkan sesuai dengan letak rahim. Tujuannya supaya tidak terjadi salah arah (fase route) dan perforasi. b.
Penduga rahim (sondage)
Yaitu dengan memasukkan penduga rahim sesuai dengan letak rahim dan tentukan panjang atau dalamnya penduga rahim. Caranya adalah, setelah ujung penduga rahim membentur fundus uteri, telunjuk tangan kanan diletakkan atau dipindahkan pada portio dan tariklah sonde keluar, lalu baca berapa cm dalamnya rahim. c. Kuretase
Pada teknik ini harus memakai sendok kuret yang cukup besar. Jangan memasukkan sendok kuret dengan kekuatan, dan pengerokan biasanya dimulai di bagian tengah. Memakai sendok kuret yang tajam (ada tanda bergerigi) lebih efektif dan lebih terasa sewaktu melakukan kerokan pada dinding rahim dalam (seperti bunyi mengukur kelapa). Dengan demikian, kita tahu bersih atau tidaknya hasil kerokan (Sofian, 2011).
d. Kuretase dengan cara penyedotan (suction curretage)
Dalam tahun-tahun terakhir ini lebih banyak digunakan oleh karena perdarahan tidak seberapa banyak dan bahaya perforasi lebih kecil. Setelah diadakan persiapan seperlunya dan letak serta besarnya uterus ditentukan dengan pemeriksaan bimanual, bibir depan serviks dipegang dengan cunam serviks, dan sonde uterus dimasukkan untuk mengetahui panjang dan jalanya kavum uteri.
Anastesi umum dengan penthoal sodium, atau anastesia percervikal block dilakukan dan 5 satuan oksitosin disuntikkan pada korpus uteri dibawah kandung kencing dekat pada perbatasanya pada serviks.
2.2.6 Komplikasi Kuretase a. Perforasi
Dalam melakukan dilatasi dan kerokan harus diingat bahwa selalu ada kemungkinan terjadinya perforasi dinding uterus yang dapat menjurus ke rongga peritoneum, ke rongga peritoneum, ke ligatum latum, atau ke kandung kencing. Bahaya perforasi adalah perdarahan dan peritonitis.
Apabila terjadi perforasi atau diduga terjadi peristiwa itu, maka penderita harus diawasi dengan seksama dengan mengamati keadaan umum nadi, tekanan darah, kenaikan suhu, turunya hemoglobin dan keadaan perut bawah. Jika keadaan meragukan atau ada tanda-tanda bahaya, sebaiknya dilakukan laparotomi percobaan dengan segera. b. Luka pada serviks uteri
Apabila jaringan serviks keras dan dilatasi dipaksaan maka dapat timbul robekan pada serviks dan perlu dijahit. Apabila terjadi luka pada ostium uteri internum, maka akibat yang segera timbul adalah perdarahan yang memerlukan pemasangan tampon pada serviks dan vagina.
Akibat jangka panjang ialah kemungkinan timnulnya incompetent cervik. c.
Perlekatan dalam kavum uteri
Melakukan kerokan secara sempurna memerlukan pengalaman. Sisa-sisa hasil konsepsi harus dikeluarkan, tetapi jaringan sampai terkerok, karena hal itu dapat menyebabkan terjadinya perlekatan dinding kavum uteri di beberapa tempat. Sebaiknya kerokan dihentikan pada suatu tempat apabila tempat tersebut dirasakan bahwa jaringan tidak begitu lembut lagi. d. Perdarahan
Kerokan pada kehamilan agak tua atau pada molahidatidosa ada bahaya perdarahan. Oleh sebab itu, jika perlu hendaknya diselenggarakan transfusi darah dan sesudah kerokan selesai dimasukkan tampon kassa kedalam uterus dan vagina (Prawirohardjo, 2007).
2.3 Konsep Asuhan Keperawatan 2.3.1 Pengkajian
Anamnesis yang dilakukan pada pasien abortus inkomplit menurut HK. Joseph & M.
Nugroho S (2010), yaitu sebagai berikut:
1. Amenorea, dengan PP test (+)
2. Vaginal spotting, keluarnya darah minimal/light
3. Diikuti nyeri abdomen (lower abdominal pain/abdominal cramping) dalam beberapa jam hingga hari setelah vaginal spotting. Nyeri biasanya terletak di anterior dan berirama
seperti pada persalinan biasa, serangan nyeri biasanya berupa nyeri pinggang bawah persisten disertai perasaan tekanan pada panggul, atau bisa berupa nyeri tumpul pada daerah simfisis pubis yang disertai nyeri tekan di daerah uterus.
2.3.2 Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan menurut Nurarif Amin Huda & Hardhi Kusuma (2015) adalah sebagai berikut:
1. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan, penurunan sirkulasi.
2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan perdarahan 3. Nyeri akut berhubungna dengan kerusakan jaringan intrauteri 4. Resiko infeksi berhubungan dengan kondisi vulva lembab 5. Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan
6. Resiko syok (hipovolemik) berhubungan dengan perdarahan pervaginam 2.3.3 Intervensi keperawatan
Intervensi menurut Nurarif Amin Huda & Hardhi Kusuma (2015)adalah sebagai berikut:
No SDKI SLKI SIKI
1 Intoleransi aktivitas
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama ….. maka toleransi aktivitas meningkat dengan kriteria hasil :
1. Keluhan lelah menurun 2. Dyspepsia saat aktivitas
menurun 3. Dyspepsia
setelah beraktivitas menurun
4. Frekuensi nadi membaik
Managemen energy:
Observasi
1. Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan 2. Monitor kelelahan fisik dan
emosional
3. Monitor pola dan jam tidur Terapeutik
1. Sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus
2. Lakukan latihan rentang gerak fasif 3. Berikan aktivitas distraksi yang
menyenangkan
4. Fasilitasi duduk disisi tempat tidur, jika tidak dapat berpindah atau berjalan Edukasi
1. anjurkan tirah baring
2. anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap
3. anjurkan hubungi perawat jika tanda dan gejala kelelahan tidak
berkurang
kolaborasi kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan makanan
2 Resiko infeksi
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama …...maka
tingkat infeksi
menurun dengan kriteria hasil:
1. kebersihan tangan meningkat
2. kebersihan badan meningkat
3. kadar sel darah putih membaik
Pencegahan infeksi Observasi
1. monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik Terapeutik
1. batasi jumlah pengunjung
2. cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien dan
lingkungan pasien
3. pertahankan teknik aseptik pada pasien dengan beresiko tinggi Edukasi
1. jelaskan tanda dan gejala infeksi 2. ajarkan cara mencuci tangan yang
baik dan benar 3. ajarkan etika batuk
4. anjurkan meningkatkan asupan
nutrisi
5. anjurkan meningkatkan asupan cairan
kolaborasi kolaborasi pemberian imunisasi jika perlu
3 Ansietas Setelah dilakukan intervensi selama maka tingkat ansietas menurun dengan kriteria hasil:
1. Verbalisasi kebingungan menurun
2. Verbalisasi khawatir akibat kondisi yang dihadapi menurun
3. Perilaku gelisah menurun 4. Perilaku tegang menurun 5. Konsentrasi membaik 6. Pola tidur membaik
Observasi
1. Identifikasi saat tingkat ansietas berubah
2. Monitor tanda tanda ansietas Terapeutik
1. Pahami situasi yang membuat ansietas
2. Dengarkan dengan penuh perhatian 3. Gunakan pendekatan yang tenang
dan meyakinkan Edukasi 1. Anjurkan keluarga untuk tetap
bersama pasien, jika perlu 2. Latih teknik relaksasi
Kolaborasi
Kolaborasi pemberian obat anti ansietas, jika perlu
2.3.4 Implementasi Keperawatan
Implementasi merupakan tindakan yang sesuai dengan yang telah direncanakan mencakup tindakan mandiri dan kolaborasi. Tindakan mandiri merupakan tindakan keperawtan berdasarkan analisis dan kesimpulan perawat, serta bukan atas petunjuk tenaga kesehatan lain. Di sisi lain, tindakan kolaborasi adalah tindakan keperawtan yang didasarkan oleh keputusan bersama dengan dokter atau petugas kesehatan lainnya (Ratnawati, 2018).
2.3.5 Evaluasi Keperawatan
Evaluasi keperawatan merupakan penilaian perkembangan ibu hasil implementasi keperawatan dengan berpedoman kepada hasil dan tujuan yang hendak dicapai (Ratnawati, 2018).
Menurut (Debora, 2013) evaluasi adalah tahap kelima dari proses keperawatan. Pada tahap ini perawat membandingkan hasil tindakan yang telah dilakukan dengan kriteria hasil yang sudah ditetapkan serta menilai apakah masalah yang teratasi sudah teratasi seluruhnya, hanya sebagian, atau bahkan belum teratasi semuanya.
BAB III LAPORAN KASUS 3.1 Resume
Ny. R berusia 31 tahun, jenis kelamin perempuan, agama islam, suku batak mandailing, bangsa indonesia, pendidikan terakhir S.Hum, sudah menikah, pekerjaan ibu rumah tangga, alamat dusun bintas jae tanung siram bilah hulu labuhan batu, bahasa yang digunakan sehari-hari bahasa Indonesia. Ny.R tinggal bersama suami dengan 3 anaknya. Penanggung jawab Ny.R selama di RSU IPI Medan adalah Tn.B usia 33 tahun, pekerjaan guru.
Pasien datang ke IGD Kebidanan Rumah Sakit Umum Imelda Pekerja Indonesia pada Pukul 19:30 WIB dengan keluhan keluar darah 3 hari yang lalu darah dalam bentuk gumpalan warna hitam, darah terdapat di permukaan pembalut, klien mengatakan sehari 3 kali mengganti pembalut,nwajah pucat, klien mengatakan nyeri pada abdomen kuadran bawah dengan skala nyeri 6 (sedang) P: nyeri seperti di tusuk-tusuk, Q :nyeri pada bagian abdomen kuadran bawah, S: skala 6 (sedang), T: hilang timbul,. Klien sebelumnya sudah melakukan USG di klinik gunung tua dan dokter klinik menganjurkan kepada klien untuk di bawa kerumah sakit dan klien memilih ke Rumah Sakit Umum Imelda untuk pengobatan, Pada saat di IGD Kebidanan ditemukan tandatanda vital: TD 110/70 mmHg, HR: 82x/I, RR: 20x/I, Temp: 37,3ᴼC, terdapat darah dipermukaan pembalut, palpasi abdomen TFU belum teraba umur kehamilan 16 minggu dan dilakukan pemeriksaan fisik dengan hasil BB: 43 kg, TB 148 cm, keadaan umum compos mentis dengan nilai GCS 15, dilakukan pemeriksaan laboratorium dengan hasil: hemoglobin 7,8 g/dl, leukosit 10,9 10*/uL, jumlah trombosit 260.000/mm3, hematokrit 21,6 %, Eritrosit 2,69 juta/mm3, pemeriksaan antigen negatif. Pada pukul 21:15 WIB pasien diantarkan keruangan kemuning kamar no 412 dan akan segera dilakukan tindakan selanjutnya dengan dokter penanggung jawab dr.Rilie SpoG
30 November 2021 pukul 10:00 WIB ruangan kemuning, keadaan umum pasien lemah, kesadaran compos mentis dengan nilai GCS 15, dilakukan pengkajian fisik dengan hasil: TD 120/80 mmHg, RR 20x/I, Temp: 36oC, HR: 80x/I, BB 43 kg, TB 148 cm, pasien mengeluh keluar darah dan gumpalan dari vagina, wajah pucat, terpasang transfuse darah dengan golongan darah A, klien mengatakan nyeri pada abdomen kuadran bawah dengan skala nyeri 5 (sedang) P: nyeri seperti di tusuk-tusuk, Q:nyeri pada bagian abdomen kuadran bawah, S: skala 5(sedang), T: hilang timbul, untuk pemeriksaan nyeri dilakukan dengan pemeriksaan numberik. Pukul 17:00 WIB diberikan obat melalui vagina, obat yang diberikan adalah Misoprostol yang berfungsi untuk
membuat leher rahim menipis atau terbuka sekaligus merangsang kontraksi persalinan. sebelum dilakukan tindakan kuretase perawat akan memberikan informed consent kepada keluarga atau klien atas persetujuan dengan tindakan kuretase. pernapasan regular, nadi regular, kulit lembab, tidak ada oedem pada tubuh pasien, keadaan rambut bersih, kulit kepala bersih tidak ditemukan lesi atau luka, ekstremitas hangat, pasien mengatakan tidak ada masalah dengan indra penciuman, pasien mampu membedakan bau dan wangi, pasien mampu melihat dengan jelas, pasien terlihat tidak kesulitan membuka dan menutup mata, pasien mengatakan tidak ada masalah dengan pendengaran, wajah tampak simetris, pasien mampu berbicara normal.
Klien mengatakan anak pertama sampai ketiga melahirkan secara normal dibantu oleh bidan klinik, pada kehamilan ini klien tidak pernah melakukan pemeriksaan atau control ke klinik . Riwayat kehamilan klien: P4G3A0, klien mengatakan lupa kapan hari pertama haid terakhir (HPHT)
Pola makan pasien selama dirawat 3 kali sehari, pasien tidak memiliki riwayat alergi terhadap makanan, jenis diet MB, porsi makan pasien habis 1 porsi, kebiasaan tidur malam 5 jam/ hari. Pola minum sehari-hari, Persepsi pasien tentang penyakitnya yaitu Pasien mengatakan tidak tahu apa saja yang harus dilakukan. Pasien tampak bingung saat di tanya tentang penyakitnya Pasien ingin cepat sembuh, pasien merasa cemas dengan kondisi tubuhnya yang masih lemah, hubungan pasien dengan keluarga baik, pasien mendapat dukungan dari keluarga, penyesuaian terhadap lingkungan baik.
01 Desember pukul 07:00 WIB klien dilakukan tindakan kuretase diruangan VK, anastesi yang diberikan kepada Ny.R adalah anastesi umum dengan dokter penanggung jawab dr.Rilie SpoG. tindakan kuretase dilakukan kurang lebih 15 menit, klien diruangan VK untuk masa pemulihan kurang lebih 2 jam. Pukul 09:30 WIB klien di antar keruangan kemuning. Pukul 11;00 WIB dilakukan pengkajian kembali oleh mahasiswa profesi ners terahadap Ny.R didapatkan hasil TD 120/80 mmHg, RR 20x/I, Temp: 36.5oC, HR: 82x/I, klien mengatakan pusing diakibatkan oleh efek samping dari anastesi ,klien merasa sedih dan kehilangan dengan kejadian yang dialami dokter menganjurkan klien untuk pulang pukul 17:00 WIB.
Diagnosa Medis: Abortus Inkompletus + Anemia Riwayat kehamilan
N o
Tahu n
Usia kehamila n
Jenis tindakan
Penolon g
Tempa t
Peny ulit
Indi kasi
Jk bayi Bb lahir
Hidup / mati
1 2017 Cukup bulan
Persalina n spontan
Bidan Klinik - - Perempu
an
3000 Hidup 2 2018 Cukup
bulan
Persalina n spontan
Bidan Klinik - - perempu
an
3000 Hidup 3 2020 Cukup
bulan
Persalina n spontan
Bidan Klinik - - Lakilaki 3000 Hidup 4 2021
Riwayat kehamilan sekarang G4P3A1 3.2 Pemeriksaan Penunjang
3.2.1 Pemeriksaan Labolatorium 29 November 2021
Jenis pemeriksaan Hasil pemeriksaan Nilai normal
Hemoglobin 7.8 g/dl P:13-18 w:12-16
Leukosit 10,9 /mm3 4.000-11.0000
Jumlah trombosit 260.000 /mm3 150.000-450.000
Hematokrit 21.6% P: 42-56 w: 36-47
3.2.2 pemeriksaan darah setelah melakukan transfusi 30 november 2021 Jenis pemeriksaan Hasil pemeriksaan Nilai normal Hemoglobin post transfusi 9.0 g/dl P:13-18 w:12-16 3.3 Terapi intruksi dokter
No. Nama obat Efek positif Efek negatif
1. IVDF
Nacl 20 gtt/i
Untuk mengatasi atau mencegah kehilangan sodium, yang disebabkan dehidrasi, keringat berlebihan atau penyebab lainnya.
Dapat menyebabkan hipernatremia
2. Cefatroxil 1 amp/8jam Mengatasi infeksi bakteri pada bagian tubuh, seperti kulit, tenggorokan, saluran kencing dan jantung
Diare, sakit magh/
dyspepsia, mual dan muntah
3. Ketorolac 1ampl/8jam Meredakan nyeri dan peradangan
BB naik, sakit perut, mual dan muntah 3.4 Analisa Data
3.4.1 Analisa Data Pre Kuretase No
.
Data Penyebab Masalah
1. DS:
• Klien mengatakan keluar
Kematian janin
Syok
Hipovolemia
darah dan gumpalan dari vagina, klien merasa lemas DO:
• Klien terlihat pucat dan lemah. Darah tampak di permukaan pembalut
• TD : 120/80 mmHg
• HR : 80x/menit
• RR : 20x/menit
• Suhu : 36oC
Pendarahan dalam desidua basialis
Pelepasan embrio sebagian
Abortus
Pendarahan
Resiko syok (hipovolemia) 2. DS:
• Klien mengeluh nyeri pada bagian abdomen kuadran bawah
• Skala nyeri yang dirasakan 6 (sedang)
DO:
• Haemoglobin :7,8 g/dl P: nyeri seperti di tusuk-tusuk Q:nyeri pada bagian abdomen
kuadran bawah S: skala 6 (sedang) T: hilang timbul
Abortus
Benda asing dalam uterus
Terjadi perlukaan pada endometrium
Kontraksi uterus
Gangguan rasa
nyaman nyeri
Nyeri Akut
3. DS:
Klien mengatakan cemas
Keguguran janin Ansietas dengan perdarahan yang
dialami klien
• Klien mengatakan tidak pernah terjadi perdarahan
Terganggunya psikologis ibu
cemas
pada kehamilan sebelumnya DO:
• Klien tampak cemas dan khawatir akan perdarahan yang dialami
• TD : 120/80 mmHg
• HR : 80x/menit
• RR : 20x/menit
• Suhu : 36oC 4. DS:
• Klien mengatakan tidak mengetahui tentang perdarahan yang dialami klien
DO:
• Klien tampak bertanya-tanya dengan keluarga tentang yang dialami klien
• TD : 120/80 mmHg
• HR : 80x/menit
• RR : 20x/menit
Abortus inkompletus Tindakan kuretase
Kurang informasi Kurang pengetahuan
Defisit Pengetahuan
3.4.2 Analisa Post Kuretase No
.
Data Penyebab Masalah
1. DS: Abortus inkompletus Berduka
• Klien mengatakan sedih dan merasa kehilangan terhadap kejadian yang dialami DO:
• Klien terlihat sedih dan murung
• TD : 120/80 mmHg
• HR : 80x/menit
• RR : 20x/menit
• Suhu : 36oC
perdarahan dalam desidu basaliss
nekrosis tindakan kuretase
kematian bayi berduka 3.5 Diagnosa Keperawatan Pre Kuretase
1) Hipovelomia berhubungan dengan kekurangan cairan ditandai dengan klien merasa lemah dan pucat
2) Nyeri akut berhubungan dengan klien mengatakan nyeri di abdomen kuadran bawah di tandai dengan klien meringis kesakitan (P: klien terlihat meringis kesakitan diakibatkan oleh nyeri yang dirasakan, Q: nyeri seperti ditusuk-tusuk, R: nyeri pada abdomen kuadran bawah, S: 6 (sedang), T: hilang timbul dan muncul tiba-tiba)
3) Ansietas berhubungan dengan perdarahan , penurunan sirkulasi di tandai dengan klien merasa cemas dengan perdarahan yang dialami.
4) Defisit pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi di tandai dengan klien sering bertanya kepada perawat dan keluarga klien tentang yang dialami
3.5.1 Diagnosa Keperawatan Post Kuretase
1) Berduka berhubungan dengan kehilangan bayi , di tandai dengan klien merasa sedih dan kehilangan
3.6. Intervensi Keperawatan Pre Kuretase No Diagnosa Keperawatan
(SDKI)
Kriteria Hasil (SLKI)
Intervensi (SIKI)
1 Hipovolemia Setelah dilakukan intervensi managemen Hipovolemia
keperawatan selama….maka status cairan membaik dengan kriteria hasil 1. Kekuatan nadi
meningkat
2. Output urine meningkat 3. Membarn mukosa
lembab meningkat 4. Ortopnea menurun 5. Dyspnea menurun 6. Edema anaserka
menurun
7. Edema perifer menurun 8. Frekuensi nadi membaik 9. Tekanan darah membaik 10. Tekanan nadi membaik 11. Turgor kulit membaik 12. JVP membaik
13. Hemoglobin membaik 14. Hematokrit membaik
Observasi
1. Periksa tanda dan gejala hipovolemia
2. Monitor intake dan output cairan
Terapeutik
1. Hitung kebutuhan cairan 2. Berikan posisi modifeit
trendenlenberg
3. Berikan asupan cairan oral
Edukasi 1. Anjurkan
memperbanyak konsumsi cairan oral 2. Anjurkan menghindari
perubahan posisi mendadak
Kolaborasi
1. Kolaborasi pemberian cairan IV isotonis (misal, RL, Nacl) 2. Kolaborasi peemberian
cairan IV hipotonis (misal, glukosa 2,5 %, Nacl 0,4 %)
3. Kolaborasi pemberian cairan koloid (misal, albumin)
2. Nyeri akut Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama … maka kontrol nyeri meningkat
Managemen nyeri Observasi
1. Indikasi lokasi,
dengan kriteria hasil 1. Kemampuan
menggunakan teknik non farmakologis meningkat 2. Keluhan nyeri menurun
karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri
2. Identifikasi skala nyeri 3. Identifikasi respon yang
memberatkan dan memperingan nyeri Terapeutik
1. Berikan teknik non farmakologi untuk mengurangi nyeri
2. Kontrol lingkungan yang memperberat nyeri 3. Fasilitasi istirahat dan
tidur Edukasi
1. Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri 2. Jelaskan strategi dalam
meredakan nyeri
3. Anjurkan menggunakan analgetik secara tepat Kolaborasi
1. Kolaborasi pemberian analgetik
3. Ansietas Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama …..
maka tingkat ansietas menurun dengan kriteria hasil :
1. Verbalisasi kebingungan
Reduksi Ansietas Observasi
1. Identifikasi saat tingkat ansietas berubah
2. Identifikasi kemampuan mengambil keputusan
menurun
2. Perilaku gelisah menurun 3. Perilaku tegang menurun
3. Monitor tanda-tanda ansietas
Terapeutik
1. Ciptakan suasana
terapeutik untuk
menumbuhkan kepercayaan
2. Temani pasien untuk mengurangi ansietas 3. Pahami situasi yang
membuat ansietas dan dengarkan dengan penuh perhatian
4. Tempatkan barang pribadi
yang memberi
kenyamanan
5. Diskusikan perencanaan realistis tentang peristiwa yang akan terjadi
Edukasi
1. Jelaskan prosedur termasuk sesnsai yang akan dialami
2. Informasikan secara factual mengenai diagnosis, pengobatan, dan prognosis
3. Anjurkan
mengungkapkan
kegiatan tidak koperatif
4. Latih kegiatan pengalihan untuk mengurangi
ketegangan
5. Latih teknik relaksasi kolaborasi
1. kolaborasi dengan dokter tentang pengobatan yang dilakukan selanjutnya 4. Defisit pengetahuan Setelah dilakukan intervensi
keperawatan diharapkan tingkat pengetahuan meningkat dengan kroteria hasil:
1. verbalisasi minat dalam belajar tentang abortus 2. kemampuan menjelaskan
tentang abortus
3. perilaku membaik sesuai dengan pendidikan kesehatan yang diberikan
Observasi
1. identfikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi
Terapeutik
1. sediakan materi media pendidikan kesehatan 2. jadwalkan pendidikan
kesehatan sesuai dengan kesepakatan
3. beri kesempatan bertanya Edukasi
1. jelaskan faktor resiko yang mempengaruhi kesehatan Kolaborasi
3.6.1 Intervensi Post Kuretase
1 Berduka Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama …..
maka diharapkan respon psiososial akibat kehilangan membaik dengan kriteria hasil :
Dukungan Proses Berduka:
Observasi
1. identifikasi reaksi awal terhadap kematian bayi Terapeutik
1. berikan peralatan bayi
1. verbalisasi menerima kehilanagan menurun (dapat mengatakan kehilangan dengan ikhlas) 2. verbalisasi perasaan
bersalah atau
menyalahkan orang lain menurun (dapat menerima
kenyataan bahwa
kematian tersebut atas takdir tuhan)
3. menangis menurun (menunjukkan ekspresi tegar untuk menerima kehilangan)
termasuk catatan kelahiran anak
2. libatkan orang tua tentang penyelenggaraan jenazah bayi
3. diskusikan karakteristik berduka noramal dan abnormal termasuk prestipitasi perasaan Edukasi
1. informasikan bentuk bayi berdasarkan usia gestasi dan lamanya kematian kolaborasi
3.7. Implementasi dan Evaluasi Pre Kuretase
1. Hipovelomia berhubungan dengan kekurangan cairan ditandai dengan klien merasa lemah dan pucat
No Diagnosa Keperawatan Implementasi Evaluasi
1 Hipovolemia 1.
2.
mengidentifikasi
kekuatan nadi meningkat mengidentifikasi Output
29 Novermber 2021 S:
mengeluh keluar darah
3.
4.
5.
urine meningkat mengidentifikasi
membarn mukosa lembab meningkat
mengidentifikasi turgor kulit membaik
mengidentifikasi Hemoglobin membaik
dan gumpalan 3 hari yang lalu, tampak pucat
klien
mengatakan lemas O:
klien tampak pucat dan lemah
terdapat darah
dipermukaan pembalut
hemoglobin : 7,8 g/dl TD: 100/70 mmHg HR: 82x/i
RR: 20x/i Temp: 360C A:
Masalah belum teratasi P:
pantau keadaan umum dan tanda-tanda vital klien
melakukan kolaborasi dalam pemberian cairan IV Nacl 0,4%, dan tranfusi darah
1.
2.
mengidentifikasi
kekuatan nadi meningkat mengidentifikasi Output
30 Novermber 2021 S:
mengeluh keluar darah
3.
4.
5.
6.
urine meningkat mengidentifikasi
membarn mukosa lembab meningkat
mengidentifikasi turgor kulit membaik
mengidentifikasi Hemoglobin membaik mengidentifikasi Hematokrit membaik
dan gumpalan, tampak pucat
klien
mengatakan lemas O:
klien tampak lemah
terdapat darah
dipermukaan pembalut
terpasang selang tranfusi darah, golongan darah –A
Hemoglobin: 9.0 g/dl TD: 110/90 mmHg HR: 80x/i
RR: 20x/i Temp: 36,50C A:
Masalah belum teratasi P:
pantau keadaan umum dan tanda-tanda vital klien
pantau tranfusi darah
melakukan kolaborasi tentang pemberian cairan IV Nacl 1.
2.
mengidentifikasi
kekuatan nadi meningkat mengidentifikasi turgor kulit membaik
01 Desember 2021 S:
klien mengatakan sudah membaik, tidak
keluar darah dari vagina O:
TD: 120/80 mmHg HR: 80x/i
RR: 20x/i Temp: 370C A:
Masalah teratasi P:
pasien dianjurkan untu pulang (berobat jalan)
anjurkan pasien untuk mengkonsumsi makanan bergizi
2. Nyeri akut berhubungan dengan klien mengatakan nyeri di abdomen kuadran bawah di tandai dengan klien meringis kesakitan (P: klien terlihat meringis kesakitan diakibatkan oleh nyeri yang dirasakan, Q: nyeri seperti ditusuk-tusuk, R: nyeri pada abdomen kuadran bawah, S: 6 (sedang), T: hilang timbul dan muncul tiba-tiba)
No Diagnosa Keperawatan Implementasi Evaluasi
2 Nyeri akut 1. mengidentifiksi
kemampuan menggunakan teknik non farmakologis meningkat
29 Novermber 2021 S:
klien mengatakan nyeri di abdomen
2. mengidentiffikasi keluhan nyeri menurun
kuadran bawah
nyeri yang dirasakan 6 (sedang)
O:
klien tampak meringis kesakitan
P: nyeri seperti di tusuktusuk
Q:nyeri pada bagian abdomen kuadran bawah
S: skala 6 (sedang) T: hilang timbul TD: 100/70 mmHg HR: 82x/i
RR: 20x/i Temp: 360C A:
Masalah belum teratasi P:
pantau keadaan umum dan tanda- tanda vital klien
anjurkan kepada keluarga klien untuk mengajak klien berbicara untuk mngurangi rasa nyeri
melakukan kolaborasi dengan dokter tantang penggunaan analgetik
(ketorolac 1amp/8 jam) 1.
2.
mengidentifikasi
kemampuan menggunakan teknik non farmakologis meningkat
meengidentifikasi keluhan nyeri menurun
30 Novermber 2021 S:
kliem mengeluh nyeri
pada abdomen
kuadran bawah
skala nyeri yang dirakasan 5 (sedang) O:
klien tampak meringis kesakitan
P: nyeri seperti di tusuktusuk
Q:nyeri pada bagian abdomen kuadran bawah
S: skala 5(sedang) T: hilang timbul TD: 110/90 mmHg HR: 80x/i
RR: 20x/i Temp: 36,50C A:
Masalah belum teratasi P:
pantau keadaan umum dan tanda-tanda vital klien
melakukan kolaborasi
tdengan dokter tentang tindakan
kuretase 1. mengidentifikasi
kemampuan menggunakan teknik non farmakologis meningkat
01 Desember 2021 S:
klien sudah tidak merasakan nyeri O:
TD: 120/80 mmHg HR: 80x/i
RR: 20x/i Temp: 370C A:
Masalah teratasi P:
anjurkan klien untuk melakukan teknik relaksasi nafas dalam
anjurkan kepada keluarga klien untuk mengajak klien berbicara untuk
mengurangi rasa nyeri
pasien dianjurkan untu pulang (berobat
jalan)
3. Ansietas berhubungan dengan perdarahan , penurunan sirkulasi di tandai dengan klien merasa cemas dengan perdarahan yang dialami.
No Diagnosa Keperawatan Implementasi Evaluasi
1 Ansietas Observasi
1. Mengidentifikasi saat tingkat ansietas berubah 2. Mengidentifikasi
kemampuan mengambil keputusan
3. Memonitor tanda-tanda ansietas
Terapeutik
29 Novermber 2021 S:
Mengatakan khawatir dan gelisah dengan kejadian yang dialami O:
klien tampak gelisah dan cemas
TD: 100/70 mmHg
1. Menciptakan suasana
terapeutik untuk
menumbuhkan kepercayaan
2. Temani pasien untuk mengurangi ansietas
3. Memahami situasi yang membuat ansietas dan dengarkan dengan penuh perhatian
4. Menempatkan barang pribadi yang memberi kenyamanan
5. Mendiiskusikan
perencanaan realistis tentang peristiwa yang akan terjadi
Edukasi
1. Melakukan prosedur termasuk sesnsai yang akan dialami
2. Memberikan informasi secara factual mengenai diagnosis, pengobatan, dan prognosis
3. Anjurkan mengungkapkan kegiatan tidak koperatif 4. Melatih kegiatan
pengalihan untuk
mengurangi ketegangan 5. Melatih teknik relaksasi
HR: 82x/i RR: 20x/i Temp: 360C A:
Masalah belum teratasi P:
pantau keadaan umum dan tanda-tanda vital klien
berikan edukasi tentang abortus
melakukan kolaborasi dengan dokter dengan tindakan yang akan di berikan
kolaborasi kolaborasi dengan dokter tentang pengobatan yang dilakukan selanjutnya Observasi
1. Mengidentifikasi saat tingkat ansietas berubah 2. Mengidentifikasi
kemampuan mengambil keputusan
3. Memonitor tanda-tanda ansietas
Terapeutik
1. Temani pasien untuk mengurangi ansietas
2. Memahami situasi yang membuat ansietas dan dengarkan dengan penuh perhatian
3. Menempatkan barang pribadi yang memberi kenyamanan
4. Mendiiskusikan
perencanaan realistis tentang peristiwa yang akan terjadi
Edukasi
1. Melakukan prosedur termasuk sesnsai yang akan dialami
2. Memberikan informasi
30 Novermber 2021 S:
Klien mengatakan cemas dan khawatir dengan tindakan yang akan dilakukan O:
klien tampak emas TD: 110/90 mmHg HR: 80x/i
RR: 20x/i Temp: 36,50C A:
Masalah belum teratasi P:
pantau keadaan umum dan tanda-tanda vital klien
berikan edukasi tentang abortus
melakukan kolaborasi dengan dokter dengan tindakan yang akan di berikan
secara factual mengenai diagnosis, pengobatan, dan prognosis
3.Anjurkan mengungkapkan kegiatan tidak koperatif 4.Melatih kegiatan
pengalihan untuk
mengurangi ketegangan 5.
Melatih teknik relaksasi kolaborasi kolaborasi dengan dokter tentang
pengobatan yang
dilakukan selanjutnya
Observasi
1. Mengidentifikasi kemampuan mengambil keputusan
2. Memonitor tanda-tanda ansietas
Terapeutik
1. Temani pasien untuk mengurangi ansietas
2. Memahami situasi yang membuat ansietas dan dengarkan dengan penuh perhatian
3. Mendiiskusikan
perencanaan realistis tentang peristiwa yang akan terjadi
Edukasi
01 Desember 2021 S:
klien mengatakan sudah tidak khawatir dan cemas O:
TD: 120/80 mmHg HR: 80x/i
RR: 20x/i Temp: 370C A:
Masalah teratasi P:
pasien dianjurkan untu pulang (berobat jalan)
1. Memberikan informasi secara factual mengenai diagnosis, pengobatan, dan prognosis
2. Melatih teknik relaksasi kolaborasi kolaborasi dengan dokter tentang pengobatan yang dilakukan selanjutnya
4. Defisit pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi di tandai dengan klien sering bertanya kepada perawat dan keluarga klien tentang yang dialami
No Diagnosa Keperawatan Implementasi Evaluasi
1 Defisit pengetahuan Observasi
1. Mengidentfikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi
Terapeutik
1. Meyediakan materi media pendidikan kesehatan
2. melakukan pendidikan kesehatan sesuai dengan kesepakatan
3. memberikan kesempatan
29 Novermber 2021 S:
klien mengatakan tidak mengetahui tentang kejadian yang
dialaminya O:
klien tampak
bertanyatanya dengan keluarga dan perawat tentang kejadian yang dialami
bertanya Edukasi
1. mejelaskan faktor resiko yang mempengaruhi kesehatan
Kolaborasi
TD: 100/70 mmHg HR: 82x/i
RR: 20x/i Temp: 360C A:
Masalah belum teratasi P:
pantau keadaan umum dan tanda-tanda vital klien
berikan informasi kepada klien dan keluarga klien tentang abortus
Observasi
1. Mengidentfikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi
Terapeutik
1. Meyediakan materi media pendidikan kesehatan
2. melakukan pendidikan kesehatan sesuai dengan kesepakatan
3. memberikan kesempatan bertanya Edukasi 1. mejelaskan faktor resiko
30 Novermber 2021 S:
klien mengatakan tidak mengerti tentang tindakan kuretase O:
klien tampak
bertanyatanya kepada perawat tentang tindakan
kuretase
TD: 110/90 mmHg HR: 80x/i
RR: 20x/i
Temp: 36,50C yang mempengaruhi
kesehatan Kolaborasi
A:
Masalah belum teratasi P:
pantau keadaan umum dan tanda-tanda vital klien
berikan informasi mengenai tindakan kuretase kepada klien Observasi
1. Mengidentfikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi
Terapeutik
1. melakukan pendidikan kesehatan sesuai dengan kesepakatan
2. memberikan kesempatan bertanya
Edukasi
1. mejelaskan faktor resiko yang mempengaruhi kesehatan
Kolaborasi
01 Desember 2021 S:
- O:
TD: 120/80 mmHg HR: 80x/i
RR: 20x/i Temp: 370C A:
Masalah teratasi P:
anjurkan klien untuk melakukan teknik relaksasi nafas dalam
berikan edukasi atau pendidikan kesehatan kepada klien dan keluarga klien
pasien dianjurkan untu pulang (berobat jalan)
4.5.1 Implementasi dan Evaluasi Post Kuretase
No Diagnosa Keperawatan Implementasi Evaluasi
1 berduka Observasi
1. mengiidentifikasi reaksi awal terhadap kematian bayi
Terapeutik
1. memberikan peralatan bayi termasuk catatan kelahiran anak
2. melibatkan orang tua tentang penyelenggaraan jenazah bayi
3. mendiskusikan karakteristik berduka noramal dan abnormal termasuk prestipitasi perasaan
01 Desember 2021 S:
klien mengatakan sedih dan merasa kehilangan atas abortus yang dialami klien O:
klien tampak sedih dan murung
TD: 100/70 mmHg HR: 82x/i
RR: 20x/i Temp: 360C A:
Masalah belum teratasi Edukasi
1. menginformasikan bentuk bayi berdasarkan usia gestasi dan lamanya kematian kolaborasi
P:
anjurkan keluarga untuk
mengajak klien
berceriita tentang apa yang dirasakan klien
berikan terapi music atau mendengarkan ayat suci al-quran untuk menenangkan hati klien.
5.1 Discharge Planning
1. Anjurkan klien untuk mengkonsumsi diet tinggi protein dan vitamin C (contohnya: daging sapi, ikan tuna, dada ayam, telur, kacang kedelai, kacang almon, susu, jeruk, papaya, leci, jambu biji)
2. Informasikan kepada klien untuk membersihkan area vulva 2 kali sehari dengan antiseptic
3. Tidak dianjurkan untuk mengkonsumsi kopi dan alkohol 4. Anjurkan klien minum air putih sebanyak 6-8 gelas per hari 5. Tidak dianjurkan untuk sementara berhubungan suami istri
6. Anjurkan klien minum obat jalan yang diberikan perawat kepada klien 7. Kontrol seminggu kedepan setelah klien pulang untuk pemeriksaan vulva