JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN DISUSUN OLEH
ECHSAN FAUSI, S.Pd
CALON GURU PENGGERAK ANGKATAN 7 2022
Jurnal Refleksi Dwi Mingguan CGP Angkatan 7 Oleh: Echsan Fausi, S.Pd
Ini adalah pertama kalinya saya menulis "Jurnal Refleksi Dwimingguan” untuk kegiatan Pendidikan Guru Penggerak (PGP) Angakatan 7. Refleksi ini akan menceritakan bagaimana perjalanan saya menjadi seorang Calon Guru Penggerak (CGP). Menjadi guru penggerak merupakan sebuah anugerah yang diamanahkan oleh Allah kepada saya. Saya yang berawal iseng ikut kegiatan ini dari angkatan 5 dan tidak keterima, dan mencoba lagi iseng ikut angkatan ke 7 tidak disangka dan shock saya malah ketrima. Semoga berawal dari ke isengan saya ini, saya berusaha akan menjalankan amanah ini dengan baik agar saya bisa menjadi seorang pendidik sekaligus pengajar seperti yang diamanahkan oleh Ki Hadjar Dewantara.
Tanggal 20 Oktober 2022 menjadi awal kegiatan di minggu pertama pendidikan dan latihan Calon Guru Penggerak (CGP) angkatan 7 yang dilakukan secara daring melalui ruang zoom meet dan youtube. Acara ini diikuti serentak oleh seluruh Calon Guru Penggerak (CGP) Angkatan 7, Pengajar Praktik (PP) dan Fasilitator se-Indonesia. Hari ini menjadi titik nol perjalanan Calon Guru Penggerak (CGP). Sebagai Calon Guru Penggerak (CGP) saya pun tidak ketinggalan dengan mengikutinya secara saksama setiap informasi yang disampaikan oleh narasumber.Acara dimulai pukul 10.30 s.d 12.00 WIB. Pak Menteri hadir dalam acara pembukaan tersebut dan membuka acara tersebut.
Hari kedua tanggal 21 Oktober 2022 kegiatan diisi dengan pre-tes. Pada hari ini pengalaman, kemampuan, dan pengetahuan kami para CGP diuji, seberapa jauh kami mengetahui dasar-dasar pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan di Indonesia.
Jujur, saya cukup merasa kesulitan dalam menjawabnya, karena belum mempelajarinya.
Walaupun demikian saya berusaha menyelesaikan 30 soal dengan baik. Berapapun nilai yang diperoleh, kami para CGP menerimanya dengan ikhlas. Harapannya, setelah mempelajari modul dan menyaksikan video yang diberikan, pengetahuan kami bertambah dan semakin paham nantinya.
Tanggal 22 Oktober 2022 pertama kali kegiatan tatap muka yaitu Lokakrya Orientasi disitu semua peserta CGP dan didampaingi kepala sekolah berkumpul di SMA N 1 Kendal untuk melaksanakan kegiatan orientasi lokarkarya dari jam 8.30 -16.00 WIB, setelah semua berkumpul di aula kemudian dibuka oleh bapak kepala dinas Pendidikkan dan Kebudayaan Kabupaten Kendal, setelah pembukaan acara kemudian peserta CGP masuk kelas masing- masing waktu itu saya dikelas E dan baru pertama kali berjumpa dengan teman CGP dan PP (Pendamping Praktik). PP saya bernama ibu Musoziyah, S.Pd.,M.Pd. Kali ini kami mulai mengerjakan LK 1 dan LK 4 yang didampingi langsung oleh Kepala Sekolah dan Pengawas.
Kami merasa dengan dukungan dan kehadiran para kepala sekolah dan pengawas merupakan salah satu suport system dalam perjalana kami selam 6 bulan ke depan.
Tanggal 24 Oktober 2022 untuk pertama kalinya saya bertatap muka dengan fasilitator kelas 07.082 BBGP.Jateng, Bapak Saprudin, M.Pd dari Tangerang Selatan. Kegiatan di hari ini adalah Eksplorasi Konsep yang dimulai dari diri sendiri. Pak Saprudin, menjelaskan tentang arti pendidikan dan pengajaran menurut pemikiran Ki Hajar Dewantara. Saat itu juga, pengetahuan saya terbuka tentang apa arti pendidikan dan pengajaran yang sebenarnya.
Selama ini saya menganggap anak lahir sebagai kertas putih kosong yang perlu kita lukis dan gambar sesuai dengan kemauan, namun ternyata anak lahir sudah membawa bakat dan potensinya masing-masing. Dan tugas kita sebagai pendidiklah yang menebalkan dan menjadikannya semakin jelas.
Dalam kegiatan eksplorasi konsep ini sekaligus menjadi ruang diskusi. Merupakan sebuah kebahagian kami dapat berada satu ruang dengan para CGP dari Kabupaten Kendal.
Diskusi yang digelar melalui Google Meet menjadi hidup suasananya. Wah, jadi tambah semangat belajarnya. Bersama-sama kami berdiskusi dan menggali potensi sosial kultural yang ada di daerah Kendal. Dalam forum kolaborasi antar tingkatan sekolah Paud, SD, SMP, SMK DAN SMA, akhirnya kami saling mengenalkan adat istiadat, kebiasaan, dan kesenian di daerahnya masing-masing. Tidak sekadar menggali, kami berharap sosial kultural yang ada di daerah kami dapat kami terapkan menjadi sebuah kebiasaan yang baik di lingkungan sekolah khusnya kelasnya sendiri.
Materi pendidikan calon guru penggerak modul 1.1 diawali dengan telaah kritis refleksi pemikiran pendidikan Ki Hajar Dewantara, ada beberapa tulisan sebagai bahan telaah calon guru penggerak, yakni poin-poin pemikiran kritis Ki Hajar Dewantara terkait pendidikan dari masa kolonialisme hingga memasuki masa perjuangan kemerdekaan dan sampai
sekarang. Melalui media LMS, saya dan empat rekan sejawat lainnya mendapatkan tugas
mandiri terbimbing melalui forum diskusi dan ruang kolaborasi yang diarahkan oleh fasilitator dan pengajar praktik.
Lanjut berselancar di LMS terdapat demonstrasi kontekstual yang berada di Modul 1.1.a.6 yang memiliki Tujuan Pembelajaran Khusus yaitu sebagai peserta, kami diharapkan dapat mendesain strategi dalam mewujudkan pemikiran Ki Hadjar Dewantara (KHD), yakni
“Pendidikan yang Berpihak pada Murid” sesuai dengan Konteks Diri Murid dan Sosial Budaya di daerah asal (dalam bentuk karya demonstrasi kontekstual dalam video, atau infografis atau puisi atau lagu, dll). Pada Modul 1.1.a.7. tentang Elaborasi Pemahaman, kami berlatih membangun kerangka berpikir dan menyampaikan ide serta gagasan berdasarkan pemahaman dan internalisasi konsep pemikiran Ki Hadjar Dewantara (KHD) dalam ruang diskusi virtual. Banyak sharing dengan rekan sejawat yang tergabung dari beberapa kelas.Diskusi di forum diskusi virtual ini. Instruktur memberikan penguatan pemahaman konsep pemikiran filosofis Ki Hadjar Dewantara (KHD) untuk melatih kami untuk lebih saksama memaknai dan menghayati pemikirannya dan bagaimana penerapannya pada konteks lokal sosial budaya di daerah asal masing- masing.
Untuk mengerjakan tugas ini terdapat empat pertanyaan penuntun yaitu:
1. Bagaimana perwujudan ‘menuntun’ yang saya lihat dalam konteks sosial budaya di daerah saya? Perubahan konkret apa yang dapat saya lakukan untuk mewujudkannya?
2. Mengapa Pendidikan perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman?
3. Apa relevansi pemikiran KHD “Pendidikan yang berhamba pada anak” dengan peran saya sebagai pendidik?Bagaimana gambaran proses pembelajaran yang merefleksikan
(mencerminkan) pemikiran Ki Hadjar Dewantara (KHD)?
Tentunya dengan mengikuti program guru penggerak ternyata memiliki dampak positif bagi kita sebagai guru. Belajar secara mandiri, kolaborasi, elaborasi yang di fasilitasi oleh LMS membuat kita semakin berkembang. Dampak yang sangat terasa adalah kita harus dapat memanagemen waktu dengan baik agar kegiatan dapat berjalan dengan berdampingan tanpa ada yang ditinggalkan.
Dan kini sudah saatnya kita mengembalikan pemikiran Ki Hadjar Dewantara ke dalam ruang kelas. Menjadi seorang guru yang dapat momong dan memberikan tuntunan agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar. Praktik pendidikan hendaknya
mengutamakan pengasuhan dengan dasar kemanusiaan dan cinta kasih. Menjadikan sekolah sebagai tempat yang aman dan nyaman bagi tumbuh dan berkembangnya siswa sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman.
Salam dan Bahagia