LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI PASCA PANEN
(PNA 3523)
Oleh:
Andhiarizqi Mulyawan NIM. A1L113006
Rombongan 9
PRAKATA
Assalamualaikum Wr.Wb.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT atas rahmat, karunia dan izin- Nya, penulis akhirnya dapat menyelesaikan laporan praktikum Teknologi Pasca Panen. Laporan praktikum ini disusun untuk memenuhi syarat mata kuliah Teknologi Pasca Panen. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terimakasih kepada:
1. Bapak Ir. Slamet Rohadi, M.Agr.St. selaku dosen pengampu mata kuliah Teknologi Pasca Panen, yang telah mendukung dalam penyusunan makalah ini.
2. Bapak Ir. Budi Supono I., M.S. selaku dosen pengampu mata kuliah Teknologi Pasca Panen, yang telah mendukung dalam penyusunan makalah ini.
3. Asisten praktikum yang telah membantu selama pelaksanaan praktikum Teknologi Pasca Panen.
Akhirnya, penulis berharap agar laporan praktikum ini dapat berguna bagi penulis khususnya dan pembaca umumnya, serta penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun guna kebaikan penulisan di masa yang akan datang.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Purwokerto, 18 Desember 2015
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
PRAKATA ...i
DAFTAR ISI...ii
DAFTAR TABEL...vi
DAFTAR GAMBAR...vii
DAFTAR LAMPIRAN...viii
ACARA I: PENGERINGAN PRODUK PASCA PANEN I. PENDAHULUAN ...2
A. Latar Belakang...2
B. Tujuan...3
II. TINJAUAN PUSTAKA...4
A. Aspek Botani Padi...4
B. Aspek Botani Jagung...7
C. Aspek Botani Kacang Tanah...9
III. METODE PRAKTIKUM...12
A. Waktu dan Tempat...12
B. Bahan dan Alat...12
C. Prosedur Kerja...12
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN...13
A. Hasil...13
B. Pembahasan...15
LAMPIRAN...23
ACARA II: PEMATANGAN BUAH I. PENDAHULUAN ...26
A. Latar Belakang...26
B. Tujuan...27
II. TINJAUAN PUSTAKA...28
III. METODE PRAKTIKUM...31
A. Waktu dan Tempat...31
B. Bahan dan Alat...31
C. Prosedur Kerja...31
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN...33
A. Hasil...33
B. Pembahasan...34
V. PENUTUP...41
A. Kesimpulan...41
B. Saran...41
DAFTAR PUSTAKA...42
LAMPIRAN...44
ACARA III: TEKNOLOGI PENGEMASAN UNTUK KOMODITAS HORTIKULTURA I. PENDAHULUAN ...47
A. Latar Belakang...47
B. Tujuan...48
II. TINJAUAN PUSTAKA...49
A. Aspek Botani Apel...49
B. Aspek Botani Pakcoy...51
C. Aspek Botani Selada...53
D. Aspek Botani Wortel...55
III. METODE PRAKTIKUM...58
A. Waktu dan Tempat...58
B. Bahan dan Alat...58
C. Prosedur Kerja...58
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN...59
A. Hasil...59
B. Pembahasan...69
V. PENUTUP...80
A. Kesimpulan...80
B. Saran...80
DAFTAR PUSTAKA...81
LAMPIRAN...83
ACARA IV: PENANGANAN KUALITAS PRODUK PASCA PANEN I. PENDAHULUAN ...85
A. Latar Belakang...85
B. Tujuan...86
II. TINJAUAN PUSTAKA...87
A. Aspek Botani Apel...87
B. Aspek Botani Pakcoy...89
C. Aspek Botani Selada...91
D. Aspek Botani Wortel...93
III. METODE PRAKTIKUM...96
A. Waktu dan Tempat...96
B. Bahan dan Alat...96
C. Prosedur Kerja...96
V. PENUTUP...117
A. Kesimpulan...117
B. Saran...117
DAFTAR PUSTAKA...118
LAMPIRAN...120
BIODATA...121
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1.a. Kadar air produk pasca panen basah/kering...14
1.b. Pengamatan daya simpan produk pasca panen...15
2.a. Pengamatan pematangan pisang...33
3.a. Pengamatan teknologi pengemasan...59
4.a. Hasil pengamatan Kemas Ruangan Terbuka...98
4.b. Hasil pengamatan Tanpa Kemas Ruangan Terbuka...99
4.c. Hasil pengamatan Tanpa Kemas Ruangan Kulkas...100
4.d. Hasil pengamatan Kemas Ruangan Kulkas...101
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1.a. Grafik kadar air produk pasca panen...14
1.b. Contoh Moisture tester /meter...19
4.a. Refractometer...112
4.b. Pneutrometer...113
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
1.a. Dokumentasi pengamatan acara I...23
1.b. Logbook pengamatan acara I...24
2.a. Dokumentasi pengamatan acara II...44
2.b. Logbook pengamatan acara II...45
3.a. Logbook pengamatan acara III...83
4.a. Logbook pengamatan acara IV...120
LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI PASCA PANEN
(PNA 3253)
ACARA I
PENGERINGAN PRODUK PASCA PANEN
Oleh:
Andhiarizqi Mulyawan NIM. A1L113006
Rombongan 9
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN PURWOKERTO
2015
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2013, terjadi peningkatan laju pertumbuhan penduduk di Indonesia dengan rata-rata 1,49% per tahunnya.
Namun peningkatan jumlah penduduk tidak diiringi dengan peningkatan produksi pangan sehingga kebutuhan pangan tidak tercukupi. Maka dari itu, banyak dilakukan usaha-usaha untuk meningkatkan produksi pangan. Keberhasilan usaha tersebut salah satunya dipengaruhi oleh pengetahuan yang dimiliki tentang tanaman. Pengetahuan tersebut dapat menjadi referensi untuk melakukan teknik budidaya yang tepat.
Pengeringan merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan dalam pengelolaan pasca panen, dan masih termasuk dalam kegiatan budidaya tanaman.
Pengeringan penting untuk dilakukan untuk mengurangi jumlah kadar air yang terdapat dalam produk pasca panen. Pengurangan kadar air erat kaitannya dengan penekanan tingkat kerusakan produk. Tingkat kerusakan produk yang rendah akan meningkatkan nilai ekonomis dari produk tersebut, begitupun sebaliknya. Maka dari itu kegiatan tersebut perlu dilakukan dalam kegiatan pasca panen agar nilai ekonomis dari produk tetap dan terjaga dan memperoleh keuntungan dalam proses penjualannya.
B. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah:
1. Mengetahui kadar air dari beberapa produk pasca panen yang diperdagangkan dalam kondisi kering.
2. Membandingkan kadar air antara produk segar dan produk kering dari spesies tanaman yang sama.
3. Membandingkan daya simpan antara produk segar dan produk kering dari spesies tanaman yang sama.
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Aspek Botani Padi
Padi (Oryza sativa L.) adalah tanaman pangan yang menjadi komoditas utama di Indonesia (Abdullah, 2008). Berdasarkan aspek botani, padi diklasifikasikan sebagai berikut:
Divisio : Spermatophyta Kelas : Monocotyledoneae Ordo : Poales
Famili : Graminae Genus : Oryza
Spesies : Oryza sativa L.
Padi merupakan jenis tanaman monokotil. Bagian-bagian yang dimiliki oleh padi yaitu akar, batang, daun, bunga dan buah. Menurut Abdullah (2008), akar dari padi dibedakan menjadi:
1. Radikula, akar yang tumbuh pada saat benih berkecambah.
2. Akar serabut (akar adventif), akar tanaman monokotil.
3. Akar rambut, merupakan bagian akar yang keluar dari akar tunggang dan akar serabut.
Menurut Siregar (1981), batang padi tersusun dari beberapa ruas. Ruas yang terpendek terdapat pada pangkal batang. Ruas yang kedua, ruas yang ketiga, dan seterusnya adalah lebih panjang daripada ruas yang didahuluinya. Pada buku bagian bawah dari ruas tumbuh daun pelepah yang membalut ruas sampai buku bagian atas. Tepat pada buku bagian atas ujung dari daun pelepah terdapar percabangan, dimana cabang yang terpendek menjadi ligula (lidah) daun, serta yang terpanjang dan terbesar menjadi daun kelopak yang memiliki bagian auricle pada sebelah kiri dan kanan. Daun kelopak yang terpanjang dan membalut ruas yang paling atas dari batang disebut daun bendera. Bulir padi timbul pada daun pelepah teratas yang menjadi ligula dan daun bendera.
Pertumbuhan batang tanaman padi adalah merumpun, dimana terdapat batang utama yang mempunyai 6 mata atau sukma, yaitu sukma 1, 3, 5 di sebelah kanan dan sukma 2, 4, 6 di sebelah kiri. Dari tiap-tiap sukma timbul tunas yang disebut tunas orde pertama. Tunas orde pertama tumbuh dari sukma pertama, kemudian diikuti oleh sukma kedua, disusul oleh tunas yang timbul dari sukma ketiga dan seterusnya sampai kepada pembentukan tunas keenam (Siregar, 1981).
Padi mempunyai jenis daun yang berbeda-beda, baik bentuk, susunan, atau bagian bagiannya. Ciri khas daun padi adalah adanya sisik dan telinga daun. Hal inilah yang menyebabkan daun padi dapat dibedakan dari jenis rumput yang lain (Siregar, 1981). Bagian-bagian daun padi adalah :
1. Helaian daun.
2. Pelepah daun (upih).
3. Lidah daun
Daun yang muncul pada saat terjadi perkecambahan dinamakan koleoptil.
Koleoptil keluar dari benih yang dan akan memanjang terus hingga muncul daun.
Ketika koleoptil membuka, keluar daun pertama, daun kedua dan seterusnya hingga mencapai puncak yang disebut daun bendera, sedangkan daun terpanjang biasanya pada daun ketiga. Daun bendera merupakan daun yang lebih pendek daripada daun-daun di bawahnya, namun lebih lebar dari pada daun sebelumnya.
Daun bendera ini terletak di bawah malai padi (Abdullah, 2008).
Padi merupakan tanaman monocious. Jumlah benang sarinya ada 6 buah, tangkai sarinya pendek dan tipis, kepala sarinya besar serta mempunyai dua kandung serbuk. Putiknya mempunyai dua tangkai putik dengan dua buah kepala putik yang berbentuk malai, dengan warna pada umumnya putih atau ungu.
Komponen-komponen bunga padi adalah:
1. kepala sari 2. tangkai sari,
3. palea (belahan mahkota yang besar yang menutup gabah), 4. lemma (belahan mahkota yang kecil yang menutup gabah), 5. kepala putik,
6. tangkai bunga.
B. Aspek Botani Jagung
Jagung merupakan tanaman pangan penting di dunia setelah padi dan gandum (Rezaeieh, K. A dan Eivazi, 2011). Di Indonesia, jagung menduduki tempat kedua setelah padi. Pada beberapa daerah di Indonesia dan Maluku khususnya menjadikan jagung sebagai makanan pokok (Zubachtirodin et.al., 2007). Produksi ekonomi jagung adalah berupa biji jagung merupakan sumber karbohidrat potensial untuk memenuhi kebutuhan pangan maupun non pangan (Soeprapto, 1992).
Berdasarkan aspek botani, menurut Soeprapto (1992), jagung diklasifikasikan sebagai berikut:
Divisio : Magnoliophyta Kelas : Liliopsida Ordo : Poales Famili : Poaceae Genus : Zea
Spesies : Zea mays L.
Jagung merupakan tanaman semusim (annual). Satu siklus hidupnya diselesaikan dalam 80-150 hari. Paruh pertama dari siklus merupakan tahap pertumbuhan vegetatif dan paruh kedua untuk tahap pertumbuhan generatif (Soeprapto, 1992). Tinggi tanaman jagung sangat bervariasi. Meskipun tanaman jagung umumnya berketinggian antara 1m sampai 3 m. Terdapat varietas yang dapat mencapai tinggi 6m. Tinggi tanaman biasa diukur dari permukaan tanah
hingga ruas teratas sebelum bunga jantan. Meskipun beberapa varietas dapat menghasilkan anakan (seperti padi), pada umumnya jagung tidak memiliki kemampuan ini (Soeprapto, 1992).
Akar jagung tergolong akar serabut yang dapat mencapai kedalaman 8 m.
Meskipun sebagian besar berada pada kisaran 2 m. Pada tanaman yang sudah cukup dewasa muncul akar adventif dari buku-buku batang bagian bawah yang membantu menyangga tegaknya tanaman (Soeprapto, 1992)..
Batang jagung tegak dan mudah terlihat, sebagaimana sorgum dan tebu, namun tidak seperti padi atau gandum. Terdapat mutan yang batangnya tidak tumbuh pesat sehingga tanaman berbentuk roset. Batang beruas-ruas. Ruas terbungkus pelepah daun yang muncul dari buku. Batang jagung cukup kokoh namun tidak banyak mengandung lignin (Soeprapto, 1992)..
Daun jagung adalah daun sempurna. Bentuknya memanjang. Antara pelepah dan helai daun terdapat ligula. Tulang daun sejajar dengan ibu tulang daun.
Permukaan daun ada yang licin dan ada yang berambut. Stoma pada daun jagung berbentuk halter, yang khas dimiliki familia Poaceae. Setiap stoma dikelilingi sel- sel epidermis berbentuk kipas. Struktur ini berperan penting dalam respon tanaman menanggapi defisit air pada sel-sel daun (Soeprapto, 1992)..
Jagung memiliki bunga jantan dan bunga betina yang terpisah (diklin) dalam satu tanaman (monoecious). Tiap kuntum bunga memiliki struktur khas
dan beraroma khas. Bunga betina tersusun dalam tongkol. Tongkol tumbuh dari buku, di antara batang dan pelepah daun. Pada umumnya, satu tanaman hanya dapat menghasilkan satu tongkol produktif meskipun memiliki sejumlah bunga betina. Beberapa varietas unggul dapat menghasilkan lebih dari satu tongkol produktif, dan disebut sebagai varietas prolifik. Bunga jantan jagung cenderung siap untuk penyerbukan 2-5 hari lebih dini daripada bunga betinanya (protandri) (Soeprapto, 1992).
.
C. Aspek Botani Kacang Tanah
Kacang tanahatau yang dikenal dengan nama latin Arachis hypogaea L. dan dikenal dengan istilah peanutdi Inggris, merupakan tumbuhan yang dimasukkan dalam daftar kekerabatan polong-polongan atau Fabaceae. Kacang tanah pada permulaannya ditanam secara luas oleh suku Indian. Namun pada perkembangannya, kacang tanah telah dibudidayakan hampir di seluruh penjuru dunia termasuk di Indonesia.
Berdasarkan aspek botani, menurut Soeprapto (2002), kacang tanah diklasifikasikan sebagai berikut:
Divisio : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Ordo : Fabales
Famili : Fabaceae Genus : Arachis
Spesies : Arachis hypogaea L.
Sistem akar merupakan akar tunggang yang telah berkembang menjadi baik dengan banyak akar-akar lateral, tidak memiliki rambut akar, dan memiliki bintil akar untuk mengikat nitrogen. Terdapat akar cabang yang dapat berkembang menjadi akar permanen. Perkembangan tersebut juga mengubah fungsinya menjadi akar pada umumnya, yaitu menyerap nutrisi tanah (Cahyono, 2007).
Berbentuk cabang percabangan terdiri dari dua jenis yaitu dengan cabang vegetatif dan cabang reproduktif. Cabang vegetatif dicirikan dengan adanya daun sisik yang disebut katofil yang terdapat pada 2 buku pertama pada cabang. Cabang vegetatif sekunder dan tersier dapat berkembang dari cabang vegetatif primer (Soeprapto, 2002).
Daun pada batang utama tersusun spirat, pada cabang vegetatif primer tersusun berseling, berdaun 4, dengan 2 pasang daun duduk berhadapan berbentuk membundar telur sungsang berukuran 3-7 cm x 2-3 cm, panjang tangkai daun 3-7 cm, terdapat bagian yang menggembung pada dasar tangkai daun pada dasar setiap daun. Hal ini merupakan ciri adanya pergerakan pada malam hari yaitu tangkai daun akan menggulung ke bawah dan daun akan menggulung ke atas sampai keduanya bersentuhan (Soeprapto, 2002).
Cabang perbungaan berbentuk tunggal pada katafil dan ketiak daun pada cabang vegetatif dan ada beberapa yang tumbuh pada buku teratas pada batang.
Pada setiap perbungaan terdapat 2-5 bunga, bunga duduk berwarna kuning muda
Buah polong berbentuk silindris, berisi 1-6 biji buah yang siap dipanen memiliki ciri warna coklat kehitam-hitaman.Setiap biji diliputi oleh selaput biji tipis berwarna antara putih hingga merah muda, merah, ungu, coklat kemerahan dan sedikit kecoklatan. Setiap biji memiliki dua keeping biji yang lebar, epikotil dengan daun dan tunas primordial, hipokotil dan akar primer (Soeprapto, 2002).
Menurut Cahyono (2007), biji yang akan dijadikan benih yang baik memiliki syarat-syarat sebagai berikut :
1. Berasal dari tanaman yang baru dan varietas unggul 2. Daya tumbuh yang tinggi (lebih dari 90 %) dan sehat 3. Kulit benih mengkilap, tidak keriput, dan cacat 4. Murni atau tidak bercampur dengan varietas lain 5. Kadar air benih berkisar 9-12 %
III. METODE PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Waktu pelaksanaan praktikum adalah hari Selasa, 8 Desember 2015 di Laboratorium Agronomi dan Hortikultura.
B. Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah: biji jagung, gabah dan biji kacang tanah dalam kondisi kering dan segar. Alat-alat yang digunakan pada
praktikum ini adalah: moisture meter, kantong plastik
¼
kg, karet gelang dan kertas label.C. Prosedur Kerja
1. Kegiatan 1
a. Produk pasca panen yang segar dan kering disiapkan.
b. Kadar air dari produk tersebut diukur dengan moisture meter.
c. Kadar air dari produk tersebut dibuat perbandingan dengan grafik batang 2. Kegiatan 2
a. Produk pasca panen yang segar dan kering disiapkan.
c. Kantong plastik tersebut diberi label. Pada label ditulisi nama produk, nama kelompok dan tanggal dimasukkannya produk.
d. Produk diamati selama 5 hari, dicatat hasilnya dan didokumentasikan setiap harinya.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
1. Tabel 1.a. Kadar air produk pasca panen basah/kering
No Jenis Produk Warna Kadar Air
1. Biji Jagung Kering Putih 16 %
2. Biji Jagung Basah Kuning 25,8 %
3. Gabah Kering Kuning Kecoklatan 14,8 %
4. Gabah Basah Coklat 25,4 %
5. Kacang Tanah Kering Coklat Kekuningan 17,6 % 6. Kacang Tanah Basah Coklat Keputihan 28,2 %
2. Gambar 1.a. Grafik kadar air produk pasca panen
Jenis Produk (%) 0%
5%
10%
15%
20%
25%
30%
16.00%
25.8%
14.8%
25.4%
17.6%
28.2%
Biji Jagung Kering Biji Jagung Basah Gabah Kering Gabah Basah Kacang Tanah Kering Kacang Tanah Basah
Tabel 1.b. Pengamatan daya simpan produk pasca panen N
o Tanggal Indikator
Hasil Pengamatan
Biji Jagung Gabah Kacang Tanah
Kering Basah Kering Basah Kering Basah
1. 9 Desember 2015
Warna P K C C C P
Bentuk T T T T T T
Penampilan T T T T T T
Bau TBk Bk TBk TBk TBk TBk
2. 10 Desember 2015
Warna P K C C C P
Bentuk T T T T T T
Penampilan T T T T T T
Bau TBk Bk TBk TBk TBk TBk
3. 11 Desember 2015
Warna P K C C C P
Bentuk T T T T T T
Penampilan T T T T T B
Bau TBk Bk TBk TBk TBk TBk
4. 12 Desember 2015
Warna P K C C C P
Bentuk K K T T T K
Penampilan B B T T T B
Bau TBk Bk TBk TBk TBk TBk
5. 13 Desember 2015
Warna P K C C C P
Bentuk K K T T T K
Penampilan B B T T T B
B. Pembahasan
Pengeringan merupakan usaha untuk menurunkan kadar air sampai batas tertentu sehingga reaksi biologis terhenti dan mikrorganisme serta serangga tidak bisa hidup di dalamnya (Dinarto, 2010). Reaksi biologis tersebut salah satunya adalah respirasi. Kadar air yang tinggi menyebabkan suatu kekuatan respirasi suatu produk hortikultura menjadi lebih besar. Laju respirasi merupakan petunjuk yang baik untuk untuk daya simpan buah sesudah dipanen. Intensitas respirasi dianggap sebagai ukuran jalannya laju metabolisme, oleh karena itu sering dianggap sebagai petunjuk mengenai potensi daya simpan buah (Asgar dan Sinaga, 1992).
Menurut Lakitan (1995), proses pengeringan terbagi menjadi 3 kategori, yaitu:
1. Pengeringan udara atau pengeringan langsung dibawah tekanan atmosfir dengan memanfaatkan udara bebas di atmosfir.
2. Pengeringan hampa udara. Keuntungan dalam pengeringan ini didasarkan dengan kenyataan penguapan air terjadi lebih cepat di bawah tekanan rendah daripada di bawah tekanan tinggi.
3. Pengeringan beku. Pengeringan beku adalah sebuah proses yang memberikan kualitas bahan yang baik dari segi stabilitas aroma, warna, dan kemampuan rehidrasi. Pengeringan ini didasarkan proses sublimisasi yang berada di temperatur 0oC dan tekanan 613 Pascal.
Menurut Dhalimi (1990), metode pengeringan yang dilakukan pada kegiatan pasca panen adalah:
1. Pengeringan alami, terdiri dari:
a. Sun Drying
Pengeringan dengan menggunakan sinar matahari sebaiknya dilakukan di tempat yang udaranya kering dan suhunya lebih dari 100 oF.
Pengeringan dengan metode ini memerlukan waktu 3-4 hari. Untuk kualitas yang lebih baik, setelah pengeringan, panaskan bahan di oven dengan suhu 175 oF selama 10-15 menit untuk menghilangkan telur serangga dan kotoran lainnya (Dhalimi, 1990).
b. Air Drying
Pengeringan dengan udara berbeda dengan pengeringan dengan menggunakan sinar matahari. Pengeringan ini dilakukan dengan cara menggantung bahan di tempat udara kering berhembus. Misalnya di beranda atau di daun jendela. Bahan yang biasa dikeringkan dengan metode ini adalah kacang-kacangan (Lakitan, 1995).
Kelebihan pengeringan alami adalah tidak memerlukan keahlian dan peralatan khusus, serta biayanya lebih murah.Kelemahan pengeringan alami adalah membutuhkan lahan yang luas, sangat tergantung pada cuaca, dan sanitasi higienis sulit dikendalikan (Dhalimi, 1990).
Pengeringan makanan berlanhgsung dalam jangka waktu 6-10 jam, tergantung dengan jenis bahan yang dikeringkan. Hal tersebut dapat mengefisienkan waktu dalam proses penanganan pasca panen (Rahmat, 1993).
b. Penggunaan oven
Oven digunakan dengan mengatur panas, kelembaban, dan kadar air. Waktu yang diperlukan adalah sekitar 5-12 jam dan lebih lama dari dehydrator biasa. Agar bahan menjadi kering, temperatur oven harus di atas 140 oF (Dhalimi, 1990).
Kelebihan pengeringan buatan adalah suhu dan kecepatan proses pengeringan dapat diatur seuai keinginan, tidak terpengaruh cuaca, sanitasi dan higienisasi dapat dikendalikan (Lakitan, 1995). Kelemahan pengeringan buatan adalah memerlukan keterampilan dan peralatan khusus untuk penggunaan peralatan serta biaya lebih tinggi dibanding pengeringan alami (Lakitan, 1995).
Telah dilakukan praktikum mengenai pengeringan pada produk pasca panen. Praktikum dilakukan dalam dua kegiatan. Kegiatan pertama adalah mengukur kadar air komoditas pasca panen menggunakan alat moisture meter.
Moisture meter adalah peralatan yang dipakai untuk mengukur jumlah kandungan
air yang terdapat pada suatu bahan, diantaranya gabah, biji-bijian, sorgum, gandum, dan lain-lain dalam kondisi kering maupun basah. Alat tersebut juga digunakan untuk mengukur tingkat kelembaban suatu zat (Rahmat, 1993).
Langkah awal dalam penggunaan alat ini adalah pastikan alat dinyalakan terlebih dahulu dengan menekan tombol ON. Selanjutnya dipilih komoditas yang akan diukur kadar airnya. Lalu dimasukkan maksimal 3 biji produk ke dalam lubang yang berada di bagian bawah alat, lalu tutup dengan hati-hati.Biji tersebut diusahakan ditekan sampai pecah, tetapi jangan juga terlalu dalam agar tidak merusak alat akibat tekanan yang terlalu tinggi. Berikutnya dipilih dan ditekan tombol tertentu pada alat untuk masing-masing komoditas. Setelah itu, angka kadar air komoditas akan muncul pada layar (Diperta Kab.Jombang, 2015).
Gambar 1.b. Contoh Moisture tester /meter
Kegiatan kedua setelah pengukuran kadar air adalah melakukan pengamatan terhadap perubahan komoditas dengan kadar air tertentu selama 5 hari. Komoditas yang diamati adalah gabah kering dan basah, jagung kering dan basah, serta kacang tanah kering dan basah. Komoditas tersebut dimasukkan ke dalam plastik terpisah lalu diletakkan di ruang terbuka. Kemudian didokumentasikan pada hari pertama dan hari terakhir pengamatan. Variabel yang diamati adalah warna, bentuk, penampilan dan bau. Pada variabel warna terdapat pilihan warna kuning (K), kuning kehitaman (KH), cokelat (C), cokelat kehitaman
Terdapat perbedaan kadar air awal pada masing-masing komoditas baik yang basah ataupun kering. Kadar air terendah dimiliki oleh gabah kering dengan 14,8 % kadar air. Sedangkan kadar air tertinggi dimiliki oleh kacang tanah basah dengan 28,2 % kadar air. Kadar air rendah dimiliki suatu komoditas apabila telah dikeringkan terlebih dahulu. Apabila belum dikeringkan, maka akan memiliki kadar air yang banyak (Soetopo, 2010). Hal tersebut dapat memengaruhi daya simpan benih, yaitu benih menjadi cepat busuk apabila kadar airnya terlalu banyak (Soetopo, 2010). Pada pengamatan, jagung basah menjadi komoditas yang paling cepat busuk dibandingkan dengan komoditas lainnya, yaitu busuk pada hari ke 1 pengamatan. Agar tidak cepat busuk, maka jumlah kadar air pada suatu komoditas perlu dikurangi dalam jumlah tertentu yang aman dan dikemas dalam bahan yang tepat (Dinarto, 2010).
Selama 5 hari pengamatan, perubahan pada komoditas pertama kali terjadi pada jagung basah yang menjadi busuk pada hari ke 1 pengamatan. Selanjutnya perubahan mulai terjadi pada komoditas lain pada hari ke 4 pengamatan. Variabel yang berubah adalah bentuk dan penampilannya, sedangkan warna tetap hingga hari ke 5 pengamatan. Menurut Dinarto (2010), kemasan yang baik dan tepat dapat menciptakan ekosistem ruang simpan yang baik bagi benih sehingga benih dapat disimpan lebih lama. Plastik nyatanya merupakan bahan yang baik untuk digunakan sebagai pengemas, karena mampu menghambat perubahan bentuk dari benih hingga beberapa hari walaupun bukan bahan pengemas yang terbaik jika dibandingkan dengan aluminium foil (Purba dkk., 2013).
V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil pada praktikum acara I ini yaitu:kadar air produk yang kering memiliki kadar air yang lebih sedikit dibandingkan dengan kadar produk air yang basah pada spesies yang sama.: kadar air produk yang kering memiliki daya simpan yang lebih lama dibandingkan dengan kadar produk air yang basah.
B. Saran
Saran yang dapat diberikan pada praktikum acara I ini adalah :
1. Meningkatkan ketelitian dalam melakukan prosedur kerja untuk mencapai hasil yang diharapkan.
2. Meningkatkan kerjasama antar praktikan agar pelaksanaan rangkaian acara praktikum lebih maksimal.
3. Menjalin komunikasi lebih intens antar praktikan dan antara praktikan dengan asisten untuk kelancaran berlangsungnya praktikum.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, B. 2008. Perakitan dan Pengembangan Padi Varietas Baru. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Jakarta.
Asgar, A. dan Sinaga, R.M. 1992. Pengeringan bawang merah (Allium ascalonicum L.) dengan menggunakan ruang berpembangkit vortex. Bul.
Penel. Hortikultura 22 (1): 24-32.
Badan Pusat Statistik. 2013. Data Penduduk Indonesia menurut Provinsi 1971, 1980, 1990, 2000 dan 2010. www.bps.go.id diakses 19 Mei 2015.
Cahyono, B. 2007. Kacang Tanah. Rineka Cipta, Semarang.
Dhalimi, A. 1990., Penanganan Pasca Panen Buah-buahan dan Sayuran Segar.
Makalah Pelatihan Kerja sama FAO- Dep. Perdagangan di Jakarta 12 – 14 Pebruari 1990, p.17–37.
Dinarto, W. 2010. Pengaruh kadar air dan wadah simpan terhadap viabilitas benih kacang hijau dan populasi hama kumbang bubuk kacang hijau Callosobruchus chinensis L.Jurnal AgriSains 1 (1): 68-78.
Dinas Pertanian Kabupaten Jombang. 2015. Cara Penggunaan Moisture Tester(On-line).https://www.google.com/url?
sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&uact=8&sqi=2&ve d=0ahUKEwjCw8ao3uzJAhXDt44KHRb-BMwQFggnMAA&url=http
%3A%2F%2Fpertanian.jombangkab.go.id%2Funduhan%2Fteknologi- pertanian%3Fdownload%3D75%3Acara-penggunaan-moisture- tester&usg=AFQjCNFO1Vsdqz0IeW-
p8NUA7IX3PlrlCg&sig2=EnZ1Tqx_N1sbbLlpN-
3rPA&bvm=bv.110151844,d.c2E diakses 21 Desember 2015.
Lakitan, B. 1995. Hortikultura Teori, Budidaya dan Pasca Panen. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Purba, H. W. S., F.E. Sitepu dan Haryati. 2013. Viabilitas benih rosella (Hibiscus sabdariffa L.) pada berbagai kadar air awal dan kemasan benih. Jurnal Online Agroekoteknologi1(2):318-326.
Rahmat. 1993. Panen dan Pasca Panen Serta Cara Khusus Keberhasilan.
Setyabook, Bandung.
Rezaeieh, K. A. and A. Eivazi. 2011. Evaluation of morphological characteristics in five persian maize (Zea mays l.) under drought stress. African Journal of Agricultural Research 6 (18): 4409-4411.
Siregar, Hadrian. 1981. Budidaya Tanaman Padi di Indonesia. Sastra Hudaya, Bogor.
Soeprapto, H.S. 1992. Bertanam Jagung. Penebar Swadaya, Jakarta.
_____________. 2002. Bertanam Kacang Tanah. Penebar Swadaya, Jakarta.
Soetopo, L. 2010. Teknologi Benih. PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Zubachtirodin, M.S. Pabbage, dan Subandi. 2007. Wilayah Produksi dan Potensi Pengembangan Jagung. Jagung: Teknik Produksi dan Pengembangan.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Prosiding.
Departemen Pertanian, Jakarta.
LAMPIRAN
Lampiran 1.a. Dokumentasi pengamatan acara I.
Hari Pertama Hari Kelima
Gabah Kering
Gabah Basah
Jagung Kering
Lampiran 1.b. Logbook pengamatan acara I.