• Tidak ada hasil yang ditemukan

LK 1.2 Eksplorasi Penyebab Masalah - Tanti Sibuea (1)

N/A
N/A
tanti

Academic year: 2023

Membagikan "LK 1.2 Eksplorasi Penyebab Masalah - Tanti Sibuea (1)"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

Tugas

LK 1. 2 Eksplorasi Penyebab Masalah

No Masalah yang telah

diidentifikasi Hasil eksplorasi penyebab masalah Analisis eksplorasi penyebab masalah

1 Literasi

 Kurangnya minat baca siswa dalam pelajaran Bahasa Indonesia

Hasil pengamatan :

1. Siswa menganggap membaca itu sesuatu yang sangat membosankan

2. Guru tidak menguasai metode pembelajaran 3. Guru kurang memahami latar belakang siswa 4. Kurangnya pantauan siswa terhadap minat

baca siswa

5. Adanya pemikiran keliru tentang tanggung jawab membaca

Sumber Kajian Literatur Suphan, Syamswisna, Yokhebed.

MINAT BACA SISWA KELAS VIII SMP SANTO FRANSISKUS ASISI PONTIANAK PADA MATERI FOTOSINTESIS

Dalman (2013: 145) menyatakan bahwa minat baca seseorang tidaklah bisa tumbuh dengan sendirinya, tetapi membutuhkan peran orang lain dengan dorongan atau upaya lain yang

menjadikan anak teransang untuk membaca, dan hal ini tidak terlepas dari kuantitas membaca dan kuantitas bahan bacaannya. Dengan banyak membaca maka akan semakin banyak pengetahuan yang diperoleh oleh siswa.

https://jurnal.untan.ac.id/index.php/jpdpb/article/

viewFile/15381/13557

1. Menurut Prasetyono (2008: 33) beberapa guru kurang dapat membangkitkan nalar serta kreativitas siswa.

2. Wahyuni (2010: 181) mengungkapkan bahwa lingkungan keluarga dan sekitar yang kurang mendukung kebiasaan membaca dapat menyebabkan rendahnya minat membaca pada anak

3. Prasetyono (2008: 21) menyatakan bahwa rendahnya minat membaca pada anak disebabkan oleh beberapa hal, salah satunya judul dan isi buku yang kurang menarik.

4. (Tankersley, 2003: 90).peserta didik diberikan strategi untuk membantunya mengatur dan membuat makna saat dia membaca.

Eksplorasi Penyebab Masalah hasil Sumber wawancara Kepala Sekolah Narsum : Nujamliah, S.Pd,. M.Pd.

Waktu : 20 November 2023 1. Kurangnya motivasi dari guru.

2. Minimnya upaya dan strategi dari guru mendorong kebiasaan siswa.

3. Isi buku pembelajaran sulit dipahami.

Setelah dilakukan analisis terhadap kurangnya minat bacasiswa melalui berbagai sumber literatur dan wawancara, maka dapat ditentukan penyebab masalah yang sesuai dengan kondisi satuan pendidikan sebagai berikut:

1. Siswa menganggap membaca itu sesuatu yang sangat membosankan dan waktunya digunakan untuk bermain game online

2. Guru tidak menguasai metode pembelajaran yang dapat memotivasi literasi membaca.

3. Guru kurang memahmi latar belakang siswa sehingga penentuan bahan bacaan kurang tepat

4. Kurangnya pemantauan dari guru terhadap kegiatan membaca siswa

5. Adanya pemikiran keliru bahwa kegiatan membaca hanya menjadi tanggung jawab guru Bahasa saja.

Nama Mahasiswa : T A N T I S I B U E A , S . P d . Asal Institusi : S M P N . 1 T u a l a n g

(2)

4. Kurangnya contoh panutan dari guru melakukan kebiasaan membaca di sekolah.

5. Minimnya perhatian dari orang tua.

2 Kesulitan belajar siswa termasuk siswa berkebutuhan khusus dan masalah pembelajaran (berdiferensiasi) di kelas berdasarkan pengalaman mahasiswa saat menjadi guru.

 Guru cenderung mengajar dengan kategori tinggi, sehingga siswa dengan kategori sedang dan bawah susah mengikuti proses pembelajaran

Hasil Pengamatan :

1. Guru tidak melakukan diagnostik awal untuk mengukur kemampauan siswa untuk materi yang akan dipelajari

2. Guru tidak membuat kegiatan pembelajaran yang menarik

Sumber Kajian Literatur

Jurnal Pendidikan Agama Islam Detik News

Heterogen vs Homogen

Siswa berkemampuan lebih, berkemampuan sedang dan rendah, berkumpul dalam satu kelas, kelas menjadi lebih heterogen. Kelas yang

beragam membutuhkan pendekatan pembelajaran yang berbeda dibanding mengajar siswa dengan kemampuan homogen. Kelas yang homogen adalah kelas yang dihuni peserta didik dengan kemampuan sama atau tidak jauh berbeda.

Para guru harus lebih mengenal kemampuan dan potensi peserta didiknya. Tentu ini tak mudah dalam praktiknya, terutama guru bidang studi di banyak sekolah, yang harus mengajar di beberapa kelas dengan jumlah murid yang dihadapi

ratusan. Sibuknya guru dalam mengajar, dari ruang kelas satu ke kelas yang lain, seakan-akan menunjukkan seperti tak ada waktu untuk melakukan refleksi serta melaksanakan penelitian-penelitian kecil untuk mengembangkan proses pembelajaran.

Strategi Pembelajaran

Strategi yang dilakukan ketika berhadapan dengan siswa yang banyak, antara lain; pertama, dengan meminta salah satu murid menyebutkan namanya --secara psikologis murid merasa dia dikenal oleh guru. Tidak sekadar memanggil anak yang pintar atau kemampuannya paling rendah.

Kedua, menekankan kembali kepada para siswa bahwa proses belajar bukan lagi sebagai arena persaingan, tapi sebuah tempat untuk belajar saling bekerja sama, saling mendorong dan membantu. Bahwa hidup penuh dengan perbedaan-perbedaan. Bagi siswa yang sudah menguasai pelajaran diberi tantangan

pengetahuan dan keterampilan lebih lanjut tanpa meninggalkan siswa dengan kemampuan rendah.

https://news.detik.com/kolom/d-

4668483/mengajar-murid-yang-heterogen Eksplorasi Penyebab Masalah hasil Wawancara rekan sejawat

Narsum : Naimah, S.Pd Waktu : 19 November 2023

1. Guru tidak memperhatikan modalitas belajar yang dimiliki siswanya.

2. Guru belum menyusun rencana pelaksanaan

Setelah dilakukan analisis terhadap kurangnya minat bacasiswa melalui berbagai sumber literatur dan

wawancara, maka dapat ditentukan penyebab masalah yang sesuai dengan kondisi satuan pendidikan sebagai berikut:

1. Guru tidak melakukan diagnostik terlebih dahulu untuk mengetahui modal awal pengetahuan siswa sehingga guru cenderung mengajar dengan kategori tinggi. Hal ini berdampak pada siswa dengan kategori sedang dan bawah susah mengikuti proses

pembelajaran dengan baik.

2. Guru tidak membuat kegiatan pembelajaran yang menarik perhatian siswa misalnya media pembelajaran sehingga kegiatan belajar kurang menyenangkan.

(3)

pembelajaran, yang mencakup rencana

asesmen formatif yang akan dilakukan di awal pembelajaran

3 Membangun relasi/hubungan dengan siswa dan orang tua siswa.

 Komunikasi guru dan orang tua siswa

kurang terjalin dengan baik

Hasil pengamatan saya :

1. Relasi yang belum terjalin baik antara guru dan wali murid.

2. Sulitnya menjumpai orangtua karena faktor ekonomi

3. Orangtua sibuk sehingga kurang bertanggung jawab terhadap anak 4. Guru tidak melibatkan peran orantua

Kajian literatur :

Menurut Brent D. Ruben dalam Arni Muhammad bahwa komunikasi adalah suatu proses melalui individu dalam hubungannya, dalam kelompok, dalam Organisasi dan dalam masyarakat menciptakan, mengirimkan, dan menggunakan informasi untuk

mengkoordinasi lingkungannya dan orang lain.

Dari sudut etimologi, menurut Roudhonah dalam buku ilmu komunikasi, dibagi menjadi beberapa kata diantaranya

communicare yang berarti berpartisipasi atau member tahukan, Communis

opinion yang berarti pendapat umum.

Secara “terminologi” ada banyak ahli yang mencoba mendefinisikan

diantaranya Hovland, Janis dan Kelley seperti yang dikemukakan oleh Forsdale bahwa “komunikasi adalah proses

individu mengirim stimulus yang biasanya dalam bentuk verbal untuk mengubah tingkah laku orang lain”.

Dari sudut etimologi menurut

Roudhonah dalam buku ilmu komunikasi dibagi menjadi beberapa kata

diantaranya

Eksplorasi Penyebab Masalah hasil Wawancara dengan wali murid : Narsum : Ramauli JF

Waktu : 19 November 2023

1. Kualitas belajar peserta didik juga akan meningkat apabila terjalin hubungan dan komunikasi yang aktif terhadap peserta didik.

2. Peran orang tua/ wali murid akan sangat membantu perkembangan belajar peserta didik, untuk itu guru harus membangun komunikasi secara teratur bersama wali murid 3. Guru sibuk dengan kegiatan diluar jam

sekolah.

4. Orang tua siswa sibuk dengan pekerjaan.

5. Strategi pembelajaran tidak melibatkan orang tua.

6. Kurangnya sosialisasi dari pihak sekolah.

7. Rendahnya partisipasi orang tua dalam

Setelah dianalisis, penyebab belum

terbangunnya komunikasi yang baik bersama orang tua murid, karena :

1. Relasi yang belum terjalin karena

kurangnya motivasi guru untuk melakukan

kunjungan ke rumah bagi siswa yang

memiliki masalah dalam pembelajaran

2. Sulit mencari orang tua dan rumah jauh, orang tua tidak perhatian kesibukan orang tua kemampuan orang tua, faktor ekonomi dan orang tua yang over

komunikasidan guru.

3. Kesibukan orang tua bekerja atau mencari nafkah untuk kebutuhan keluarga dianggap lebih penting sehingga

tanggung jawab

keberhasilan pendidikan diserahkan kepada sekolah.

4. Guru tidak melibatkan peran orang tua dalam proses belajar siswa.

(4)

mengikuti rapat sekolah.

8. Rendahnya transparansi sekolah kepada masyarakat.

9. Rendahnya SDM orang tua siswa.

4 Pemahaman/

pemanfaatan model- model pembelajaran inovatif berdasarkan karakteristik materi dan siswa.

 Guru

menggunakan model

pembelajaran yang kurang inovatif

Hasil pengamatan saya :

1. Guru tidak menguasai model – model pembelajaran inovatif.

2. Guru kurang mampu menyiasati waktu yang tersedia.

3. Guru cenderung merasa nyaman dengan gaya mengajar sebelumnya.

4. Guru kurang mendapat pelatihan tentang model-model pemeblajaran.

Kajian Literatur

Trianto (2010: 51), menyebutkan bahwa model pembelajaran adalah suatu perencanaan yang digunakan sebagai pedoman dalam

merencanakan pembelajaran di kelas. Mengacu pada pendekatan pembelajaran, termasuk tujuan- tujuan pengajaran, dan pengelolaan kelas.

Muhammad Fathurrohman, Paradigma

Pemebelajaran Kurikulum 2013, (Yogyakarta:

Kalimedia, 2015), 195 Model pembelajaran adalah kerangka konseptual, sistematik berfungsi sebagai pedoman dalam perencanaan

pembelajaran bagi para pendidik dalam melaksanakan aktifitas pembelajaran.

Usman (2006: 34) bahwa hasil belajar yang dicapai oleh siswa sangat erat kaitannya dengan rumusan tujuan instruksional yang direncanakan guru sebelumnya.

Eksplorasi Penyebab Masalah hasil wawancara dengan rekan sejawat Narsum : Suheti Manullang, S.Pd Waktu : 18 November 2023

1. Guru tidak mau mengembangkan diri.

2. Guru tidak memahami rancangan pembelajaran yang inovatif.

3. Rancangan pembelajaran hanya sebagai pelengkap administrasi.

4. Kurangnya pemahaman guru tentang strategi pendekatan pembelajaran.

Setelah dilakukan analisis lebih lanjut diperoleh hasil :

1. Guru tidak menguasai model – model pembelajaran inovatif sehingga cenderung membosankan

2. Guru kurang memahami langkah- langkah

pembelajaran sesuai sintak yang ada pada model

pembelajaran. Sehingga, guru kurang mampu dalam

menstimulasi siswa untuk menemukan sendiri masalah yang ada pada materi

pembelajaran 3. Guru tidak memiliki

keinginan merubah gaya mengajar karena hanya mengandalkan satu model pembelajaran pada semua jenjang kelas, sehingga terkesan

4. Guru kurang

mendapatkan pelatihan mengenai pemanfaatan model-model

pembelajaran inovatif berdasarkan karakteristik

5 Materi terkait Literasi numerasi, advanced material, miskonsepsi, HOTS.

 Guru

melaksanakan pembelajaran dan memberikan evaluasi pembelajaran tidak berbasis literasi-numerasi serta konsep pembelajaran tipe HOTS

Hasil Pengamatan saya :

1. Pemahaman guru masih kurang tentang metode –metode pembelajaran berpikir kritis 2. Guru masih cenderung menuliskan butir-butir

soal yang memerlukan aspek ingatan Kajian Literatur

1. Barratt, 2014: 131. Higher Order Thinking Skill (HOTS) adalah keterampilan berpikir tingkat tinggi yang menuntut pemikiran secara kritis, kreatif, analitis, terhadap informasi dan data dalam memecahkan permasalahan.

2. Majid & Rochman, 2014: 70.Kurikulum 2013 merupakan kurikulum berbasis kompetensi ,kondisi pembelajaran yang diharapkan

Setelah dilakukan analisis lebih lanjut diperoleh hasil :

1. Guru tidak menguasai metode – metode pembelajaran yang dapat mendorong kreatifias berpikir siswa.

2. Guru tidak melakukan perencanaan pembelajaran yang berorientasi HOTS cenderung menuliskan butir- butir soal yang memerlukan aspek ingatan

(5)

Note :

=

Masalah yang diidentifikasi

tercipta diarahkan untuk mendorong peserta didik dalam mencari tahu dari berbagai sumber observasi, bukan diberi tahu.

3. Kusuma, dkk., (2017: 26) mengemukakan bahwa kebanyakan soal yang digunakan di Indonesia cenderung bertujuan untuk menguji pada aspek memori, sedangkan soal untuk melatih kemampuan berpikir tingkat tinggi tidak cukup banyak tersedia.

Eksplorasi Penyebab Masalah hasil Wawancara Rekan Sejawat

Narsum : Jasmanidar, S.Pd.

Waktu : 18 November 2023

1. Guru masih menggunakan gaya mengajar komando (bergantung pada guru).

2. Rendahnya pemahaman guru pada metode – metode pembelajaran.

3. Rendahnya kreatifitas guru menyusun perencanaan.

4. Soal berbasis HOTS itu dianggap lebih sulit pada dasarnya adalah karena kebiasaan yang telah ada selama ini. Kebiasaan itu adalah banyak dari kita yang sudah terbiasa mengerjakan soal ber tipe LOTS dan MOTS.

Referensi

Dokumen terkait

Pola komunikasi guru dalam membangun keterlibatan orang tua di sekolah terbentuk karena ketertarikan orang tua terhadap berbagai program belajar dan Berdasarkan hasil dari kajian

LK 1.2 Eksplorasi Penyebab

Alternatif solusi masalah yang berkaiatan dengan penyebaran data (statistika) pada PPG dalam

Peserta didik dalam hal ini siswa diharapkan memperoleh keterampilan literasi melalui proses pembelajaran di sekolah, sehingga dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan

Kesiswaan Bapak Wagino, S.Pd yang pertama dari siswanya sendiri yang memang belum memahami matari yang di berikan oleh guru dan siswa tersebut enggan untuk bertanya atau siswa tersebut

6 Pembelajaran dilaksanakan tidak /belum diintegrasikan dengan teknologi pembelajaran HASIL KAJIAN LITERATUR Buku Rahman dkk 2023 Media Dan Teknologi Pembelajaran, Jakarta :

guru belum mampu menguasai konsep dan strategi pembelajaran berorientasi HOTS materi pelajaran yang selalu berubah dan keterampi lan guru yang masih kurang sehingga guru masih bingung

Menurut Farida Suriani, Khairun Nisa, Ilham Syahrul Jiwandono dalam Journal of Classroom Action Research yang berjudul “Analisis Kesulitan Guru dalam Mengembangkan RPP Berbasis HOTS di