MAKALAH ALIRAN ILLUMINASI
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Islam Dosen Pengampu: Syahrial, M.Ud
Disusun oleh: Kelompok 2 Rahmi Amalia (2242115037) Suriana (2242115041)
Lilis Firdayanti (2242115043)
1 BAB II PEMBAHASAN A. Suhrawardi Al-Maqtul
1. Biografi
Syihabuddin Yahya bin Habsyi Ibn Amirak Abul Futuh Suhrawardi merupakan guru iluminasi yang sangat terkenal dalam sejarah filsafat islam. Suhrawardi dilahirkan di desa dekat Zinjan, barat daya Iran pada tahun 1154 M dan hidup di kalangan Syi’ah dan biasa dijuluki sebagai Syaikhul Isyraq atau guru iluminasi karena dianggap sebagai penemu aliran filsafat isyraqiyyah. Selain itu juga dikenal dengan Suhrawardi al-Maqtul (terbunuh) karena peristiwa yang mengakhiri hidupnya.
Banyak keajaiban yang dikaitkan dengan kehidupan Suhrawardi dan banyak kisah yang diceritakan teman sejamannya. Wajahnya yang kemerah-merahan dan bercahaya serta rambutnya yang bergelombang, jenggotnya yang rapi dan sorot matanya yang tajam, itu semua menunjukkan bagi mereka yang melihatnya sebagai kecerdasannya. Suhrawardi kurang memperhatikan pakaiannya dan kurang memperhatikan kata-kata yang diucapkan. Terkadang memakai bulu domba sebagaimana biasanya dipakai para sufi, namun terkadang memakai baju sutera yang biasa dipakai para bangsawan.
Suhrawardi tergolong istimewa dan intens dalam bidang keilmuan. Hal itu setidaknya dapat dilihat dalam realitas historis yang telah belajar pada guru-guru besar dan pada tempat yang berbeda-beda pula1. Ia mempelajari teologi dan filsafat islam kepada Majid Ad-Din Al-Jili di Maraghah, kemudian mengembara ke Ishfahan untuk belajar kepada Fakhr Ad-Din Al-Mardini, yang konon telah meramalkan kematiaan muridnya.
1 Lailatul Maskhuroh, „Suhrawardi : Konstruktor Filsafat Iluminasi‟, Ejournal.Kopertais4 2, no. 2 (2013): 2–3.
2
Juga diketahui bahwa Zhahir Al-Farsi, seorang logikawan, memperkenalkan suhrawardi dengan Al-Basair, karya logikawan termasyhur, „umar ibn Sahlan Ash- Shawi. Syekh Al-Isyraq kemudian mengembara ke seluruh Persia setelah merasa cukup belajar secara resmi. Ia mengunjungi guru tasawuf yang masyhur untuk mendalami ilmu makrifat di kota yang di singgahinya. Ia menggunakan waktunya untuk tafakur dan zuhud, serta memperbanyak ibadahnya dan „uzlah.
Syekh Al-Israq melanjutkan perjalanannya ke Anatolia (Asia Kecil) dan Suriah setelah puas bergaul dengan para sufi. Pada 1183, seusai menulis kitab Al-Hikmah Al-Isyraq, ia melewat ke Aleppo, dan akhirnya ke Damsyik (Damascus). Di Damsyik, ia diterima menjadi penasihat kerohanian di istana pangeran Malik Az- Zahir Ghazi, putra Sultan Salahuddin Al-Ayyubi, yang lebih dikenal dengan Sultan Saladin. Pahlawan besar dalam peperangan melawan Tentara Salib.
Pada abad pertengahan para sejarawan menuduh Suhrawardi sebagai zindiq (anti- agama), “merusak agama” dan “menyesatkan pangeran muda, Al-Malik Az-Zhahir”, namun, valiidasi tuduhan ini sangat kontroversial. Alasan eksekusi Suhrawardi yang lebih masuk akal tampaknya didasarkan atas doktrin politik sang filusuf yang terungkap dalam karya-karyanya tentang filsafat iluminasi. Para ulama awalnya meminta Malik Az-Zahir agar menjatuhkan hukuman mati kepada suhrawardi, namun permintaan itu ditolak.
Kemudian para ulama menemui Sultan Saladin untuk menyampaikan dakwaan itu, Sultan Saladin lalu mengancam putranya akan diturunkan tahta apabila tidak menghukum As-Suhrawardi. Berkat turun tangan Sultan Saladin, As-Suhrawardi kemudian di masukkan ke dalam penjara pada tahun 1191 M. Dalam penjara inilah, sang tokoh wafat. Ada yang mengatakan bahwa ia wafat karena lehernya dicekik dan ada pula yang mengatakan bahwa ia wafat karena tidak diberi makan hingga kelaparan2.
2 Dedi Supriyadi, Pengantar Fisafat Islam Konsep, Filsuf, Dan Ajarannya, ed. Mamam Abd.
Djaliel (Bandung, 2013). h. 176-177
3 2. Karya-Karya
Walaupun meninggal dalam usia yang relatif muda, yaitu 35 tahun, namun ia telah menyusun beberapa karya yang signifikan, seperti Kitab al-masy’ari wa al- mutharahat; al-Talwihat dan al-Muqawwamat. Tetapi yang paling besar, berpengaruh dan orisinal adalah Hikmah al-‘Isyraq, yang telah menjadi kitab utama,di atas mana filsafat Isyraqi dibangun. Kitab ini telah mendapat banyak komentar dari murid-muridnya, seperti al-Sahrazuri dan Quthb al-Din al-Syirazi, atau simpatisannya seperti Ibn Kammunah, seorang filosof Yahudi3.
Ada empat karya utama suhrawardi dalam filsafat iluminasi yang berbahasa Arab, yaitu:
1. al-Talwihat 2. al-Muqawwamat
3. al-masy’ari wa al-mutharahat 4. Hikmah al-‘Isyraq
Karya-Karya ini adalah sehimpun karya integral atau utuh, yang di dalamnya ia mengemukakan dalam menulis asal-usul dan perkembangan filsafat iluminasi, dari asal-usul analitis dan diskursifnya hingga tujuan pengalaman dan pencerahannya yang digambarkan melelui kiasan dan simbol. Untuk mengetahui filsafat iluminasi kita tidak bisa membatasi diri dengan hanya mengkaji dan menelaah salah satu dari empat karya ini. Sebaliknya, kita harus mengkaji dan menelaah semuanya secara keseluruhan atau koheren. Hanya kajian dan telaah seperti ini yang memungkinkan kita memaparkan dan menguraikan secara komprehensif filsafat iluminasi.
Berikut adalah pernyataan Suhrawardi yang paling eksplisit tentang keterkaitan keempat karya tersebut, “Buku Al-Masyari’ wa Al-Mutharahat harus dibaca terlebih dahulu sebelum membaca Hikmah Al-Isyraq, dan sesudah kajian dan telaah singkat yang disebut At-Talwihat.” Karena Al-Muqawamat dinyatakan sebagai penjelasan tambahan atas At-Talwihat, maka siklus atau rangkaian pembacaan dan pengajaran
3 Mulyadi Kartanegara, Gerbang Kearifan; Sebuah Buku Pengantar Filsafat (jakarta, 2006).
h. 43
4
filsafat iluminasi yang dianjurkan adalah sebagai berikut: (1) al-Talwihat; (2) al- Muqawwamat (3) al-masy’ari wa al-mutharahat (4) Hikmah al-‘Isyraq. Karya ini harus dibaca bersama-sama dan dalam urutan agar karya itu membentuk filsafat iluminasi4.
B. Definisi Aliran Iluminasi
Terminologi isyraqi memiliki banyak arti, diantaranya terbit dan bersinar, berseri-seri, terang karena disinari, dan menerangi. Intinya, isyraqi berkaitan dengan kebenderangan atau cahaya yang umumnya digunakan sebagai lambang kekuatan, kebahagiaan, ketenangan dan hal lain yang membahagiakan. Lawan cahaya adalah kegelapan yang dijadikan lambang keburukan, kesusahan, kerendahan dan semua yang membuat manusia menderita. Sedangkan kata illuminasi dalam bahasa Inggris, merupakan kata yang dijadikan padanan kata isyraq yang juga memiliki arti cahaya atau penerangan5
Dalam bahasa filsafat, Iluminasionisme berarti sumber kontemplasi atau perubahan bentuk dari kehidupan emosional untuk mencapai tindakan dan harmoni.
Bagi kaum isyraqi, yang disebut hikmah bukan sekedar teori yang diyakini melainkan perpindahan ruhani secara praktis dari alam kegelapan yang di dalamnya pengetahuan dan kebahagiaan merupakan sesuatu yang mustahil ke cahaya yang bersifat akali yang di dalamnya pengetahuan dan kebahagiaan dicapai bersama-sama.
Karena itu, menurut madzhab isyraqi, sumber pengetahuan adalah penyinaran yang itu berupa semacam hads yang menghubungkan dengan substansi cahaya.
Dalam filsafat isyraqi, simbolisme cahaya digunakan untuk menetapkan satu faktor yang menentukan wujud, bentuk dan materi, hal-hal masuk akal yang primer dan sekunder, intelek, jiwa, zat (ipaeity) individual dan tingkat-tingkat intensitas pengalaman mistik. Jelasnya, penggunaan simbol-simbol cahaya merupakan karakter dari bangunan filsafat isyraqi.
4 H Ziai, M.A.D.M.A.M.M.A. Prof. Dr. Afif Muhammad, and M S Nasrulloh, Suhrawardi
Dan Filsafat Iluminasi: Sang Pencerah Pengetahuan Dari Timur (Sadra Press, 2012). h. 19-20
5 Eko Sumadi, „Teori Pengetahuan Isyraqiyyah (Iluminasi) Syihabudin Suhrawardi‟, FIKRAH: Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Keagamaan 3, no. 2 (2015): 277–304.
5
Dari segi bahasa, istilah isyraq berbeda dengan masyriq. Yang pertama menunjuk pada proses penyinaran (al-idla’ah) dan pencahayaan (al-inarah) terhadap yang lain, yang kedua menunjuk pada kategori geografis. Keduanya secara etimologis diturunkan dari kata syarq yang berarti terbitnya matahari. Kesatuan maknawi antara cahaya dan timur dalam peristilahan filsafat isyraqiyah berkaitan erat dengan simbolisme matahari yang terbit dari Timur diidentifisir dengan gnosis dan illumination.6
Penggunaan dua kata ini, isyraq dan masyriq oleh Suhrawardi untuk menunjukkan “sumber pengetahuan hakiki” atau “tempat sumber datangnya pencerahan” yang kaidah pencapaiannya berbeda dengan pengetahuan diskursif.
Jelas bahwa Suhrawardi menggunakan kedua istilah tersebut sebagai kias atau tamsil.
Kata masyriq dan isyraq tidak menunjuk pada tempat tertentu di atas bumi, tetapi merujuk pada daerah dalam jiwa manusia, tempat pengetahuan atau pencerahan berasal. Ibnu Sina menyebut daerah tersebut intelegensi atau akal murni, sedangkan Imam al-Ghazali menyebut an-nafs al-kulliyah (jiwa sejagat). Untuk mencapainya digunakan kaidah-kaidah yang harus ditempuh melalui perenungan batin (musyahadah) dan intuisi intelektual (zauq).
Definisi menurut iluminasi didasarkan pada perolehan pengetahuan langsung tentang sesuatu yang riil dan “yang lebih dahulu” ada, yang disamakan dengan
“cahaya”-suatu prinsip riil mendasar dari metafisika iluminasionis. Bagi Suhrawardi, cahaya adalah definisi yang menjelaskan dirinya sendiri. Melihat cahaya atau mengalaminya berarti mengetahuinya. Jika ada sesuatu yang tak perlu didefinisikan atau dijelaskan, berarti sesuatu itu sudah sangat jelas dengan sendirinya. Karena tidak ada yang lebih jelas daripada cahaya, melebihi sesuatu yang lain. Cahaya tidak membutuhkan definisi. Inilah paradigma dari filsafat iluminasi, yaitu pemaparan konsep “cahaya”. Yang dimaksud dengan cahaya disini adalah pancaran dari rahasia ketuhanan. Ia merupakan hakekat yang melampaui definisi, sebab sudah nyata dan
6 Rahmadi Islam, “FILSAFAT ILUMINASI SUHRAWARDI AL-MAQTUL,” Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan 2, no. 3 (2018): 1–13.
6
jelas dengan sendirinya. Hakekat segala sesuatu menurut iluminasionis, terdiri dari cahaya dan kegelapan, masing-masing dengan peringkatnya. Cahaya ketuhanan (An- nur al-ilahi) merupakan hakikat mutlak yang tak terhingga dan berada pada tingkat paling tinggi dalam tatanan kenyataan. Cahaya tertinggi ini disebut An-nur al-anwar (cahaya dari segala cahaya).
C. KARAKTERISTIK FILSAFAT ILUMINASI (ISYRAQI)
Filsafat illuminasi yang merupakan salah satu aliran dari filsafat Islam memiliki beberapa karakteristik yang membedakannya dengan aliran-aliran filsafat yang lain yang ditinjau berdasarkan metodologis, ontologis, dan kosmologis. Pada aspek epistemologis filsafat illuminasionis menggunakan metode intuitif sebagai pendamping atau malah dasar bagi penalaran rasional.
Suhrawardi mensintesiskan dua pendekatan burhani dan Irfani ke dalam sebuah sistem pemikiran yang solid dan holistik.
Dalam mengklasifikasikan pencarian kebenaran Suhrawardi membagi ke dalam tiga kelompok: (1) mereka yang memiliki pengalaman mistik yang mendalam seperti para sufi tetapi tidak mempunyai kemampuan untuk mengungkapkan pengalaman yaitu secara diskutif; (2) mereka yang memiliki kecakapan nalar diskutif tetapi tidak memiliki pengalaman mistis yang cukup dan mendalam. Pengalaman mistik menjadi sangat penting untuk mengenal secara langsung realitas sejati sehingga tidak hanya bersandar pada otoritas masa lalu saja; (3) mereka yang di samping memiliki pengalaman mistik yang mendalam dan otentik juga memiliki kemampuan nalar dan bahasa diskutif.
Pengalaman mistik sendiri merupakan pengalaman langsung melihat realitas sejati, karena dalam pengalaman mistis seperti itu, "objek" penelitian telah "hadir" pada diri seseorang sehingga modus pengenalan seperti ini sering disebut "ilmu hudhuri" (knowledge by presence).
7
Arti penting pengalaman mistik bagi pencarian kebenaran bahwa melalui pengalaman tersebut seseorang (filosof atau sufi) dapat secara langsung mencari kebenaran sejati (al-haqq), yang tidak bisa diperoleh dengan cara yang sama melalui pendekatan apapun, indera ataupun akal. Menurut Dr.
Haidar bagir, kemampuan untuk mengungkapkan pengalaman mistik secara diskursif ini merupakan kriteria dari benar atau tidaknya pengalaman mistik tersebut. Ketika suhurawardi ditanya oleh muridnya apakah buku Hikmah al isyraq ini adalah karya mistik atau filsafat, Suhrawardi menjawab bahwa Hikmah al isyraq adalah kitab filsafat yang didasarkan pada pengalaman mistik.
Pada aspek ontologis dalam aliran iluminasionis, yang diwakili oleh konsep metafisika cahaya. Menurutnya segala sesuatu didunia ini terdiri dari cahaya dan kegelapan. Namun, hanya cahaya yang memiliki wujud yang positif, sedangkan kegelapan ialah negatif, yang berarti tidak memiliki realitas objektif. Kegelapan hanya konsekuensi ketiadaan cahaya. Sebab ketika cahaya datang maka kegelapan akan sirna. Menurut Suhrawardi benda-benda tidak memiliki definisi ataupun kategori yang tegas (clear cut) seperti yang dibayangkan kaum paripatetik. Lantas yang membedakan antara satu benda dengan benda lainnya hanyalah intensitas cahaya yang dimilikinya. Semakin banyak kandungan cahaya yang dimilikinya maka akan semakin tinggi derajatnya.
Dengan demikian, aliran filsafat iluminasionis merupakan kritik yang cukup fundamental Atas prinsip hylo-morfis, karena bagi hylomorfisme bentuk-bentuk benda bersifat kategorik, bagi kaum iluminasionis itu bersifat relatif. Bagi yang terakhir sesuatu bisa dilihat secara relatif "lebih atau kurang" (more less) dan tidak dibagi secara kategori ke dalam substansi substansi yang tetap (fixed).
8
Filsafat iluminasionis juga memberikan kritik yang tajam atas prinsipialitas wujud, seperti yang diyakini Ibn Sina. Bagi Ibnu Sina dan mulla sadra, wujud adalah yang real, yang fundamental, bagi Suhrawardi esensi mahiyahlah yang real, sedangkan wujud tidak memiliki hubungan realistik dengan realitas. Suhrawardi yang merupakan pengikut Plato percaya bahwa esensi lah yang sejati, sedangkan wujud hanyalah abstraksi subjektif manusia saja. Jadi dapat disimpulkan bahwa menurut Suhrawardi esensilah yang lebih prinsipil, bukan eksistensi (wujud), sebuah ajaran yang sering disebut ishalat al mahiyyah atau prinsipialitas esensi, sebagai lawan ishalat al-wujud, yang menyatakan bahwa wujudlah yang prinsipal, yang lebih fundamental, sedangkan esensi hanyalah persepsi mental saja.
Maka untuk meguatkan argumentasinya terkait ketidaknyataan eksistensinya, Suhrawardi bertanya kepada kaum eksistensialis, apa yang anda maksud dengan wujud. Ketika orang itu menjawab apa itu wujud, suhrawardi mengatakan bahwa apa yang dipahaminya tentang wujud tersebut pada hakikatnya bukanlah wujud tetapi esensi yaitu esensi wujud bukan wujud itu sendiri. Dengan itu Suhrawardi ingin mengatakan bahwa pada akhirnya yang nyata adalah esensi bukan wujud, sekalipun kita sedang berbicara tentang wujud (eksistensi).
Karakteristik ketiga yang dilihat dari ajaran kosmologis berupa teori emanasi, namun lebih ekstensif dari teori emanasi kaum paripatetik.
Suhrawardi percaya bahwa alam semesta memancar dari Tuhan. Dalam teori emanasi Suharwardi menyebut-Nya Nur al-Anwar (cahaya dari segala cahaya),kalau dilihat dari sifat sejatinya sebagai cahaya dan sumber bagi cahaya yang lainnya, dan al-Ghani (yang Independen)dilihat dari kemandirian-Nya yang absolut dari alam. Sedangkan alam disebut al-fakir (berbanding dengan mumkin al-wujud Ibn Sina), untuk menunjukkan ketergantungan alam pada Tuhan.
9
Teori emanasi illuminasionis berbeda dalam strukturnya. Dalam skema kosmik Aristoteles parepatetik alam semesta dibagi ke dalam dua bagian:
Langit Dan dunia bawah bulan (bumi), maka dalam skema kosmik illuminasionis, diatas langit ditambah lagi satu wilayah dunia spiritual murni, yang ia sebut Timur (orient/Masyriq). sedangkan langit dan bumi disebut barat (Occident/Maghrib), dimana langit disebut barat tengah (Middle Occcident) dan bumi dengan barat (Occident). dengan demikian kosmos suharwardi lebih luas dan tinggi.
Di Dunia Timur, hanya ada entitas-entitas murni (kadang disebut cahaya atau malaikat), yang tidak bercampurnya cahaya dan kegelapan (seperti disimbolkan/dimanifestasikan dalam bintang-bintang dan matahari) yang mengisi langit-langit kita. Ada pun dunia Barat , baginya adalah dunia kegelapan, berupa benda-benda material, yang menjadi gelap karena jauhnya dari Cahaya Ilahi. Selain karakteristik di atas, struktur emanasi Peripatetik, karena Suhrawardi membagi cahaya yang memancar dari Tuhan ke dalam dua jenis, cahaya yang bersifat vertikal (thuli), yang memancar dari Tuhan secara vertikal melalui serangkain cahaya yang merentangkan dari cahaya yang merentang dari cahaya pertama (al-nur al-aqrab) hingga dunia Barat Tengah
Dalam teori emanasi Iluminasi ini dikenal gradasi cahaya dilihat ari intensitasnya, yang disebabkan oleh hadirnya barzakh-barzakh (barazikh) yang menyekat di antara dua cahaya: cahaya ada di bawahnya. Demikian seterusnya, adapun hubungan cahaya yang di atas dan cahaya yang di bawahnya diatur dengan prinsip dominasi (al-Qahr), sedangkan hubungan dari cahaya yang ada di bawah terhadap yang di atasnya diatur melalui prinsip cinta (mahabbah). Tetapi yang lebih khas lagi dari teori emanasi (hierarki wujud) Suhrawardi adlah munculnya cahaya yang bersifat horizontal (’ardhi), yang tidak muncul secara langsung dari Tuhan, tetapi dari cahaya-cahaya vertikal.
10
Cahaya-cahaya dalam tatanan horizontal ini disebut Arbab a -Ashnam, yakni semacam prototope bagi makhluk apa pun yang ada di alam fisik. Oleh karena itu, ia mirip sekali dengan ide Platonik, yang merupakan prototipe bagi apa pun yang ada di dunia, yang bertindak sebagai bayangbayang bagi apa pun yang ada di alam ide. Satu lagi tatanan cahaya yang bersifat horizontal, yaitu yang disebut dengan al-Anwar al-Mudabbirâh (Cahaya-Cahaya yang dominan). Cahaya-Cahaya yang dominan ini dalam kaitannya daengan benda- benda di bawahnya adalah sebagai daya-daya yang memiliki pengaruh besar terhadap segala makhluk yang ada di bawah pengaruhnya. Ada malaikat/daya- daya yang menjaga tumbuh-tumbuhan, mineral, hewan, dan lain-lain, ada juga daya-daya (malaikat/cahaya) yang mengatur manusia dan daya-daya yang menggerakkan benda-benda langit.
Terakhir, selain berbeda dalam istilah dan struktur kosmik, emanasi Suhrawardi juga berbeda dari emanasi Peripatetik dari sudut jumlah, yakni jumlah akal-akal atau malaikat-malaikat yang muncul dalam bagan teori emanasinya. Kalau teori emanasi Peripatetik Muslim, hanya memiliki 10 akal, maka bagan teori emanasi Suhrawardi memiliki jumlah akal yang tak terbatas.
Alasannya adalah karena benda-benda angkasa termasuk planet-planet tidak terbatas pada sepuluh, tetapi ratusan bahkan ribuan. Nah, karena setiap benda angkasa tersebut membutuhkan sebuah murajjih (sufficient reasons) untuk keberadaaannya, maka akal-akal itu tidak bisa dibatasi pada 10 tetapi berbanding dengan jumlah benda-benda angkasa tersebut., yang karena banyaknya tidak mungkin hanya dibatasi pada agka 10. Inilah karakteristik teori emanasi iluminasionis7.
7 Kartanegara, Gerbang Kearifan; Sebuah Buku Pengantar Filsafat. h. 43-55
11
DAFTAR PUSTAKA
Eko Sumadi. „Teori Pengetahuan Isyraqiyyah (Iluminasi) Syihabudin Suhrawardi‟.
FIKRAH: Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Keagamaan 3, no. 2 (2015): 277–304.
Kartanegara, Mulyadi. Gerbang Kearifan; Sebuah Buku Pengantar Filsafat. jakarta, 2006.
Maskhuroh, Lailatul. „Suhrawardi : Konstruktor Filsafat Iluminasi‟.
Ejournal.Kopertais4 2, no. 2 (2013): 1–2.
Rahmadi Islam. „FILSAFAT ILUMINASI SUHRAWARDI AL-MAQTUL‟. Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan 2, no. 3 (2018): 1–13.
Supriyadi, Dedi. Pengantar Fisafat Islam Konsep, Filsuf, Dan Ajarannya. Edited by Mamam Abd. Djaliel. Bandung, 2013.
Ziai, H, M.A.D.M.A.M.M.A. Prof. Dr. Afif Muhammad, and M S Nasrulloh.
Suhrawardi Dan Filsafat Iluminasi: Sang Pencerah Pengetahuan Dari Timur.
Sadra Press, 2012.