PERSEPSI PESERTA DIDIK TENTANG KERJASAMA WALI KELAS DENGAN GURU BK DALAM PELAKSANAAN BIMBINGAN DAN KONSELING
(Studi Deskriptif Kuantitatif di SMP Negeri 1Kuantan Mudik Kabupaten Kuantan Singingi)
Oleh:
Taufik
Program Studi Bimbingan dan Konseling Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan
(STKIP) PGRI Padang Sumatera Barat [email protected]
ABSTRAK
The background of this research is a phenomena that there is no cooperation between classroom teacher and counselor in counselor activity. The purpose of this reasearch is to know the student’s perception about teamwork of homeroom teacher and counselor: 1) Help the counselor in give the service which his responsibility, 2) Give the information about students in class which should get counselor service, 3) Help to give a chance and facility for students to follow the counselor activity, 4) To inform the teachers about students who need special interest and participation in case conference. This research is descriptive quantitative. The population of this research is all of students in VIII SMP Negeri 1 Kuantan Mudik Kabupaten Kuantan Singingi.
Technique of this research is claster random sampling. The sample of this research are 50 students.
The instrument of this research is questionaire whereas to data analysis is used percentage. The result of this research reveal that students perception about teamwork between classroom teacher and counceling teacher: 1) To help counselor to give the service which his responsibility that has good category. 2) To give information about students in class that become his responsibility to get counselor that has good category, 3) To help the students in get chance to follow counselor activity that has good category, 4) To inform the teacher about the students which need special interest and need special conference that has good category. Based of the result of this research that recommended by teacher to knows student’s perception about the cooperation between classroom teacher and counselor.
Keyword: Student’s,perception, cooperation classroom teacher and counselor.
PENDAHULUAN
Hakikatnya manusia adalah makhluk yang terlahir memiliki kemampuan serta potensi yang terus berkembang. Tumbuh dan berkembangnya potensi yang dimiliki manusia tersebut tergantung bagaimana seseorang mampu merangsang potensi tersebut sehingga potensinya terus meningkat ke arah yang lebih baik. Usaha untuk merangsang potensi tersebut bisa di peroleh melalui proses pendidikan.
Peserta didik merupakan masyarakat yang ingin mengembangkan dirinya baik itu melalui jenjang pendidikan formal maupun informal. Keinginan untuk memasuki dunia pendidikan atau mengembangkan diri tersebut
tentunya memiliki dasar atau motif tertentu, salah satu yang mendorong peserta didik tersebut untuk mengembangkan diri adalah persepsi peserta didik tentang pendidikan.
Menurut Chaplin (2011:358) “Persepsi adalah tahap kedua dalam upaya mengamati dunia yang mencakup pemahaman dan mengenal atau mengetahui objek-objek serta kejadian kejadian”. Berdasarkan pengertian di atas disimpulkan persepsi merupakan pola pikir seseorang terhadap suatu objek dengan melakukan pengamatan yang mencakup pemahaman dan mengenal atau mengetahui.
Adanya sebuah persepsi atau pandangan
seseorang terhadap suatu objek ini akan mendorong seseorang dalam bertindak dan berbuat nantinya. Begitu juga dengan peserta didik, tentunya mereka memiliki persepsi terhadap wali kelas yang membina kelasnya.
Usaha untuk membentuk karakter dan watak tersebut di dalam pendidikan formal merupakan kerjasama wali kelas dengan guru BK. Dijelaskan oleh Aqib (2012:64)“Guru BK adalah tenaga profesional yang terutama bertugas mengkoordinasikan kegiatan layanan bimbingan di sekolah serta menghubungkan dengan lembaga-lembaga personal di luar sekolah yang berkaitan dengan kegiatan layanan bimbingan di sekolah”. Guru BK memberikan layananan kepada peserta didik harus berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang bertanggung jawab atas kelancaran pembelajaran sehingga dapat menjadikan peserta didik yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Pelaksanaan bimbingan dan konseling wali kelas bekerjasama dengan guru BK dan pihak terkait dalam penyelenggaraan pendidikan. Sukardi (2008:113) “Layanan bimbingan dan konseling yang efektif tidak mungkin terlaksana dengan baik tanpa adanya kerjasama guru BK dengan pihak yang terkait baik di dalam maupun di luar sekolah”.
Hamdani (2012:24)“Wali kelas adalah guru yang bertugas secara khusus untuk mengurus pembinaan dan administrasi seperti nilai lapor, kenaikan kelas, kehadiran peserta didik”. Dari pengertian tersebut telah disebutkan betapa pentingnya kerjasama wali kelas dengan guru BK dalam satu sekolah dalam pelakasanaan bimbingan dan konseling.
Selanjutnya Hamdani (2012:26) menjelaskan kerjasama wali kelas dengan guru BK dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling terdiri atas 4 yaitu:
1. Membantu guru BK dalam melaksanakan layanan yang menjadi tanggung jawabnya.
2. Memberikan informasi tentang peserta didik di kelas yang menjadi tanggung jawab untuk memperoleh layanan bimbingan dan konseling.
3. Memberikan kesempatan dan kemudahan bagi peserta didik untuk
mengikuti kegiatan bimbingan dan konseling.
4. Menginformasikan kepada guru mata pelajaran tentang peserta didik yang perlu diperhatikan secara khusus dan diikutsertakan dalam konferensi kasus.
Menurut Jackson (Ahmadi, 2007:249- 250) “Meneliti peranan manakah yang lebih besar terhadap kemajuan anak-anak di sekolah, apakah peranan struktur dan organisasi sekolah atau kerjasama wali kelas dengan guru BK, ia memperoleh hasil bahwa kerjasama walis dengan guru BK yang memegang peranan terpenting”. Artinya perhatian wali kelas dengan guru BK secara pribadi terhadap peserta didik lebih maju dari pada organisasi- organisasi sekolah di mana seorang wali kelas dengan guru BK lebih sering menghadapi peserta didik di kelas.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada tanggal 11 - 15 September 2014 di SMP Negeri 1 Kuantan Mudik Kabupaten Kuantan Singingi dapat dilihat peserta didik di sekolah menunjukan, bahwa wali kelas kurang bekerjasama dengan dengan guru BK dalam membantu peserta didik di sekolah. Sesuai dengan fakta yang ditemui di lapangan khususnya di SMP Negeri 1 Kuantan Mudik Kabupaten Kuantan Singingi, wali kelas tidak peduli dengan ketidak hadiran peserta didik, wali kelas terkesan tidak peduli dengan peserta didik yang melakukan coret meja dan dinding, wali kelas tidak memberikan sanksi yang tegas kepada peserta didik yang suka melanggar peraturan sekolah seperti cabut, berpakaian tidak rapi, rambut panjang dan merokok, wali kelas jarang berkomunikasi dengan guru BK tentang permasalahan yang dihadapi peserta didik dan wali kelas yang belum optimal dalam melakukan himpunan data peserta didik.
Diperkuat dengan hasil wawancara dengan peserta didik di sekolah pada tanggal 20 September 2014 diperoleh informasi dari peserta didik bahwa wali kelas dengan guru BK kurang bekerjasama dalam kegiatan bimbingan dan konseling.
Berdasarkan identifikasi masalah yang dikemukakan di atas maka batasan masalah pada penelitian ini yaitu:
1. Persepsi peserta didik tentang kerjasama wali kelas dengan guru BK dalam melaksanaan layanan yang menjadi tanggung jawabnya.
2. Persepsi peserta didik tentang kerjasama wali kelas dengan guru BK dalam memberikan informasi tentang peserta didik di kelas yang menjadi tanggung jawab untuk memperoleh layanan bimbingan dan konseling.
3. Persepsi peserta didik tentang kerjasama wali kelas dengan guru BK dalam membantu memberikan kesempatan dan kemudahan bagi peserta didik untuk mengikuti kegiatan bimbingan dan konseling.
4. Persepsi peserta didik tentang kerjasama wali kelas dengan guru BK dalam menginformasikan kepada guru mata pelajaran tentang peserta didik yang perlu diperhatikan secara khusus dan diikutsertakan dalam konferensi kasus.
Berdasarkan batasan masalah tersebut maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah; “Bagaimana persepsi peserta didik tentang kerjasama wali kelas dengan guru BK dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling di SMP Negeri 1 Kuantan Mudik Kabupaten Kuantan Singingi?”.
Berdasarkan batasan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan:
1. Persepsi peserta didik tentang kerjasama wali kelas dengan guru BK dalam membantu melaksanaan layanan yang menjadi tanggung jawabnya di SMP Negeri 1 Kuantan Mudik Kabupaten Kuantan Singingi.
2. Persepsi peserta didik tentang kerjasama wali kelas dengan guru BK dalam memberikan informasi tentang peserta didik di kelas yang menjadi tanggung jawab untuk memperoleh layanan bimbingan dan konseling di SMP Negeri 1 Kuantan Mudik Kabupaten Kuantan Singingi.
3. Persepsi peserta didik tentang kerjasama wali kelas dengan guru BK dalam membantu memberikan kesempatan dan kemudahan bagi peserta didik untuk mengikuti kegiatan bimbingan dan konseling di SMP Negeri 1 Kuantan Mudik Kabupaten Kuantan Singingi.
4. Persepsi peserta didik tentang kerjasama wali kelas dengan guru BK dalam menginformasikan kepada guru mata pelajaran tentang peserta didik yang diperhatikan.dan diikutsertakan dalam konferensi kasus di SMP Negeri 1 Kuantan Mudik Kabupaten Kuantan Singingi.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Adapun penelitian deskriptif menurut Darmawan (2013:37) “Penelitian deskriptif adalah penelitian yang berusaha untuk menuturkan pemecahan masalah yang ada sekarang berdasarkan sampel dalam setiap stratum sebanding dengan jumlah unsur pupulasi dalam stratum tersebut”. Selanjutnya Darmawan (2013:37) “Penelitian kuantitatif suatu proses menemukan pengetahuan yang menggunakan data berupa angka sebagai alat menemukan keterangan mengetahui apa yang ingin kita ketahui”. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta dan sifat populasi tertentu atau mencoba menggambarkan fenomena secara detail”.
Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Kuantan Mudik. Penelitian dilakukan tanggal 21-23 September 2015. Adapun populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peserta didik di kelas VIII SMP Negeri 1 Kuantan Mudik Kabupaten Kuantan Singingi yang berjumlah 125. Menurut Sugiyono (2014:80) “Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari objek atau subjek yang menjadi kuantitas dan karateristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti”.Adapun teknik penarikan sampel yang di gunakan adalah Cluster Random Sampling.
Menurut Juliansyah (2011:153) Cluster Random Sampling “Digunakan jika sumber data atau populasi sangat luas”. Dalam penelitian Cluster Random Sampling pengambilan sampelnya dengan cara, peneliti menggabungkan kelas-kelas di dalam populasi sehingga hak semua kelas dianggap sama, maka peneliti melakukan secara undian, dimana dari lima kelas hasilnya terpilih menjadi dua kelas yaitu VIII3dan VIII5sebagai sampel pada penelitian ini sebanyak 50 orang peserta didik. Selanjutnya pengolahan data dilakukan dengan menggunakan rumus
persentase. Rumus yang digunakan untuk menganalisis data di kemungkakan oleh Sudijono (2014:43) sebagai berikut.
= x 100.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Persepsi peserta didik tentang kerjasama wali kelas dengan guru BK dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling (studi deskriptif kuantitatif di SMP Negeri 1 Kuantan Mudik Kabupaten Kuantan Singingi). Dilihat secara umum dapat dilihat pada kategori sangat baik tidak ada. Dan yang tergolong dalam kategori baik 48 orang peserta didik dengan persentase 96.00%, pada kategori cukup baik 2 orang peserta didik dengan persentase 4.00%, serta yang berada pada kategori kurang baik, sangat kurang baik tidak ada, dengan rata-rata secara keseluruhanya 166,32.
Selanjutnya gambaran penjelasan hasil pengolahan data dilihat dari masing- masing indikator sebagai berikut.
1. Persepsi peserta didik tentang kerjasama wali kelas dengan guru BK dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling (Studi Deskriptif Kuantitatif di SMP Negeri 1 Kuantan Mudik Kabupaten Kuantan Singingi), dilihat dari kerjasama wali kelas dengan guru BK dalam membantu pelaksanaan layanan yang menjadi tanggung jawabnya, dari 50 orang peserta didik dengan persentase 72,00% sebanyak 36 orang peserta didik berada pada kategori baik. Hal ini terungkap, bahwa dari 50 orang peserta didik hanya 7 orang peserta didik berada pada kategori cukup baik dan 6 orang peserta didik berada pada kategori sangat baik serta 1 orang peserta didik berada pada kategori kurang baik, dengan rata-rata 56, 24.
Menurut Soetjipto dan Kosasi (2011:102) “Wali kelas merupakan personil sekolah yang ditugasi untuk menangani masalah-masalah yang dialami oleh peserta didik yang menjadi binaanya”. Membantu guru BK dalam melaksanakan layanan yang menjadi tanggung jawabnya masih kurang optimal, dikarenakan wali kelas masih enggan menyampaikan keluhan yang dialami oleh peserta didik kepada guru BK, selain itu juga wali kelas terlalu sibuk sehingga mengabaikan tingkah laku peserta
didik di dalam sekolah dan mengabaikan pentingnya kerjasama wali kelas dengan guru BK.
Seharusnya wali kelas harus mampu dan berusaha mengamati tingkah laku dari peserta didik untuk diberi layanan bimbingan dan konseling yang sesuai dengan kebutuhan dari peserta didik dan lebih meluangkan waktu untuk mengamati dan mencatat tingkah laku tertentu peserta didik di dalam maupun di luar kelas untuk keperluan bimbingan dan konseling.
2. Persepsi peserta didik tentang kerjasama wali kelas dengan guru BK dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling (Studi Deskriptif Kuantitatif di SMP Negeri 1 Kuantan Mudik Kabupaten Kuantan Singingi), dilihat dari kerjasama wali kelas dengan guru BKdalam memberikan informasi tentang peserta didik di kelas yang menjadi tanggung jawab untuk memperoleh layanan bimbingan dan konseling, dari 50 orang peserta didik dengan persentase 48,00% sebanyak 24 orang peserta didik berada pada kategori baik. Hal ini terungkap, bahwa dari 50 orang peserta didik hanya 14 orang peserta didik berada pada kategori cukup baik dan 11 orang peserta didik berada pada kategori sangat baik serta 1 orang peserta didik berada pada kategori kurang baik, dengan rata-rata 33,52.
Menurut Sukardi (2008:90) “Wali kelas sebagai pengelola kelas tertentu dalam pelayanan konseling berperan membantu guru mata pelajaran/pelatih dalam melaksanakan perannya dalam pelayanan bimbingan dan konseling, khususnya di kelas yang menjadi tanggung jawabnya”.
Adanya kerjasama wali kelas dengan guru BK dalam memberikan informasi tentang peserta didik di kelas yang menjadi tanggung jawab untuk memperoleh layanan bimbingan dan konseling diharapkan segala permasalahan yang dialami oleh peserta didik bisa teratasi maka dari itu peserta didik dapat belajar dengan baik, merasa nyaman dan tidak menggangu perkembangan peserta didik secara optimal.
3. Persepsi peserta didik tentang kerjasama wali kelas dengan guru BK dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling (Studi Deskriptif Kuantitatif di SMP Negeri 1 Kuantan Mudik Kabupaten Kuantan Singingi), dilihat dari kerjasama wali kelas dengan guru BKdalam membantu memberikan kesempatan dan kemudahan bagi peserta didik untuk mengikuti kegiatan bimbingan dan konseling, dari 50 orang peserta didik dengan persentase 60,00%
sebanyak 30 orang peserta didik berada pada kategori baik. Hal ini terungkap, bahwa dari 50 orang peserta didik hanya 16 orang peserta didik berada pada kategori sangat baik dan 4 orang peserta didik berada pada kategori cukup baik, dengan rata-rata 39,28.
Sebagaimana yang diungkapkan oleh Sukardi (2008:92) “Wali kelas sebagai pengelola kelas tertentu dalam pelayanan bimbingan dan konseling berperan membantu memberikan kesempatan dan kemudahan bagi peserta didik khususnya di kelas yang menjadi tanggung jawabnya untuk menjalani kegiatan bimbingan dan konseling.
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan oleh Sukardi tersebut dengan maksud bahwa wali kelas perlu memberikan kemudahan kepada guru BK dalam memberikan layanan bimbingan dan konseling kepada peserta didik, maka wali kelas harus bisa menjalani kerjasama dengan guru BK dalam melaksanakan bimbingan dan konseling di sekolah agar terjalin kerjasama yang baik.
4. Persepsi peserta didik tentang kerjasama wali kelas dengan guru BK dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling (Studi Deskriptif Kuantitatif di SMP Negeri 1 Kuantan Mudik Kabupaten Kuantan Singingi), dilihat dari kerjasama wali kelas dengan guru BKdalam mengimformasikan kepada guru mata pelajaran tentang peserta didik yang diperhatikan dan diikusertakan dalam konferensi kasus, dari 50 orang peserta didik dengan persentase 66,00%
sebanyak 33 orang peserta didik berada pada kategori baik. Hal ini terungkap, bahwa dari 50 orang peserta didik hanya 10 orang peserta didik berada pada kategori
cukup baik dan 7 orang peserta didik berada pada kategori sangat baik.
Menurut Hamdani (2012:26) “Wali kelas dalam layanan konseling yaitu berpartisipasi aktif dalam kegiatan khusus bimbingan dan konseling, seperti konferensi kasus”. Sehubungan dengan uraian di atas, yang telah dikemukakan oleh Hamdani dapat disimpulkan bahwa dengan adanya mengimformasikan kepada guru mata pelajaran tentang peserta didik yang diperhatikan dan diikutsertakan dalam konferensi kasus. Diharapkan masalah peserta didik dapat terentaskan dengan baik sehingga peserta didik dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya secara optimal baik dalam linggkungan sekolah maupun linggkungan masayarakat, dan kepala sekolah harus benar-benar mempertimbangkan siapa saja yang pantas diangkat untuk menjadi wali kelas. Maksud dari “pantas” disini yaitu harus memiliki pengalaman dan wawasan yang luas tentang wali kelas.
SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan mengenai persepsi peserta didik tentang kerjasama wali kelas dengan guru BK dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling (Studi Deskriptif Kuantitatif di SMP Negeri 1 Kuantan Mudik Kabupaten Kuantan Singingi) sebagai berikut.
1. Persepsi peserta didik tentang kerjasama wali kelas dengan guru BK dalam membantu melaksanakan layanan yang menjadi tanggung jawab berada pada kategori baik dengan persentase 72,00%.
2. Persepsi peserta didik tentang kerjasama wali kelas dengan guru BK dalam memberikan informasi tentang peserta didik di kelas yang menjadi tanggung jawab untuk memperoleh layanan bimbingan dan konseling dengan persentase termasuk pada kategori baik dengan persentase 48,00%.
3. Persepsi peserta didik tentang kerjasama wali kelas dengan guru BK dalam membantu memberikan kesempatan dan kemudahan bagi peserta didik untuk mengikuti kegiatan bimbingan dan konseling tergolong pada kategori baik dengan persentase 60,00%.
4. Persepsi peserta didik tentang kerjasama wali kelas dengan guru BK dalam menginformasikan kepada guru mata pelajaran tentang peserta didik yang diperhatikan dan diikutsertakan dalam konferensi kasus berada pada kategori baik dengan persentase 66,00%.
SARAN 1. Peserta didik
Agar lebih memahami bentuk kerjasama yang dilakukan oleh wali kelas dengan guru BK dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah.
2. Wali kelas
diharapkan wali kelas lebih meningkatkan kerjasama dengan guru BK agar proses bimbingan dan konseling dapat berjalan dengan baik sesuai dengan yang dibutuhkan oleh peserta didik.
3. Guru BK
Agar lebih meningkatkan dalam memberikan informasi tentang peserta didik di kelas yang menjadi tanggung jawab untuk memperoleh layanan bimbingan dan konseling kepada wali kelas.
4. Kepala sekolah
Agar perlu melaksanakan kegiatan untuk meningkatkan perannya dalam BK di sekolah dan juga diharapkan kepada kepala sekolah mempertimbangkan dengan sebaik- baiknya siapa guru yang mampu atau bisa diangkat menjadi wali kelas.
5. Pengelola Program Studi Bimbingan dan Konseling STKIP PGRI Sumatera Barat.
Sebagai bahan masukan untuk meningkatkan mutu lulusan dalam pengembangan dan mengaplikasikan ilmu di lapangan dan masukan dalam pengembangan mata kuliah yang berhubungan dengan bimbingan dan konseling.
6. Peneliti selanjutnya
Agar bisa meneliti lebih baik lagi mengenai persepsi peserta didik tentang kerjasama wali kelas dengan guru BK dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling (Studi Deskriptif Kuantitatif di SMP Negeri 1 Kuantan Mudik Kabupaten Kuantan Singingi).
KEPUSTAKAAN
Ahmadi, Abu. (2007). Psikologi Sosial.
Jakarta: Rineka Cipta.
Aqib, Zainal. (2012). Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Bandung:
Yrama Widya.
Chaplin, P.J. (2011). Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta: Rajawali Pres.
Darmawan, Deni. (2013). Metode Penelitian Kuantitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Hamdani. (2012). Bimbingan dan Penyuluhan.
Bandung: CV Pustaka Setia.
Juliansyah. (2011). Metode Penelitian. Jakarta:
Kencana.
Soetjipto & Kasasi, (2011). Propesi Keguruan.
Jakarta: PT Rineka Cipta.
Sudijono, Anas. (2014). Pengantar Statistic Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pres.
Sugiyono. (2014). Metode Penelitian Kuantitatif. Bandung: Alfabeta.
Sukardi, Dewa Ketut. (2008). Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.