i
KOMPARASI HASIL BELAJAR SISWA MENGGUNAKAN MEDIA PEMBELAJARAN PREZI DAN POWER POINT PADA MATA PELAJARAN
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI KELAS X RPL SMKN 1 JENANGAN PONOROGO TAHUN 2017/2018
SKRIPSI
OLEH
DWI YUNITASARI NIM : 210314093
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONOROGO
JULI 2018
ii ABSTRAK
Yunitasari, Dwi. 2018. Komparasi Hasil Belajar Siswa Menggunakan Media Pembelajaran Prezi dan Power Point pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam di Kelas X RPL SMKN 1 Jenangan Ponorogo Tahun 2017/2018. Skripsi. Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Kegururuan Institut Agama Islam Negeri Ponorogo. Pembimbing Dr. Hj. Evi Mu’afiah, M.Ag.
Kata Kunci: Hasil Belajar, Prezi, Power Point, Pendidikan Agama Islam
Media pembelajaran merupakan salah satu hal penting yang harus dipersiapkan dengan baik oleh guru, karena media pembelajaran digunakan untuk menyalurkan informasi kepada siswa. Salah satu penyebab kurang memuaskannya hasil belajar siswa pada mata pelajaran PAI di kelas X RPL SMKN 1 Jenangan Ponorogo adalah kurang minatnya siswa terhadap media pembelajaran yang digunakan guru PAI dalam menyampaikan materi. Penggunaan media pembelajaran seperti prezi dan power point dapat dijadikan alternatif pilihan oleh guru untuk menyampaikan materi, tidak hanya mempermudah proses pembelajaran, namun juga membuat proses pembelajaran lebih menarik. Kedua media pembelajaran tersebut perlu dilakukan pengukuran yang berkaitan dengan hasil belajar siswa, manakah yang lebih baik antara media prezi dan power point.
Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui hasil belajar siswa menggunakan media pembelajaran prezi, (2) mengetahui hasil belajar siswa menggunakan media pembelajaran power point, (3) mengetahui perbedaan hasil belajar siswa menggunakan media pembelajaran prezi dan power point.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian eksperimen dengan jenis penelitian quasi eksperiment dengan desain nonequivalent control group design.
Populasi pada penelitian ini adalah kelas X RPL SMKN 1 Jenangan Ponorogo.
Sampel dipilih secara nonprobability sampling (purposive sampling) berdasarkan saran dari guru PAI di SMKN 1 Jenangan Ponorogo yakni kelas X RPL-A dan X RPL-C memiliki minat belajar PAI yang sama dibandingkan dengan kelas lain.
Instrumen yang digunakan adalah tes tulis sedangkan analisis statistik yang digunakan adalah uji t (independent sample test).
Adapun hasil penelitian ini adalah: (1) hasil belajar siswa sebelum dan sesudah menggunakan media pembelajaran prezi memiliki nilai rata-rata sebesar 46,26. (2) Hasil belajar siswa sebelum dan sesudah menggunakan media pembelajaran power point memiliki nilai rata-rata sebesar 36. (3) Ada perbedaan yang signifikan terhadap hasil belajar siswa menggunakan media pembelajaran prezi dan power point. Hal tersebut dibuktikan dengan hasil uji hipotesis yang diketahui bahwa 2,769 (thitung) > 2,00 (ttabel). Sedangkan nilai signifikasi 0,008 < 0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa menggunakan media prezi lebih baik dibandingkan menggunakan media power point.
iii
iv
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Setiap negara tentunya berusaha untuk meningkatkan mutu pendidikan yang ada di negaranya, termasuk di Indonesia. Salah satu cita-cita Indonesia merdeka adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Cita-cita tersebut dapat diwujudkan dengan cara meningkatkan mutu pendidikan yang ada.1
Pendidikan pada hakikatnya adalah proses pematangan kualitas hidup.
Melalui proses tersebut diharapkan manusia dapat memahami apa arti dan hakikat hidup, serta untuk apa dan bagaimana menjalankan tugas hidup dan kehidupan secara benar. Karena itulah fokus pendidikan diarahkan pada pembentukan kepribadian unggul dengan menitikberatkan pada proses pematangan kualitas logika, hati, akhlak dan keimanan. Puncak pendidikan adalah tercapainya titik kesempurnaan kualitas hidup.2
Pendidikan adalah berbagai usaha yang dilakukan oleh seseorang (guru) terhadap seseorang (siswa) agar tercapai perkembangan maksimal yang positif. Pendidikan bisa dilakukan dengan banyak cara, salah satunya dengan melakukan pembelajaran.3 Pembelajaran merupakan upaya guru untuk
1Munif Chatib, Gurunya Manusia Menjadikan Semua Anak Istimewa dan Semua Anak Juara (Bandung: Mizan Pustaka, 2012), xiii.
2Dedi Mulyasana, Pendidikan Bermutu dan Berdaya Saing (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012), 2.
3Punaji Setyosari, Rancangan Pembelajran Teori dan Praktek (Malang: Elang Mas, 2001), 1.
menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat, dan kebutuhan siswa yang amat beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dan siswa serta antarsiswa.4
Dalam proses pembelajaran terjadi proses pembentukan pengetahuan siswa melalui segala pengetahuan profesional yang diajarkan oleh guru.
Pembentukan ini harus dilakukan oleh siswa itu sendiri. Siswa harus aktif melakukan kegiatan berpikir, menyusun konsep, dan memberi makna dari apa yang dipelajarinya didasarkan pada pengalaman dan pengatahuan yang terlebih dahulu didapatkannya. Sedangkan guru, selain harus mampu menciptakan suatu proses pembelajaran yang kondusif dan bermakna sesuai metode pembelajaran yang digunakan, juga harus mampu meningkatkan perhatian dan minat serta motivasi belajar siswa.5 Untuk mencapai hal tersebut, guru harus mempersiapkan beberapa komponen sebelum melaksanakan pembelajaran, mulai dari sumber belajar, media pembelajaran, strategi pembelajaran, model pembelajaran, dan lain-lain. Salah satu hal yang dapat digunakan agar materi yang disampaikan guru lebih menarik dan mudah dipahami oleh siswa yaitu menggunakan media pembelajaran.
Media pembelajaran merupakan salah satu hal penting yang harus dipersiapkan dengan baik oleh guru. Ini dikarenakan media pembelajaran merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan
4Hamdani, Strategi Belajar Mengajar (Bandung: Pustaka Setia, 2011), 71-72.
5Hamzah B. Uno dan Nurdin Mohamad, Belajar dengan Pendekatan PAILKEM (Jakarta:
Bumi Aksara, 2014), 140.
dan merangsang terjadinya proses belajar pada siswa.6 Selain itu, penggunaan media dapat menambah motivasi belajar siswa sehingga perhatian siswa terhadap materi pembelajaran dapat lebih meningkat.7 Namun pada kenyataannya media pembelajaran masih sering diabaikan dengan berbagai alasan, antara lain: terbatasnya waktu untuk membuat persiapan mengajar, sulit mencari media yang tepat, tidak tersedianya biaya, dan lain-lain. Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) adalah salah satu contohnya. Tidak sedikit guru dalam menyampaikan materi hanya menggunakan media seadanya sehingga siswa menjadi cepat bosan dan tidak memerhatikan materi yang disampaikan. Seperti yang terjadi di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Jenangan Ponorogo, guru PAI mengajar hanya dengan lisan, terkadang menggunakan media papan tulis, bahkan lebih sering tidak menggunakan media, padahal dalam ruang kelas tersebut telah disediakan LCD yang dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran. Didukung dengan siswa yang didominasi oleh laki-laki, mereka kurang tertarik dengan pelajaran PAI. Dilihat dari sekolah yang mereka pilih adalah “kejuruan”
dengan jurusan RPL (Rekayasa Perangkat Lunak) tentunya lebih mengedepankan keahlian dalam bidang perangkat lunak komputer daripada
6Zainal Aqib, Model-Model, Media dan Strategi Pembelajaran Kontekstual (Inovatif) (Bandung: Yrama Widya, 2014), 50.
7Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran (Jakarta: Prenada Media Group, 2011), 209.
pelajaran keagamaan. Hal tersebut berakibat pada hasil belajar siswa yang kurang memuaskan pada pelajaran PAI.
Berdasarkan beberapa kajian teoritis dan empiris, untuk mengatasi kelemahan di atas, penggunaan teknologi informasi (TI) dalam pembelajaran dianggap sebagai salah satu pemecahan yang sesuai.8 Media pembelajaran di era sekarang, teknologi canggih, menjadi daya tarik tersendiri bagi dunia pendidikan.9 Penggunaan media pembelajaran seperti prezi dan power point dapat dijadikan alternatif pilihan oleh guru untuk menyampaikan materi, tidak hanya mempermudah proses pembelajaran, namun juga membuat proses pembelajaran lebih menarik.
Peneliti membandingkan media prezi dan power point karena kedua media ini merupakan media yang ditangkap melalui indera yang sama yaitu indera penglihatan, sehingga perlu dibandingkan manakah di antara kedua media ini yang memiliki hasil belajar yang lebih baik jika digunakan untuk menyampaikan materi yang memiliki karakteristik konseptual atau penjelasan, seperti materi sumber hukum Islam.
Pemilihan media prezi dan power point sebagai media pembelajaran untuk mengatasi permasalahan di atas didasarkan pada keahlian siswa dalam bidang komputer yang dilihat dari jurusan mereka yaitu RPL (Rangkaian Perangkat Lunak). Sedangkan prezi dan power point merupakan aplikasi
8Made Wena, Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer (Jakarta Timur: Bumi Aksara, 2009), 202.
9Thoifuri, Menjadi Guru Inisiator (Semarang: Rasail Media Grup, 2007), 167.
software untuk presentasi. Prezi memiliki tampilan dari template dan tema yang lebih bervariasi dibandingkan power point, banyak pilihan tema lucu dan menarik yang dapat dipilih secara online dan menggunakan metode ZUI (Zooming User Interface) yang menjadikan presentasi semakin menarik.10 Melalui media yang berbasis software dan komputer tersebut, diharapkan siswa yang juga ahli dalam software dan komputer dapat tertarik untuk memperhatikan guru ketika menyampaikan materi, tidak cepat bosan dan lebih bergairah untuk belajar sehingga hasil belajar pun lebih meningkat.
Dalam penelitian ini, peneliti akan melakukan pembelajaran di dua kelas eksperimen, dengan kelas pertama menggunakan media prezi dan kelas kedua menggunakan media power point. Penggunaan media pembelajaran prezi dan power point tentu memiliki kelebihan dan kekurangan masing- masing, sehingga perlu dilakukan pengukuran manakah diantara kedua media tersebut yang lebih baik. Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar kedua kelas yang diteliti. Melalui hasil belajar dapat dilihat apakah siswa dapat memahami pembelajaran yang disampaikan atau sebaliknya.
Pada pengukuran perbedaan penggunaan media, materi dan instrumen yang digunakan haruslah sama sehingga data yang dihasilkan dapat valid.
Adapun materi yang disampaikan adalah pada Kompetensi Dasar (KD) 3.8 untuk kelas X SMK Kelas RPL (Rekayasa Perangkat Lunak) yakni menganalisis kedudukan al-Qur’an, hadits, dan ijtihad sebagai sumber hukum
10Zurrahma Rusyfian, Prezi Solusi Presentasi Masa Kini (Bandung: Informatika, 2016), 10.
Islam. Sedangkan instrumen yang digunakan adalah tes. Pemilihan KD 3.8 sebagai materi yang disampaikan melalui media prezi dan power point karena materi tersebut sudah disampaikan pada semester ganjil, sehingga ketika diberikan soal pre test, siswa tidak merasa asing dan dapat menjawab soal sesuai dengan kemampuannya. Berdasarkan latar belakang yang sudah diuraikan di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul
“Komparasi Hasil Belajar Siswa Menggunakan Media Pembelajaran Prezi dan Power point pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Kelas X RPL SMKN 1 Jenangan Ponorogo Tahun 2017/2018.”
B. Batasan Masalah
Variabel yang akan diukur dalam penelitian ini mempunyai cakupan yang luas, namun karena keterbatasan waktu, tenaga, biaya dan jangkauan, peneliti memfokuskan pada penggunaan media prezi dan power point pada Kompetensi Dasar (KD) 3.8 untuk kelas X RPL SMK yakni menganalisis kedudukan al-Qur’an, hadits, dan ijtihad sebagai sumber hukum Islam.
Variabel yang menjadi tolok ukur adalah perbedaan hasil belajar siswa dalam aspek kognitif. Penelitian ini berlangsung di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Jenangan, Ponorogo.
C. Rumusan Masalah
1. Bagaimana hasil belajar siswa menggunakan media pembelajaran prezi pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di kelas X RPL SMKN 1 Jenangan Ponorogo Tahun 2017/2018?
2. Bagaimana hasil belajar siswa menggunakan media pembelajaran power point pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di kelas X RPL SMKN 1 Jenangan Ponorogo Tahun 2017/2018?
3. Adakah perbedaan hasil belajar siswa menggunakan media pembelajaran prezi dan power point pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di kelas X RPL SMKN 1 Jenangan Ponorogo Tahun 2017/2018?
D. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui hasil belajar siswa menggunakan media pembelajaran prezi pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam kelas X RPL di SMKN 1 Jenangan Ponorogo Tahun 2017/2018.
2. Untuk mengetahui hasil belajar siswa menggunakan media pembelajaran power point pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam kelas X RPL di SMKN 1 Jenangan Ponorogo Tahun 2017/2018.
3. Untuk mengetahui perbedaan hasil belajar siswa menggunakan media pembelajaran prezi dan power point pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam kelas X RPL SMKN 1 Jenangan Ponorogo Tahun 2017/2018.
E. Manfaat Penelitian 1. Secara Teoritis
a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menguji ada atau tidaknya perbedaan hasil belajar siswa menggunakan media pembelajaran prezi
dan power point pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam kelas X RPL SMKN 1 Jenangan Ponorogo Tahun 2017/2018.
b. Menambah khazanah ilmu pengetahuan, memperkaya hasil penelitian yang telah ada dan dapat memberi gambaran mengenai perbedaan hasil belajar siswa menggunakan media pembelajaran prezi dan power point pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.
2. Secara Praktis a. Bagi Peneliti
Mendapatkan pengalaman langsung menjadi calon guru mata pelajaran PAI dengan memanfaatkan media pembelajaran berbasis teknologi yang selama ini belum dimaksimalkan, yaitu media prezi dan power point.
b. Bagi Sekolah
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar di SMKN 1 Jenangan dengan memanfaatkan perkembangan teknologi sebagai media pembelajaran.
c. Bagi Guru
Sebagai referensi yang dapat digunakan untuk memanfaatan media prezi dan power point dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
d. Bagi Siswa
Siswa memperoleh pengalaman belajar yang baru dengan memanfaatan media prezi dan power point dalam proses pembelajaran dan diharapkan dapat memberikan motivasi belajar untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
e. Bagi Penelitian di Masa Depan
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi dan acuan bagi peneliti lain untuk melakukan penelitian yang lebih luas dan mendalam.
F. Sistematika Pembahasan
Untuk dapat memberikan gambaran mengenai penelitan ini dapat disusun sistematika penulisan sebagai berikut:
BAB I : PENDAHULUAN
Berisi tentang latar belakang masalah, identifikasi masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, sistematika pembahasan.
BAB II : KAJIAN PUSTAKA
Bab ini menguraikan deskripsi teori atau telaah pustaka, kerangka berfikir dan hipotesis penelitian.
BAB III : METODE PENELITIAN
Bab ini menguraikan rancangan penelitian, populasi dan sampel, instrumen penelitian data, teknik pengumpulan data dan teknik analisis data.
BAB IV : TEMUAN DAN HASIL PENELITIAN
Bab ini menguraikan tentang gambaran umum lokasi penelitian, deskripsi data, analisis data (pengajuan hipotesis) dan pembahasan atau interpretasi atas angka statistik.
BAB V : PENUTUP
Bab ini berisi kesimpulan dari seluruh bab terdahulu dan saran yang bisa menunjang peningkatan dari permasalahan yang dilakukan.
11 BAB II
TELAAH HASIL PENELITIAN TERDAHULU, LANDASAN TEORI, KERANGKA BERFIKIR DAN PENGAJUAN HIPOTESIS A. TELAAH HASIL PENELITIAN TERDAHULU
1. Ruly Fibriyani, “Komparasi Hasil Belajar Siswa Menggunakan Model Pembelajaran Problem Based Learning Melalui Media Pembelajaran Prezi dan Power point pada Materi Menyusun Laporan Keuangan Kelas X SMK Negeri 1 Sooko Mojokerto.” Metode dalam penelitian ini adalah true eksperiment dengan desain post test only control group design. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai rata-rata hasil belajar siswa akuntansi pada pokok bahasan menyusun laporan keuangan dilihat dari dari rata-rata nilai post test kelas eksperimen sebesar 93 lebih tinggi dari kelas kontrol sebesar 86. Analisis data yang digunakan adalah uji t dengan menggunakan alat bantu SPSS dengan uji statistik uji independent sample t test, menunjukkan taraf signifikan sebesar 0,000 atau kurang dari 0,05 sehingga Ho ditolak dan Ha diterima. Ini artinya ada perbedaan hasil belajar siswa antara kelas yang menggunakan media pembelajaran prezi dengan kelas yang menggunakan media pembelajaran power point.11
11Ruly Fibriyani, Komparasi Hasil Belajar Siswa Menggunakan Model Pembelajaran Problem Based Learning Melalui Media Pembelajaran Prezi dan Power Point pada Materi Menyusun Laporan Keuangan Kelas X SMK Negeri 1 Sooko Mojokerto. Jurnal Pendidikan Akuntansi (online), Vol 3, No.2 Tahun 2015. (http:jurnalmahasiswa.unesa.ac.id/index.php/jpak/article/view/13197, diakses 2 Januari 2018), 1.
Persamaan yang peneliti temukan dalam Jurnal Pendidikan Akuntansi Ruly Fibriyani adalah Komparasi hasil belajar menggunakan media prezi dan power point, dan analisis data menggunakan uji independent sample t test. Perbedaan yang peneliti temukan yaitu dalam penelitian tersebut menggunakan metode true eksperiment dengan desain post test only control group design, menggunakan model pembelajaran problem based learning, menggunakan kelas eksperimen dan kelas kontrol, dan materi yang diajarkan adalah menyusun laporan keuangan kelas.
Sedangkan dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode quasi eksperiment dengan desain nonequivalent control group design, model pembelajaran langsung, menggunakan dua kelas eksperimen dan materi yang diajarkan adalah menganalisis kedudukan al-Qur’an, hadits, dan ijtihad sebagai sumber hukum Islam.
2. Novita Ayu Wulandari, “Perbandingan Hasil Belajar Siswa Melalui Media Pembelajaran Prezi dengan Power point pada Mata Diklat Akuntansi”
Metode dalam penelitian ini menggunakan true eksperiment (eksperimen murni) dengan desain pretest post test control group design. Berdasarkan uji-t yang didapatkan dari bantuan alat hitung program SPSS dengan statistik uji independent samplet test, menunjukkan taraf signifikansi sebesar 0,019 atau kurang dari 0,05. Sehingga Ho ditolak dan Ha diterima.
Ini artinya ada perbedaan hasil belajar siswa antara kelas yang
menggunakan media pembelajaran prezi dengan kelas yang menggunakan media pembelajaran power point.12
Persamaan yang peneliti temukan dalam jurnal pendidikan akuntansi Novita Ayu Wulandari yaitu perbedaan hasil belajar siswa menggunakan media prezi dan power point. dan analisis data menggunakan uji independent sample t test. Perbedaan yang peniliti temukan yaitu dalam penelitian tersebut menggunakan metode true experiment dengan desain pre test post test control group design.
Sedangkan dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode quasi eksperiment dengan desain nonequivalent control group design pada mata pelajaran PAI.
3. Dyah Listiyani, “Pengembangan Media Pembelajaran Melalui Multimedia Prezi Desktop untuk Peningkatan Motivasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di Kelas VII MTsN Punung Pacitan”
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode research and development dengan rancangan penelitian yang diadaptasi dari model Dick and Carey. Dari hasil penelitian diperoleh hasil penghitungan angket motivasi belajar siswa yang cukup tinggi dengan presentase 83,7 %. Penilaian tersebut membuktikan bahwa
12Novita Ayu Wulandari, Perbandingan Hasil Belajar Siswa Melalui Media Pembelajaran Prezi dengan Powerpoint pada Mata Diklat Akuntansi, Jurnal Pendidikan Akuntansi, (online), Vol.2, No.2, Tahun 2014 (http://www.e-journal.com/2016/03/perbandingan-hasil-belajar-siswa.html. Diakses tanggal 2 Januari 2018).
pengembangan media pembelajaran SKI melalui multimedia prezi desktop berkualitas dan telah layak digunakan sebagai media pembelajaran.
Motivasi belajar siswa pun terhadap mata pelajaran SKI meningkat secara signifikan dengan telah memenuhi empat indikator yaitu: kemenarikan, rasa ingin tahu, perhatian dan rasa senang memenuhi.13
Persamaan yang peneliti temukan dalam skripsi Dyah Listiyani yaitu variabel multimedia prezi. Perbedaan yang peneliti temukan yaitu metode penelitian yang digunakan dalam penelitian tersebut menggunakan metode research and development dengan rancangan penelitian yang diadaptasi dari model Dick and Carey. Pengembangan media pembelajaran tersebut untuk mata pelajaran SKI kelas VII pada materi kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab.
Sedangkan dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode penelitian kuantitatif dan materi yang diajarkan adalah menganalisis kedudukan al-Qur’an, hadits, dan ijtihad sebagai sumber hukum Islam.
4. Anjar Miska Prayoga, Sigit Santoso dan Nurhasan Hamidi, “Penggunaan Media Prezi dan Metode Pembelajaran Snowball Throwing Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Akuntansi” Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus. Subjek
13 Dyah Listiyani, Pengembangan Media Pembelajaran Melalui Multimedia Prezi Desktop untuk Peningkatan Motivasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di Kelas VII MTsN Punung Pacitan, Skripsi, (online), Tahun 2015 (http://etheses.uin-malang.ac.id/5181, diakses tanggal 3 januari 2018), xix.
penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS 4 yang berjumlah 38 siswa.
Teknik analisis data menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif.
Hasil penelitian menunjukkan terdapat peningkatan prestasi belajar akuntansi siswa melalui penggunaan media Prezi dan metode pembelajaran Snowball Throwing, terlihat dari (1) Keaktifan siswa dalam diskusi kelompok mengalami peningkatan sebesar 18,8%. (2) Ketepatan siswa menjawab soal diskusi mengalami peningkatan sebesar 51,4%. (3) Prestasi belajar mengalami peningkatan sebesar 21,6%.14
Persamaan yang peneliti temukan dalam jurnal pendidikan Anjar Miska Prayoga, Sigit Santoso dan Nurhasan Hamidi yaitu variabel prezi.
Perbedaan yang peneliti temukan yaitu metode penelitian dalam penelitian tersebut merupakan Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus. Metode pembelajaran menggunakan Snowball Throwing pada mata pelajaran akuntansi kelas XI IPS 4 SMA Al-Islam 1 Surakarta.
Sedangkan dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode penelitian kuantitatif. Materi yang diajarkan adalah menganalisis kedudukan al-Qur’an, hadits, dan ijtihad sebagai sumber hukum Islam di kelas X RPL SMKN 1 Jenangan Ponorogo.
14 Anjar Miska Prayoga, Sigit Santoso dan Nurhasan Hamidi, Penggunaan Media Prezi dan Metode Pembelajaran Snowball Throwing Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Akuntansi. Jurnal
Pendidikan, (online), Vol 1, No. 2 Tahun 2013,
(http://jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/ekonomi/article/view/2445. Diakses tanggal 3 Januari 2018).
B. LANDASAN TEORI 1. Media Pembelajaran
a. Pengertian Media Pembelajaran
Media berasal dari kata jamak dari bahasa latin yakni kata medium yang berarti antara. Dari sudut pandang komunikasi medium berarti sesuatu yang dapat menjadi perantara dalam proses komunikasi, medium juga dapat diartikan sebagai sesuatu yang dapat membantu penyampaian pesan dan informasi dari sumber pesan kepada penerima pesan.15 Media dalam arti yang sempit terutama hanya memperhatikan dua unsur dari model kawasan keseluruhan, yakni bahan dan alat.16
Sedangkan pengertian media pembelajaran adalah alat bantu berupa fisik ataupun nonfisik yang sengaja digunakan sebagai perantara antara guru dan siswa dalam memahami materi pelajaran agar lebih efektif dan efisien.17
Menurut Gerlach dan Ely sebagaimana dikutip Azhar Arsyad mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, ketrampilan, atau
15 Benny A. Pribadi & Yuni Katrin, Media Teknologi (Jakarta:Universitas Terbuka, 2004), 1- 2.
16Gene L. Wilkinson, Media dalam Pembelajaran: Penelitian Selama 60 Tahun (Jakarta:
Rajawali, 1984), 4.
17HM. Musfiqon, Pengembangan Media dan Sumber Pembelajaran (Jakarta: Prestasi Pustakaraya, 2012), 28.
sikap. Dalam pengertian ini, guru, buku teks, dan lingkungan sekolah merupakan media. Secara lebih khusus, pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis, photografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal.18
Pendapat lain menyatakan bahwa media pembelajaran merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari guru kepada siswa sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, minat, dan perhatian siswa sehingga proses belajar dapat terjadi.19 Kit Lay Bourne sebagaimana dikutip oleh Iif Khoiru Ahmadi dan Sofan Amri menyatakan bahwa “penggunaan media tidak harus membawa bungkusan berita-berita semua, siswa cukup dapat mengawasi suatu berita.” Dari pendapat tersebut dapat dihubungkan bahwa penyampaian materi pelajaran dengan cara komunikasi masih dirasakan adanya penyimpangan pemahaman oleh siswa. Masalahnya adalah bahwa siswa terlalu banyak menerima sesuatu ilmu dengan verbalisme. Apalagi jika tidak menggunakan media di mana kondisi siswa tidak siap, akan memperbesar peluang terjadinya verbalisme.20
18Azhar Arsyad, Media Pembelajaran (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2013), 3.
19Arief S. Sadiman, et.al., Seri Pustaka Teknologi Pendidikan No. 6 Media Pendidikan Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatannya (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002), 6.
20Iif Khoiru Ahmadi dan Sofan Amri, Strategi Pembelajaran Sekolah Berstandar Internasional dan Nasional (Jakarta: Prestasi Pustakaraya, 2010), 115.
Adanya perkembangan ilmu pengetahuan tidak bisa dipungkiri mengakibatkan kemajuan teknologi yang memengaruhi kehidupan sosial, ekonomi, politik, pendidikan dan kebudayaan.21 Diantara media pembelajaran berbasis teknologi yang dapat digunakan untuk menyampaikan materi adalah prezi dan power point. Kedua media ini merupakan media presentasi yang dapat menarik perhatian siswa, mampu menyampaikan pesan dengan baik sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa media sangat berperan penting dalam proses pembelajaran agar pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh siswa sehingga tidak terjadi penyimpangan pemahaman materi yang disampaikan oleh guru.
b. Urgensi Penggunaan Media
Pada hakikatnya proses belajar mengajar adalah proses komunikasi. Kegiatan belajar mengajar di kelas merupakan suatu dunia komunikasi tersendiri di mana guru atau dosen dan siswa atau mahasiswa bertukar pikiran untuk mengembangkan ide dan pengertian. Dalam komunikasi sering timbul dan terjadi penyimpangan-penyimpangan sehingga komunikasi tersebut tidak efektif dan efisien, antara lain disebabkan oleh adanya kecenderungan
21Hasbullah, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2009), 191.
verbalisme, ketidaksiapan siswa/mahasiswa, kurangnya minat dan kegairahan, dan sebagainya.22
Salah satu usaha untuk mengatasi keadaan demikian ialah penggunaan media secara terintegrasi dalam proses belajar mengajar, karena fungsi media dalam kegiatan tersebut di samping sebagai penyaji stimulus informasi, sikap, dan lain-lain, juga untuk meningkatkan keserasian dalam penerimaan informasi, dalam hal-hal tertentu, media juga berfungsi untuk mengatur langkah-langkah kemajuan serta untuk memberikan umpan balik.
Penggunaan media dalam proses belajar mengajar mempunyai nilai-nilai praktis diantaranya sebagai berikut:23
1) Media dapat mengatasi ruang kelas. Banyak hal yang sukar untuk dialami secara langsung oleh siswa di dalam kelas, seperti: objek yang terlalu besar atau terlalu kecil, gerakan-gerakan yang dialami terlalu cepat atau terlalu lambat. Maka dengan media, kesukaran- kesukaran tersebut akan dapat diatasi.
2) Media menghasilkan keseragaman pengamatan. Pengamatan yang dilakukan siswa dapat secara bersama-sama diarahkan kepada hal- hal yang dianggap penting sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
22Asnawir dan Basyiruddin Usman, Media Pembelajaran (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), 13.
23Ibid., 14.
3) Media dapat menanamkan konsep dasar yang benar, konkrit, dan realistis. Penggunaan media seperti: gambar, film, model, grafik, dan lainnya dapat memberikan konsep dasar yang benar.
4) Media dapat membangkitkan motivasi dan merangsang siswa untuk belajar. Pemasangan gambar di papan buletin, pemutaran film dan mendengarkan program audio dapat menimbulkan rangsangan tertentu ke arah keinginan untuk belajar.
c. Klasifikasi Media Pembelajaran
Media pembelajaran dapat diklasifikasikan menjadi beberapa klasifikasi tergantung dari sudut mana melihatnya.
1) Dilihat dari sifatnya, media dapat dibagi ke dalam:
a) Media auditif, yaitu media yang hanya dapat didengar saja, atau media yang hanya memiliki unsur suara, seperti radio dan rekaman suara.24
b) Media visual, yaitu media jenis ini berkaitan dengan indera penglihatan. Media ini terdiri dari gambar/foto, sketsa, diagram, bagan/chart, grafik, kartun, poster, peta atau globe, papan flannel, papan bulletin, dan seterusnya.25
c) Media audiovisual, yaitu jenis media yang selain mengandung unsur suara juga mengandung unsur gambar yang dapat dilihat
24Sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran, 211.
25Musfiqon, Pengembangan Media dan Sumber Pembelajaran, 70.
seperti rekaman video, berbagai ukuran film, slide suara, dan lain sebagainya.26
2) Dilihat dari kemampuan jangkauannya, media dapat pula dibagi ke dalam:
a) Media yang memiliki daya liput yang luas dan serentak seperti radio dan televisi. Melalui media ini siswa dapat mempelajari hal-hal atau kejadian-kejadian yang aktual secara serentak tanpa harus menggunakan ruangan khusus.
b) Media yang memiliki daya liput yang terbatas oleh ruang dan waktu, seperti film slide, film, video dan lain sebagainya.27 3) Dilihat dari cara atau teknik pemakaiannya, media dapat dibagi
dalam:
a) Media Proyeksi, media yang menggunakan proyektor sehingga gambar tampak pada layar. Adapun media ini terdiri dari proyektor transparasi/over head proyektor (OHP), film, film bingkai (slide), film rangkai, dan proyektor tidak tembus pandang (opaque projector).
b) Media Nonproyeksi, media yang penggunaannya tidak memerlukan bantuan alat proyektor. Adapun media ini terdiri dari wallsheets, buku cetak, dan papan tulis.28
26Sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran, 211.
27Ibid.
Media prezi dan power point jika dilihat dari klasifikasi di atas termasuk dalam media visual, memiliki daya liput yang terbatas oleh ruang dan waktu dan termasuk dalam media yang diproyeksikan.
d. Manfaat dan Fungsi Media Pembelajaran
Secara umum media pembelajaran mempunyai manfaat sebagai berikut:29
1) Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistik dalam penyampaiannya.
2) Mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan daya indera, misalnya objek yang terlalu besar dapat digantikan dengan gambar, objek yang terlalu kecil dapat dibantu dengan proyektor mikro atau gambar, gerak terlalu cepat atau lambat dapat dibantu dengan timelapse, kejadian dimasa lalu dapat dibantu dengan rekaman video maupun secara verbal, dan konsep yang terlalu luas dapat dibantu dengan divisualkan dalam bentuk film, gambar dll.
3) Mengatasi sifat pasif anak melalui penggunaan media yang tepat seperti menimbulkan kegairahan belajar, menimbulkan interaksi yang lebih langsung antara guru dengan siswa, dan memungkinkan siswa untuk belajar menurut kemampuan dan minatnya sendiri- sendiri.
28Musfiqon, Pengembangan Media dan Sumber Pembelajaran, 111-112.
29Arif S. Sadiman, Media Pendidikan (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008), 16-17.
4) Dapat mengatasi masalah dimana siswa yang memiliki gaya belajar yang berbeda antara yang satu dengan yang lain.
Sedangkan menurut Nana Sudjana sebagaimana dikutip oleh Asfah Rahman, manfaat media pembelajaran dalam proses belajar siswa, yaitu:30
1) Pembelajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar.
2) Bahan pembelajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh siswa dan memungkinkannya menguasai dan mencapai tujuan pembelajaran.
3) Metode mengajar akan lebih bervariasi tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga, apalagi kalau guru mengajar pada setiap jam pelajaran.
4) Siswa dapat lebih banyak melakukan kegiatan belajar sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru tetapi juga aktivitas lain seperti, mengamati, melakukan, mendemonstrasikan, memerankan, dan lain-lain.
Media pembelajaran prezi dan power point yang termasuk dalam media visual memiliki beberapa fungsi. Levie dan Lentz
30Asfah Rahman, Media Pembelajaran, (Jakarta: Raja Grafido Persada, 2009), 24-25.
sebagaimana dikutip oleh Azhar Arsyad mengemukakan empat fungsi media pembelajaran khususnya media visual, yaitu:31
1) Fungsi etensi, menarik siswa untuk berkonsentrasi pada isi pelajaran yang terdapat pada media visual yang ditayangkan.
2) Fungsi afektif, media visual dapat menggugah emosi dan sikap siswa dalam mengikuti proses pembelajaran.
3) Fungsi kognitif, menurut penelitian yang sudah dilakukan lambang atau gambar pada media visual akan memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan mengingat informasi yang terdapat pada gambar.
4) Fungsi kompensatoris, media visual akan membantu siswa dalam memahami maksud dari materi yang disampaikan berdasarkan gambar yang digunakan, terutama pada siswa yang lemah dalam membaca.
2. Media Prezi
Prezi adalah sebuah perangkat lunak untuk presentasi berbasis internet (SaaS). Selain untuk presentasi, prezi juga dapat digunakan sebagi alat untuk mengekplorasi dan berbagi ide diatas kanvas virtual. Prezi menjadi unggul karena program ini menggunakan Zooming User Interface
31Arsyad, Media Pembelajaran, 20-21.
(ZUI), yang memungkinkan pengguna prezi untuk memperbesar dan memperkecil tampilan media presentasi mereka.32
Prezi digunakan sebagai alat untuk membuat presentasi dalam bentuk linier maupun non-linier, yaitu presentasi terstruktur sebagai contoh dari presentasi linier, atau presentasi berbentuk peta-pikiran (mind map) sebagai contoh dari presentasi non linier. Pada prezi, teks, gambar, video, dan media presentasi lainnya ditempatkan di atas kanvas presentasi, dan dapat dikelompokkan dalam bingkai-bingkai yang telah disediakan.
Pengguna kemudian menentukan ukuran relatif dan posisi antara semua objek presentasi dan dapat mengitari serta menyorot objek-objek tersebut untuk membuat presentasi linier, pengguna dapat membangun jalur navigasi presentasi yang telah ditentukan sebelumnya.33
Media prezi dalam pembuatannya dapat dilakukan dengan melalui beberapa tahap, diantara cara membuat prezi adalah:
a. Klik new prezi dan memilih template desain presentasi prezi.
b. Menghapus frame dan menggantinya dengan frame baru.
c. Mengunggah gambar yang akan jadi tampilan depan presentasi prezi.
d. Membuat teks judul pada presentasi prezi.
e. Menambahkan frame baru.
f. Mengunggah semua gambar dan menempatkannya dalam frame.
32 Zurrahma Rusyfian, Prezi Solusi Presentasi Masa Kini, 2.
33Ibid.
g. Menambahkan shape pada presentasi prezi.
h. Menulis konten untuk tiap slide presentasi prezi.34
Untuk membuat dan menampilkan prezi dalam pembelajaraan dibutuhkan alat dan bahan sebagai berikut:
a. Komputer atau laptop.
b. Aplikasi prezi.
c. LCD (ketika ditampilkan pada siswa).
d. Koneksi internet (untuk membuat akun prezi).
Prosedur penyampaian materi menggunakan prezi:
a. Membuka aplikasi prezi pada komputer/laptop.
b. Menyambungkan komputer/laptop pada LCD.
c. Menyampaikan materi sesuai dengan prezi yang sudah dirancang.
d. Klik tombol (geser kanan, kiri, atas, bawah) untuk menampilkan slide selanjutnya dan memperbesar tampilan pada layar.
Sebagai media yang berbasis teknologi, prezi memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan sebagai berikut:
a. Kelebihan
1) Tampilan dari template dan tema yang lebih bervariasi dibandingkan dengan power point.
2) Banyak pilihan tema yang lucu dan menarik yang dapat dipilih secara online.
34Ibid., 24-28.
3) Menggunakan metode ZUI (Zooming User Interface), metode ini membuat presentasi semakin menarik.
b. Kekurangan
1) Prezi sulit untuk memasukkan syimbol matematika.
2) Proses instalasi prezi membutuhkan koneksi internet (secara online).
3) Karena menggunakan ZUI (Zooming User Interface) mengakibatkan tampilan prezi terlihat lebih monoton.35
3. Media Power point
Microsoft power point merupakan salah satu program aplikasi Microsoft office yang berguna untuk membuat presentasi dalam bentuk slide. Biasanya aplikasi ini digunakan untuk presentasi mengajar, bisa dikatakan hampir semua kalangan pelajar, mahasiswa, orang-orang kantoran dan lain-lain, pernah menggunakan software ini.36
Media ini dapat digunakan dengan beberapa langkah. Adapun cara penggunaan aplikasi ini adalah sebagai berikut:37
a. Klik tombol start
b. Pilih menu All Program>Microsoft office c. Pilih Microsoft office power point
35Ibid., 10.
36Ibid., 6.
37 Arief Sugiyono, dkk, Dasar-dasar Microsoft Office 2007 & Microsoft Windows Xp (Jakarta: Grasindo, 2008), 126.
Untuk membuat dan menampilkan power point dalam pembelajaraan dibutuhkan alat dan bahan sebagai berikut:
a. Komputer atau laptop.
b. Aplikasi power point.
c. LCD (ketika ditampilkan pada siswa).
Prosedur penyampaian materi menggunakan prezi:
a. Membuka aplikasi power point pada komputer/laptop.
b. Menyambungkan komputer/laptop pada LCD.
c. Menyampaikan materi sesuai dengan power point yang sudah dirancang.
d. Klik tombol (geser kanan, kiri,) untuk menampilkan slide selanjutnya dan memperbesar tampilan pada layar.
Adapun kelebihan dan kekurangan media pembelajaran prezi dan power point sebagai berikut:38
a. Kelebihan
1) Dapat menambahkan grafik, tabel, clip art, musik, film dan lainnya ke dalam slide presentasi.
2) Menampilkan presentasi menggunakan layar komputer, OHP.
b. Kekurangan
1) Microsoft Office Power point hanya dapat dijalankan pada sistem operasi windows saja.
38 Zurrahma Rusyfian, Prezi Solusi Presentasi Masa Kini,10-11.
No Prezi Power point 1 Untuk menggunakan
prezi, kita sebagai user harus memiliki akun prezi terlebih dahulu.
Untuk menggunakan power point, kita sebagai user tidak harus memiliki akun prezi terlebih dahulu.
2 Prezi digunakan dan dibuat dalam keadaan online (menggunakan Internet).
Power point digunakan dalam keadaan offline.
3 Prezi memiliki berbagai macam lisensi tema yang lebih bervariasi.
Power point hanya memiliki tema yang sederhana.
4 Digunakan dalam bentuk slide juga, namun di atas kanvas virtual.
Tidak ada batasan penggunaan.
5 Programnya dilengkapi dengan (ZUI) en: zooming User Interface, yang memungkinkan user untuk bisa memperbesar dan memperkecil layar presentasi.
Animasi slide lebih banyak dibandingkan prezi.
6 Untuk penggunaan prezi dalam jangka waktu lama harus bayar, sedangkan untuk versi publik dibatasi. Penggunaanya selama 30 hari.
Proses instalasi bisa online dan juga offline.
7 Prezi lebih mudah digunakan.
Proses editing cepat, karena offline.
8 Proses instalansi harus online.
Tersimpan langsung dikomputer atau laptop.
9 Proses editing lama, tergantung kekuatan jaringan internet (karena online).
10 Data editing tersimpan di Web.
Tabel 2.1 Perbedaan Prezi dan Power point 4. Hasil Belajar
a. Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Howard Kingsley membagi tiga macam hasil belajar, yakni: (1) Ketrampilan dan kebiasaan, (2) Pengetahuan dan pengertian, (3) Sikap dan cita-cita.
Masing-masing hasil belajar dapat diisi dengan bahan yang telah ditetapkan dalam kurikulum. Sedangkan Gagne membagi lima kategori hasil belajar, yakni: (1) informasi verbal, (2) ketrampilan intelektual, (3) strategi kognitif, (4) sikap, dan (5) ketrampilan motoris.39
Dalam sistem pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan, baik tujuan kurikuler maupun tujuan instruksional, menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom yang secara garis besar membaginya menjadi tiga ranah, yaitu ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotoris. Dari ketiga ranah yang diukur dalam hasil
39Nana Sudjana, Penelitian Hasil Belajar Mengajar (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2009), 22.
belajar aspek kognitif merupakan aspek yang penting. Dua tujuan pendidikan terpenting adalah untuk mengembangkan daya ingat dan mendorong terjadinya transfer ilmu. Terjadinya transfer ilmu merupakan tanda keberhasilan proses belajar dan semua hal tersebut menjadi hal yang diukur dalam ranah kognitif.40
Adapun ranah kognitif yang sudah direvisi oleh Lorin W.
Anderson dan David R. Krathwohl sebagaimana dikutip oleh Nana Sudjana, secara umum terbagi menjadi enam aspek. Adapun penjabaran dari aspek tersebut adalah sebagai berikut:
1) Pengetahuan
Pada aspek pertama, berhubungan dengan pengetahuan faktual disamping hafalan seperti rumus, definisi, istilah, nama- nama tokoh, dan nama-nama kota. Meskipun aspek ini adalah yang paling rendah akan tetapi aspek ini menjadi prasyarat bagi aspek kognitif berikutnya.
2) Pemahaman
Pada aspek ini siswa dituntut untuk bisa memberikan contoh lain, menjelaskan dengan kalimat sendiri atau menggunakan petunjuk dengan penerapan pada kasus yang lain dari sesuatu yang didengar atau yang telah dibaca sebelumnya.
40Suwarno, Pengembangan Tes Diagnostik dalam Pembelajaran Panduan Praktis bagi Pedidik dan Calon pendidik (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013), 17.
3) Aplikasi
Aplikasi adalah penggunaan abstraksi pada situasi yang kongkrit atau situasi yang khusus, abstraksi tersebut berupa ide, teori, atau petunjuk teknis.41
4) Analisis
Aspek analisis sudah menyangkut dengan tiga aspek sebelumnya. Dengan adanya pengukuran hasil belajar berupa analisis ini diharapkan siswa mampu memiliki pemahaman yang komprehensif dan sistematikanya.
5) Evaluasi
Pemberian keputusan tentang nilai sesuatu yang mungkin dilihat dari segi tujuan, gagasan, cara kerja, pemecahan, metode, materi, dan lain-lain. Dalam soal essay aspek ini sering muncul berupa frase “menurut pendapat saudara” atau “menurut teori tertentu”.
6) Kreativitas
Kreativitas adalah tahap yang paling sulit dan tahap paling akhir pada ranah kognitif. Pada tahap ini siswa dituntut untuk menyelesaikan masalah atau problem solving.42
41 Nana Syaodih Sukmadinata, Ilmu dan Aplikasi Pendidikan: Pengembangan Kurikulum Sekolah (Bandung: Imperial Bakti Utama, 2007), 116.
42Sukmadinata, Ilmu dan Aplikasi Pendidikan: Pengembangan Kurikulum Sekolah, 117-118.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian hasil belajar adalah suatu yang diperoleh, dikuasai atau merupakan hasil dari adanya proses belajar. Jadi hasil belajar merupakan hasil yang dicapai oleh siswa dalam mengikuti program belajar dalam rangka menyelesaikan program pendidikan.
b. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Hasi Belajar
Secara perinci, uraian mengenai faktor internal dan faktor eksternal, sebagai berikut:
1) Faktor Internal ; faktor internal merupakan faktor yang bersumber dari dalam siswa, yang memengaruhi kemampuan belajarnya.43 Faktor internal terdiri dari:
a) Faktor fisiologis, secara umum kondisi fisiologis seperti kesehatan yang prima, tidak dalam keadaan lelah dan capek, tidak dalam keadaan cacat jasmani, dan sebagainya, semua akan membantu dalam proses dan hasil belajar.
b) Faktor psikologis, yang meliputi intelegensi, perhatian, minat dan bakat, motif dan motivasi, kognitif dan daya nalar.44
2) Faktor Eksternal ; faktor yang berasal dari luar diri siswa yang memengaruhi hasil belajar.45
Faktor eksternal terdiri dari:
43Ahmad Susanto, Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar (Jakarta: Prenadamedia Group, 2013), 12.
44Yudhi Munadi, Media Pembelajaran Sebuah Pendekatan Baru (Jakarta: Gaung Persada Press, 2008), 24.
45Susanto, Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar, 12.
a) Faktor lingkungan, lingkungan ini dapat berupa lingkungan fisik atau alam dan dapat pula berupa lingkungan sosial.
b) Faktor instrumental, faktor ini dapat berupa kurikulum, sarana, fasilitas, dan guru. Faktor-faktor ini diharapkan dapat berfungsi sebagai sarana untuk tercapainya tujuan-tujuan belajar yang direncanakan.46
c. Tujuan dan Fungsi Penilaian Pembelajaran
Penilaian pembelajaran paling tidak memiliki tujuan sebagai berikut:
1) Untuk mengetahui tingkat efektifitas proses pembelajaran yang dikembangkan oleh guru, maka penilaian harus dilakukan secara berkesinambungan.
2) Untuk mengetahui tingkat pencapaian kompetensi siswa.
3) Untuk mengetahui posisi atau penempatan siswa dalam pembelajaran sesuai dengan potensinya, maka seringkali penilaian bersifat diagnostik.
4) Untuk memperoleh umpan balik (feed back ).47
46Munadi, Media Pembelajaran Sebuah Pendekatan Baru, 31-32.
47Didi Supriadi dan Deni Darmawan, Komunikasi Pembelajaran (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012), 186-187.
C. KERANGKA BERFIKIR
Tindakan
Hasil yang diharapkan
Gambar 2.1 Kerangka Berfikir Masalah yang dihadapi siswa
Hasil belajar siswa yang belum optimal.
Adanya kesulitan belajar siswa.
Siswa kurang tertarik dengan mata pelajaran PAI
Siswa jenuh dalam kegiatan belajar mengajar.
Diperlukan media pembelajaran yang efektif.
Media Pembelajaran Prezi Kelebihan Prezi
Tampilan tema lebih bervariasi dibandingkan dengan powerpoint.
Menarik ketika dalam mode presentasi dengan
menggunakan teknologi ZUI nya.
Lebih simpel dalam hal membuat animasi.
Pilihan tema yang bagus dan dapat diunduh secara online.
Kelemahan Prezi
Karena hanya menggunakan teknologi ZUI (tampilan untuk menge-zoom), software ini terlihat monoton.
Proses instalasinya membutuhkan instalasi internet.
Media Pembelajaran Powerpoint
Kekurangan Powerpoint
Microsoft Office Powerpoint hanya dapat dijalankan pada sistem operasi windows saja.
Kelebihan Powerpoint
Dapat menambahkan grafik, tabel, clip art, musik, film dan lainnya ke dalam slide presentasi
Menampilkan presentasi
menggunakan layar komputer, OHP
Media pembelajaran yang efektif Media Prezi
Siswa menghadapi beberapa masalah dalam pembelajaran yaitu adanya kesulitan belajar karena rendahnya minat siswa terhadap materi pembelajaran sehingga siswa sulit untuk memahami, siswa jenuh dalam kegiatan belajar mengajar karena pembelajaran yang dilakukan guru kurang menarik sehingga siswa merasa bosan, hasil belajar siswa yang belum optimal karena rendahnya daya dukung yang digunakan dalam proses pembelajaran, diperlukan media pembelajaran yang efektif karena penggunaan media pembelajaran yang tepat dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Jadi dari permasalahan tersebut diperlukan media pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa yaitu dengan menggunakan media prezi dan power point.
Dari penggunaan kedua media tersebut, diperkirakan media prezi memberikan hasil yang lebih unggul dan diharapkan siswa tertarik dengan pelajaran PAI sehingga siswa dapat aktif dalam pembelajaran yang berdampak pada meningkatnya hasil belajar siswa.
Dari uraian di atas, maka dapat diajukan kerangka berfikir sebagai berikut:
1. Jika hasil belajar siswa lebih tinggi ketika menggunakan media prezi daripada power point maka media prezi lebih efektif daripada power point.
2. Jika hasil belajar siswa lebih tinggi ketika menggunakan media power point daripada prezi maka media power point lebih efektif daripada prezi.
D. HIPOTESIS PENELITIAN
Menurut James E. Greighton sebagaimana dikutip oleh Nanang Martono, hipotesis merupakan sebuah dugaan tentatif atau sementara yang memprediksi situasi yang akan diamati. Sedangkan secara umum hipotesis didefinisikan sebagai jawaban sementara yang kebenarannya masih harus diuji, atau rangkuman kesimpulan teoritis yang diperoleh dari tinjauan pustaka.48
Karena hipotesis merupakan kebenaran yang masih harus diteliti dengan penelitian lebih lanjut, maka peneliti mengajukan hipotesis sebagai berikut:
1. Hipotesis kerja (Ha)
Ada perbedaan yang signifikan terhadap hasil belajar siswa menggunakan media pembelajaran prezi dan power point pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Kelas X RPL SMKN 1 Jenangan Ponorogo Tahun 2017/2018.
2. Hipotesis nol (Ho)
Tidak ada perbedaan yang signifikan terhadap hasil belajar siswa menggunakan media pembelajaran prezi dan power point pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Kelas X RPL SMKN 1 Jenangan Ponorogo Tahun 2017/2018.
48 Nanang Martono, Metode Penelitian Kuantitatif (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2010), 63.
38 BAB III
METODE PENELITIAN A. Rancangan Penelitian
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan metode kuantitatif dengan menggunakan jenis penelitian quasi eksperiment dengan desain nonequivalent control group design. Desain ini digunakan karena sulit mendapatkan kelas kontrol yang digunakan dalam penelitian, pemilihan kelas eksperimen dan kelas kontrol tidak dilakukan secara random.49 Penelitian eksperimen ialah penelitian yang dimaksudkan untuk mengetahui adanya sebabakibat dari suatu permasalahan yang diselidiki. Hal ini merujuk pada pendapat bahwa penelitian eksperimen adalah mencari sebab dan akibat antara dua faktor oleh peneliti dengan cara mengeliminisasi, mengurangi, dan menyisihkan faktor- faktor yang tidak diperlukan.50 Pada penelitian ini membahas tentang perbedaan hasil belajar siswa menggunakan media pembelajaran prezi dan power point di kelas X RPL SMKN 1 Jenangan pada KD 3.8 menganalisis kedudukan al-Qur’an, hadits, dan ijtihad sebagai sumber hukum Islam.
49Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D (Bandung: Alfabeta, 2014), 74.
50Suharismi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik (Jakarta: Rineka Cipta, 2013), 9.
Ciri metode penelitian eksperimen adalah adanya kelas kontrol yang digunakan untuk mengetahui pengaruh terhadap kondisi yang lain.51 Pada penelitian ini untuk membandingkan dengan kondisi lain, peneliti menggunakan dua kelas eksperimen yang diberikan perlakuan yang berbeda.
Kelas pertama menggunakan media pembelajaran prezi dan kelas kedua menggunakan media pembelajaran power point, sehingga kedua kelas menjadi kelas eksperimen.
Pada penelitian ini kedua kelas eksperimen mendapatkan pre test untuk mengetahui keadaan awal kelas mengenai pengetahuan siswa tentang materi sumber hukum Islam yang digunakan sebagai objek penelitian, sehingga dengan cara ini pengaruh media pembelajaran prezi dan power point terhadap hasil belajar akan terlihat perubahannya.
Peneliti menyampaikan materi dengan media prezi untuk kelas eksperimen pertama dan menyampaikan materi dengan media power point untuk kelas eksperimen kedua dengan tujuan agar siswa mampu memahami materi yang disampaikan melalui media pembelajaran tersebut.
Kelas X RPL-A sebagai kelas eksperimen pertama diberikan materi tentang sumber hukum Islam yang meliputi al-Qur’an, hadits dan ijtihad yang di dalamnya terdapat pengertian al-Qur’an, kedudukan al-Qur’an, kandungan al-Qur’an, pengertian hadits, kedudukan hadits, fungsi dan macam hadits,
51Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, 72.
pengertian ijtihad, kedudukan ijtihad, syarat-syarat ijtihad, macam-macam ijtihad dan pembagian hukum Islam dengan menggunakan media prezi.
Sedangkan kelas X RPL-C diberikan materi yang sama dengan menggunakan media power point.
Selanjutnya post test diberikan untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah diberikan materi menggunakan media pembelajaran prezi dan power point. Pengaruh tersebut dapat dilihat melalui cara sebagai berikut:
Gambar 3.1 Nonequivalent Control Group Design Keterangan:
O1 dan O3 : Hasil belajar siswa sebelum mendapatkan perlakuan X1 : Penyampaian materi menggunakan media prezi
X2 : Penyampaian materi menggunakan media power point O2 : Hasil belajar siswa setelah menggunakan media prezi O4 : Hasil belajar siswa setelah menggunakan media power point B. Populasi Dan Sampel
1. Populasi Penelitian
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian.52 Penelitian ini dilakukan di SMKN 1 Jenangan Ponorogo yang beralamatkan di Jl. Niken
52Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, 173.
O
1X
1O
2O
3X
2O
4Gandini No. 98 Setono, Jenangan Ponorogo. Populasi yang digunakan di SMKN 1 Jenangan Ponorogo adalah kelas X RPL dengan jumlah 107 siswa yang terbagi dalam tiga kelas. Penentuan kelas eksperimen dilakukan berdasarkan saran guru mata pelajaran PAI yang mengajar di kelas tersebut. Menurut pendapat guru PAI, dari ketiga kelas tersebut, terdapat dua kelas yang memiliki minat belajar yang sama.
2. Sampel Penelitian
Sampel adalah sebagian dari populasi.53 Pada penelitian ini peneliti tidak menggunakan semua kelas X RPL sebagai objek penelitian, akan tetapi peneliti mengambil dua kelas yaitu kelas X RPL-A yang berjumlah 36 siswa namun terdapat 2 siswa non muslim, 1 siswa izin, 2 siswa sakit, dan 1 siswa tanpa keterangan, sehingga yang hadir sebanyak 30 siswa disampaikan materi menggunakan media prezi, dan kelas X RPL-C berjumlah 35 siswa namun terdapat 1 siswa sakit, dan 4 siswa mendapatkan dispensasi mengikuti latihan paskibraka, sehingga yang hadir sebanyak 30 siswa disampaikan materi menggunakan media power point.
Penentuan sampel dilakukan dengan teknik nonprobability sampling (purposive sampling). Purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel dengan pertimbangan tertentu.54 Berdasarkan saran
53Syaifuddin Anwar, Metodologi Penelitian (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999), 77.
54 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, 85.
dari guru PAI di sekolah tersebut menyatakan bahwa kelas X-RPL A dan X-RPL C memiliki minat belajar PAI yang sama dibandingkan dengan kelas lain.
C. Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen sebagai alat pengumpul data dirancang sedemikian rupa sehingga menghasilkan data empiris sebagaimana adanya. Kisi-kisi dari instrumen yang dimaksud adalah sebagai berikut:
Judul Variabel Subjek Teknik Indikator No.
Soal Komparasi
Hasil Belajar Siswa
Menggunakan Media
Pembelajaran Prezi dan Power point pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam di Kelas X RPL SMKN 1 Jenangan Ponorogo Tahun 2017/2018.
Hasil belajar Siswa menggun akan media prezi
Siswa Kelas X RPL SMKN 1 Jenangan
Tes Tulis
1. Pengertian dan jenis sumber hukum 2. Pengertian
Al-Qur’an 3. Kandungan
hukum dalam Al- Qur’an 4. Bagian- bagian hadits 5. Perbedaan
sunnah dan hadits 6. Kedudukan
sumber hukum Islam 7. Fungsi
hadits terhadap Al-Qur’an 8. Macam
hadits
1,2
3,4 5,6,7
8,9, 10 11
12
13, 14, 15 Hasil
belajar Siswa menggun akan media power point
berdasarkan kuantitas 9. Macam
hadits berdasarkan kualitas 10. Sebutan
bagi orang yang berijtihad 11. Pengertian
ijtihad dan ijma’
12. Syarat- syarat ijtihad 13. Kedudukan
ijtihad 14. Cara
penetapan hukum Islam 15. Macam-
macam hukum Islam 16. Hukum
taklifi 17. Hukum
wad’i 18. Contoh
hukum taklifi
16, 17
18, 19
20
21, 22 23
24 25, 26
27, 28
29, 30 31, 32 33, 34, 35 Tabel 3.1 Kisi-kisi Instrument Pengumpulan Data
D. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar yang ditetapkan.55 Dalam penelitian ini peneliti menggunakan dua tahap, yakni tahap persiapan dan tahap pelaksanaan. Adapun penjabarannya adalah sebagai berikut:
1. Tahap Persiapan
Kegiatan yang dilakukan peneliti dalam tahap ini adalah: Pertama, melakukan observasi ke sekolah yang bertujuan untuk menentukan kelas yang digunakan sebagai objek penelitian, serta mengatur jadwal pengumpulan data yang disesuaikan dengan guru PAI di sekolah tersebut.
Kedua, membuat RPP dan materi yang disajikan dalam media pembelajaran prezi dan power point yang digunakan untuk penelitian.
RPP untuk kelas eksperimen pertama yang menggunakan media prezi dapat dilihat pada lampiran 1, sedangkan RPP untuk kelas eksperimen kedua yang menggunakan media power point dapat dilihat pada lampiran 2. Ketiga, mengurus surat izin penelitian dari Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, IAIN Ponorogo. Keempat, menyusun dan mempersiapkan instrumen berupa pre test dan post test yang digunakan untuk kedua kelas, serta menguji kevalidannya. Kelima, memeriksa kembali instrumen yang
55Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, 62.