• Tidak ada hasil yang ditemukan

skripsi - Repository Universitas Perintis Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "skripsi - Repository Universitas Perintis Indonesia"

Copied!
82
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

  • Tujuan Umum
  • Tujuan Khusus

Untuk mengetahui perbandingan hasil pemeriksaan glukosa darah menggunakan metode autoanalyzer dan pengujian Point of Care. Untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan yang signifikan pada hasil pemeriksaan glukosa darah menggunakan autoanalyzer dan POCT.

Manfaat Penelitian

  • Bagi Peneliti
  • Bagi Institusi Pendidikan
  • Bagi Instansi Terkait

TINJAUAN PUSTAKA

Glukosa Darah

  • Defenisi Glukosa Darah
  • Manfaat Glukosa Darah
  • Metabolisme Glukosa Darah
  • Faktor yang Mempengaruhi Glukosa Darah
  • Hormon –Hormon yang Berperan dalam Menaikkan dan
  • Faktor yang Mempengaruhi Hasil Glukosa Darah

Setelah diserap usus, glukosa darah akan masuk ke aliran darah menuju hati dan disintesis untuk menghasilkan glikogen, kemudian dioksidasi menjadi CO2 dan H2O atau dilepaskan untuk diangkut oleh aliran darah ke sel-sel tubuh yang membutuhkannya. Kadar gula dalam tubuh dikendalikan oleh hormon yaitu hormon insulin.Jika kadar hormon insulin yang tersedia kurang dari yang diperlukan, maka gula darah akan menumpuk di peredaran darah, sehingga gula darah pun meningkat. Jika kadar gula darah naik hingga melebihi ambang batas ginjal, maka gula darah tersebut akan dikeluarkan melalui urin (glukosuria) (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1999).

Hormon insulin menurunkan kadar gula darah.Glukagon GH, ACTH, glukokortikoid, epinefrin dan hormon tiroid akan meningkatkan kadar gula darah sehingga melawan efek insulin. Kortisol merupakan hormon yang terbentuk di sel korteks adrenal, yang memiliki efek metabolik meningkatkan sintesis glukosa dari asam amino atau asam lemak dan melawan insulin. ACTH merupakan hormon yang terbentuk di sel anterior kelenjar hipofisis, yang mempunyai efek metabolik meningkatkan pelepasan kortisol, meningkatkan pelepasan asam lemak dan jaringan adiposa.

Menunda pemeriksaan akan menurunkan kadar glukosa darah dalam sampel, akibat aktivitas yang dilakukan sel darah. Penyimpanan sampel pada suhu ruangan akan menyebabkan penurunan kadar glukosa darah kurang lebih 1-2% per jam (Sacher, 2004).

Diabetes Melitus

  • Definisi Diabetes Melitus
  • Faktor Penyebab Diabetes Melitus
  • Patofisiologi Diabetes Melitus
  • Diagnosa Diabetes Melitus
  • Metoda Penetapan Kadar Glukosa Darah

Orang yang mengalami obesitas dengan berat badan lebih dari 90 kg memiliki kecenderungan lebih besar terkena DM dibandingkan orang yang tidak mengalami obesitas. Peradangan pada pankreas dapat menyebabkan pankreas tidak berfungsi maksimal dalam mengeluarkan hormon-hormon yang diperlukan untuk metabolisme tubuh, termasuk hormon insulin. Pankreas tidak mampu mensintesis dan mensekresi insulin dalam jumlah dan/atau kualitas yang cukup, bahkan terkadang tidak terjadi sekresi insulin sama sekali.

Pada DM tipe 1, tubuh pasien memproduksi insulin sedikit atau tidak sama sekali, sehingga pasien harus mendapat suntikan insulin setiap hari untuk bertahan hidup. Gambaran klinis khas DM tipe I berupa poliuria, polidipsia, polifagia, dan penurunan berat badan progresif sering terabaikan (Pediatrics, 2002). Kebanyakan orang tidak menyadari bahwa dirinya menderita diabetes melitus tipe II, padahal kondisinya sudah sangat serius.

Diabetes melitus tipe II sudah umum terjadi di Indonesia dan jumlahnya terus meningkat akibat pola hidup tidak sehat, obesitas, dan kurang olah raga (Rikesdas, 2007). Kadar glukosa darah sementara (plasma vena) 200 mg/dl, disertai gejala klinis: poliuria, polidipsia, dan penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas. Cara ini dapat digunakan untuk kadar glukosa darah sampai dengan 300 mg/100 ml, darah dalam larutan natrium sulfat-CuSO4 isotonik dapat bertahan selama 72 jam.

Metode Folin-Wu Glukosa akan mereduksi ion tembaga menjadi senyawa tembaga yang tidak larut, dan penambahan reagen asam fosfomolibdat akan melarutkan senyawa tembaga dan mereduksi ion fosfomolibdenum biru.

Autoanalyzer

  • Prinsip Autoanalyzer
  • Kelebihan dan Kekurangan Autoanalyzer

Meskipun sistem ini memiliki berbagai keterbatasan, sistem ini memberikan cara bagi produsen untuk mengurangi ukuran autoanalyzer (Khopkar, 2002). Efisiensi dan efektifitas waktu untuk melakukan tes inilah yang dibutuhkan oleh situs layanan kesehatan dalam hal ketanggapan dalam melayani pasien. Hasil yang dihasilkan oleh alat autoanalyzer biasanya telah melalui kendali mutu yang dilakukan oleh laboratorium internal.

Pemeriksaan dengan alat autoanalyzer tidak selalu lancar, namun kenyataannya alat ini juga memiliki beberapa kekurangan, seperti menghitung sel abnormal (Witri, 2018).

POCT

  • Prinsip POCT
  • Kelebihan dan Kekurangan POCT
  • Troubleshootng alat Poct

Dalam pengoperasiannya, pelayanan ini dilakukan dekat dengan pasien, namun tanggung jawab dan pengoperasiannya tetap dilakukan oleh petugas laboratorium klinik yang berwenang. Kalibrasi dan pengecekan terhadap peralatan yang digunakan dilakukan oleh petugas laboratorium klinik dengan menggunakan prosedur yang telah ditetapkan dan dibandingkan dengan hasil standar peralatan yang ada di laboratorium klinik (Widagdho, 2013). Pemeriksaan gula darah menggunakan POCT yang terdiri dari alat pengukur gula darah, strip tes gula darah total dan autoclick lancet (jarum sampel).

Glukometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur kadar gula darah total berdasarkan deteksi elektrokimia dengan melapisi enzim glukosa oksidase pada strip membran (Menteri Kesehatan, 2010). Deteksi amperomatik adalah metode deteksi yang menggunakan pengukuran arus listrik yang dihasilkan dalam reaksi elektrokimia. Reaksi ini akan menghasilkan arus listrik yang besarnya sama dengan kadar bahan kimia dalam darah.

Prinsip ini digunakan pada instrumen POCT dengan membaca warna yang terbentuk dari reaksi antara sampel yang mengandung bahan kimia tertentu dengan reagen pada strip uji. Reagen pada strip uji akan menghasilkan warna dengan intensitas tertentu yang berbanding lurus dengan kadar bahan kimia dalam sampel. POCT dengan membaca warna yang terbentuk dari reaksi antara sampel yang mengandung bahan kimia tertentu dengan reagen pada strip uji.

Reagen pada strip uji akan menghasilkan warna dengan intensitas tertentu yang sesuai dengan kadar bahan kimia dalam sampel. Penggunaan sampel darah yang kecil menyebabkan sulitnya mengetahui kualitas sampel sehingga dapat mempengaruhi keakuratan hasil pemeriksaan, misalnya hemolisis, lipemia dan obat-obatan (Widagdho, 2013). Jangan menggunakan tes TIP bekas dan bersihkan lensa dengan kapas, ganti dengan tes TIP baru dan lakukan tes kembali.

Tempatkan meteran di lokasi dengan suhu yang disarankan selama 20 menit, tunggu hingga pesan kesalahan hilang dan uji ulang. Karena sampel darah tidak mencukupi, tes TIP belum menyerap sampel sepenuhnya, tes TIP dilepaskan pada saat proses pengukuran, darah bercampur dengan alkohol atau cairan lain, tes TIP tidak langsung digunakan ketika segel TIP dibuka, tes TIP telah habis masa berlakunya dan hematokrit berada di luar batas yang dianjurkan yaitu 20% - 60%. Cara mengatasinya adalah dengan mengganti tes TIP dengan yang baru, pastikan sampel darah cukup dan jauhkan ujung TIP dari sampel darah setelah berbunyi bip, pastikan jari sampel dalam keadaan kering, Jalankan tes lagi dengan tes TIP baru yang belum kadaluwarsa.

Faktor yang mempengaruhi Pemeriksaan

Presisi dan Akurasi

  • Pengertian Presisi dan Akurasi
  • Faktor yang Mempengaruhi Presisi dan Akurasi

Kerangka Teori

Hipotesa

METODE PENELITIAN

  • Jenis Penelitian
  • Waktu dan Tempat Penelitian
  • Populasi dan Sampel
    • Populasi
    • Sampel
    • Besar Sampel
  • Kriteria Sampel
    • Kriteria Inklusi
    • Kriteria Ekslusi
  • Teknik Pengambilan Sampel
  • Variabel Penelitian
    • Variabel Independen
    • Variabel Dependen
  • Definisi Operasional
  • Bahan dan Alat Penelitian
    • Bahan
    • Alat
  • Pengumpulan, Pengolahan, dan Analisis Data
    • Pengumpulan Data
    • Pengolahan Data
    • Analisis Data
  • Prosedur Penelitian
    • Persiapan Pemeriksaan
    • Pengambilan Sampel
  • Prosedur Pemeriksaan
    • Metoda Autoanalyzer
    • Metoda POCT
  • Kerangka Operasional

Bahan yang digunakan untuk penelitian adalah: sampel darah vena, reagen enzim (glukosa oksidase), strip pengukur glukosa darah. Data hasil pemeriksaan glukosa darah dikumpulkan oleh peneliti sendiri, diperoleh dengan mengambil darah vena pasien diabetes. Untuk memperoleh hasil glukosa darah menggunakan metode autoanalyzer dan POCT yang dilakukan di laboratorium patologi klinik RSUD M.

Analisis univariat dilakukan untuk melihat distribusi frekuensi masing-masing variabel yaitu hasil glukosa darah pada metode autoanalyzer dan POCT. Untuk melihat perbandingan antara hasil pemeriksaan glukosa darah menggunakan autoanalyzer dan POCT, dilakukan analisis menggunakan uji statistik berpasangan sampel t-test (dependen). Sampel dalam penelitian ini adalah pasien yang diperiksa gula darahnya selama berada di laboratorium kesehatan RSUD M.

Terdapat perbedaan yang signifikan antara kadar glukosa darah kelompok normal dan kadar glukosa darah kelompok tinggi dengan menggunakan metode POCT dan metode autoanalyzer. Pada penelitian yang membandingkan hasil pemeriksaan glukosa darah sesaat menggunakan metode autoanalyzer dan point-of-care test di RSUD M.Natsir terhadap 60 sampel menunjukkan bahwa jenis kelamin tertinggi adalah laki-laki dengan persentase 34 orang dan perempuan dengan persentase 34 orang. persentase 26 orang dengan persentase sebesar (43,33. Jadi Ha diterima dan Ho ditolak, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kadar glukosa darah pada kelompok metode POCT manual dengan metode autoanalyzer otomatis.

Perbandingan hasil pemeriksaan glukosa darah menggunakan metode autoanalyzer dan point of care test di RSUD M. Terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil pemeriksaan glukosa darah menggunakan metode autoanalyzer dan point of care test. Deskripsi Kadar Glukosa Darah Pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Andalas yang Kelebihan Berat Badan dan Obesitas, Vol.5, No.3.

Perbandingan hasil glukosa darah menggunakan metode Glucose Oxidase Para Amino Peroxidase (GOD-PAP) dengan metode Strip di rumah sakit. Perbedaan kadar glukosa darah menggunakan metode Point of Care Test (POCT) dan metode fotometer pada sampel serum di wilayah kerja Puskesmas Jaraweh, Vol.5, No.1, hal.40-44. Perbandingan hasil penelitian kadar glukosa darah menggunakan glukometer dan spektrofotometer pada penderita diabetes melitus di klinik nirlaba Bandung, tesis PhD, Fakultas Kedokteran, Universitas Kristen Maranatha.

HASIL PENELITIAN

Hasil Penelitian

  • Karakteristik Dasar Subjek Penelitian

Perbandingan hasil pemeriksaan glukosa darah sementara menggunakan metode autoanalyzer dan point of care test di RSUD M.

Perbedaan Kadar Glukosa Darah Berdasarkan Alat

Faktor lain yang mempengaruhi pemeriksaan glukosa darah antara lain pengaruh: oksigen, parasetamol, asam askorbat, bilirubin, hematokrit dan tekanan darah rendah (Astuti, G. 2012). Kandungannya: maltosa, galaktosa dan silose menyebabkan hasil pengukuran glukometer menggunakan metode glucodehydrogenase (GDH)-pyrrolquinoline quinone (PQQ) menghasilkan nilai glukosa tinggi palsu. Hasil tes hiperglikemia yang salah dapat menyebabkan kesalahan pengobatan, pada metode glukosa oksidase pengaruh oksigen dan parasetamol menyebabkan pembacaan yang salah dengan nilai glukosa yang tinggi.

Penelitian terdahulu (Mariady Fenny, dkk, 2014) membandingkan kadar glukosa darah saat menggunakan glukometer dan autoanalyzer pada pasien diabetes melitus di klinik nirlaba bandung, dengan p value <0,05, terdapat hubungan antara pemeriksaan autoanalyzer dan glukometer. Sedangkan metode POCT mempunyai keunggulan yaitu hasil pemeriksaan dapat segera diketahui, hanya memerlukan sampel yang sedikit, tidak memerlukan reagen khusus, praktis dan mudah digunakan sehingga siapa pun dapat melakukannya tanpa perlu alat khusus. Bagi peneliti selanjutnya agar dapat melakukan penelitian tentang perbandingan hasil glukosa darah dengan memperhatikan faktor-faktor yang dapat meningkatkan dan menurunkan kadar glukosa darah.

Apabila hasilnya kurang dari 5% maka tingkat keakuratannya dinyatakan baik sehingga hasil untuk pengendalian kadar glukosa masih dapat diterima.

Tabel  4.2.  Perbandingan  Kadar  Glukosa  Darah  Berdasarkan  Alat  Autoanalizer dan POCT
Tabel 4.2. Perbandingan Kadar Glukosa Darah Berdasarkan Alat Autoanalizer dan POCT

PEMBAHASAN

Pembahasan

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Saran

Kerangka Teori

Defenisi Operasional

Kerangka Operasional

Karakteristik dasar subjek penelitian

Data Hasil Penelitian

Analisa Data

Quality Control Glukosa Darah

Presisi Kadar Glukosa Darah

Dokumentasi Penelitian

Gambar Alat

Surat Permohonan Izin Penelitian Dari Kampus Untuk Diklat

Surat Balasan Permohonan Izin Penelitian

Surat Keterangan Telah Selesai Melakukan Penelitian

Gambar

Tabel  4.2.  Perbandingan  Kadar  Glukosa  Darah  Berdasarkan  Alat  Autoanalizer dan POCT
Lampiran 6. Gambar Alat  a.  Alat autoanalyzer

Referensi

Dokumen terkait

6.2 Saran 1 Flakes tepung kecambah kacang hijau direkomendasikan untuk Ibu hamil KEK karena mengandung kandungan protein yang cukup tinggi jika dilakukan dengan penambahan bukan

42 5.2 Analisa Bivariat 5.2.1 Hubungan Kadar Kalsium dan Jumlah Retikulosit Pada Anemia Aplastik Berdasarkan hasi penelitaian yang dilakukan di RSUP M.Djamil Padang terhadap 30

Selama pemanasan,uap terkondensasidan destilatterpisah sebagai2 bagian yang tidak saling bercampur ditampung dalam wadah yang terhubung dengan kondensor.Kerugian darikedua metode

Dari hasil penelitian dapat dilihat semua kelompok perlakuan yang diberi ekstrak daun mangga dengan dosis 15 mg/kgBB, 30 mg/kgBB, dan 60 mg/KgBB dengan perubahan tekanan darah sistol

Pada kelompok III Salep ekstrak etanol daun kirinyuh 15% memperlihatkan sel epitelisasi yang lebih baik dari kelompok kontrol A, serabut kolagen yang lebih padat dibandingkan kontrol

Sampel yang telah terpapar Pb diberi perlakuan perendaman dan perebusan dengan asam asam cuka dan jeruk nipis, sampel didestruksi basah, dan dilakukan uji kuantitatif dengan menggunakan

Skema Kerja Pembuatan Sediaan Kapsul Belut Tepung Belut dan Bahan Tambahan F2 Yang terdiri dari : Tepung Belut ekstrak belimbing wuluh Avicel PH 102 Mucilago amili F3 Yang

5.1.2 Aroma Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa tidak ada pengaruh perbedaan tingkat kesukaan panelis terhadap aroma bakso yang paling disukai panelis adalah yang