LK 1. 2 Eksplorasi Penyebab Masalah
Nama Mahasiswa : RUDIANSYAH.S.Pd.SD Asal Institusi : SD NEGERI 19 KUBU
Tabel Hasil Eksplorasi Penyebab Masalah No
Masalah yang telah diidentifikasi
Hasil eksplorasi penyebab masalah
Analisis eksplorasi penyebab masalah
1
1. 1.Motivasi peserta didik kurang dalam mengikuti
pembelajaran
Penyebabnya :
1. Metode yang di gunakan guru selalu monoton.
Hasil Kajian Leteratur
Pembelajaran yang monoton berarti pembelajaran yang dilakukan begitu saja tanpa adanya hal yang berbeda dari cara penyampaian materinya. Pembelajaran monoton juga merupakan pembelajaran yang membuat siswa menjadi tidak aktif dan merasa jenuh ketika proses pembelajaran berlangsung sehingga membuat proses pembelajaran tidak baik.
Pembelajaran monoton juga, tentunya menjadi suatu permasalahan yang ada di dalam dunia pendidikan khususnya. Dan disini guru harus bisa mengatasi permasalahan ini, yaitu dengan cara menggunakan beberapa macam metode pembelajaran yang dapat membuat siswa menjadi lebih bersemangat dan aktif di dalam kelas.
Sumber :
Pembelajaran Yang Monotonhttps://putrisyafiiladaffafauzany.wordpress.com/2018 /09/25/pembelajaran-yang-monoton/
2. Guru belum menggunakan media Belajar yang Mendukung.
Hasil Kajian Literaturnya
Menurut Lounard Syaulan Sahelatua dkk
Guru yang belum menggunakan media belajar karena memiliki kendala
1. kurangnya pengetahuan guru tentang media IT.
2. Arus listrik dan wifi di sekolah tidak normal.
3. tidak adanya kewajiban dari pihak sekolah agar guru mengajar menggunakan IT
Sumber dari :
https://jim.usk.ac.id/pgsd/article/viewFile/8579/360 1
3. Guru Tidak melibatkan Peserta didik secara aktif . Hasil Kajian Literaturnya
Berdasakan hasil kajian literatur dan wawancara dapat di simpulkan bahwa penyebab motivasi peserta didik kurang dalam
mengikuti pembelajaran adalah :
1.Metode yang di gunakan monoton.
2.Suasana belajar tidak kondusif
3. Guru belum menggunakan media yang menarik.
1.2.Peserta didik tidak memperhatikan gurunya
Menurut Risanatul Risanatu dkk
Penyebab peserta didik tidak berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti faktor eksternal, hubungan guru dengan peserta didik kurangnya kebiasaan guru memberikan pujian terhadap peserta didik, terlalu sering memberikan hukuman, ataupun teguran yang tepat terhadap peserta didik, peserta didik yang tidak menunjukkan ketertarikannya pada media belajar yang digunakan guru saat proses pembelajaran, serta metode yang digunakan kurang menyenangkan dan kurang menarik.
Sumber : Penyebab Peserta Didik Tidak Berpartisipasi Aktif dalam Pembelajaran Sosiologi di Kelas XI IPS 1 SMAN 4 Merangin Jambi
file:///C:/Users/ACER/Downloads/74- Article%20Text-554-1-10-20220922.pdf
Penyebabnya
1. Guru menyampaikan materi tidak menarik Hasil kajian literaturnya
Menurut Penulis : M. Noor (Pengawas Madrasah Batola)
Berikut 14 macam kelemahan maupun kesalahan yang sering ditemui oleh guru dalam pembelajaran di kelas antara lain adalah:
1. Dalam mengajar guru belum menyiapkan, membuat sendiri RPP alias perangkat pembelajarannya. Sebelum mengajar sebaiknya seorang guru telah mempersiapkan bahan ajarnya dan merupakan hasil karyanya sendiri, sehingga ia tahu apa yang akan diberikan kepada siswa.
2. Seringkali dalam mengajar tidak membawa media alat pembelajaran di kelas. Solusinya persiapkan media yang berhubungan dengan materi pembelajaran, biasanya dilakukan pada awal tahun ajaran baru. Media dapat diambil dari bahan-bahan bekas atau yang ada di sekitar lingkungan sekolah, atau rumah siswa.
3.Guru jarang membawa siswa ke dunia nyata anak. Hanya menjelaskan dan menjabarkan teori. Solusinya sering-seringlah membawa siswa melihat langsung objek pembelajaran yang sedang dipelajari agar dapat merasakan kejadian-kejadian penting, hal-hal penting dalam
kehidupan mereka. Sehingga mereka selalu belajar dari lingkungan sekitar mereka.
4. Guru jarang menggunakan metode mengajar yang menyenangkan. Solusinya kuasailah berbagai macam metode-metode dalam mengajar seperti : Contextual Teaching Learning, Quantum Teaching, Inquiry, project based learning dan lain-lain.
5. Guru Jarang memadukan proses pembelajaran dengan pelajaran lain, apalagi yang menggunakan kurikulum 2006 (KTSP).
Solusinya adalah gunakan metode pembelajaran yang menggunakan keterpaduan dan asah kemampuan untuk menghubung-hubungkan pelajaran dengan pelajaran lain(Tematik).
Sehingga manfaatnya dapat menambah wawasan dan ilmu anak secara optimal.
6. Dalam mengajar jarang menanamkan unsur- unsur nilai, norma, etika kepada para siswa.
Solusinya cobalah menggunakan pola pembelajaran holistik, yakni menerapkan pembelajaran secara menyeluruh dan terpadu kepada peserta didik dengan memasukkan unsur-unsur nilai spiritual dan emosional anak sehingga anak tumbuh menjadi manusia yang terampil, terdidik dan berkarakter.
7. Guru kurang memperhatikan kemampuan serta gaya belajar siswa. Solusinya Guru sebaiknya mampu mengelompokkan siswa sesuai dengan kemampuannya, misalnya; posisi tempat duduk disesuaikan sedemikian rupa agar siswa nyaman. Pembagian kelompok kerja bagi siswa, lebih mengarah kepada pengembangan potensi siswa. Siswa yang terampil duduk di sebelah siswa yang pasif. Atau siswa yang suka bercerita diletakkan di sebelah siswa yang pendiam.
8. Penggunaan sarana dan prasarana yang kurang tepat. Misalnya meja, kursi yang berat diberikan kepada siswa SD. Hal ini mempersulit guru dalam menerapkan metode belajar yang baik. Solusinya guru harus kreatif menyiasati hal ini, membawa siswa keluar ruangan agar siswa tidak jenuh berada di dalam kelas.
9. Guru tidak menetapkan rules yang jelas dalam proses pembelajaran. Sehingga suasana kelas menjadi kurang kondusif. Solusinya segera tentukan suatu rules dalam mengajar akan lebih dapat mengarahkan siswa, sehingga siswa ikut belajar untuk disiplin, komitmen dan bertanggung jawab terhadap proses pembejaran di kelas.
10. Guru tidak melakukan evaluasi. Setiap proses selalu harus diberi evaluasi, agar guru dapat mengetahui sejauh mana siswa mampu menyerap materi, nilai-nilai maupun norma-
norma sehingga siswa tidak hanya pandai tetapi juga berkarakter. Susun jadwal kapan evaluasi akan dilakukan, sehingga proses pencapaian siswa dapat terukur dengan jelas.
11. Guru jarang membaca buku dan referensi- referensi lain. Menyusun jadwal rutin berapa buku yang harus dibaca dalam 1 hari, 1 minggu untuk menambah wawasan adalah solusi yang tepat.
12. Guru jarang melakukan PTK penelitian dan menulis sebuah artikel atau karya tulis lainnya.
Solusinya guru harus lebih banyak mengamati, menganalisa dan mengamati kejadian-kejadian di sekitarnya serta rajin mencari solusi dari setiap permasalahan yang ada dan belajar untuk menuangkannya dalam suatu hasil karya tulis.
13. Guru jarang berkomunikasi dengan siswa secara lebih dekat. Berkunjung ke rumah siswa yang sedang membutuhkan perhatian terutama kepada siswa yang bermasalah di sekolah,barangkali perlu diterapkan sehingga terjalin komunikasi terbuka antara guru dengan siswanya, sehingga guru bisa memahami karakteristik siswa dan siswapun mau terbuka kepada gurunya.
14. Motivasi,memotivasi anak jarang juga dilakukan oleh para guru saat mengakhiri proses pembelajaran, padahal motivasi ini adalah suatu dorongan positif untuk memberikan kekuatn terhadap seseorang, misalnya guru memberikan motivasi kepada siswa didiknya untuk belajar lebih giat lagi dalam persiapan menghadapai UN.Memberikan semangat belajar kepada siswa,salah satu cara untuk menuju kesukasesan terus belajar dari sekolah,pengalaman maupun kehidupan , dengan belajar sesorang dapat mengembangakan kemampuan dirinya lebih baik,serta menguasai ahli dalam satu bidang.
Belajar dapat menjadi jembatan menuju kesusksesan, masih ada banyak orang yang malas untuk belajar. Alasannya adalah seorang sesorang harus mengorbankan waktu, pikiran, focus, hingga uang untuk mencapai kesuksesam belajar.Belajar lah seolah engkau hidup selamanya “(Mahatma gandhi).
Sumber 14 Macam Kelemahan Maupun Kesalahan Guru Saat Mengajar di Kelas https://kalsel.kemenag.go.id/opini/733/14-
Macam-Kelemahan-Maupun-Kesa
1.3 Peserta didik tidak memiliki sikap percaya diri
2. Guru tidak bisa meningkatkan tingkat perhatian peserta didik.
Hasil Kajian lietraturnya :
Menurut Miftahur Reza Irachmat
bahwa penggunaan permainan icebreaking dapat meningkatkan perhatian siswa kelas.
Adapun langkah-langkah yang dilakukan sebagai berikut: pertama, guru bersama peneliti menyusun RPP yang akan digunakan dalam proses pembelajaran. Kedua, memilih jenis permainan icebreaking yang akan digunakan pada kegiatan belajar mengajar seperti menggunakan jenis permainan icebreaking tepuk tangan, lagu, yel-yel, gerak badan, dan audio visual.
Sumber : PENINGKATAN PERHATIAN SISWA PADA PROSES PEMBELAJARAN KELAS III MELALUI PERMAINAN ICEBREAKING DI SDN GEMBONGAN https://journal.student.uny.ac.id/index.php/pgsd/arti cle/viewFile/425/390
Penyebabnya :
‘1. Peserta didik tidak memiliki sikap percaya diri karena tidak yakin dengan kemampuan diri.
Hasil Kajian Literaturnya Menurut Vivin Musriani
Bahwa faktor-faktor percaya diri dapat dipengaruhi oleh beberapa hal diantaranya konsep diri, harga diri, pengalaman, dan pendidikan. Hal ini tentunya akan sangat berperan dalam menentukan tingkat kepercayaan diri yang dimiliki oleh setiap siswa.
Percaya diri berasal dari tekad pada diri sendiri untuk melakukan segala sesuatu yang dibutuhkan dan diinginkan dalam hidup. Rasa percaya diri juga bisa berbentuk tekad yang kuat untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Percaya diri akan menimbulkan rasa aman, dua hal ini akan tampak pada sikap dan tingkah laku siswa yang terlihat tenang, tidak mudah bimbang atau ragu-ragu, tidak mudah gugup, dan tegas.
Sumber : PENYEBAB PERILAKU KURANG PERCAYA DIRI SAAT PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA SISWA KELAS VII SMP MUHAMMADIYAH 4 TANGGUL
http://repository.unmuhjember.ac.id/6862/11/k.%20A rtikel%20.pdf
2
2.1 Peserta didik tidak mampu dalam menyelesaikan perkalian bilangan ratusan
2.2 Peserta didik tidak
mampu dalam
menyelesaikan soal garis bilangan pada soal cerita
Penyebabnya :
2.2.1 Kemampuan siswa dalam menyelesaikan perkalian bilangan ratusan masih kurang karena siswa masih lemah dan banyak salah dalam mengerjakan soal perkalian bilangan ratusan.
Hasil Kajian Literatur
Menurut Damayanti, F., Febriana, D., Sari, R.
D., Wardani, H. Y., & Darmadi, D. (2021).
Analisis Kesalahan Siswa dalam Operasi Hitung Perkalian Bersusun di SD Muhamadiyah 1 Paron.
faktor penyebab siswa kesulitan menjawab soal diantaranya: (1) kurangnya pemahaman konseptual terhadap operasi hitung perkalian bersusun. (2) kurangnya pengerjaan secara prosedural dalam mengoperasikan perkalian. (3) kurang teliti dalam mengoperasikan operasi hitungnya
tipe-tipe kesalahan operasi hitung perkalian bersusun ratusan diantaranya:
(1) kesalahan pada struktur pola menghitung, (2) sebagaian siswa tidak hafal perkalian.
Sumber :
Analisis Kesulitan Belajar Operasi Hitung Perkalian Bersusun Siswa Kelas IV SD Negeri Sampangan 02 Kota Semarang
file:///C:/Users/ACER/Downloads/2369- Article%20Text-16693-1-10-20230701.pdf
Penyebabnya :
2.1. Peserta didik tidak mampu dalam menyelesaikan soal garis bilangan karena tidak memahimi arah bilangan positif dan negative pada soal cerita Hasil Kajian Literatur :
Menurut MUH. YAMIN
Kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal cerita Matematika adalah:
a. Siswa mengalami kesulitan dalam menentukan rumus aljabar dan perbandingan yang tepat.
b. Siswa mengalami kesulitan dalam hal langkah- langkah penyelesaiannya soal aljabar dan perbandingan.
c. Siswa mengalami kesulitan memahami makna dari soal cerita aljabar dan perbandingan.
(
Berdasakan hasil kajian literatur dan wawancara dapat di simpulkan bahwa penyebab Peserta didik tidak mampu dalam menyelesaikan perkalian bilangan ratusan yaitu 1) peserta didik tidak fokus
dalam mengerjakan tugas,
(2) tidak memahami adanya proses penjumlahan pada materi perkalian.
(3) kesulitan dalam menghafal perkalian, 4.kesulitan untuk
menghitung perkalian (5) kesulitan untuk
menduplikasi konsep perkalian,
(6) mencontek pada saat mengerjakan soal perkalian,
(7) tidak dapat menyelesaikan tugas sesuai waktu yang telah ditentukan.
2.3Kemampuan dalam menentukan pola bilangan peserta didik masih rendah
d. Kesulitan menentukan apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan pada soal aljabar dan perbandingan.
e. Sering kali siswa tidak menarik kesimpulan. 2.
Faktor penyebab kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal cerita.
Sumber :
DESKRIPSI KESULITAN MENYELESAIKAN SOAL CERITA MATEMATIKA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 1 TELLUSIATTINGE KABUPATEN BONE http://eprints.unm.ac.id/14044/1/SKRIPSI%20M UH%20YAMIN.pdf
Penyebabnya
2.3 Kemampuan dalam menentukan pola bilangan peserta didik masih rendah karena tidak memahami materi pembelaran pola bilangan Menurut Tessy Prima Putri dkk
A. Jenis kesalahan berdasarkan kemampuan akademik 1. Jenis kesalahan dilakukan siswa kemampuan akademik tinggi yaitu kesalahan konsep dan kesalahan prinsip.
2. Jenis kesalahan siswa kemampuan akademik sedang yaitu kesalahan fakta, kesalahan konsep dan kesalahan prinsip
3. Jenis kesalahan siswa kemampuan akademik rendah yaitu kesalahan fakta, kesalahan konsep, kesalahan prinsip, dan kesalahan operasi.
B. Faktor penyebab siswa melakukan kesalahan dilihat dari faktor kognitif:
1. Faktor penyebab siswa melakukan kesalahan fakta yaitu siswa tidak paham dengan maksud soal yang diberikan
2. Faktor penyebab siswa melakukan kesalahan konsep yaitu siswa lupa menuliskan apa yang diketahui dan ditanyakan dari soal, siswa tidak memahami konsep materi pola bilangan dan siswa tidak paham dengan rumus yang akan digunakan untuk menyelesaikan soal,
3. Faktor penyebab siswa melakukan kesalahan prinsip yaitu siswa mempersingkat jawaban penyelesaian soal,
4. Faktor penyebab siswa melakukan kesalahan operasi yaitu siswa kurang teliti karena terburu-buru dalam melakukan operasi penyelesaian soal.
Sumber : ANALISIS KESALAHAN SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL MATEMATIKA MATERI POLA BILANGAN DI SMP PERTIWI 2 PADANG
http://econference.upgrisba.ac.id/index.php/matemati ka/itpmkeb/paper/viewFile/968/340
3
3.1 Sebagian besar peserta didik tidak bisa membaca dengan lancar
Penyebabnya :
Sebagian besar peserta didik tidak bisa membaca dengan lancer di karenakan pada tahap awal di kelas satu peserta didik tidak di ajarkan membaca dengan rutin.
Hasil Literatur
1. Djamarah(2002:201) mengelompokkannya ke dalam dua kategori, yaitu: faktor intern dan faktor ekstern.
Faktor intern meliputi :
a. kognitif (ranah cipta), seperti: rendahnya kapasitas intelektual/ inteligensi siswa,
b. afektif (ranah rasa), seperti: labilnya emosi dan sikap, dan
c. psikomotor (ranah karsa), seperti:
terganggunya alat-alat indra penglihatan dan pendengaran (mata dan telinga)
Faktor Ekstern meliputi
a. lingkungan keluarga, contohnya:
ketidakharmonisan hubungan antara ayah dengan ibu, dan rendahnya tingkat kehidupan ekonomi keluarga.
b. lingkungan perkampungan/masyarakat, contohnya:
wilayah perkampungan kumuh (slum area) dan teman sepermainan (peer group) yang nakal.
c. lingkungan sekolah, contohnya: kondisi dan letak gedung sekolah yang buruk, seperti dekat pasar, kondisi guru serta alat-alat belajar yang berkualitas randah.
Kurangnya lancar membaca secara khusus dikatakan Abdurahman (1999:206) akan menjadi faktor penghambat dalam kegiatan membaca. Hal ini disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut:
1. Siswa kurang mengenal huruf, bunyi bahasa (fonetik), dan bentuk kalimat.
2. Siswa tidak memahami makna kata yang dibacanya
3. Adanya perbedaan dialek siswa dengan pengucapan bahasa Indonesia yang baku.
4. Siswa terlalu cepat membaca karena kemungkinan perasaannya tertekan.
5. Siswa bingung meletakkan posisi kata.
6. Siswa bingung dengan membaca huruf yang bunyinya sama, seperti: bunyi huruf /b/ dengan /p/
7. Siswa kurang mengerti tentang arti tanda baca, maka tanda baca tidak perlu diperhatikannya.
8. Terjadinya keragu-raguan dalam membaca
https://tarmizi.wordpress.com/2008/12/02/penyeba b-siswa-kurang-lancar-membaca/
Berdasarkan hasil kajian Literatur dan wawancara dapat di simpulkan bahwa anak tidak lancer membaca karena :
1) kurangnya minat peserta didik dalam belajar
2) keadaan lingkungan keluarga peserta didik yang tidak mendukun dalam belajar khususnya belajar membaca
3) Siswa lebih suka bermain HP
4) Kurang perhatian orang tua
3.2. Kemampuan menyimak peserta didik rendah
Penyebab :
Guru hanya menjelaskan dengan metode ceramah Hasial Kajian Literatur
Menurut Yulianah Prihatin
Keterampilan menyimak merupakan pemerolehan yang natural sebelum menguasai berbicara dan keterampilan berbahasa yang lainnya. Menyimak merupakan keterampilan pertama yang diperoleh dan dikuasai manusia serta penentu dalam pengembangan bahasa pertama seseorang. Dalam kenyataanya, keterampilan menyimak masih memeroleh dan menghadapi hambatan dalam pengajarannya di sekolah maupun dalam praktiknya sebagai media komunikasi di lingkungan sosial.
Problematika keterampilan menyimak yang sering terjadi diantaranya permasalahan tes kompetensi menyimak, permasalahan gagap teknologi dan ketersediaan media yang dialami guru, permasalahan proses pembelajaran yang konvensional, dan permasalahan penugasan otentik.
Semua permasalahan pembelajaran keterampilan menyimak di sekolah dan rendahnya kemampuan menyimak dalam proses komunikasi dapat diatasi dengan beberapa solusi. Solusi-solusi tersebut membutuhkan kerjasama dan kreativitas guru, siswa, pemerintah dan semua pihak untuk menjalankannya.
Sumber Problematika Keterampilan Menyimak Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia
https://core.ac.uk/download/pdf/267901046.pdf
4.1 Peserta didik
bosan dalam menerima materi pelajaran
Penyebab:
Guru kurang menarik dan kurang bervariasi Hasil Kajian Literatur
1.Menurut Setyani, Mutia Rahma (2018:23), ada beberapa penyebab yang menimbulkan hilangnya tingkat konsentrasi siswa antara lain jenis mata pelajaran, pemilihan metode mengajar yang kurang tepat, pengajaran bersifat klasikal dan kurang mampu merangsang siswa untuk berpartisipasi aktif dalam belajar, suasana kelas yang panas, menahan lapar dan kantuk, dan beberapa hal lain yang disebabkan dari masing-masing diri individu siswa.
Sumber :
Analisis Tingkat Konsentrasi Belajar Siswa Dalam Proses Pembelajaran Matematika Ditinjau dari Hasil Belajar
(https://ecampus- fip.umj.ac.id/h/umj/Tq2sRO3Uj4 LsZXKPL5O6gw.pdf)
Berdasarkan hasil kajian leteratul dan wawancara dapat di simpulkan bahwa : 1.Kegiatan belajar yang
monoton.
2.Lingkungan belajar yang tidak kondusif
3.Kelelahan / keletihan yang berlebihan
4.Kurang motivasi belajar.
5.Sarana pembelajaran tidak memadai
4.2 Daya Serap Peserta Didik Rendah
4.3 Suasana belajar yang tidak kondusif
Penyebabnya :
Kurangnya kemampuan guru dalam pengelolaan kelas
Hasil kajian literatur
bahwa daya serap siswa dipengaruhi oleh faktor sekolah dengan jumlah 8 pernyataan yaitu kemampuan guru dalam menguasai materi, kemampuan guru di dalam pengelolaan kelas, metode mengajar guru yang disenangi siswa, kondisi gedung sekolah dan ruang kelas, relasi siswa, guru yang bersahabat, alat belajar dan pembelajaran, penyediaan media belajar
Sumber Analisis Faktor-Faktor Penyebab Rendahnya Daya Serap Siswa pada Pelajaran Akuntans
file:///C:/Users/ACER/Downloads/admin,+5+ELI SA+HARYANI+(1).pdf
Penyebabnya
Guru kurang bisa membuat suasana pembelajaran menjadi lebih menyenangkan.
Hasil kajian literaturnya
Beberapa hal yang biasanya bisa menyebabkan suasana kelas menjadi kurang kondusif adalah siswa bosan dengan materi pelajaran yang disampaikan guru, mata pelajaran yang disampaikan guru cukup sulit dipahami siswa, dan guru kurang bisa membuat suasana belajar menjadi lebih menyenangkan.
Selain itu, suasana kelas yang tidak kondusif juga biasanya bisa dipicu oleh adanya distraksi atau gangguan dari dalam maupun luar kelas.
Sumber 7 Tips Menciptakan Suasana Kelas yang Kondusif dan Menyenangkan
https://www.pijar.info/blog/7-tips-menciptakan- suasana-kelas-yang-kondusif-dan-menyenangkan
5
5.1 Belum optimalnya komunikasi orang tua dengan guru.
Penyebab :
Guru menjadi tidak mudah menyatukan persepsi tentang hal yang dibutuhkan anak dalam pembelajaran Hasil kajian literatur
1. Menurut Pusitaningtyas, Anis. (2016),Orang tua merupakan mitra kerja yang utama bagi guru dalam pendidikan anak. Komunikasi yang efektif antara orang tua dan guru dibutuhkan dalam rangka menyamakan persepsi kedua belah pihak tentang hal yang dibutuhkan dalam pendidikan anak. Keduanya harus saling membantu dan mengetahui bagaimana upaya penanganan
Berdasarkan hasil kajian literatur dan wawancara dapat disimpulkan bahwa belum optimalnya
komunikasi orang tua dengan guru dikarenakan 1. Orang tua berpendapat
semua pembelajaran diserahkan ke guru agar anaknya pintar.
2. Orang tua cuek dan tidak mau tau perkembangan pendidikan anaknya
pembinaan anak di sekolah, keterlibatan peserta didik dalam proses belajar mengajar, pola interaksi dan komunikasi selama di sekolah dan masalah yang ditemukan di sekolah. Begitu juga sebaliknya, pihak sekolah mengetahui apa dan bagaimana yang terjadi di rumah terutama terkait
dengan kegiatan bermain anak di luar rumah, aktivitas belajar di rumah, interaksi dengan sesama anggota keluarga dan problem yang muncul selama berada di rumah.
Sumber:
Pusitaningtyas, Anis. 2016. Pengaruh komunikasi Orang tua dan guru terhadap kreativitas Siswa.
Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.
(https://icecrs.umsida.ac.id/index .php/icecrs/article/view/1282)
2.Berdasarkan temuan penelitian oleh Dewi Purnama Sari, dkk (2022). Faktor penghambat komunikasi antar guru dan orangtua siswa yaitu:
d. Orang tua tidak serta merta di rumah atau siap dipanggil karena orang tua mayoritas sibuk bekerja.
e. Orangtua mengatakan jika anak mereka lebih percaya dan mendengar nasehat gurunya dibandingkan orang tuanya. Mereka kesulitan untuk meninggalkan pekerjaannya untuk memenuhi undangan dari sekolah.
f. Beberapa orangtua yang cuek dan tidak mau tau dengan perkembangan pendidikan anaknya. Mereka sepenuhnya menyerahkan pendidikan anaknya pada guru di sekolah.
Sumber:
Sari, Dewi Purnama, dkk. 2022. Kolaborasi Guru Dan Orang Tua Dalam Mengatasi Kesulitan
Belajar Siswa Di SDN 23 Ampenan. Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jurusan Ilmu Pendidika FKIP Universitas Mataram.
(http://ejournal.mandalanursa.or
g/index.php/JIME/article/view/2 678/2143)
‘3. Menurut Nur Rahmah Pratiwi bahwa Belum optimalnya komunikasi orang tua dengan guru bahwa Apabila terjalin kerjasama yang baik antara Orang Tua di rumah serta Guru yang mengajar di Sekolah dalam bersama mendidik anak-anak, diharapkan dapat menghadirkan seorang anak didik yang berpotensi bukan hanya dalam bidang akademik namun dalam pergaulan sosial yang baik, percaya diri dalam mengerjakan setiap yang mereka kerjakan serta memiliki akhlak yang baik juga.
Seorang siswa tidak hanya membutuhkan peran serta seorang Guru dalam meningkatkan prestasi belajarnya. Seorang Guru hanya dapat memberikan pengajarannya atau wewenangnya sebagai Guru dalam lingkungan sekolah namun jika seorang siswa sudah berada di luar lingkungan
3. Orang tua terlalu sibuk bekerja sehingga terkesan urusan pendidikan
tanggung jawab guru di sekolah
4. Orang tua segan dengan guru 5. Kurangnya kegiatan-
kegiatan yang melibatkan orang tua di sekolah
5.2. Tidak terjalin komunikasi yang baik antara guru dan murid mengenai materi yang di ajarkan
5.3 Peserta didik merasa tidak di hargai usaha dan pencapainnya.
sekolah peran Orang Tua atau Wali merekalah yang berperan penting dalam mendidik mereka.
Namun pada beberapa peristiwa Orang Tua siswa melepaskan tanggung jawab mereka dalam mendidik anak-anaknya dan melimpahkan segala tanggung jawabnya kepada Guru yang mengajar anak mereka pada saat di Sekolah
Sumber :
Kurangnya Kerjasama antara Orang Tua dan Guru dalam Mendidik Anak.
http://tipsanak.com/1018/kurangnya-perhatian- orang-tua-terhadap-anak/
Penyebab :
Guru yang mudah emosi Hasil kajian literaturnya
Guru yang mudah emosi justru akan membuat komunikasi dalam proses pembelajaran semakin sulit diaplikasikan. Bahkan ketika guru melakukan kekerasan pada murid, maka komunikasi kemungkinan besar akan terhenti begitu saja karena munculnya ketakutan pada murid.
Al Masoem sendiri sekolah yang tidak akan pernah ada hukuman fisik kepada siswa, maka dari itu keprofesionalitasan guru sangat dijunjung tinggi.
Karena itu juga penghasilan guru Al Masoem jauh lebih tinggi daripada sekolah lain, apalagi guru yang berhasil mengontrol emosi, kreatif, bisa memberikan contoh dan edukasi positif serta berprestasi dan bisa memberikan pembelajaran yang terbaik kepada siswa dan santrinya akan kami apresiasi penuh.
Sumber
Hambatan Komunikasi Antara Guru dan Siswa dalam Proses Pembelajaran
• 16/03/2022
• ARTIKEL
https://almasoem.sch.id/hambatan-komunikasi- antara-guru-dan-siswa-dalam-proses-pembelajaran/
Penyebabnya
Guru tidak peran utama untuk memberikan informasi sebagai fasilitator
Hasil kajian literaturnya :
Faktor – faktor yang menghambat guru menjalakan perannya sebagai fasilitator yaitu 1) koneksi internet
yang kurang bagus di daerah tertentu; 2) banyak siswa yang tidak memiliki handphone pribadi; 3) orang tua terbatas dalam membeli kuota data yang penggunaan lebih dari biasanya. Saran untuk peneliti selanjutnya, penelitian yang dilakukan dapat dikembangkan untuk peran guru yang lainnya, misalnya sebagai motivator, kreator, inovator, dan sebagainya.
Sumber PERAN GURU IPA SMP SEBAGAI FASILITATOR DALAM KEGIATAN BELAJAR DARI RUMAH
file:///C:/Users/ACER/Downloads/kompyang250689, +02+Siti+Shofia+112-117.pdf
6
6.1.Kurangnya tingkat kedisiplinan peserta didik di dalam kelas
Penyebab :
Guru tidak memberikan conoh kedisiplinan kelas yang baik
Hasil Kajian literatur
1. Menurut Mahasti Windha Wardhani, PGSD/PSD bahwa yang menyebabkan tingkat kedisiplinan peserta didik rendah adalah
1) Guru: guru sebagai teladan suka datang terlambat,
2) Siswa: kurangnya kesadaran diri dalam mematuhi peraturan
3) Lingkungan: ketidaktertiban dan suasana gaduh dari pelaksanaan di lingkungan sekolah yang tidak terduga.
Menurut Hurlock (2006: 83) Disiplin diperlukan oleh siapa saja dan dimana saja, termasuk bagi para siswa. disiplin diperlukan oleh para siswa perkembangan pribadi dirinya. Melalui
disiplinlah siswa dapat belajar berperilaku dengan baik agar diterima oleh warga sekolah maupun masyarakat
Menurut pendapat Hoover (Rachman, 1997:191) Perilaku siswa disekolah yang tidak mengarah pada nilai-nilai kedisiplinan sehingga tidak mematuhi peraturan dan tata tertib sekolah yang ada tidak hanya disebabkan oleh dirinya sendiri namun ada berbagai faktor yang mempengaruhinya. Faktor-faktor tersebut diklasifikasikan ke dalam tiga kategori umum yaitu masalah-masalah yang ditimbulkan oleh guru, siswa da lingkungan.
Sumber :
https://journal.student.uny.ac.id/index.php/pgsd/article/viewFile/11611/11 158
Berdasarkan hasil kajian literatur dan wawancara dapat disimpulkan bahwa Kurangnya tingkat
kedisiplinan peserta didik di dalam kelas karena
1) Peserta didik tidak
paham dengan peraturan 2) sering melanggar
peraturan, susah diberitahu.
3) pura-pura tidak tahu 4) guru takut membuat
siswa menangis jika terlalu disiplin 5) guru yang tidak fit, 6) guru kesulitan
menghubungi orang tua siswa.
7) orang tua yang terlalu memanjakan anak.
8) kurangnya kasih sayang orangtua,
9) orangtua yang otoriter, 10 )kurang memperhatikan
anak
11) kurangnya teguran dan nasihat.
2. Menurut Nadya Dwi Utari dkk. Bahwa Kurangnya tingkat kedisiplinan peserta didik di dalam kelas Disiplin merupakan sikap mental mengandung kerelaan untuk mematuhi semua ketentuan- ketentuan, peraturan-peraturan dan norma-norma yang berlaku dalam menunaikan tugas dan tangung jawab.
Menurut Salahudin (2013:111), disiplin merupakan tindakan yang menunjukan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
Menurut Tulus Tu’u (2008: 31), disiplin merupakan sesuatu yang menyatu di dalam diri seseoarang. Bahkan, disiplin itu sesuatu yang menjadi bagian dalam hidup seseorang, yang muncul dalam pola tingkah lakunya sehari- hari, baik di lingkungan keluarga, sekolah dan
masyarakat.
Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan seseorang melakukan pelanggaran disiplin sekolah antara lain:
1) faktor internal, meliputi siswa itu sendiri.
2)faktor eksternal, meliputi tata tertib, sistem pembelajaran berkaitan dengan pengajaran guru, kepemimpinan kepala sekolah, pelayanan administrasi, interaksi siswa diluar sekolah, (Rifai, 2016:7)
Sumber :
https://jurnal.untan.ac.id/index.php/jpdpb/article/viewFile/31750/756765804 06
3. MenurutPutri Rahmadhani Felazen Kurangnya tingkat kedisiplinan peserta didik di dalam kelas di sebabkan oleh faktor-faktor yang menyebabkan keempat siswa kelas IV SD Negeri Pucung II tersebut rendah disiplin yaitu:
1.) Faktor Guru
a) guru lebih banyak membicarakan hal diluar materi pembelajaran di kelasnya.
b) guru berjualan di kelas pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung,
c) metode kegiatan yang digunakan kurang brvariasi,
d) guru fokus menulis dan menjelaskan materi pembelajaran di papan tulis,
e) guru sibuk mengoreksi tugas pekerjaan siswa, f) kurang memperhatikan kerapihan dan
kebersihan siswa,
6.2.Minimnya
kesadaran menjaga lingkungan sekolah
6.3.Sebagian besar peserta didik membuat gaduh di dalam kelas.
g) siswa yang melanggar tetapi tidak adanya teguran dan diberi sanksi.
2.) Faktor Orangtua yaitu;
a) orang tua yang terlalu memanjakan anak, b) kurangnya kasih sayang orangtua,
c) orangtua yang otoriter, d) kurang memperhatikan anak, e) kurangnya teguran dan nasihat.
Sumber :
http://repository.upi.edu/51679/7/S_PGSD_1603706_Title.p df
Penyebabnya
Guru tidak menggalakkan program 5 K di sekolah.
Hasil Kajian Literaturnya
Kesadaran akan kepedulian adalah suatu keadaan ketika seseorang merasa, mengetahui dan mengerti bagaimana menunjukkan sikap peduli. Sikap peduli dapat terlihat dalam bentuk kasih sayang, empati, menolong, menghargai dan perhatian terhadap orang lain maupun kondisi sosial lingkungan sekitar. Peduli merupakan salah satu karakter yang perlu dimiliki oleh siswa karena peduli merupakan karakteristik manusia, warga masyarakat dan warga Negara yang baik.
Jika siswa memiliki sikap peduli, maka akan tercipta hubungan yang harmonis antara siswa dengan orang lain dan melatih pribadi siswa agar memiliki sifat peduli baik sesama manusia maupun lingkungan.
Sumber
https://siat.ung.ac.id/files/wisuda/2014-1-1- 86201-111412004-bab1-12082014055016.pdf
Penyebabnya :
Guru dalam mengelola pengolahan kelas belum maksimal
Hasil Kajian Literaturnya Menurut Sarjana (2008: 99
Seorang guru diharapkan dapat tegas dalam menjalankan aturan atau memberikan hukuman, sehingga dapat meminimalisasi masalah-masalah kelas agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan kondusif. Dalam penelitian Sarjana (2008)
Sumber :
PENGELOLAAN KELAS DALAM PROSES
PEMBELAJARAN DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA SE KECAMATAN MUNTILA
https://eprints.uny.ac.id/20008/1/Rury%20Sandra%
20Dewi.pdf
Lampiran Link
1. Hasil Wawancara Kepala Sekolah SD Negeri 19 Kubu Ibu Sri Anita. S.Pd
https://docs.google.com/forms/d/1v5PChOGRT3Zeu0r6tAyX7lDaFSmY7QfZpvNcLv zbDag/edit#response=ACYDBNjROmYqduo0mGRp7HmulaSATRVhmA1Xh1MWSx7s iUMA_5rDqYcYvm9eLjuRAyXtdkA
2. Hasil Wawancara Rekan Sejawat SDN 19 Kubu Bapak Hendrik Gunawan, S.Pd. Gr https://docs.google.com/forms/d/1v5PChOGRT3Zeu0r6tAyX7lDaFSmY7QfZpvNcLv zbDag/edit#response=ACYDBNiQq3I6-YjQ_5_XCUKNWfb7GvDV8ypEXljPnO-
Rg8ngGKqzt41r5_m9TSinyVYDQnw
3. Hasil Wawancara Pakar dan pihak terkait lainnya, Korwil/Pengawas TK. SD Kec.
Kubu Bapak Suwadi. S.Pd.MM
https://docs.google.com/forms/d/1v5PChOGRT3Zeu0r6tAyX7lDaFSmY7QfZpvNcLv zbDag/edit#response=ACYDBNhbqS7KkHpbdmn-
2OJx5rPGt8f4ZHThHbv0dQRfutZSYmBMq9lz8DoFnet46hKXR8k
4. Hasil wawancara Pakar dan pihak terkait lainnya, Praktisi dan Tutor UNIVERSITAS TANJUNG PURA DAN UNIVERSITAS TERBUKA. Ibu Samsiar. S.Pd. M.Pd.
https://docs.google.com/forms/d/1v5PChOGRT3Zeu0r6tAyX7lDaFSmY7QfZpvNcLv zbDag/edit#response=ACYDBNgxyG7BJQmTCXXLwXZ56QH2h_wbKfFktU_H_agljH1t FOVcHw4HKzC8RApBWvIG0tA
5. Google Form Pertanyaan Wawancara
https://docs.google.com/forms/d/1v5PChOGRT3Zeu0r6tAyX7lDaFSmY7QfZpvNcL vzbDag/edit