• Tidak ada hasil yang ditemukan

Untitled - Jurnal Ilmiah Mahasiswa STKIP PGRI Sumbar

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "Untitled - Jurnal Ilmiah Mahasiswa STKIP PGRI Sumbar"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

1

(2)

2

PENDAHULUAN

Pelabuhan Muaro Padang adalah pelabuhan yang terbentuk secara alami yang kemudian dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang pelabuhan.1 Pelabuhan Muaro Padang terletak di Muaro Sungai Batang Arau yang berbatasan langsung dengan lautan Samudera Hindia. Pelabuhan Muaro Padang terlindungi dari keganasan gelombang Samudera Hindia dengan adanya Gunung Padang (Gunung Monyet).

Pelabuhan Muaro Padang di bangun pada kawasan yang sebelumnya secara tradisi telah dimanfaatkan oleh pendudduk setempat sebagai tempat tambatan perahu (juga tempat bongkar muat barang serta turun naik penumpang). Pelabuhan Muaro Padang secara ekologi mempunyai kekurangan. Adanya endapan lumpur yang dibawa dari hulu ke muara Sungai Batang Arau mengakibatkan pendangkalan di pelabuhan. Pada masa Kolonial Belanda cara mengatasinya digunakanlah Redee Pulau Pisang untuk menampung kapal-kapal samudera ukuran besar.

Walaupun Pelabuhan Muaro Padang tidak bisa menampung kapal-kapal besar ukuran samudera, namun dengan keberadaan Redee Pulau Pisang sangat membantu. Barang dan orang dari Redee Pulau Pisang dibawa ke Pelabuhan Muaro Padang dengan kapal-kapal ukuran kecil, sehingga pelabuhan ini menjadi pusat perdagangan di Kota Padang.2

Kolonisasi Belanda di kawasan Sungai Batang Arau di mulai dari perjanjian Painan (Het Painan Traktat) tahun 1663.3 Hal ini diimplementasikan dengan pendirian loji di Pulau Cingkuk yang kemudian dipindahkan ketepi Sungai Batang Arau tahun 1666.4 Pada abad ke-17 Pelabuhan Muaro Padang mengalami perkembangan yang sangat signifikan Veerenigdde

1 Gusti Asnan, “Pelabuhan-Pelabuhan Kota Padang Tempo Doloe”, Buletin Arkeologi Amoghpasa, 2009, Hal. 16.

2 Rusli Amran, Padang Riwayatnu Dulu, (Jakarta: CV. Yasaguna, 1988), Hal. 11.

3 Mardanas Safwan, Sejarah Kota Padang, (Jakarta: Depdikbud, 1987), Hal. 30.

4 Gusti Asnan, Dunia Maritim Pantai Barat Pulau Sumatera, (Jakarta: Ombak, 2007), hal. 60.

Oost-Indische Compagnie (VOC) secara serius mengembangkan dan membangun berbagai fasilitas di Pelabuhan Muaro Padang seperti pembangunan dermaga, pergudangan, kantor syahbandar, dan menara suar. Pembangunan berbagai fasilitas di Pelabuhan Muaro Padang tahun 1870 menjadikan pelabuhan ini sebagai pelabuhan kelas “A” yaitu pelabuhan yang dapat melayani pelayaran nasional maupun internasional serta melayani kegiatan ekspor dan impor semua komoditas.5

Peranan Pelabuhan Muaro Padang sejak dibukanya Pelabuhan Teluk Bayur adalah pelabuhan kelas dua yang melayani perusahaan pengangkutan pantai dalam pelayaran antar kota pantai dan antar pulau di Pesisir Barat Pulau Sumatera.6

Pelabuhan Muaro Padang merupakan pusat semua aktifitas Kota Padang tempo dulu (masa Kolonial Belanda) dan merupakan latar belakang Kota Padang kontemporer. Setelah kemerdekaan sampai dengan tahun 1996 eksistensi Pelabuhan Muaro Padang yang dominan adalah sebagai sarana transportasi antar kota pantai dan antar pulau di Pesisir Barat Pulau Sumatera.

Meskipun Pelabuhan Muaro Padang masih bertahan hingga tahun 1996, namun fungsinya tidak begitu besar dikenal oleh masyarakat atau peranannya tidak hidup dalam pikiran masyarakat (sejarah yang dilupakan) tidak seperti halnya eksisitensinya masa penjajahan Belanda.

Studi yang relevan diantaranya adalah Skripsi Vivi Arianti. Dengan judul”Analisis Permintaan Jasa Angkutan Barang Kapal Laut di Pelabuhan Muaro Padang” Skripsi ini mengkaji tentang dinamika angkutan barang di Pelabuhan Muaro Padang serta membahas gambaran umum eksisitensi Pelabuhan Muaro Padang sebelum dan sesudah dibukanya Pelabuhan Teluk Bayur dan kegiatan transportasi antar pulau di Pesisir Barat Pulau Sumatera.

5 Ibid., Hal. 292.

6 Ibid., Hal. 144.

(3)

3

Studi yang relevan adalah Skripsi Yulia Fatma. Dengan judul “Pengembangan Perusahaan Pengelola Pelabuhan Studi Kasus PT. Pelindo II Cabang Padang Tahun 1992-2009”. Skripsi ini membahas tentang sejarah pengelolaan Pelabuhan Teluk Bayur mulai dari masa Pemerintahan Kolonial Belanda sampai terbentuknya PT. Pelindo.

BAHAN DAN METODE.

Penelitian yang berjudul “Dinamika Pelabuhan Muaro Padang (1945-1996)” menggunakan metode penelitian sejarah. Mestika Zed mengatakan metode sejarah adalah proses menguji dan menganalisis secara kritis rekaman dan peninggalan masa lampau berdasarkan data yang diperoleh dengan menempuh proses yang berwujud historiografi. Tahap-tahap metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:7

Pertama, heuristik tahap pengumpulan sumber data sejarah melalui studi dokumenter, studi kepustakaan, dan wawancara.

Tahap kedua kritik sumber merupakan penentuan akurasi dan keabssahan sumber data sejarah berdasarkan penganalisisan yang mendalam. Dalam proses krtik sumber digunakan kritik internal dan eksternal. Krtik internal yaitu untuk menguji informasi yang terdapat dalam sumber data sejarah sedangkan kritik eksternal adalah pengujian terhadap keaslian informasi. Proses kritik eksternal merupakan pengujian otensitas (keaslian) dokumen dan arsip-arsip tentang Pelabuhan Muaro Padang.

Tahap ketiga, interpretasi adalah tahap penafsiran terhadap sumber-sumber yang akan digunakan dalam historiografi. Tahap ini dilakukan untuk menentukan fakta yang akurat untuk dijadikan fakta sejarah dan menghubungkannya dengan konteks peristiwa yang meliputi waktu, tempat, dan peristiwa.

Tahap keempat, Historiografi pada tahap ini fakta-fakta yang ditemukan akan dideskripsikan dalam

7 Mestika Zed, Metodologi Sejarah, (Padang:

UNP, 1991), Hal. 31-32.

bentuk penulisan yang sistematis menjadi karya ilmiah dalam bentuk skripsi dengan melampirkan bukti yang lengkap dan uraian yang indah dan aristik.8

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pelabuhan Muaro Padang adalah pelabuhan alam yang kemudian dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang. Secara tradisi pelabuhan ini telah dimanfaatkan oleh penduduk setempat sebagai tempat tambatan perahu mereka (juga tempat bongkar muat barang serta turun naik penumpang).9 Pelabuhan Muaro Padang terletak di Muaro Sungai Batang Arau yang berbatasan langsung dengan lautan Samudera Hindia.

Pelabuhan Muaro Padang termasuk pelabuhan yang aman, airnya tenang dan aman untuk kegiatan bongkar muat barang dan menaikkan serta menurunkan penumpang karena adanya Gunung Padang yang melindunginya dari gelombang Samudera Hindia.

Pelabuhan Muaro Padang dikembangkan secara serius oleh Pemerintahan Kolonial Belanda pada abad ke-17. Sepanjang sejarahnya dilakukan beberapa kali perbaikan dan penambahan panjang dermaga.

Perbaikan dan penambahan panjang dermaga yang paling penting dilakukan tahun 1850 sampai tahun 1870-an. Pelabuhan Muaro Padang dilengkapi dengan sejumlah fasilitas seperti: pergudangan, kantor syahbandar, dan menara suar.10 Hal ini menjadikan Pelabuhan Muaro Padang sebagai pelabuhan kelas “A”

yaitu pelabuhan yang dapat melayani kegiatan pelayaran nasional maupun internasional serta mampu melayani kegiatan ekspor-impor semua komoditas perdagangan.11

Operasionalisasi Pelabuhan Emmahaven menyebabkan menurunnya fungsi dan peranan Pelabuhan Muaro Padang. Pelabuhan Muaro Padang yang awalnya adalah pelabuhan utama Padang beralih

8 Louis Gottschalch, Mengerti Sejarah, (Jakarta: Yayasan Penerbit UI, 1975), Hal. 32.

9 Gusti Asnan, “ Pelabuhan-pelabuhan Kota Padang Tempo Doloe”, Buletin Arkeologi

Amoghapasa, 2009, Hal. 19.

10 Ibiid., Hal. 18.

11 Ibiid., Hal. 19.

(4)

4

fungsi sebagai pelabuhan ke dua dan juga sebagai perusahaan pengangkutan pantai.12

Pelabuhan Muaro Padang pengelolaannya diatur oleh perusahaan Belanda yaitu depertemen van shceepvant kondisi ini tetap berlangsung hingga tahun 1950-an. Perubahan baru terjadi pada awal tahun 1955 pemerintah Indonesia mengambil alih pengelolaannya dibawah Perusahaan Jawatan (PERJAN).13 Pada tahun 1960 Pelabuhan Muaro Padang dikelola oleh Perusahaan Negara (PN) kemudian dikembangkan tahun 1964 di bawah pengelolaan Port Autthority (penguasa pelabuhan). Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 1 tahun 1969 pengelolaan pelabuhan diserahkan kepada Badan Pengusahaan Pelabuhan (BPP) kemudian tahun 1983 berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 15 tahun 1983 pengelolaan pelabuhan diganti dari BPP ke Perusahaan Umum (PERUM) dan pada tahun 1992 pengelolaan Pelabuhan Muaro Padang berada dibawah PT. Pelindo II Cabang Pelabuhan Teluk Bayur.14

Peranan Pelabuhan Muaro Padang Pada masa Revolusi (1945-1950) adalah sebagai sarana transportasi antar kota pantai dan antar pulau di Pesisir Barat Pulau Sumatera yang memiliki dua rute pelayaran. Pertama, jalur pelayaran kota pantai yaitu ke Pariaman, Tiku, Sasak, dan Air Bangis. Kedua, jalur pelayaran antar pulau di Pesisir Barat Pulau Sumatera yaitu menuju ke Kepulaun Mentawai, Aceh Selatan/Barat, Nias, Tello Simellu dan Bengkulu jalur pelayaran ini mengikuti jalur pelayaran masa sebelum kemerdekaan.15 Komoditas perdagangan yang diperdagangkan adalah getah yang terdiri dari getah kering, basah, dan getah

12 Gusti Asnan, Dunia Maritim Pantai Barat Pulau Sumatera, (Jakarta: Ombak, 2007), hal.144 13 Arsip PT. Pelindo II Cabang Teluk Bayur, Sejarah PT. Pelindo II Cabang Padang, 1998.

14 Wawancara dengan Yoserizal Petuugas Meri Inspektur (KSOP) Wilayah Kerja Pelabuhan Muaro Padang tanggal 19 Juni 2014 di Padang.

15Gusti Asnan, Dunia Maritim Pantai Barat Pulau Sumatera, (Jakarta: Ombak, 2007), hal. 144.

mesin, tembakau, cengkeh, pala, gambir, kopi robusa, teh, kulit manis, damar, dan kopra.16

Peranan Pelabuhan Muaro Padang masa Orde lama (1950-1965) dapat dilihat dari perkembangan jalur pelayaran di Pesisir Barat Pulau Sumatera yang menjadikan Padang sebagai pusat perdagangan dan pelabuhan di Pesisir Barat Pulau Sumatera. Jalur pelayaran dari pantai barat ke utara menghubungkan Kota Padang dengan Pariaman, Tiku, Sasak, Air Bangis dan Pulau Tello di Kepulauan Nias. Sedangkan ke selatan menghubungkan Kota Padang dengan Painan dan Inderapura.17

Pada masa Orde Baru Peranan Pelabuhan Muaro Padang sebagai sarana transportasi antar kota pantai dan antar pulau di Pesisir Barat Pulau Sumatera masih berfungsi dan berperan besar sebagai pelabuhan pembantu bagi perkembangan Pelabuhan Teluk Bayur.

Komoditas perdagangan yang diperdagangkan antar pulau di Pesisir Barat Pulau Sumatera adalah cengkeh, karet, minyak, pala, kopra, teh dan timah. Komoditas perdagangan ini adalah hasil bumi Sumatera Barat yang ditransitkan di Pelabuhan Muaro Padang yang kemudian di Perdagangkan di Pantai Barat Pulau Sumatera seperti ke Kepulauan Mentawai, Nias/Tello, Aceh Selatan/Barat, Simellu dan Bengkulu.18

Hingga tahun 1996 ada 30 kapal motor yang melakukan pelyaran dari dan ke Pelabuhan Muaro Padang yang digunakan untuk mengangkut penumpang.

Ketiga puluh kapal motor itu ada yang mempunyai jadwal pelayaran tiap hari (senin sampai minggu) ada juga berdasarkan pemintaan pemakai jasa. Daerah trayek yang dilayari adalah Kepulauan Mentawai

16 Arsip Perpustakaan dan Dokumentasi Sumatera Barat, Statistik hasil bumi yang keluar dari Keresidenan Sumatera Barat , 1947-1948

17 Mardanas Safwan, Sejarah Kota Padang, (Jakarta: Depdikbud, 1987), Hal. 53

18 Arsip Perpustakaan dan Dokumentasi Sumatera Barat, Pertanggungjawaban Kepala Daerah Tingkat I Sumatera Barat, 1983-1984, Hal. 431.

(5)

5

(Siberut, Tua Pejat, Sioban, Sikakap, Sikabaluan, dan Sipora).19

Kegiatan jasa angkutan barang antar pulau di Pesisir Barat Pulau Sumatera pelayarannya tidak memiliki rute dan waktu yang ditetapkan tetapi sesuai dengan kebutuhan pemakai jasa. Daerah yang dituju dalam pelayaran ini adalah Kepulauan Mentawai, Aceh Selatan/Barat, Sibolga, Pulau Nias/Tello, Simellu dan Bengkulu. Komoditas perdagangan yang dibawa dari Pelabuhan Muaro Padang ke Pulau yang ada di Pesisir Barat Sumatera adalah sembilan kebutuhan pokok dan bahan bakar minyak (BBM). Sedangkan komoditas Perdagangan yang dibawa dari pulau-pulau yang ada di Pesisir Barat Pulau Sumatera adalah hasil pertanian dan hasil hutan seperti, beras, kayu, cengkeh, rotan, manau, serta rempah-rempah laianya.20 Kegiatan jasa angkutan barang dengan menggunakan transportasi laut berkurang hingga tahun 1996 kecuali untuk ke Kepulauan Mentawai.

KESIMPULAN

Dari hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan dinamika kegiatan Pelabuhan Muaro Padang tahun 1945-1996 dibagi dalam tiga dekade pemerintahan.

Pertama, Pelabuhan Muaro Padang Masa Revolusi 1945-1950. Kedua, Pelabuhan Muaro Padang Masa Orde Lama (1950-1965). Ketiga, Pelabuhan Muaro Padang Masa Orde Baru (1965-1996). Peranan Pelabuhan Muaro Padang pada tiga dekade pemerintahan yang dominan adalah sebagai sarana transportasi antar kota pantai dan antar pulau di Pesisir Barat Pulau Sumatera.

Dinamika kegiatan Pelabuhan Muaro Padang 1945-1996 mengalami pasang surut. Hal ini dapat

19 Arsip Kantor Administari Pelabuhan Teluk Bayur, Daftar trayek Kapal Penumpang yang

berdomisili di Pelabuhan Muaro Padang, 1996.

20 Wawancara dengan Yoserizal Petugas Meri Inspektur (KSOP) Wilayah Kerja Pelabuhan Mauro Padang pada tanggal 19 Juni 2014 di Padang.

dilihat melalui trayek kapal yang berdomisili di Pelabuhan Muaro Padang, mobilitas penumpang, jumlah bongkar muat barang, jumlah buruh, dan kunjungan kapal di Pelabuhan Muaro Padang.

Tingginaya aktifitas di Pelabuhan Muaro Padang dipengaruhi oleh tingkat produksi hasill hutan Sumatera Barat dan membaiknya alur kolam Pelabuhan Muaro Padang. Sedangkan menurunya aktifitas di Pelabuhan Muaro Padang dipengaruhi oleh dangkalnya alur kolam Pelabuhan Muaro Padang dan berkembangnya sarana dan prasarana transportasi darat.

DAFTAR PUSTAKA A. Arsip/Dokumen

Arsip PT. Pelindo II Cabang Teluk Bayur, Sejarah PT.

Pelindo II Cabang Padang, 1998.

Arsip Perpustakaan dan Dokumentasi Sumatera Barat, Statistik hasil bumi yang keluar dari

Keresidenan Sumatera Barat 1947-1948

Arsip Perpustakaan dan Dokumentasi Sumatera Barat, Pertanggungjawaban Kepala Daerah Tingkat I Sumatera Barat tahun 1983-1984.

Arsip Kantor Administari Pelabuhan Teluk Bayur, Daftar trayek Kapal Penumpang yang berdomisili di Pelabuhan Muaro Padang, 1996.

B. Buku

Gottschalk, Louis, Mengerti Sejarah, Jakarta:

Universitas Indonesia Press, 1975.

Gusti Asnan.2007. Dunia Maritim Pantai Barat Sumatera.Yogyakarta: Ombak.

Mardanas Safwan.dkk, Sejarah Kota Padang. Jakarta:

Depdikbud,1987.

Mestika Zed.1999. Metodologi Sejarah. Padang: UNP.

Rusli Amran. 1988. Padang Riwayatmu dulu. Jakarta:

Yasaguana.

(6)

6

C. Skripsi dan Karya Ilmiah

Gusti Asnan. (2009). Pelabuhan-Pelabuhan Kota Padang Tempo Doloe. Buletin Arkeologi Amoghapsa.

Vivi Arianti, “Analisis Permintaan Jasa angkutan Barang Kapal Laut di Pelabuhan Muaro Padang”, Skripsi, Padang: Fakultas Ekonomi UNAND, 1998.

Yulia Fatma, “Perkembangan Perusahaan Pengelolaan Pelabuhan Studi Kasus PT. Pelindo II Cabang Padang tahun 1992-2009”, Skripsi, Padang:

STKIP, 2012

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan peraturan Depdagri No 12 tahun 2007 penskoran yang telah dilakukan terhadap masing-masing jorong tingkat pendidikan penduduk di nagari Padang Mentinggi kabupaten pasaman

100% Fonataba, 2010 Tabel: Perubahan Penggunaan Lahan di Kecamatan Koto Tangah Kota Padang Tahun 2006 dan Tahun 2013 Sumber: Pengolahan Data Sekunder 2015 Dari hasil tabel IV.IX

4 Ketiga: Melalui penelitian yang telah dilakukan dapat dinyatakan bahwa Tenaga Kerja mempunyai hubungan denagan perkembangan industri kecil di Kanagarian Padang Tarok Kecamatan Baso

Kedua, Pembelajaran media picture and picture dilihat dari minat siswa dalam meningkatkan aktivitas belajar geografi IPS Terpadu dikelas VII.3 MTsN Lubuk Buaya Padang, diperoleh skor

Laras Inter Nusa akhirnya dapat menyelesaikan masalah konflik tanah plasma dengan melakukan perjanjian kepada masyarakat Padang Jirat yang diwakili oleh Ahmat Datuak Manti Manang yang

Deskripsi Data Kepedulian Masyarakat Dalam Menjaga Kesehatan Lingkungan Rumah Tangga di Kelurahan Tabiang Banda Gadang Kecamatan Nanggalo Kota Padang N o Indikator Kepedulian

Berdasarkan wawancara dengan wali kelas pada tanggal 24 Agustus 2015 hari Senin di SDN 23 Ampalu Padang diperoleh informasi bahwa problematika belajar peserta didik adalah: 1 Peserta

disimpulkan, kemampuan memahami pembacaan puisi dengan teknik parafrase siswa Kelas VII SMP Negeri 20 Padang untuk ketiga indikator tema, citraan, dan gaya bahasa tergolong baik B yang