Hal ini terjadi setelah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencanangkan gerakan pendidikan karakter nasional pada 20 Mei 2010. 1 Pendidikan karakter merupakan upaya untuk mengatasi krisis moral dan etika dalam masyarakat yang cenderung semakin terpuruk dalam satu dekade terakhir. Muzhoffar Ikhwan menyatakan pendidikan karakter dalam konteks saat ini sangat relevan untuk mengatasi krisis moral yang sedang menimpa bangsa kita.2. Relevan dengan fenomena krisis moral dan moral sosial di atas, patut kita renungkan pernyataan Thomas Lickona, seorang penggagas pendidikan karakter di Amerika Serikat, tentang sepuluh tanda zaman yang menunjukkan kemunduran suatu bangsa yang menggambarkan nilai-nilai moralnya. yaitu: (1) meningkatnya kekerasan di kalangan remaja, (2) memburuknya penggunaan bahasa dan kata-kata, (3) kuatnya pengaruh kelompok teman sebaya dalam tindakan kekerasan, (4) meningkatnya perilaku merusak diri sendiri, seperti penggunaan narkoba, alkohol dan seks.
2Muzhoffar Ikhwan, Pendidikan Karakter: Konsep dan Implementasi Pembelajaran di Sekolah/Madrasah, Makalah disampaikan pada Diskusi Dosen Fakultas Agama Islam UII, 2 November 2011. Pendidikan Karakter bertujuan untuk mengenalkan kembali nilai-nilai dasar kebangsaan yang telah lama ada. semangat dan falsafah kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Dalam pelaksanaannya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menjadikan model pendidikan Islam pesantren sebagai model pendidikan karakter untuk diterapkan di lembaga pendidikan formal.
Di antara banyak pondok pesantren yang telah menerapkan pendidikan karakter adalah Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang (PP Bahrul Ulum). Nilai-nilai karakter tersebut ditanamkan/dididik kepada santri/santri melalui berbagai strategi seperti pengajaran, kebiasaan, keteladanan dan tradisi yang telah berlangsung lama di lingkungan pesantren. 12 Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji nilai-nilai pendidikan karakter di PP Bahrul Ulum Tamabkberas Jombang. Peran keluarga dalam pendidikan karakter anak” di www.Strawberryschool-talentprestasi.wordpress.com, 17 Oktober 2010, diakses 10 Oktober 2018.
20 Agus Zainul Fitri, Reinventing Human Character: Pendidikan Karakter Berbasis Nilai dan Etika di Sekolah (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2012), hal.
Nilai-Nilai Pendidikan Karakter
Strategi Pendidikan Karakter
Menurut Lickona, pendidikan nilai untuk menghasilkan karakter yang mencakup ketiga komponen tersebut harus menggunakan pendekatan komprehensif dan strategi berbasis sekolah yang luas. Pendekatan ini mencakup tiga domain, yaitu: pertama, strategi kelas untuk mengajarkan nilai-nilai baik melalui kurikulum sekolah dan menggunakan pelajaran akademis sebagai wahana untuk mendiskusikan masalah etika; kedua, menciptakan budaya moral positif melalui disiplin sekolah dalam memberikan keteladanan, mengembangkan dan memelihara nilai-nilai sekolah di seluruh lingkungan sekolah; dan ketiga, kerjasama antara sekolah, orang tua dan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan anak dan membantu perkembangannya.35. Penerapan kerangka teori tersebut dalam konteks penelitian pendidikan karakter di rumah Islam menunjukkan bahwa rumah Islami memiliki sejumlah nilai luhur yang melandasi pendidikannya, yang berlandaskan pada ajaran Islam dan budaya masyarakat.
Menurut Lickona, pendekatan pendidikan nilai secara komprehensif telah lama diterapkan di pesantren melalui strategi pembelajaran, penanaman tradisi pesantren dan penciptaan lingkungan yang kondusif.
Hasil Penelitian
- Nilai-Nilai Pendidikan Karakter di PP Bahrul Ulum
- Nilai Keimanan
- Nilai Kejujuran
- Nilai Keikhlasan
- Nilai Ketaatan dan Penghormatan
- Nilai Kesederhanaan
- Nilai Kemandirian
- Nilai Persaudaraan
- Nilai Cinta Ilmu Pengetahuan
- Nilai Kebebasan
- Nilai Kepemimpinan
Hasib Wahab, Ketua Majelis Wali PP Bahrul Ulum, Kamis, 14 Oktober 2018 di Kantor Yayasan PP Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. Irfan Sholeh, Ketua Umum Yayasan PP Bahrul Ulum, Kamis, 28 Oktober 2018, di ruang tamu Kantor Yayasan PP Bahrul Ulum Tambakberas Jombang. Siswa yang dibekali dengan keimanan atau tauhid yang kuat akan tumbuh menjadi individu yang mampu mengendalikan diri dan yakin akan asal usulnya, apa yang harus dilakukannya selama hidup di dunia, serta kesadaran bahwa kelak mereka akan dituntut untuk bertanggung jawab kepada Allah SWT. SWT. .
Kejujuran merupakan salah satu ciri Nabi Muhammad SAW, beliau mempunyai empat sifat (s{iddi>q, ama>nah, tabli
Di PP Bahrul Ulum, nilai keikhlasan terlihat pada sikap hidup sehari-hari dengan menjaga keyakinan dalam hidup, bahwa segala aktivitas hidup harus diupayakan untuk mencari keuntungan. keridhaan Allah SWT, seperti semangat beribadah, belajar, mengajar dan mendidik untuk memperoleh keridhaan Allah SWT. Di pondok pesantren, kiai mengajar dan mendidik santri semata-mata untuk beribadah kepada Allah SWT, dan tanpa mengharapkan upah/pahala dari kegiatan mengajarnya. Untuk itu persoalan keikhlasan mendapat prioritas besar di PP Bahrul Ulum, atas dasar keikhlasan maka ilmu yang diajarkan kepada siswa akan bermanfaat, sehingga ilmu itu menjadi berkah.
Perintah dan larangan kiai di PP Bahrul Ulum tercantum dalam peraturan pesantren. Santri yang menghormati tata tertib pesantren berarti menghormati kiai. Dalam PP Bahrul Ulum nilai kemandirian dikembangkan dalam seluruh aspek kehidupan pesantren, baik dalam kehidupan sehari-hari, pembelajaran maupun aspek institusi/kelembagaan. Dari pengamatan peneliti diketahui bahwa kehidupan di PP Bahrul Ulum dipenuhi dengan suasana persaudaraan yang erat, saling menghormati satu sama lain, meskipun siswa yang datang dan belajar berasal dari daerah yang berbeda.
Salah satu tujuan pendidikan PP Bahrul Ulum adalah “Mencetak manusia yang cerdas, kompeten, mandiri, yang bertanggung jawab terhadap diri sendiri, masyarakat, agama, dan bangsa atas ilmu yang diperolehnya”.53 Dengan tujuan pendidikan tersebut, PP Bahrul Ulum tidak ada dikotomi antara ilmu ilmu agama dan ilmu umum. Jika ilmu agama didasarkan pada ayat-ayat qauliyah (kalimat Allah) yang mengatur tata cara berhubungan dengan Allah, sesama manusia dan lingkungan alam, maka pengetahuan umum didasarkan pada ayat-ayat kauniyah (fenomena alam), yang sifatnya berdasarkan hukum-hukum alam. , karena – sebagai hasil ciptaan Allah SWT. yang sering disebut sunatullah. Untuk mengajarkan kedua bidang ilmu tersebut, PP Bahrul Ulum menyelenggarakan dua jalur pendidikan, yaitu jalur pesantren untuk mengajarkan ilmu agama, dan jalur madrasah dan sekolah formal untuk mengajarkan ilmu-ilmu umum.
Kebebasan sebagai nilai pendidikan karakter di PP Bahrul Ulum adalah memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk belajar dan mengamalkan sesuai minat dan kemampuannya, bebas berpikir dan bertindak, bebas berpikir dan bertindak. Di PP Bahrul Ulum, siswa diberikan kebebasan memilih jenis sekolah atau madrasah yang ditawarkan sesuai minatnya. PP Bahrul Ulum membekali santri tidak hanya dengan ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu umum (sains), tetapi juga dengan.
Hasib Wahab menyatakan salah satu keterampilan yang diberikan kepada mahasiswa PP Bahrul Ulum adalah keterampilan berorganisasi atau kepemimpinan.
Penutup/Kesimpulan
Suatu masyarakat atau bangsa akan tertib, aman dan tenteram apabila ada pemimpin yang mampu mengaturnya. Boang, Aisah dalam Supiana, Mosaik Pemikiran Islam: Bunga Pemikiran Pendidikan Indonesia, Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, 2011. Al-Gazali, al-Imam Abi Hamid Muhammad bin Muhammad, Ayyuh al-Walad (Surabaya: Al-Hidayah , tt http://nasional.kompas.com/20 Mei 2011. diakses 28 Februari 2016. http://akhmadsudrajat.wordpress.com Konsep-pendidikan-karakter, diakses 29 Februari 2016.
Ikhwan, Muzhoffar, Pendidikan Karakter: Konsep dan Implementasi Pembelajaran di Sekolah/Madrasah, Makalah disajikan dalam diskusi dosen Fakultas Agama Islam UII, 2 November 2011. Nawawi, Imam, Riya