Top PDF PENERAPAN METODE PHONETIK PLACEMENT UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGUCAP KONSONAN BILABIAL /M/ PADA ANAK TUNARUNGU.

PENERAPAN METODE PHONETIK PLACEMENT UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGUCAP KONSONAN BILABIAL /M/ PADA ANAK TUNARUNGU.

PENERAPAN METODE PHONETIK PLACEMENT UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGUCAP KONSONAN BILABIAL /M/ PADA ANAK TUNARUNGU.

Melihat hasil studi pendahuluan peneliti memfokuskan penelitian pada kemampuan mengucap konsonan bilabial /m/ . “ Konsonan bilabial merupakan bunyi bahasa yang dihasilkan pergerakan antara bibir atas dan bibir bawah dimana konsonan ini terdiri dari P, B, M dan W ” (Sadja’ah, 2003:96). Kemampuan siswa dalam mengucap konsonan bilabial /m/ di awal seperti ketika mengucap kata /mama/ diucap /papa/, kata /makan/ diucap /pakan/, /mau/ diucap /au/, /mobil/ diucap /pobil/ sementara itu untuk konsonan /m/ di tengah seperti pada kata /ambil/ diucap /abil/, /rambut/ diucap /tapung/, dan untuk konsonan /m/ di akhir seperti pada kata /hitam/diucap /hitap/, /malam/diucap /palap/. Apabila melihat kemampuan siswa tersebut dalam mengucap konsonan bilabial /m/ dapat dikatakan terjadi subtitusi atau penggantian seperti konsonan /m/ diucap /p/, dan terjadi omisi atau penghilangan konsonan /m/.
Baca lebih lanjut

31 Baca lebih lajut

PENERAPAN METODE PHONETIK PLACEMENT UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGUCAP KONSONAN BILABIAL  M  PADA ANAK TUNARUNGU - repository UPI S PLB 1004921 Title

PENERAPAN METODE PHONETIK PLACEMENT UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGUCAP KONSONAN BILABIAL M PADA ANAK TUNARUNGU - repository UPI S PLB 1004921 Title

PENERAPAN METODE PHONETIK PLACEMENT UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGUCAP KONSONAN BILABIAL /M/ PADA ANAK TUNARUNGU Oleh: Kusdarini Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi sal[r]

3 Baca lebih lajut

PENERAPAN METODE MATERNAL REFLEKTIF DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA PEMAHAMAN PADA ANAK TUNARUNGU KELAS DII DI SLB AL-FITHRI KABUPATEN BANDUNG.

PENERAPAN METODE MATERNAL REFLEKTIF DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA PEMAHAMAN PADA ANAK TUNARUNGU KELAS DII DI SLB AL-FITHRI KABUPATEN BANDUNG.

Salah satu dari kategori anak berkebutuhan khusus adalah anak tunarungu, mereka membutuhkan metode dalam menunjang proses belajarnya. Tunarungu adalah istilah umum yang menunjukkan kesulitan dalam mendengar dari yang ringan sampai yang berat digolongkan ke dalam tuli dan kurang dengar. Orang tuli (deaf) adalah seseorang yang kehilangan kemampuan mendengar sehingga menghambat proses perolehan informasi bahwa melalui pendengarannya, dengan atau tanpa alat bantu dengar. Orang kurang dengar (hard of hearing) adalah seseorang yang pada umumnya dengan menggunakan alat bantu dengar. Cukup memungkinkan keberhasilan memproses informasi bahasa melalui pendengarannya.
Baca lebih lanjut

29 Baca lebih lajut

PENGGUNAAN MEDIA HARMONIKA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN ARTIKULASI KONSONAN BILABIAL “P” ANAK TUNARUNGUDI SLB-B SUMBERSARI - BANDUNG - repository UPI S PLB 1001858 Title

PENGGUNAAN MEDIA HARMONIKA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN ARTIKULASI KONSONAN BILABIAL “P” ANAK TUNARUNGUDI SLB-B SUMBERSARI - BANDUNG - repository UPI S PLB 1001858 Title

PENGGUNAAN MEDIA HARMONIKA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN ARTIKULASI KONSONAN BILABIAL “P” ANAK TUNARUNGU DI SLB-B SUMBERSARI - BANDUNG Studi Eksperimen SSR Single Subjek Research deng[r]

3 Baca lebih lajut

PENGARUH LATIHAN MENGHEMBUSKAN NAFAS MELALUI HIDUNG PADA CERMIN KECIL UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BICARA DALAM MENGUCAP KONSONAN VELAR SENGAU “Ng” DALAM KATA PADA ANAK TUNARUNGU KELAS VIII SLB ABCD ASYIFA.

PENGARUH LATIHAN MENGHEMBUSKAN NAFAS MELALUI HIDUNG PADA CERMIN KECIL UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BICARA DALAM MENGUCAP KONSONAN VELAR SENGAU “Ng” DALAM KATA PADA ANAK TUNARUNGU KELAS VIII SLB ABCD ASYIFA.

Anak tunarungu memiliki permasalahan dalam pernafasan, sehingga berdampak pada kemampuan berbahasa salah satunya dalam mengucap konsonan velar sengau “Ng” dihasilkan dengan cara ujung lidah terletak pada dasar mulut, rahang atas dan rahang bawah terbuka, celah suara terbuka sehingga terjadi getaran suara aliran udara melalui hidung tertutup oleh pangkal lidah. Apabila anak tunarungu dalam menghembuskan nafas melalui hidung mengalami permasalahan ada kemungkinan dalam pengucapan konsonan velar sengau “Ng” ada permasalahan. Dengan latihan menghembuskan nafas melalui hidung pada cermin kecil ada kemungkinan terjadi perbaikan pada pengucap an konsonan velar sengau “Ng”. L atihan ini bertujuan untuk mendapatkan sebuah aliran udara bunyi sengau dan untuk merangsang gerakan dari langit-langit lunak sebagai suatu prasyarat agar dapat meningkatkan bagian belakang velum dan dinding veringeal agar berfungsi sehingga pengucapan huruf “Ng” dalam kata siswa tunarungu menjadi jelas. Oleh sebab itu pada penelitian ini, peneliti melakukan penelitian tentang latihan menghembuskan nafas melalui hidung pada cermin kecil dalam meningkatkan kemampuan mengucap konsonan velar sengau “Ng” dalam kata pada tunarungu, dengan tujuan untuk diketahui lebih jelasnya.
Baca lebih lanjut

55 Baca lebih lajut

PEMBELAJARAN ARTIKULASI DALAM MENGEMBANGKAN KONSONAN BILABIAL PADA ANAK TUNARUNGU KELAS III SLB AL-FITHRI KABUPATEN BANDUNG.

PEMBELAJARAN ARTIKULASI DALAM MENGEMBANGKAN KONSONAN BILABIAL PADA ANAK TUNARUNGU KELAS III SLB AL-FITHRI KABUPATEN BANDUNG.

Bicara sebagai suatu simbol linguistik merupakan ekspresi verbal dari bahasa yang digunakan individu dalam komunikasi. Komunikasi merupakan pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih dengan cara yang tepat, sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami. Komunikasi suatu pertukaran pikiran dan perasaan. Sedangkan anak tunarungu memiliki permasalahan sebagai dampak dari ketunarunguannya dalam aktifitas sehari-hari. Anak tunarungu mengalami kesulitan dalam mengembangkan pengucapan konsonan bilabial. Modalitas utama dalam mengembangkan konsonan bilabial ialah dengan pembelajaran artikulasi. Fokus masalah dalam penelitian ini ialah bagaimana persiapan pembelajaran artikulasi yang dilakukan oleh guru, Bagaimana pelaksanaan, materi pembelajaran artikulasi, bagaimana evaluasi pembelajaran artikulasi yang dilakukan guru dan mengetahui hambatan - hambatan apa yang dihadapi guru dan Upaya – upaya yang dilakukan guru dalam menangani hambatan – hambatan yang dihadapai guru. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kwalitatif. Penelitian dilakukan terhadap satu orang guru dan tiga orang tua murid. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan wawancara dan studi dokumen. Hasil penelitian terhadap subjek guru ialah persiapan yang dilakukan guru yaitu membuat rencana program pembelajaran (RPP). Pelaksanaan pendekatan dilakukan sebelum pembelajaran dimulai, dengan materi latihan pengucapan supaya otot-otot mulut tidak kaku, biasanya membuka dengan apa yang dibawa anak. Misal: guru ingin mengajarkan artikulasi konsonan “b” maka guru mengaitkan dengan barang yang dibawa anak “buku” dilanjut “bbb” “bbbbbb” “bababa........dst. . Guru menggunakan media kartu gambar, cermin dalam kelas untuk melakukan pembelajaran artikulasi dalam mengembangkan pengucapan konsonan bilabial. Evaluasi pembelajaran artikulasi yang dilakukan yaitu dengan mengucapkan dua kata yang berbeda seperti kata lilin dan bola. Hambatan yang dialami guru adalah belum mempunyai ilmu yang mumpuni sehingga belum mengetahui tahap-tahap pembelajaran artikulasi, dalam hal ini tahap-tahap pembelajaran masing-masing konsonan. Belum membuat rencana program pembelajaran artikulasi sesuai dengan tahap-tahap perkembangan masing-masing konsonan apakah mulai dari yang termudah ke yang sulit atau sebaliknya. Upaya yang dilakukan guru adalah karena waktu hanya beberapa jam saja disekolah maka guru bekerjasama dengan orangtua, guru memberikan Pekerjaan Rumah sesuai dengan materi, guru berupaya berdiskusi dengan expert yang lain agar mendapatkan informasi keilmuan untuk meningkatkan pembelajaran artikulasi dalam mengembangkan pengucapan bilabial.
Baca lebih lanjut

34 Baca lebih lajut

PENGGUNAAN MEDIA HARMONIKA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN ARTIKULASI KONSONAN BILABIAL “P” ANAK TUNARUNGUDI SLB-B SUMBERSARI - BANDUNG.

PENGGUNAAN MEDIA HARMONIKA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN ARTIKULASI KONSONAN BILABIAL “P” ANAK TUNARUNGUDI SLB-B SUMBERSARI - BANDUNG.

Harmonika adalah salah satu alat musik tiup yang cukup mudah untuk digunakan, harmonika bisa menghasilkan suara dengan cara meniupkan udara dari mulut ke harmonika ataupun dengan cara menghirup udara dari harmonika, karena pernafasan berkaitan dengan mengirup dan mengeluarkan udara baik itu dari hidung ataupun dari mulut, begitupun dengan pengartikulasian suara yang membutuhkan pernafsan yang sempurna sehingga artikulasi dapat dihasilkan dengan baik, oleh karena itu peneliti mencoba untuk menggunakan harmonika sebagai media latihan pernafasan anak tunarunggu. Sesuai dengan penjelasan tersebut, maka kerangka berfikir dalam penelitian ini adalah jika harmonika digunakan sebagai media tiup dalam latihan artikulasi maka akan terjadi peningkatan kemampuan artikulasi anak tunarungu dalam pengar tikulasian konsonan bilabial “p” .
Baca lebih lanjut

52 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  Pemanfaatan Lipstick Sebagai Media Pembelajaran Untuk Meningkatkan Kemampuan Melafalkan Konsonen /s/ Pada Anak Tunarungu Wicara Kelas III B si SDLB YRTRW Surakarta Tahun Ajaran 2011/2012.

PENDAHULUAN Pemanfaatan Lipstick Sebagai Media Pembelajaran Untuk Meningkatkan Kemampuan Melafalkan Konsonen /s/ Pada Anak Tunarungu Wicara Kelas III B si SDLB YRTRW Surakarta Tahun Ajaran 2011/2012.

Proses pembelajaran melalui media lipstick dalam hal ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan melafalkan konsonan /s/. Konsonan /s/ memiliki tingkat kesulitan yang berbeda dari beberapa konsonan lain. Hal ini disebabkan lemahnya dasar pengucapan konsonan /s/ yang terletak pada ujung lidah dan lengkungan kaki gigi bawah sehingga menyebabkan anak tunarungu wicara mengalami kesulitan dalam melafalkan bunyi konsonan. Alasan memilih konsonan /s/ sebagai tindakan untuk meningkatkan kemampuan melafalkan melalui media lipstick, yaitu tingkat melafalkan konsonan /s/ pada anak tunarungu yang cenderung lemah karena pengaruh faktor labial, pengaruh kesehatan alat ucap dan pengaruh proses pernafasan. Kelemahan melafalkan konsonan /s/ karena pengaruh faktor labial diperbaiki melalui latihan gerak bibir dengan bantuan lipstick sebagai media terapi wicara. Labial merupakan penyempitan jarak antara bibir atas dan bibir bawah ketika proses melafalkan konsonan /s/ berlangsung.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

PEMANFAATAN LIPSTICK SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MELAFALKAN KONSONAN  Pemanfaatan Lipstick Sebagai Media Pembelajaran Untuk Meningkatkan Kemampuan Melafalkan Konsonen /s/ Pada Anak Tunarungu Wicara Kelas III B si SDLB YRTRW Sur

PEMANFAATAN LIPSTICK SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MELAFALKAN KONSONAN Pemanfaatan Lipstick Sebagai Media Pembelajaran Untuk Meningkatkan Kemampuan Melafalkan Konsonen /s/ Pada Anak Tunarungu Wicara Kelas III B si SDLB YRTRW Sur

Penelitian ini memiliki tujuan, yaitu menggali pemanfaatan media lipstick untuk meningkatkan kemampuan melafalkan konsonan /s/ pada anak tunarungu wicara kelas III B di SDLB YRTRW Surakarta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Objek penelitian ini adalah materi kemampuan melafalkan konsonan /s/ melalui media lipstick pada anak tunarungu wicara (ATR), sumber data yang diperoleh, yaitu media lipstick dalam meningkatkan pemahaman melafalakan konsonan /s/ pada anak tunarungu wicara kelas III B di SDLB YRTRW Surakarta, teknik analisis yang digunakan berupa teknik analisis induktif, diperoleh dari penelitian hasil wawancara, angket, dan pengamatan (observasi), kemudian dianalisis secara sistematis dan selanjutnya menjadi hipotesis. Penelitian ini memiliki kesimpulan bahwa proses pelafalan fonem /s/ melalui media lipstick dilakukan dengan empat tahap, yaitu (1) kondisi awal, siklus pertama, siklus kedua, dan siklus ketiga, (2) pelaksanaan PBM melafalkan konsonan /s/ melalui media lipstick pada kondisi awal belum efektif secara penuh tetapi pihak peneliti dan guru mengambil inisiatif menggunakan media OHP untuk memperlihatkan gambar jenis kosakata yang dipilih, yaitu sepeda, sawah, sapu, dan sapi, namun hasilnya kurang memuaskan atau belum mampu mencapai target tujuan pembelajaran, (3) pelaksanaan siklus pertama peran media lipstick terhadap kegiatan PBM melafalkan konsonan /s/ masih juga kurang berjalan efektif. Hal ini disebabkan oleh pemakaian lipstick guru kurang memenuhi standar yang ditetapkan sehingga keaktifan peserta didik ATR dalam menatap bibir guru maupun ketika proses pelafalan fonem /s/ berlangsung kurang memahami, (4) pelaksanaan siklus kedua dan ketiga peran media lipstick dapat mempengaruhi peningkatan kemampuan melafalkan konsonan /s/ pada peserta didik ATR, meskipun masih terdapat dua peserta didik yang belum mampu melafalkan konsonan /s/ dengan benar dan jelas artikulasinya. Pemaparan tersebut didasarkan pada hasil identifikasi kemampuan melafalkan konsonan /s/ melalui media lipstick pada siklus kedua dan ketiga.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

PENERAPAN METODE MULTISENSORI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGUCAPAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA PADA ANAK TUNARUNGU - repository UPI S PKH 1105350 Title

PENERAPAN METODE MULTISENSORI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGUCAPAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA PADA ANAK TUNARUNGU - repository UPI S PKH 1105350 Title

Yunia Sri Hartanti, 2015 PENERAPAN METODE MULTISENSORI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGUCAPAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA PADA ANAK TUNARUNGU Universitas Pendidikan Indonesia | repos[r]

4 Baca lebih lajut

PENERAPAN METODE MULTISENSORI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGUCAPAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA PADA ANAK TUNARUNGU.

PENERAPAN METODE MULTISENSORI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGUCAPAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA PADA ANAK TUNARUNGU.

Anak tunarungu secara lahiriah tidak berbeda dengan anak pada umumnya, akan tetapi akibat dari keterbatasan dalam pendengaran yang dialami anak tunarungu berimplikasi tehadap perkembangan bicara dan berbahasanya. Hal ini disebabkan karena kemampuan pengucapan kosakata anak tunarungu kurang begitu jelas. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pengucapan kosakata bahasa indonesia pada anak tunarungu melalui penerapan metode Multisensori yang pada penelitian ini mencakup tiga aspek indera penangkap yaitu, visual, kinestetik, dan taktil di SD Negeri Sabajaya II Karawang. Pengajaran bahasa Indonesia di sekolah luar biasa pada anak tunarungu cenderung lebih mengarah pada peningkatan kemampuan siswa dalam memahami kosakata Bahasa Indonesianya saja tanpa memperbaiki cara pengucapan kosakata yang salah yang dilakukan oleh peserta didik. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu Single Subject Research dengan pola desain A-B-A yang dilakukan pada subjek penelitian selama 16 sesi. Data yang sudah terkumpul kemudian diolah dan di analisis. Berdasarkan hasil penelitian terdapat peningkatan skor dari fase baseline-1 (A1), fase intervensi (B), dan baseline-2 (A2). Hal ini menunjukan bahwa metode multisensori dapat meningkatkan kemampuan pengucapan kosakata Bahasa Indonesia pada anak tunarungu, dengan demikian metode multisensori ini dapat direkomendasikan untuk menjadi metode yang digunakan dalam proses pembelajaran.
Baca lebih lanjut

51 Baca lebih lajut

PENERAPAN METODE MATERNAL REFLEKTIF DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBAHASA ANAK TUNARUNGU (Studi eksperimen pada anak tunarungu kelas 3 SDLB di SLB BC Al Barkah Garut) - repository UPI S PLB 1105643 Title

PENERAPAN METODE MATERNAL REFLEKTIF DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBAHASA ANAK TUNARUNGU (Studi eksperimen pada anak tunarungu kelas 3 SDLB di SLB BC Al Barkah Garut) - repository UPI S PLB 1105643 Title

PENERAPAN METODE MATERNAL REFLEKTIF DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBAHASA ANAK TUNARUNGU Studi eksperimen pada anak tunarungu kelas 3 SDLB di SLB Al Barkah Garut SKRIPSI Diajuka[r]

2 Baca lebih lajut

PEMBELAJARAN ARTIKULASI DALAM MENGEMBANGKAN KONSONAN BILABIAL PADA ANAK TUNARUNGU KELAS III SLB AL-FITHRI KABUPATEN BANDUNG - repository UPI S PLB 1106482 Title

PEMBELAJARAN ARTIKULASI DALAM MENGEMBANGKAN KONSONAN BILABIAL PADA ANAK TUNARUNGU KELAS III SLB AL-FITHRI KABUPATEN BANDUNG - repository UPI S PLB 1106482 Title

Jeane Maria T., 2015 PEMBELAJARAN ARTIKULASI DALAM MENGEMBANGKAN KONSONAN BILABIAL PADA ANAK TUNARUNGU KELAS III SLB AL-FITHRI KABUPATEN BANDUNG Universitas Pendidikan Indonesia | r[r]

3 Baca lebih lajut

S PLB 1004921 Table of content

S PLB 1004921 Table of content

vii Kusdarini, 2014 Penerapan Metode Phonetik Placement untuk Meningkatkan Kemampuan Mengucap Konsonan Bilabial/M/ pada Anak Tunarungu Universitas Pendidikan Indonesia | repository.[r]

4 Baca lebih lajut

S PLB 1004921 Bibliography

S PLB 1004921 Bibliography

61 Kusdarini, 2014 Penerapan Metode Phonetik Placement untuk Meningkatkan Kemampuan Mengucap Konsonan Bilabial/M/ pada Anak Tunarungu Universitas Pendidikan Indonesia | repository.u[r]

2 Baca lebih lajut

S PKH 1105350 Chapter1

S PKH 1105350 Chapter1

Metode dan pendekatan yang digunakan dalam mengaplikasikan teknik-teknik bicara sudah banyak dilaksanakan dengan tujuan keberhasilan dalam pembinaan, sehingga anak tunarungu mampu berbicara walaupun ia tidak mendengar, ia mampu mengaplikasikannya dalam proses belajar untuk kepentingan kehidupannya. Bicara pada hakikatnya merupakan wujud berbahasa secara lisan (verbal), dengan berbahasa lisan sebagai hasil binaan, anak tunarungu diharapkan mampu berkomunikasi secara lisan dengan teman, keluarga ataupun orang lain yang mendengar, yang berada di lingkungannya. Dengan demikian bina bicara harus diupayakan melalui pendekatan dan teknik-teknik bicara yang efektif dan bermakna bagi anak dan dijadikan prioritas dalam pelaksanaannya. Teknik-teknik mengajar yang lebih memudahkan guru dalam melaksanakannya dan memudahkan anak dalam memahami apa yang diajarkan (Sadja’ah, 2013, hlm. 141)
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

S PKH 1105350 Abstract

S PKH 1105350 Abstract

Anak tunarungu secara lahiriah tidak berbeda dengan anak pada umumnya, akan tetapi akibat dari keterbatasan dalam pendengaran yang dialami anak tunarungu berimplikasi tehadap perkembangan bicara dan berbahasanya. Hal ini disebabkan karena kemampuan pengucapan kosakata anak tunarungu kurang begitu jelas. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pengucapan kosakata bahasa indonesia pada anak tunarungu melalui penerapan metode Multisensori yang pada penelitian ini mencakup tiga aspek indera penangkap yaitu, visual, kinestetik, dan taktil di SD Negeri Sabajaya II Karawang. Pengajaran bahasa Indonesia di sekolah luar biasa pada anak tunarungu cenderung lebih mengarah pada peningkatan kemampuan siswa dalam memahami kosakata Bahasa Indonesianya saja tanpa memperbaiki cara pengucapan kosakata yang salah yang dilakukan oleh peserta didik. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu Single Subject Research dengan pola desain A-B-A yang dilakukan pada subjek penelitian selama 16 sesi. Data yang sudah terkumpul kemudian diolah dan di analisis. Berdasarkan hasil penelitian terdapat peningkatan skor dari fase baseline-1 (A1), fase intervensi (B), dan baseline-2 (A2). Hal ini menunjukan bahwa metode multisensori dapat meningkatkan kemampuan pengucapan kosakata Bahasa Indonesia pada anak tunarungu, dengan demikian metode multisensori ini dapat direkomendasikan untuk menjadi metode yang digunakan dalam proses pembelajaran.
Baca lebih lanjut

3 Baca lebih lajut

S PLB 1106669 Abstract

S PLB 1106669 Abstract

Anak tunarungu adalah anak yang mengalami gangguan pendengaran. Dengan kurang berfungsinya indera pendengaran tersebut, maka anak tunarungu tidak mengalami perkembangan atau pemerolehan bahasa seperti halnya yang terjadi pada anak mendengar, sehingga mereka mengalami hambatan dalam berkomunikasi dan keterbatasan kemampuan berbahasa.Salah satu kemampuan berbahasa yang harus dikuasai anak tunarungu adalah membaca. Oleh karena itu, perlu adanya sebuah metode yang dapat meningkatkan kemampuan membaca pemahaman pada anak tunarungu. Salah satu metode yang dapat diterapkan adalah Metode Maternal Reflektif (MMR), yaitu sebuah metode bahasa yang menggunakan percakapan sebagai kegiatan utamanya. Permasalahan yang ingin diungkap dalam penelitian ini adalah: “ Apakah penerapan Metode Maternal Reflektif dapat meningkatkan kemampuan membaca pemahaman pada anak tunarungu kelas D2 di SLB Al- Fithri Kabupaten Bandung?”Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan membaca pemahaman siswa kelas D2 SLB Al-Fithri Kabupaten Bandung sebelum dan sesudah diterapkan Metode Maternal Reflektif.Penelitian inimenggunakanmetodedenganpendekatan kuantitatif, yaitumelalui metode single subject researchmodel desain A-B-A, yaitu A-1 (Baseline 1), B (Intervensi), A-2 (Baseline 2).Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes tertulis dengan menggunakan instrumen bacaan dan soal tertulis.Setelah dilakukan pengolahan data, diperoleh hasil penelitian yang menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kemampuan membaca siswa sebelum dan sesudah diberi perlakuan dengan menggunakan Metode Maternal Reflektif.Dengandemikian, penerapanMetode Maternal Reflektifdapatmeningkatkan kemampuan membaca pemahaman pada anak tunarungu kelas D2 SLB Al-Fithri Kabupaten Bandung.Penulis menyarankan agar guru-guru di SLB Al-Fithri Kabupaten Bandung dapat menerapkan Metode Maternal Reflektif sebagai salah satu metode dalam pembelajaran bahasa Indonesia di kelas.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

PENERAPAN METODE DEMONSTRASI DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS KALIMAT SEDERHANA PADA SISWA TUNARUNGU.

PENERAPAN METODE DEMONSTRASI DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS KALIMAT SEDERHANA PADA SISWA TUNARUNGU.

Dari hasil pengamatan peneliti selama studi pendahuluan, anak sudah dapat membaca dan menulis tetapi anak belum memahami cara penulisan kalimat dengan menggunakan struktur kalimat yang benar, hal ini dapat dilihat ketika anak diberi tugas untuk menuliskan karangan berdasarkan gambar dengan pilihan kata dan kalimat yang benar, anak belum dapat menuliskannya dengan benar, anak belum dapat memahami maksud dari gambar yang diperlihatkan secara jelas, selain itu anak belum memahami bahwa dalam membuat sebuah kalimat ada struktur kalimat yang harus selalu diperhatikan. Dengan kondisi seperti itu, peneliti berharap dapat meningkatkan kemampuan anak tunarungu dalam menulis kalimat dengan menggunakan struktur kalimat yang benar berdasarkan apa yang dilihatnya, dengan cara memberikan intervensi dengan menggunakan metode demonstrasi. Yang dimaksud metode demonstrasi disini adalah cara memperagakan suatu kegiatan yang disertai dengan sistem komunikasi verbal dan nonverbal. Komunikasi verbal yang disertakan pada demonstrasi ini dilakukan dengan tujuan agar anak memahami makna kalimat itu sendiri melalui pengalaman, menyimak, mendengarkan, membaca dan berbicara, yang pada akhirnya anak dapat menuliskannya, sedangkan komunikasi non verbal dilakukan dengan menggunakan sistem bahasa isyarat yang dapat dipahami oleh anak.
Baca lebih lanjut

52 Baca lebih lajut

S PLB 1106482 Bibliography

S PLB 1106482 Bibliography

Jeane Maria T., 2015 PEMBELAJARAN ARTIKULASI DALAM MENGEMBANGKAN KONSONAN BILABIAL PADA ANAK TUNARUNGU KELAS III SLB AL-FITHRI KABUPATEN BANDUNG Universitas Pendidikan Indonesia | r[r]

2 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...