Top PDF Penerimaan Diri Pada Orangtua Yang Memiliki Anak Skizofrenia (Sebuahinterpretativephenomenological Analysis)

Penerimaan Diri Pada Orangtua Yang Memiliki Anak Skizofrenia (Sebuahinterpretativephenomenological Analysis)

Penerimaan Diri Pada Orangtua Yang Memiliki Anak Skizofrenia (Sebuahinterpretativephenomenological Analysis)

Penelitian ini bertujuan untuk memahami gambaran penerimaan diri pada orangtua dari penderita skizofrenia. Pendekatan fenomenologis dalam penelitian ini menggunakan metode analisis IPA (Interpretative Phenomenological Analysis ) dan proses pengumpulan data menggunakan wawancara. Subjek yang terlibat dalam penelitian ini adalah empat orangtua kandung dari penderita, anak telah menderita skizofrenia selama lima tahun sejak didiagnosa dan memiliki riwayat kekambuhan. Temuan dari penelitian ini adalah penerimaan diri pada orangtua ditandai dengan penerimaan orangtua terhadap keadaan anaknya yang menderita skizofrenia serta adanya sikap positif terhadap permasalahan yang dihadapinya. Subjek melewati tiga tahap penerimaan, yaitu 1) penawaran, 2) marah, 3) menerima. Proses penerimaan diri pada orangtua berawal dari 1)kesadaran terhadap keadaan anak, 2) penilaian terhadap anak, 3) penemuan permasalahan, berupa situasi sulit saat anak kambuh, 4) penilaian atau sikap dari orang lain terhadap kondisi anak, 5) penerimaan. Faktor yang turut mempengaruhi penerimaan diri subjek adalah wawasan sosial, wawasan diri, religiusitas serta dukungan dari orang terdekat.
Baca lebih lanjut

6 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA PENERIMAAN ORANGTUA DAN TINGKAT INTERAKSI SOSIAL ANAK AUTIS

HUBUNGAN ANTARA PENERIMAAN ORANGTUA DAN TINGKAT INTERAKSI SOSIAL ANAK AUTIS

hasil dari pengalaman mereka dengan orangtua dan orang dewasa lainnya yang membuat kasih sayang mereka bersyarat di masa awal kanak-kanak. Artinya, anak belajar bahwa penerimaan mereka bergantung pada pembentukan perilaku dengan cara tertentu dan mengekspresikan emosi hanya dengan ekspresi tertentu. Ketika kasih sayang dan cinta tampak bersyarat, anak memunculkan dorongan dan perasaan negatif, dan konsep diri dan kepercayaan diri mereka menjadi terdistorsi/ menyimpang (Rogers dalam Karen, Verno & Vernoy, 2000). Orangtua yang menolak anak tidak mampu membangun serta melestarikan hubungan baik dengan anak tersebut. Kegagalan orangtua dalam menunjukan penerimaan pada anak mereka menyebabkan anak menjadi kurang percaya diri dan memandang diri mereka tidak berharga sehingga anak memilih untuk menutup diri dari lingkungannya dan menghambat perkembangan anak secara sosial.
Baca lebih lanjut

114 Baca lebih lajut

Pengaruh Religiusitas terhadap Penerimaan Diri Orangtua Anak Autis di Sekolah Luar Biasa XYZ

Pengaruh Religiusitas terhadap Penerimaan Diri Orangtua Anak Autis di Sekolah Luar Biasa XYZ

tua dari anak autis di SLB XYZ di Bekasi. Setiap orang tua menginginkan anaknya dapat lahir dan tumbuh secara sempurna, namun ketika kenyataan yang harus dihadapi tidak sesuai dengan harapan, seringkali orang tua menyalahkan Tuhan dan tidak mau menerima keadaan anaknya. Penerimaan diri (self acceptance) adalah sikap yang pada dasarnya merasa puas dengan milik sendiri, kualitas dan bakat sendiri, dan pengakuan akan keterbatasan diri sendiri, sikap yang menunjukkan rasa puas terhadap dirinya, baik kekurangan maupun kelebihannya, sehingga dapat membentuk harapan yang realistic terhadap dirinya dan menghargai dirinya sendiri. Religiusitas adalah seberapa jauh pengetahuan, seberapa kokoh keyakinan, seberapa tekun pelaksanaan ibadah, seberapa dalam penghayatan agama yang dianut seseorang dan pengalaman individu dalam beribadah. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif, pegumpulan data dilakukan menggunakan skala religiusitas dan penerimaan orang tua. Sampel pada penelitian ini adalah 80 orangtua pada anak autis di SLB XYZ. Penelitian ini menggunakan teknik accidental sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh antara Religiusitas dan Penerimaan diri orangtua. Hal ini ditunjukkan dengan hasil (R = 0,382) dengan nilai adjusted R square = 0,146 dan p = 0,000 di mana p < 0,05) artinya, semakin tinggi religiusitas pada orang tua maka semakin tinggi penerimaan diri orangtuanya. Kata Kunci ± Religiusitas, Penerimaan Diri, Autis
Baca lebih lanjut

8 Baca lebih lajut

PARENT EFFECTIVENESS TRAINING UNTUK MENINGKATKAN PENERIMAAN ORANGTUA TERHADAP ANAK TUNADAKSA

PARENT EFFECTIVENESS TRAINING UNTUK MENINGKATKAN PENERIMAAN ORANGTUA TERHADAP ANAK TUNADAKSA

Gambaran diatas merupakan contoh kurangnya penerimaan orangtua terhadap anak, jika hal ini dibiarkan maka perkembangan psikologis anak tentunya tidak akan dapat berkembang secara optimal. Pada anak yang normal, tentunya tidak akan mengalami kendala yang berarti dalam menguasai tugas perkembangan subjek, namun tidak demikian halnya pada anak- anak tuna daksa, adanya kekurangan fisik/ kecacatan yang mereka alami tentunya membuat mereka tidak dapat memenuhi tugas perkembangan mereka secara optimal. Adanya penolakan dari orang tua tentu dapat membuat perkembangan anak tunadaksa semakin terhambat baik secara fisik maupun psikologis. Penerimaan orang tua yang secara tulus ditunjukkan kepada anak tunadaksa sangatlah berarti, dengan adanya penerimaan dari orangtua maka anak tunadaksa akan merasa dicintai. Menerima anak tunadakasa sebagaimana adanya sesungguhnya merupakan tindakan yang penuh cinta kasih, dengan merasa diterima maka anak akan merasa dicintai. Rasa dicintai dapat mendorong perkembangan jiwa dan raga dan merupakan kekuatan terapeutis paling efektif untuk memperbaiki kerusakan psikologis maupun fisik (Gordon, 2009).
Baca lebih lanjut

33 Baca lebih lajut

HUBUNGAN ANTARA PENERIMAAN ORANGTUA DENGAN SIBLING RIVALRY PADA ANAK YANG MEMILIKI SAUDARA KANDUNG PENDERITA AUTIS - Unika Repository

HUBUNGAN ANTARA PENERIMAAN ORANGTUA DENGAN SIBLING RIVALRY PADA ANAK YANG MEMILIKI SAUDARA KANDUNG PENDERITA AUTIS - Unika Repository

HUBUNGAN ANTARA PENERIMAAN ORANGTUA DENGAN SIBLING RIVALRY PADA ANAK YANG MEMILIKI SAUDARA KANDUNG PENDERITA AUTIS Skripsi Diajukan kepada Fakultas Psikologi Universitas Katolik So[r]

16 Baca lebih lajut

STUDI FENOMENOLOGIS TENTANG PENERIMAAN ORANGTUA TERHADAP ANAK AUTIS DI SLB NEGERI SEMARANG

STUDI FENOMENOLOGIS TENTANG PENERIMAAN ORANGTUA TERHADAP ANAK AUTIS DI SLB NEGERI SEMARANG

Diperoleh empat informan yang menyatakan bahwa untuk mengatasi perilaku hiperaktif anak yang tidak terkendali, mereka akan mengatasinya dengan cara melakukan diit secara ketat terhadap makanan yang menjadi makanan pantangan bagi anakanak autis pada umumnya. Pada anak autis disarankan untuk tidak mengkonsumsi produk makanan yang berbahan dasar gluten dan kasein (gluten adalah campuran protein yang terkandung pada gandum, sedangkan kasein adalah protein susu). Jenis bahan tersebut mengandung protein tinggi dan tidak dapat dicerna oleh usus menjadi asam amino tunggal, sehingga pemecahan protein menjadi tidak sempurna dan berakibat menjadi neurotoksin (racun bagi otak). (Danuatmaja, 2003)
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

GAMBARAN PROSES PENERIMAAN DIRI IBU YANG MEMILIKI ANAK DISLEKSIA

GAMBARAN PROSES PENERIMAAN DIRI IBU YANG MEMILIKI ANAK DISLEKSIA

Berdasarkan hasil penelitian, fase yang dominan dialami oleh para partisipan adalah depression.Keadaan ini disebabkan karena sejak masa kehamilan mereka membangun harapan yang positif untuk anaknya. Mahabbati (2009) meyebutkan bahwa pada umumnya ibu memiliki harapan yang positif mengenai anak yang dilahirkan. Kenyataannya, anaknya di diagnosa disleksia dan membuat harapan mereka menjadi runtuh. Adanya perbedaan antara harapan dan realita membuat ibu merasa tertekan hingga menjadi putus asa. Mahoney dkk (dalam Pujaningsih, 2006) menjelaskan bahwa orangtua yang memiliki anak berkebutuhan khusus akan mengalami tekanan yang lebih besar. Tekanan ini dikarenakan mereka mengalami perubahan aktivitas secara mendadak. Bernard (2013) juga mengatakan ibu yang mengetahui bahwa dirinya memiliki anak berkebutuhan khusus akan berdampak pada aktivitasnya sehari-hari dan memandang hidup tidak memiliki masa depan.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

PENYELESAIAN KONFLIK ANTAR ANAK YANG MEMILIKI ORANGTUA TEMPERAMENTAL DALAM HUBUNGAN INTERPERSONAL (Studi Kualitatif Penyelesaian Konflik Antar Anak Usia 3-6 Tahun yang Memiliki Orangtua Temperamental di Baby Smile School Wiyung Surabaya)

PENYELESAIAN KONFLIK ANTAR ANAK YANG MEMILIKI ORANGTUA TEMPERAMENTAL DALAM HUBUNGAN INTERPERSONAL (Studi Kualitatif Penyelesaian Konflik Antar Anak Usia 3-6 Tahun yang Memiliki Orangtua Temperamental di Baby Smile School Wiyung Surabaya)

Orang tua mempunyai peran yang sangat penting agar anak memiliki teman dalam rangka membantu perkembangan sosialnya. Anak sangat membutuhkan orang tua yang berperan aktif untuk membantunya mempersiapkan diri berinteraksi dengan orang lain atau teman sebayanya dengan cara membina hubungan yang baik dengan anak, yaitu hubungan yang didasari kasih sayang, penerimaan, dan hangat. Orangtua juga dapat menjadi model yang baik bagi anak karena akan melihat dan mencontoh bagaimana orangtuanya berinteraksi dengan dirinya dan orang lain. (chancy dan Fugate, 2007).
Baca lebih lanjut

16 Baca lebih lajut

PENERIMAAN ORANG TUA YANG MEMILIKI ANAK TUNA GANDA

PENERIMAAN ORANG TUA YANG MEMILIKI ANAK TUNA GANDA

Menurut Efendi (2006), keengganan menerima situasi seperti itu sering disertai perasaan menyalahkan diri sendiri atau menyalahkan si anak. Pada akhirnya, sikap seperti itu mungkin menyebabkan sikap penolakan, karena anak itu menjadi ancaman bagi kebutuhan orangtua akan perbaikan diri. Banyak keluarga yang secara drastis mengubah cara hidup mereka karena kehadiran anak yang cacat di dalam keluarga dan hampir sama sekali menarik diri dari kegiatan-kegiatan masyarakat. Dalam situasi demikian anak mungkin akan menyadari bahwa dia adalah penyebabnya. Hal ini akan memberikan efek psikologis yang muncul akibat dari rejection orang tua atau keluarga, yaitu timbulnya perasaan tidak aman, tidak percaya
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Pelatihan “Orangtua Sadar” Untuk Meningkatkan Psychological Well-being Pada Orangtua Yang Memiliki Anak Usia Remaja

Pelatihan “Orangtua Sadar” Untuk Meningkatkan Psychological Well-being Pada Orangtua Yang Memiliki Anak Usia Remaja

Pengasuhan orangtua terhadap anak usia remaja dipengaruhi kondisi psychological well-being (PWB) orangtua. Penelitian ini berupa pelatihan untuk orangtua yang memiliki anak usia remaja. Program “Orangtua SADAR” (Sayang dan Reflektif) menggunakan konsep mindful parenting untuk meningkatkan psychologicalwell-being pada orangtua yang memiliki anak remaja. psychological well-being diukur dengan Ryff’s Scales of Psychological Well-Being (RPWB) yaitu skala pengukuran psikologis dengan 23 item pernyataan dan reliabilitas alpha 0,806. Karateristik partisipan pelatihan adalah orangtua dengan anak remaja baik ayah dan ibu atau salah satu yang bersedia mengikuti pelatihan,memiliki kondisi psychological well-being sedang ditandai dengan munculnya semua atau salah satu ciri sebagai berikut yaitu kurang mampu menerima kondisi saat ini, hubungan negatif dengan orang lain, tidak yakin terhadap kemampuan anak, tidak memiliki tujuan hidup, perkembangan pribadi atau diri sendiri terhambat, dan tidak mampu mengontrol lingkungan pengasuhan di tunjukkan dengan munculnya beberapa perilaku terhadap perkembangan anak usia remaja. Adapun criteria lain, pendidikan orangtua minimal SMA, mereka bertempat tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta, dan pengukuran awal menunjukkan nilai psychological well-being sedang.Jumlah partisipan dalam penelitian ini sebanyak 8 orangtua pada kelompok eksperimen dan 5 orangtua pada kelompok kontrol. Metode yang digunakan adalah metode kuasai eksperimen dengan untreated control group design with dependent pretest and posttest samples. Program terdiri dari 12 sesi pelatihan dan 1 sesi follow up . Analisis data kuantitatif menggunakan nonparametrik Mann Whitney Test (U test). Analisis data kualitatif dari hasil observasi, wawancara, dan analisis buku harian. Hasil analisis kuantitaif gain score kelompok eksperimen dan kontrol menunjukkan ada perbedaan signifikan yaitu nilai U = -2,304 dengan p = 0,021 (p<0,05). Hasil kualitatif menunjukkan perkembangan partisipan setelah mengikuti pelatihan “Orangtua SADAR” mengalami peningkatan pada aspek-aspek psychological well-being. Orangtua melaporkan terjadi peningkatan pada aspek-aspek tertentu yaitu, hubungan positif orang tua dan anak, otonomi atau kemandirian dalam pengasuhan, memiliki tujuan hidup yang di implementasikan dalam pengasuhan, dan penerimaan kondisi diri dan anak.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

PENYELESAIAN KONFLIK ANTAR ANAK YANG MEMILIKI ORANGTUA TEMPERAMENTAL DALAM HUBUNGAN INTERPERSONAL (Studi Kualitatif Penyelesaian Konflik Antar Anak Usia 3-6 Tahun yang Memiliki Orangtua Temperamental di Baby Smile School Wiyung Surabaya).

PENYELESAIAN KONFLIK ANTAR ANAK YANG MEMILIKI ORANGTUA TEMPERAMENTAL DALAM HUBUNGAN INTERPERSONAL (Studi Kualitatif Penyelesaian Konflik Antar Anak Usia 3-6 Tahun yang Memiliki Orangtua Temperamental di Baby Smile School Wiyung Surabaya).

Orangtua dan keluarga, guru, dan teman sangat berperan dalam pencapaian perkembangan emosi-sosial yang baik pada masa kanak-kanak awal. Relasi awal dengan orangtua merupakan pondasi dicapainya kompetensi sosial dan hubungan dengan teman. Orangtua harus berinteraksi dengan menunjukkan kasih sayang, memahami perasaan anak, memahami keinginan dan kebutuhannya, mengekspresikan minat anak dalam aktivitas sehari-hari, bangga atas pencapaian anak, memberi semangat dan dukungan saat anak mengalami masalah (stres). Guru, sama halnya dengan orangtua, harus menunjukkan relasi yang hangat dan responsif, keterikatan yang konsisten, terlebih anak mulai menghabiskan banyak waktunya dengan guru (dikelas-kelas playgroup atau kelompok PAUD). Teman juga sangat berperan penting melalui hubungan pertemanan yang baik dan bermain bersama, dan penerimaan sebagai teman karena anak akan belajar bagaimana bekerja dalam kelompok dan bekerja sama dengan teman lain. Anak- Anak yang ditolak oleh teman-temannya akan berefek pada hambatan sosial dan prestasi belajar di sekolah. Dalam kondisi demikian, peran guru dan orangtua sangat penting untuk melakukan intervensi dalam rangka membantu anak-anak mengatasi hambatannya.
Baca lebih lanjut

92 Baca lebih lajut

PENGARUH FILM HELEN KELLER TERHADAP OPTIMISME ORANGTUA YANG MEMILIKI ANAK TUNANETRA.

PENGARUH FILM HELEN KELLER TERHADAP OPTIMISME ORANGTUA YANG MEMILIKI ANAK TUNANETRA.

Orangtua merupakan lingkungan terdekat dari seorang anak, begitu pula bagi anak tunanetra. Perlakuan dan pola asuh pada masa kanak-kanak akan menjadi faktor pembentuk kecenderungan pola pikir , sikap dan performa anak tunanetra. Hal tersebut oleh Martin Seligman disebut sebagai Explanatory Style Ibu, yaitu Explanatory Style seseorang yang ia peroleh dari ibunya, baik itu sifatnya positif maupun negatif. Intervensi dini pada anak tunanetra memang sangat penting, sebab akan membantu anak tunanetra memperoleh pelayanan dan pendidikan yang tepat. Namun yang sering dilupakan justru intervensi pada orangtua yang memiliki anak tunanetra, khususnya ibu. Sikap dan perlakuan orangtua pada anaknya yang tunanetra sangat ditentukan oleh pemahaman dan penerimaan ibu atas kondisi anaknya. Penerimaan ibu diperoleh dari pemahaman, dan pemahaman itu sendiri memerlukan informasi yang tepat dan kuat, serta mampu menggambarkan kondisi aktual orangtua menghadapi permasalahan yang dianggap dampak dari ketunanetraan anaknya. Untuk itu penelitian ini mengangkat judul “Pengaruh Film Helen Keller Terhadap Optimisme Orangtua yang Memiliki Anak Tunanetra”. penulis berharap dengan orangtua menonton film Helen Keller, mereka dapat memperoleh role model cara mengasuh dan mendidik anak tunanetra dengan baik dan tepat. Cerita film Helen Keller menurut hasil penelitian ini ternyata dapat menjadi sumber informasi yang teapat dan inspiratif bagi orangtua, terutama ibu. Hal ini dibuktikan dengan hasil tes sebelum dan sesudah pemberian intervensi yaitu menonton film Helen Keller bersama- sama, menunjukkan peningkatan optimisme orangtua. Dengan kata lain, intervensi pada orangtua yang memiliki anak tunanetra melalui media film Helen keller telah mampu meningkatkan optimisme orangtua, khususnya ibu.
Baca lebih lanjut

33 Baca lebih lajut

RESILIENSI PADA MAHASISWA YANG MEMILIKI ORANGTUA TUNGGAL.

RESILIENSI PADA MAHASISWA YANG MEMILIKI ORANGTUA TUNGGAL.

Salah satu lingkungan sekitar dari seorang mahasiswa adalah lingkungan keluarganya, terutama orangtua. Walaupun bukan lagi anak-anak, tetapi pada peralihan masa dewasa awal masih memerlukan penerimaan pola pengasuhan, empati, dan dukungan serta kelekatan pada orangtua merupakan bahan utama kesejahteraan (Papalia dan Feldman, 2014: 121). Namun, tidak semua mahasiswa memiliki orangtua yang lengkap, atau biasa disebut dengan orangtua tunggal. Fenomena orangtua tunggal tersebut dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu karena meninggal dunia atau perceraian. Hal ini menyebabkan tidak terpenuhinya kebutuhan mahasiswa dengan kondisi orangtua tunggal yang seharusnya didapatkan dari figur kedua orangtua yang lengkap.
Baca lebih lanjut

226 Baca lebih lajut

Self esteem orangtua yang memiliki anak penderita cerebral palsy

Self esteem orangtua yang memiliki anak penderita cerebral palsy

Sistematika penulisan skripsi merupakan cara untuk menyusun dan mengolah hasil penelitian dari data dan bahan yang disusun menurut urutan tertentu. Untuk memudahkan dan memahami isi secara keseluruhan tentang penulisan ini, maka akan disusun sistematika penulisan skripsi sebagai berikut: Bab pertama merupakan Pendahuluan, di dalamnya menguraikan tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan pustaka, metode penelitian dan sistematika penulisan. Bab dua ini membahas tentang landasan teoretik berisi tentang Faktor-faktor yang mempengaruhi self esteem pada orang tua yang memiliki anak penderita cerebral palsy (studi kasus di daerah Kelurahan Ngemplak Simongan Kecamatan Semarang Barat). Bab tiga berisi tentang deskripsi orang tua dan anak penderita cerebral palsy. Menguraikan tentang profil orang tua, profil anak penderita cerebral palsy, penerimaan awal orang tua ketika mengetahui anaknya didiagnosa mengalami cerebral palsy dan faktor yang mempengaruhi self esteem orang tua. Bab empat adalah analisis. Bab empat penulis menjabarkan analisis mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi self esteem orang tua yang mempunyai anak penderita cerebral palsy (Studi Kasus di Daerah Kelurahan Ngemplak Simongan Kecamatan Semarang Barat). Bab lima yang merupakan bab terakhir adalah bagian penutup. Berisi: kesimpulan, saran-saran, dan penutup sebagai kata akhir dalam penulisan skripsi .
Baca lebih lanjut

88 Baca lebih lajut

Coping Stres Suami Yang Memiliki Istri Skizofrenia

Coping Stres Suami Yang Memiliki Istri Skizofrenia

“Kadang abang berpikir, ditinggalkan nanti apa ada perubahan, gini- gini aja kayakmana sampe tua, anakku mau juga stres nanti yang tiga itu. Ha..liat situasi mamaknya. Orang kakak itu ngajari anaknya pun...pokoknya kelakuan dia tu dinampakkan sama anaknya, gak pande ngasi contoh yang baek sama anaknya, kayakmana dia...apa terang- terang aja sama anaknya. Gak dia eceknya ngomong yang jelek pun gak ada ditutupi, pokoknya gak ada apala sikitya, jangan terlalu apala ngomongnya sama anaknya. Contohnya laya, kalo kita sama anak- anakkan jangan terlalu apa, buang angin gitukan, sebagai orangtua keluar dulu, nanti dicontohnya pula. Kayak istilah itu guru kencing berdiri murid kencing berlari. Takutnya gitu nanti. Pokoknya kakak itu gak pande kasi contoh yang baik.”
Baca lebih lanjut

178 Baca lebih lajut

PROSES PENERIMAAN ORANG TUA YANG MEMILIKI ANAK TUNA RUNGU

PROSES PENERIMAAN ORANG TUA YANG MEMILIKI ANAK TUNA RUNGU

Menurut Safaria (2005) setiap orang tua pasti berbeda-beda reaksi emosionalnya waktu pertama kali mengetahui diagnosis anaknya. kebanyakan orang tua akan mengalami shock bercampur perasaan sedih, khawatir, cemas, takut, dan marah ketika pertama kali mendengar diagnosis mengenai gangguan yang dialami oleh anaknya. Begitu pula dengan orang tua yang anaknya mengalami gangguan tuna rungu. Perasaan tak percaya bahwa anaknya mengalami tuna rungu kadang- kadang menyebabkan orang tua mencari dokter lain untuk menyangkal diagnosis dokter sebelumnya, bahkan sampai beberapa kali berganti dokter untuk memastikan bahwa anaknya tidak mengalami kecacatan. Hal ini sangat memukul perasaan orang tua. Bagaimana tidak, anak yang sangat dicintainya harus menderita suatu gangguan yang menyebabkannya tidak berkembang secara kognitif, emosi, dan sosial sebagaimana anak-anak lainnya.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

PENYESUAIAN DIRI ORANGTUA DAN KEBERFUNGSIAN KELUARGA YANG MEMILIKI ANAK PENYANDANG AUTISME DI SAMARINDA

PENYESUAIAN DIRI ORANGTUA DAN KEBERFUNGSIAN KELUARGA YANG MEMILIKI ANAK PENYANDANG AUTISME DI SAMARINDA

Keluarga merupakan lingkungan yang paling pertama bagi sang anak dalam proses perkembangannya, termasuk bagi proses perkembangan moral anak. Keluarga yang paling tidak terdiri dari orangtua dan anak, harus mampu menjalankan peran dan fungsinya masing-masing dalam proses perkembangan anak, agar anak dapat tumbuh menjadi sosok yang sesuai dengan harapan keluarga dan masyarakat. Menurut Loutzenhiser (dalam Agustina, 2006), lingkungan keluarga yang seperti itu dikatakan sebagai family functioning (keberfungsian keluarga). Secara umum keberfungsian keluarga merujuk pada kualitas kehidupan keluarga, baik pada level sistem maupun subsistem, dan berkenaan dengan kesejahteraan, kompetensi, kekuatan, serta kelemahan keluarga (Shek, 2002). Keberfungsian keluarga dapat dinilai dari tingkat kelentingan (resiliency) atau kekukuhan (strength) keluarga dalam menghadapi berbagai tantangan.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Perbedaan Kemandirian Antara Remaja Yang Memiliki Orangtua Single Parent Dengan Remaja Yang Memiliki Orangtua Utuh.

Perbedaan Kemandirian Antara Remaja Yang Memiliki Orangtua Single Parent Dengan Remaja Yang Memiliki Orangtua Utuh.

Dengan orangtua yang tidak lengkap diharapkan anak lebih dapat mandiri dan dapat mengerti keadaan orangtua mereka. Disini anak diharapkan dapat lebih mengerti kondisi dan keadaan orangtua mereka sehingga anak dapat lebih cekatan, berani dan inisiatif dalam bertindak. Hidup dengan orangtua yang tidak lengkap lagi terlebih hanya ayah yang ada, anak diharapkan tidak menjadi putus asa atau menjadi minder bergaul dengan temannya. Anak harus dapat tetap maju dan memikirkan masa depannya. Walau hanya ayah yang ada, anak diharapkan tetap mau berbagi dengan ayahnya dan saling melengkapi dengan ayahnya. Misalnya hal hal kecil seperti pekerjaan rumah, tugas sekolah, masalah dengan teman dapat diatasi oleh anak sendiri tanpa terlalu membebani ayah, tetapi disaat anak tidak dapat mengatasi sendiri barulah si anak akan meminta bantuan ayah.
Baca lebih lanjut

145 Baca lebih lajut

Resiliensi pada istri yang memiliki suami skizofrenia

Resiliensi pada istri yang memiliki suami skizofrenia

Bapak, Ibu, dan Mas Andreas, Mbak Dyah, atas dukungan moral, finansial, kekuatan, motivasi, dan doa yang telah diberikan dari awal perkuliahan di Fakultas Psikolog[r]

19 Baca lebih lajut

Penerimaan diri pasangan suku Batak Toba yang tidak memiliki anak laki-laki.

Penerimaan diri pasangan suku Batak Toba yang tidak memiliki anak laki-laki.

Pada saat peneliti datang ke rumah ST sedang tidak berada di rumah karena mengikuti sebuah pertemuan anggota lingkungan gerejanya. Pada saat ST tiba di rumah, tampak mengenakan pakaian yang rapi yaitu baju blouse dan celana 7/8 berbahan kain. Informan ST menyalami peneliti dengan ramah dan meminta maaf atas keterlambatannya pulang ke rumah. Selama melakukan wawancara, ST beberapa kali berhenti sejenak sebelum menjawab pertanyaan- pertanyaan dari peneliti. Pada saat menjawab pertanyaan terkait adat budaya suku Batak Toba, ST memperlihatkan ketidaksetujuan dan kesedihannya terhadap prinsip yang selama ini ada tentang anak laki- laki dan anak perempuan. Hal ini terlihat dari nada bicara ST yang lebih keras dibanding saat menjawab pertanyaan lainnya. Saat pertanyaan mengenai jenis kelahiran anak bungsu, ST hening cukup lama dan matanya mulai berkaca-kaca. Setelah cukup lama diam, ST mulai bercerita namun dengan suara yang sedikit bergetar.
Baca lebih lanjut

353 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...

Related subjects