• Tidak ada hasil yang ditemukan

Abµ Hurairah

Dalam dokumen Erwin Hafid (Halaman 73-79)

ANAK USIA DINI

B. Kritik Hadis

6) Abµ Hurairah

Mu¥ammad.111

Abµ Zur’ah Menilainya £iqah,112 Al-‘Ijl³ menilainya £iqah.113 Ibn Sa’ad menilainya £iqah ulama Fikhi yang banyak meriwayatkan Hadis.114 Ibnu Hibb±n juga memasukkan sebagai rawi £iqah.115

d. Kritik Matan

Berikut matan hadis yang bersumber dari Kutub Tis’ah:

Sunan al-Tirim³©³

ِنِمْؤُمْلاِب ُءَلَبْلا ُلاَزَـي اَم

ِةَنِمْؤُمْلاَو ِهِلاَمَو ِهِدَلَوَو ِهِسْفَـن ِف ِهْيَلَع اَمَو َهَّللا ىَقْلَـي َّتَح

ٌةَئيِطَخ

Musnad A¥mad

ِوَأ ِنِمْؤُمْلاِب ُء َلَبْلا ُلاَزَـي َل .1

،ِةَنِمْؤُمْلا ِهِدَلَو ِفيَو ،ِهِلاَم ِفيَو ،ِهِدَسَج ِفي

ْنِم ِهْيَلَع اَمَو َللها ىَقْلَـي َّتَح

ٍةَئيِطَخ - ِنِمْؤُمْلاِب ُء َلَبْلا ُلاَزَـي َل .2

ِةَنِمْؤُمْلا ِوَأ ،ِهِدَلَوَو ،ِهِلاَمَو ،ِهِدَسَج ِفي اَمَو ،َّلَجَو َّزَع َهَّللا ىَقْلَـي َّتَح

ٍةَئيِطَخ ْنِم ِهْيَلَع

Dari 3 riwayat di atas maka ditemukan beberapa perbedaan.

Perbedaan matan hadis secara umum diantarannya ada beberapa riwayat yang mendahululkan lafal yang matan yang satu namun pada matan hadis yang lain mengakhirkan lafal tersebut.

Dari ke 3 riwayat diatas perbedaan secara umum adalah terletak pada:

Lafal awal matan yaitu pada riwayat al-Tirm³©³ menggunakan lafal m± sedangkan pada riwayat ahmad menggunakan lafal l±, namun antara m± dan l± mempunyai makna yang sama yakni menafikan (meniadakan).

Pada riwayat pertama menggunakan lafal ِهِسْفَـن ِف namun pada lafal kedua menggunakan lafal ِهِدَسَج ِفي yang mana makna keduanya sama.

Dan lafal setelahnya pada riwayat satu hanya menggunakan huruf ataf

waw sedangkan pada riwayat yang kedua disamping menggunakan huruf ataf menembahkan juga huruf jar ِفي .

Walaupun ada perbedaan redaksi di atas tapi tidak terjadi Inqil±b (pemutar balikan matan), juga tdidak ada Idr±j. (sisipan dalam matan hadis) yang biasanya terdapat dipertengahan matan hadis dan tidak ada pula ziy±dah. (tambahan dari perkataan perawi yang terpercaya) yang biasanya terletak di akhir matan.

Selanjutnya untuk membuktikan apakah kandungan matan hadis tersebut mengandung sy±© atau tidak, maka dari hasil kajian peneliti bahwa hadis ini tidak bertentangan dengan dalil yang lebih kuat seperti ayat-ayat al-Quran, bahkan terdapat ayat yang menjelaskan hal serupa sebagaimana dalam Q. S. al-Baqarah/2: 155-157.

ِسُفن َ ۡ

لٱَو ِلَٰوۡم َ ۡ

لٱ َنِّم ٖصۡقَنَو ِعوُ لٱَو ِفۡوَ ۡ ۡ

لٱ َنِّم ٖء ۡ َشِب مُكَّنَو ُلۡبَ َلنَو اَّنِإ ْآوُلاَق ٞةَبي ِصُّم مُهۡتَبٰ َصَأ ٓاَذِإ َنيِ َّلٱ ١٥٥ َنيِ ِبٰ َّصلٱ ِ ِّشَبَو ِۗتَٰرَمَّلثٱَو

ۖٞةَ ۡحَرَو ۡمِهِّبَّر نِّم ٞتَٰوَل َص ۡمِهۡيَلَع َكِئٰٓ َلْوُأ ١٥٦ َنوُعِجَٰر ِهۡ َلِإ ٓاَّنوَإِ ِ َِّلل ١٥٧ َنوُدَتۡهُم ۡ

لٱ ُمُه َكِئٰٓ َلْوُأَو

Terjemahnya:

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan:

“Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.122

Ayat di atas bermakna bahwa sesungguhnya Kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah Kami kembali. kalimat ini dinamakan kalimat istirjaa (pernyataan kembali kepada Allah). Disunatkan menyebutnya waktu ditimpa marabahaya baik besar maupun kecil.

Hadis ini juga sama sekali tidak bertentangan dengan hadis yang lebih sahih, bahkan didukung oleh beberapa hadis lain diantaranya:

122 Depag RI, al-Qur’an dan Terjemahnya, h. 39.

ٌريِرَج اَنَـثَّدَح ٌرْـيَهُز َلاَق ٍريِرَج ْنَع اًعيَِج َميِهاَرْـبِإ ُنْب ُقَحْسِإَو ٍبْرَح ُنْب ُرْـيَهُز اَنَـثَّدَح

َي ِهَو َةَشِئاَع ىَلَع ٍشْيَرُـق ْنِم ٌباَبَش َلَخَد َلاَق ِدَوْسَْلأا ْنَع َميِهاَرْـبِإ ْنَع ٍروُصْنَم ْنَع

ٍطاَطْسُف ِبُنُط ىَلَع َّرَخ ٌن َلُف اوُلاَق ْمُكُكِحْضُي اَم ْتَلاَقَـف َنوُكَحْضَي ْمُهَو ًنِِب

ِهَّللا َلوُسَر ُتْعَِس ِّنِإَف اوُكَحْضَت َل ْتَلاَقَـف َبَهْذَت ْنَأ ُهُنْـيَع ْوَأ ُهُقُـنُع ْتَداَكَف اَِب ُهَل ْتَبِتُك َّلِإ اَهَـقْوَـف اَمَف ًةَكْوَش ُكاَشُي ٍمِلْسُم ْنِم اَم َلاَق َمَّلَسَو ِهْيَلَع ُهَّللا ىَّلَص

123

ٌةَئيِطَخ اَِب ُهْنَع ْتَيُِمَو ٌةَجَرَد

Artinya:

Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb dan Ishaq bin Ibrahim seluruhnya dari Jarir. Zuhair berkata; Telah menceritakan kepada kami Jarir dari Manshur dari Ibrahim dari Al Aswad dia berkata; “Pada suatu hari, seorang pemuda Quraisy berkunjung kepada Aisyah, istri Rasulullah, ketika ia sedang berada di Mina.

Kebetulan saat itu para sahabat sedang tertawa, hingga Aisyah merasa heran dan sekaligus bertanya; ‘Mengapa kalian tertawa? ‘ Mereka menjawab; ‘Si fulan jatuh menimpa tali kemah hingga Iehernya (atau matanya) hampir lepas.’ Aisyah berkata; ‘Janganlah kalian tertawa terbahak-bahak! Karena sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau yang Iebih kecil dari itu, melainkan akan ditulis baginya satu derajat dan akan dihapus satu kesalahannya.’

Juga tidak bertentangan dengan akal sehat sebab banyak hikmah yang terkandung dalam sakit dan Musibah yang Allah timpakan kepada hambanya. Salah satunya adalah bahwa Sakit dan musibah merupakan pintu yang akan membukakan kesadaran seorang hamba bahwasanya ia sangat membutuhkan tuhannya. Sehingga ia akan selalu tergantung kepada Tuhannya. Hadis ini juga tidak bertentangan dengan fakta sejarah, sebagaimana dalam sebuah Hadis yang diriwayatkan oleh imam Bukh±r³ bahwa, Seorang tabi’in yang bernama ‘Abdull±h Ibn Mas’µd berkata:

“Saya pernah menjenguk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika sakit, sepertinya beliau sedang merasakan rasa sakit, kataku

123 Muslim bin al-¦ajj±j bin al-Muslim al-Qusyair³ al-N³s±bµr³, ¢a¥³¥ Muslim, Juz 4 (Beirut: D±r al-±faq, t. th), h. 1991.

selanjutnya; “Sepertinya anda sedang merasakan rasa sakit yang amat berat, oleh karena itulah anda mendapatkan pahala dua kali lipat.” Beliau menjawab: “Benar, tidaklah seorang muslim yang tertimpa musibah melainkan Allah akan menggugurkan kesalahan-kesalahannya sebagaimana pohon menggugurkan dedaunannya.” 124

Berdasarkan penelitian terhadap sanad dan matan hadis di atas peneliti berkesimpulan bahwa hadis ini memenuhi kriteria kesahihan sanad dan matan karena itu hadis ini sahih. Penilaian ini juga sejalan dengan kesimpulan yang diberikan oleh al-Alb±ni yang menilainya sahih.125

d) Siap berkorban

Sama dengan keadaan pada sub tema berbuat adil pada anak, yaitu dari tiga buah hadis yang terdapat pada bagian ini, kesemuanya berasal dari riwayat Bukhari dan Muslim maka penulis tidak melakukan takhrij hadis pada sub tema ini.

e) Lemah lembut

Pada tema ini terdapat dua hadis satu pada Bukhari dan Ahmad.

Adapun hadis yang ditakhrij pada sub tema di atas yaitu hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad yang berbunyi:

ْنَع َةَوْرُع ِنْب ِماَشِه ْنَع َةَرَسْيَم ُنْب ُصْفَح اَنَـثَّدَح َلاَق َةَجِراَخ ُنْب ُمَثْيَه اَنَـثَّدَح

َّزَع ُهَّللا َداَرَأ اَذِإ َمَّلَسَو ِهْيَلَع ُهَّللا ىَّلَص ِهَّللا ُلوُسَر َلاَق ْتَلاَق اَهَّـنَأ َةَشِئاَع ْنَع ِهيِبَأ

126

َقْفِّرلا ْمِهْيَلَع َلَخْدَأ اًرْـيَخ ٍتْيَـب ِلْهَأِب َّلَجَو

Artinya:

Telah menceritakan kepada kami Haitsim bin Kharijah berkata;

Telah menceritakan kepada kami Hafs bin Maisarah dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari Aisyah berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Jika Allah menginginkan sebuah kebaikan untuk pemilik rumah maka Allah akan memasukkan

124 Abµ ‘Abdillah Mu¥ammad ibn Ism±’³l al-Bukh±r³, al-J±mi’ al-¢a¥³¥, Juz 7 (Cet.

III; Beirut: D±r Ibn Ka£³r, 1407 H./1987 M.), h. 115.

125 Mu¥ammad N±¡iruddin al-Alb±n³, al-Silsilah al-¢a¥i¥ah, juz 5 (Riy±dh, Maktabah al-Ma±rif, t.th), h. 349.

126 Abµ ‘Abdill±h A¥mad bin Mu¥ammad bin ¦anbal bin Hil±l bin Asad bin al-Syaib±n³, Musnad Li al-Im±m A¥mad bin Mu¥ammad bin ¦anbal, juz 17, (Cet. I;

Kairo: D±r al-¦adi¡, 1995), h. 328. 23290.

kasih sayang atas mereka.”

a. Takhrij Hadis

Berdasarkan takhrij pada lafa© hadis dengan menggunakan lafadz قفر, dengan menggunakan kitab Mu‘jam al-Mufahras li Alf±§ al-¦ad³£

al-Nabaw³,127 ditemukan informasi bahwa hadis ini berada pada kitab Musnad A¥mad juz 6 halaman 71, 104, dan 105.

Menggunakan kitab al-J±mi‘ al-¢ag}³r128 dengan takhrij pada awalan matan ditemukan hasil bahwa hadis ini berada pada مح (Imam A¥mad), خت (Imam Bukhari dalam kitabnya Attarikh), dan به, Imam Baihaqi dalam kitabnya Sya’bul Iman dan hadis ini diriwayatkan oleh Aisyah.

b. I’tibar Sanad

Berdasarkan takhrij hadis di atas, hadis ini hanya ditemukan dalam al-Kutub al-Tis’ah sebanyak 2 riwayat. Hanya terdapat dalam Musnad Ahmad bin Hambal. Adapun yang terdapat dalam kitab selain kitab 9 yaitu Syu’ba al-Im±n Li al-Baih±qi terdapat 2 riwayat dan 1 Riwayat dari Musnad Ibn al-Ju’da. Dari 5 riwayat tersebut perawi yang meriwayatkan dari Rasulullah hanya 1 orang yaitu ‘²isyah dan level setelah sahabat ada juga hanya 1 perawi yang meriwayatkan yaitu ‘Urwah bin al-Zub±ir.

Adapun lafal periwayatannya menggunakan kata ¥adda£an±, dan

‘an. Adapun urutan sanadnya bisa dilihat dalam skema ini:

127 A.J. Wensinck Diterjemahkan oleh Mu¥ammad Fu±d ‘Abd. al-Baqi, al-Mu’jam al- Mufahras li al-f±zh al- ¦ad³£ al-Nabaw³, juz 2 (Bar³l; Laedan, 1936), h. .H. 284.

128 Al-¦±fi§ Jal±l al-D³n Abµ al- Fa«l ‘Abd al-Ra¥m±n bin Ab³ Bakar Mu¥ammad al-Khudair³ al-Suyµ¯³ al-Sy±fi‘I, al-J±mi‘ al-¢ag³r min ¦ad³£ al-Basy³r al-Na©³r(Cet;

II, Beirut: D±r al-Kutub al-‘Alamiyah, 2004), h. 30.

Skema Sanad 3

c. Kritik Sanad

Hadis riwayat Ahmad ini terdiri atas 6 periwayat yaitu A¥mad ibn ¦anbal, Hay£am bnu Kh±rajah, ¦afsah bnu Maysarah, Hisy±m ibn ‘Urwah, Abihi, aisyah. Adapun biograwi dan penilaian ulama padanya sebagaimana berikut:

Dalam dokumen Erwin Hafid (Halaman 73-79)