• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep Pendidikan Anak Usia Dini dalam Islam

Dalam dokumen Erwin Hafid (Halaman 42-52)

B. Pengertian, Perkembangan dan Konsep Pendidikan Anak Usia Dini

2. Konsep Pendidikan Anak Usia Dini dalam Islam

Diantara karakteristik unik yang dimiliki oleh anak usia dini itu yaitu, adanya rasa ingin tahu yang jauh lebih besar pada segala yang ada di sekitarnya, juga dalam pergerakan yang dilakukannya itu cenderung cepat, dalam artian bahwa anak usia dini itu dapat bergerak ke sana ke mari, demikian pula dengan kegemarannya untuk senantiasa bermain tanpa kenal lelah.66

Anak usia dini juga adalah pribadi yang unik, yang berbeda, dan memiliki karakteristik tersendiri, berdasarkan pencapaian dari usia yang dimilikinya. Usia anak dini juga dinyatakan sebagai masa “golden age” yaitu sebagai masa keemasan dalam proses perkembangan selanjutnya. Semua pendidik mengakui bahwa pada masa itu adalah masa penting bagi dalam proses kehidupannya.

Dianggap penting karena secara teori pertumbuhan otak seseorang saat masa golden key mengalami proses pencapaian yang lebih pesat dibanding rentang kehidupan lainnya. Karena pentingnya masa usia dini ini (direntang 0-6 tahun atau 8 tahun) maka sangat dianjurkan untuk lebih memberikan banyak rangsangan-rangsangan positif guna mendorong pencapaian perkembangan otak yang lebih optimal melalui intervensi pada potensi yang mereka miliki, yaitu potensi pada aspek moral, agama, social, emosi, bahasa, kognitif, motorik/fisik, dan seni.67

ىَّلَص ِهَّللا ُلوُسَر َلاَق َلاَق َةَرْـيَرُه ِبَأ ْنَع ٍحِلاَص ِبَأ ْنَع ٍميِكَح ِنْب ِعاَقْعَقْلا ْنَع

ِق َلْخَْلأا َحِلاَص َمَِّتمُِلأ ُتْثِعُب اََّنِإ َمَّلَسَو ِهْيَلَع ُهَّللا

Artinya:

Telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Manshur berkata;

telah menceritakan kepada kami Abdul ‘Aziz bin Muhammad dari Muhammad bin ‘Ajlan dari Al Qa’qa’ bin Hakim dari Abu Shalih dari Abu Hurairah berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Hanyasanya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang baik.”68

Pendidikan adalah salah satu media penting dalam penyebaran dan penanaman nilai-nilai akhlak mulia ini yang bisa diandalkan saat ini.

Guru atau pendidik dalam konteks kekinian sesungguhnya memiliki tugas profetik melanjutkan misi Nabi SAW, sebagai pewaris para nabi, dan menjaga berlangsungnya pendidikan karakter mulia bagi umat manusia untuk meraih keselamatan dan kebahagiaan hidup sejati di dunia dan akhirat.

Dalam Islam juga dijelaskan bahwa seseorang tersebut dilahirkan dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun kemudian Allah swt.

akan memberikan padanya alat penginderaan yang akan membantu bayi tersebut dalam proses pendidikannya, atau berpengetahuannya.

Allah berfirman:

ُمُكَل َلَعَجَو اٗٔ ۡيَش َنوُمَلۡعَت َل ۡمُكِتَٰهَّمُأ ِنو ُطُب ۢنِّم مُكَجَرۡخ َ أ ُ َّللٱَو ٧٨ َنوُرُك ۡشَت ۡمُكَّلَعَل َةَدِٔ ۡف َ ۡ لٱَو َرٰ َصۡب َ ۡ لٱَو َعۡم َّسلٱ

Terjemahannya:

dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (QS. An-Nahl 16: 78) Jelaslah dari ayat tersebut di atas bahwa seseorang saat dilahirkan tidak ada secuil pengetahuan pun yang mereka miliki, lalu Allah akan melengkapi mereka dengan penca indera, melalui indera ini akhirnya

68 A¥mad ibn ¦anbal Abµ ‘Abd al-Allah al-Syaib±n³, Musnad al-Im±m A¥mad Ibnu

¦anbal, dalam ENSIKLOPEDI HADITS. Lidwa Pustaka i-Software, hadis no. 8595.

manusia akan untuk memulai proses berpengetahuan itu.

Sedangkan kualifikasi akademik guru PAUD/TK/RA yang diatur dalam Permendiknas no 6 tahun 2007 adalah berpendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1) dalam bidang pendidikan anak usia dini atau psikologi yang diperoleh dari program studi yang terakreditasi. Ada empat standar kompetensi yang harus dimiliki seorang pendidik, yaitu standar kompetensi pedagagik, profesionalisme, kepribadian, dan social. Standar tersebut dapat diurai dalam beberapa kompetensi di bahwa ini:

Standar Kompetensi Guru PAUD/TK/RA Kompetensi Pedagodik

1. Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, sosial, kultural, emosional, dan intelektual.

2. Menguasai teori belajar dan prinsipprinsip pembelajaran yang mendidik.

3. Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan bidang pengem-bangan yang diampu.

4. Menyelenggarakan kegiatan pengembangan yang mendidik 5. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan

penyelenggaraan kegiatan pengembangan yang mendidik.

6. Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk meng-aktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki.

7. Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik.

8. Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar 9. Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan

pembelajaran.

10. Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pem-belajaran.

Kompetensi Kepribadian

1. Bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional Indonesia.

2. Menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan teladan bagi peserta didik dan masyarakat.

3. Menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa,

arif, dan berwibawa.

4. Menunjukkan etos kerja, tanggungjawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru, dan rasa percaya diri.

5. Menjunjung tinggi kode etik profesi guru.

Kompetensi Sosial

1. Bersikap inklusif, bertindak objektif, serta tidak diskriminatif karena pertimbangan jenis kelamin, agama, ras, kondisi fisik, latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi.

2. Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat.

3. Beradaptasi di tempat bertugas di seluruh wilayah Republik Indonesia yang memiliki keragaman sosial budaya.

4. Berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri dan profesi lain secara lisan dan tulisan atau bentuk lain.

Kompetensi Profesional

1. Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu.

2. Menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran/

bidang pengembangan yang diampu.

3. Mengembangkan materi pembelajaran yang diampu secara kreatif.

4. Mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif.

5. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk berkomu-nikasi dan mengembangkan diri.69

Dengan bekal pengetahuan masa-masa anak usia dini, pendidik dapat memberikan setting lingkungan pembelajaran yang tepat. Oleh karena itu, tepat dikatakan jika secara umum tujuan Pendidikan Anak Usia Dini adalah mengembangkan berbagai potensi anak sejak dini sebagai persiapan untuk hidup dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Secara khusus tujuan pendidikan anak usia dini

69 Mendiknas, Permendiknas No.16 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Komptensi Guru.

adalah:70

Dengan bekal pengetahuan masa-masa anak usia dini, pendidik dapat memberikan setting lingkungan pembelajaran yang tepat. Oleh karena itu, tepat dikatakan jika secara umum tujuan Pendidikan Anak Usia Dini adalah mengembangkan berbagai potensi anak sejak dini sebagai persiapan untuk hidup dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Secara khusus tujuan pendidikan anak usia dini adalah:

a. Agar anak percaya akan adanya Tuhan dan mampu beribadah serta mencintai sesamanya.

b. Agar anak mampu mengelola keterampilan tubuhnya termasuk gerakan motorik kasar dan motorik halus, serta mampu menerima rangsangan sensorik.

c. Anak mampu menggunakan bahasa untuk pemahaman bahasa pasif dan dapat berkomunikasi secara efektif sehingga dapat bermanfaat untuk berpikir dan belajar.

d. Anak mampu berpikir logis, kritis, memberikan alasan, memecahkan masalah dan menemukan hubungan sebab akibat.

e. Anak mampu mengenal lingkungan alam, lingkungan social, peranan masyarakat dan menghargai keragaman social dan budaya serta mampu mngembangkan konsep diri yang positif dan kontrol diri.

f. Anak memiliki kepekaan terhadap irama, nada, berbagai bunyi, serta menghargai karya kreatif.

Ådapun berdasarkan tinjauan aspek didaktis psikologis tujuan pendidikan di Pendidikan Anak Usia Dini adalah:71

a. Menumbuhkembangkan pengetahuan, sikap dan keterampilan agar mampu menolong diri sendiri (self help), yaitu mandiri dan bertanggung jawab terhadap diri sendiri sepert mampu merawat dan menjaga kondisi fisiknya, mampu mengendalikan emosinya dan mampu membangun hubungan dengan orang lain.

b. Meletakkan dasar-dasar tentang bagaimana seharusnya belajar

70 Yuliani Nurani Sujiono, Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini (Jakarta: PT Indeks, 2009), h. 42-43.

71Nurbiana Dhieni, Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini (Jakarta:

Proyek Direktorat Tenaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Non Formal, 2009), h. 73.

(learning how to learn). Hal ini sesuai dengan perkembangan paradigma baru dunia pendidikan melalui empat pilar pendidikan yang dicanangkan oleh UNESCO, yaitu learning to know, learning to do, learning to be dan learning to live together yang dalam implementasinya di lembaga PAUD dilakukan melalui pendekatan learning by playing, belajar yang menyenangkan (joyful learning) serta menumbuh-kembangkan keterampilan hidup (life skills) sederhana sedini mungkin.

Permainan kreatif merupakan aktivitas utama untuk menciptakan PAUD yang berkualitas. Bermain membantu anak-anak menghubungkan semua unsur kehidupan karena mereka mengalaminya. Permainan adalah media untuk menstimulasi berpikir dan bekerja kreatif, dan itu mutlak diperlukan anak-anak di usia dini. Dengan bermain kreatif, anak-anak tumbuh dan berkembang. Kegiatan permainan berfungsi, yaitu: (1) untuk mengembangkan seluruh kemampuan yang dimiliki anak sesuai dengan tahap perkembangannya, (2) mengenalkan anak dengan dunia sekitar, (3) mengembangkan sosialisasi anak, (4) mengenalkan peraturan dan menanamkan disiplin pada anak dan (5) memberikan kesempatan kepada anak untuk menikmati masa bermainnya.72

Selain tujuan pendidikan anak usia dini yang telah dipaparkan sebelumnya, pendidikan anak usia dini juga memiliki beberapa fungsi,

yaitu:

a. Fungsi Adaptasi

Berperan dalam membantu anak melakukan penyesuaian diri dengan berbagai kondisi lingkungan serta menyesuaikan diri dengan keadaan dalam dirinya sendiri. Dengan anak berada di lembaga pendidikan anak usia dini, pendidik membantu mereka beradaptasi dari lingkungan rumah ke lingkungan sekolah. Anak juga belajar mengenali dirinya sendiri.

b. Fungsi Sosialisasi

Berperan dalam membantu anak agar memiliki

keterampilan-72Joan Almon, “The Vital Role of Play in Early Childhood Education”, Situs Resmi Waldorf Research Institute, h. 2-3. http://www.waldorfresearchinsti-tute.org/pdf/BAPlayAlmon.pdf (4 Februari 2016).

keterampilan sosial yang berguna dalam pergaulan dan kehidupan sehari-hari dimana ia berada. Di lembaga pendidikan anak usia dini anak akan bertemu dengan teman sebaya lainnya. Mereka dapat bersosialisasi, memiliki banyak teman dan mengenali sifat-sifat temannya.

c. Fungsi Pengembangan

Di Lembaga pendidikan anak usia dini ini diharapkan dapat pengembangan berbagai potensi yang dimiliki anak. Setiap unsur potensi yang dimiliki anak membutuhkan suatu situasi atau lingkungan yang dapat menumbuhkembangkan potensi tersebut kearah perkembangan yang optimal sehingga menjadi potensi yang bermanfaat bagi anak itu sendiri maupun lingkungannya.

d. Fungsi Bermain

Berkaitan dengan pemberian kesempatan pada anak untuk bermain, karena pada hakikatnya bermain itu sendiri merupakan hak anak sepanjang rentang kehidupannya. Melalui kegiatan bermain anak akan mengeksplorasi dunianya serta membangun pengetahuannya sendiri.

Agar fungsi-fungsi PAUD dapat berjalan dengan optimal, dan aspek-aspek dalam perkembangan anak seperti aspek fisik, kognitif, sosial emosional bahasa, agama dan moral, kemandirian dan seni, berkembang dengan baik, maka perlu dilakukan berbagai prinsip yang meliputi:73

a. Berorientasi pada Kebutuhan Anak b. Belajar melalui bermain

c. Pendekatan Berpusat pada Anak d. Pendekatan Kontruktivisme e. Pendekatan Kreatif dan inovatif f. Lingkungan yang kondusif

g. Menggunakan pembelajaran terpadu h. Pengembangan Tematik

i. Menggunakan berbagai media dan sumber belajar

73Siti Aisyah, dkk., Perkembangan dan Konsep Dasar Pengembangan Anak

Usia Dini. (Jakarta: Universitas Terbuka, 2007), h. 35.

j. Mengembangkan berbagai kecakapan hidup

Oleh karena itu, jika 10 prinsip di atas telah terpenuhi oleh lembaga PAUD, maka dapat dikatakan PAUD tersebut termasuk PAUD yang berkualitas. Hal ini senada dengan the National Association for the Education of Young Children (NAEYC) yang menyatakan ada 10 tanda sebuah PAUD yang baik, yaitu:74

a. Anak-anak menghabiskan waktu dengan bermain dan belajar bersama dengan teman-teman sebaya. Mereka tidak berkeliaran tanpa tujuan dan mereka tidak diharapkan untuk duduk diam untuk jangka waktu yang lama.

b. Anak-anak memiliki akses ke berbagai kegiatan sepanjang hari.

Carilah blok berbagai macam bangunan dan bahan konstruksi lainnya, alat peraga untuk role playing, buku gambar, cat dan bahan-bahan seni lainnya, dan mainan seperti puzzle, pegboards, dan teka-teki karena tidak semua anak akan melakukan kegiatan/permainan yang sama pada waktu yang sama.

c. Guru bekerja dengan anak-anak secara individu, kelompok-kelompok kecil, dan seluruh kelas pada waktu yang berbeda sepanjang hari.

Mereka tidak menghabiskan waktu mereka dengan seluruh kelompok kelas.

d. Kelas dihias dengan karya seni anak-anak, termasuk karya tulis yang ditulis sendiri ataupun didiktekan oleh guru.

e. Anak-anak belajar angka dan abjad dalam konteks pengalaman sehari-hari mereka.

f. Anak-anak bekerja pada proyek-proyek dan memiliki jangka waktu yang lama (setidaknya satu jam) untuk bermain dan mengeksplorasi.

g. Anak-anak memiliki kesempatan untuk bermain di luar setiap hari.

h. Guru membaca buku-buku untuk anak-anak secara individu atau dalam kelompok-kelompok kecil sepanjang hari, bukan hanya di depan kelas.

i. Kurikulum disesuaikan untuk setiap siswa, baik yang belajar cepatatau lambat. Guru perlu memahami bahwa kecepatan belajar setiap anak

74“Important of Early Childhood Education” Situs Resmi Expat Web Site Association Jakarta. http://www.expat.or.id/info/earlychildhoodeducation.

html (16 November 2015).

berbeda sehingga ia tidak harus belajar hal yang sama pada waktu yang sama.

j. Orang tua mengantar anak-anaknya ke sekolah agar orang tua merasa aman dengan menitipkan anaknya di PAUD dan sebaliknya anak-anak merasa nyaman, tidak menangis dan mengeluh sakitketika dititipkan oleh orang tuanya.

Inilah beberapa konsep pembinaan anak usia dini yang bisa ditemui dalam teori dan lembaga umum selama ini, dan bisa menjadi panduandalam menyusun konsep pembinaan anak usia dini yang ada dalam teks Islam (al-Qur’an dan hadis). Memang harus diakui bahwa kajian ini dalam agama kebanyakan masih umum pada pendidikan atau anak-anak, tanpa kajian khusus di pembinaan anak usia dini, hal inilah yang diharapkan bisa dimunculkan dalam penelitian untuk menjadi dasar awal untuk menyusun pedoman pembinaan anak usia dini dalam perspektif agama Islam dan bisa menjadi panduan konkrit.

BAB III

KUALITAS HADIS YANG BERKAITAN

Dalam dokumen Erwin Hafid (Halaman 42-52)