• Tidak ada hasil yang ditemukan

Akhlak dalam Pelestarian Lingkungan Hidup

Dalam dokumen Bahan Ajar 2 MPKT (Halaman 113-120)

PENERAPAN AKHLAK DAN BUDI PEKERTI Kehidupan Pribadi dan Sosial Budaya

5.4. Akhlak dalam Pelestarian Lingkungan Hidup

Akhlak dan budi pekerti mengantarkan manusia agar memahami secara sungguh-sungguh terhadap alam semesta dengan segala peristiwanya yang menakjubkan. Semua benda-benda alam tidak terpisah secara sendiri-sendiri, tetapi saling terkait dan berkelindan serta memiliki hubungan yang sangat erat. Pergerakan dan perkembangan alam terjadi secara beraturan dan bersifat

seimbang. Melalui pendekatan akhlak dan budi pekerti alam dapat dibagi secara garis besarnya dalam lima tingkatan, yaitu: (1) alam mineral, (2) alam tumbuh-tumbuhan (flora), (3) alam hewani (fauna), (4) alam insani (manusia), (5) alam ruhani. Masing-masing bagian dari alam tersebut memiliki kedinamisan, kebutuhan, dan kekuatan sendiri-sendiri dalam suatu tatanan yang sangat

harmonis, satu dengan yang lainnya saling berhubungan. Sebagai gambaran dari keharmonisan hubungan antara benda-benda alam tersebut, dilukiskan oleh Rumi dalam suatu puisinya.

Aku mati sebagai mineral dan menjelma tumbuh-tumbuhan Aku mati sebagai tumbuhan dan terlahir hewan

Aku mati sebagai hewan dan kini menjadi manusia Suatu hari nanti, aku akan mati sebagai manusia, dan melambung bersama para malaikat....

(Robert Freger, 2003: 137)

Dari puisi di atas, terungkap dengan jelas mengapa dan bagaimana

hubungan antara benda-benda alam yang bersifat serasi dan seimbang. Kerena itu, dalam bimbingan akhlak, manusia diarahkan agar menjaga kelestarian alam secara sungguh-sungguh dan selalu berusaha untuk menghindari kerusakan dan

pencemarannya. Akhlak dan budi pekerti diterapakan secara sungguh-sungguh terhadap lima kelompok alam tersebut. Dengan penerpan akhlak dan budi pekerti maka kelestarian alam dan lingkungan itu akan terjaga dengan baik. Manusia harus memiliki akhlak yang luhur terhadap alam tersebut dengan sikap yang santun serta melindungi, termasuk terhadap alam mineral sekalipun. Hindari suatu pandangan yang menganggap alam hanya semata-mata sebagai objek dari ambisi manusia modern melalui sains dan teknologinya. Mereka mendominasi dan mengeksploitasi alam secara tidak beradab untuk memenuhi tuntutan hawa nafsu yang terus meningkat dan tidak pernah merasa puas. Pandangan seperti itu akan merusak kelestarian alam, yang mengakibatkan dan menimbulkan keganasan

alamiah, dan alam itu sendiri menjadi hilang kemampuannya untuk memberikan sumber dayanya yang dermawan dan kaya dalam rangka mempertahankan keseimbangan ekologisnya.

Demikian tingginya perhatian dan penghormatan orang yang memiliki akhlak yang luhur dan budi pekerti yang terpuji, yang sering disebut sebagai kaum sufi, mereka menempatkan alam dengan segala tingkatannya seperti dikemukakan di atas dengan sebutan jiwa (al-nafs). Mereka menyebutnya dengan jiwa mineral, jiwa tumbuh-tumbuhan, jiwa hewani, jiwa insani atau manusia dan jiwa ruhani.

5.4.1. Alam Mineral

Semua alam mineral, baik padat, cair maupun gas, merupakan tingkatan alam yang lebih sederhana apabila dibandingkan dengan alam-alam lain yang memiliki daya yang lebih banyak seperti flora atau fauna. Alam mineral atau alam jamadi terdiri atas benda-benda mati dalam berbagai bentuk dan jenisnya, seperti benda padat, benda cair, dan gas. Sikap akhlak terhadap alam ini, hendaklah manusia memanfaatkannya dengan baik dan tidak merusak. Termasuk sikap akhlak kita terhadap benda mati hendaklah menempatkan benda itu pada proporsi yang sebenarnya, sesuai dengan fungsinya masing-masing. Manusia tidak boleh mengeksploitasi benda alam tersebut secara berlebihan dan menyimpang dari keserasian dan keteraturannya. Sikap manusia terhadap alam ini akan

menimbulkan dampak yang baik atau buruk, tergantung perlakuan manusia terhadapnya. Apabila manusia berlaku baik, maka alam tersebut akan mendatangkan kebaikan. Sebaliknya apabila manusia melakukan kerusakan terhadapnya, maka akan membahayakan manusia itu sendiri. Ketidak seimbangan dalam alam mineral dapat membentuk dan menimbulkan keganasan secara

alamiah.

5.4.2. Alam Nabati

Alam nabati atau jiwa tumbuh-tumbuhan memiliki daya setingkat di atas alam mineral, yaitu daya makan, tumbuh, dan berkembang biak. Alam ini menjaga keseimbangan benda-benda alam lain secara keseluruhan. Manusia memanfaatkan alam ini untuk nutrisi, seperti makanan pokok, sayuran, buah dengan aneka macam jenis dan ragamnya. Kayunya dimanfaatkan untuk bahan bakar, bahan bangunan, mebeler, bahan untuk kapal laut dan pesawat terbang, serbuk kayu jenis tertentu dijadikan sebagai makanan pokok, seperti sagu dan aren. Sebagian jenis kayunya dapat menghasilkan minyak, seperti minyak kayu putih, minyak wangi yang diambil dari kayu cendana dan gaharu. Sebagian buahnya dapat dijadikan bahan energi, seperti jarak, dan tumbuhan lainya yang menghasilkan biodiesel, dijadikan minyak goreng (palem oil) seperti, kelapa dan kelapa sawit, serta aneka macam tumbuhan lain dari berbagai jenis tumbuh-tumbuhan yang ada pada alam semesta.

Penerapan akhlak terhadap tumbuh-tumbuhan, diarahkan agar manusia bersikap ramah terhadap alam tersebut, boleh memanfaatkannya dengan baik dan menjaga kelestariannya, seperti pelestarian hutan, pengembangan hutan bakau,

reboisasi, dan berbagai aktifitas lain yang dapat menjaga kelestarian alam dan lingkungan. Bersikap ramah dan bersahabat bersama alam, termasuk alam tumbuh-tumbuhan dan alam mineral adalah dengan pemahaman yang baik, seolah-olah kita bersikap terhadap makhluk yang bernyawa. Manusia dituntut untuk menghormati proses-proses yang sedang tumbuh dan terhadap segala apa saja yang ada dalam alam. Akhlak kepada alam, mengantarkan manusia untuk memiliki tanggung jawab yang tinggi sehingga ia tidak melakukan perusakan terhadap alam. Atau dengan istilah lain "setiap perusakan terhadap lingkungan harus dinilai sebagai perusakan terhadapan dirinya sendiri". Dengan demikian manusia yang berakhlak pasti tidak sejalan dengan pandangan sementara kelompok yang menganggap alam hanya semata-mata sebagai alat untuk

kepentingan manusia belaka. Manusia harus membatasi diri dalam pemanfaatan alam dan tumbuh-tumbuhan dan tidak terjerumus dalam pemborosan yang berlebihan. Tidak ada kebaikan dalam pemborosan dan tidak ada pemborosan dalam kebaikan, gunakan segala sesuatu secukupnya.

Salah satu bagian dari sikap akhlak terhadap alam tumbuh-tumbuhan adalah menghilangkan praktik penebangan hutan secara liar, yang lazim disebut

illegal loging, menggalakkaan reboisasi dan pemeliharaan tumbuh-tumbuhan

dengan baik. Karena itu, setiap orang yang menanam pohon merupakan sesuatu perbuatan yang terpuji dan mulia, karena pohon itu bermanfaat untuk oran lain, juga termasuk untuk hewan ternak dan bangsa burung. Betapa pentingnya pelestarian terhadap tumbuh-tumbuhan, sehingga agamapun sangat

memperhatikannya. Dalam suatu riwayat dikisahkan ada seorang pengikut Nabi yang sangat setia, yang sangat rajin melakukan reboisasi dan menanam berbagai jenis tanaman. Di tengah-tengah kesibukan melakukan reboisasi, ia ditegur oleh beberapa orang dengan nada yang sinis: "Andakan seorang sahabat Nabi, mengapa Anda bersikap rakus dengan menanam berbagai tanaman, padahal seharusnya bersikap sederhana". Sahabat itu menjawab: "Janganlah kalian

terburu-buru menyalahkan aku. Aku melakukan hal ini hanya mengikuti tuntunan Nabi: " Barangsiapa yang menanam tanaman lalu buahnya dimakan oleh manusia dan oleh makhluk lain, maka hal itu merupakan sedekah baginya". (al-Qardlawi, 1997: 178).

Uraian di atas menginformasikan mengenai seorang yang salah memahami suatu kegiatan reboisasi dan bercocok tanam yang dilakukan oleh seorang sahabat Nabi, seolah-olah sahabat itu bersikap rakus terhadap kehidupan dunia, hingga ia mengatakan: "Mengapa kamu lakukan kegiatan rebosasi, padahal engkau seorang sahabat Nabi, seharusnya tidak bersifat rakus terhadap kekayaan dunia". Padahal sahabat yang melakukan kegiatan itu adalah seorang sahabat Nabi yang sangat sederhana tidak rakus terhadap kehidupan dunia. Menjawab pertanyaan yang disebutkan di atas, sahabat itu berusaha meluruskan pemahaman yang sangat keliru dari beberapa orang yang menegurnya. Bahwa sesungguhnya, ia melakukan kegiatan itu, tidak ada hubungannya dengan kerakusan terhadap kehidupan dunia, akan tetapi hanya melaksanakan suatu tuntunan agar setiap orang berusaha

melakukan reboisasi dan bercocok tanam, yang manfaatnya akan dirasakan oleh manusia dan makhluk lain.

Merubah tanah yang tandus menjadi tanah yang subur, menghutankan gunung-gunung dan tanah gersang yang gundul, memperbaiki tatanan kehidupan dalam alam lingkungannya, merupakan suatu usaha yang sangat terpuji yang dapat mendatangkan manfaat yang besar bagi sesama makhluk. Masih berkaitan dengan akhlak terhadap tumbuh-tumbuhan dan alam mineral, adalah menjaga lingkungan dan kebersihan, dengan tidak membuang kotoran, buang air besar atau kecil dalam air yang tergenang atu air yang mengalir. Larangan membuang

kotoran air seni dan sampah di jalan-jalan umum, atau di bawah pohon tempat peristirahatan di tempat-tempat berteduh dan di sumber-sumber air yang bersih. Hubungan antara manusia dengan alam, dan hubungan manusia dengan

sesamanya bukanlah merupakan hubungan antara seoranga penakluk dan yang ditaklukkan, atau seorang majikan dengan budaknya, akan tetapi merupakan hubungan kebersamaan dan kemitraan. Karena itu, manusia yang bertugas untuk mengelola alam semesta harus melakukan interaksi dengan sesamanya dan dengan alam lingkungannya harus bersikap harmonis dan serasi. Inilah prinsip dasar yang harus dijadikan landasan dalam berinteraksi antarsesama manusia dan keharmonisan hubungan itu pulalah yang menjadi tujuan dari akhlak dan budi pekerti.

5.4.3. Alam Hewani

Dalam tinjauan akhlak, alam hewani memiliki potensi yang lebih lengkap dari alam mineral maupun alam nabati. Selain memiliki potensi yang ada pada kedua alam tersebut, alam hewani melengkapi dirinya dengan daya penggerak dan daya pengindera. Potensi penggerak dibagi dua, yaitu pendorong dan pelaku gerakan. Pelaku gerakan adalah potensi yang dikerahkan melalui urat saraf dan otot, melalui urat nadi dan jaringan yang berhubungan dengan urat saraf. Proses ini digunakan untuk melakukan suatu gerakan. Adapun yang dimaksud dengan pendorong adalah potensi yang menimbulkan suatu gerakan, baik dengan cara memunculkan gambaran sesuatu yang diinginkan di dalam khayal maupun tanpa hal tersebut. Potensi pendorong ini dibagi menjadi dua, pertama dinamakan nafsu, yang menimbulkan gerakan ke arah syahwat. Kedua, dinamai amarah, yang merupakan potensi yang menimbulkan gerakan untuk menolak sesuatu yang dianggap membahayakan dan merusak, sehingga berusaha menguasainya. Daya pengindera yang ada dalam alam hewani terdapat dua bagian; (1) yang tampak (lahir); (2) yang tidak tampak (batin). Indera yang bersifat lahir berupa

pancaindera (indera peraba, penciuman, perasa, penglihatan, dan pendengaran). Sedangkan indera yang tidak nampak diantaranya adalah kemampuan

berimajinasi dan menyimpannya. Meskipun alam hewani memiliki potensi-potensi yang disebutkan di atas, namun kemampuan dan kadarnya berbeda antara satu jenis hewan dengan jenis lainnya.

Apabila penerapan akhlak manusia terhadap alam nabati saja harus dianggap seolah-olah sebagai makhluk hidup, maka terhadap alam hewani harus lebih meningkat lagi. Karena, alam hewani telah memiliki berbagai daya yang

mendekati daya manusia, seperti: panca indera, daya khayal, daya menyimpan khlayalan dan sebagainya. Manusia boleh memanfaatkan alam hewani untuk kepentingan yang bermanfaat, seperti memanfaatkan dagingnya, kulitnya, lemak, tulang, dan berbagai hal yang dapat dimanfaatkan. Selain itu, hewan dapat juga dimanfaatkan sebagai hiasan, sebagai hewan peliharaaan dan dipelihara sebagai hobi dan kesenangan. Semua hal yang diperlakukan terhadap hewan tersebut tidak boleh bersifat menyiksa atau menyakiti, misalnya dalam hal memotong hewan disyaratkan menggunakan pisua atau alat potong yang tajam, sehingga tidak menyiksa. Apabila memelihara harus dilakukan dengan baik, memberi makanan yang cukup dan mengurusnya sesuai dengan yang dibutuhkan oleh hewan peliharaannya. Dalam kajian agama misalnya, kita jumpai betapa tingginya perhatiannya, agar manusia mengakkann akahlaknya yang baik terhadap alam hewani, tergambar dalam uraian beikut.

Disebutkan dalam sabda Nabi, terdapat dua hal yang sangat kontras; (1) disebutkan ada seorang wanita yang memasuki alam akhiratnya sangat menderita, masuk dalam neraka, karena pada waktu hidup di dunia ia pernah mengurung seekor kucing dalam kamarnya, sehingga kucing itu mati kelaparan, karena tidak diberi makan dan tidak dilepas (Bukhari: 3223, Muslim: 4160). (2) dikisahkan ada seorang wanita jalang yang sering berbuat keji, pada suatu saat ia mengadakan perjalanan di tengah padang pasir. Pada saat ia kehausan, ia berusaha mencari perigi atau oase untuk segera ia meminum airnya, agar menghilangkan dahaganya yang sangat mencekam. Setelah ia berusaha dengan susah payah untuk mencari air itu, ia jumpai sebuah oase yang di keliling bukit-bukit berbatu berada di dalam tanah yang cukup jauh dan menyulitkan. Akhirnya dengan sangat berhati-hati ia menuruni oase itu kemudian ia meminum airnya sepuas-puasnya. Setelah itu, ia pun naik kembali ke atas. Baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba ia jumpai seekor anjing yang menjulurkan lidahnya dan mengibas-ibaskan ekornya. Wanita jalang itu menyadari dan memahami bahwa anjing tersebut sedang ditimpa kehausan yang dahsyat.

Memperhatikan kenyataan seperti itu timbul pada dirinya belas kasihan, maka iapun kembali ke oase itu dan menuruninya untuk mengambil air bagi anjing tersebut. Waktu ia mengambil air itu tidak ada alat untuk membawanya, maka ia gunakan sepatunya untuk membawa air itu, karena naiknya susah,sepatu itu ia bawa digigit dengan mulutnya. Sampai di atas, air tersebut diberikan pada anjing yang kehausan tadi. Wanita jalang yang banyak melakukan perbuatan keji itu, karena ia mengasihani hewan, meskipun wujudnya anjing, di akhirat ia memperoleh balasan yang baik dan masuk surga (Bukhari: 2190, Muslim: 4162). Dalam versi lain disebutkan bahwa waktu Nabi menginformasikan hal itu, banyak sahabat bertanya, apakah dengan mengasihi seekor hewan akan mendapat balasan kebaikan. Nabi menjawab: "pada setiap makhluk hidup (sekecil apapun), terdapat kesempatan untuk berbuat baik" (Bukhari: 3268, Muslim: 4164).

Dari uraian di atas, kita dapat mengambil pemahaman yang sangat jelas bahwa penerapan akhlak terhadap alam hewani merupakan suatu keharusan dan

sikap seseorang terhadap alam hewani akan menentukan kualitas akhlak dan budi pekerti dari orang tersebut.

5.4.4. Alam Insani

Alam insani atau manusia memiliki daya-daya yang ada pada alam mineral, alam nabati, dan alam hewani serta dilengkapi dengan daya-daya lain yang mengantarkan dirinya pada kesempurnaan yang maksimal. Daya-daya yang dimiliki manusia dan tidak dimiliki oleh makhluk nyata lainnya, adalah tiga potensi yang sangat signifikan yaitu; (1) akal, (2) pikiran dan (3) kalbu. Sebagai makhluk yang paling sempurna, manusia memiliki keistimewaan-keistimewaan dan kelebihan-kelebihan yang luar biasa, apabila dibandingkan dengan makhluk-makhluk lain. Keistimewaan yang dimilikinya bukan saja terletak pada kejadian fisiknya (jasmaniah), tetapi juga pada kejadian ruhaniahnya. Kesempurnaan dan kelebihan manusia pada bentuk fisik telah banyak dikaji dan dijelaskan oleh disiplin ilmu, dalam berbagai uraian yang membandingkannya dengan makhluk lain. Psikologi dan akhlak (tasawuf) adalah dua disiplin ilmu yang biasa

digunakan untuk membaca struktur kerohanian manusia. Khusus pada kejadian ruhaniahnya, manusia juga memiliki kelebihan-kelebihan yang luar biasa yang tidak dimiliki oleh makhluk-makhluk lainnya.

Salah satu kesempurnaan manusia adalah sebagai makhluk yang berakal. Akal merupakan substansi dan esensi untuk memahami segala sesuatu secara rasional. Sedangkan kalbu merupakan penentu kualitas manusia. Ia memiliki kedudukan yang sangat menentukan dalam sistem-sistem kehidupan manusia. Kalbu menentukan diri seseorang untuk melakukan suatu perbuatan atau meninggalkannya. Oleh karenannya, kalbu diberi beban pertanggung jawaban terhadap apa yang diputuskannya. Dalam prespektif akhlak dan budi pekerti, akal dan kalbu merupakan anugerah yang agung dan luhur, yang dapat membedakan manusia dengan makhluk lain. Oleh karena kepemilikan akal dan kalbu, maka manusia diberi amanah untuk mengelola alam semesta bagi kesejahteraan semua makhluk. Manusia dijadikan sebagai pemimpin dari seluruh alam, dan ditugaskan untuk mengelola alam semesta dengan menjaga keutuhan dan kelestariaannya. Dengan amanah yang agung itu mengantarkan manusia menjadi makhluk yang bertanggung jawab atas segala aktifitas dan perbuatannya.

Mengenai akhlak terhadap manusia secara garis besar, tergambar dalam ungkapan berikut ini; tidaklah beriman salah seorang diantaramu sehingga ia mengasihi orang lain sebagaimana mengasihi dirinya sendiri. Para nabi dan rasul, serta pembawa agama-agama besar dunia dibangkitkan untuk melengkapi

kesempurnaan akhlak. Akhlak terhadap alam insani dapat digambarkan secara singkat bahwa kehidupan manusia dunia ini bagaikan keluarga besar. Semua orang tua yang ada diantara kita adalah orang tua kita sendiri, orang-orang yang sebaya dengan kita adalah saudara kita, mereka yang sebaya dengan adik-adik kita adalah adik kita sendiri. Semua orang yang sebaya dengan anak-anak kita, mereka adalah anak-anak kita juga. Kesimpulan ringkasnya, kita bersikap kepada orang

lain, sebagaimana kita bersikap terhadap diri kita sendiri. Mengenai uraian terperinci dari akhlak terhadap alam insani telah diuraikan pada kajian yang lalu.

5.4.5. Alam Rohani

Akhlak terhadap alam ruhani berkaitan dengan pendekatan spritual bahwa dalam pandangan akhlak dan budi pekerti selain makhluk-makhluk nyata terdapat makhluk ghaib yang tidak dapat diinderai dengan indera manusia. Terhadap makhluk ghaibpun kita memiliki sikap akhlak, misalnya akhlak terhadap malaikat. Informasi mengenai ini kita terima berdasarkan wahyu Tuhan Pencipta alam semesta melalui para nabi dan rasul-Nya yang tercantum dalam kitab suci.

BAB VI

Dalam dokumen Bahan Ajar 2 MPKT (Halaman 113-120)