• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni .1 Ilmu Pengetahuan

Dalam dokumen Bahan Ajar 2 MPKT (Halaman 46-51)

AKHLAK DAN BUDI PEKERTI 2.1. Pengertian Akhlak dan Budi Pekerti

2.2 Ruang Lingkup Ahklak dan Budi Pekerti

2.3.4 Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni .1 Ilmu Pengetahuan

Ilmu Pengetahuan pertama kali muncul dari rasa ingin tahu akan

keterangan mengapa sesuatu hal yang terjadi, yang kemudian dikait-kaitkan dan digolong-golongkan sehingga hal yang tersendiri itu dianggap sebagai mewakili suatu peristiwa yang berlaku lebih umum. Itulah akhirnya yang membangkitkan sains atau ilmu pengetahuan. Sasaran sains adalah mengadakan penataan dan penggolongan pengetahuan atas dasar azas-azas yang dapat menerangkan terjadinya pegetahuan itu. Mohr (1977) mendefinisikan sains secara operasional sebagai suatu usaha akal manusia yang teratur dan taat azas menuju penemuan keterangan tentang pengetahuan yang benar. Pengetahuan ilmiah yang benar diucapkan dalam bentuk pernyataan-pernyataan yang benar. Data atau fakta yang ditemukan dengan cara-cara tertentu dengan menggunakan metode ilmiah (Andi Hakim Nasution, 1988: 25).

Di kalangan ilmuwan ada keseragaman pendapat bahwa ilmu itu selalu tersusun dari pengetahuan secara teratur, yang diperoleh dengan objek tertentu dengan sistematis metodis, rasional/logis, empiris umum dan akumulatif. Untuk membuktikan apakah isi pengetahuan itu benar, perlu berpangkal pada teori-teori kebenaran pengetahuan. Teori pertama bertitik tolak pada adanya hubungan dalil, di mana pengetahuan dianggap benar apabila dalil (proposisi) itu mempunyai hubungan dengan dalil (propisisi) yang terdahulu. Kedua, pengetahuan itu benar apabila ada kesesuaian dengan kenyataan. Teori ketiga menyatakan bahwa pengetahuan itu benar apabila mempunyai konsekuensi praktis dalam diri dan mempunyai pengetahuan itu.

Untuk mencapai suatu pengetahuan yang ilmiah dan objektif diperlukan sikap yang bersifat ilmiah. Bukan membahas tujuan ilmu, melainkan mendukung dalam mencapai tujuan ilmu itu sendiri, sehingga benar-benar objektif, terlepas dari prasangka pribadi yang bersifat subjektif. Sikap yang bersifat ilmiah itu meliputi empat hal:

1) tidak ada perasaan yang bersifat pamrih sehingga mencapai pengetahuan ilmiah yang objektif;

2) selektif, artinya mengadakan pemilihan terhadap problema yang dihadapi supaya didukung oleh fakta atau gejala, dan mengadakan pemilihan terhadap hipotesis yang ada;

3) kepercayaan yang layak terhadap kenyataan yang tak dapat diubah mupun terhadap alat indera dan budi yang digunakan untuk mencapai ilmu;

4) merasa pasti bahwa setiap pendapat, teori, maupun aksioma terdahulu telah mencapai kepastian, namun masih terbuka untuk dibuktikan kembali.

Permasalahan ilmu pengetahuan meliputi arti sumber, kebenaran pengetahuan, serta sikap ilmuwan itu sendiri sebagai dasar untuk tingkah laku selanjutnya.

Sehubungan dengan proses perolehan ilmu pengetahuan dengan metode yang benar dan teruji kebenarannya secara ilmiah, maka ilmu pengetahuan dijadikan sumber yang memberikan motivasi untuk melakukan sebuah perbuatan baik dan berbudi pekerti luhur. Kebenaran pengetahuan tentang adanya hukum alam yang pasti membuat orang bertingkah laku taat terhadap hukum-hukum alam, tidak ada keberanian untuk menentang hukum alam, karena penentangan terhadap hukum alam merupakan keniscayaan belaka.

Para ilmuwan maupun para profesionalis berbuat berdasarkan pada pengetahuan yang dimilikinya, seperti seorang dokter bedah syaraf, ia mau melakukan pembedahan terhadap kepala seseorang karena mempunyai ilmu yang berkenaan dengan syaraf. Dokter ini tidak bersedia untuk melakukan

pembangunan suatu gedung bertingkat, karena ia tidak memiliki pengetahuan tentang pembangunan gedung. Begitu juga seorang tukang jahit pakaian menjahit baju karena pengetahuan yang dimilikinya. Tidak dapat kepandaian menjahit baju dipakai untuk menjahit kulit kepala atau menjahit kulit manusia bekas luka.

Berbagai contoh lain dapat ditemukan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, yaitu manusia berbuat sesuai dengan bidang pengetahuan yang dimilikinya. Pengamalan ilmu yang sesuai dengan disiplin ilmu pengetahuan maupun teknologi yang dimiliki inilah yang disebut profesional.

2.3.4.2 Teknologi

Dalam konsep yang pragmatis dan berlaku secara akademis dapat dikatakan bahwa ilmu pengetahuan (body of knowledge) dan teknologi sebagai suatu seni (state of art) yang mengandung pengertian berhubugan dengan proses produksi; menyangkut cara bagaimana berbagai sumber, tanah, modal, tenaga kerja dan keterampilan dikombinasikan untuk merealisasi tujuan produksi. Secara konvensional ia mencakup penguasaan dunia fisik dan biologis, tetapi secara luas juga meliputi teknologi sosial sehingga teknologi itu adalah metode sistematis untuk mencapai setiap tujuan insani (Eugene Staley, 1970).

Jacques Ellul dalam tulisannya berjudul The Technological Society (1964) tidak menggunakan istilah teknologi, tetapi teknik, meskipun arti atau maksudnya

sama. Menurut Ellul, istilah teknik tidak hanya berlaku untuk mesin, teknologi atau prosedur untuk memperoleh hasilnya, melainkan totalitas metode yang dicapai secara rasional dan mempunyai efisiensi (untuk memberikan tingkat perkembangan) dalam setiap bidang aktivitas manusia. Jadi teknik menurut Ellul adalah berbagai usaha, metode, dan cara untuk memperoleh hasil yang sudah distandardisasi dan diperhitungkan sebelumnya.

Teknologi yang berkembang dengan pesat meliputi berbagai bidang kehidupan manusia. Masa sekarang tampaknya sulit memisahkan kehidupan manusia dengan teknologi, bahkan sudah merupakan kebutuhan manusia. Awal perkembangan teknik yang sebelumnya bagian dari ilmu atau bergantung dari ilmu, sekarang ilmu dapat juga bergantung dari teknik. Contohnya dengan berkembang pesatnya teknologi komputer dan teknologi satelit ruang angkasa, maka diperoleh pengetahuan baru dari hasil kerja kedua produk teknologi tersebut.

Luasnya bidang teknik digambarkan oleh Ellul sebagai berikut.

1) Teknik meliputi bidang ekonomi, artinya teknik mampu menghasilkan barang industri. Dengan teknik manusia mampu mengkonsentrasikan kapital sehingga terjadi sentralisasi ekonomi. Bahkan ilmu ekonomi sendiri terserap oleh teknik barang.

2) Teknik meliputi bidang organisasional, seperti administrasi, pemerintahan, manajemen, hukum, dan militer.

3) Teknik meliputi bidang manusiawi, seperti pendidikan, kerja, olah raga, hiburan, obat-obatan.

Teknik telah menguasai seluruh sektor kehidupan manusia. Manusia makin harus beradaptasi dengan dunia teknik dan tidak ada lagi unsur pribadi manusia yang bebas dari pengaruh teknik. Pada masyarakat teknologi, ada

tendensi bahwa kemajuan adalah suatu proses dehumanisasi secara perlahan-lahan sampai akhirnya manusia takluk pada teknik. Teknik-teknik manusiawi yang dirasakan pada masyarakat teknologi, terlihat dari kondisi kehidupan manusia itu sendiri. Manusia pada saat ini telah begitu jauh dipengaruhi oleh teknik.

Adapun Alvin Tofler (1970) mengupamakan “teknologi” itu sebagai mesin yang besar atau sebuah akselerator yang dahsyat dan ilmu pengetahuan sebagai bahan bakarnya. Dengan meningkatkan ilmu pengetahuan secara kuantitatif dan kualitatif, maka kian meningkat pula proses akselerasi yang ditimbulkan oleh mesin pengubah, lebih-lebih teknologi mampu menghasilkan teknologi yang lebih banyak dan lebih baik lagi. Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan bagian-bagian yang dapat dibeda-bedakan, tetapi tidak dapat dipisah-pisahkan dari suatu sistem yang berinteraksi dengan sistem-sistem lain dalam kerangka nasional. Selanjutnya Alvin mengatakan ilmu pengetahuan dan teknologi erat hubungannya dengan nilai dan moral. Ia menganjurkan agar nilai dan moral dijadikan filter dalam mengendalikan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sebab kurangnya kendali akan menimbulkan konsekuensi yang jauh lebih buruk.

Lain halnya dengan E.F Scumacher (1979). Ia berpendapat bahwa pandangan sebelumnya terhadap teknologi adalah anarki teknologi yang

memandang teknologi serba baik. Pandangan ini kemudian bergeser menjadi cinta akan teknologi dengan mengembangkan apa yang disebut “teknologi tepat guna.” Teknologi tepat guna merupakan pengembangan teknologi yang sesuai dengan situasi budaya dan geografis masyarakat, penentuan teknologi sendiri sebagai suatu identitas budaya setempat serta menggunakan teknologi dalam proses produksi untuk menghasilkan barang kebutuhan dasar dan bukan barang-barang objek ketamakan.

2.3.4.3 Seni

Seni merupakan persoalan nilai dan penilaian. Karena itu, batasan seni adalah batasan nilai tentang apa yang disebut seni. Ketika seni diberi batasan secara deskriptif, yang muncul adalah batasan tanpa nilai. Upaya untuk membuat sebuah batasan memang diperlukan untuk membedakan seni dengan ilmu, seni dengan teknologi dan seni dengan filsafat. Terdapat perbedaan-perbedaan pendapat di antara batasan-batasan yang ada, seperti Jecques Maritain menyebutkan bahwa seni adalah ekspresi intelektual, sedangkan Santayana menyebutnya rasa senang seniman, Croce menyebutnya intuisi yang diekspresikan, Freud menyebutnya hasrat bawah sadar manusia yang

diekspresikan dan Bosanquet menyebutnya jiwa keseluruhan (Jakob Sumardjo, 2000: 51-52).

Jika seni dikaitkan dengan objek, maka seni memberikan informasi mengenai kenyataan kualitas objek tersebut. Jadi seni bertujuan memberi pemahamam secara empirik, pengalaman, penghayatan perwujudan kualitas objek. Contoh: Jika kita melihat lukisan ‘Ibu’ karya Affandi, yang kita lihat bukan potret ibu yang tua saja, tetapi juga perasaan yang ditimbulkannya melalui garis-garis mukanya. Garis-garis-garis itu sendiri dibuat dengan begitu terampil sehingga memberikan kepuasan keindahan tersendiri yang seiring dengan muatan perasaan yang ingin disampaikan pelukisnya. Pada lukisan yang paling abstrak sekali pun, semua aneka bentuk, warna, garis, pola penyusunan dan teknik saputan kuas memberikan kualitas rasa tertentu, meskipun objeknya tak jelas.

Kaitannya dengan ekspresi gagasan dan perasaan dari suatu objek, seperti ketika kita menyaksikan keindahan matahari terbenam di pantai, atau

menyaksikan bentuk awan senja, derasnya air terjun, gemuruhnya suara ombak di laut. Seni selalu membawa makna tertentu dalam dirinya dan usaha komunkasi seni dengan orang lain. Gagasan dan perasaan dari sebuah objek itu

dikomunikasikan dengan orang lain, maka menjadi karya seni.

Kebenaran tidak selamanya timbul dari teori pengetahuan, tetapi ada juga yang muncul dari perasaan seni, perasaan keindahan dan ekspresi kejiwaan yang mendalam. Menurut Quraish Shihab, seni adalah keindahan. Ia merupakan

ekspresi ruh dan budaya manusia yang mengandung dan mengungkapkan keindahan. Ia lahir dari sisi terdalam manusia didorong oleh kecenderungan seniman kepada yang indah, apa pun jenis keindahan itu. Dorongan tersebut merupakan naluri manusia, atau fitrah yang dianugerahkan Tuhan kepada hamba-hambanya. Kemampuan berseni merupakan salah satu perbedaan manusia dengan mahluk lain. Agama mendukung kesenian selama penampilannya lahir dan mendukung firah manusia yang suci, dan karena itu pula agama bertemu dengan seni dalam jiwa manusia (M.Quraish Shihab, 2001: 388-390).

Selanjutnya seni dikaitkan dengan keindahan, dan kata keindahan berasal dari kata ‘indah’, artinya bagus, permai, cantik, elok, molek dan sebagainya. Benda yang mempunyai sifat indah ialah segala hasil seni, pemandangan alam, manusia, rumah, tatanan, perabot rumah tangga, suara, warna. Kawasan

keindahan bagi manusia sangat luas, seluas keanekaragaman manusia dan sesuai pula dengan perkembangan peradaban teknologi, sosial dan budaya. Karena itu keindahan merupakan bagian dari kehidupan manusia. Keindahan identik dengan kebenaran. Keindahan adalah kebenaran dan kebenaran adalah keindahan. Hal ini bukan kebenaran ilmu, melainkan kebenaran menurut konsep seni. Seni berusaha memberikan makna sepenuh-penuhnya mengenai objek yang diungkapkan. Keindahan juga bersifat universal. Artinya tidak terikat oleh selera perseorangan, waktu dan tempat, selera mode kedaerahan atau lokal (Widyo Nugroho, 1996: 84)

Seni atau keindahan termasuk sumber dalam berakhlak dan berbudi

pekerti. Keindahan alam melahirkan para pelukis atau seniman termasuk juga para musisi. Suara gemercik air, suara gesekan pohon bambu, suara deru ombak, suara senandung burung berkicau atau ayam berkokok, memberikan inspirasi orang untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik.

Dalam kenyataan, alam di lingkungan kita banyak yang mengandung seni seperti apa yang terdapat pada sebuah pohon yang sedang berbuah. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah, dan perhatikan pulalah kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman. Selanjutnya Imam al-Ghazali menulis dalam Ihya

‘Ulumuddin bahwa: “Siapa yang tidak terkesan hatinya di musim bunga dengan

kembang-kembangnya, atau oleh alat musik dan getaran nadanya, maka fitrahnya telah mengidap penyakit parah yang sulit diobati.” (Quraish Shihab, 2001: 288-289).

BAB III

NILAI-NILAI AKHLAK DAN BUDI PEKERTI

3.1. Nilai Spiritual

Setiap orang mempunyai kebutuhan fundamental sesuai dengan fitrahnya yang memiliki jasmani dan rohani. Apabila dikaitkan dengan berbagai ragam hubungan manusia dalam kehidupannya, di setiap hubungan tersebut ada

hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam, manusia dengan manusia lain/masyarakat, dan manusia dengan dirinya sendiri. Untuk memenuhi kebutuhan rohaninya manusia melaksanakan nilai spiritual dalam kehidupannya.

Nilai spiritual memiliki hubungan dengan sesuatu yang dianggap

mempunyai kekuatan sakral suci dan agung, karena itu termasuk nilai kerohanian, yang terletak dalam hati (bukan arti fisik), hati batiniyah mengatur psikis. Hati adalah hakikat spiritual batiniyah, inspirasi, kreativitas dan belas kasih. Mata dan telinga hati merasakan lebih dalam realitas-realitas batiniyah yang tersembunyi di balik dunia material yang komplek. Itulah pengetahuan spiritual. Pemahaman spiritual adalah cahaya yang dipancarkan Tuhan ke dalam hati, bagaikan lampu yang membantu kita untuk melihat (Robert Frager 2002: 70).

Apabila dilihat tinggi rendahnya nilai-nilai yang ada, nilai spiritual

merupakan nilai tertinggi dan bersifat mutlak karena bersumber pada Tuhan Yang Maha Esa (Notonagoro, 1980). Dalam kehidupan sosial-budaya keterkaitan seseorang dihubungkan dengan pandangan hidup suatu masyarakat atau

kehidupan beragama. Setiap orang akan selalu memiliki pandangan atau persepsi akan sesuatu yang dianggapnya memiliki kekuatan yang melebihi manusia, dalam pandangan orang beragama disebut sebagai Yang Maha Kuasa, Allah, Sang Hyang Widi, Tuhan, God, Yang Maha Pencipta, dan sebagainya. Manusia sangat tergantung dan hormat pada kekuatan yang ada di luar dirinya, bahkan

memujanya untuk melindungi dirinya dan apabila perlu rela mengorbankan apasaja harta, jiwa sebagai bukti kepatuhan dan ketundukan terhadap yang mempunyai kekuatan tersebut.

Begitu kuatnya keyakinan terhadap kekuatan spiritual sehingga ia

dianggap sebagai kendali dalam memilih kehidupan yang baik dan buruk. Bahkan menjadi penuntun bagi seseorang melaksanakan perilaku dalam kehidupan

pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Dalam dokumen Bahan Ajar 2 MPKT (Halaman 46-51)