• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkembangan Multikulturalisme di Berbagai Negara

Dalam dokumen Bahan Ajar 2 MPKT (Halaman 145-149)

MASYARAKAT DAN MULTIKULTURALISME

7.2.3. Perkembangan Multikulturalisme di Berbagai Negara

Awal perkembangan multikulturalisme di mulai dari negara-negara Eropa, antaralain adalah Negeri Belanda. Memasuki abad ke-20, Negeri Belanda yang dikenal sebagai negeri bunga Tulip ini, banyak dikunjungi imigran dari berbagai negara Eropa. Negeri ini memang tidak hanya memiliki satu bahasa, tetapi terdiri atas beberapa bahasa, namun demikian setiap warga negara dapat berbahasa Belanda dengan baik, sehingga orang Belanda merasa memiliki budaya yang sama. Mereka juga memiliki identitas yang sama, mengenal mitos-mitos dan pahlawan yang sama. Pada tahun 1960 mulai terjadi migrasi tenaga kerja, dan hal itu berkembang terus sampai pada tahun 1970 mencapai puncaknya dengan kedatangan para pekerja, terutama dari Maroko dan Turki.

Sejak perkembangan itu, multikulturalisme menjadi konsensus ideologi di antara “kelas politik” yang resmi dari pemerintah. Prinsip mereka terlukis dalam kalimat “integratie met behound van eigen taal en cultuur.” (Okke KS Zaimar, 2007: 7). Hal ini menandakan bahwa integrasi sosial dilaksanakan, tetapi para pendatang masih boleh menggunakan bahasa dan memegang budaya mereka sendiri. Di negeri ini, dilakukan kombinasi terhadap pluralisme budaya dan konsep tentang integrasi nasional yang berlandaskan keanggotaaan sebuah komunitas. Model ini, merupakan karakteristik integrasi nasional Belanda. Sebenarnya, naiknya multikulturalisme di negeri ini, merupakan kelanjutan dari tradisi Belanda dalam hal pluralisme agama dan budaya. Setiap komunitas agama

diperkenankan untuk mengembangkan institusinya sendiri misalnya sekolah, organisasi, peribadatan dan lain sebagainya.

Pada sekitar tahun 1980, dilakukan politik “minoritas etnis yang tujuan resminya adalah mengizinkan kaum imigran untuk memelihara identitas kultural dan tradisi mereka. Hal ini ditopang oleh berbagai tindakan, antara lain

pengajaran bahasa imigran di sekolah pemerintah, dibangunnya sekolah-sekolah swasta yang disubsidi oleh pemerintah, dukungan pada asosiasi etnis dan lain-lain. Tindakan ini, sejalan dengan usaha untuk menyetarakan orang asing dan warga nasional dan merupakan karakteristik-karakteristik tahun 1970-1980. Kaum imigran sering kali diperlakukan sebagai anggota blok kultural yang monolitik, dengan landasan kebangsaan. Komunitas ini berkomunikasi dengan pemerintah Belanda dalam bahasa yang dianggap sebagai bahasa mereka, bahasa Arab bagi orang Maroko. Oposisi terhadap konsensus ini secara politis bersifat marjinal. (Okke KS Zaimar, 2007: 8).

Betapapun baiknya suatu teori atau gagasan, mesti terdapat kekurangan-kekurangannya, di samping kelebihan-kelebihan yang ada, termasuk gagasan multikulturalisme tidak dapat dilepaskan dari kekurangan-kekurangannya, karena itu konsensus kaum elit di Negeri Belanda terhadap multikulturalisme mulai diperdebatkan dan bersamaan dengan itu, kebencian terhadap kaum imigran makin meluas. Demikian juga definisi etnik tentang bangsa (nation) Belanda juga dipermasalahkan. Nasionalisme Belanda dan dukungan terhadap identitas

nasional yang tradisional tak pernah memudar, hanya tidak nampak dipermukaan. Ketika faktor ini kembali diperdebatkan pada tahun 1990, hal ini turut membantu runtuhnya konsensus tersebut. Tidak aneh, apabila perkembangan di negeri Belanda ini menarik perhatian dunia internasional, karena negeri ini mulai berputar haluan dari politik multikultural yang dianut sebelumnya, menjadi politik asimilasi budaya. Kebijakan yang dianutnya ini, dikenal sebagai yang paling ekstrim di Eropa. Pada praktiknya proposi imigrasi ditentukan oleh permintaan akan tenaga kerja yang tidak memiliki keahlian dan kemudian oleh imigrasi anggota keluarga para pekerja.

Dengan perkembangan ini, jumlah imigran di negeri Belanda yang bukan orang Eropa makin banyak, jumlahnya mencapai tiga juta orang. Kondisi ini merubah perbandingan jumlah penduduk Belanda antara penduduk asli dan pendatang. Jumlah imigran dan proporsi kelahiran pada komunitas mereka telah mengubah negeri Belanda sejak tahun 1950. Meskipun penduduk mayoritas masih dipegang etnis Belanda, namun pada tahun 1926, seperlima penduduk Belanda bukan lagi pribumi, tetapi para imigran, dan separuh imigran itu datang dari luar Eropa. Imigrasi telah mengubah wajah kota-kota di negeri Belanda terutama di Amsterdam. Di kota itu 55% dari anak muda bukan orang Eropa, melainkan imigran dari luar Eropa, terutama orang Turki dan Maroko.

Bagi kelompok yang menentang multikulturalisme dan imigrasi, kenyataan seperti ini tidak dapat diterima. Bangsa Belanda seolah-olah

menghadapi masalah yang sangat mendasar, yaitu hilangnya identitas Belanda. Para pendatang ini mempersoalkan nasionalisme terhadap identitas nasional. Perdebatan terus makin tajam dan sekitar 1990 berakhir dan runtuhlah konsensus tersebut. Dalam perkembangan selanjutnya, di Negeri Belanda terus terjadi perdebatan antara dua kelompok yang berbeda. Kelompok pertama mendukung multikulturalisme, sedangkan kelompok kedua menolaknya, pada perkembangan terakhir kelompok-kelompok yang menentang multikulturalisme makin keras dan dilakukan secara terang-terangan. Perdebatan mengenai hal ini dan perselisihan paham yang berkaitan dengan imigrasi, monokulturalisme, atau

multikulturalisme, selalu diselesaikan secara final oleh pemerintah.

Multikulturalisme di Inggris. Sebagai salahsatu negara Eropa yang terus menerus didaangi para imigran, Inggris tergolong sebagai negara yang tertinggi dalam menerima imigran, apabila dibanding dengan negara-negara lain di Eropa. Para imigran di Inggris datang dari India, Karibia, dan negara-negara bekas jajahannya. Pada perkembangan terakhir, datang pula para imigran dari Eropa Timur, terutama yang berasal dari Polandia. Inggris melaksanakan cara yang berbeda dalam menangani keragaman etnis dan budaya. Konsep Inggris tentang integrasi memberikan prioritas pada individu dan bukan tidak pada organisasi institusional komunitas. Tugas integrasi juga tidak dibebankan kepada negara, melainkan dibebankan pada masyarakat sipil dan pada pasar kerja.

Negeri Inggris tidak pernah menghadapi asimilasi rakyat bekas

jajahannya, yang melanjutkan pemerintahan sesuai dengan aturan hukum mereka sendiri. Multikulturalisme di Inggris mulai berkembang sekitar tahun 1968, ketika pemimpin buruh Roy Jankins menyampaikan pidato yang menyampaikan pandangan mengenai imigrasi yang bukan dalam bentuk fusi, tempat imigran menjadi orang Inggris, tetapi dalam bentuk kesetaraan kesempatan dengan keragaman budaya dan dalam suasana toleransi. Di Inggris para pendukung pemerintahan partai buruh, menganggap bahwa menolong golongan minoritas untuk memelihara budaya mereka, merupakan bantuan untuk menjaga hak mereka, juga membantu partispasi mereka sebagai warga negara. Ini berarti melakukan integrasi tanpa asimilasi (Okke KS Zaimar, 2007: 12).

Multikulturalisme memperoleh dukungan di Inggris, karena Inggris masih ingin melindungi bekas jajahannya, selain itu Inggris membutuhkan tenaga kerja untuk menjalankan roda ekonominya yang terus berkembang dengan pesat. Tenaga kerja berdatangan dari India, Karibia, dan negara-negara Eropa Timur. Sementara itu keadaan di negara-negara bekas jajahannya, belum mencapai kemajuan yang memadai sehingga banyak tenaga kerja yang menganggur. Program ini, masih banyak menghadapi halangan dan tantangan-tantangan, misalnya masalah rasisme masih belum dapat dihilangkan, dan tenaga kerja bekas negara jajahan yang tidak mempunyai keahlian memberikan andil bagi kegagalan program tersebut.

Setelah itu terjadilah perdebatan antara pihak yang menjunjung

multikulturalisme dan yang menolaknya, masing-masing mengemukakan alasan yang cukup kuat. Pihak pemerintah yang mendukung multikulturalisme

mengemukakan bahwa multikulturalisme berarti mengakui keberadaan budaya pendatang. Dengan demikian, pemerintah membantu golongan minoritas untuk memelihara budaya mereka, pengakuan ini juga merupakan bantuan untuk menjaga hak mereka, selain membantu partisipasi mereka membantu negara. Dalam perkembangan terakhir, multikulturalisme di Inggris tidak jauh berbeda dengan di Negeri Belanda, yaitu terus berkembang perbedaan antara yang pro dan yang kontra. Perbedaannya, di Negeri Belanda kelompok yang menentang multikulturalisme bersikap lebih keras, sedangkan di Inggris berjalan lebih lunak.

Multikulturalisme di Prancis, keadaannya sama dengan Inggris. Prancis telah lama menerima para pendatang, bahkan sejak satu abad yang lalu. Banyak alasan yang dikemukakan imigran untuk memasuki Prancis, diantaranya untuk mencari pekerjaan, mencari suaka politik, sedangkan bagi para imigran dari bekas negara jajahan merupakan suatu usaha untuk meningkatkan taraf hidup mereka. Selain alasan di atas, letak geografis negeri ini yang amat strategis yang merupakan jalan persimpangan, menambah banyak jumlah imigran yang ingin menetap di Prancis. Pada saat ini, statistik menunjukkan bahwa imigran mencapai 3,6 juta. 1,5 juta berasal dari negara-negara Eropa, 1,4 juta dari Afrika Utara, 425.000 dari Asia Tenggara, dan 240.000 dari sub Sahara Afrika, padahal jumlah penduduk Prancis secara keseluruhan 59 juta orang (Wiarda, Howard J., 2001: 107, sebagaimana dikutip KS Zaimar).

Dalam menghadapi keragaman etnis dan keragaman budaya pendatang, pada awal abad ke-20 ditetapkan kebijakan publik terhadap kaum imigran dengan istilah yang disebut asimilasi. Strategi ini berdasarkan pada suatu keyakinan bahwa budaya Prancis yang dominan,lebih tinggi daripada budaya lain, dan budaya para imigran harus berasimilasi dengan budaya yang superior itu. Namun demikian, dalam perkembangan berikutnya, tradisi yang menekankan pada asimilasi itu mulai ditinggalkan, hal ini disebabkan: pertama, di awal tahun 1960-an para imigr1960-an y1960-ang dat1960-ang buk1960-an dari Eropa saja (seperti dari Italia, Sp1960-anyol, atau Portugis), melainkan dari negara-negara bekas jajahan Prancis, dari sub Sahara dan Afrika Utara, di antara mereka berbeda agama dan berkulit hitam. Maka “cultural shock” pun tidak dapat dihindari. Kedua, faktor yang juga telah membuka perdebatan terhadap asimilasi ini adalah serangan terhadap mitos-mitos Prancis yang menampilkan identitas nasional. Gerakan kedaerahan meminta agar bahasa dan budaya mereka diakui (Wiarda, Howard J., 2001: 107, sebagaimana dikutip KS Zaimar).

Pada tahun 1998, Prancis menempatkan dirinya sebagai negeri yang dihuni oleh banyak ragam sosial, budaya, dan etnis. Mungkin tidak bijaksana apabila memperdebatkan masyarakat mana yang lebih pluralis. Usaha untuk menuju masyarakat pluraslis terus diusahakan dari waktu ke waktu, namun demikian jalan ke arah itu tidak selalu rata, banyak pertentangan dan halangan yang

menghadang. Hal itu dapat disaksikan bahwa tantangan dari bawah hanya akan bersifat sementara dan hal itu akan segera hilang, ketika pemerintah menyetujui gerakan pluralisme kultural. Prancis ingin menjadi negeri yang terbuka,

reputasinya sebagai negeri kebebasan sejak munculnya revolusi Prancis, menyebabkan banyak yang mencari suaka politik yang datang ke sana, selain mereka yang mencari kerja. Masalahnya menjadi makin rumit ketika datang juga ke sana para imigran yang datang, tidak memiliki pendidikan yang memadai dan tidak memiliki ketrampilan, sehingga menyulitkan keadaan. Kaum politisi konservatif banyak yang menentang kebijakan pemerintah dalam politik “pintu terbuka.”

Menghadapi kenyataan yang serba menyulitkan itu, diantaranya karena para imigran menyandang budaya yang sangat jauh berbeda, asimilasi tidak mungkin dilakukan. Usaha untuk menjalankan integrasi juga kurang berhasil. Akhirnya Prancis menganut pluralisme budaya saja, yang memberikan ruang gerak cukup leluasa, baik para pendatang maupun “tuan rumah”. Dalam

kebijakan ini, para imigran dapat dengan bebas melaksanakan tradisi budayanya hanya sebatas tempat tinggalnya. Apabila mereka keluar, misalnya belajar di sekolah Prancis, mereka harus memakai budaya Prancis yaitu bahasa dan tradisi Prancis. Oleh karena itu, sekarang di Paris banyak dijumpai ghetto masing-masing menurut asal pendatang. Misalnya, komunitas Cina tinggal di ghettonya, demikian pula komunitas Arab, Afrika dan sebagainya. (Okke KS Zaimar, 2007: 17).

Demikian, latar belakang tumbuhnya multikulturalisme dan

perkembangannya pada beberapa negara, sebagai contoh untuk melihat latar belakang tumbuhnya multikulturalisme di negara-negara lain. Contoh tersebut merupakan pola-pola yang mendasari paham itu di negara-negara lain.

Dalam dokumen Bahan Ajar 2 MPKT (Halaman 145-149)