• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

Dalam dokumen Bahan Ajar 2 MPKT (Halaman 104-110)

PENERAPAN AKHLAK DAN BUDI PEKERTI Kehidupan Pribadi dan Sosial Budaya

5.1.6. Kehidupan Masyarakat

5.1.6.3. Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

Dalam perkembangan selanjutnya, masyarkat yang terdiri atas kumpulan-kumpulan keluarga, tumbuh makin luas menjadi suatu bangsa. Bangsa merupakan kumpulan dari masyarkat yang bersatu dalam rangka melindungi kepentingan-kepentingannya yang tidak mungkin dapat di atasi oleh suatu kelompok saja.

Manusia yang merupakan bagian dari masyarakat, tidak dapat terlepas dari kondisi wilayah yang didiaminya. Tata cara kehidupan manusia, seperti cara berpikir, cara bergaul dan cara hidupnya, akan selalu dipengauruhi oleh konstalasi eilayah, seperti bentuk, letak, iklim, dan sumber daya alam yang ada. Bangsa dan negara melindungi warga dengan berbagai budaya, adat, kebiasaan, agama, karakter dan sebagainya.

Selain untuk mewujudkan kepentingan bersama dari warga negara, bangsa juga menetapkan suatu identitas nasional yang mempersatukan

perbedaan-perbedaan yang terjadi diantara warganya. Setiap warga negara harus memperoleh keadilan dan persamaan hak untuk memerankan dirinya dalam komunitas

nasional. Perbedaan-perbedaan dengan segala macam dan coraknya yang berada dalam Negara Indonesia, yang dihuni oleh ratusan juta penduduk, ribuan pulau dan suku memiliki potensi, baik potensi yang menguntungkan ataupun potensi yang merugikan. Potensi yang menguntungkan, misalnya apabila kemampuan-kemampuan yang dimiliki rakyat dapat dipersatukan dan digalang sedemikian rupa, sehingga menghasilkan karya-karya besar yang bermanfaat bagi warga negara dan bangsa-bangsa lain. Potensi yang tidak menguntungkan dapat terjadi dengan perbedaan suku bangsa wilayah, ras, adat, agama, apabila tidak dapat dimanage dengan baik, dapat menimbulkan konflik kepentingan yang dapat menjurus pada kerusuhan sosial.

Spirit persaudaraan dan persatuan merupakan modal dasar yang sangat potensial bagi bangsa dan Negara Indonesia agar terjamin eksistensi dan keutuhan wilayahnya. Semangat itu telah dirintis sejak masa perjuangan sebelum Indonesia mencapai masa kemerdekaan sampai menjelang kemerdekaan dan sesudahnya.

The Founding Father atau para pendiri negara kita, yang telah berjuang dengan

penuh semangat dan ketulusan yang maksimal dan kemampuan yang luar biasa, mereka telah merumuskan bentuk negara, dasar negara, serta arah dan tujuan yang harus dicapai. Rumusan itu tel;ah disipakan selama ratusan tahun dengan melalui berbagai pertemuan, permusyawaratan, konggres, muktamar, sampai menjelang detik-detik waktu datangnya kemerdekaan bangsa kita. Berdasarkan perjuangan yang sungguh-sungguh dan kegiatan yang sangat tabah, dengan mengakomodasi kearifan lokal dan kearifan internasional, terbentuklah Negara kesatuan Indonesia dengan dasar Negara Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945.

Pondasi untuk mewujudkan Negara Indonesia modern yang akan meraih kemajuan di mas yang akan datang, telah ditegakkan oleh para petinggi negara. Namun demikian, nasib bangsa kita di masa depan akan ditentukan oleh generasi penerusnya. Apabila generasi penerus itu merupakan generasi berkualitas, memahami dan memperjuangkan apa yang telah dicetuskan oleh para pendiri negara, maka negara yang tercinta ini akan mencapai kemajuan yang gemilang, sejajar dengan negara-negara lain telah meraih kemajuan. Sebaliknya, apabila generasi penerus kita, menjadi generasi yang lemah dan tidak berkualitas, dan hanya menjadi generasi hasil generasi sebelumnya, maka bangsa negara kita

memiliki masa depan yang suram yang akan menjadi makanan negara-negara lain dan menjadi bahan tertawaan mereka.

Agar mencapai kesatuan dan persatuan bangsa dan Negara Indonesia, diperlukan kesadaran bagi setiap warga negara untuk berpikir dan melihat masa depan, dengan memenage perbedaan-perbedaan yang ada sebagai suatu kekuatan, dan memanfaatkan potensi yang dimiliki negara untuk kejayaan dan kesejahteraan rakyat. Negara telah memfasilitasi seluruh lapisan masyarakat melalui berbagai sarana seperti dasar negara Pancasila, bahasa nasional (Bahasa Indonesia), dan hukum nasional yang memberikan hak dan kewajiban yang sama kepada warga negara. Pancasila sebagai dasar negara, sekaligus sebagai ideologi dan falsafah hidup Bangsa Indonesia mengandung ajaran yang sangat luhur, yang dapat

menciptakan kehidupan sosial yang harmonis. Kesadaran dan kesungguhan setiap warga negara dalam mengaplikasikan nilai-nilai luhur yang digali dari budaya kita tersebut, merupakan modal dasar bagi terbentuknya bangsa dan negara yang dicita-citakan.

Sebagai bangsa dan negara yang terbuka, serta terletak di posisi yang strategis di tengah percaturan dunia, maka tantangan yang dihadapi tidak hanya datang dari dalam, tetapi juga datang dari luar. Arus informasi dan komunikasi global yang berkembang melalui media cetak dan elektronik, terus menyerbu segala aspek dari kehidupan bangsa dan negara. Telah disadari secara seksama bahwa pengaruh dari luar itu tidak semuanya baik, tetapi juga banyak

pengaruhnya yang tidak baik. Untuk menghadapi kenyataan ini, setiap diri Bangsa Indonesia harus dapat membekali dirinya dengan suatu kemampuan yang sangat cerdas untuk dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang terpuji dan mana yang tercela, sekaligus dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Budaya dan peradaban terus berkembang dengan pesat baik perkembangan dari dalam maupun dari luar, termasuk yang menimbulkan ekses negative, karena itu diperlukan upaya secara sadar dan terpola dengan baik agar perkembangan kebudayaan dan peradaban bangsa tetap menjunjung tinggi nilai etika dan estetika yang diajarkan oleh akhlak yang terpuji. Meningkatnya kasus-kasus kejahatan di tengah masyarakat dengan berbagai jenisnya hendaknya dijadikan pelajaran untuk melakukan antisipasi yang tepat bagi perkembangan masa depan, dengan

demikian kejahatan-kejahatan itu tidak terulang kembali.

Masyarakat umum dan rakyat kecil, pada umumnya selalu mengambil contoh dari perilaku para elit politik dan para pemimpinnya. Apa yang dilakukan mereka, secara cepat langsung ditiru oleh rakyatnya. Pada saat

pemimpin-pemimpin mereka mengenakan baju batik atau mengendarai sepeda, penggunaan baju batik dan bersepeda langsung berkembang di masyarakat kecil. Demikian juga, apabila para pemimpinnya memamerkan kehidupan yang serba glamour dan mengarah kepada hedonisme dan konsumtivisme, maka pasti akan ditiru oleh rakyatnya. Memperhatikan kenyataan itu, maka para elit politik dan para

pemimpin memiliki peranan yang sangat penting dalam mempengaruhi dan membentuk perkembangan dan peradaban bangsa. Keteladanan para pemimpin merupakan wujud yang nyata bagi pembentukan masyarakat yang baik dan berperadaban yang tinggi.

5.2. Akhlak dalam Masyarakat Majemuk dan Global 5.2.1. Menggalang Potensi dan Memanage Perbedaan

Masyarakat di Indonesia seperti juga masyarakat lain di seluruh dunia, merupakan masyarakat majemuk dan global, terdiri atas berbagai macam ras, suku, agama, golongan, adat istiadat yang berbeda satu dengan yang lainnya. Perbedaan tersebut disebabkan oleh adanya perbedaan dari sumber kepercayaan, keyakinan, ajaran, adat istiadat, etika, dan moral. Perbedaan itu seharusnya

diarahkan untuk mendatangkan manfaat yang besar, misalnya: (1) berlomba untuk mewujudkan kebaikan, (2) mengembangkan saling pengertian, (3)

mengembangkan pemahaman terhadap kelompok lain, (4) mengembangkan toleransi, (5) mengembangkan kelapangan dada dalam menghadapi perbedaan-perbedaan yang terjadi.

Setiap kelompok dan golongan serta para pemeluk agama hendaknya tidak mempersoalkan perbedaan diantara mereka, tetapi justru diarahkan agar saling belomba untuk berbuat kebajikan antara sesama. Misalnya, membantu para fakir miskin, mengusahakan tempat-tempat pendidikan bagi rakyat miskin, menyantuni dan mengelola anak-anak yatim-piatu, melakukan pengelolaan pendidikan suku terasing, dan berbagai kebajikan lain. Mengembangkan saling pengertian, dilakukan dengan memahami secara baik terhadap filsafat kehidupan dari kelompok atau sukunya, memahami agamanya dengan baik, dan mengerti keyakinan yang dimiliki orang lain. Hal ini dikembangkan juga untuk menumbuhkan saling pengertian di dalam kelompok dan agamanya masing-masing. Karena, konflik yang sering terjadi bukan saja disebabkan oleh antar suku atau antar agama tetapi juga terjadi dalam suku dan agama yang sama. Misalnya, permusuhan antar golongan dan sekte dalam satu agama.

Mengembangkan pemahaman terhadap kelompok lain maksudnya, kita saling menyadari bahwa kita memiliki kepercayaan yang kita yakini dan orang lain pun memiliki kepercayaan yang diyakininya juga. Apabila keyakinan kita tidak mau diusik orang lain maka kita pun tidak boleh mengusik keyakinan orang lain, biarkan keyakinan itu berkembang secara alami dan berkembang menurut tuntunan yang diyakininya. Mengembangakan toleransi (tasamuh), hendaknya kita tidak merasa keberatan dengan pandangan orang lain yang berbeda dengan kita. Dengan demikian, tidak terjadi saling memaksa antara satu kelompok dengan kelompok yang lain, dalam hal keyakinan dan kepercayaan. Mengembangkan kelapangan dada, dilakukan dengan sikap toleransi yang sangat luas sehingga dada kita selalu lapang dan tidak sempit dalam menyikapi berbagai perbedaan, baik berupa keyakinan, kepercayaan, adat istiadat dan filsafat hidup.

Sesungguhnya dalam perbedaan-perbedaan yang disebutkan di atas banyak dijumpai persamaan-persamaan, bahkan perbedaannya amat sangat sedikit. Akhlak dan budi pekerti terpuji, misalnya bersifat universal dan banyak persamaan-persamaan bukan saja dalam suatu bangsa, bahkan persamaan itu banyak dijumpai juga dalam bangsa-bangsa lain. Berbakti kepada orang tua misalnya, berbuat baik kepada sesama, menegakkan sopan santun, pergaulan yang ramah, penerimaan yang simpatik, dan lain sebagainya merupakan suatu contoh akhlak yang bersifat universal yang diakui oleh berbagai lapisan masyarakat. Secara umum, akhlak yang harus diterapkan dan diaplikasikan dalam masyarakat global adalah selalu memperhatikan sikap terhadap orang lain sebagaiman sikap terhadap kita sendiri. Tidaklah beriman salah satu diantara kita, sehingga kita mencintai orang lain sebagaimana mencintai diri kita sendiri.

Yang amat perlu diwaspadai dalam kehidupan masyarakat adalah menonjolnya kepentingan politik pribadi, kepentingan ekonomi dan

memperebutkan kedudukan dengan mengatasnamakan agama atau suku tertentu. Hal ini sering dilakukan oleh oknum-oknum tertentu dengan tujuan supaya mendapat dukungan yang luas. Dengan demikian, oknum itu telah

menyalahgunakan agama atau suku tertentu untuk kepentingan dirinya, dalam rangka memperoleh kedudukan, meraih kehidupan ekonomi dan kemewahan duniawi. Berbagai pertikaian terjadi di tanah air kita dan di seluruh dunia, yang mengatasnamakan agama, sebenarnya adalah berdasarkan pada kepentingan pribadi. Tidak ada konflik dan kerusuhan yang disebabkan secara murni oleh ajaran agama. Yang ada oknum-oknum tertentu atau kelompok tertentu yang menggunakan sentimen agama untuk kepentingan dirinya dan kelompoknya. Semua agama mengajarkan pemeluknya agar berbuat baik antar sesama, menegakkan keadilan, dan menjunjung tinggi kemanusiaan.

Mengapa orang-orang dan kelompok tertentu sering

mengkambinghitamkan agama untuk melakukan tindakan makar, hal ini dilakukan dengan tujuan supaya perjuangannya yang di dasarkan pada

kepentingan pribadi dan golongan supaya mendapat dukungan yang luas. Apabila ia berjuang, si A misalnya, dengan mengatasnamakan dirinya sendiri siapa yang akan mendukungnya. Tetapi begitu mengatasnamakan agama, dengan segera mendapat dukungan yang luas dan bersifat fanatik. Masyarakat dunia harus cepat disadarkan mengenai perilaku menyimpang ini, agar tidak tertipu oleh orang-orang yang berkecenderungan merusak peradaban yang luhur. Penerapan akhlak dan budi pekerti dalam masyarakat majemuk dan global merupakan tanggung jawab yang harus ditegakkan oleh setiap diri manusia yang menghendaki kedamaian dan kemuliaan dalam masyarakat global.

5.3. Akhlak dalam Kehidupan Akademik dan Profesi 5.3.1. Akhlak dalam Kehidupan Akademik

Akademik menurut pengertian sederhana adalah suatu yang berhubungan dengan kegiatan ilmiah; bersifat ilmu pengetahuan; bersifat teori. (KBBI, 2002: 16). Dengan demikian, kehidupan akademik menunjukkan ciri-ciri kehidupan tertentu dalam berpikir dan bersikap. Ciri pemikiran tersebut bersifat kritis, sistematis, kreatif, dan objektif yang didasarkan pada sikap rasional dan filosofis. Dalam kehidupan akademik akhlak dan budi pekerti mewarnai nuansa keilmuan dan istilah yang biasa dipergunakan adalah etika keilmuan. Etika keilmuan menurut Irmayanti M. Budiyanto, etika keilmuan memiliki prinsip etis yang berlandaskan pada apa yang harus dilakukan dalam ilmu pengetahuan dan apa yang secara normatif harus dilakukan seorang ilmuwan. Dalam etika keilmuan tersebut, keharusan moral merupakan persoalan pokok yang mengacu pada

elemen kaidah moral, yaitu (1) hati nurani, (2) kebebasan dan tanggung jawab, (3) nilai dan norma yang bersifat kegunaan. (Munjilan, 2007: 107).

Perilaku manusia baik yang nampak maupun yang tersembunyi semuanya bersumber pada hati nuraninya. Apabila hati nuraninya baik dan jernih akan memancarkan kebaikan dan perilaku yang terpuji, sebaliknya apabila hati nuraninya ternoda akan memancarkan perbuatan yang buruk dan tercela. Karena itu, hati nurani merupakan penentu bagi perilaku seseorang. Hati nurani

diibaratkan seperti cermin, sebagai cermin ia dapat menjadi sangat kotor sehingga orang yang bercermin padanya tidak dapat melihat raut mukanya dengan jelas. Sebaliknya apabila cermin itu sangat bersih, hingga orang yang bercemin kepadanya sangat jelas. Jernih atau keruhnya cermin tersebut sangat ditentukan oleh pemiliknya (manusia), apakah ia rajin membersihkannya atau

membiarkannya kotor dan ternoda. Hati nurani selalu berkaitan dengan kesadara manusia dan terkait dengan perilakunya. Dengan hati nurani manusia dapat

mengenali dirinya dan mengenali orang lain dengan baik. Seorang ilmuwan dalam melakukan aktifitas ilmiahnya harus dapat menghayati dan sekaligus

membedakan antara yang baik dan terpuji atau yang buruk dan tercela, merealisasikan yang terpuji itu, serta menolak yang buruk atau tercela.

Seorang ilmuwan memiliki kebebasan dalam menggunakan paradigma yang diingininya, bebas melakukan objek penelitian, demikian juga

metodologinya. Namun demikian, kebebasan itu selalu terbatas karena ditentukan oleh beberapa faktor, misalnya aturan-aturan dalam suatu institusi, sumber dana, dan kemampuan intelektual yang terbatas. Ilmuwan harus pandai memilah dan memilih agar kebebasan yang dimilikinya menjadi sangat bermakna.

Kebebasannya juga akan dikaitkan dengan tanggung jawabnya, kebebasan dan tanggung jawab merupakan dua hal yang tidak dapat diceraipisahkan. Kaidah berikutnya yang dimiliki para ilmuwan adalah nilai dan norma moral, nilai moral akan muncul dan beradaptasi dalam perilaku seseorang dengan nilai-nilai lain, seperti nilai agama, hukum, dan nilai budaya. Nilai moral selalu berkaitan dengan tanggunjawab seseorang dan sangat menentukan apakah seorang ilmuwan berlaku

baik atau buruk dari segi etis. Ilmu pengetahuan yang baik adalah ilmu yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan masyarakat dan dapat mendatangkan

kemaslahatan secara menyeluruh.

Dalam dokumen Bahan Ajar 2 MPKT (Halaman 104-110)