• Tidak ada hasil yang ditemukan

Etika Kemajemukan

Dalam dokumen Bahan Ajar 2 MPKT (Halaman 150-159)

MASYARAKAT DAN MULTIKULTURALISME

7.3. Etika Kemajemukan

Etika dalam hal ini sebagaimana yang dikemukakan oleh K.Bertens sebagai norma-norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau sekelompok orang dalam mengatur perilakunya. Bagaimana kita merencanakan perilaku

ditengah masyarakat yang majemuk dari sudut budaya, etnis dan agama. Dengan melihat potret kehidupan sosial dalam masyarakat Indonesia masa yang akan datang perlu dirangkai kehidupan bersama yang lebih harmonis. Secara spesifik, dalam tataran masyarakat yang majemuk, perlu dibangun kesadaran bersama bahwa dalam berperilaku sehari-hari dan sekaligus berinteraksi antara

menghormati perbedaan-perbedaan yang muncul. Dalam rangka mewujudkan kesadaran kolektif tersebut yakni membangun kesadaran masayarakat untuk mingkatkan etika kemajemukan, ada hal-hal yang harus dilakukan secara bersama sama. Ada hal-hal yang tidak perlu dilakukan dan adap ula hal-hal yang perlu dihormati.

Adapun hal-hal yang harus dilakukan sebagai berikut :

1. mewujudkan kemauan bersama untuk mewujudkan perdamaian dengan menggalang kesadaran kolektif.

2. duduk bersama merumuskan solusi-solusi terbaik untuk menciptakan perdamaian dengan mengedepankan kepentingan bersama dari pada kepentingan golongan atau kelompok.

3. bersama menahan diri untuk terlibat dalam konflik kepentingan yang mengareah kepada konfrontasi fisik secra masal

4. mengedapankan kesaudaraan bersama dalam mencari upaya untuk menciptakan kesadaran kolektif, tanpa asa kepentingan pribadi (vested

interest)

Hal-hal yang tidak perlu dilakukan bersama adalah melebur kebenaran masing-masing, memaksa pada pihak lain yang berbeda pandangan dan ideologi, menggeneralisasi setiap perbedaan dan lain sebagainya ingin hidup bersama dalam perdamaian.Hal-hal yang harus dihormati adalah penghargaan terhadap kebenaran agama, ideologi, perbedaaan budaya masing-masing tanpa harus mengungkapkan kekurangan ataupun kekurangan yang bernada melecehkan.

Jika hal tersebut dapat diwujudkan dan dilaksanakan, maka selanjutnya bagaimana menyebarluaskan dalam masyarakat luas. Artinya masyarakat luas harus diajak bersama untuk mewujudkan kesadaran kolektif tersebut yang dinilai dari kelompok-kelompok kecil sampai komunitas-komunitas besar seperti beda agama. Katakanlah ajakan untuk mewujudkan kesadaran kolektif itu dimulai dari keluarga, pergaulan dengan tetangga sampai kepada masyarakat. Ketika pada masyarakat diperlukan etika kemajemukan yang solid yaitu lebih mengedepankan kebersamaan daripada mempermasalahkan perbedaan-perbedaan.

Sehubungan dengan ini, nilai moral universal seperti kejujuran, keadilan, tolong-menolong, saling kasih mengasihi dan perlindungan terhadap hak asasi manusia harus lebih dikedepankan daripada hal-hal yang parsial dan ekslusif. Juga kesamaan-kesamaan budaya bahwa kita satu nenek moyang dan mengalami sikap yang sama dan tergantung dan membutuhkan satu dengan yang lainnya harus menjadi pedoman dalam menjalin hubungan dengan etis lain. Untuk itu kita perlu memiliki komitmen bersama terhadap hal-hal sebagai berikut :

1. Saling menghargai, menahan diri, lapang dada, mengingatkan untuk kebaikan, berniat suci untuk kebaikan menolong dalam kebaikan memaafkan dan mendoakan

2. Saling mengedepankan kebersamaan, saling berbuat baik untuk bersama, membela jika salah satunya teraniaya, merasa bersaudara,

mendukung keputusan bersama, berjuang menegakkan keputusan bersama, mengalah apabila tidak mencapai sepakat.

3. Berperilaku saling beradab (beretika) tidak terprovokasi saling mencintai, saling bersahabat secara akrab, saling menolong dalam kebaikan.

Komitmen-komitmen diatas mengingatkan kita untuk tidak berbuat bebas dari aturan yang telah disepakati bersama. Karena itu membangun (menciptakan) kesadaran kolektif pasti mendapat tantangan maka komitmen dapat membuat kita lebih solid untuk melangkah dan menatap hari esok yang lebih cemerlang dan beretika.Agar semua dapat terlaksana maka kita semua perlu berperilaku : jujur, adil, kerja sama, tanggung jawab, sopan, disiplin dan peduli.

Etik pergaulan penting yang harus dijaga dalam bergaul dengan saling mengenal dan kerja sama pada masyarakat majemuk.

1. Bergaulah dengan siapa saja tanpa memandang agama, suku bangsa, pandangan politik dengan saling menghargai sifat masing-masing.

2. Hiasilah pergaulan dengan berperilaku sopan (berakhlak dan budi pekerti), pergunakan bahasa yang sopan raut wajah yang sopan dan sebagainya sungguhpun anda berbeda pendapat dan ideologi dengan mereka.

3. Jangan menjadikan pertemuan itu sebagai ajang membuat strategi untuk merusak kebenaran dan melesatarikan permusuhan.

4. Materi pembicaraan dalam pertemuan jangan sampai mengarah pada sikap caci maki, membicarakan aib, dan merencanakan langkah-langkah untuk menjatuhkan orang, agama, atau etnis lain.

5. Kerja sama dalam pergaulan supaya diarahkan untuk kebaikan bersama (konstruktif) bukan untuk lkepentingan kelompok atau golongan yang bersifat destruktif.

6. Jangan memanfaatkan kerja sama yang sudah terbina hanya untuk mencari kepentingan pribadi, kelompok, atau golongan lain.

7. Akhirilah setiap pertemuan dan dialog dengan saling minta maaf dan membuat janji serta membangun komitmen untu meneruskan persahabatan yang sudah terjalin.

8. Berilah teladan dan contoh perilaku dan ucapan yang baik, terutama dalam pergaulan bersama supaya teman bergaul menjadi simpati dan jangan mengobral janji yang belum tentu ditepati apalagi tidak ditepati. Dengan melaksanakan kedelapan pedoman tersebut berarti telah dilaksanakan prinsip-prinsip pergaulan dalam etika kemajemukan dan telah

menangkap filosofi bergaul serta mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

7. 4. Dampak Kemajemukan

I

ndonesia penduduknya terdiri atas berbagai suku bangsa, bahasa dan budaya yang sangat majemuk. Implikasi dari kemajemukan masyarakat dan kebudayaan di Indonesia ialah beragamnya pula sistem budaya dalam masyarakat, dan munculnya masalah kritikal. Yang dimaksud dengan sistem budaya adalah kepercayaan, nilai-nilai, dan norma-norma untuk mengatur hubungan sosial dalam masyarakat. Sistem budaya itu hidup dalam alam pikiran sebagian besar dari warga masyarakat mengenai hal-hal yang mereka anggap amat bernilai dalam hidup. Oleh karena itu sistem nilai budaya biasanya berfungsi sebagai pedoman bagi tingkah laku manusia dalam kehidupan sosialnya.

Secara garis besar terdapat empat macam sistem budaya di Indonesia yang jelas berbeda satu sama lain (Bachtiar 1987). Masing-masing sistem budaya ini praktis mengatur seluruh aspek kehidupan orang-orang yang dianggap penting, atau yang lebih penting lagi menganggap dirinya sendiri, sebagai pemilik sistem itu.

Pertama adalah sistem budaya dari berbagai kelompok etnik di Indonesia.

Masing-masing kelompok etnik itu beranggapan bahwa kebudayaan mereka diwariskan secara turun-temurun dari nenek moyang yang hidup di “zaman dongeng.” Masing-masing budaya kelompok etnik itu mempunyai tanah asal, wilayah tempat para nenek moyang pertama kali menetap, asal dari masyarakat etnik yang kemudian makin meluas. Sistem budaya ini biasanya disebut sebagai sistem adat.

Pada mulanya, inti dari sistem budaya etnik adalah kepercayaan religi yang masuk ke dalam keseluruhan sistem budaya. Termasuk di dalamnya mitos-mitos mengenai asal-usul nenek moyang dan biasanya merupakan suatu

kosmologi yang rumit. Kepercayaan itu memberi batasan tentang apa itu masyarakat yang baik. Pada kebanyakan masyarakat pedesaan, kehidupan sosialnya terutama dikendalikan oleh suatu sistem budaya etnik. Sedangkan di kota-kota besar mungkin dijumpai aneka ragam kelompok etnik yang berbeda-beda. Oleh karena itu kota-kota besar biasanya menampakkan aneka ragam sistem budaya etnik.

Kedua, sistem budaya yang terdiri atas sistem-sistem budaya agama besar

yang tanpa kecuali, berasal dari luar kepualuan Indonesia. Tidak satu pun dari sistem budaya yang berdasarkan agama ini mempunyai tanah asal di Indonesia, dan semua sistem budaya ini mempunyai banyak pengikut di luar Indonesia. Hal itulah yang merupakan pembeda terpenting antara sistem budaya yang berdasar agama dengan sistem budaya yang berdasar pada kelompok etnik. Seiring dengan

perkembangan waktu, berbagai kelompok etnik (yang semula animistik) beralih atau menyesuaikan diri kepada agama-agama pendatang itu.

Masing-masing agama di dunia menyatakan dirinya mempunyai kewajiban moral untuk mengatur semua aspek kehidupan, setidak-tidaknya kehidupan masyarakat penganut agama itu. Pada kenyataannya, tidak semua penganut suatu agama benar-benar menjalankan perintah agama yang dianut-nya. Bahkan yang paling fanatik pun cenderung untuk memilih apa yang sebaiknya diterima dan apa yang sebaiknya ditolak. Lebih lanjut, kebanyakan orang tetap beranggapan diri mereka sebagai anggota masyarakat etniknya masing-masing, dan karena itu merasa bertanggung jawab atas sistem budaya masyarakat sendiri.

Ketiga, sistem budaya Indonesia, yang merupakan sistem termuda di

antara semua sistem budaya yang ada di Indonesia. Dilihat dari fungsinya dalam pengintegrasian masyarakat Indonesia secara total, kedudukan sistem budaya baru itu sangatlah penting. Semua penduduk pribumi dan nonpribumi dapat dianggap sebagai anggota sistem budaya ini. Unsur-unsur sistem budaya ini telah

terbentuknya setidaknya sejak sekitar awal abad XX yang kemudian secara bertahap tumbuh menjadi suatu sistem yang mandiri. Bahasa Indonesia,

misalnya, mengalami “pemisahan” dari bahasa Melayu, dan berkembang sebagai alat komunikasi baru yang menggantikan bahasa penguasa kolonial Belanda.

Sistem budaya Indonesia juga mengembangkan sistem normatif dan nilai-nilai dasarnya sendiri, yang tidak berakar secara utuh pada salah satu budaya masyarakat etnik atau tradisi keagamaan melainkan berakar pada semua sistem budaya yang ada. Nilai-nilai dasarnya telah dirumuskan menjadi ideologi negara yakni Pancasila. Unsur pokok sistem normatif bangsa Indonesia adalah Undang-Undang Dasar Negara. Sedangkan unsur-unsur penting lainnya dari sistem normatif itu adalah semua norma hukum resmi yang diharapkan diterapkan dan dipatuhi seluruh anggota masyarakat dalam kegiatan mereka sebagai warga negara Republik Indonesia. Norma-norma itu mengatur hak dan kewajiban semua warga negara Indonesia dan siapa saja selama mereka tinggal di wilayah ini.

Keempat, adalah sistem budaya yang terdiri atas sistem-sistem budaya

asing. Masuknya sistem-sistem budaya asing itu pada awalnya dapat dilihat bersamaan masuknya agama-agama besar ke kepulauan Indonesia sejak berabad-abad yang lalu. Sistem-sistem budaya agama besar itu berhasil mengakar secara kuat di kalangan penduduk sehingga sedikit-banyak mempengaruhi pikiran, sikap dan tindakan sebagian warga masyarakat di Indonesia. Sebaliknya pula, sistem-sistem budaya agama itu dalam tingkat tertentu telah kehilangan identifikasinya sebagai sistem budaya asing meskipun tidak hilang sama sekali. Misalnya dalam sistem budaya agama Islam masih digunakan bahasa Arab sebagai ungkapan komunikasi keagamaan; demikian juga sistem budaya agama Katolik masih berkaitan dengan Roma, sistem budaya agama Protestan masih berhubungan

dengan negara-negara Protestan di Barat, dan sistem budaya Hindu dan Budha masih berasosiasi dengan India.

Sementara itu, sebagian sistem budaya keduniawian asing juga berhasil masuk ke Indonesia, baik dari Eropa, Ame-rika maupun dari Asia seperti India, Cina dan Jepang. Bagaimanapun, sistem-sistem budaya itu tetap dikenal sebagai sistem-sistem budaya asing dan kemungkinan besar akan tetap begitu. Demikian pula sebagian besar unsur-unsurnya akan tetap dianggap asing sehingga ada yang mengalami kesulitan untuk berkembang. Namun ada pula unsur sistem budaya itu yang telah menjadi bagian dari sistem budaya nasional Indonesia, misalnya

pengetahuan ilmiah, teknologi, sistem ekonomi dan sistem politik. Meskipun berasal dari sistem budaya asing, unsur-unsur budaya tersebut telah dimasukkan menjadi bagian dari sistem budaya nasional atau setidak-tidaknya dianggap begitu.

Sebagai masyarakat Indonesia yang memiliki keragaman nilai-nilai budaya sebagai dasar dalam berperilaku, dan telah menjadi sistim budaya, maka telah menjadi keharusan dalam kehidupan masyarakatnya terdapat norma-norma yang mengatur gerak langkah manusianya sebagi anggota masyarakat.

Sebagai makhluk budaya, perilaku manusia memerlukan pedoman atau acuan dalam bertingkah laku. Oleh karena itu, di dalam melakukan tindakan-tindakan atau perilaku dalam kehidupannya, manusia dilingkupi oleh sistem nilai atau himpunan nilai-nilai. Sebagai wujud ideal kebudayaan yang memberi acuan manusia dalam berperilaku, nilai-nilai tersebut seolah-olah mempunyai tingkatan-tingkatan atau gradasi dalam kedudukannya. Pembahasan mengenai sistem nilai budaya terdahulu, merupakan inti yang menjiwai semua pedoman yang mengatur tingkah laku warga masyarakat yang bersangkutan. Pedoman tingkah laku yang dimaksudkan itu di antaranya adalah norma-norma yang hidup di masyarakat atau dikatakan juga sebagai norma sosial.

Secara umum pengertian norma adalah segala aturan-aturan atau pola-pola tindakan, yang normatif, yang menjadi pedoman hidup bagi orang untuk bersikap tindak di dalam kehidupannya, baik dalam hidupnya sendiri maupun dalam pergaulan hidup bersama. Norma-norma tersebut diyakini oleh warga masyarakat yang bersangkutan sebagai milik bersama. Bagaimana suatu masyarakat meyakini suatu norma sebagai milik bersama nampak dalam tingkah lakunya, bagaimana mereka menundukkan diri atau mematuhi norma-norma tersebut.

Beraneka ragamnya norma-norma yang hidup di masyarakat dikarenakan norma-norma tersebut sudah mengacu pada peranan-peranan manusia dalam kedudukannya di masyarakat. Selain itu apabila di lihat dari sudut daya paksa atau sanksi untuk kepatuhan terhadap suatu norma terdapat perbedaan-perbedaan pula. Ada norma yang lemah atau tidak keras dengan sanksinya, atau dikatakan sebagai sanksi sosial saja. Sebaliknya ada pula yang mempunyai sanksi kuat yang

dinamakan sebagai sanksi hukum, sehingga norma tersebut dinamakan sebagai norma hukum. Dalam bab sebelumnya telah diuraikan tentang: norma-norma yang hidup dalam masyarakat yaitu norma hukum dan norma sosial lainnya, kemudian mengenai proses terjadinya norma hukum yang berasal dari norma sosial, dan pembahasan mengenai hal-hal pokok tentang hukum sebagai suatu norma yang penting dalam mengatur kehidupan manusia.

7. 5. Masyarakat dan Terbentuknya Sebuah Bangsa

Masyarakat pada dasarnya adalah kumpulan orang, namun tidak semua kumpulan orang dengan sendirinya merupakan masyarakat. Terdapat empat kriteria yang harus dipenuhi agar suatu kumpulan atau kelompok orang dapat disebut masyarakat, yaitu (1) memiliki kemampuan bertahan melebihi masa hidup (seorang) individu; (2) rekrutmen seluruh anggotanya melalui reproduksi; (3) kesetiaan pada suatu sistem tindakan utama bersama; dan (4) adanya sistem tindakan utama yang bersifat swasembada (Marion Levy). Konsekuensi dari kriteria tersebut ialah bahwa suatu kelompok dapat disebut masyarakat apabila kelompok itu memenuhi keempat kriteria tersebut; atau apabila kelompok itu dapat bertahan stabil untuk beberapa generasi walaupun sama sekali tidak ada orang atau kelompok lain di luar kelompok tersebut (Sunarto 1993).

Berdasarkan kriteria tersebut, kumpulan orang yang berada di malla tau pasar, misalnya, tidak dapat disebut sebagai masyarakat karena kumpulan itu bersifat sementara yang bubar ketika tujuannya selesai; kumpulan itu tidak melakukan reproduksi untuk menambah jumlah anggotanya; tidak ada suatu kesetiaan pada sistem tindakan utama bersama; dan tidak melakukan tindakan untuk menghasilkan kebutuhan sendiri seperti sandang dan pangan. Kumpulan orang dipasar lebih tepat disebut kerumunan atau crowd (Park 1972).

Memahami pengertian masyarakat tersebut, sudah barang tentu

terbentuknya masyarakat diawali dengan individu. Individu berinteraksi dengan individu menjadi keluarga, dan keluarga berinteraksi dengan keluarga lain menjadi sebuah masyarakat. Dalam masyarakat yang terjadi bukan satu keluarga berinteraksi dengan satu keluarga tetapi persatuan beberapa keluarga yang jumlahnya besar berinteraksi, komunulasi dan sepakat membuat satu

kepentingan bersama menjadi sebuah masyarakat. Setelah manusia membentuk masyarakat dengan ragam budayanya dan agar tetap eksis dan sejahtera,

manusia membentuk masyarakat yang lebih besar dan menamainya dengan bangsa. Timbul beberapa pengertian bangsa dan kebangsaan yang berkembang sejak akhir abad XIX dan kini menjadi bahan acuan dalam pembahasan tentang bangsa dan kebangsaan.

Dua pengertian tentang bangsa (nation) dan kebangsaan yang berkembang. Menurut Hans Kohn (Kaelan, 2002: 213): bangsa terbentuk

persamaan bahasa, ras, agama, peradaban, wilayah, negara dan kewarganegaraan. Teori Kohn ini nampaknya berdasarkan perkembangan pengertian bangsa (nation)

di Eropa kontinental. Bangsa di Eropa kontinental bangkit karena revolusi

leksikografi bahwa bahasa milik pribadi-pribadi kelompok khas (Anderson, 2001: 126). Eropah daratan dikuasai oleh Dinasti Habsburg di sebagian Eropa tengah dan Timur, dinasti Romanov di Eropa, Rusia dan Asia Barat hingga Siberia dan dinasti Usmania (Ottoman) di Balkan, sedangkan di wilayah Eropah Barat lebih indevenden setelah jatuhnya dinasti Bourbon. Bangsawan (penguasa lokal

diharuskan mampu berbahasa latin sebagai bahasa resmi. Persoalan timbul bahwa yang mampu menguasai bahasa resmi hanya sedikit. Ini berdampak bahwa

percetakan tidak hanya menerbitkan karya tulis secara luas sehingga akan menimbulkan kerugian. Sebagai tindak lanjutnya, para penerbit lebih banyak menggunakan bahasa lokal agar masyarakat yang mampu baca tulis lebih banyak. Akibat lanjutnya adalah tumbuhnya faham egalitarisme di kalangan masyarakat. Faham egalitarisme merupakan awal pertumbuhan demokrasi dan nasionalisme. Rupanya faktor inilah menjadikan Hans Kohn membuat definisi seperti ini. Bagi Negara yang dikuasai ras lain, nasinalisme tumbuh seperti dari Ernes Renan, yang pada hakikatnya juga merupakan pemberontakan terhadap penguasa yang ingin memaksakan penggunaan bahasa dan budaya penguasa. Oleh karena itu, Ernes Renan (kini menjadi suatu acuan oleh para pemimpin nasional di dunia

ketiga/Negara sedang berkembang) masyarakat : bahwa bangsa adalah, bukan suatu ras, bukan orang-orang yang mempunyai kepentingan yang sama, bukan pula dibatasi oleh batas-batas geografis atau batas alamiah. Nation (bangsa) adalah suatu solidaritas, suatu jiwa, suatu asas spiritual, suatu asas solidaritas yang dapat tercipta oleh perasaan pengorbanan yang telah lampau dan bersedia dibuat dimasa yang akan dating. Nation tidak terkait oleh negara, karena berdasarkan hukum. Menurutnya wilayah dan ras bukan penyebab timbulnya bangsa.

Berbeda bangsa dalam konsep Pancasila, (Kaelan, 2002:213) Dikatakan bangsa karena adanya unsur masyarakat yang membentuk bangsa, yaitu : berbagai suku, adat istiadat, kebudayaan, agama serta berdiam suatu wilayah yang terdiri atas beribu-ribu pulau. Bangsa juga mempunyai kepentingan yang sama dengan individu, keluarga maupun masyarakat yaitu tetap eksis dan sejahtera. Salah satu persoalan yang timbul dari bangsa adalah ancaman disintegrasi, dan yang menjadi penyebab utama biasanya perbedaan persepsi pada upaya masyarakat yang ingin “merekatkan diri lebih ke dalam”, yaitu ingin mempertahankan pola. Oleh karena itu, pada bangsa yang baru merdeka atau berdiri diupayakan memiliki alat perekat yang beasal dari budaya masyarakat. Pada perkembangannya alat perekat itu dikenal sebagai ideologi yang hendak dipahami oleh bangsa itu sendiri. Kebangkitan bangsa pada masyarakat terjajah sebenarnya tidak saja dimulai dengan upaya membangkitkan semangat egaliter oleh para pemimpin pergerakan tetapi oleh para pemimpin dinasti yang memaksakan masyarakat menggunakan budaya para penguasa.

Menyadari hal tersebut para pemimpin pergerakan mengupayakan perlawanan terhadap dominasi ras Eropa dengan membangun sekolah agar masyarakat nusantara mampu membaca dan menulis huruf Latin. Para raja di nusantara ikut membantu pasif. Kemampuan membaca dan menulis, ditindak

lanjuti dengan cukup memadai penerbitan kita dan penggalian filsafat masyarakat nusantara maupun Eropa. Masyarakat nusantara mulai gemar membaca dan menulis serta berusaha menerjemahkan kata asing ke dalamm bahasa Melayu dan Jawa. Karya-karya itu akhirnya membangkitkan semangat egaliter dan selanjutnya membangkitkan semangat kebangsaan. Kebangsaan diartikan sebagai ciri-ciri yang menandai bangsa (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2002: 102).

Sebagian orang Belanda yakin bahwa terbentuknya bangsa Indonesia sebagai hasil rekayasa J.P. Coen, yang telah berhasil mendirikan dan membangun benteng Batavia (Simbolon, 1995:372). Namun yang jelas kebangkitan ras

Melayu menjadi bangsa Indonesia didahului dengan kebangkitan semangat egaliter, yang diwujudkan melalui tiga jalur, yaitu: kebudayaan, ekonomi dan administrasi politik. Sumpah Pemuda yang menyatakan Satu Nusa, satu bangsa dan satu bahasa, yaitu bahasa Indonesia, pada tanggal 28 Oktober 1928

merupakan gambaran terbentuknya bangsa Indonesia sebagai bagian dari “nation state” dengan bahsa Indonesia sebagai bahasa kesatuan. Tujuh belas tahun

kemudian terwujud Negara Kesatuan Republik Indonesia. Salah satu unsur negara yang harus ada rakyat atau penduduk yang mendiami wilayah dan penduduk itu hendaknya mayoritasnya adalah warganegara, sedangkan pendududuk negara Indonesia (sebelum merdeka) terdiri atas tiga golongan, yang tentunya tidak setiap golongan akan setia pada negara baru. Dari ketiga penduduk ini kemudian

Dalam dokumen Bahan Ajar 2 MPKT (Halaman 150-159)