AKHLAK DAN BUDI PEKERTI 2.1. Pengertian Akhlak dan Budi Pekerti
2.2 Ruang Lingkup Ahklak dan Budi Pekerti
2.2.4 Akhlak terhadap Alam
Alam diciptakan untuk kepentingan manusia. Oleh karena itu, alam harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dengan penuh rasa tanggung jawab tanpa merusaknya. Pemanfaatan alam harus diiringi dengan tanggung jawab, termasuk di dalamnya pemeliharaan alam dan lingkungannya, agar terjadi kelestarian alam, sehingga dapat dinikmati oleh semua generasi, dan membantunya untuk
mempercepat pemulihan kembali jika terjadi kerusakan pada alam. Berakhlak pada alam berarti menyikapi alam dengan cara memelihara kelestariannya, dengan mengimbau pada manusia untuk mengendalikan dirinya dalam mengeksploitasi alam, sebab alam yang rusak akan dapat merugikan bahkan menghancurkan manusia sendiri.
Untuk menjaga keutuhan dan keindahan alam sebaiknya hindari hal-hal yang dapat mencemarkan lingkungan dan alam, seperti membuangan limbah rumah tangga dan limbah industri ke sungai yang akhirnya bermuara ke laut dan dapat merusak ekosistem yang ada. Pengambilan pasir dari sungai maupun dari laut yang melampaui batas, mengambil batu gunung dengan menggunakan bahan-bahan peledak yang bebas merupakan perbuatan yang tidak berakhlak pada alam sekitarnya.
2.3 Sumber, Akhlak, dan Budi Pekerti 2.3.1. Agama
Dilihat dari asal katanya, ‘agama’ berasal dari bahasa sanskerta ‘a’ yang berarti ‘tidak’ dan ‘gam’ berarti ‘kacau’. Jadi, agama = tidak kacau. Ada juga yang mengartikan a = tidak; gam = pergi, mengandung arti tidak pergi, tetap di tempat atau diwarisi turun-temurun. Kemudian dalam bahasa Arab agama disebut ad-Din. Kata ini mengandung arti ‘menguasai, menundukkan, patuh, utang, balasan, kebiasaan’ (Jalaluddin Rahmat, 2001: 12).
Berdasarkan pengertian dari akar kata tersebut, maka intinya adalah ikatan yang berasal dari sesuatu kekuatan yang lebih tinggi dari manusia sebagai kekuatan gaib yang tidak dapat ditangkap oleh pancaindra, namun mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap kehiduapan manusia sehari-hari.
Secara terminologi, maka agama dapat diungkapkan dalam pengertian: 1) kepercayaan diri pada suatu bentuk hidup yang mengandung pengakuan pada
suatu sumber yang berada di luar diri manusia dan mempengaruhi perbuatan-perbuatan manusia;
2) kepercayaan pada suatu kekuatan gaib yang menimbulkan cara hidup tertentu. 3) suatu sistem tingkah laku yang berasal dari sesuatu kekuatan gaib;
4) pengakuan terhadap adanya kewajiban kewajiban yang diyakini bersumber pada kekuatan gaib;
5) pemujaan terhadap kekuatan gaib yang timbul dari perasaan lemah dan perasaan takut terhadap kekuatan misterius yang terdapat dalam alam sekitar manusia;
6) ajaran-ajaran yang diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui seorang Rasul. (Jalaluddin Rahmat, 2001 : 13)
Dalam perspektif sosiologis, agama dapat didefinisikan sebagai suatu sistem kehidupan yang dianut dan tindakan-tindakan yang diwujudkan oleh suatu kelompok atau masyarakat dalam menginterpretasikan dan memberi respons terhadap apa yang dirasakan dan diyakini sebagai yang gaib dan suci. Secara mendasar dan umum agama sering diartikan sebagai seperangkat aturan dan peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan dan mengatur
Agama sebagai suatu sistem keyakinan, berbeda dengan sistem-sistem keyakinan atau isme-isme lainnya, karena landasan keyakinan keagamaan adalah pada konsep sakral dan profan atau dibedakan dari supranatural dengan yang natural. Selain itu ajaran-ajaran agama selalu bersumber pada wahyu yang
berisikan petunjuk-petunjuk Tuhan yang diturunkan kepada Nabi atau Rasul-Nya. Melalui Nabi ajaran-ajaran tersebut diajarkan kepada sahabat-sahabatnya yang merupakan kelompok pertama dan utama sebagai penganut agama tersebut dan kepada orang orang lainnya (Roland Robertson, 1988: vi). Dalam agama-agama besar atau Samawi, ajaran agama yang diturunkan melalui wahyu tersebut
dibukukan sebagai kitab suci, dan begitu juga ajaran para Nabi, sedangkan agama lokal atau primitif, ajaran-ajarannya tidak dibukukan dalam bentuk tertulis, tetapi dalam bentuk lisan sebagaimana terwujud dalam tradisi-tradisi atau upacara upacara. Bagi para penganutnya, agama berisikan ajaran-ajaran mengenai
kebenaran tertinggi dan mutlak tentang eksistensi manusia dan petunjuk-petunjuk untuk hidup selamat dunia dan akhirat sebagai manusia yang takwa kepada Tuhan, beradab dan manusiawi, yang berbeda dengan cara cara hidup hewan atau mahluk mahluk gaib yang jahat dan berdosa.
Agama sebagai sistem keyakinan dapat menjadi bagian dan inti dari sistem-sistem nilai yang ada dalam kebudayaan dari masyarakat yang bersangkutan, dan menjadi pendorong dan penggerak, serta pengontrol bagi tindakan-tindakan para anggota masyarakat tersebut agar tetap berjalan sesuai dengan nilai-nilai kebudayaan dan ajaran ajaran agamanya. Pengaruh ajaran agama itu sangat kuat terhadap sistem-sistem nilai yang ada dalam kebudayaan masyarakat bersangkutan. Sistem-sistem nilai dari kebudayaan tersebut terwujud sebagai simbol-simbol suci yang maknanya bersumber pada ajaran-ajaran agama yang menjadi acuannya. Dalam keadaan demikian, secara langsung atau tidak langsung, etos yang menjadi pedoman dari eksistensi dan kegiatan berbagai pranata yang ada dalam masyarakat (keluarga, ekonomi, politik, pendidikan dan sebagainya), dipengaruhi, digerakkan, dan diarahkan oleh berbagai sistem nilai yang sumbernya adalah pada agama yang dianutnya; dan terwujud dalam kegiatan-kegiatan para warga masyarakatnya sebagai tindakan-tindakan dan karya-karya yang diselimuti oleh simbol-simbol suci (Parsudi Suparlan, 1988: 7).
Agama sebagai ajaran dari yang Maha Tinggi merupakan sistem kehidupan yang berisikan ajaran dan petunjuk bagi para penganutnya supaya selamat dalam kehidupan dunia dan selamat (dari api neraka) dalam kehidupan setelah mati. Oleh karena itu, keyakinan keagamaan berorientasi pada masa yang akan datang. Dengan cara mengikuti kewajiban-kewajiban keagamaan dalam kehidupan sehari hari, sesuai dengan agama yang dianut dan diyakininya.
Dalam praktik hidup sehari-hari, motivasi yang terpenting dan terkuat bagi manusia terutama bagi para pelaku moral dan berakhlak adalah agama. Hampir semua jawaban tertumpu pada agama jika diberikan sebuah pertanyaan “mengapa perbuatan ini dilakukan atau perbuatan ini tidak boleh dilakukan?” Setiap agama
mengandung ajaran moral yang menjadi pegangan bagi perilaku para penganutnya.
Mengapa ajaran moral dari satu agama dianggap penting? Karena ajaran itu berasal dari Tuhan yang dianggap mempunyai kedudukan yang tinggi, yang lebih dari dirinya. Mengagungkan Tuhan merupakan kewajiban agama. Ajaran tentang akhlak, moral, maupun budi pekerti itu diterima berdasarkan keimanan dan keyakinan terhadap agamanya, tanpa memiliki rasionalitas, seperti makan daging babi haram dalam ajaran Islam. Ada juga yang secara umum memiliki alasan-alasan yang rasional untuk menerima aturan-aturan agama, seperti jangan berdusta, jangan membunuh, jangan menyakiti orang (K.Bertens, 2002 : 37).
Apabila agama berbicara tentang topik-topik etis, pada umumnya ia memberi informasi dan berusaha memberi motivasi agar umatnya mematuhi nilai-nlai dan norma-norma yang sudah diterimanya berdasarkan iman, sedangkan filsafat berusaha memperlihatkan perbuatan tertentu dianggap baik atau buruk dengan menunjukkan alasan-alasan yang rasional. Demikian juga, ada perbedaan tentang kesalahan moral. Dalam konteks agama, kesalahan moral adalah dosa, karena melanggar perintahnya. Dari sudut filsafat moral, kesalahan moral dianggap pelanggaran prinsip etis yang seharusnya dipatuhi. Oleh karena itu, kesalahan moral pada dasarnya merupakan sebuah inkonsekuensi rasional (K.Bertens, 2002 : 38).
Meskipun agama dan filsafat berbeda sudut pandang tentang hal-hal etis, namun tidak berarti bahwa dalam bidang etis tidak ada hubungan erat antara agama dan filsafat. Hubungan ini dapat didekati dari segi falsafat maupun agama. Dipandang dari segi filsafat, para filosof yang beragama mau tak mau akan dipengaruhi oleh keyakinan religiusnya. Keyakinan yang dianutnya sebagai manusia beragama memberikan corak pemikiran yang mendasari alur pikirnya seperti yang dikenal dalam filosof Islam Al-Farabi, Al-Kindi, Ibn Sina, dan Ibn Miskawaih, serta Immanuel Kant dan sebagainya. Tidak mengherankan apabila seorang beriman, misalnya, percaya bahwa Tuhan telah menciptakan dunia dan manusia agar kehidupan ini penuh kesucian dan dalam diri manusia terdapat unsur-unsur suci dan bersih.
Dipandang dari segi agama, agama yang membahas masalah-masalah etis seringkali akan menggunakan argumentasi-argumentasi yang pada dasarnya bersifat filosofis, terutama kalau masalah-masalah itu baru dan diakibatkan oleh perkembangan ilmiah yang modern. Sebab dalam hal ini agama hanya memiliki pedoman-pedoman prinsip etis secara umum, yang dapat diterima oleh semua orang pada semua zaman. Dalam menghadapi masalah aktual, agama seringkali menggunakan argumentasi-argumentari rasional, menerapkan prinsip-prinsip umum bersangkutan, seperti masalah aborsi, kloning, eutanasia. Bagi orang beragama, Tuhan merupakan dasar dan jaminan bagi berlakunya tatanan moral dan tempat pertanggung jawaban manusia atas perbuatannya. Bagi orang yang
tidak beragama, rasio menjadi sumber moral yang mempunyai tanggung jawab pada diri sendiri, tanggung jawab terakhir dianggap kurang penting.
Salah satu ciri yang mencolok dalam agama, yang berbeda dengan isme-isme lainnya, adalah penyerahan diri secara total kepada Tuhan. Penyerahan ini tidak terwujud dalam bentuk ucapan, melainkan dalam tidakan-tindakan
keagamaan sehari-hari.Tidak ada satu agama pun yang tidak menuntut adanya penyerahan diri secara total dari para penganut atau pemeluknya termasuk juga agama-agama lokal yang digolongkan sebagai kepercayaan. Dari ciri ini agama dinilai secara pribadi yang melibatkan emosi dan pemikiran-pemikiran yang sifatnya pribadi yang diwujudkan dalam tindakan-tindakan keagamaan (upacara, ibadat, amal ibadah) yang sifatnya individual, kelompok ataupun sosial yang melibatkan sebagian atau pun seluruh masyarakat. Walaupun di sisi lain agama mempunyai sifat-sifat secara umum untuk dimiliki bersama orang banyak atau kelompok. Dalam kelompok atau kebersamaan yang dilandasi oleh ajaran agama, keyakinan keagamaan dari anggota-anggota kelompok menjadi kuat dan
mantap.Tidak ada kesimpang-siuran dalam pemahaman mengenai pedoman dan landasan yang menentukan arah keyakinan keagamaan yang telah ditentukan dalam kitab suci agamanya.
Dalam kelompok atau kebersamaan itulah keteraturan dimantapkan berdasarkan atas norma-norma yang berlaku dalam kehidupan kelompok apa pun dan di mana pun yang bukan kelompok keagamaan. Yang dimaksud dengan berdasarkan atas norma-norma adalah bagaimana para anggota kelompok diharapkan bertindak dan berkeyakinan, bagaimana mereka diharapkan menginterpretasi serta menghasilkan benda-benda dan mewujudkan kegiatan-kegiatan sesuai keyakinan keagamaan dari kelompok tersebut. Dalam kehidupan berkelompok dan bermasyarakat inilah tradisi-tradisi keagamaan yang dimiliki individu menjad bersifat kumulatif dan kohesif, yang menyatukan
keanekaragaman interpretasi-interpretasi dan sistem-sistem keyakinan keagamaan. Penyatuan keanekaragaman itu terjadi karena pada hakikatnya dalam setiap
kehidupan berkelompok terdapat pola-pola interaksi tertentu yang melibatkan dua orang atau lebih, dari pola tersebut para anggotanya secara bersama-sama
memiliki satu tujuan utama untuk diwujudkan sebagai tindakan tindakan berpola. Itu dimungkinkan karena kegiatan-kegiatan kelompok tersebut terarah atau terpimpin berdasarkan atas norma-norma yang disepakati bersama yang terwujud dari kehidupan berkelompok (Parsudi Suparlan, 1988:8).
Secara struktural fungsional, agama melayani kebutuhan-kebutuhan manusia untuk mencari kebenaran dan mengatasi serta menetralkan berbagai hal buruk dalam kehidupan. Semua agama menyajikan formula-formula tersebut yang pada hakikatnya bersifat mendasar dan umum berkenaan eksistensi dan perjalanan hidup manusia, yang masuk akal dan rasional sesuai dengan keyakian
keagamaannya, mendalam serta penuh dengan muatan-muatan emosi dan perasaan yang manusiawi (Greetz, 1966: 1-46). Hal-hal buruk yang dihadapi
manusia selalu membayangi kehidupannya. Agama dapat menyajikan penjelasan-penjelasan yang dapat masuk akal dan cara-cara yang mendasar dan umum untuk menetralkan atau mengatasi bayangan-bayangan buruk tersebut. Oleh sebab itu, agama tetap lestari dalam kehidupan manusia, sepanjang zaman selama manusia itu ada.
Kelestarian agama dalam struktur kehidupan manusia juga disebabkan antara lain oleh hakikat kehidupan dan kegiatan-kegiatan kelompok keagamaan. Setiap kelompok keagaman, kelompok apa pun dan di mana pun serta kapan pun, selalu menaruh perhatian pada peremajaan atau regenerasi bagi kelangsungan kelompok keagamaan tersebut, secara langsung ataupun tidak langsung tertarik melakukan kegiatan-kegiatan untuk melestarikan sistem keyakinan agama pada anak-anak dan remaja. Kelompok keagamaan menjadikan pendidikan agama bagi para anggota baru melalui pendidikan formal maupun melalui sosialisasi yang dilakukan oleh para orang tua (yang menjadi anggota kelompok).
Kelompok-kelompok keagamaan juga tidak hanya melakukan kegiatan-kegiatan peribadatan dan pendidikan saja, tetapi melaksanakan kegiatan-kegiatan sosial dan derma bagi masyarakat pada umumnya dan memproduksi benda-benda yang berguna dalam kehidupan manusia. Juga memberikan jasa-jasa pelayanan keagamaan yang berguna bagi kebutuhan para anggotanya. Melalui kegiatan kelompok tersebut ditanamkan semacam keterikatan dan solidaritas sosial dan kemasyarakatan yang terpusat pada simbol-simbol utama dan suci dari agama yang dianut, gereja, totem, masjid atau lainnya (Durkheim 1965: 167). Melalui kegiatan-kegiatan kelompok keagamaan tersebut, maka agama dari zaman ke zaman tetap ada dalam struktur kehidupan manusia.
Agama tidak mengalami perubahan-perubahan (Greetz 1971), tetapi yang berubah adalah tradisi-tradisi keagamaan atau sistem-sistem keyakinan
keagamaan, sedangkan teks suci atau doktrin agama itu sendiri, sebagaimana tertuang dalam kitab suci, tetap tidak berubah. Jadi agama tidak akan hilang dan digantikan dengan sistem kehidupan sekuler. Roland Robertson mengatakan perubahan keyakinan keagamaan, antara lain disebabkan oleh adanya perbedaan-perbedaan interpretasi oleh para penganut agama dan oleh situasi-situasi yang berubah yang dilihat dari interpretasi-interpretasi oleh para penganut agama tersebut secara berlainan (Roland Robertson 1988: 3).
Jika agama dikaitkan dengan masyarakat, setidak tidaknya ada empat tipe tingkat keagamaan, yaitu:
1) tingkat rahasia, yakni seseorang memegang ajaran agama yang dianut dan diyakininya itu untuk diriya sendiri dan tidak untuk didiskusikan atau dinyatakan kepada orang lain;
2) tingkat privat atau pribadi, yakni dia mendiskusikan atau menambah dan menyebarkan pengetahuan dan keyakinan keagamaannya dari dan kepada
sejumlah orang tertentu yang digolongkan sebagai orang yang secara pribadi dekat hubungannya dengan dirinya;
3) tingkat denominasi, yakni individu mempunyai keyakinan keagamaan yang sama dengan yang dipunyai individu-individu lainnya dalam satu kelompok besar, karena itu bukan merupakan sesuatu yang rahasia atau privat;
4) tingkat masyarakat, yakni individu memiliki keyakinan keagamaan dari warga masyarakat tersebut (J.P. Williams, 1962).
Melihat pada tingkat keagamaan yang ada dalam masyarakat tersebut di atas, maka perilaku keagamaan yang sudah mengakar pada masyarakat tidak mungkin hilang atau lenyap begitu saja, atau paling tidak membutuhkan waktu lama untuk melakukan sebuah perubahan pada masyarakat. Pada akhirnya, baik agama maupun perilaku keagamaan seringkali dijadikan sumber dalam
menjalankan kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan pemaparan agama di atas, dapat dipahami bahwa perilaku manusia, baik individu, kehidupan dalam kelompok terkecil maupun kelompok luas masyarakat dan lingkungan, didasari oleh keyakinan agama yang kemudian membudaya dalam diri dan lahir menjadi tradisi. Keyakinan yang melekat pada manusia terhadap sesuatu seringkali dijadikan titik tolak untuk berbuat, bahkan dijadikan sebagai pandangan hidup. Dengan demikian agama dan falsafah hidup dijadikan sebagai sumber dalam berperilaku.