AKHLAK DAN BUDI PEKERTI 2.1. Pengertian Akhlak dan Budi Pekerti
2.2 Ruang Lingkup Ahklak dan Budi Pekerti
2.3.2 Falsafah Hidup
Falsafah hidup merupakan kristalisasi dari nilai-nilai yang diyakini kebenarannya, ketepatan, dan kemanfaatannya yang kemudian menimbulkan tekad untuk mewujudkannya dalam bentuk sikap, tingkah laku, dan perbuatan. Sedangkan nilai merupakan sesuatu yang menarik bagi kita, sesuatu yang kita cari, sesuatu yang menyenangkan, sesuatu yang disukai dan diinginkan (Hans Jonas, 1992: 36). Nilai pada hakikatnya adalah sifat atau kualitas yang melekat pada suatu objek, bukan objek itu sendiri. Sesuatu itu dikatakan mengandung nilai, artinya, ada sifat atau kualitas yang melekat pada sesuatu itu.
Misalnya alam itu indah dan perbuatan itu susila. Indah dan susila adalah sifat atau kualitas yang melekat pada alam dan perbuatan. Maka nilai itu ada, suatu kenyataan yang tersembunyi di balik kenyataan-kenyataan lainnya (Kaelan 2001). Beranjak dari pengertian di atas, maka suatu aliran atau keyakinan yang dianggap memiliki nilai, apakah nilai itu universal atau praktis, yang diyakini kebenarannya, maka ia dijadikan sebagai pandangan hidup.
Dalam praktiknya, menilai berarti menimbang, suatu kegiatan manusia untuk menghubungkan sesuatu dengan sesuatu yang lain, kemudian untuk selanjutnya diambil keputusan. Keputusan ini merupakan keputusan nilai yang dapat menyatakan berguna atau tidak berguna, benar atau tidak benar, baik atau tidak baik. Keputusan nilai yang dilakukan oleh subjek penilai tentu berhubungan
dengan unsur-unsur yang ada pada diri manusia sebagai subjek penilai, yakni unsur-unsur jasmani, akal, rasa dan karsa, serta keyakinan. Dengan demikian sesuatu dianggap bernilai apabila itu berharga, berguna, benar, indah, baik dan sebagainya.
Dalam kehidupan masyarakat terdapat banyak nilai yang diyakini kebenarannya kemudian dijadikan falsafah hidup dipakai sebagai sumber dalam berperilaku. Misalnya yang terdapat dalam masyarakat Batak yang dianggap mempunyai nilai kebaikan adalah kekayaan, keturunan dan kehormatan. Nilai ini esensinya adalah pemilikan status dan kekuasaan. Mereka menolak agama Kristen hanya apabila agama itu memberikan kehormatan, kekayaan dan kekuasaan yang lebih tinggi dari yang diberikan oleh agama nenek moyangnya (BA. Simanjuntak, 2002). Dalam kehidupan masyarakat Aceh, besarnya pengaruh Hikayat Perang Sabil, nilai kepentingan bersama lebih didahulukan dari kepentingan pribadi, sikap rela mengorbankan harta demi kepentingan negara. Dari nilai ini orang mempunyai filsafat hidup yang menegaskan bahwa setiap orang harus mau berkurban harta benda untuk berjuang dijalanTuhan (Alfian, 1977: 36).
Dalam masyarakat Jawa dikenal adanya istilah “kejawen” yang
diidentikkan dengan pandangan hidup atau falsafah hidup Jawa, walaupun tidak berarti bahwa setiap orang yang tergolong etnik Jawa pasti mempunyai pandangan hidup demikian. Menurut Sujamto, istilah kejawen mewadahi seluruh pengertian yang tercakup dalam pandangan hidup Jawa atau wawasan budaya Jawa. Ia juga tak jauh berbeda dengan istilah falsafah Jawa yang dipergunakan oleh dr.
Abdullah Ciptoprawiro, yang kristalisasi atau inti dasarnya adalah tantularisme (faham tentang ajaran Empu Tantular yang menegakkan bangunan religiositas Jawa, yang toleran, nonsektarian, akomodatif, rukun dan universal) (Sujamto, 2000 26). Kejawen bukan merupakan pandangan hidup seluruh etnis Jawa
sebagaimana batasan yang buat oleh Clyde Kluckhohn. Kebudayaan adalah suatu pola hidup eksplisit dan implisit yang merupakan suatu sistem yang terbentuk oleh sejarah, yang cenderung diikuti oleh seluruh atau sebagaian khusus dari suatu kelompok (Clyde Kluckhohn dan William H. Kelly, 1968: 188). Hal ini seperti yang dikemukakan oleh Clifford Geertz bahwa tidak semua masyarakat Jawa memiliki pandangan hidup kejawen karena masyarakatnya terdiri tiga golongan, yaitu Abangan, Santri dan Priyayi.
Dalam falsafat kejawen, persepsi tentang Tuhan dilukiskan dengan kata-kata Tan kena kinaya ngapa (tak dapat dilukiskan dan tak dapat dibayangkan). Menyadari kenyataan seperti itu, maka kelompok kejawen tidak suka
memperdebatkan keyakinannya tentang Tuhan dan tidak pernah menganggap keyakinannya adalah yang paling benar dan yang lain salah. Sikap batin inilah yang menimbulkan toleransi Jawa yang amat longgar, baik di bidang kehidupan beragama maupun di bidang-bidang lainnya (Sujamto, 2000: 50).
Dalam kehidupan masyarakat, pandangan hidup Jawa banyak didasarkan pada etika pewayangan Jawa. Dalam etika Jawa, sikap dan tindakan seseorang dinilai tidak secara hitam-putih. Semua sikap dan tindakan tidak hanya dilihat dari wujudnya saja tetapi juga yang terutama dari niat yang mendasarinya (Clifford Geertz, 1973: 127).
Masyarakat Indonesia yang terdiri atas berbagai suku bangsa dan masing masing bangsa sesuai dengan geografisnya masing-masing memiliki falsafat hidup tersendiri yang dapat mempengaruhi pola hidup dan perilaku manusianya. Hal ini membuat perlu diangkatnya nilai-nilai yang bersifat pluralistik, yang mencerminkan kesatuan Indonesia dalam kemajemukan. Selama ini nilai-nilai persatuan, kemanusiaan, keadilan, kebersamaan telah menjadi nilai yang diyakini kebenarannya dan dijadikan sebagai falsafat hidup bangsa dalam bermasyarakat dan bernegara (Prayitno 2003: 249)
Selain itu masyarakat liberal menganut paham empirisme, yang
mendasarkan pada kebenaran pengalaman. Tokohnya David Hume menegaskan bahwa pengalaman lebih membuat keyakinan dibanding kesimpulan logika atau kemestian sebab akibat. Akal tidak dapat bekerja tanpa bantuan pengalaman. Positivisme adalah lanjutan dari empirisme. Bagi positivisme pengalaman perlu untuk mengumpulkan data sebanyak mngkin agar akal mendapatkan suatu hukum yang bersifat uiversal, tetapi menerima pengalaman terbatas pada objektif saja. Segala uraian yang di luar fakta atau kenyataan dikesampingkan. Karena itu metafisika ditolak. Materialisme yang mendasarkan atas hakikat materi,
keyakinan kebenarannya terletak pada sesuatu yang mempunyai materi. Tokohnya adalah Karl Marx yang menganggap bahwa agama adalah hasil proyeksi pikiran dan keinginan manusia. Gagasan tentang agama adalah hasil suatu bentuk masyarakat tertentu. Negara dan masyarakat inilah yang menghasilkan agama (Amsal Bahtiar,1999: 120-18) Dalam paham ini terdapat nilai yang menjadi falsafat hidupnya dan menjadi dasar untuk berperilaku.
Dengan demikian falsafat atau pandangan hidup bukan timbul seketika atau dalam waktu yang singkat saja, melainkan melalui proses waktu yang lama dan terus menerus, sehingga hasil pemikiran itu dapat teruji kebenarannya. Atas dasar ini manusia menerima hasil pemikiran itu sebagai pegangan, pedoman atau petunjuk yang disebut falsafat atau pandangan hidup. Apabila pandangan hidup diterima oleh sekelompok orang sebagai pendukung organisasi, maka ia disebut ideologi.
2.3.3 Tradisi dan Budaya 2.3.3.1.Tradisi
Dalam kehidupan di masyarakat dikenal adanya tradisi sebagai suatu gambaran sikap dan perilaku manusia yang telah berproses dalam waktu lama dilaksanakan secara turun-temurun dimulai dari nenek moyang. Tradisi sama
dengan adat kebiasaan yang dimunculkan oleh kehendak atau perbuatan sadar yang telah menjadi kebiasaan sekelompok orang. Ada dua faktor penting yang melahirkan adat kebiasaan:
1) adanya kecenderungan hati kepada perbuatan itu, dia merasa senang untuk melakukannya, dengan kata lain dia tertarik oleh sikap dan perbuatan tersebut; 2) diikutinya kecenderungan hati itu dengan praktik yang diulang ulang sehingga
menjadi biasa.
Di antara dua faktor itu yang kedua itulah yang sangat menentukan, sebab walaupun ada kecenderungan hati untuk melakukannya, tetapi apabila tidak ada kesempatan untuk memunculkan perbuatan, umpamanya ada pencegahan, ada halangan maka kecenderungan hati itu tidak terealisir. Sebaliknya mungkin mulanya tidak ada kecenderungan hati utuk berbuat tetapi selalu dihadapkan pada keharusan untuk berbuat, maka pertama kali ada unsur keterpaksaan untuk
berbuat, sedikit demi sedikit mengenalnya dan apabila dilakukan terus menerus kebiasaan itu akan memberi pengaruh juga pada perasaan hatinya karena terbiasa (Rahmat Djatmika, 1985:50) Membiasakan hal-hal baik dianjurkan dalam agama, walaupun tadinya kurang rasa tertarik hatinya untuk berbuat, apabila
menerus dibiasakan akan mempengaruhi sikap batinnya juga. Perbuatan terus-menerus yang memang diawali oleh agama membawa dampak positif karena tidak ada ajaran agama yang akan menjerumuskan umatnya.
Kadang-kadang tradisi yang terjadi di masyarakat justru berlainan dengan ajaran agama. Hal ini dilakukan karena menurut kehendak hati perbuatan ini harus terjadi. Yang menjadi ukuran penilaian baik dan buruk terhadap perbuatan
tersebut adalah kesepakatan bersama masyarakat setempat. Karena itu, tradisi sangat bervariasi sifatnya. Misalnya tradisi masyarakat Betawi berbeda dengan tradisi masyarakat Jawa. Begitu juga masyarakat Sunda, Bugis, Minang, Batak dan sebagainya.
Tradisi yang telah membudaya menjadi sumber dalam berakhlak dan berbudi pekerti seseorang. Manusia dalam berbuat akan melihat realitas
lingkungan sekitarnya sebagai upaya dari sebuah adaptasi walaupun sebenarnya dia telah mempunyai motivasi berperilaku yang sesuai dengan tradisi yang ada pada diriya. Sebagai contoh, perilaku masyarakat Jawa dan Madura di Jakarta, menunjukkan bahwa tradisi Jawa masih sangat melekat dalam perilakunya dengan berbagai tata krama dan adat istiadat yang dilakukan, walupun ia telah berada pada masyarakat metropolitan. Tradisi lain dari masyarakat Madura adalah semangat kerja keras dan membuat serta mempererat jaringan kesukuannya lebih menonjol jika dibandingkan dengan masyarakat Jakarta itu sendiri Begitu juga yang nampak dalam masyarakat Batak, Bugis Bali, Minang, Aceh, masing-masing tradisinya sangat mendominasi dalam melatar belakangi perilaku kesehariannya.
Oleh karena itu, jika masing-masing suku bangsa mempertahankan tradisi masing-masing yang begitu ketat sebagai sumber dari perilakunya, maka hal ini
sangat rentan terhadap timbulnya konflik-konflik sosial yang disebabkan oleh masig-masing etnis. Seperti yang dikatakan oleh Cliffod Geertz (1992),
masyarakat majemuk adalah masyarakat yang terbagi-bagi ke dalam subsistem-subsistem yang kurang lebih berdiri sendiri sendiri, ketika masing masing subsistem terikat ke dalam oleh ikatan-ikatan yang bersifat primordial (Prayitno, 2003: 99).
Manusia secara pribadi dalam melakukan tindakannya atau berperilaku selalu mengidetifikasikan dirinya dengan orang lain. Dalam proses identifikasi diri ini, yang terdekat dengan dirinya adalah keluarga atau lingkungan tempat ia berada. Maka gambaran kehidupan yang berlangsung lama secara turun-temurun dari nenek moyangnya yang telah menjadi tradisi diidentifikasi sehingga menjadi perilaku diriya. Dari perilaku sendiri lama-kelamaan menjadi perilaku kelompok atau masyarakat.
2.3.3.2 Budaya
Budaya dapat didefinisikan secara sempit dan secara luas. Definisi secara sempit mencakup kesenian dengan semua cabang-cabangnya dan definisi budaya secara luas mencakup semua aspek kehidupan manusia. Menurut Sutan Takdir Alisyahbana, budaya dalam arti sempit adalah adat istiadat, kepercayaan, seni. Budaya dalam arti luas, melingkupi segala perbuatan manusia, hasil budi manusia, kehidupan manusia sehari-hari (Maurits Simatupang, 2002: 139-140).
Budaya berkenaan dengan cara hidup manusia. Manusia belajar berpikir, merasa, mempercayai, dan mengusahakan apa yang patut menurut budayanya. Bahasa, persahabatan, kebiasaan makan, praktik komunikasi, tindakan-tindakan sosial, kegatan-kegiatan ekonomi dan politik, dan teknologi, semua itu
berdasarkan pola-pola budaya. Ada orang-orang yang berbahasa Tagalog, memakan ular, menghindari minuman keras yang terbuat dari anggur,
menguburkan orang-orang yag mati, berbicara melalui telepon atau meluncurka roket ke bulan, ini semua karena mereka telah dilahirkan atau sekurang-kurangnya dibesarkan dalam suatu budaya yang mengadung unsur-unsur tersebut. Apa yang orang-orang lakukan, bagaimana mereka bertindak, bagaimana mereka hidup dalam berkomunikasi, merupakan respons-respons dan fungsi-fungsi dari budaya mereka.
Budaya adalah suatu konsep yang membangkitkan minat. Secara formal budaya didefinisikan sebagai tatanan pengetahuan, pengalaman, kepercayaan, nilai sikap, makna, hierarki agama, waktu, peranan, hubungan ruang, konsep alam semesta, objek-obek materi dan milik yang diperoleh sekelompok besar orang dari generasi ke generasi melalui usaha individu dan kelompok. Budaya menampakkan diri dalam pola-pola bahasa dan dalam bentuk-bentuk kegiatan dan perilaku yang berfungsi sebagai model-model bagi tindakan tindakan penyesuaian diri yang memungkinkan orang tinggal dalam suatu masyarakat di suatu lingkungan
geografis tertentu pada suatu tingkat perkembangan teknis tertentu dan pada suatu sasat tertentu.
Budaya juga berkenaan dengan sifat-sifat dari objek-objek materi yang memainkan peranan penting dalam kehidupan sehari-hari. Objek-objek seperti rumah, mesin yang digunakan dalam industri dan pertanian, jenis-jenis
transportasi, menyediakan suatu landasan utama bagi kehidupan sosial budaya berkesinambungan dan hadir di mana-mana.
Budaya meliputi semua peneguhan perilaku yang diterima selama satu priode kehidupan. Budaya juga berkenaan dengan bentuk dan struktur fisik serta lingkungan sosial yang mempegaruhi hidup kita. Sebagian besar pengaruh budaya terhadap kehidupan kita tidak disadari. Mungkin suatu cara untuk memahami pengaruh budaya adalah dengan membandingkannya dengan komputer elektronik: kita memprogram komputer agar melakukan sesuatu, budaya kita pun
memprogram kita agar melakukan sesuatu dan menjadikan kita apa adananya. Budaya secara pasti mempengaruhi kita sejak dalam kandungan hingga mati. Bahkan setelah mati pun kita dikuburkan dengan cara-cara yang sesuai dengan budaya kita. Sebenarnya seluruh perbendaharaan perilaku kita sangat bergantung pada budaya tempat kita dibesarkan. Konsekuensinya, budaya merupakan
landasan perilaku dan komunikasi. Apabila budaya yang ada beraneka ragam, maka beraneka ragam pula praktik-praktik perilaku dan komunikasi.
Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. Budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosiobudaya ini tersebar dan mempengaruhi banyak hal dalam kegiatan sosial manusia.Unsur budaya ini tidak dapat langsung dilihat, misalnya norma dan nilai-nilai yang berlaku dalam budaya. Gagasan-gagasan pun adalah sesuatu yang tidak mudah dilihat dan dipahami. Makin tinggi perkembangan kebudayaan, makin kompleks pula gagasan-gagasan maupun wawasan-wawasan kebudayaan yang bersangkutan. Walaupun budaya-budaya itu berbeda-beda, namun ia dapat dilihat dari unsur-unsur yang membedakannya. Semua budaya juga banyak memiliki persamaannya dalam unsur universal.
Kenyataan bahwa bangsa Indonesia suatu bangsa yang pluralistik, terdapat aneka budaya etnis yang terlihat dalam motto yang tercantum pada lambang negara Bhinneka Tunggal Ika, perlu diakui dan dihormati. Karena itu, kebudayaan bangsa Indonesia adalah kebudayaan yang timbul sebagai suatu usaha budi daya rakyat Indonesia seluruhnya. Kebudayan lama dan asli yang terdapat sebagai puncak-puncak kebudayaan di daerah seluruh Indonesia terhitung kebudayaan bangsa. Usaha kebudayan bangsa harus menuju ke arah kemajuan adab, budaya persatuan, dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkembangkan dan memperkaya kebudayaan sendiri, serta
Jika melihat budaya sebagaimana yang dipaparkan sebelumnya, maka fungsi budaya sebagai sumber akhlak dan budi pekerti dapat dilihat dari model-model perilaku dan komunikasi manusia dalam masyarakat pada tempat dan kurun waktu tertentu. Pengaruh budaya seringkali berproses tanpa disadari oleh yang dipengaruhinya. Sebagai contoh, bandingkan cara berbicara atau
berkomunikasi antara suku Jawa, Sunda, Batak, Betawi, Bugis, Maluku, Irian, Eceh, Padang dan Banjar.
2.3.4 Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni