AKHLAK DAN BUDI PEKERTI 2.1. Pengertian Akhlak dan Budi Pekerti
5. Cinta Diri sendiri
3.2.2. Penderitaan dan Kegelisahan 1. Penderitaan
Ciri kehidupan di dunia ditandai oleh tawa dan tangis yang mencerminkan keadaan yang fana. Pada suatu saat kita temukan kebahagiaan, yang pada
umumnya diungkapkan dengan tawa ria. Pada saat lain kita mengalami penderitaan, kesakitan, kesusahan, yang biasanya diungkapkan dengan tangis. Kata penderitaan yang berkata dasar ‘derita’ berasal dari kata ‘dhra’ dari bahasa sanskerta yang artinya menahan, menanggung/merasai sesuatu yang tidak menyenangkan (Pusat Bahasa Depdiknas, 2001: 255.). Penderitaan merupakan pengalaman pahit yang tidak didambakan oleh setiap manusia.
Hakikat penderitaan adalah: a) dikhotomis, yaitu kita melihat sesuatu sebagai dua kutub yang berdekatan namun berlawanan, penderitaan dan
kebahagiaan. Tidak ada penderitaan kalau kita tidak mengenal kebahagiaan, dan sebaliknya. b) universal namun unik/spesifik. Secara universal setiap orang tahu/mengenal/merasakan arti penderitaan, namun secara unik/spesifik berat ringannya penderitaan dipersepsikan secara individual yang dipengaruhi oleh latar belakang sosial budayanya. c) kontradiktif, yaitu ditemukan pola menyimpang, yang dirasakan aneh bagi orang lain. Pola tersebut antara lain, dalam penderitaan badaniah terdapat suatu “kebebasan”/kebahagiaan rohaniah; penderitaan
seseorang untuk kebahagiaan orang lain, misalnya: Pahlawan bangsa, seorang ibu yang berkorban bekerja keras demi kebahagiaan anaknya; Menjalani penderitaan di dunia untuk kebahagiaan di akhirat.
Sumber penderitaan ada yang berasal dari a) Sang pencipta, melalui alam misalnya: gunung meletus, gempa bumi, Tsunami, dan sebagainya. b) Lingkungan hidup manusia sendiri yang berasal dari masyarakat, kelompok atau orang lain secara individual, bentuknya dapat berupa perang, pengucilan, dan sebagainya. c) Diri sendiri, misalnya tidak lulus ujian karena tidak belajar, terjatuh karena tidak hati-hati, dan sebagainya. Ketiga penderitaan yang berasal dari sumber yang berbeda dapat muncul bersamaan dalam satu waktu.
Bentuk dari penderitaan, dapat berupa penderitaan lahir/fisik maupun penderitaan bathin/psikis. Dalam kedua penderitaan tersebut dapat saling mempengaruhi, yaitu suatu penderitaan fisik dapat menyebabkan penderitaan psikis, misalnya: seseorang yang menderita sakit parah dan sulit untuk
disembuhkan dapat menyebabkan gangguan kejiwaan atau mengalami stress. Sebaliknya, seseorang yang sedang mengalami kesedihan yang mendalam, misalnya karena ditinggal mati orang yang sangat dicintainya, atau ketakutan yang sangat, misalnya phobia tertentu, dapat mengalami gangguan kesehatan fisik. Dalam menerima suatu penderitaan adalah subjektif bagi tiap individu. Hal ini tergantung pada tinggi rendahnya toleransi individual, sehingga mengandung gradasi dalam penghayatannya.
Hal-hal yang dapat membuat seseorang menderita antara lain adalah siksaan dan kekalutan mental. Bentuk-bentuk siksaan secara psikis adalah
kebimbangan, kesepian dan ketakutan. Kebimbangan dialami seseorang apabila ia pada suatu saat tidak dapat menentukan pilihan mana yang akan diambil.
Kesepian adalah suatu rasa sepi dalam dirinya atau jiwanya walaupun ia di lingkungan yang ramai. Ketakutan merupakan bentuk lain yang dapat
menyebabkan seseorang mengalami siksaan bathin. Apabila rasa takut itu dibesar-besarkan dengan tidak pada tempatnya, disebut sebagai phobia. Bentuk-bentuk phobia antara lain, claustrophobia (di ruang tertutup), agora phobia (di tempat terbuka), gamang (di tempat tinggi), kegelapan, kesakitan, kegagalan, dan sebagainya.
Kekalutan mental merupakan gangguan kejiwaan akibat ketidakmampuan seseorang menghadapi persoalan yang harus diatasi sehingga yang bersangkutan bertingkah secara kurang wajar. Hal ini dapat terjadi karena seseorang
mempunyai kepribadian yang lemah, terjadinya konflik sosial budaya, atau cara pematangan bathin (pendewasaan) yang salah dengan memberikan reaksi yang berlebihan terhadap kehidupan sosial (a.l. over acting, over compensatie,
emotional, under acting). Penderita kekalutan mental banyak terdapat di kota-kota
besar, anak-anak muda, wanita, orang yang tidak beragama, orang yang terlalu mengejar materi/kekuasaan (Widyosiswono, 1992: 96-104).
Apabila seseorang mengalami kekalutan mental ada yang memberikan reaksi secara positif dan ada yang negatif. Untuk yang positif adalah “dijawab” secara baik untuk dapat tetap survive, sedangkan yang negatif adalah menjadi frustrasi. Untuk dapat menghindarkan diri dari frustrasi antara lain dapat dilakukan dengan memelihara kebersihan jiwa, melatih berpikir dan berbuat wajar, berani mengatasi kesulitan, dan berkomunikasi.
Akhirnya, secara umum manusia ingin bebas dari penderitaan, karena itu selalu berupaya untuk “melepaskan diri” dari keadaan-keadaan yang memberikan pengalaman tersebut, dalam bentuk-bentuk:
a. Perilaku nyata, yaitu menghindar atau menjauhkan diri dari keadaan-keadaan yang disadari dapat memberi pengalaman tersebut (mengandung antisipasi);
b. “Mencairkan” makna penderitaan, meyakini bahwa setiap pengalaman yang tidak dikehendaki memuat hikmah tertentu. Yang dimaksud di sini adalah penderitaan diterima sebagai kenyataan tetapi
diperkecil nilai bebannya, atau diterima sebagai kenyataan tetapi ditafsirkan sebagai sesuatu yang bernilai di kemudian hari. c. Menolak kenyataan sebagai mekanisme pertahanan diri (defence
mechanism; escape mechanism)
2. Kegelisahan
Kegelisahan adalah suatu rasa tidak tenteram, tidak tenang, tidak sabar, rasa khawatir/cemas pada manusia. Jadi gelisah merupakan suatu rasa (-) yang berkembang dalam diri manusia, sifatnya psikologis/kejiwaan. Kegelisahan merupakan gejala universal yang ada pada manusia manapun. Namun kegelisahan hanya dapat diketahui dari gejala tingkah laku atau gerak-gerik seseorang dalam situasi tertentu. Jadi merupakan sesuatu yang unik, sebagai manifestasi dari perasaan tidak tenteram, khawatir/cemas, dan sebagainya.
Mengapa manusia gelisah? Hal ini terjadi karena adanya keterbatasan manusia untuk dapat mengetahui hal-hal yang akan datang atau yang belum terjadi. Hal ini terjadi misalnya karena adanya suatu harapan atau suasana
ketidakpastian, rasa terasing (keterasingan), rasa kesepian, atau adanya ancaman. Sedangkan sumber dari kegelisahan ada yang berasal dari dalam diri manusia (internal), misalnya rasa lapar, haus, rasa sepi, dan sebagainya, dan dari luar diri manusia, misalnya: kegelisahan karena diancam seseorang.
Kegelisahan menunjuk pada suasana negatif, tetapi di sisi lain tetap mempunyai harapan, sehingga antara kegelisahan dan harapan seolah-olah
merupakan saudara kembar. Muncul ketenangan apabila ada keseimbangan antara kegelisahan dan harapan.
Menurut Sigmund Freud, ada tiga macam kegelisahan, yaitu sebagai berikut. a. Kecemasan objektif (tentang kenyataan), yang bersumber dari sesuatu kekuatan yang ada di luar diri manusia. Hal ini muncul dari antisipasi
seseorang berdasarkan pada pengalaman perasaannya. Misalnya: kegelisahan masyarakat setelah ada pengumuman kenaikan BBM.
b. Kecemasan neurotik (syaraf), ditimbulkan oleh suatu pengamatan tentang bahaya dari naluriah. Misalnya: kegelisahan siswa SMP maupun SMU menunggu hasil Ujian Nasional; kegelisahan seorang suami yang menunggu istrinya melahirkan anak pertama.
c. Kecemasan moral, muncul dari emosi sendiri yang merupakan perasaan bersalah atau malu dalam ego, yang ditimbulkan oleh suatu pengamatan bahaya dari hati nurani (Widyosiswono, 1992: 142-145). Misalnya, setelah terungkap permasalahan korupsi di tubuh Komisi Pemilihan Umum, DPR, Kejaksaan atau lembaga-lembaga lainnya, banyak pihak terkait yang merasa gelisah.
Mengingat kegelisahan juga merupakan perasaan negatif atau yang tidak menyenangkan bagi setiap manusia maka dirasakan perlu suatu upaya untuk mengatasinya. Hal-hal yang dapat dilakukan antara lain adalah pertama-tama
haruslah menyadari adanya kegelisahan diri, kemudian introspeksi diri,
melakukan tindakan nyata, mengambil hikmah/beauty dari suatu pengalaman, dan tidak lupa untuk berdoa dan pasrah/ikhlas, menyerahkan diri pada Tuhan YME.
3.2.3. Kebersamaan
Secara kodrati, kebersamaan merupakan suatu kata yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia sebagai makhluk sosial. Konon, manusia pertama pun, Adam, sejak diciptakan telah memiliki kecenderungan tidak mampu hidup sendiri, sehingga diciptakan manusia kedua, Hawa, sebagai teman
hidupnya. Demikian pula kehidupan manusia dari generasi lampau sampai sekarang, ia tidak dapat hidup sendirian. Manusia menghadapi tantangan dari alam, dari sesama, juga dari dirinya sendiri. Hanya melalui kerja sama dengan pihak lain, tantangan itu dapat lebih mudah dan lebih ringan dihadapi.
Ketika tantangan hidup manusia makin kompleks, disadari perlunya
pembagian tugas atau kerja yang spesifik. Setiap orang mengambil peranan yang unik sesuai dengan apa yang dapat dilakukan. Semua bentuk kerja sama itu pada hakikatnya adalah mengelola sumber daya (alam dan manusia) semaksimal dan seefisien mungkin sehingga menjadi produk yang bermanfaat. Ketika suatu produk yang sama telah diproduksi oleh orang yang berbeda dan sumber daya alam yang tersedia makin menipis, kompetisipun tak terelakkan (Panuju, Redi, 1996: 15).
Apa yang dikemukakan di atas menunjukkan bahwa dalam hidup manusia, ia mempunyai tantangan dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Beragam kebutuhan tersebut meliputi kebutuhan-kebutuhan yang sifatnya naluri/kodrati maupun kebutuhan-kebutuhan yang sifatnya merupakan pengembangan dari kebutuhan kodrati tadi. Kebutuhan tersebut dapat dilihat secara fisik maupun psikis. Contoh kebutuhan dari segi fisik, antara lain makan, minum, kebutuhan seksual, dan lain-lain, sedangkan dari segi psikis contohnya antara lain, kebutuhan akan cinta, kasih sayang, perhatian, rasa aman, dan lain-lain. Di sisi lain sebagai manusia, ia mempunyai keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan tersebut, oleh karena itu ia memerlukan kerja sama dengan orang lain untuk memenuhinya.
Secara Antropologis, manusia adalah makhluk sosial atau sebagai makhluk kolektif yang mempunyai ciri-ciri yang umum sebagai berikut: 1) pembagian kerja yang tetap antara berbagai macam sub kesatuan atau golongan individu dalam kolektif untuk melaksanakan berbagai macam fungsi hidup; 2)
ketergantungan individu kepada individu lain dalam kolektif sebagai akibat dari pembagian kerja tadi; 3) kerja sama antar individu yang disebabkan
ketergantungan tadi; 4) komunikasi antar individu yang diperlukan guna melaksanakan kerja sama tadi; 5) diskriminasi yang diadakan antara individu-individu warga kolektif dan individu-individu-individu-individu dari luarnya (Koentjaraningrat, 1996: 136).
Azas-azas yang mengemuka ketika membicarakan pergaulan dalam kehidupan kolektif tersebut adalah azas egoisme dan azas altruisme. Azas egoisme atau azas mendahulukan kepentingan diri sendiri di atas kepentingan di atas kepentingan orang lain. Azas egoisme di sini adalah dalam konteks upaya mempertahankan diri kehidupan kolektifnya terhadap kolektif lainnya di dalam alam yang kejam (survive). Sikap egois memungkinkan “the survival of the fittest”. Sebaliknya, azas altruisme adalah hidup berbakti untuk kepentingan yang lain sebagai lawan dari azas egoisme, yang juga digunakan untuk dapat bertahan dalam proses seleksi alam yang kejam. Dengan altruisme maka makhluk kolektif itu mampu mengembangkan suatu hubungan bantu membantu, dan kerja sama yang serasi sehingga sebagai kolektif mereka menjadi kuat menghadapi tantangan alam yang keras (Koentjaraningrat, 1996: 137). Bagaimana menyikapi penerapan azas-azas ini dalam kehidupan kolektif manusia?
Lingkup kehidupan kolektif manusia beragam, dari yang kecil seperti keluarga, small group, peer group, suku bangsa sampai masyarakat suatu bangsa atau negara bahkan dunia. Dalam kehidupan kelompoknya itulah terdapat tatanan nilai yang mengatur bagaimana seseorang itu diharapkan bertingkah laku.
Berbeda dengan kelompok/kolektif hewan, manusia dengan akalnya mempunyai aturan-aturan yang beragam dalam interaksinya di setiap tempat, itulah sebabnya manusia disebut makhluk yang berbudaya sebagai pendukung suatu kebudayaan.
Manusia dalam hidupnya dapat dilihat dari dua sisi yaitu dari sisi dirinya sebagai individu, yang tingkah lakunya dipengaruhi oleh unsur
genetisnya/fisiologis dan unsur kepribadian yang beretik otonom. Kemudian sisi dirinya sebagai bagian/anggota dari suatu masyarakat yang beretik heteronom. Etik otonom pribadi berpusat pada kata hati tiap-tiap orang, sedangkan etik masyarakat yang heteronom terjelma dalam adat istiadat, kebiasaan maupun undang-undang. Adat istiadat, kebiasaan dan undang-undang inilah yang merupakan norma-norma yang menentukan kelakuan individu-individu sebagai anggota suatu masyarakat (Takdir Alisyahbana, 1982: 8-16).
Sebagai bagian dari suatu kolektif manusia, yaitu masyarakat Indonesia, kita menyadari bahwa Indonesia adalah masyarakat majemuk yang keheterogenitasnya dapat dilihat dari jumlah suku bangsa yang beragam, bahasa, agama yang dianut, demografi, jenis pekerjaan dan sebagainya. Dengan semboyan Bhineka tunggal ika kita berupaya selalu menjaga persatuan bangsa. Namun dalam perjalanan hidup kebersamaan bangsa Indonesia, kita mengalami berbagai masalah serius terutama masalah disintegrasi bangsa yang ekskalasinya meningkat akhir-akhir ini. Permasalahan disintegrasi bangsa tersebut antara lain berkaitan dengan masalah hubungan antara aneka warna suku bangsa, hubungan mayoritas
minoritas, hubungan antar umat beragama, daerah-daerah yang masih terbelakang, separatisme, dan sebagainya.
Dalam menyikapi hal ini perlu dilakukan suatu upaya-upaya yang
melibatkan seluruh bangsa Indonesia. Upaya-upaya tersebut antara lain sebagai berikut.
a. Sosialisasi Nilai-Nilai Kebaikan/Moral
Dalam pola berinteraksi antar sesama manusia, kita melihat ada dua sisi yang bersebelahan yaitu suatu keharusan untuk bekerja sama dengan orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidup, dan suatu tuntutan berkompetisi dengan orang lain karena keterbatasan sumber daya alam yang ada. Untuk itulah sebagai
manusia tentunya kita tidak melakukannya dengan menghalalkan segala cara guna memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup tersebut. Manusia perlu suatu landasan moral dalam mengelola sumber daya yang ada (manusia dan alam), yaitu dengan mengedepankan nilai-nilai dalam berinteraksi dengan sesama manusia, seperti nilai keadilan, tanggung jawab, cinta kasih, dan lain-lain. Bagaimana nilai-nilai tersebut dapat dilaksanakan adalah tergantung pada pola asuhan atau sosialisasi yang diterima oleh seseorang, yaitu dalam sosialisasi primer sebagai penanaman nilai-nilai yang pertama dan utama di dalam keluarga oleh agen sosialisasi seperti orang tua atau anggota keluarga lain. Kemudian juga sosialisasi sekunder, yang berasal dari luar lingkungan keluarga, seperti guru, teman, atau anggota
masyarakat lain. Penanaman nilai-nilai di dalam keluarga adalah yang paling mendasar karena sosialisasi ini merupakan upaya untuk mempersiapkan anggota keluarga untuk masuk dalam kehidupan bersama di dalam masyarakat.
Penanaman nilai yang berkaitan dengan semangat kebersamaan di Indonesia tentunya harus disesuaikan pula dengan kultur bangsa Indonesia yang pada
hakikatnya merupakan masyarakat yang mempunyai nilai-nilai budaya yang bukan individualis melainkan komunal/kolektivisme, seperti gotong royong, musyawarah untuk mufakat, dan lain-lain. Sehingga munculnya permasalahan-permasalahan integrasi bangsa yang berkaitan dengan kebersamaan bangsa ini perlu ditelaah lebih jauh apa penyebabnya. Apakah nilai-nilai budaya
kebersamaan yang disosialisasikan di dalam keluarga atau lingkungan sudah makin berkurang atau kalah bersaing dengan nilai-nilai luar karena adanya arus globalisasi? Atau ada penyebab lainnya?
Perbedaan karakteristik pada masyarakat yang kolektivisme dan individualisme menurut Hofstede
Individualisme Kolektivisme
Otonomi individual Kesatuan kelompok dan harmoni
Orientasi pada diri sendiri Orientasi pada kelompok Mengutamakan kepentingan
individu Mengutamakan kepentingan kelompok Unik dan bebas Peduli terhadap ketergantungan
sesama Mengutamakan kehormatan
individu Pemilikan kelompok Keluarga inti Keluarga luas
Pemberian ganjaran kepada individu
Berdasarkan kesamaan hak (equity)
Distribusi ganjaran mengutamakan
ke-seimbangan
Persaingan Kerja sama
(Leliweri, 2002: 126)
b. Komunikasi Antar Budaya
Perlunya dilakukan suatu komunikasi antar budaya baik secara teoritis maupun praktis antara lain adalah untuk 1) membuka diri dan memperluas pergaulan; 2) meningkatkan kesadaran diri; 3) etika/etis; 4) mendorong perdamaian dan meredam konflik; 5) demografis; 6) ekonomi; 7) menghadapi teknologi komunikasi; 8) menghadapi era globalisasi ( Leliweri, 2002: 32-33). Manfaat dari komunikasi antar budaya tersebut yang paling berkaitan dengan permasalahan kebersamaan dalam kebhinekaan bangsa Indonesia dan juga berkaitan dengan kebersamaan dalam kehidupan masyarakat dunia adalah pada butir 4) mendorong perdamaian dan meredam konflik; dan 8) menghadapi era globalisasi.
Lembaga Conflict Research Consortium, University of Colorado, USA, dalam uraian bertema Peace, Culture and Society (Elise Boulding, Clovis Brigagao, dan Kevin Clements, 1991) mengemukakan betapa pentingnya peranan komunikasi untuk membatasi atau mengurangi kesalahpahaman. Komunikasi dapat
mengurangi eskalasi konflik sosial dan pembenaran aspirasi politik dalam proses perdamaian antar manusia, antar kelompok, antar etnik, antar ras, bahkan antar bangsa. Kunci untuk perdamaian, kebudayaan, dan masyarakat (menciptakan budaya perdamaian dalam masyarakat) sangat ditentukan oleh dialog intensif dan
terus menerus, dengan kata lain, melaksanakan komunikasi secara lateral, mengadakan dialog dan memecahkan masalah bersama melalui konsensus (Leliweri, 2002: 38)
Dalam komunikasi antar budaya kita berusaha untuk membuka diri dengan menjawab beberapa pertanyaan berikut.
1. Bagaimana saya melihat diri sendiri ? (untuk seterusnya, “saya” di sini dapat dianalogikan dengan “suku saya” atau “bangsa saya”, dst.) 2. Bagaimana saya melihat anda? (untuk seterusnya, “anda” di sini dapat
dianalogikan dengan “suku anda” atau “ bangsa anda”, dst.) 3. Bagaimana Anda berpikir tatkala Anda melihat saya? 4. Bagaimana Anda melihat diri Anda?
5. Bagaimana Anda melihat diri saya? dan
Bagaimana Anda berpikir tatkala saya melihat Anda (Hybells and Weaver II, 1992 hlm. 26). ( Leliweri, 2002: 32-33)
c. Kebudayaan Nasional Indonesia
Permasalahan kebudayaan nasional Indonesia merupakan masalah kebudayaan semua orang Indonesia warga satu nasion yang dalam kenyataannya terdiri atas banyak suku bangsa dengan beraneka ragam kebudayaan, bahasa dan agama. Perlunya suatu upaya pengembangan dan sosialisasi kebudayaan nasional Indonesia dalam upaya menjaga integrasi bangsa adalah mengingat adanya dua fungsi yang pada umumnya ada pada tiap kebudayaan nasional di seluruh dunia, yaitu 1) fungsi memperkuat jati diri nasional, dan 2) fungsi memperkuat
solidaritas nasional.
Unsur-unsur kebudayaan nasional yang dapat memenuhi fungsi pertama adalah unsur kebudayaan nasional yang merupakan puncak kebudayaan daerah yang diakui oleh dunia internasional. Hal ini dapat memberikan perasaan bangga dalam diri orang Indonesia yang tidak memahami maknanya sekalipun.
Kebanggaan terhadap suatu karya biasanya menimbulkan keinginan seseorang untuk mengidentifikasikan dirinya dengan karya yang bernilai tinggi itu, dan dengan demikian ia memperkuat jati dirinya, sedangkan unsur-unsur kebudayaan nasional yang dapat memenuhi fungsi kedua adalah unsur-unsur kebudayaan nasional yang dipahami seluruh bangsa, dan dapat dikomunikasikan kepada warga suku bangsa lainnya sehingga dapat memperkuat solidaritas nasional.
Dengan demikian isi kebudayaan nasional Indonesia adalah karya-karya kebudayaan putra-putri Indonesia yang dapat dibanggakan untuk memperkuat jati diri nasionalnya, dan karya-karya kebudayaan yang bersifat komunikatif untuk memperkuat solidaritas nasionalnya. Unsur-unsur kebudayaan yang paling berperan dalam menguatkan jati diri dan solidaritas nasional adalah bahasa dan kesenian. Unsur-unsur itu merupakan unsur-unsur oleh karena menempati urutan atas dari unsur-unsur yang lain.
Unsur bahasa misalnya adalah bahasa daerah atau bahasa suku bangsa, dan unsur-unsur kesenian adalah semua unsur kesenian tradisional yang berasal dari kebudayaan daerah. Oleh karena itu oleh konsepsi Ki Hajar Dewantara unsur-unsur itu disebut sebagai “puncak-puncak” kebudayaan daerah. Di samping itu masih ada sejumlah unsur yang kiranya perlu diperhatikan sebagai unsur-unsur kebudayaan nasional yaitu sains dan teknologi. Unsur-unsur itu umumnya berasal dari peradaban dunia masa kini, dan perlu kita jadikan bagian integral dari
kebudayaan nasional kita
Hal-hal lain yang perlu diperhatikan dalam upaya mengembangkan kebudayaan nasional Indonesia adalah unsur-unsur kebudayaan yang akan menjadi kebudayaan nasional Indonesia harus memiliki watak khas atau kepribadian sebagai kebudayan nasional Indonesia. Watak itu dalam ilmu-ilmu sosial disebut sistem atau orientasi nilai budaya. Nilai budaya adalah suatu gagasan, suatu hasrat, atau suatu perilaku yang dinilai tinggi dan sudah
dibudayakan sejak usia dini dalam jiwa warga suatu kebudayaan. Oleh karenanya nilai ini sulit diubah dalam hanya satu generasi saja. Sebagai contoh misalnya adat gotong royong dalam kebudayaan berbagai suku bangsa di seluruh Nusantara, adat merantau dalam kebudayaan Minangkabau, hasrat untuk bersaing dalam kebudayaan Batak (diambil hanya dalam konteks yang positif), dan sebagainya.
Jiwa kebudayaan nasional Indonesia pada hakikatnya memang terdiri atas nilai-nilai budaya yang memberi watak dari kepribadiannya dari kebudayaan suku bangsa. Untuk itu perlu dilakukan seleksi dan pengembangan terhadap nilai-nilai budaya tersebut dengan cara antara lain:
1. mengembangkan sikap hidup yang positif dan mengurangi sikap menggantungkan diri pada nasib;
2. mengembangkan sikap yang menilai tinggi disiplin, kesinambungan, dan mutu hasil kerja;
3. mengukuhkan kembali sikap hidup selaras dengan alam;
4. lebih banyak mengembangkan orientasi hidup ke masa depan daripada mengagungkan masa kejayaan bangsa Indonesia di masa lalu,
mengembangkan sikap tepat waktu dalam aktivitas sehari-hari, suatu orientasi hidup yang erat kaitannya dengan orientasi ke masa depan, dan kebiasaan hidup berhemat;
5. mengukuhkan nilai gotong royong dengan mengurangi aspek-aspek negatifnya seperti sikap kurang mandiri, kurang bertanggung jawab; mengurangi sikap ketergantungan kepada orang-orang yang lebih “tinggi”; dan meningkatkan disiplin nasional sesuai dengan aturan-aturan yang ada (Koentjaraningrat, Kompas, 14 Januari 1991) .
d. Pembagian dan Pemanfaatan Sumber Daya Alam yang Berkeadilan
Masalah yang berkaitan dengan rasa keadilan dari pembagian dan
pemanfaatan sumber daya alam dari masyarakat Indonesia di berbagai daerah ini begitu mengemuka akhir-akhir ini sehingga memunculkan berbagai gejolak di beberapa daerah yang sangat berpotensi pada disintegrasi bangsa. Untuk
mengatasi hal ini antara lain telah dikeluarkan Ketetapan MPR-Republik Indonesia Nomor XV/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah. Dengan ketentuan ini maka diberikan kewenangan yang luas, nyata dan
bertanggung jawab kepada daerah secara proporsional yang diwujudkan dengan pengaturan, pembagian, dan pemanfaatan sumber daya alam yang berkeadilan, serta perimbangan keuangan Pusat dan Daerah. Di samping itu, penyelenggaraan Otonomi Daerah juga dilaksanakan dengan prinsip-prinsip demokrasi, peran serta masyarakat, pemerataan, dan keadilan, serta memperhatikan potensi dan