• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proses Norma Sosial menjadi Norma Hukum

Dalam dokumen Bahan Ajar 2 MPKT (Halaman 121-124)

NORMA SOSIAL DAN NORMA HUKUM

6.2. Proses Norma Sosial menjadi Norma Hukum

Dalam bab. terdahulu telah dikemukakan bahwa kehidupan manusia dapat dilihat dari sisi dirinya sebagai individu (pribadi) dan sebagai makhluk sosial. Sebagai individu, ia merupakan makhluk ciptaan tuhan yang bagian dirinya terdiri atas tubuh biologisnya yang secara kasat mata dapat kita amati. Selain itu,

manusiapun mempunyai akal dan jiwa yang disebut sebagai kepribadian. Keduanya berada merupakan satu kesatuan dalam diri manusia yang tidak terpisahkan satu sama lain.

Dalam konteks diri manusia sebagai makhluk sosial, maka tujuan hidup bersama yang ingin dicapai adalah kedamaian dan keteraturan hidup antar

manusia. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan suatu patokan atau pedoman yang mengatur bagaimana manusia dapat berperilaku pantas dan semestinya di dalam masyarakat. Patokan atau pedoman berperilaku pantas tersebut adalah dalam ukuran yang sesuai dengan masyarakat yang bersangkutan. Mengingat setiap manusia tentu mempunyai ukuran pantas atau semestinya yang berbeda-beda dengan manusia lainnya, sehingga sebagai makluk sosial kehidupan

sosialnyapun perlu diatur oleh suatu pedoman, patokan atau standard yang disepakati bersama, yang disebut dengan kaedah atau norma.

Proses bagaimana terjadinya kaedah atau norma itu dapat dijelaskan berkaitan dengan manusia sebagai makhluk budaya. Sebagai makhluk budaya, manusia diberikan kemampuan berpikir, ia diberi Tuhan akal untuk menjalani kehidupannya. Perilaku yang ia lakukan setiap hari adalah hasil dari proses belajar dari generasi sebelumnya dan juga lingkungan hidupnya. Pola hidup dengan norma-norma yang ada sebagai pedoman atau patokan hidup itu muncul karena adanya suatu kebutuhan hidup manusia yang harus dipenuhi.

Menurut A.H. Maslow, manusia mempunyai kebutuhan-kebutuhan dasar dalam menjalani hidupnya yaitu:

1. food, shelter, clothing, 2. safety of self and property 3. self-esteem;

4. self-actualization; 5. love

(Purbacaraka, 1982: 13)

Sebagai kebutuhan dasar maka hal tersebut harus dipenuhi, namun

pemenuhan kebutuhan itu tidak serta merta begitu saja dapat dilakukan. Seseorang memerlukan makanan, tapi tidak dapat ia begitu saja mengambil atau memakan makanan milik orang lain. Contoh lainnya, manusia memerlukan pemenuhan kebutuhan seksual, selain sebagai kebutuhan biologis hal ini juga untuk

meneruskan keturunannya, namun tidak begitu saja dapat dilakukannya. Sebagai makhluk budaya ia memerlukan suatu lembaga perkawinan dulu untuk memenuhi hasratnya itu. Di samping itu dalam pemenuhan kebutuhan-kebutuhan tersebut, sebagai makhluk sosial manusia berinteraksi dan membutuhkan orang lain untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya tersebut.

Di dalam lembaga-lembaga atau istilah lainnya pranata-pranata yang ada dalam rangka memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia tersebut, diperlukan suatu aturan-aturan atau pedoman sebagai suatu norma. Dengan demikian kebutuhan manusia dapat terpenuhi namun tetap tercipta kehidupan antar manusia yang berada dalam koridor keteraturan dan kedamaian. Di sisi lain, norma-norma yang ada dalam masyarakat juga diciptakan apabila dalam pola kehidupan masyarakat yang ada pada suatu waktu dirasakan perlu dirubah dalam pola perilaku yang dianggap lebih baik atau lebih sesuai dengan keadaan pada waktu itu sebagai norma-norma sosial.

Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa norma sosial merupakan suatu peraturan yang memuat rincian pedoman untuk rentang kelakuan yang pantas dan dapat diterapkan pada situasi-situasi sosial tertentu. Selain itu norma sosial juga dikatakan sebagai suatu aturan atau ukuran baku mengenai perilaku yang

dianggap dapat diterima secara sosial. Hal mana ditentukan oleh harapan-harapan orang tentang perilaku yang bersangkutan. Apabila dikaitkan dengan nilai-nilai

budaya, maka norma adalah nilai-nilai budaya yang sudah terkait dengan peranan-peranan tertentu dari status atau kedudukan manusia, sehingga perumusannya menjadi lebih jelas, tegas dan lebih terinci.

Sehubungan dengan norma di atas, antara Peranan dan status saling terkait satu sama lain. Status ((status) merupakan suatu peringkat atau posisi seseorang dalam kelompok atau masyarakat, atau posisi suatu kelompok dalam

hubungannya dengan kelompok lain. Status berkaitan juga dengan hak dan kewajiban yang melekat pada seseorang, jadi sifatnya statis. Sedangkan peranan (role) adalah perilaku yang diharapkan dari seseorang yang mempunyai status, atau peranan merupakan aspek dinamis dari status. Koentjaraningrat mengartikan peranan sosial sebagai tingkah laku individu yang mementaskan suatu kedudukan tertentu. (Koentjaraningrat, 1986, hal. 169). Jadi terkait dengan

kewajiban-kewajiban seseorang berkenaan dengan peranan-peranan yang harus dijalankannya, dirumuskan dalam norma-norma sosial tertentu.

Dalam penerapan norma-norma yang “disepakati” bersama tersebut, apabila terjadi pelanggaran atas suatu norma sosial maka akan ada sanksi sosial, misalnya dikucilkan, dicemooh, dan lain-lain. Apabila suatu norma sosial diberlakukan dengan paksaan suatu sanksi maka norma sosial tersebut menjadi norma hukum. Menurut E. Adamson Hoebel, suatu norma sosial adalah hukum apabila pelanggarannya atau tindakan tidak mengindahkannya secara teratur ditindak, yaitu tindakan fisik, secara ancaman atau secara nyata-nyata, oleh seseorang atau suatu kelompok orang, yang mempunyai wewenang bertindak yang secara sosial diakui (T.O.Ihromi, 1986: 5). Jadi perbedaan norma hukum dan norma sosial adalah dalam norma hukum, hukum dapat menerapkan penggunaan kekuatan yang ada pada masyarakat yang terorganisasi untuk menghindari atau menghukum pelanggaran terhadap norma sosial.

Jadi dalam suatu masyarakat terdapat gagasan yang berisi nilai-nilai sebagai norma sosial untuk mengatur pola tingkah laku masyarakatnya. Gagasan dari norma itu tercermin dalam sebagian pola berlaku sebagai norma hukum. Dalam arti sebagian dari norma sosial tadi diperkuat menjadi norma hukum sebagai pelembagaan berganda, contohnya: hukum waris.

Yang dimaksudkan dengan pelembagaan berganda di sini adalah nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat dilembagakan sebagai norma sosial apabila

dipatuhi dan ada sanksi sosial, ini sebagai pelembagaan pertama. Kemudian, sebagian dari norma-norma sosial di masyarakat tadi dilembagakan kembali sebagai norma hukum apabila mempunyai sanksi hukum, sebagai pelembagaan kedua. Dua kali pelembagaan inilah yang menyebabkan dikatakan bahwa suatu norma dapat berubah menjadi norma hukum melalui suatu pelembagaan berganda.

Dengan demikian nampak setelah tingkat norma, yaitu norma pada situasi sosial tertentu sebagai norma sosial, tingkat selanjutnya adalah tingkat sistem hukum, baik hukum tertulis sebagai perundang-undangan maupun tidak tertulis

sebagai hukum adat. Jadi sistem hukum tersebut bersandar pada norma-norma yang hidup dalam masyarakat.

Sebagai negara hukum, maka penyelenggaraan organisasi negara yang berkaitan dengan pemerintahan maupun seluruh rakyatnya diatur oleh hukum, baik hukum tertulis dan tidak tertulis (hukum Adat). Hukum yang tertulis yang dibuat oleh lembaga legislatif atas usulan Pemerintah, mempunyai kedudukan yang penting dalam pengaturan penyelenggaraan Negara. Di sisi lain norma-norma sosial lainnya atau norma-norma-norma-norma bukan hukum tidak dapat diabaikan peranannya dalam usaha mewujudkan kenyamanan, kedamaian dan ketertiban hidup manusia dalam suatu masyarakat.

Dalam dokumen Bahan Ajar 2 MPKT (Halaman 121-124)