AKHLAK DAN BUDI PEKERTI 2.1. Pengertian Akhlak dan Budi Pekerti
FUNGSI AKHLAK DAN BUDI PEKERTI
4.1. Penanaman Kesadaran tentang Hak dan Kewajiban
Sebagai makhluk sosial manusia tidak mungkin hidup dengan dirinya sendiri, tetapi terkait dan berkelindan dengan kehidupan manusia lain. Makin tinggi kedudukan dan peranan sesorang dalam masyarakat, makin banyak bergantung pada orang lain di luar dirinya. Mengenai hal ini dapat dikemukakan contoh yang sederhana. Seorang yang menjabat menjadi kepala sekolah, tidak mungkin terjadi tanpa adanya murid, guru-guru, pegawai sekolah, masyarakat dan sebagainya. Dapat dibayangkan bagaimana besarnya ketergantungan seorang bupati, gubernur, kepala negara dan sebagainya pada orang lain di luar dirinya. Ketergantungan dan keterkaitan antara sesama umat manusia, akan makin
dirasakan manfaatnya, apabila masing-masing perseorangan atau kelompok saling memamahami kelebihan dan kekurangannya. Manusia diciptakan dalam berbagai perbedaan, dan perbedaan itu apabila di manage dengan baik akan mendatangkan kebahagiaan dan kebaikan serta persaudaraan yang sangat kokoh.
Menghadapi kenyataan ini maka setiap diri manusia harus menyadari secara utuh, dengan penuh keinsyafan tentang hak dan kewajiban yang harus dilakukan dengan anggota masyarakat lain. Manusia hanya sering memperhatikan haknya yang dapat diperoleh dari masyarakat, sebaliknya kewajiban sering
diabaikan. Orang sering mempertanyakan pada dirinya, apa yang dapat diperoleh dari orang lain atau masyarakat pada umumnya, hanya sedikit dari mereka yang mempertanyakan apa yang dapat diberikan pada orang lain atau pada
masyarakatnya. Dalam ajaran akhlak dan budi pekerti, setiap diri manusia harus dapat mengatur keseimbangan yang sangat tajam antara hak dan kewajibannya, dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Setiap anggota masyarakat harus mampu menjalin hubungan yang harmonis dan saling menguntungkan serta memberi manfaat terhadap sesama anggotanya.
4.1.1. Pengertian Hak dan Kewajiban
Istilah hak, berasal dari bahasa Arab al-Haqq yang artinya menurut bahasa adalah sesuatu yang dimiliki seseorang secara layak, pantas dan patut.
(al-Munawir, 1984 : 305). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia hak diartikan milik, kepunyaan, kewenangan, kebenaran dan sebagainya, (KBBI:335), pengertian selanjutnya tergantung pada susunan kalimat. Pengertiannya secara terminologis, hak adalah merupakan klaim yang dibuat oleh orang atau kelompok yang satu terhadap yang lain atau terhadap masyarakat. Orang yang mempunyai hak dapat menuntut, bukan hanya mengharap atau menganjurkan bahwa orang lain akan
memenuhi dan menghormati hak itu. Pengertian seperti ini terjadi sebagai suatu klaim, atau hak yang sah atau klaim yang dapat dibenarkan. (Bertens : 178)
Kata kewajiban juga berasal dari bahasa Arab, dari kata al-wajib, yang artinya sesuatu yang mesti, yang tidak dapat dielakkan. (al-Munawir, 1984 : 1641). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, wajib adalah harus melakukan, tidak boleh tidak dilaksanakan. (KBBI:1123). Misalnya dicontohkan dalam suatu kalimat: “Setiap pemeluk agama, wajib mentaati ajaran agamanya”. Dengan demikian, pengertian kewajiban adalah sesuatu yang harus dilaksanakan seseorang, yang biasanya selalu berkaitan dengan hak yang dimilikinya.
Pengertian diatas, mengantarkan pada suatu pemahaman yang bersifat pasti bahwa setiap ada hak pasti dibarengi dengan kewajiban. Sebaliknya, setiap ada
kewajiban pasti dibarengi dengan hak, baik terjadi antar individu, maupun masyarakat.
1.1.2. Keseimbangan Antara Hak dan Kewajiban
Dalam sejarah peradaban manusia, dijumpai perbedaan-perbedaan yang beraneka ragam mengenai hak dan kewajiban. Ada sebagian masyarakat yang sering menonjolkan hak, sementara kewajiban-kewajibannya disembunyikan. Sebaliknya ada diantara mereka, yang lebih banyak menonjolkan kewajiban-kewajiban sedangkan hak-haknya tidak diberikan secara wajar dan memadai. Sesungguhnya sikap yang terbaik, adalah menjaga keseimbangan yang harmonis antara hak dan kewajiban baik secara individu maupun masyarakat. Manusia diarahkan agar melaksanakan kewajiban-kewajiban yang diberikan kepada mereka, dan hak-hak merekapun harus diberikan secara sempurna.
Mengenai hak dan kewajiban yang berkaitan dengan kepentingan individu dan masyarakat, juga harus diberikan porsi secara seimbang. Dalam
perkembangan peradaban umat manusia, dijumpai ada tiga kelompok besar yang berbeda menanggapi hal ini. Kelompok pertama adalah pola ideologi liberal kapitalisme yang sangat kuat membela kebebasan, membela hak-hak dan kehormatan pribadi, sehingga sering terjadi tindakan-tindakan yang melewati batas, dilakukan individu-individu dengan mengabaikan kepentingan masyarakat. Kelompok kedua adalah ideologi sosialisme, yang memusatkan usahanya untuk kepentingan masyarakat, dengan mengabaikan kepentingan individu dan tidak mengakui kebebasan perorangan untuk menikmati hasil jerih payahnya sendiri. Hak-hak perorangan dilucuti, demikian juga hak-hak asasinya. Kedua pola pemikiran tersebut menimbulkan disharmony (ketidakseimbangan) dalam tata kehidupan manusia. Pola pemikiran liberalisme terlalu mementingkan pribadi manusia sehingga mengabaikan kepentingan masyarakat. Sedangkan pola
pemikiran sosialisme terlalu mementingkan aspek sosial ekonomi masyarakat dan mengabaikan hak-hak asasi manusia (M. Daud Ali, 1986 :292)
Kelompok yang ketiga (yang menjadi pilihan kita) adalah pola pemikiran yang mengambil jalan tengah diantara kedua pemikiran diatas, yaitu pemikiran yang menempatkan kepentingan perorangan dan kepentingan masyarakat secara
berkaitan satu dengan lainnya, timbal balik dan berimbang. Kelompok ini mendahulukan dan mengutamakan kewajiban-kewajiban perorangan dan
kewajiban masyarakat. Setiap individu, sebagai anggota masyarakat berkewajiban melayani kepentingan masyarakat, sesuai dengan bakat dan keahliannya dan sekaligus menjadi kewajiban masyarakat untuk mengarahkan setiap orang tidak mengabaikan tugasnya masing-masing terhadap masyarakat. (M. Daud Ali, 1986 : 293).
1.1.3. Mengaplikasikan Kewajiban
Mengaplikasikan kewajiban setiap individu, dapat dilakukan sebagai berikut: (1) kewajiban kepada Tuhan Yang Maha Esa, dengan jalan mentaati dan mematuhi peraturan-peraturan-Nya dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya (2) Kewajiban terhadap diri sendiri, (3) kewajiban terhadap keluarga. (4)
Kewajiban terhadap tetangga (5) kewajiban terhadap masyarakat. (6) kewajiban terhadap pegawai (7) Kewajiban terhadap harta (8) kewajiban terhadap negara (9) Kewajiban terhadap lingkungan hidup. Dengan melaksanakan
kewajiban-kewajiban tersebut, dengan sendirinya setiap anggota masyarakat akan memperoleh hak-haknya secara seimbang.
Kewajiban terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dilakukan dengan jalan beribadah secara berkesinambungan, dengan ketulusan dan keikhlasan.
Dilanjutkan dengan melakukan perbuatan baik dan terpuji, melaksanakan segala perintah-Nya dan menghindari segala larangan-Nya. Sebagai makhluk yang paling sempurna, manusia ditugasi amanah agar mewujudkan kesejahteraan bagi semua makhluk. Kewajiban pada diri sendiri, misalnya setiap diri manusia harus menjaga kesucian diri dan tidak mengotori jiwanya, senantiasa berbuat baik dan menghindari perbuatan yang tercela. Ia harus pandai menjaga diri agar tidak melanggar hukum, perundang-undangan, kesusilaan dan ketertiban umum.
Kewajiban terhadap keluarga, dilakukan dengan melaksanakan hal-hal yang patut dan layak bagi keluarga. Seorang suami berkewajiban memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan perumahan bagi istri dan anak-anaknya. Masing-masing anggota keluarga harus menjaga kesopanan dan budipekerti yang luhur, bersikap adil dan seimbang. Seorang istri berkewajiban mengurus rumah tangga suaminya, mendidik anak-anaknya dan mengantarkan mereka menjadi generasi penerus yang berkualitas. Kewajiban terhadap tetangga diwujudkan dengan saling menghormati, bergotong royong, saling memberikan pertolongan, saling
berwasiat tentang ketabahan dan kesabaran dan saling mengunjungi.
Kewajiban terhadap masyarakat dibuktikan dengan adanya kerja sama yang baik dan saling berpartisipasi dalam mewujudkan kebaikan, menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan, mewujudkan keperdulian sosial dan menyampaikan kritik yang membangun apabila dijumpai beberapa hal yang dianggap tidak baik. Kritik merupakan salah satu cara untuk mengevaluasi dan mengontrol perkembagan yang terjadi di masyarakat. Kewajiban terhadap pegawai, maksudnya adalah kewajiban timbal balik, antara pemilik perusahaan
dan karyawannya. Pimpinan perusahaan wajib memberikan upah yang layak, sebaliknya para karyawan harus bekerja dengan baik untuk mengkelola perusahaan tempat mereka bekerja.
Kewajiban terhadap harta, misalnya setiap orang harus memelihara dan menjaga harta kekayaannya sebagai amanah Tuhan yang disampaikan kepadanya. Karena itu ia wajib menggunakan hartanya sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku, dilarang menghambur-hamburkan kekayaan dan harus melakukan penghematan sebaik mungkin, demi mendatangkan manfaat yang lebih besar. Pemilik harta akan dimintai pertanggung jawaban terhadap yang mengamanahkan harta tersebut yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu manusia diarahkan agar mencari rizki yang halal dan memanfaatkannya untuk kebaikan. Selain yang telah disebutkan diatas, pemilik harta diharuskan untuk menyiapkan dana sosial, baik berupa zakat, pemberian, infaq, ataupun sedekah kepada fakir miskin yang membutuhkannya, termasuk kewajiban membayar pajak.
Kewajiban seorang warga negara terhadap negaranya ada kaitannya dengan kewajiban terhadap penyelenggara negara. Seorang warga negara harus mentaati aturan-aturan yang ditetapkan oleh konstitusi negara, Undang-Undang dan peraturan-peraturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Sebaliknya penyelenggara negara berkewajiban melindungi, menjunjung martabat warga negara dan berlaku adil terhadap mereka. Terhadap lingkungan hidup, manusia diwajibkan agar menjaga kelestariannya dan tidak berbuat kerusakan. Manusia harus mewujudkan, kedamaian dan keamanan serta memanfaatkan alam semesta, bukan hanya bagi kesejahteraan umat manusia tetapi juga bagi kesejahteraan dan kelestarian makhluk-makhluk lainnya.
Pada saat seseorang atau kelompok melaksanakan
kewajiban-kewajibannya dengan beberapa contoh yang disebutkan di atas, orang itu akan memperoleh hak-haknya secara sempurna. Seseorang yang melaksanakan
kewajiban terhadap Tuhan, ia akan memperoleh hak-haknya, seperti memperoleh keridhaan Tuhan, memperoleh kehidupan yang bahagia secara lahir dan batin, baik di dunia maupun di akhirat. Seorang suami yang melaksanakan kewajiban-kewajibannya terhadap keluarga, sekaligus akan memperoleh hak-haknya juga, seperti penghormatan dan kasih sayang dari istrinya, anak-anaknya dan anggota keluarga yang lain. Seterusnya dapat dikembangkan seperti uraian di atas tentang hak dan kewajiban.
1.1.4. Dimulai dari Niat Yang Suci
Menanamkan kesadaran akan hak dan kewajiban dimulai dari dalam diri kita. Dimulai dari niat yang suci yang kemudian diwujudkan dalam aktivitas yang baik dan terpuji. Berdasarkan niat yang ditanamkan dalam batinnya, perbuatan manusia akan dinilai apakah ia berbuat kebaikan atau berbuat buruk.(Al-Jaziri, 2003: 15). Selanjutnya terpuji atau tercelanya perilaku seseorang ditentukan oleh pekerjaan atau amal yang dilakukannya. Apabila ia melakukan kebaikan dan
menghindari kejahatan, ia menjadi manusia yang terpuji, sebaliknya apabila ia bergelimang dalam perbuatan buruk, menjadi manusia yang tercela.
Niat yang ditanamkan dalam batin seseorang, dapat menentukan perbuatan baik atau buruk. Sesungguhnya amal perbuatan seseorang itu tergantung pada niatnya dan setiap orang bergantung pada apa yang ia niatkan. Dalam keterangan yang bersumber dari ajaran agama disebutkan bahwa Tuhan Yang Maha Esa tidak melihat apa yang ada pada bentuk lahiriyah dari manusia, seperti kekayaan, kedudukan atau bentuk rupa yang dimilikinya, tetapi melihat pada motivasi dan perilakunya.
Tuhan Yang Maha Esa melihat batin manusia, berarti menilai niat seseorang, sebagai penggerak dan pendorong terjadinya suatu perbutan. Karena itu orang yang sungguh-sungguh berniat akan melakukan suatu perbuatan yang baik, namun ia belum dapat melaksanakannya karena suatu halangan, maka dicatat sebagai suatu kebajikan baginya. Dengan kesungguhan niat yang ia tetapkan dalam dirinya dan mempertimbangkan bahwa setiap perbuatan baik harus dilakukan dengan cara yang baik pula, maka iapun memperoleh balasan kebajikan yang serupa.
Dijelaskan bahwa manusia pada umumnya dapat dibagi menjadi empat golongan : (1) manusia yang diberi oleh Tuhan berupa ilmu dan kekayaan, dan ia menggunakan kekayaannya sesuai dengan ilmunya. (2) manusia yang berkata : “Seandainya Tuhan memberinya hal yang sama seperti manusia pertama, maka ia akan melakukan hal yang sama pula”. Maka balasan bagi keduanyapun sama. (3) manusia yang diberi oleh Tuhan dengan kekayaan tetapi tidak diberi pengetahuan, maka ia menghabiskan kekayaannya untuk mengikuti hawa nafsunya. (4) manusia yang diberikan hal yang sama seperti orang ketiga dan iapun melakukan
perbuatan yang sama, maka keduanya akan memperoleh dosa yang sama. (Al-Jaziri, 2003:17)
Pada peristiwa peperangan dalam rangka membela kebenaran,
diinformasikan. Sesungguhnya, di dalam kota (tinggal di rumah masing-masing) ada sekelompok orang yang tidak ikut dalam rombongan ini (tidak ikut
berperang), tidak ikut melakukan sesuatu, tidak ikut naik dan turun gunung, tapi mereka ada beserta orang-orang yang berjuang di medan peperangan. Sebagian dari mereka bertanya: Mana mungkin orang yang tidak ikut beserta kami
dinyatakan ada diantara kami. Pertanyaan itu dijawab : Mereka memang tidak ada beserta kami disebabkan karena ada halangan. Mereka disebutkan bersama kami karena mereka mempunyai niat baik yang sama dengan niat yang kami tetapkan. Masih mengenai niat yang baik ataupun buruk dapat mempengaruhi baik atau buruknya amal perbuatan seseorang, dijelaskan dalam pesan-pesan yang suci : “Jika ada dua orang bertemu dan berkelahi masing-masing dengan pedangnya, maka orang yang membunuh ataupun yang terbunuh, keduanya masuk neraka. Seorang bertanya : “Adalah wajar orang yang membunuh itu
masuk neraka, bagaimana dengan orang yang terbunuh”. Pertanyaan itu dijawab: “Karena orang itu juga ingin membunuh lawannya” (Al-Jaziri, 2003: 18).
Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa setiap diri manusia harus
memperhatikan dengan sungguh-sungguh mengenai sangat penting dan seriusnya makna niat. Seluruh perbuatan yang dilakukannya harus disesuaikan dengan niat yang suci. Niat merupakan spirit dari amal perbuatan yang mempunyai nilai. Amal perbuatan akan menjadi baik jika disertai dengan niat yang baik dan amal perbuatan akan menjadi buruk jika disertai niat yang buruk. Barang siapa yang berbuat suatu amal tanpa disertai dengan niat yang suci maka perbuatannya menjadi sia-sia.
Lebih halus dan mendalam pada pandangan kaum sufi, akhlak dan
budipekerti tidak saja dikembangkan antar umat manusia, tetapi juga menyangkut hubungan dengan makhluk-makhluk lain seperti benda mati, flora dan fauna. Sebagian ahli sufi membagi makhluk kedalam beberapa jiwa, dengan tingkatan-tingkatan yang berbeda, seperti jiwa mineral, jiwa tumbuh-tumbuhan, jiwa hewan, jiwa pribadi, jiwa insani dan sebagainya (Robert Freger, dkk, 1999: 139).
Terhadap jiwa-jiwa itu ada akhlak dan budipekerti yang harus ditegakkan, sesuai dengan tingkatannya masing-masing. Terhadap jiwa mineral misalnya, tidak diperbolehkan merusak, demikian juga terhadap jiwa tumbuh-tumbuhan, tidak boleh menyiksa dan menyakiti hewan dan juga tidak diperkenankan merusak lingkungan.
Mengenai kewajiban terhadap Tuhan, selain yang disebutkan diatas, manusia hendaknya mensyukuri nikmat dan karunia Tuhan, menerima dengan tulus segala kepastian dan ketetapan Tuhan yang diberikan kepada kita dengan berusaha semaksimal mungkin, agar dapat beramal yang terpuji. Setiap diri manusia hendaknya menyadari betapa banyaknya nikmat dan karunia Tuhan yang disampaikan kepadanya. Nikmat diciptakannya menjadi makhluk yang terbaik, nikmat keimanan, nikmat kesehatan, nikmat memiliki fisik yang sempurna, nikmat memiliki akal pikiran yang sehat dan berbagai nikmat lain yang tidak mungkin dapat dihitung jumlahnya. Segala kenikmatan yang ada pada kita, baik lahir maupun batin adalah berasal dari karunia Tuhan Y.M.E. Barang siapa yang ingat pada Tuhan, maka Tuhan akan mengingatnya, karena itu bersyukurlah pada-Nya dan jangan mengingkari-pada-Nya.
1.1.5. Perwujudan Akhlak dan Budi Pekerti
Setiap orang yang berakhlak dan berbudi pekerti, pasti berpikir tentang ilmu-ilmu Tuhan yang maha luas dan dalam, ia selalu menyadari bahwa Tuhan senantiasa memperhatikan gerak-geriknya pada setiap keadaan. Hati setiap orang yang beriman pasti akan dipenuhi dengan perasaan kagum, hormat dan
mensucikan Tuhannya. Sesungguhnya tidaklah layak jika seorang manusia tidak mentaati Tuhannya, dengan cara mengingkari, berbuat jahat dan membangkang, sementara Tuhan Yang Maha Esa senantiasa menyaksikan dan
kita untuk kebajikan dan kesabaran pada-Nya, padahal Dia telah menciptakan semua makhluk dalam berbagai tingkatan.
Manusia beriman, senantiasa menyadari akan kekuasaan dan pengawasan Tuhan atas dirinya, ia tidak mungkin lari dan menghindari hal itu, maka setiap orang yang sadar, pasti akan kembali menuju jalan Tuhannya. Tinggalkan segala keraguan dan tetapkan segala keyakinan dan kepercayaan hanya kepada-Nya semata. Kita tidak berada dalam suatu keadaan apapun dan tidak membaca suatu bacaan apapun dan tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Tuhan menjadi saksi atas semua makhluknya di waktu kita mengerjakannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhan meskipun sekecil dzarrah (atom), di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) lebih besar dari semua itu, melainkan tercatat dalam pengetahuan Tuhan Yang Maha Kuasa.
Seorang yang beragama akan menyadari dengan sesungguhnya segala kasih sayang dan kemurahan Tuhan yang dikaruniakan kepadanya dalam segala keadaan. Ia berupaya untuk memperoleh karunia dan ridha-Nya, dengan jalan merendahkan diri dan bersikap rendah hati serta berdoa dengan ikhlas. Ia akan terus berusaha untuk mendekatkan diri kepadanya dengan melakukan amal perbuatan yang baik. Demikianlah akhlak dan budipekerti manusia terhadap Tuhannya. Rahmat Tuhan meliputi segala sesuatu, Ia Maha Lembut dan Halus terhadap semua makhluk-Nya. Karena itu manusia tidak boleh berputus asa dari rahmat dan karunia-Nya.
Sebagai kelanjutan melaksanakan kewajiban kepada Tuhan, manusia diharuskan melaksanakan kewajiban kepada Nabi dan Rasul. Ketentuan di atas, diantaranya berpedoman pada uraian-uraian berikut ini. Tuhan Yang Maha Memberi Karunia telah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman, baik laki-laki maupun perempuan, agar bersikap baik dan menghormati para Nabi dan Rasul serta mengikuti perintah dan menjauhi larangannya. Manusia beriman hendaklah menghormati Nabi dan Rasul dengan jalan merendahkan suaranya apabila menyebutkan nama beliau. Orang-orang yang beriman, tidaklah mengeraskan suaranya melebihi suara nabi, dan janganlah kita berkata kepada orang-orang yang dihormati dengan suara keras, sebagaimana kerasnya (suara) sebagian dari diri kita terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak terhapus pahala amal kebajikan, sedangkan kita semua tidak menyadarinya.
Dalam menyebutkan nama Nabi dan Rasul hendaklah dilakukan dengan sopan, jangan disamakan dengan menyebut nama seorang yang biasa kita kenal. Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantaramu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian yang lain dengan tanpa sopan santun yang terpuji. Sebagai manusia beriman, diarahkan selalu bekerja sama menghadapi berbagai
permasalahan dan mengambil contoh dari penyelesaian yang dilakukan oleh para Nabi dan Rasul. Dalam hal ini kita dapat melakukan aktualisasi pemahaman dari contoh-contoh tersebut sehingga menjadi relevan dengan kehidupan kita.
Sesungguhnya yang sebenar-benar orang yang beriman ialah orang-orang yang beriman kepada Tuhan dan para Rasulnya, dan apabila mereka berada
bersama-sama dalam sesuatu urusan yang memerlukan penyelesaian, mereka tidak
meninggalkan bimbingan mereka, dengan penuh ketaatan. Sesungguhnya orang-orang yang mengikuti petunjuk para nabi, mereka itulah orang-orang-orang-orang yang beriman kepada Tuhan dengan iman yang sempurna.
Tuhan Yang Maha Memberi Karunia mengarahkan umat manusia agar mentaati dan mematuhi terhadap Nabi dan Rasul, serta mencintainya dengan penuh kasih sayang. Orang-orang yang beriman, diperintahkan agar mentaati Tuhan, mentaati Rasul-Nya dan para pemimpin ditengah-tengah masyarakat kita. Apabila kita berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah ia untuk mencari petunjuk Tuhan dan Rasul-Nya, jika kita ingin dikelompokkan bersama orang yang benar-benar beriman kepada Tuhan dan hari kemudian. Mereka yang menyalahi perintah para Nabi atau yang membangkang padanya akan ditimpa oleh ujian-ujian yang berat atau dikenai azab yang menyakitkan. Oleh karena itu, semua perintah para Nabi dan Rasul hendaknya dilaksanakan dengan keinsafan dan kesadaran dan sebaliknya segala yang dilarangnya harus dijauhi dan ditinggalkan dengan penuh kesungguhan.
Barang siapa yang mencintai Tuhan dengan sungguh-sungguh, pasti ia akan mengikuti bimbingan para Nabi dan Rasul dalam meniti jalan kehidupannya di dunia dan di akhirat. Tuhan sebagai pembimbing, pemimpin dan menghukumi manusia secara adil. Sebagai Tuhan yang membimbing semua makhluk-Nya dengan penuh kasih sayang, Ia juga menjadi hakim yang adil bagi semua umat manusia. Manusia beriman diperintahkan agar menghakimi atau menetapkan keadilan berdasarkan petunjuk dari Tuhan dan menghindarkan diri dari hawa nafsu yang senantiasa menjerumuskan umat manusia. Kita hendaklah
memutuskan perkara diantara mereka menurut ketentuan Tuhan, dan janganlah mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak berada dalam jalan yang benar, agar mereka tidak menyesatkan kaum beriman dari jalan Tuhan yang benar dan lurus.
1.1.6. Kedisiplinan dalam Ketaatan
Merupakan kewajiban terhadap diri sendiri, setiap orang beragama
meyakini bahwa ketenangan dan kebahagiaannya baik di dunia maupun di akhirat ditentukan oleh kemampuannya dalam melatih dan mendisiplinkan dirinya. Menjaga dirinya supaya tetap baik serta menyempurnakan dan mensucikan jiwanya. Sebaliknya kerugian yang besar dan penyesalan yang dialami manusia, adalah disebabkan kejahatan dan ketidakpatuhan terhadap ajaran agamanya, dengan cara mengotori jiwanya sendiri. Sungguh berbahagia dan beruntung orang-orang yang mensucikan jiwanya dan celakalah orang-orang yang mengotori jiwanya sendiri, sehingga menjadi kotor dan ternoda.
Orang-orang yang mengotori jiwanya, mendustakan ayat-ayat Tuhan dan bersikap angkuh terhadap-Nya, akan ditimpa kesulitan dalam kehidupan di dunia dan memperoleh azab yang menyakitkan di akhirat. Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Tuhan dan menyombongkan diri terhadap-Nya,
sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu kebahagiaan baik di