• Tidak ada hasil yang ditemukan

POTRET KESEHATAN

3.1. Kesehatan Ibu Dan Anak 1. Remaja

3.1.9. Anak dan Balita

Untuk memantau kesehatan dan perkembangan balita di Desa Wulai, maka dilaksanakan kegiatan Posyandu di lima dusun setiap bulannya. Posyandu dilaksanakan bergiliran, dimulai dari Dusun Sinjanga pada tanggal lima, Dusun Wulai Satu pada tanggal enam, Dusun Watubete pada tanggal tujuh, Dusun Saluwu pada tanggal delapan dan terakhir Dusun Ujung baru pada tanggal sembilan. Pelaksanaan Posyandu dilakukan di salah satu rumah kader Posyandu kecuali di Dusun Watubete dilakukan di Poskesdes Desa Wulai.

Gambar 3.8.

Pelaksanan Posyandu di Dusun Watubete Sumber: Dokumentasi Peneliti

Posyandu Dusun Watubete bernama “Posyandu Sayang Ibu dan Anak” yang sampai dengan bulan Mei 2014 jumlah balita

di ini sebanyak 58 balita. Berdasarkan catatan kader Posyandu Watubete pada bulan Mei balita yang datang ke Posyandu sebanyak 30 orang. Dari 30 balita tersebut 20 balita adalah Etnik Kaili Da’a dan sepuluh orang dari Etnik Bugis, Makassar dan Mandar dengan jumlah yang Bawah Garis Merah (BGM) 3 balita. Biasanya balita yang tidak datang akan disuruh datang menimbang pada hari minggu di gereja.

Mengenai gizi balita, di Desa Wulai tidak ditemukan balita yang gizi buruk ataupun gizi kurang. Namun pada pelaksanaan Posyandu Dusun Watubete di bulan April 2014 ditemukan tiga balita BGM. Salah satu balita BGM adalah FF berumur 14 bulan dengan berat badan 6,5 kg. Berat badann FF pada waktu lahir sebesar 2,2 kg. FF merupakan peserta Posyandu yang setiap bulan aktif melakukan penimbangan. Pada saat FF dinyatakan sebagai balita BGM maka kader kemudian mengukur tinggi badan FF. Kader Posyandu kemudian melaporkan kepada bidan mengenai temuan balita BGM. Bidan kemudian berkoordinasi dengan pihak Puskesmas untuk memberikan susu bagi balita BGM. Sehari-hari FF biasa makan dua kali sehari yaitu pagi dan sore hari berupa nasi yang diberi air dan ditambahkan sedikit garam. FF mulai diberi makan pada saat usianya mencapai enam bulan dan hingga saat ini FF masih mendapatkan ASI dari ibunya. Pada bulan lalu berat badan FF mengalami penurunan dari yang semula 6,6 kg menjadi 5,5 kg. Menurut ibu FF hal tersebut dikarenakan FF sering sakit.

Menurut ibu DM seorang kader dari etnik Kaili Da’a yang telah menjadi kader selama 10 tahun, sekarang etnik Kaili Da’a telah banyak berubah sudah banyak yang mau ke Posyandu dan diimunisasi. Sebelum ada kader dari etnik Kaili Da’a kebanyakan etnik Kaili Da’a tidak mau anaknya diimunisasi karena takut anaknya panas akibat reaksi dari vaksin imunisasi, selain itu juga karena ada faktor orang tua malas membawa anaknya ke

Posyandu. Senada dengan yang diungkap oleh kader di Dusun Watubete, demikan pula yang terjadi di Dusun Saluwu sebagaimana penuturan DC berikut, “Kalo kata ibunya itu sakit. Katanya liwat diimunisasi itu anaknya panas sudah.”

Kader Posyandu juga membantu bidan untuk memberikan pengertian kepada masyarakat mengenai pentingnya imunisasi, namun hal tersebut tidak memberikan perubahan yang berarti. Mereka hanya datang untuk mengetahui berat badan balitanya dan setelah ditimbang biasanya mereka pulang. Bahkan kebanyakan dari ibu balita cenderung tidak mendatangi Posyandu pada saat anaknya harus diimunisasi. Upaya jemput bola yang dilakukan kader dengan mengunjungi rumah balita agar datang ke Posyandu telah dilakukan meskipun hasilnya belum memuaskan.

Tabel 3. 2. Kunjungan Balita ke Posyandu di Desa Wulai

Tahun Bulan Sasaran

(S) KMS (K) Ditimbang (D) Naik (N) Persentase (D/S) 2013 Jan 183 183 145 38 79.21 Feb 183 183 143 75 78.14 Mar 183 183 165 55 84.69 Apr 183 183 161 52 87.98 Mei 183 183 157 72 85.79 Jun 183 183 156 75 85.25 Jul 183 183 147 65 85.25 Agsts 183 183 150 61 81.97 Sep 183 183 159 82 86.89 Okt 183 183 171 61 93.44 Nov 183 183 160 83 87.43 Des 183 183 153 64 83.61 2014 Jan 183 183 147 58 80.33 Feb 183 183 155 63 84.69 Mar 183 183 147 67 80.33

Berdasarkan Tabel 3.2 menunjukkan bahwa dari keseluruhan 183 balita di Desa Wulai lebih dari 75% di antaranya telah ditimbang di Posyandu. Biasanya kegiatan Posyandu dilakukan di rumah kader. Selain itu ada juga Posyandu yang dilakukan dari rumah ke rumah seperti halnya Posyandu di Dusun Saluwu.

Gambar 3.9.

Pelaksanaan Posyandu di Dusun Saluwu Sumber: Dokumentasi Peneliti

Sudah hampir satu tahun Posyandu di Dusun Saluwu dilakukan dengan mengunjungi balita dari rumah ke rumah. Sebelumnya Dusun Saluwu mendapatkan bantuan tempat untuk kegiatan Posyandu dari yayasan Gereja Toraja-Mamasa (GTM) yang terletak di depan gereja. Namun saat ini masyarakat cenderung tidak datang setiap kegiatan Posyandu. Oleh sebab itu kader memutuskan untuk mengunjungi satu persatu rumah balita. Seperti halnya penuturan DC berikut ini:

“Orang disini tidak datang ke Posyandu dibilang dumumkan ini datang batimbang di Posyandu tidak datang terpaksa kita bu batimbang di rumahnya.”

Kader Posyandu di Dusun Saluwu terdiri dari lima orang, namun hanya tiga orang yang aktif. Dua diantaranya duduk dibangku sekolah menengah pertama (SMP). Kegiatan Posyandu di Dusun Saluwu seringkali dilakukan di sore hari setelah kader pulang dari sekolah. Meskipun penimbangan balita sudah dilakukan dari rumah ke rumah, namun masih ada juga balita yang tidak ditimbang. Adapun alasannya ialah dikarenakan orangtua yang turut membawa serta anaknya pergi berkebun. Kader biasanya akan melakukan kunjungan ulang kerumah balita pada sore hari yaitu setelah pulang dari kebun.

Berbeda halnya di Dusun Sinjanga, apabila ada balita yang tidak hadir saat Posyandu, maka kegiatan penimbangan dilakukan kembali pada hari minggu bersamaan dengan kegiatan ibadah di gereja. Kader menyelipkan kegiatan penimbangan sebelum atau sesudah ibadah di gereja.

Disamping kegiatan penimbangan bayi/balita,

pemeriksaan kehamilan juga dilakukan di Posyandu, hanya saja tidak semua ibu hamil di Desa Wulai datang ke Posyandu untuk memeriksakan kehamilannya. Bidan Desa Wulai dan petugas imunisasi dari Puskesmas Randomayang tidak selalu bisa hadir dalam kegiatan Posyandu di semua dusun. Kondisi geografis Desa Wulai yang dipisahkan oleh sungai di setiap dusunnya menjadi kendala petugas imunisasi dari Puskesmas Randomayang untuk mengunjungi Posyandu di setiap dusun. Namun pelayanan lima meja pelayanan di Posyandu sudah tidak selengkap dahulu. Pelayanan penimbangan dan pencatatan hasil timbangan yang biasanya dilakukan.