• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pasangan Suami Istri yang Istrinya Belum Pernah Hamil

POTRET KESEHATAN

3.1. Kesehatan Ibu Dan Anak 1. Remaja

3.1.2. Pasangan Suami Istri yang Istrinya Belum Pernah Hamil

Jumlah pasangan usia subur (PUS) di Desa Wulai tahun 2013 sebanyak 277 pasang. Dusun Watubete merupakan dusun yang memiliki jumlah PUS terbanyak diantara dusun lainnya yaitu sebanyak 84 PUS. Jumlah PUS paling sedikit ada di Dusun Saluwu yaitu sebanyak 21 PUS. Kebanyakan PUS di Desa Wulai memiliki anak lebih dari tiga hingga enam anak. Bagi kebanyakan pasangan usia subur, jenis kelamin anak bukanlah sesuatu hal yang penting. Mereka menganggap anak laki-laki maupun perempuan sama saja. Meskipun demikian, anak laki-laki merupakan anak yang mereka dambakan. Mereka menganggap anak laki-laki kelak dapat membantu orangtuanya di kebun.

Bagi pasangan suami istri yang telah lama menikah namun belum dikaruniai anak, kebanyakan mereka mengaku pasrah dan tidak terlalu banyak berusaha untuk mendapatkan keturunan. Mereka menerima kondisi ini karena menurut mereka

hal ini merupakan kehendak Tuhan. Sedangkan bagi pasangan muda yang belum dikarunia keturunan, hal ini dianggap bukan sebagai masalah. Mereka ada yang beralasan ingin menikmati saat-saat berdua bersama pasangan tanpa memikirkan anak terlebih dahulu. Salah satu pasangan muda LS dan OK yang menikah lebih dari dua tahun lamanya mengaku masih belum ingin memiliki anak terlebih dahulu namun apabila Tuhan memberikan, maka akan mereka terima.

Bagi pasangan yang telah lama menikah, lamanya mendapatkan keturunan terkadang menjadi beban bagi pasangan. Seperti pasangan suami istri LN dan RI yang sudah lebih dari 13 tahun menikah dan belum memiliki keturunan. Beberapa tetangga mereka menyarankan untuk mendatangi penyembuh tradisional untuk dipijat namun istri takut dipijat. Salah satu bentuk usaha yang dilakukan pasangan suami istri ini yaitu dengan mengunjungi pelayanan kesehatan seperti Puskesmas. Petugas Puskesmas menyatakan tidak ada masalah yang cukup berarti pada mereka. Saat ini mereka memasrahkan semuanya kepada Tuhan dengan tetap berusaha dan berdoa.

Mendatangi dukun pijat merupakan salah satu bentuk usaha untuk mendapatkan keturunan di Desa Wulai. Dukun pijat tidak hanya dapat membantu pasangan suami istri untuk mendapatkan keturunan namun juga membantu ibu hamil yang mengalami keluhan selama kehamilan. Salah seorang dukun pijat yang ada di Desa Wulai adalah pendatang yang berasal dari Mamasa. Ia adalah orang Toraja dan sudah 15 tahun tinggal di Desa Wulai.

Walaupun dukun pijat tersebut pendatang, pasangan suami istri yang meminta bantuannya tidak hanya sesama etnik pendatang, masyarakat Kaili Da’a pun juga ada yang meminta bantuannya. Cara yang ia lakukan adalah dengan memijat ibu yang ingin memiliki anak setiap sebulan sekali. Pemijatan

dilakukan sampai ibu tersebut hamil. Kebanyakan ibu akan hamil setelah dipijat dua kali. Menurut dukun pijat, kesulitan untuk mendapatkan keturunan biasanya disebabkan karena wanita mengalami masalah kandungan.

3.1.3. Hamil

Masyarakat Kaili Da’a Wulai mempercayai beberapa pantangan makanan yang tidak boleh dikonsumsi ibu hamil. Beberapa pantangan makanan antara lain ibu hamil tidak boleh memakan durian dikarenakan bayi yang dikandungnya akan menjadi besar sehingga sulit dilahirkan. Selain itu mengkonsumsi durian yang berlebihan dianggap dapat membuat perut menjadi panas. Hal ini dikhawatirkan dapat membuat perut menjadi mudah sakit sebelum waktunya melahirkan. Selain memakan durian, ibu hamil juga tidak boleh meminum es karena dipercayai dapat membuat bayi di dalam kandungan menjadi besar. Selain es, telur, makanan berkuah santan, gorengan, kelapa muda dan kue yang manis juga tidak boleh dikonsumsi ibu hamil karena dipercaya dapat membuat bayi di dalam kandungan bertambah besar. Mereka menganggap jika bayi di dalam kandungan menjadi besar nantinya akan menyebabkan kesulitan dalam persalinan.

Makanan lain yang menjadi pantangan ibu hamil adalah buah kelapa yang masih memiliki tunas (tombo). Apabila ibu hamil memakan tombo, dikhawatirkan ketika melahirkan plasenta atau ari-ari (tavuni) akan sulit keluar atau tertinggal di dalam perut. Ibu hamil juga tidak boleh memakan buah nanas terutama pada usia awal kehamilan karena nanti mengalami keguguran.

Mengenai makanan yang dikonsumsi ibu hamil di Desa Wulai, biasanya tidak berbeda dengan makanan masyarakat sehari-hari. Mereka biasa makan dua kali sehari dengan menu

nasi dengan sayur. Mereka akan makan ikan sekali-kali jika memiliki uang. Jenis sayuran yang biasa mereka konsumsi adalah daun kelor, kangkung, pepaya, dan daun ubi. Sayur tidak dimasak dengan santan dikarenakan santan merupakan pantangan makanan selama kehamilan.

Selain pantangan makanan, juga terdapat pantangan perbuatan yang tidak boleh dilakukan ibu hamil. Masyarakat mempercayai ibu hamil tidak boleh duduk di depan pintu rumah karena dapat membuat bayi susah keluar pada saat persalinan. Ibu hamil juga tidak boleh membiarkan rambut terurai dikarenakan dapat dikejar oleh kuntilanak. Apabila ada orang yang hendak bertamu di rumah ibu hamil, maka harus dipersilahkan sampai masuk rumah dan tidak boleh tamu tersebut cuma di depan rumah. Hal ini dapat membuat ibu nanti susah melahirkan. Perbuatan lain yang harus dihindari ibu hamil adalah tidak boleh kikir karena dapat membuat bayi lama keluar ketika melahirkan. Selama masa kehamilan ibu hamil juga tidak boleh tidur terlentang tetapi harus tidur miring karena dikhawatirkan darah dalam perut akan terbagi menjadi dua sehingga nantinya anak yang dilahirkan kembar. Berikut penuturan ibu hamil EN:

“Baru kalo kita hamil jangan betidur lurus begini harus miring terus. Kembar bayi. Jangan tidur lurus begini tabelah itu anu darah. Pokoknya bemiring terus jangan lurus terus haih.. jangan lama kalo lama tebelah itu darah.”

Ibu hamil juga tidak boleh keluar rumah setelah jam empat sore karena dapat diganggu setan. Salah satu setan yang dipercaya masyarakat dapat mengganggu ibu hamil adalah

pok-pok. Ia biasa berkeliaran di sungai pada sore hari. Penciuman

tajam yang dimiliki pok-pok membuat ibu hamil tidak boleh keluar rumah pada sore hari. Jika ibu hamil hendak keluar pada

sore atau malam hari maka ibu hamil memakai sarung sebagai penutup kepala, agar tidak ada setan yang mengganggu. Sebagai jimat penangkal setan, ibu hamil dianjurkan membawa bawang merah dan bawang putih yang ditancapkan ke paku (kariango) atau membawa pisau.

Pantangan perbuatan tidak hanya berlaku pada ibu hamil, namun juga pada suaminya. Selama kehamilan, suami tidak diperbolehkan untuk memotong ataupun membunuh binatang. Mereka mempercayai apabila suami membunuh binatang maka akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti bayi yang dilahirkan dapat menyerupai binatang yang dibunuh. Suami ibu hamil juga tidak boleh makan secara sembunyi-sembunyi di rumah orang lain, jika suami makan di rumah orang lain maka sesampainya di rumah suami harus memberitahu istrinya bahwa dia telah makan di luar. Jika suami tidak memberitahu istrinya maka dikhawatirkan pada saat melahirkan ibu akan mengeluarkan kotoran sebelum bayi lahir.

Mengenai perawatan selama masa kehamilan,

kebanyakan ibu hamil di Desa Wulai jarang yang memeriksakan kehamilan ke bidan desa. Ibu hamil yang memeriksakan kehamilan ke bidan kebanyakan bukan atas kemauannya sendiri melainkan karena permintaan bidan. Seringkali bidan

menyarankan kepada masyarakat untuk memeriksakan

kehamilan di Poskesdes. Biasanya bidan juga memberikan pengumuman di gereja, seperti halnya penuturan MD berikut, “Coba to kalo hamil harus periksa, kalo mau melahirkan datang ke Poskesdes kan tidak bayar.”

Ibu hamil yang tidak mau memeriksakan kehamilannya ke pelayanan kesehatan dikarenakan merasa malu dan takut untuk disuntik. Biasanya mereka cenderung menutupi kehamilannya agar tidak diketahui orang lain kalau sedang hamil. Seperti ibu NA 21 tahun, salah seorang ibu yang sedang hamil sembilan bulan

saat penelitian berlangsung, selama kehamilan ia tidak pernah memeriksakan diri ke bidan karena takut disuntik, ia mengaku dari kecil tidak pernah disuntik. Selain itu ia juga malas ke bidan karena jarak dari rumahnya ke Poskesdes cukup jauh. Ia pun berencana akan melahirkan di rumah tanpa bantuan tenaga kesehatan seperti bidan.

Hal senada diungkapkan ibu SH yang mengaku hanya tiga kali memeriksakan kehamilan ke bidan dikarenakan malas. Ia menceritakan bahwa pertama kali pergi ke bidan dikarenakan seorang kader menyuruhnya menemui bidan. Ia mengaku pertama periksa hamil ketika usia kandungan sudah enam bulan dan diberikan pil penambah darah oleh bidan tapi tidak diminum karena merasa pusing setelah minum pil penambah darah.

Seringkali bidan dibantu kader untuk mendapatkan informasi apabila ada ibu hamil di desa. Beberapa waktu yang lalu bidan memberikan upah berupa uang Rp. 20.000 untuk memancing keaktifan kader yang berhasil membuat ibu hamil pergi memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan.

Selain memeriksakan kehamilan ke bidan, kebanyakan ibu hamil lebih memilih mengunjungi topo tawui apabila ada keluhan selama kehamilan. Apabila bayi dalam kandungan mengalami salah posisi atau salampeto maka topo tawui biasa memijat perut ibu hamil untuk memperbaiki posisi bayi sambil meniup perutnya. Beberapa pantangan juga akan diberikan oleh topo

tawui setelah memperbaiki kesalahan posisi bayi dalam rahim.

Seperti ibu hamil NV, sudah hampir tiga minggu ia mengalami sakit perut. Usia kehamilannya pun sudah menginjak usia delapan bulan. Ia lebih memilih untuk mengunjungi topo

tawui daripada bidan. Keputusan tersebut didukung oleh

suaminya. Menurut topo tawui, ibu NV mengalami salampeto atau kesalahan posisi bayi. Topo tawui hanya meniup perutnya serta memberikan air yang sudah diberi mantera atau bacaan

untuk dioleskan ke perutnya apabila sakit. Pantangan makanan juga diberikan pada ibu NV setelah ditiup yaitu tidak boleh memakan telur, mie instant, bawang merah, dan bawang putih. Apabila hal tersebut dilanggar maka dapat menyebabkan sakitnya kembali kambuh. Ibu NV berencana untuk melahirkan di rumah dengan bantuan topo tawui yang sudah cukup berpengalaman membantu persalinan.

Berdasarkan pengamatan peneliti, ada juga ibu hamil yang rutin memeriksakan kehamilan ke bidan. Ibu HS adalah orang Bugis dan baru sembilan bulan tinggal di Desa Wulai. Ia bukan penduduk asli Desa Wulai, ia adalah warga pendatang. Sebelumnya ia tinggal di daerah Sulawesi Tengah. Saat ini ibu HS berusia 38 tahun sedang hamil enam bulan dan mengandung anak ke sembilan. Ibu HS rajin datang ke Posyandu untuk memeriksakan kehamilannya ke bidan. Pada kehamilan anak sebelumnya ia tidak pernah memeriksakan kehamilannya ke bidan. Saat ini ia merasa perlu memeriksakan kehamilan ke bidan dikarenakan usianya yang sudah di atas 30 tahun. Sebelumnya ia melahirkan kedelapan anaknya dibantu oleh ibunya yang tinggal di Sulawesi Tengah.

Disamping memeriksakan kehamilan ke bidan dan topo

tawui, ibu hamil di Desa Wulai juga ada yang memeriksakan

kehamilan ke dukun pijat yang bukan penduduk asli Desa Wulai. Ia adalah orang Toraja, ia sudah tinggal di Desa Wulai hampir sepuluh tahun. Untuk mengetahui masalah yang terjadi pada kandungan ia akan meraba perut ibu hamil. Melalui teknik meraba ia akan mengetahui apakah kandungan ibu hamil turun atau terjadi kesalahan letak posisi bayi. Jika terjadi masalah ia akan melakukan pemijatan pada perut ibu hamil. Untuk memperbaiki kesalahan posisi bayi, ibu hamil akan dipijat satu hingga tiga kali. Dalam satu hari ibu hamil yang mengalami keluhan kehamilan dipijat sebanyak dua kali yaitu pagi dan sore

hari. Pemijatan yang dilakukan biasa dengan menggunakan minyak kelapa ataupun minyak tawon. Dukun pijat memberikan saran pada ibu hamil untuk memeriksakan kehamilan pada bidan terlebih dahulu.

Ibu hamil perlu disuntik anti tetanus ketika hamil untuk mencegah terjadinya tetanus ketika melahirkan. Ibu hamil di Desa Wulai kebanyakan telah mendapat suntikan tetanus ketika hamil. Kebanyakan dari mereka disuntik di rumah mereka ketika petugas imunisasi dari Puskesmas datang ketika pelaksanaan Posyandu di setiap dusun.