POTRET KESEHATAN
3.1. Kesehatan Ibu Dan Anak 1. Remaja
3.1.8. Neonatus dan Bayi
Pada umumnya bayi di Desa Wulai langsung dimandikan sesaat setelah dilahirkan dengan menggunakan air dingin. Mereka menganggap tubuh bayi yang baru lahir kotor karena terkena darah ibunya, sehingga harus segera dimandikan. Memandikan bayi yang baru dilahirkan dimaksudkan agar bayi tidak sakit, seperti halnya penuturan SM berikut, “Pokoknya kalo sudah lahir baru dikasih mandi itu. Kalo tidak dikasih mandi anak itu sakit menanggis terus.”
Apabila bayi baru lahir sakit, maka dapat dimandikan dengan menggunakan air yang sudah ditiup oleh topo tawui. Selain dimandikan dengan air yang sudah ditiup topo tawui, apabila bayi demam juga dapat dimandikan dengan air yang sudah dicelupkan tali pusat yang sudah dikeringkan. Tindakan ini dianggap dapat membuat bayi kembali sehat.
Bayi yang baru lahir memiliki pantangan tidak boleh dibawa keluar rumah selama tiga hari sebelum dibuatkan adat turun tanah (nitau). Masyarakat mempercayai apabila bayi keluar rumah sebelum di-nitau maka bayi akan diganggu oleh makhluk halus atau setan. Menurut masyarakat jika bayi diganggu setan maka bayi akan sakit. Apabila bayi lahir di Poskesdes biasanya satu hari setelah lahir bayi dibawa pulang ke rumah dan tidak
boleh ke luar rumah sampai tiga hari. Ibu dari si bayi tetap tinggal di Poskesdes sampai selesai masa pemulihan.
Bayi yang belum di-nitau memiliki pantangan tidak boleh ditertawakan oleh orang dewasa karena dipercaya akan terjadi hal yang tidak diinginkan seperti munculnya petir (kebulu) secara tiba-tiba. Selain itu, masyarakat khususnya di Dusun Saluwu menganggap apabila anak yang belum di-nitau tidak boleh dipegang orang selain keluarganya. Apabila hal tersebut dilanggar maka anak dapat sakit, seperti penjelasan informan SM berikut, “Tidak boleh kalo kita belum pegang itu tidak boleh ada yang berpegang apalagi menyuntik.”
Gambar 3.4.
Bayi yang sedang tidur di ayunan (loa) Sumber: Dokumentasi Peneliti
Pada malam sebelum acara nitau, dilakukan pemotongan ayam. Daging ayam kemudian dioleskan ke mulut si bayi. Selanjutnya jengger ayam diiris dengan parang dan darahnya dioleskan ke dahi si bayi. Keesokan harinya bayi akan menjalani ritual nitau dimana sebelumnya telah diletakkan beberapa perlengkapan di depan tangga rumah. Perlengkapan ini tergantung dari bayi yang di-nitau termasuk anak dari pihak
bapak atau ibu. Secara adat anak dibagi menjadi dua yaitu anak bapak atau anak ibu. Anak ibu berada pada urutan ganjil kelahiran sedangkan anak bapak berada pada urutan genap. Jika anak yang di-nitau adalah anak ibu maka proses adat yang dilakukan seperti perlengkapannya mengikuti adat ketika ibunya di-nitau, begitu pula sebaliknya dengan anak bapak.
Ketika ritual nitau dilakukan, di depan tangga rumah diletakkan daun goronasi dan daun kunyit yang diikat dengan kapak untuk bayi perempuan atau parang untuk bayi laki-laki. Setelah itu, orangtua si bayi mengaliri air ke kepala bayi dengan menggunakan batang pisang. Kemudian dahi bayi digosok dengan kelapa dan kunyit. Selanjutnya orangtua bayi akan menginjak daun goronasi dan kunyit yang telah diikat dengan parang atau kapak. Kemudian orangtua bayi akan mengelilingi halaman rumah sebanyak tiga kali. Setelah itu untuk bayi perempuan orangtua bayi akan mencabut rumput di sekitar halaman rumah. Sedangkan untuk bayi laki-laki akan menanam tanaman. Tindakan ini dilakukan agar nantinya ketika dewasa anak tersebut tidak malas bekerja. Jenis tanaman yang biasa ditanam adalah kelapa dan pisang. Buah dari tanaman yang ditanam tidak boleh diambil orang lain. Hanya anak yang di-nitau yang boleh pertama kali memetik buahnya. Hal ini dilakukan agar rezeki anak tersebut tidak diambil orang lain.
Setelah menanam tanaman, bayi kemudian dibawa masuk ke dalam rumah. Biasanya acara nitau dilakukan dengan mengundang keluarga dekat dan topo tawui yang membantu proses kelahiran. Ayam yang telah dipotong tersebut kemudian dibakar. Mereka kemudian menyiapkan tujuh buah nasi yang dibungkus daun lopi. Dua bungkus diberikan pada topo tawui yang menolong persalinan untuk digosokkan pada lututnya agar badan menjadi kuat. Kemudian dua bungkusan nasi tersebut dibuang ke belakang. Lima buah nasi yang lainnya dibawa pulang
oleh topo tawui. Apabila bayi sudah di-nitau maka bayi sudah boleh dibawa keluar rumah.
Gambar 3.5. Ritual nitau
Sumber: Dokumentasi Peneliti
Mengenai imunisasi, pada umumnya bayi yang dilahirkan di rumah dengan bantuan topo tawui tidak langsung mendapat imunisasi. Mereka baru diimunisasi ketika bidan mendapatkan informasi dari kader bahwa ada ibu yang baru saja melahirkan. Kemudian bidan akan mendatangi rumah ibu bersalin dan melakukan imunisasi pada bayi. Terkadang bidan mendapat penolakan dari keluarga bayi saat akan melakukan imunisasi, seperti halnya ibu SH yang melahirkan di rumah, ia sempat menolak kehadiran bidan yang akan mengimunisasi anaknya. Namun setelah mendapat penjelasan barulah ia mau mengimunisasi anaknya. Ibu SH tidak menginginkan bayinya disuntik karena khawatir setelah disuntik bayinya sakit dan ia tidak bisa beristirahat di malam hari, seperti penjelasannya berikut ini:
“Naeka aku, nageo navengina anek noupuni suntik. Da’a mala mama turu.”
(Takut saya, biasa dia menangis malamnya kalo habis disuntik. Tidak bisa mamanya ini tidur)
Begitu pula dengan ibu TD, ia mengaku tidak pernah mengimunisasi anaknya dikarenakan ibunya melarang ia mengimunisasi anaknya. Ibu dari ibu TD berpendapat jika bayi diimunisasi tidak akan cocok dengan darah si bayi. Hal ini kemudian dapat membuat bayi menjadi sakit setelah diimunisasi.
“Kata Neneknya itu tidak cocok dia disuntik karena darahnya tidak cocok untuk disuntik. Biasanya kalo disuntik anaknya dapat sakit atau kenapa. Biasanya kalo tidak cocok untuk disuntik itu sakit terus itu (ibu TD).”
Perihal pemberian ASI eksklusif, sebagian besar bayi di Desa Wulai telah mendapatkan makanan selain ASI sebelum usia enam bulan. Apabila ASI tidak mencukupi biasanya bayi diberikan susu formula. Seperti halnya bayi RF yang meminum susu formula karena ASI tidak cukup. Selain diberi ASI atau susu formula, bayi juga sudah diberi makanan tambahan seperti bubur pada usia kurang dari enam bulan. Seperti halnya bayi ibu SH yang pada usia enam hari sudah diberi bubur instan. Ia memberikan bayinya bubur karena bayinya menangis terus dan tidak mau diberi ASI. Menurutnya bayinya menangis terus karena lapar, seperti penjelasannya berikut ini:
“Na melo panggoni, da’a dota aku betetek. na melo panggoni, anek vai tetek da’a dotaku na melo panggoni.”
(Kan dia cari makan to, tidak mau dia betetek. Cari makan itu dia. Kalo kasih tetek tidak mau berarti dia cari makan)
Hal serupa diutarakan ibu SA yang juga telah memberikan makanan tambahan pada bayinya saat usia bayi tiga bulan. Makanan tambahan yang diberikan berupa pisang yang dikerok dan disiram dengan air panas kemudian dihaluskan dengan air. Selain pisang, terkadang bayi juga diberikan ubi rebus yang dihaluskan dan ditambahkan air. Disamping itu ada juga ibu yang memberikan nasi yang dicampur dengan air yang ditambahkan sedikit garam. Makanan pendamping ASI diberikan dua kali sehari pada bayinya yaitu pada pagi dan sore hari.
Gambar 3.6.
Balita disuapi nasi dicampur dengan air Sumber: Dokumentasi Peneliti
Pada umumnya bayi yang baru lahir tidak langsung diberi nama oleh keluarganya. Keluarga hanya memanggil dengan sebutan ‘dei’ yang berarti adik. Penolong persalinan seperti bidan maupun pendeta biasa memberikan nama untuk bayi. Gereja Bala Keselamatan juga turut mendoakan dan menyerahkan bayi (anak) kepada Tuhan dalam acara penyerahan bayi. Setelah bayi diberi nama baru kemudian dapat mengikuti acara ini. Penyerahan bayi (anak) dimaksudkan agar Tuhan menyertai kehidupan anak mereka dan memberikan keselamatan dalam
hidup. Biasanya bayi berumur mulai dari kurang satu bulan hingga anak remaja yang belum diserahkan oleh orangtuanya sewaktu kecil juga bisa mengikuti acara ini. Bayi atau anak akan mendapatkan surat penyerahan dari gereja yang dapat digunakan sebagai syarat untuk mendaftar sekolah dan pernikahan karena tanpa surat penyerahan dapat dikenai denda berupa uang. Acara penyerahan bayi (anak) biasa dilakukan dalam satu tahun sekali. Pada saat penelitian berlangsung terdapat acara penyerahan bayi (anak) yang dihadiri oleh pendeta dari luar desa. Penyerahan bayi juga menjadi salah bentuk pencatatan yang dilakukan oleh gereja disamping pencatatan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan.
Gambar 3.7. Acara Penyerahan Bayi (Anak) Sumber: Dokumentasi Peneliti
Acara penyerahan bayi diawali dengan ibadah yang dipimpin oleh pendeta. Setelah melakukan ibadah maka pendeta memanggil satu per satu anak yang akan diserahkan beserta
orangtuanya dan kemudian pendeta mendoakan keselamatan anak dibawah bendera Bala Keselamatan.