BAB II KAJIAN TEORI
2.1 Landasan Teori
2.1.6 Antropolinguistik dalam Kaitannya dengan Konteks Budaya, Nilai
Antropolinguistik merupakan subdisiplin dari ilmu linguistik. Antropolinguistik merupakan integrasi antara disiplin ilmu linguistik dengan antropologi sehingga sering disebut dengan istilah linguistik antropologi. Foley (2001) mengemukakan bahwa linguistik antropologi merupakan subdisiplin dari ilmu linguistik yang memahami bahasa sebagai bagian dari konteks sosial budaya, perannya dalam mempengaruhi dan mempertahankan praktek budaya dan struktur sosial. Linguistik antropologi memandang bahasa dengan perspektif konsep antropologi, kebudayaan, mencari makna di balik sistem kebahasaan yang digunakan, termasuk bentuk penyalahgunaan atau penyimpangannya, perbedaan atau variasinya, ragamnya, dan gaya bahasanya. Ilmu interdisipliner tersebut berusaha mengupas dan menginterpretasi bahasa untuk menemukan suatu pemahaman budaya tertentu.
Kedudukan antopolinguistik dalam penelitian ini memiliki peran yang sangat penting sehingga dapat dikatakan bahwa disiplin ilmu tersebut memiliki peran pusat. Nilai karakter yang terkandung dalam permainan anak tradisional dikaji melalui perspektif antropolinguistik untuk mengetahui permainan-permainannya dan jenis-jenisnya dengan melihat konteks situasional dan konteks budaya yang melatarbelakanginya. Selain itu bentuk-bentuk preservasi permainan anak tradisional juga dikaji dengan dasar perspektif yang sama. Antropolinguistik
itu sendiri merupakan ilmu yang mengkaji bahasa sebagai bagian dari kebudayaan (Duranti, 1997). Disiplin ilmu tersebut mengamati hubungan antara bahasa dengan budaya. Bahasa dipandang sebagai bagian dari budaya. Budaya itu sendiri juga memiliki manifestasi, yang dapat berupa bahasa, aktivitas, aturan, nilai, norma, sikap, dan sebagainya yang berlaku atau dimiliki oleh suatu kelompok masyarakat tertentu.
Duranti (1997) mengungkapkan bahwa kajian antropolinguistik memberi perhatian pada tiga bidang teoretis, yaitu performansi, indeksikalitas, dan partisipasi. Sibarani (2017) dalam penelitiannya yang berjudul Objek Kajian Penting dalam Pelestarian Bahasa Ibu sebagai penelitian yang relevan dengan penelitian ini mengungkapkan bahwa melalui konsep performansi, bahasa dipahami dalam proses kegiatan, tindakan, dan pertunjukan komunikatif, yang membutuhkan kreativitas. Penelitian Sibarani tersebut mengamati peran disiplin antropolinguistik ketika digunakan dalam penelaahan tradisi lisan yang dapat dilakukan dalam tiga tahap, yaitu mengkaji keterhubungan (interconnection) teks, ko-teks, dan konteks dalam suatu performansi untuk menemukan struktur, formula atau pola tradisi lisan. Tahapan berikutnya mengkaji isi tradisi lisan, yakni kebernilaian (valuability) yang merupakan makna dan fungsi, nilai dan norma, serta kearifan lokal sebuah tradisi lisan. Tahapan berikutnya mengkaji dan merumuskan model revitalisasi dan pelestarian tradisi lisan. Berkaitan dengan hal itu, penelitian ini juga mengamati salah satu bagian dari budaya, yaitu permainan anak tradisional dengan fokus kajian pada nilai-nilai karakter yang terkandung di dalamnya. Dalam proses pengkajian nilai karakter, permainan anak tradisional
tetap perlu diidentifikasi dengan pola yang mirip dengan milik Sibarani di atas. Dari identifikasi permainan itu, kemudian dikaitkan dengan deskripsi nilai-nilai karakternya sebagai kajian utama.
Bahasa sebagai unsur lingual yang menyimpan sumber-sumber kultural tidak dapat dipahami secara terpisah dari pertunjukan atau kegiatan berbahasa tersebut. Konsep indeksikalitas ini berasal dari pemikiran Pierce (1965 dalam Foley, 2001) yang membedakan tanda atas tiga jenis yakni indeks (index), simbol (symbol), dan ikon (icon). Indeks adalah tanda yang mengindikasikan bahwa ada hubungan alamiah dan eksistensial antara yang menandai dan yang ditandai. Konsep indeks (indeksikalitas) diterapkan pada ekspresi linguistik seperti pronomina demonstratif (demonstrative pronouns), pronomina diri (personal pronouns), adverbia waktu (temporal expressions), dan adverbia tempat (spatial expressions). Danesi (2004) menambahkan definisi mengenai ketiga jenis tanda tersebut. Indeks adalah tanda yang mewakili sumber acuan dengan cara menunjuk padanya atau mengaitkannya (secara eksplisit atau implisit) dengan sumber acuan lain. Ikon adalah tanda yang mewakili sumber acuan melalui sebuah bentuk replikasi, simulasi, imitasi, atau persamaan. Sebuah tanda dirancang untuk mempresentasikan sumber acuan melalui simulasi atau persamaan. Simbol adalah tanda yang mewakili objeknya melalui kesepakatan atau persetujuan dalam konteks spesifik. Makna-makna dalam suatu simbol dibangun melalui kesepakatan sosial atau melalui beberapa tradisi historis. Selanjutnya, konsep partisipasi memandang bahasa sebagai aktivitas sosial yang melibatkan pembicara dan pendengar sebagai pelaku sosial (social actors).
Permainan anak tradisional merupakan bagian dari budaya. Budaya mencangkup berbagai aktivitas yang dilakukan secara turun-temurun sebagai wujud performansi, termasuk aktivitas berkomunikasi (berbahasa – verbal dan nonverbal) sebagai suatu proses kegiatan, tindakan, dan pertunjukan komunikatif (Sibarani, 2015). Permainan dilakukan dalam bentuk aktivitas yang konkrit dan dilakukan secara turun-temurun. Hal itu menunjukkan bahwa aktivitas itu merupakan bagian dari budaya.
Setiap permainan anak tradisional merupakan wujud kebudayaan yang ditandai dengan suatu aktivitas yang diberi nama tertentu yang mencerminkan aktivitas dari permainan itu. Nama yang menunjukkan bentuk permainan merupakan wujud indeksikalitas. Permainan anak tradisional juga membutuhkan individu-individu yang melakukan permainan itu. Permainan tidak akan muncul atau terjadi tanpa keterlibatan para pemain, dan hal itu menunjukkan dimensi partisipasi dari para pelaku aktivitas. Ketiga dimensi tersebut hadir dalam setiap permainan anak tradisional sebagai hal yang dapat diidentifikasi, saling dikaitkan melalui kacamata antropolinguistik untuk mengkaji nilai-nilai karakter yang terkandung di dalam permainan dan bentuk-bentuk upaya preservasi yang dapat dilakukan. Hal itu berkaitan dengan pernyataan Spradley (1980) bahwa kajian budaya dalam perspektif antropolinguistik atau entolinguistik menggunakan tiga aspek pengalaman manusia, yaitu apa yang mereka lakukan, apa yang mereka tahu, dan benda apa yang mereka gunakan dan buat.
Peneltian ini tentu melibatkan konteks dalam proses analisis untuk menemukan jawaban atas rumusan masalah yang ditetapkan. Sebagaimana hal
yang tampak pada pemaparan di atas, permainan anak tradisional melibatkan suatu aktivitas yang meliputi bahasa verbal dan nonverbal. Penggunaan bahasa nonverbal bukan bahasa yang bersifat universal. Bahasa nonverbal terikat dengan budaya dan konteks. Tiap budaya tentu menampilkan maksud bahasa nonverbal yang berbeda. Van Dijk (1977) mengatakan konteks aktual berkaitan dengan periode waktu dan tempat aktivitas penutur dan mitra tutur saling terlibat dalam interaksi. Hal yang sama oleh Yule (2000), yaitu konteks sebagai lingkungan fisik ketika kata-kata digunakan. Lingkungan fisik dapat dispesifikan berdasarkan lingkungan budaya. Lingkungan budaya menjadi salah satu faktor parameter penggunaan bahasa yang merujuk pada penutur maupun mitra tutur pengguna bahasa nonverbal. Menurut Cook (2003), komunikasi melibatkan interpretasi dalam pertemuan nyata, meliputi nada suara dan ekspresi wajah, hubungan antara para penutur terkait dengan umur, jenis kelamin, status social, waktu dan tempat, dan tingkatan tindakan penutur yang harus dilakukan ataupun tidak dilakukan sesuai latar belakang budaya. Beberapa faktor tersebut merupakan konteks.
Lalu, Song (2010) menjabarkan istilah konteks secara lebih spesifik ke dalam beberapa klasifikasi. (1) Konteks linguistik merujuk pada konteks dengan wacana, seperti keterkaitan antara kata, frasa, kalimat, bahkan paragraf. Dalam momen tertentu, bahasa yang digunakan penutur disesuaikan dengan ruang dan waktu tertentu. (2) Konteks situasional merujuk pada lingkungan, waktu, dan tempat. (3) Konteks kultur mengacu pada budaya, adat istiadat, latar belakang zaman dalam komunitas bahasa yang di dalamnya para penutur terlibat langsung. Bahasa sebagai fenomena sosial yang berarti terikat dengan struktur sosial dan
sistem nilai masyarakat. Oleh karena itu, bahasa tidak dapat menghindari pengaruh faktor-faktor, seperti peran masyarakat, status sosial, jenis kelamin, dan umur.
Konteks yang dilibatkan dalam penelitian ini berupa konteks budaya. Konteks kultur mengacu pada budaya, adat istiadat, latar belakang zaman dalam komunitas bahasa yang di dalamnya para penutur terlibat langsung (Song, 2010), untuk memberi nilai pada teks dan mendayakan penafsirannya (Halliday dan Hasan, 1985). Konteks budaya dalam penelitian ini secara khusus mengacu pada karaktersitik budaya Jawa-Yogyakarta yang mendasari dan turut menentukan interpretasi data. Konteks budaya perlu dibedakan dari konteks yang terkandung dalam permainan itu sendiri. Dalam penelitian ini, penulis juga mengidentifikasi dimensi indeksikalitas, performansi, dan partisipan (Duranti, 1997) dari setiap permainan anak tradisional. Hal itu juga berkaitan dengan konteks situasional yang merujuk pada lingkungan, waktu, dan tempat (Song, 2010). Dimensi performansi dan partisipan dalam permainan anak tradisional sudah mengandung suatu konteks tertentu melalui aktivitas dan pelaku yang terlibat, yang jika dikaitkan dengan nama atau sebutan dari permainan itu sendiri akan menyiratkan suatu pesan. Pesan itu dapat berupa wujud-wujud nilai karakter yang terkandung di dalamnya.
Berkaitan dengan hal di atas, pengamatan penulis terhadap ketiga dimensi yang hadir dalam setiap permainan tradisional sebagai bagian dari konteks situasional itu juga perlu dikaitkan dengan konteks budaya. Seperti hal yang telah dipaparkan di atas, konteks budaya dalam penelitian ini mengarah pada budaya
Jawa-Yogyakarta, yang mana budaya tersebut memiliki karakteristik untuk selalu mengarahkan masyarakatnya pada sikap mental yang baik, bermoral, luhur, dan mulia. Budaya Jawa selalu memandang segala sesuatu sebagai hal yang dapat mengarahkan seseorang atau masyarakat untuk memiliki sikap mental yang baik. Pernyataan tersebut merupakan akumulasi dari pandangan para ahli (Suseno, 1985; Endraswara, 2005, 2015; dan Bastomi, 1992). Hal itu dapat dijadikan sebagai salah satu dasar teori selain dasar teori antropolinguistik seperti yang telah dikemukakan oleh Duranti (1997) untuk menemukan jawaban atas rumusan masalah yang telah ditentukan.
Nilai karakter merupakan hal yang dikaji dan diamati dalam penelitian ini melalui serangkaian proses yang tergambar di atas dengan memposisikan teori-teori yang digunakan sebagai alat untuk menemukan jawaban. Maka, antropolinguistik dapat dikaitkan dengan konteks budaya, nilai karakter, dan permainan anak tradisional. Setiap poin tersebut memiliki posisi yang berbeda, namun berkaitan satu sama lain. Antropolinguistik merupakan dasar teori yang mengungkapkan dimensi indeksikalitas, performansi, dan partisipan dalam permainan anak tradisional. Ketiga dimensi yang teridentifikasi dalam permainan tersebut kemudian dapat saling dikaitkan dengan konteks budaya yang berlandaskan teori para ahli untuk mengkaji nilai-nilai karakter yang terkandung dalam setiap permainan anak tradisional.