• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.2 Hasil Penelitian

4.2.2 Jenis-jenis Permainan Anak Tradisional

4.2.2.2 Permainan Asah Fisik

Permainan asah fisik adalah jenis permainan yang dilakukan dengan menonjolkan aktivitas gerak fisik untuk melakukan permainan. Jenis permainan ini memerlukan keikutsertaan anak untuk bersedia menggerakkan tubuh mereka sebagai bagian yang harus dilakukan di dalam permainan itu. Anak cenderung melakukan permainan seperti ketika mereka melakukan olah raga di sekolah, di rumah, atau di mana saja dalam kehidupan sehari-hari. Permainan jenis ini biasanya menjadi seperti permainan olah raga karena memerlukan gerak tubuh sebagai bagian dari aktivitas permainan itu tadi. Pernyataan narasumber berikut ini mengungkapkan mengenai jenis permainan asah fisik beserta dengan permainan-permainan yang termasuk di dalam jenis permainan ini.

Permainan asah fisik itu yang lebih terkait dengan keterampilan fisik. Misalnya, contoh permainan asah fisik itu adalah Gobag Sodor. Nah, itu adalah permainan yang terkait dengan asah fisik sehingga selain dia secara pribadi harus lincah, dia juga harus kerja sama. Jika dilihat secara pribadi yang terkait dengan asah fisik itu adalah semacam kemampuan asah fisik, yaitu bagaimana kemudian upaya dia untuk bisa mengenai lawan. Secara motorik, dia harus bisa menyatukan antara gerak langkah, tangan, untuk bisa bersembunyi dan sebagainya sehingga dia tidak bisa terkena oleh peluru atau tangkapan lawan. Semacam permainan kasti itu juga termasuk jenis permainan asah fisik, ketika dia harus berlari dari satu pos ke pos yang lain, termasuk juga kemampuan fisiknya untuk mampu memukul bola sehingga bisa jauh atau bisa langsung menangkap bola, itu juga kemampuan fisik yang tidak mungkin hanya dilakukan, tanpa dia melakukan latihan yang rutin. Contoh permainan asah fisik itu, seperti Gobag

Sodor, kasti, Ingkling, Plintheng karena bagaimanapun juga kalau tidak terampil mlintheng kan secara motorik dia juga tidak bisa melakukannya, benthik dan bentengan juga termasuk. (PE/JP/17)

Pernyataan narasumber di atas dapat dirangkum dan mengungkapkan bahwa jenis permainan asah fisik adalah jenis permainan yang memerlukan aktivitas gerak tubuh atau fisik dan cenderung menonjolkan keterampilan fisik atau motorik untuk dapat melakukan permainan itu dengan baik dan benar. Bahkan, anak perlu melatih kemampuan fisik untuk dapat memainkan permainan itu dengan baik karena jika anak tidak berlatih, maka anak biasanya tidak dapat bermain dengan baik ketika permainan itu mulai dilakukan dengan lebih serius. Sehubungan dengan pernyataan tersebut, Dharmamulya (2005) menyatakan bahwa permainan asah fisik atau permainan adu ketangkasan lebih banyak mengandalkan ketahanan dan kekuatan fisik, alat permainan walaupun sederhana, dan tempat yang relatif luas. Pernyataan narasumber dengan pendapat ahli memiliki keselarasan bahwa jenis permainan tersebut melibatkan aktivitas fisik, yang mana ada unsur akktivitas yang mengandalkan ketahanan, kemampuan, keterampilan, dan kekuatan fisik. Lalu, narasumber juga mengungkapkan beberapa permainan yang termasuk dalam jenis permainan dengan aktivitas fisik ini, yaitu (1) Gobag Sodor, (2) Ingkling, dan (3) Plintheng. Berikut merupakan pemaparan dan analisis dari jenis-jenis permainan tradisional berdasarkan hasil percakapan etnografis yang dilakukan.

Berdasarkan hasil percakapan etnografis, salah satu permainan yang termasuk di dalam jenis ini, seperti Gobag Sodor lebih mengacu pada aktivitas fisik, yaitu berlari menerobos penjagaan lawan, sesuai dengan nama permainan itu. Nama permainan itu mengacu pada pola permainannya, sebagaimana narasumber mengatakan bahwa “...sodor, di mana dalam permainan itu seseorang menjadi pemain sodor, itulah yang akhirnya memegang peranan untuk mengunci orang yang mau bermain atau menyeberang, khususnya dari pihak lawan.” (PE/JP/18). Maka, nama permainan itu terkait dengan aktivitas permainan yang dilakukan, yaitu melewati wilayah lawan yang dijaga berdasarkan garis-garis sodor, sebagaimana garis yang disebut oleh mayarakat Jawa, dan bagi pemain penyeberang sesuai dengan nama aslinya, harus melewati wilayah tim lawan yang dijaga dan kembali lagi pada posisi awal. Permainan itu dilakukan dengan menonjolkan kerja sama agar permainan dapat berjalan dengan baik. Permainan ini sangat memerlukan kerja sama dari anak untuk dapat saling menjaga daerah tim mereka dengan baik.

Berdasarkan hasil percakapan etnografis, nama permainan itu lebih mengacu pada aktivitas permainan yang dilakukan, yaitu menjaga daerah tim dan melewati daerah itu bolak-balik tanpa tertangkap oleh penjaga. Aktivitas menjadi bagian dari proses perilaku berbahasa yang dapat menunjukkan keterkaitan antara pesan yang ingin disampaikan dengan bentuk-bentuk linguistik yang mengacu kepada sesuatu. Hal itu dapat dikaitkan dengan pandangan Pierce (1965 dalam Foley, 2001) yang mengemukakan bahwa bahasa sebagai aktivitas sosial yang melibatkan pelaku sosial. Permainan Gobag Sodor harus dilakukan secara

bersama-sama yang ditunjukkan melalui aktivitas yang dilakukan oleh anak di dalam permainan itu yang tentu tidak terlepas dari proses komunikasi dan gerak aktif dari tubuh, termasuk bentuk kebahasaan dari nama permainan itu. Nama permainan itu menunjuk pada aktivitas yang menunjukkan aktivitas menjaga daerah tim dan melewati daerah itu bolak-balik tanpa tertangkap oleh penjaga

Permainan Gobag Sodor termasuk dalam jenis permainan asah fisik, karena permainan tersebut dilakukan dengan aktivitas gerak fisik dan kelincahan yang disertai dengan kerja sama. Aktivitas fisik yang dilakukan di dalam permainan itu menjadi ciri khas yang paling menonjol sehingga permainan itu dinamakan sesuai dengan aktivitasnya dan termasuk ke dalam jenis permainan asah fisik. Aktivitas itu langsung mengacu pada inti dari permainan itu, yaitu aktivitas utamanya yang mana anak harus melakukan go back through the door atau kembali ke tempat asal melalui petak-petak yang ditandai oleh garis-garis, yaitu sodor. Maka, inti dari permainan ini yang sebenarnya adalah aktivitas melewati atau menyeberang area melalui sodor sampai dapat kembali lagi dengan penjagaan yang ketat dari tim lawan sehingga nama itu sebenarnya langsung mengacu pada aktivitas permainan itu. Aktivitas menjadi pusat acuan, yang kemudian secara bertahap dibawakan oleh pola permainan go back through the door yang dilakukan di dalam permainan itu. Maka, inti yang sebenarnya dari permainan itu adalah aktivitas anak yang harus dilakukan dengan gerakan fisik. Namun, aktivitas fisik itu tidak dapat terwujud jika anak tidak saling bekerja sama. Hal itu membutuhkan kerja sama karena pada dasarnya anak harus dapat saling bekerja sama untuk menjaga area yang dilewati oleh pemain yang melewati

sodor. Maka, hal yang menjadi dasar bahwa jenis permainan ini termasuk ke dalam permainan aktivitas fisik adalah kerja sama untuk “mempertahankan-menerobos” yang harus dilakukan melalui gerakan fisik secara aktif.

Permainan lain yang termasuk di dalam jenis ini adalah permainan Ingkling. Nama permainan Ingkling memiliki sebutan lain, seperti engklek dan angklek. Menurut Dharmamulya (2005), permainan itu dinamakan demikian karena dilakukan dengan cara engklek yang dalam bahasa Indonesia berarti berjalan melompat dengan satu kaki sehingga nama asli dari permainan itu sebenarnya adalah engklek sebagaimana nama dari cara memainkan permainan itu sendiri. Berdasarkan hasil percakapan etnografis, nama ingkling itu mengacu pada maksud yang sama, sebagaimana narasumber mengatakan bahwa “...mengacu pada bentuk wujud gerak fisiknya harus ingkling, maka namanya menjadi ingkling.” (PE/JP/18). Maka, nama permainan itu terkait dengan aktivitas permainan yang dilakukan, yaitu berjalan melompat dengan satu kaki. Permainan itu dilakukan dengan menonjolkan keterampilan fisik agar permainan dapat berjalan dengan baik. Permainan ini sangat memerlukan keterampilan dari anak sehingga keberhasilan permainan ini terutama ditentukan oleh kemampuan anak dalam menjaga keseimbangan tubuh dan kekuatan kaki untuk dapat melompat-lompat dengan baik. Aktivitas bermain di dalam permainan itu hanya dapat dilakukan apabila anak memiliki keterampilan untuk menjaga keseimbangan tubuh dan kuat melakukan hal dengan satu kaki selama permainan dilakukan. Dalam permainan ini, anak yang terampil dengan anak yang belum terampil menjadi faktor yang sangat menentukan keberhasilan individu dalam bermain.

Berdasarkan hasil percakapan etnografis, nama permainan itu lebih mengacu pada aktivitas permainan yang dilakukan, yaitu berjalan melompat dengan satu kaki, seperti kutipan yang telah ditulis di atas tadi. Kaitan antara nama permainan dengan jenis permainan terdapat pada aktivitas permainan yang berjalan melompat dengan satu kaki yang membutuhkan keterampilan tubuh dari setiap pemain. Aktivitas menjadi bagian dari proses perilaku berbahasa yang dapat menunjukkan keterkaitan antara pesan yang ingin disampaikan dengan bentuk-bentuk linguistik yang mengacu kepada sesuatu. Hal itu dapat dikaitkan dengan pandangan Pierce (1965 dalam Foley, 2001) yang mengemukakan bahwa bahasa sebagai aktivitas sosial yang melibatkan pelaku sosial. Permainan Ingkling harus dilakukan secara bersama-sama yang ditunjukkan melalui aktivitas yang dilakukan oleh anak di dalam permainan itu yang tentu tidak terlepas dari proses komunikasi, termasuk bentuk kebahasaan dari nama permainan itu, sebagaimana hal yang telah dipaparkan di atas. Nama permainan itu menunjuk pada aktivitas yang menunjukkan cara melakukan permainan dengan berjalan melompat menggunakan satu kaki yang dilakukan dengan keterampilan fisik. Keterampilan fisik itu dibawa melalui aktivitas inti permainan, kemudian dari aktivitas itu tertuang pada nama permainan, sehingga nama itu menandai bentuk-bentuk aktivitas yang dilakukan, yang juga menunjukkan jenis permainannya, sebagaimana hal yang telah kita dapati dari permainan Gobag Sodor dan juga termasuk Plintheng.

Aktivitas menjadi sarana pengacu antara nama dan jenis permainannya. Maka, pandangan Pierce di atas sangat tampak bahwa bentuk kebahasaan

mengacu pada perantara tertentu yang berupa aktivtias sosial sebelum dapat menunjukkan maksud yang sebenarnya. Pandangan Hymes (1974) mengenai SPEAKING juga dapat memperkuat temuan itu. Ends merupakan maksud atau tujuan dari penutur ketika menggunakan bentuk-bentuk kebahasaannya, act merupakan tindakan yang dilakukan oleh penutur dalam menggunakan bentuk-bentuk kebahasaannya, dan instrument merupakan alat yang digunakan oleh penutur yang menyampaikan maksudnya. Maksud atau tujuan dalam hal ini dapat berupa aktivitas yang menggambarkan pola permainan. Lalu, tindakan itu dapat berupa aktivitas yang dilakukan dalam permainan, yang mana di dalam jenis permainan ini adalah aktivitas inti dari permainan itu. Kemudian, alat dapat berupa nama dan jenis permainan itu yang mengacu pada tindakan fisik yang sangat tampak.