BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2 Hasil Penelitian
4.2.1 Nilai-nilai Karakter dalam Permainan Anak Tradisional
4.2.1.1 Manusia Harus Hidup sesuai dengan Aturan, Nilai, dan Norma yang
Nilai karakter yang menyatakan bahwa manusia harus hidup sesuai dengan aturan, nilai, dan norma yang berlaku di masyarakat terkandung dalam permainan Ancak-ancak Alis. Permainan Ancak-ancak Alis dimainkan secara bersama-sama dengan 10-15 anak dan dimainkan dengan cara seperti bermain permainan ular naga. Dua anak bertugas sebagai petani dan anak yang lain bertugas sebagai kijang/anak semang. Dua petani tadi saling menempelkan telapak tangan dan membentuk seperti gapura. Lalu, kijang/anak semang tadi masing-masing berjalan di antara petani dan berjalan dari yang paling besar dengan saling memegang ikat pinggang mereka seperti ular naga. Mereka bernyanyi dan ketika lagu sudah berakhir, mereka melakukan tanya jawab. Jika kijang menjawab pilihan atas alat bertani dari pertanyaan petani (misalnya garu dari petani A atau luku dari petani B), maka dia ikut pada salah satu petani yang sesuai dengan jawaban yang diinginkan. Setelah para petani mendapatkan kijangnya masing-masing dari proses tanya jawab tadi, maka setiap tim dari kedua petani itu melakukan tarik tambang untuk saling beradu kekuatan sampai ada salah satu tim yang menang (SD/DP/1). Data yang menunjukkan deskripsi latar belakang budaya permainan itu dapat diamati sebagai berikut.
Ancak-ancak Alis memiliki tembang yang menceritakan tentang kehidupan dan siklus bertani masyarakat Jawa.
Kehidupan dan siklus bertani masyarakat Jawa mencerminkan tatanan aturan tertentu yang dilambangkan melalui tempat tatakan yang bernama ancak-ancak. Alis itu sendiri merupakan bagian tubuh manusia yang sepertinya terlihat sepele, namun dalam hal seni tata rias Jawa, alis memiliki peran yang sangat penting. Alis menjadi suatu bagian yang harus ditata rapi, sebagaimana tatanan kehidupan masyarakat itu dan siklus bertani yang secara alamiah sudah memiliki tatanan alam sendiri dari proses menanam sampai dapat mengumpulkan hasilnya yang tertuang di dalam syairnya sehingga digunakan sebagai lambang bahwa manusia yang hidup di dalam masyarakat harus mengikuti suatu tatanan tertentu. (PE/LB/1)
Data di atas dapat memberikan suatu keterangan yang menguatkan interpretasi penulis dalam menggali nilai-nilai karakter yang tersembunyi di dalam permainan Ancak-ancak Alis. Permainan tersebut terdiri dari dua kata, yaitu ancak-ancak (kata ulang) dan alis. Kata ancak-ancak berarti alas, dan kata alis berarti alis, yaitu rambut yang terletak di bagian atas mata. Data (PE/LB/1) menyatakan bahwa permainan tersebut menceritakan tentang kehidupan dan siklus bertani masyarakat Jawa. Siklus bertani tersebut memiliki tatanan yang diacu melalui tatakan (alas) yang bernama ancak-ancak. Lalu, dalam pandangan budaya Jawa, alis merupakan bagian tubuh manusia yang tampak tidak mencolok, namun sebenarnya memiliki peran yang sangat penting, sebagaimana narasumber mengatakan bahwa alis itu sendiri merupakan bagian tubuh manusia yang sepertinya terlihat sepele, namun dalam hal seni tata rias Jawa, alis memiliki peran yang sangat penting. Alis menjadi suatu bagian yang harus ditata rapi, .... Dari pernyataan tersebut, maka tampak bahwa ada keterkaitan antara kata-kata yang membentuk nama permainan itu dengan makna yang ada di dalamnya.
Kata-kata yang menjadi nama permainan itu merepresentasikan sesuatu yang menjadi bagian di dalam suatu kebudayaan. Deskripsi latar belakang budaya permainan tersebut menunjukkan hal-hal yang menjadi bagian di dalam suatu kebudayaan, khususnya budaya Jawa. Song (2010) menyatakan bahwa konteks kultur mengacu pada budaya, adat istiadat, latar belakang zaman dalam komunitas bahasa yang di dalamnya para penutur terlibat langsung. Hal itu berfungsi untuk memberi nilai pada teks dan mendayakan penafsirannya (Halliday dan Hasan, 1985).
Dalam permainan itu, penulis menemukan tanda yang mengacu pada sesuatu dan memiliki makna yang lebih dalam sebagai hal yang dapat menunjukkan nilai karakter yang tersembunyi di dalam permainan itu. Tanda di dalam permainan ini dapat menunjuk pada sesuatu yang perlu digali secara lebih mendalam, sebagaimana Pierce (1965 dalam Foley, 2001) membedakan tanda atas tiga jenis yakni indeks (index), simbol (symbol), dan ikon (icon). Kata ancak-ancak dan alis yang terdapat pada nama permainan itu merupakan indeks yang mengacu pada alas dan bagian tubuh manusia yang perlu ditata rapi. Indeks adalah tanda yang mewakili sumber acuan dengan cara menunjuk padanya atau mengaitkannya (secara eksplisit atau implisit) dengan sumber acuan lain (Danesi, 2004). Dari hal itu, penulis dapat menggali makna yang lebih dalam melalui indeks yang terdapat di dalam permainan itu.
Permainan itu memiliki simbol yang dapat mengungkapkan makna yang sebenarnya, yang dapat di telusuri melalui indeks yang telah diidentifikasi. Makna itu dapat disebut sebagai nilai karakter yang tersembunyi. Berdasarkan hasil studi dokumen dan percakapan etnografis yang dilakukan oleh penulis mengenai
deskripsi permainan dan deskripsi latar belakang budaya permainan, bagian tubuh yang bernama alis dalam budaya Jawa merupakan bagian tubuh yang perlu ditata rapi dalam dunia tata rias Jawa. Sebagaimana kita tahu, budaya Jawa memilliki seni tata rias yang sangat tinggi. Seni tata rias itu memiliki aturan atau tatanan juga seperti halnya aturan atau tatanan alam di dunia ini, yang di dalam permainan ini ditunjukkan melalui proses bercocok tanam, yang ditunjukkan oleh “alat bertani dari pertanyaan petani (misalnya garu dari petani A atau luku dari petani B), maka dia ikut pada salah satu petani yang sesuai dengan jawaban yang diinginkan” (SD/DP/1) dan “ancak-ancak Alis memiliki tembang yang menceritakan tentang kehidupan dan siklus bertani masyarakat Jawa. Kehidupan dan siklus bertani masyarakat Jawa mencerminkan tatanan aturan tertentu yang dilambangkan melalui tempat tatakan yang bernama ancak-ancak” (PE/LB/1). Dengan demikian, hal itu dapat dimaknai bahwa ancak-ancak menjadi simbol suatu aturan, nilai, dan norma yang berlaku di masyarakat dan alis menjadi simbol manusia yang hidup di dalam masyarakat sehingga penulis dapat merumuskan nilai karakter bahwa manusia harus hidup sesuai dengan aturan, nilai, dan norma yang berlaku di masyarakat. Hal itu selaras dengan pandangan Pierce (dalam Danesi, 2004) yang mengatakan bahwa simbol adalah tanda yang mewakili objeknya melalui kesepakatan atau persetujuan dalam konteks spesifik. Makna-makna dalam suatu simbol dibangun melalui kesepakatan sosial atau melalui beberapa tradisi historis. Hal itu juga diperkuat oleh keterangan narasumber yang berkata bahwa alis menjadi suatu bagian yang harus ditata rapi, sebagaimana tatanan kehidupan masyarakat itu dan siklus bertani yang secara alamiah sudah
memiliki tatanan alam sendiri dari proses menanam sampai dapat mengumpulkan hasilnya yang tertuang di dalam syairnya sehingga digunakan sebagai lambang bahwa manusia yang hidup di dalam masyarakat harus mengikuti suatu tatanan tertentu. (PE/LB/1). Hal itu ditegaskan oleh Suseno (1985) yang mengungkapkan bahwa budaya Jawa sangat kental dengan filosofi karakter atau sikap. Budaya Jawa sangat memegang nilai-nilai luhur yang sangat kuat mengakar dalam kehidupan masyarakat sampai saat ini.
4.2.1.2 Penghormatan Terhadap Orang Lain Menjadi Tanda bahwa Kita