• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.2 Hasil Penelitian

4.2.1 Nilai-nilai Karakter dalam Permainan Anak Tradisional

4.2.1.6 Manusia Harus Dapat Menjalin Persaudaraan Tanpa Pamrih

Nilai karakter yang menyatakan bahwa manusia harus dapat menjalin persaudaraan tanpa pamrih terkandung dalam permainan Dhakon. Permainan Dhakon dimainkan oleh dua anak. Permainan ini menggunakan sarana yang

berupa papan berlubang dengan 14 lubang kecil (7 lubang pada setiap pemain) dan 2 lubang besar (1 lubang untuk lumbung pada setiap pemain). Permainan ini merupakan permainan asah otak, yang mana anak harus berkompetisi untuk mengumpulkan biji sebanyak mungkin. Anak yang berhasil mengumpulkan biji terbanyak di lumbungnya adalah pemenangnya. Hal itu membutuhkan strategi dan perhitungan yang tepat untuk dapat menang (SD/DP/6). Data yang menunjukkan deskripsi latar belakang budaya permainan itu dapat diamati sebagai berikut.

Dhakon itu adalah salah satu permainan di mana kalau dalam salah satu prinsip ekonomi yang dulu dipakai oleh mbah-mbah kita itu adalah puna sathak bathi sanak. Jadi bagaimana kemudian tidak perlu dengan keuntungan yang besar, akan tetapi bagaimana kemudian konsep kekadangan, konsep patembayan, konsep paguyuban, kerukunan ini kemudian tetap bisa terjaga. Namun dalam Dhakon, memang kemudian satu hal yang menarik adalah bagaimanapun juga, sak polah tingkahe kita dalam hidup itu kita diharapkan punya turahan dan punya oleh-olehan. Namun, oleh-olehannya adalah oleh-olehan yang positif, jangan sampai oleh-olehan tersebut adalah oleh-olehan buah kehidupan yang justru malah menjadi buah simalakama bagi diri kita. Maka nanti dalam dolanan Dhakon, memang turahan tadilah yang kemudian bisa mlumpuk di dalam lumbung yang ada di dalam ceruk-ceruk permainan Dhakon. (PE/LB/6)

Data di atas dapat memberikan suatu keterangan yang menguatkan interpretasi penulis dalam menggali nilai-nilai karakter yang tersembunyi di dalam permainan Dhakon. Permainan tersebut terdiri dari satu kata, yang berasal dari kata dhaku yang berarti aku-milikku (Dharmamulya, 2005) sehingga

menunjukkan aktivitas klaim atas kepemilikan. Pemain memang harus bermain untuk saling klaim jumlah biji yang terkumpul di dalam lumbung masing-masing. Data (PE/LB/6) menyatakan bahwa permainan tersebut mengajarkan prinsip ekonomi masyarakat Jawa yang mana keuntungan yang didapat tidak mengutamakan keuntungan materi, namun keuntungan atas jalinan persaudaraan. Artinya prinsip itu lebih mengutamakan persaudaraan daripada keuntungan materi, sebagaimana narasumber mengatakan bahwa Dhakon adalah salah satu permainan di mana kalau dalam salah satu prinsip ekonomi yang dulu dipakai oleh mbah-mbah kita itu adalah puna sathak bathi sanak. Jadi bagaimana kemudian tidak perlu dengan keuntungan yang besar, akan tetapi bagaimana kemudian konsep kekadangan, konsep patembayan, konsep paguyuban, kerukunan ini kemudian tetap bisa terjaga. Dari pernyataan tersebut, maka tampak bahwa ada keterkaitan antara kata yang membentuk nama permainan itu dengan makna yang ada di dalamnya, yaitu klaim atas kepemilikan saudara, dari orang yang belum dikenal menjadi orang yang dikenal seperti saudara dan hubungan persaudaraan itu tetaplah terjaga. Kata-kata yang menjadi nama permainan itu merepresentasikan sesuatu yang menjadi bagian di dalam suatu kebudayaan. Deskripsi latar belakang budaya permainan tersebut menunjukkan hal-hal yang menjadi bagian di dalam suatu kebudayaan, khususnya budaya Jawa. Song (2010) menyatakan bahwa konteks kultur mengacu pada budaya, adat istiadat, latar belakang zaman dalam komunitas bahasa yang di dalamnya para penutur terlibat langsung. Hal itu berfungsi untuk memberi nilai pada teks dan mendayakan penafsirannya (Halliday dan Hasan, 1985).

Dalam permainan itu, penulis menemukan tanda yang mengacu pada sesuatu dan memiliki makna yang lebih dalam sebagai hal yang dapat menunjukkan nilai karakter yang tersembunyi di dalam permainan itu. Tanda di dalam permainan ini dapat menunjuk pada sesuatu yang perlu digali secara lebih mendalam, sebagaimana Pierce (1965 dalam Foley, 2001) membedakan tanda atas tiga jenis yakni indeks (index), simbol (symbol), dan ikon (icon). Kata dhaku yang terdapat pada nama permainan itu merupakan indeks yang mengacu pada aktivitas klaim biji dhakon agar terkumpul di dalam lumbung. Indeks adalah tanda yang mewakili sumber acuan dengan cara menunjuk padanya atau mengaitkannya (secara eksplisit atau implisit) dengan sumber acuan lain (Danesi, 2004). Dari hal itu, penulis dapat menggali makna yang lebih dalam melalui indeks yang terdapat di dalam permainan itu.

Permainan itu memiliki simbol yang dapat mengungkapkan makna yang sebenarnya, yang dapat di telusuri melalui indeks yang telah diidentifikasi. Makna itu dapat disebut sebagai nilai karakter yang tersembunyi. Berdasarkan hasil studi dokumen dan percakapan etnografis yang dilakukan oleh penulis mengenai deskripsi permainan dan deskripsi latar belakang budaya permainan, masyarakat Jawa pada zaman dahulu menggunakan sarana biji sebagai alat hitung pada saat itu dan dhakon adalah media belajar anak untuk dapat berhitung (JSIT, 2015), yang ditunjukkan oleh “hal itu membutuhkan strategi dan perhitungan yang tepat untuk dapat menang” (SD/DP/6) dan “maka nanti dalam dolanan Dhakon, memang turahan tadilah yang kemudian bisa mlumpuk di dalam lumbung yang ada di dalam ceruk-ceruk permainan Dhakon” (PE/LB/6). Dengan demikian, hal

itu dapat dimaknai bahwa biji dhakon menjadi simbol orang-orang yang menjadi saudara, lubang-lubang dhakon menjadi simbol proses untuk mendapat dan menjaga persaudaraan, lubang atau lumbung dhakon menjadi simbol diri kita yang akan mendapat saudara, dan dhaku menjadi simbol bahwa kita perlu bergerak dan melakukan “klaim” persaudaraan, daripada hanya mencari keuntungan materi semata sehingga penulis dapat merumuskan nilai karakter bahwa manusia harus dapat menjalin persaudaraan tanpa pamrih. Hal itu selaras dengan pandangan Pierce (dalam Danesi, 2004) yang mengatakan bahwa simbol adalah tanda yang mewakili objeknya melalui kesepakatan atau persetujuan dalam konteks spesifik. Makna-makna dalam suatu simbol dibangun melalui kesepakatan sosial atau melalui beberapa tradisi historis. Hal itu juga diperkuat oleh keterangan narasumber yang berkata bahwa dalam salah satu prinsip ekonomi yang dulu dipakai oleh mbah-mbah kita itu adalah puna sathak bathi sanak. Jadi bagaimana kemudian tidak perlu dengan keuntungan yang besar, akan tetapi bagaimana kemudian konsep kekadangan, konsep patembayan, konsep paguyuban, kerukunan ini kemudian tetap bisa terjaga (PE/LB/6). Hal itu ditegaskan oleh Suseno (1985) yang mengungkapkan bahwa budaya Jawa sangat kental dengan filosofi karakter atau sikap. Budaya Jawa sangat memegang nilai-nilai luhur yang sangat kuat mengakar dalam kehidupan masyarakat sampai saat ini.

4.2.1.7 Manusia Harus selalu Menjunjung Tatakrama sebagai Makhluk