BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2 Hasil Penelitian
4.2.1 Nilai-nilai Karakter dalam Permainan Anak Tradisional
4.2.1.16 Manusia Perlu Mengendalikan Diri Agar Tidak Terjatuh dan
Nilai karakter yang menyatakan bahwa manusia perlu mengendalikan diri agar tidak terjatuh dan mencelakakan diri sendiri terkandung dalam permainan Layangan. Permainan Layangan dilakukan dengan membuat mainan yang terbuat dari batang bambu tipis, kertas, tali/benang, dan kertas tisu/minyak. Mainan berupa layang-layang yang berbentuk belah ketupat dan dimainkan dengan menerbangkannya menggunakan tali yang panjang. (SD/DP/20). Data yang menunjukkan deskripsi latar belakang budaya permainan itu dapat diamati sebagai berikut.
Kita diajak untuk mengenal suratan, karena layang itu kan surat ta. Nah, bagaimana layang atau surat yang kita terbangkan dan kita tauti benang secara fisik, bagaimana kemudian pengendalian diri, agar kemudian kita sendiri mampu nggegana, istilahnya kalau mbah-mbah kita dulu menyimak layangan itu bagaimana kemudian siklus kehidupan ulat, bagaimana kemudian dia menjadi ulat, bagaimana ketika bertapa menjadi kempompong, dan bagaimana ketika terbang menjadi kupu gajah, maka namanya adalah basupa, basupu, dan basunada. Jadi, ketika lelayangan dan layangan ini tadi terbang, maka di sanalah kita harus mampu mengendalikan, jangan sampai layang-layang itu menjadi sesuatu yang liar. Jadi jangan sampai istilahnya, kemudian ketika kita diberikan kelebihan itu sendiri, kita menjadi lupa, kemudian kita sendiri menjadi melupakan apa yang telah diberikan olehNya yang telah memberikan kelebihan kepada diri kita, namun dengan senantiasa tertambat pada benang kehidupan yang dikendalikan, jadi istilahnya melalui dolanan layangan itu sebenarnya, kita selain paham dengan diri kita, kita juga paham dengan yang menitahkan diri kita, karena di sanalah tambatan benang kehidupan yang ada. Yen wis benange iki dikethok, layangane ya pedhot. Dia juga akan menjadi ngoleng-ngoleng sak karepe dhewe dan akhirnya nyiruk dan jatuh. Makanya kan agar senantiasa kita eling pada benang kehidupan ya kita harus senantiasa mendekatkan diri. Ketika kita dekat, ya kita akan menjadi dekat, ketika jauh, ya maka energi kehidupan dan talining urip itu tadi juga akan menjadi jauh. Maka, Engkau dekat, aku dekat,
Engkau jauh, aku pun akan menjadi jauh, misalnya semacam itu. Jadi bagaimana kemudian layangan ini kan semakin jauh dari benang, untuk dikendalikannya pun juga akan menjadi berproses. Maka, dari dolanan Layangan ini kan yang diharapkan adalah kita senantiasa bisa tertambat pada satu tujuan apapun dan bagaimanapun juga keadaannya, kita jangan sampai lupa pada yang mengendalikan kita, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. (PE/LB/20)
Data di atas dapat memberikan suatu keterangan yang menguatkan interpretasi penulis dalam menggali nilai-nilai karakter yang tersembunyi di dalam permainan Layangan. Permainan tersebut terdiri dari satu kata, yang berasal dari kata layang dan mendapat akhiran -an. Kata layang berarti surat, yang mana di dalam permainan ini adalah surat yang diterbangkan dengan tali sebagai pengendalinya. Data (PE/LB/20) menyatakan bahwa permainan tersebut merupakan suatu bentuk permainan yang melatih pengendalian pada media permainannya, yang mana juga dapat bermakna sebagai pengendalian diri, sebagaimana narasumber mengatakan bahwa kita diajak untuk mengenal suratan, karena layang itu kan surat ta. Nah, bagaimana layang atau surat yang kita terbangkan dan kita tauti benang secara fisik, bagaimana kemudian pengendalian diri, agar kemudian kita sendiri mampu nggegana (mengudara). Dari pernyataan tersebut, maka tampak bahwa ada keterkaitan antara kata yang membentuk nama permainan itu dengan makna yang ada di dalamnya. Kata-kata yang menjadi nama permainan itu merepresentasikan sesuatu yang menjadi bagian di dalam suatu kebudayaan. Deskripsi latar belakang budaya permainan tersebut menunjukkan hal-hal yang menjadi bagian di dalam suatu kebudayaan, khususnya budaya Jawa.
Song (2010) menyatakan bahwa konteks kultur mengacu pada budaya, adat istiadat, latar belakang zaman dalam komunitas bahasa yang di dalamnya para penutur terlibat langsung. Hal itu berfungsi untuk memberi nilai pada teks dan mendayakan penafsirannya (Halliday dan Hasan, 1985).
Dalam permainan itu, penulis menemukan tanda yang mengacu pada sesuatu dan memiliki makna yang lebih dalam sebagai hal yang dapat menunjukkan nilai karakter yang tersembunyi di dalam permainan itu. Tanda di dalam permainan ini dapat menunjuk pada sesuatu yang perlu digali secara lebih mendalam, sebagaimana Pierce (1965 dalam Foley, 2001) membedakan tanda atas tiga jenis yakni indeks (index), simbol (symbol), dan ikon (icon). Kata layangan yang terdapat pada nama permainan itu merupakan ikon yang mengacu secara langsung pada media permainan yang diterbangkan itu. Media permainan itu bernama layangan. Ikon adalah tanda yang mewakili sumber acuan melalui sebuah bentuk replikasi, simulasi, imitasi, atau persamaan. Sebuah tanda dirancang untuk mempresentasikan sumber acuan melalui simulasi atau persamaan (Danesi, 2004). Dari hal itu, penulis dapat menggali makna yang lebih dalam melalui ikon yang terdapat di dalam permainan itu.
Permainan itu memiliki simbol yang dapat mengungkapkan makna yang sebenarnya, yang dapat di telusuri melalui ikon yang telah diidentifikasi. Makna itu dapat disebut sebagai nilai karakter yang tersembunyi. Berdasarkan hasil studi dokumen dan percakapan etnografis yang dilakukan oleh penulis mengenai deskripsi permainan dan deskripsi latar belakang budaya permainan, permainan itu dimainkan dengan menggunakan tali untuk mengendalikannya, namun hal itu
tidak mudah untuk dilakukan bagi sebagian anak/orang sehingga dapat bermakna sebagai bentuk pengendalian diri dalam kehidupan, yang ditunjukkan oleh “Mainan berupa layang-layang yang berbentuk belah ketupat dan dimainkan dengan menerbangkannya menggunakan tali yang panjang (SD/DP/20). dan “layang atau surat yang kita terbangkan dan kita tauti benang secara fisik, bagaimana kemudian pengendalian diri” (PE/LB/20). Kata layang yang berarti surat tersebut juga memiliki makna tersendiri sebagai perilaku, tutur kata, dan pikiran, kemudian, tali yang menjadi pengendali itu juga dapat dimaknai sebagai bentuk pengendalian diri kita. Segala gerak layangan itu ditentukan oleh diri kita sendiri yang mengendalikannya menggunakan tali tersebut. Dengan demikian, hal itu dapat dimaknai bahwa layangan menjadi simbol segala perilaku, tutur kata, dan pikiran kita, tali menjadi simbol pengendalian diri kita, dan aktivitas bermain aktivitas bermain layangan itu menjadi simbol bukti kemampuan diri kita dalam mengendalikan layangan itu, karena jika kita gagal, maka benda itu akan bergerak tidak terkendali dan jatuh hingga rusak sehingga penulis dapat merumuskan nilai karakter bahwa manusia perlu mengendalikan diri agar tidak terjatuh dan mencelakakan diri sendiri. Hal itu selaras dengan pandangan Pierce (dalam Danesi, 2004) yang mengatakan bahwa simbol adalah tanda yang mewakili objeknya melalui kesepakatan atau persetujuan dalam konteks spesifik. Makna-makna dalam suatu simbol dibangun melalui kesepakatan sosial atau melalui beberapa tradisi historis. Hal itu juga diperkuat oleh keterangan narasumber yang berkata bahwa yen wis benange iki dikethok, layangane ya pedhot. Dia juga akan menjadi ngoleng-ngoleng sak karepe dhewe dan akhirnya nyiruk dan jatuh.
(PE/LB/20). Hal itu ditegaskan oleh Suseno (1985) yang mengungkapkan bahwa budaya Jawa sangat kental dengan filosofi karakter atau sikap. Budaya Jawa sangat memegang nilai-nilai luhur yang sangat kuat mengakar dalam kehidupan masyarakat sampai saat ini.