• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.2 Hasil Penelitian

4.2.2 Jenis-jenis Permainan Anak Tradisional

4.2.2.1 Permainan dengan Nyanyian atau Dialog

Permainan dengan nyanyian atau dialog adalah jenis permainan yang dilakukan dengan menonjolkan aktivitas nyanyian yang disertai dengan dialog atau hanya salah satunya saja. Jenis permainan ini memerlukan keikutsertaan anak untuk bersedia bernyanyi lagu atau tembang yang wajib dilakukan di dalam permainan itu. Selain itu, anak juga dapat mengucapkan kata-kata atau dialog yang sudah bersifat baku yang sudah menjadi bagian dari proses permainan itu sendiri. Pernyataan narasumber berikut ini mengungkapkan mengenai jenis permainan dengan nyanyian atau dialog beserta dengan permainan-permainan yang termasuk di dalam jenis permainan ini.

Permainan yang menggunakan dialog atau nyanyian itu misalnya Jamuran. Kalau kita tilik dari asal namanya, sebenarnya kan juga tidak ada yang njamur di dalam permainan itu. Namun, terkait dengan yang ditembangkan, itu adalah terkait dengan berbagai macam jenis jamur apapun di sana akan disebutkan sehingga nama permainan

itu memang kemudian lekat dengan tembang yang dinyanyikan. Oleh karena itu, permainan tersebut memang kaitannya tidak hanya dengan wujud fisik jamur yang nampak di sana, akan tetapi akan lebih terkait dengan pola tetembangan yang dilakukan. Ancak-ancak Alis itu juga termasuk jenis permainan yang ditembangkan. Ingkling ini termasuk asah fisik. Cublak-cublak Suweng juga. Permainan itu kan di sana juga tidak ada suwengnya. Jadi permainan seperti itu memang lebih mengacu pada bentuk pola permainan tetembangan yang bisa dimainkan secara bersama-sama atau kelompok. Dari sanalah kemudian nama-nama permainan tersebut itu lebih dikaitkan dengan tembang yang ada, karena nembangnya juga tidak dilakukan dengan seorang diri, akan tetap dilakukan secara bersama-sama. Contohnya, Ancak-ancak Alis, dhayoh-dhayohan, Cublak-cublak Suweng itu juga dengan nyanyian, Sliring Gendhing, Pong-pong Bolong, Jamuran, Dhingklik Oglak-aglik. Kebetulan permainan yang disertai kerja sama itu ada tembangnya. (PE/JP/17)

Pernyataan narasumber di atas dapat dirangkum dan mengungkapkan bahwa jenis permainan dengan nyanyian atau dialog adalah jenis permainan yang memerlukan aktivitas bernyanyi dan berdialog yang dilakukan secara bersama-sama atau kelompok sehingga nama permainan itu juga mengadaptasi judul tembang atau kata-kata yang dinyanyikan di dalam tembang itu. Sehubungan dengan pernyataan tersebut, Dharmamulya (2005) menyatakan bahwa permainan anak dengan pola bermain bernyanyi dan atau berdialog yang dimaksudkan adalah pada waktu permainan dimainkan diawali atau diselingi dengan nyanyian, dialog, atau keduanya. Pernyataan narasumber dengan pendapat ahli memiliki keselarasan bahwa jenis permainan tersebut melibatkan aktivitas bernyanyi dan atau berdialog. Lalu, narasumber juga mengungkapkan beberapa permainan yang termasuk dalam jenis permainan dengan nyanyian atau dialog ini, yaitu (1)

Jamuran, (2) Ancak-ancak Alis, (3) Cublak-cublak Suweng, (4) Sliring Gendhing, (5) Pong-pong Bolong, dan (6) Dhingklik Oglak-aglik. Berikut merupakan pemaparan dan analisis dari jenis-jenis permainan tradisional berdasarkan hasil percakapan etnografis yang dilakukan.

Berdasarkan hasil percakapan etnografis, salah satu permainan yang termasuk di dalam jenis ini, seperti Jamuran lebih mengacu pada lagu yang dinyanyikan, yaitu Jamuran, sesuai dengan nama permainan itu. Permainan Jamuran harus dilakukan secara bersama-sama mulai dari (1) aktivitas bermain, (2) lagu, (3) dialog, dan (4) pelaku permainan. Nama permainan itu mengadaptasi lagu yang dinyanyikan dengan mengucapkan Jamuran dan juga aktivitas yang dilakukan di dalam permainan itu, yang mana lagu itu harus dinyanyikan secara bersama-sama pula. Hasil percakapan etnografis juga menyatakan bahwa “... hal yang ditonjolkan di sana adalah bagaimana mereka bisa bernyanyi bersama dan bergembira bersama. ... Aktivitas nembang itu mengajak kita untuk bekerja sama membuat harmoni, tidak mbengok sak bantere (tidak berteriak sesuka hati).” (PE/JP/18). Nama permainan itu terutama menunjukkan tembang Jamuran, dialog, dan aktivitas yang harus dilakukan dengan menirukan gaya tubuh seperti jamur, yang biasanya juga diikuti dengan jenis jamur tertentu sehingga pemain harus menyesuaikan gaya tubuh mereka dengan bentuk jamur yang disebutkan. Permainan Jamuran termasuk dalam jenis permainan dengan nyanyian atau dialog, karena permainan tersebut dilakukan dengan aktivitas bernyanyi tembang “Jamuran”. Tembang atau lagu yang dinyanyikan di dalam permainan itu menjadi ciri khas yang paling menonjol sehingga permainan itu dinamakan sesuai dengan

tembangnya dan termasuk ke dalam jenis permainan dengan nyanyian atau dialog. Namun, sebenarnya tembang itu juga mengacu pada inti dari permainan itu, yaitu aktivitas utamanya yang mana anak harus menirukan sifat-sifat jamur seperti yang disebutkan oleh peserta yang dadi. Maka, inti dari permainan ini yang sebenarnya adalah aktivitas peniruan jamur itu sendiri sehingga nama itu sebenarnya juga mengacu pada aktivitas peniruan itu. Jika kita amati, aktivitas menjadi pusat acuan, yang kemudian secara bertahap dibawakan oleh lagu yang dinyanyikan, lalu ditandai melalui nama yang mengacu pada tembang dan aktivitas peniruan jamur di dalam permainan itu sekaligus.

Anak menirukan jamur sesuai dengan jamur yang disebutkan oleh anak yang dadi. Maka, inti yang sebenarnya dari permainan itu adalah aktivitas anak yang harus menentukan jenis jamur yang harus ditirukan. Hal itu membutuhkan kreativitas karena anak harus dapat menentukan jenis jamur yang unik dan menantang untuk diragakan, namun jenis jamur haruslah tetap masuk akal. Maka, jika dirunut kembali, nyanyian atau dialog itu dibawa melalui aktivitas inti permainan, kemudian dari aktivitas itu dikisahkan atau dinarasikan melalui tembang atau lagu permainan, lalu aktivitas dan tembang itu diacu melalui nama permainan sehingga nama itu menandai bentuk-bentuk aktivitas dan tembang yang dinyanyikan, yang menunjukkan jenis permainannya.

Permainan Ancak-ancak Alis juga memiliki karakteristik yang mirip dengan Jamuran. Nama permainan itu lebih mengacu pada lagu yang dinyanyikan, yaitu Ancak-ancak Alis. Aktivitas menjadi bagian dari proses perilaku berbahasa yang dapat menunjukkan keterkaitan antara pesan yang ingin disampaikan dengan

bentuk-bentuk linguistik yang mengacu kepada sesuatu. Hal itu dapat dikaitkan dengan pandangan Pierce (1965 dalam Foley, 2001) yang mengemukakan bahwa bahasa sebagai aktivitas sosial yang melibatkan pelaku sosial. Permainan Ancak-ancak Alis harus dilakukan secara bersama-sama mulai dari (1) aktivitas bermain, (2) lagu, (3) dialog, dan (4) pelaku permainan, sebagaimana hal yang telah dipaparkan di atas. Nama permainan itu mengadaptasi lagu yang dinyanyikan dengan mengucapkan Ancak-ancak Alis, yang mana lagu itu harus dinyanyikan secara bersama-sama pula. Nama permainan itu terutama menunjukkan tembang Ancak-ancak Alis dan dialog. Permainan Ancak-ancak Alis juga termasuk dalam jenis permainan dengan nyanyian atau dialog, karena permainan tersebut dilakukan dengan aktivitas bernyanyi tembang sekaligus dialog dalam rangkaian yang cukup panjang. Tembang atau lagu yang dinyanyikan dan dialog di dalam permainan itu menjadi ciri khas yang paling menonjol sehingga permainan itu dinamakan sesuai dengan tembang dan dialog dan termasuk ke dalam jenis permainan dengan nyanyian atau dialog. Namun, sebenarnya tembang dan terutama dialog itu juga mengacu pada inti dari permainan itu, yaitu aktivitas utamanya yang mana anak harus menyebutkan alat-alat pertanian yang sesuai dengan keinginan anak yang berperan sebagai petani. Inti dari permainan ini yang sebenarnya adalah aktivitas untuk saling bekerja sama untuk melakukan permainan dari tahap seleksi anak semang sampai pada tahap akhir untuk adu kekuatan antartim sejumlah anak semang yang terpilih tadi untuk melakukan tarik tambang. Jika kita amati pula, aktivitas di dalam permainan tersebut juga menjadi pusat acuan, yang kemudian secara bertahap dibawakan oleh lagu dan dialog yang

dilakukan, lalu ditandai melalui nama yang mengacu pada tembang atau dialog dan aktivitas kerja sama di dalam permainan itu sekaligus. Aktivitas kerja sama itu dibawa melalui aktivitas inti permainan, kemudian dari aktivitas itu dikisahkan atau dinarasikan melalui tembang atau lagu permainan, lalu aktivitas dan tembang itu diacu melalui nama permainan sehingga nama itu menandai bentuk-bentuk aktivitas dan tembang yang dinyanyikan, yang juga menunjukkan jenis permainannya, sebagaimana hal yang telah kita dapati dari permainan Jamuran, Cublak-cublak Suweng, Sliring Gendhing, Pong-pong Bolong, dan Dhingklik Oglak-aglik.

Dalam hal ini, tampak bahwa jenis permainan memiliki acuan yang mirip dengan nama permainan. Jenis permainan mengacu pada hal-hal yang tampak dari permukaan, yaitu tembang yang dinyanyikan, yang menggambakan aktivitas permainan yang dilakukan. Sedangkan, nama permainan lebih mengacu pada hal-hal yang tampak pula, namun dapat mencangkup dimensi yang lebih luas, yaitu tembang sekaligus aktivitas permainan yang dilakukan. Jenis permainan mengungkapkan hal-hal khas yang sangat tampak atau langsung tampak dari permainan itu, sebagaimana permainan-permainan itu cukup menunjukkan kaitan itu. Dalam hal ini, pandangan Pierce (1965 dalam Foley, 2001) yang mengemukakan bahwa bahasa sebagai aktivitas sosial yang melibatkan pelaku sosial, juga berlaku seperti nama permainan yang mengacu pada hal tertentu. Hal-hal yang menunjukkan jenis permainan itu pertama-tama adalah aktivitas inti dari permainan itu sendiri; lalu disusul dengan tembang yang bersifat menggambarkan,

menarasikan, atau menceritakan hal-hal yang berkaitan dengan permainan itu, termasuk aktivitas inti yang dilakukan.