BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2 Hasil Penelitian
4.2.1 Nilai-nilai Karakter dalam Permainan Anak Tradisional
4.2.1.5 Tuhan adalah Sosok yang Maha Kuasa
Nilai karakter yang menyatakan atau mengajarkan bahwa Tuhan adalah sosok yang Maha Kuasa terkandung dalam permainan Jaranan Bongkok dan Cublak-cublak Suweng. Permainan Jaranan Bongkok Permainan ini dilakukan dengan membuat mainan yang terbuat dari dahan pohon kelapa yang sudah kering. Mainan berupa sepotong dahan yang sudah dibersihkan dari daunnya dan dimainkan dengan cara dinaiki seperti tarian jaranan. (SD/DP/13). Data yang menunjukkan deskripsi latar belakang budaya permainan itu dapat diamati sebagai berikut.
Jaranan bongkok itu adalah salah satu bentuk permainan di mana kita diajari untuk mengenal ketauhidan yang ada. Kenapa seperti itu? Karena yang namanya jaranan, itu adalah bukan jaran yang sesungguhnya. Maka, namanya adalah jaranan dan jaran itu sendiri berbeda dengan tulisan jaranan. Sebagaimana kita mencari keberadaan Tuhan, maka di situlah kita akan dihadapkan oleh banyak hal. Karena apa? Bagi yang percaya bahwa saya ketika diibaratkan, kita itu memegang sesuatu, misalnya Tuhan itu seperti apa dan sebagainya, yang memegang surinya kuda, dia akan percaya bahwasanya kuda itu adalah selembut rambut, namun bagi yang memegang perutnya, maka dia akan mengatakan Tuhan itu seperti tembok akan tetapi dia ada bulunya (punya kelembutan), yang memegang kaki mengetakan Tuhan itu hanya segedhe lengan kok, tapi ada bulunya. Padahal itu semua adalah bukan Tuhan. Tuhan adalah kesatuan dari semuanya. Kalau orang Jawa bilang, tan kena kinayangapa sehingga dalam Jaranan Bongkok itu tadi, memang selain kita
diajarkan untuk memanfaatkan sesuatu yang sudah tidak terpakai istilahnya, karena bongkok tadi setelah dipakai untuk jaranan yen wis jeleh ya isa diobong misalnya, untuk bahan bakar misalnya. Akan tetapi, melalui Jaranan Bongkok tadi, memang kemudian kita diharapkan bisa tahu, ternyata ada suatu penyangga yang kemudian mampu menopang kehidupan. Karena bongkok itu sendiri menjadi topangan dari tumbuhnya janur, di mana nur adalah cahaya kehidupan, kembali lagi pada konsep sang urip dalam pemahaman budaya itu tadi. (PE/LB/13)
Data di atas dapat memberikan suatu keterangan yang menguatkan interpretasi penulis dalam menggali nilai-nilai karakter yang tersembunyi di dalam permainan Jaranan Bongkok. Permainan tersebut terdiri dari dua kata, yaitu jaranan dan bongkok. Kata jaranan berasal dari kata jaran yang berarti kuda dan mendapat akhiran –an sebagai tanda bahwa kuda yang dibuat dan dimainkan adalah tiruan, sedangkan kata bongkok berarti dahan pohon kelapa yang sudah kering dan dibersihkan dari daun-daunnya. Data (PE/LB/13) menyatakan bahwa permainan tersebut mengungkapkan perumpamaan bahwa kekuasaan Tuhan tidak terbatas pada apapun. Tuhan memiliki berbagai macam karakter dan dapat melakukan segala hal dan menjadi topangan dari segala hal. Manusia dapat mengenal Tuhan melalui berbagai cara karena kuasa-Nya yang tak terbatas, sebagaimana narasumber mengatakan bahwa yang namanya jaranan, adalah bukan jaran yang sesungguhnya. ...yang memegang surinya kuda, dia akan percaya bahwasanya kuda itu adalah selembut rambut, namun bagi yang memegang perutnya, maka dia akan mengatakan Tuhan itu seperti tembok akan tetapi dia ada bulunya (punya kelembutan), yang memegang kaki mengetakan Tuhan itu hanya segedhe lengan kok, tapi ada bulunya. Padahal itu semua adalah
bukan Tuhan. Tuhan adalah kesatuan dari semuanya. Dari pernyataan tersebut, maka tampak bahwa ada keterkaitan antara kata yang membentuk nama permainan itu dengan makna yang ada di dalamnya. Kata-kata yang menjadi nama permainan itu merepresentasikan sesuatu yang menjadi bagian di dalam suatu kebudayaan. Deskripsi latar belakang budaya permainan tersebut menunjukkan hal-hal yang menjadi bagian di dalam suatu kebudayaan, khususnya budaya Jawa. Song (2010) menyatakan bahwa konteks kultur mengacu pada budaya, adat istiadat, latar belakang zaman dalam komunitas bahasa yang di dalamnya para penutur terlibat langsung. Hal itu berfungsi untuk memberi nilai pada teks dan mendayakan penafsirannya (Halliday dan Hasan, 1985).
Dalam permainan itu, penulis menemukan tanda yang mengacu pada sesuatu dan memiliki makna yang lebih dalam sebagai hal yang dapat menunjukkan nilai karakter yang tersembunyi di dalam permainan itu. Tanda di dalam permainan ini dapat menunjuk pada sesuatu yang perlu digali secara lebih mendalam, sebagaimana Pierce (1965 dalam Foley, 2001) membedakan tanda atas tiga jenis yakni indeks (index), simbol (symbol), dan ikon (icon). Kata jaranan dan bongkok yang terdapat pada nama permainan itu merupakan ikon yang mengacu pada media permainan yang dibuat dari bongkok dan dimainkan (ditunggangi) layaknya kuda. Ikon adalah tanda yang mewakili sumber acuan melalui sebuah bentuk replikasi, simulasi, imitasi, atau persamaan. Sebuah tanda dirancang untuk mempresentasikan sumber acuan melalui simulasi atau persamaan (Danesi, 2004). Dari hal itu, penulis dapat menggali makna yang lebih dalam melalui ikon yang terdapat di dalam permainan itu.
Permainan itu memiliki simbol yang dapat mengungkapkan makna yang sebenarnya, yang dapat di telusuri melalui ikon yang telah diidentifikasi. Makna itu dapat disebut sebagai nilai karakter yang tersembunyi. Berdasarkan hasil studi dokumen dan percakapan etnografis yang dilakukan oleh penulis mengenai deskripsi permainan dan deskripsi latar belakang budaya permainan, bongkok melambangkan kuda, dan kuda melambangkan makna yang lebih dalam, yaitu Tuhan. Kuda dianggap sebagai sosok yang kuat dan bongkok juga menjadi topangan bagi kehidupan, yang ditunjukkan oleh data yang terlah dipaparkan juga di atas (PE/LB/13). Dengan demikian, hal itu dapat dimaknai bahwa kuda menjadi simbol kekuatan Tuhan dengan berbagai karakteristiknya yang diidentifikasi dari bagian tubuh kuda (ada rambut yang lembut, kaki yang kuat, dll) dan bongkok menjadi simbol bahwa Tuhan adalah penopang dari segala hal yang ada sehingga penulis dapat merumuskan nilai karakter bahwa Tuhan adalah sosok yang Maha Kuasa. Hal itu selaras dengan pandangan Pierce (dalam Danesi, 2004) yang mengatakan bahwa simbol adalah tanda yang mewakili objeknya melalui kesepakatan atau persetujuan dalam konteks spesifik. Makna-makna dalam suatu simbol dibangun melalui kesepakatan sosial atau melalui beberapa tradisi historis. Hal itu juga diperkuat oleh keterangan narasumber yang berkata bahwa karena bongkok itu sendiri menjadi topangan dari tumbuhnya janur, di mana nur adalah cahaya kehidupan, kembali lagi pada konsep sang urip dalam pemahaman budaya itu tadi. (PE/LB/13). Hal itu ditegaskan oleh Suseno (1985) yang mengungkapkan bahwa budaya Jawa sangat kental dengan filosofi karakter atau
sikap. Budaya Jawa sangat memegang nilai-nilai luhur yang sangat kuat mengakar dalam kehidupan masyarakat sampai saat ini.
Permainan Cublak-cublak Suweng juga memiliki makna yang sama dengan permainan Jaranan Bongkok bahwa Tuhan adalah sosok yang Maha Kuasa, namun dengan penekanan juga pada eksistensi-Nya yang dibawa melalui syair lagunya, yang berbunyi cublak-cublak suweng, suwenge ting gelenter, mambu ketudhung gudel, Pak Empong lirak-lirik, sapa ngguyu ndhelikake, sir-sir pong dhele kopong, sir-sir pong dhele kopong, yang perlu diinterpretasi dengan kajian sastra. Namun, narasumber juga mengungkapkan bahwa dengan tembang tersebut, secara pembahasan yang lain, kita akan bisa menyarikan bahwasannya memang kalau dalam pandangan masyarakat Jawa, Tuhan itu tidak harus ada di tempat ibadah. Tuhan itu tertebar ke mana-mana dan tertebar di mana-mana. Jadi, di mana ada kehidupan, di situ ada Tuhan. Maka, kenapa kemudian dikatakan Pangeran itu adalah urip. Karena apa? Setelah urip itu tidak ada, maka di situlah Tuhan akan hilang juga (PE/LB/5). Kalimat terakhir pada keterangan itu dapat dimaknai bahwa kehidupan adalah lambang bahwa Tuhan itu ada. Jika Tuhan tidak ada, maka kehidupan juga tidak akan ada. Di situ pulalah letak kekuasaan Tuhan berdiri untuk terus menyelenggarakan kehidupan.