BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2 Hasil Penelitian
4.2.2 Jenis-jenis Permainan Anak Tradisional
4.2.2.4 Permainan Keterampilan Tangan
Permainan keterampilan tangan adalah jenis permainan yang dilakukan dengan menonjolkan aktivitas kerajinan atau membuat sesuatu sebagai bagian dari permainan. Jenis permainan ini memerlukan pemanfaatan keterampilan tangan
sekaligus kreativitas anak untuk dapat menghasilkan produk buatan mereka sendiri sehingga dapat dimainkan. Produk yang dimaksud tersebut pada umumnya adalah mainan yang dapat digunakan dengan fungsi tertentu. Keberhasilan anak dalam menghasilkan mainan itu ditentukan oleh tingkat keterampilan tangan yang dimiliki oleh anak. Permainan jenis ini menjadi seperti permainan yang dapat mengasah kreativitas anak dalam hal membuat sesuatu sehingga mereka dapat melatih daya ciptanya untuk dapat menghasilkan sesuatu yang berguna bagi diri mereka. Pernyataan narasumber berikut ini mengungkapkan mengenai jenis permainan keterampilan tangan beserta dengan permainan-permainan yang termasuk di dalam jenis permainan ini.
Permainan keterampilan tangan adalah permainan yang murni dilakukan dan didominasi oleh keterampilan tangan. Misalnya, Jaranan Bongkok, Keris Janur, Kupluk Godhong, karena permainan itu hanya bisa dilakukan ketika anak yang akan bermain membuat media sesuai dengan yang dia butuhkan, seperti Keris Janur. Ketika dia akan bermain Keris Janur ataupun yang dia butuhkan, dia akan berusaha untuk bisa mewujudkan keris. Itu bukanlah hal yang sederhana, karena harus membersihkan janurnya, melipatnya, menjadi segitiga yang berlekuk-lekuk, dan semacam itu. Itu tidak dapat dilakukan kalau tangannya tidak hidup, atau tangannya tidak terampil menjalankan. Demikian juga misalnya, ketika membuat Kitiran Godhong Tela juga yang dibutuhkan tidak sekedar bagaimana memetik daun ketela, namun juga bagaimana agar papah daun itu bisa berputar. Dia juga harus bisa memetik atau mematahkan batang daun ketela itu seberapa perhitungannya dan sebagainya sehingga dalam pola permainan keterampilan tangan itu memang kemudian sejak dini anak diajak dan diasah untuk mencoba mendayagunakan tangan yang dia miliki sebagai suatu bagian dari perkembangan motorik anak. Contohnya, seperti Jaranan Bongkok, Keris Janur, Kitiran Godhong Tela, Kitiran Janur, Kupluk Godhong, Plintheng, itu juga masuk bagaimana dia mulai membuat bentuk batangnya
itu, termasuk juga ceplokan juga sebagai bagian dari pola permainan keterampilan tangan. (PE/JP/17)
Pernyataan narasumber di atas dapat dirangkum dan mengungkapkan bahwa jenis permainan keterampilan tangan adalah jenis permainan yang memerlukan ketelitian, pengerjaan yang baik dan benar, dan kemampuan motorik halus yang dilakukan oleh tangan anak untuk dapat menghasilkan sesuatu yang dapat berbentuk dan berfungsi dengan baik. Jenis permainan ini mendorong anak untuk memanfaatkan atau mendayagunakan keterampilan tangan mereka secara khusus untuk dapat menghasilkan sesuatu yang dapat berupa mainan atau sarana permainan yang lain sehingga pola permainan jenis ini lebih mengarahkan anak untuk melakukan praktek kerajinan dalam menghasilkan sesuatu. Sehubungan dengan pernyataan tersebut, Tim JSIT (2015) menyatakan bahwa permainan keterampilan tangan atau kerajinan merupakan permainan yang melatih anak untuk dapat berkreasi dengan menggunakan bahan seadanya, atau dengan memanfaatkan benda-benda alam yang sudah menjadi limbah. Maka, jenis permainan ini juga melatih kreativitas anak. Pernyataan narasumber dengan pendapat ahli memiliki keselarasan bahwa jenis permainan tersebut membutuhkan daya cipta dan kreasi anak dengan menggunakan keterampilan tangannya untuk dapat menghasilkan suatu produk, seperti mainan atau sarana permainan yang lain sebagaimana hal-hal yang dapat kita lihat dari pernyataan-pernyataan di atas. Lalu, narasumber juga mengungkapkan beberapa permainan yang termasuk dalam jenis permainan keterampilan tangan ini, yaitu (1) Jaranan Bongkok, (2) Keris Janur, (3) Kitiran Godhong Tela, (4) Kitiran Janur, (5) Kupluk Godhong, dan (6)
Plintheng. Berikut merupakan pemaparan dan analisis dari jenis-jenis permainan tradisional berdasarkan hasil percakapan etnografis yang dilakukan.
Salah satu permainan yang termasuk di dalam jenis ini adalah Keris Janur, yang lebih mengacu pada media permainan yang dibuat, karena jenis permainan ini selalu melibatkan keterampilan tangan untuk membuat media yang dimainkan, yaitu mainan yang menyerupai keris dan terbuat dari janur, sesuai dengan nama permainan itu. Permainan itu memiliki karakteristik untuk menggunakan keterampilan tangan anak sebagai hal yang paling substantif. Lalu, berdasarkan deskripsi permainan, anak memang harus memiliki keterampilan untuk membuat mainan keris yang terbuat dari daun pohon kelapa yang masih muda atau janur. Anak harus tahu cara membuat mainan itu dan dapat menerapkannya hingga dapat menghasilkan mainan yang dapat berfungsi dengan baik. Jika anak tidak terampil, maka mainan tidak akan jadi dengan baik. Keterampilan yang ditonjolkan dari permainan itu lebih pada keterampilan tangan atau kerajinan. Mainan itu dapat dimainkan dengan mudah dan biasanya dengan cara bermain peran, namun dalam hal pembuatannya, anak harus dapat menghasilkan atau membuatnya sendiri dengan keterampilan tangannya.
Nama permainan keris janur itu sendiri terdiri atas kata keris dan janur. Kata keris mengacu pada jenis senjata tajam berlekuk yang berasal dari masyarakat Jawa, sedangkan kata janur mengacu pada bahan yang digunakan untuk membuat mainan yang berbentuk keris itu, yaitu daun pohon kelapa yang masih muda. Maka, dalam bahasa Indonesia dapat disebut dengan keris yang terbuat dari daun pohon kelapa yang masih muda. Menurut Tim JSIT (2015),
keris janur merupakan permainan dalam bentuk kerajinan. Permainan ini melatih anak untuk dapat berkreasi dengan menggunakan bahan seadanya. Sesuai namanya, permainan ini menggunakan janur atau daun pohon kelapa yang masih muda untuk membuat keris, yaitu senjata tradisional Jawa. Berdasarkan hasil percakapan etnografis, nama keris janur itu mengacu pada bentuk atau wujud mainan yang dibuat, sebagaimana dinyatakan bahwa “Keris janur lebih mengacu pada wujud, demikian juga dengan kitiran godhong tela, dan kitiran janur, itu juga lebih mengacu pada bentuk atau wujud dari kitiran yang terbuat dari janur atau godhong tela.” (PE/JP/18). Maka, nama permainan itu terkait dengan sarana permainan yang dibuat, yaitu keris yang terbuat dari janur. Permainan itu dilakukan dengan melibatkan keterampilan tangan untuk membuat media bermain yang fungsional, yang tampak pada aktivitas yang dilakukan oleh anak.
Aktivitas bermain di dalam permainan itu dapat dilakukan secara individu. Permainan itu tidak harus memerlukan pemain yang lebih dari satu, namun tetap dapat dilakukan bersama-sama. Hal itu tampak pada aktivitas anak yang lebih mengutamakan keterampilan tangan untuk membuat mainan yang dapat dilakukan sendiri. Permainan itu dilakukan bersama-sama jika anak ingin menggunakannya dengan cara bermain peran, sebagai hiasan, atau sekadar bersenang-senang, namun hal itu tidak bersifat wajib.
Berdasarkan hasil percakapan etnografis, nama permainan itu lebih mengacu pada bentuk atau wujud mainan yang dibuat, yaitu keris yang terbuat dari janur. Kaitan antara nama permainan dengan jenis permainan terdapat pada aktivitas permainan yang membuat mainan dengan menggunakan keterampilan
tangan. Aktivitas menjadi bagian dari proses perilaku berbahasa yang dapat menunjukkan keterkaitan antara pesan yang ingin disampaikan dengan bentuk-bentuk linguistik yang mengacu kepada sesuatu. Hal itu dapat dikaitkan dengan pandangan Pierce (1965 dalam Foley, 2001) yang mengemukakan bahwa bahasa sebagai aktivitas sosial yang melibatkan pelaku sosial. Permainan Keris Janur dapat dilakukan secara individu maupun bersama-sama yang ditunjukkan melalui aktivitas yang dilakukan oleh anak di dalam permainan itu, sebagaimana hal yang telah dipaparkan di atas. Nama permainan itu mengadaptasi bentuk mainan keris yang dibuat dengan keterampilan tangan. Nama permainan itu mengandung dimensi tanda (Pierce, 1965 dalam Foley, 2001) yang lebih berkaitan dengan ikon. Ikon adalah tanda yang mewakili sumber acuan melalui sebuah bentuk replikasi, simulasi, imitasi, atau persamaan. Sebuah tanda dirancang untuk mempresentasikan sumber acuan melalui simulasi atau persamaan (Danesi, 2004). Ikon di dalam permainan itu terdapat pada nama permainan Keris Janur yang mengacu pada bentuk atau wujud mainan keris dari janur yang dibuat dengan menggunakan keterampilan tangan. Dengan kata lain, anak harus memanfaatkan keterampilan tangan mereka untuk dapat membuat mainan yang dapat berfungsi dengan baik.
Permainan Keris Janur termasuk dalam jenis permainan keterampilan tangan, karena permainan tersebut dilakukan dengan aktivitas membuat sesuatu atau berkreasi sehingga membutuhkan keterampilan khusus. Aktivitas kerajinan untuk membuat sesuatu yang dilakukan di dalam permainan itu menjadi ciri khas yang paling menonjol sehingga permainan itu dinamakan sesuai dengan
aktivitasnya dan termasuk ke dalam jenis permainan keterampilan tangan. Aktivitas itu langsung mengacu pada inti dari permainan itu, yaitu aktivitas utamanya yang mana anak harus membuat mainan keris tiruan yang terbuat dari janur atau daun pohon kelapa yang masih muda. Maka, inti dari permainan ini yang sebenarnya adalah aktivitas membuat keris mainan dari janur sehingga nama itu sebenarnya langsung mengacu pada aktivitas permainan itu untuk membuat benda yang mirip seperti keris. Jika kita amati, aktivitas menjadi pusat acuan, yang dalam jenis permainan ini langsung ditandai melalui nama yang mengacu pada aktivitas di dalam permainan itu. Selanjutnya, --- itu tidak secara langsung terkait atau tercermin melalui nama permainannya, sebagaimana hal yang telah disinggung di dalam analisis yang sebelumnya.
Penulis menemukan bahwa jenis permainan itu dengan jelas dibawa melalui media yang dibuat di dalam permainan itu, sebagaimana hal-hal yang telah disebutkan di atas tadi. Maka, inti yang sebenarnya dari permainan itu adalah aktivitas anak yang harus dilakukan dengan keterampilan untuk dapat membuat sesuatu. Namun, aktivitas kerajinan itu tidak dapat terwujud jika anak tidak mendayagunakan keterampilannya, yang artinya anak harus berusaha untuk dapat menghasilkan sesuatu berfungsi dari proses pembuatan itu. Hal itu membutuhkan keterampilan karena pada dasarnya anak harus dapat membuat keris mainan dengan baik dan benar. Maka, dasar terwujudnya permainan itu adalah keterampilan tangan secara khusus, bukan keterampilan motorik secara menyeluruh seperti pada jenis asah fisik sehingga jenis permainan yang menonjolkan keterampilan tangan dan kreativitas ini dapat langsung
mencerminkan jenisnya, yaitu jenis permainan keterampilan tangan. Jenis permainan itu dibawa melalui media permainan, kemudian dari media itu diacu melalui nama permainan sehingga nama itu menandai bentuk-bentuk media yang tercipta.
Hal yang sama juga terdapat dalam permainan Kitiran Godhong Tela. Permainan Kitiran Godhong Tela juga termasuk ke dalam jenis permainan keterampilan tangan sebagai hal yang sangat menonjol. Permainan itu memiliki karateristik yang sama dengan permainan yang telah dipaparkan sebelumnya dalam jenis ini. Hal tersebut juga ditunjukkan melalui pernyataan narasumber, yaitu Andhi Wisnu Wicaksono (43), Sri Kuncara (56), dan Agustinus Sumarsono (68) yang mengatakan bahwa permainan itu lebih mengarah pada keterampilan tangan karena harus membentuk pola supaya bisa menjadi sebuah mainan yang berupa baling-baling dari daun ketela dengan menyisakan batang dari daunnya karena batang itu berguna sebagai beban sentrifugalnya. Lalu, berdasarkan deskripsi permainan, anak memang harus memiliki keterampilan untuk membuat mainan baling-baling yang terbuat dari daun ketela. Anak harus tahu cara membuat mainan itu dan dapat menerapkannya hingga dapat menghasilkan mainan yang dapat berfungsi dengan baik. Jika anak tidak terampil, maka mainan tidak akan jadi dengan baik. Keterampilan yang ditonjolkan dari permainan itu lebih pada keterampilan tangan atau kerajinan. Mainan itu dapat dimainkan dengan mudah, namun dalam hal pembuatan anak harus dapat menghasilkan atau membuatnya sendiri dengan keterampilan tangannya.
Nama permainan kitiran godhong tela itu sendiri terdiri atas kata kitiran, godhong, dan tela. Kata kitiran adalah bahasa Jawa dari baling-baling, kata godhong berarti daun, dan kata tela berarti ketela. Maka, dalam bahasa Indonesia dapat disebut dengan baling-baling yang terbuat dari daun ketela. Menurut Tim JSIT (2015), kitiran godhong tela hanya membutuhkan batang daun ketela. Permainan itu dapat dilakukan secara individu untuk memutar daun dan batang daun ketela dari pangkal daun dan batang memakai jari tangan hingga mirip baling-baling. Berdasarkan hasil percakapan etnografis, nama kitiran godhong tela itu mengacu pada bentuk atau wujud mainan yang dibuat, sebagaimana dinyatakan bahwa “Keris janur lebih mengacu pada wujud, demikian juga dengan kitiran godhong tela, dan kitiran janur, itu juga lebih mengacu pada bentuk atau wujud dari kitiran yang terbuat dari janur atau godhong tela.” (PE/JP/18). Maka, nama permainan itu terkait dengan sarana permainan yang dibuat, yaitu baling-baling yang terbuat dari daun dan batang daunnya. Permainan itu dilakukan dengan melibatkan keterampilan tangan untuk membuat media bermain yang fungsional, yang tampak pada aktivitas yang dilakukan oleh anak.
Aktivitas bermain di dalam permainan itu dapat dilakukan secara individu. Permainan itu tidak harus memerlukan pemain yang lebih dari satu, namun tetap dapat dilakukan bersama-sama. Hal itu tampak pada aktivitas anak yang lebih mengutamakan keterampilan tangan untuk membuat mainan yang dapat dilakukan sendiri. Permainan itu dilakukan bersama-sama jika anak ingin memainkannya bersama dengan teman-teman, namun itu tidak bersifat wajib.
Berdasarkan hasil percakapan etnografis, nama permainan itu lebih mengacu pada bentuk atau wujud mainan yang dibuat, yaitu baling-baling yang terbuat dari daun dan batang daun ketela. Kaitan antara nama permainan dengan nilai karakter yang paling menonjol di atas tadi terdapat pada aktivitas permainan yang membuat mainan dengan menggunakan keterampilan tangan. Aktivitas menjadi bagian dari proses perilaku berbahasa yang dapat menunjukkan keterkaitan antara pesan yang ingin disampaikan dengan bentuk-bentuk linguistik yang mengacu kepada sesuatu. Hal itu dapat dikaitkan dengan pandangan Pierce (1965 dalam Foley, 2001) yang mengemukakan bahwa bahasa sebagai aktivitas sosial yang melibatkan pelaku sosial. Permainan kitiran godhong tela dapat dilakukan secara individu maupun bersama-sama yang ditunjukkan melalui aktivitas yang dilakukan oleh anak di dalam permainan itu, sebagaimana hal yang telah dipaparkan di atas. Nama permainan itu mengadaptasi bentuk mainan baling-baling yang dibuat dengan keterampilan tangan. Nama permainan itu mengandung dimensi tanda (Pierce, 1965 dalam Foley, 2001) yang lebih berkaitan dengan ikon. Ikon adalah tanda yang mewakili sumber acuan melalui sebuah bentuk replikasi, simulasi, imitasi, atau persamaan. Sebuah tanda dirancang untuk mempresentasikan sumber acuan melalui simulasi atau persamaan (Danesi, 2004). Ikon di dalam permainan itu terdapat pada nama permainan kitiran godhong tela yang mengacu pada bentuk atau wujud mainan baling-baling dari batang daun ketela yang dibuat dengan menggunakan keterampilan tangan. Dengan kata lain, anak harus memanfaatkan keterampilan tangan mereka untuk dapat membuat mainan yang dapat berfungsi dengan baik. Permainan tersebut termasuk dalam
jenis permainan keterampilan tangan, karena permainan tersebut dilakukan dengan aktivitas membuat sesuatu atau berkreasi dan memainkannya dengan jari tangan tanpa terlepas sehingga juga membutuhkan keterampilan khusus untuk membuat dan memainkannya, jadi tidak hanya ketika membuat media permainannya. Aktivitas kerajinan untuk membuat baling-baling dan memainkannya tanpa terjatuh dengan jari tangan yang dilakukan di dalam permainan itu menjadi ciri khas yang paling menonjol sehingga permainan itu berjenis sesuai dengan aktivitasnya atau termasuk ke dalam jenis permainan keterampilan tangan. Aktivitas itu langsung mengacu pada inti dari permainan itu, yaitu aktivitas utamanya yang mana anak harus membuat mainan baling-baling sekaligus harus dapat memainkannya dengan baik tanpa terjatuh. Penulis menemukan bahwa jenis permainan keterampilan tangan tidak hanya ditunjukkan melalui kemampuan keterampilan untuk membuat media permainannya, namun juga keterampilan tangan secara khusus untuk memainkannya dengan baik dan benar, yang secara khusus dengan menggunakan jari seperti permainan Kitiran Godhong Tela di atas. Namun, jenis permainan keterampilan tangan ini tetap didominasi pada aktivitas yang menekankan keterampilan dalam proses pembuatan media permainan yang sesuai dengan namanya. Semua nama permainan dalam jenis ini selalu menunjukkan wujud media permainannya, seperti Keris Janur yang telah dipaparkan sebelumnya, Jaranan Bongkok, Kitiran Janur, Kupluk Godhong, dan Plintheng, yang mana Keris Janur, Jaranan Bongkok, Kitiran Janur, dan Kupluk Godhong hanya menekankan keterampilan dalam proses pembuatan media permainannya, karena Plintheng juga memiliki
penekanan pada keterampilan untuk memainkan medianya dengan cara membidik sasaran, seperti pemaparan pada bagian jenis permainan keterampilan fisik.