• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.2 Hasil Penelitian

4.2.1 Nilai-nilai Karakter dalam Permainan Anak Tradisional

4.2.1.3 Manusia Harus Bijaksana dalam Bertindak

Nilai karakter yang menyatakan bahwa manusia harus bijaksana dalam bertindak terkandung dalam permainan Betengan. Permainan Betengan dimainkan secara bersama-sama dengan jumlah yang semakin banyak semakin seru. Permainan ini pada dasarnya merupakan permainan tim yang bertugas untuk menjaga bentengnya (tiang atau pohon) masing-masing. Setiap pemain berkewajiban untuk menghabiskan pemain tim lawan untuk dapat membakar benteng lawan dengan menyentuhnya (tiang atau pohonnya). Apabila benteng tersentuh, maka tim yang memiliki benteng itu dinyatakan kalah. Cara menghabiskan pemain tim lawan adalah dengan memancing pemain untuk keluar benteng sehingga saling mengejar, misalnya pemain tim 1 yang terkena sentuhan pemain tim 2 langsung menjadi tawanan pada benteng milik pemain tim 1. Pemain tim 2 tadi dapat dibebaskan dari tawanan dengan sentuhan dari sesama pemain tim 2 untuk dapat kembali ke bentengnya. Namun, ketika salah satu benteng lengah atau kurang dijaga, maka lawan dapat membakar benteng itu untuk mengalahkan tim itu (SD/DP/3). Data yang menunjukkan deskripsi latar belakang budaya permainan itu dapat diamati sebagai berikut.

Betengan adalah semacam dolanan untuk kita bisa mempertahankan apa yang menjadi milik kita. Tentunya, dalam dolanan Betengan, itu kita diajari oleh mbah-mbah kita dulu secara langsung atau tidak langsung bagaimana kita mempertahankan diri dan bagaimana kita mengekspansi. Kenapa seperti itu? Kenapa kita harus bertahan? Dan kenapa kita mengekspansi istilahnya kalau orang Jawa dulu ngelar jajahan? Bukan berarti kita

menjajah orang lain, tidak, akan tetapi kemudian bagaimana kita bisa tahu terhadap dunia luar. Kita bisa paham terhadap kalau misalnya, sekarang ada kebijakan analisis SWOT. Bagaimana kemudian, ini ancamannya di mana, potensinya di mana, apa yang menjadi kekuatan kita, apa yang menjadi kelemahan kita, itu ada dalam dolanan Betengan. (PE/LB/3)

Data di atas dapat memberikan suatu keterangan yang menguatkan interpretasi penulis dalam menggali nilai-nilai karakter yang tersembunyi di dalam permainan Betengan. Permainan tersebut terdiri dari satu kata, yang berasal dari kata beteng yang berarti benteng pertahanan dan mendapat akhiran –an sehingga berarti sebagai bermain seolah-olah mempertahankan benteng atau daerah kekuasaan, sesuai dengan data yang telah dipaparkan. Data (PE/LB/3) menyatakan bahwa permainan tersebut dilakukan dengan mempertahankan hak yang menjadi milik kita, yang ditunjukkan dengan adanya benteng pada setiap regu. Lalu, dalam sejarah Indonesia yang tentu juga mempengaruhi budaya Jawa, situasi penjajahan memberi gambaran kepada rakyat Indonesia pada saat itu bahwa penjajah dan kita sendiri memiliki benteng-benteng untuk berebut dan mempertahankan kekuasaan, sebagaimana narasumber mengatakan bahwa bagaimana kita mempertahankan diri dan bagaimana kita mengekspansi. Dari pernyataan tersebut, maka tampak bahwa ada keterkaitan antara kata yang membentuk nama permainan itu dengan makna yang ada di dalamnya. Kata-kata yang menjadi nama permainan itu merepresentasikan sesuatu yang menjadi bagian di dalam suatu kebudayaan. Deskripsi latar belakang budaya permainan tersebut menunjukkan hal-hal yang menjadi bagian di dalam suatu kebudayaan,

khususnya budaya Jawa. Song (2010) menyatakan bahwa konteks kultur mengacu pada budaya, adat istiadat, latar belakang zaman dalam komunitas bahasa yang di dalamnya para penutur terlibat langsung. Hal itu berfungsi untuk memberi nilai pada teks dan mendayakan penafsirannya (Halliday dan Hasan, 1985).

Dalam permainan itu, penulis menemukan tanda yang mengacu pada sesuatu dan memiliki makna yang lebih dalam sebagai hal yang dapat menunjukkan nilai karakter yang tersembunyi di dalam permainan itu. Tanda di dalam permainan ini dapat menunjuk pada sesuatu yang perlu digali secara lebih mendalam, sebagaimana Pierce (1965 dalam Foley, 2001) membedakan tanda atas tiga jenis yakni indeks (index), simbol (symbol), dan ikon (icon). Kata beteng yang terdapat pada nama permainan itu merupakan indeks yang mengacu pada benteng pertahanan dari setiap regu. Tanda tersebut merupakan indeks karena di dalam permainan itu tidak ada wujud benteng secara konkrit, namun hanya ditandai dengan sesuatu yang cukup menunjukkan batas-batas benteng setiap regu, sebagaimana dinyatakan bahwa indeks adalah tanda yang mewakili sumber acuan dengan cara menunjuk padanya atau mengaitkannya (secara eksplisit atau implisit) dengan sumber acuan lain (Danesi, 2004). Dari hal itu, penulis dapat menggali makna yang lebih dalam melalui indeks yang terdapat di dalam permainan itu.

Permainan itu memiliki simbol yang dapat mengungkapkan makna yang sebenarnya, yang dapat di telusuri melalui indeks yang telah diidentifikasi. Makna itu dapat disebut sebagai nilai karakter yang tersembunyi. Berdasarkan hasil studi dokumen dan percakapan etnografis yang dilakukan oleh penulis mengenai

deskripsi permainan dan deskripsi latar belakang budaya permainan, benteng itu harus dipertahankan dengan sangat hati-hati, penuh kewaspadaan, dan penuh pertimbangan, yang ditunjukkan oleh “Kenapa kita harus bertahan? Dan kenapa kita mengekspansi istilahnya kalau orang Jawa dulu ngelar jajahan? Bukan berarti kita menjajah orang lain, tidak, akan tetapi kemudian bagaimana kita bisa tahu terhadap dunia luar. Kita bisa paham terhadap kalau misalnya, sekarang ada kebijakan analisis SWOT. Bagaimana kemudian, ini ancamannya di mana, potensinya di mana, apa yang menjadi kekuatan kita, apa yang menjadi kelemahan kita, itu ada dalam dolanan Betengan.” (PE/LB/3) dan “Permainan ini pada dasarnya merupakan permainan tim yang bertugas untuk menjaga bentengnya (tiang atau pohon) masing-masing. Setiap pemain berkewajiban untuk menghabiskan pemain tim lawan untuk dapat membakar benteng lawan dengan menyentuhnya (tiang atau pohonnya). Apabila benteng tersentuh, maka tim yang memiliki benteng itu dinyatakan kalah. Cara menghabiskan pemain tim lawan adalah dengan memancing pemain untuk keluar benteng sehingga saling mengejar” (SD/DP/3). Dengan demikian, hal itu dapat dimaknai bahwa beteng menjadi simbol suatu suatu hal yang perlu dijaga dengan penuh kehati-hatian dan penuh pertimbangan karena sebagaimana keterangan narasumber mengatakan bahwa kita harus mengetahui kelebihan, kelemahan, dan potensi (PE/LB/3) yang ada agar tidak salah dalam memutuskan sesuatu dengan konsekuensi kalah (gagal). Hal itu memerlukan sikap bijaksana, karena sikap-sikap tersebut mencerminkan kebijaksanaan. Maka, penulis dapat merumuskan nilai karakter bahwa manusia harus bijaksana dalam bertindak. Hal itu selaras dengan

pandangan Pierce (dalam Danesi, 2004) yang mengatakan bahwa simbol adalah tanda yang mewakili objeknya melalui kesepakatan atau persetujuan dalam konteks spesifik. Makna-makna dalam suatu simbol dibangun melalui kesepakatan sosial atau melalui beberapa tradisi historis. Hal itu juga diperkuat oleh keterangan narasumber yang berkata bahwa kita bisa paham terhadap kalau misalnya, sekarang ada kebijakan analisis SWOT. Bagaimana kemudian, ini ancamannya di mana, potensinya di mana, apa yang menjadi kekuatan kita (PE/LB/3). Hal itu ditegaskan oleh Suseno (1985) yang mengungkapkan bahwa budaya Jawa sangat kental dengan filosofi karakter atau sikap. Budaya Jawa sangat memegang nilai-nilai luhur yang sangat kuat mengakar dalam kehidupan masyarakat sampai saat ini.

4.2.1.4 Manusia Harus Dapat Memusatkan Diri pada Tujuan Hidup yang