BAB II KAJIAN TEORI
2.1 Landasan Teori
2.1.5 Nilai Karakter dalam Permainan Anak Tradisional dan Jenisnya
Setiap manusia memiliki karakter yang berbeda satu sama lain. Karakter merupakan suatu hal yang menjadi salah satu permasalahan yang seing diperhatikan oleh masyarakat, terlebih karena adanya perdedaan itu. Karakter pada umumnya lebih dikaitkan dengan sifat dan sikap yang baik sebagai pembentuk kepribadian seseorang. Coon (2000) mendefinisikan karakter sebagai suatu penilaian subyektif terhadap kepribadian seseorang yang berkaitan dengan atribut kepribadian yang dapat atau tidak dapat diterima oleh masyarakat. Karakter adalah jawaban mutlak untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik di dalam masyarakat. Hidayatullah (2010) menambahkan bahwa karakter adalah kualitas atau kekuatan mental atau moral, akhlak atau budi pekerti individu yang merupakan kepribadian khusus yang membedakan dengan individu lain. Istilah nilai itu sendiri menurut KBBI Daring (2018) mengacu pada sifat-sifat (hal-hal) yang penting atau berguna bagi kemanusiaan atau sesuatu yang menyempurnakan
manusia sesuai dengan hakikatnya. Maka, nilai karakter dapat didefinisikan sebagai sifat-sifat yang menyempurnakan kualitas kepribadian seseorang yang berdasar pada budi pekerti dan norma yang diterima oleh masyarakat. Nilai karakter adalah nilai yang mengajarkan tentang perilaku yang baik dari kebudayaan tertentu dalam suatu kelompok masyarakat. Hal itu mengindikasikan bahwa nilai karakter memiliki keterkaitan dengan masyarakat dan tentunya juga dengan budaya yang dimiliki oleh masyarakat itu.
Sebagaimana hal-hal yang telah disebutkan pada bagian kajian tentang budaya dan masyarakat, kedua hal tersebut merupakan bagian yang tak terpisahkan satu sama lain. Budaya ada karena kehadiran masyarakat, dan masyarakat yang telah ada itu menghasilkan suatu bentuk kebudayaan yang diturunkan dari generasi ke generasi. Hal itu kembali dipertegas oleh pandangan Pasaribu (2013) yang menyatakan bahwa satu faktor penting yang berkaitan dengan kebudayaan adalah masyarakat, tidak akan ada satu kebudayaan tanpa masyarakat, demikian sebaliknya. Budaya dan masyarakat merupakan dua hal yang berbeda, namun saling berkaitan erat satu sama lain. Setiap bentuk kebudayaan menghasilkan berbagai macam kearifan lokal, salah satunya adalah hal-hal yang berkaitan dengan kontrol sosial yang berlaku di dalam masyarakat itu sendiri, seperti aturan atau ajaran moral.
Istilah “moral” atau hal yang biasa disebut juga dengan moralitas tentu saja akan berkaitan langsung dengan etika. Istilah “etika” berasal dari bahasa Yunani, yaitu “ethos” yang berarti kesediaan jiwa akan kesusilaan (Moekijat, 1995), sedangkan Bertens (1993) menyatakan bahwa etika adalah ilmu tentang
apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan. Sebutan “adat kebiasaan” yang melekat pada istilah “etika”, yang juga berkaitan erat dengan moral atau moralitas di atas menunjukkan keselarasan dengan budaya dan masyarakat itu sendiri, karena masyarakat adalah kelompok penghasil budaya yang di dalamnya berisi serangkaian adat kebiasaan yang sudah diwariskan secara turun-temurun. Berkaitan dengan hal itu, Purwadi (2011) menambahkan bahwa adat kebiasaan yang didalamnya berisi ajaran moral itu bagi masyarakat Jawa sering disebut dengan istilah pepali, unggah-ungguh, suba sita, tata krama, tata susila, sopan santun, budi pekerti, wulang wuruk, pitutur, wejangan, wursita, dan wewarah.
Dari penelusuran di atas, penulis dapat mengatakan bahwa setiap kebudayaan menghasilkan produk. Produk kebudayaan itu mengandung muatan nilai karakter yang senantiasa selalu ditanamkan kepada masyarakat, bahkan sejak dini. Masyakarat Jawa memiliki berbagai sarana yang dapat digunakan sebagai alat untuk menanamkan nilai-nilai karakter. Maka, masyarakat Jawa perlu memiliki strategi khusus agar nilai karakter itu juga bisa ditanamkan pada generasi muda (anak). Mustika (2013) berpendapat bahwa budaya Jawa dapat dijadikan wahana pendidikan moral pada anak karena berisi pesan moral yang baik sehingga dapat difungsikan sebagai pendidikan moral. Beliau menambahkan bahwa wahana itu dapat berupa bahasa, tata karma, mitos, wayang falsafah, pakaian adat, dan batik. Lebih lanjut, beliau juga menambahkan bahwa permainan anak tradisional dapat melahirkan kreativitas, kerja sama, peduli lingkungan, mandiri, dan bekerja sama. Hal tersebut cukup membuktikan bahwa salah satu
cara yang digunakan oleh masyarakat untuk kepentingan tersebut adalah dengan menciptakan permainan anak tradisional, yang disisipi dengan nilai-nilai karakter itu.
Pertumbuhan dan perkembangan inteligensi anak diwujudkan dalam berbagai bentuk mainan atau permainan. Dengan barang mainan atau dengan cara bermain itu, anak akan dapat terangsang untuk memperkembangkan dirinya. Hal itu dapat kita lihat dan terbukti dalam kehidupan sehari-hari, bahwa dalam kehidupan anak-anak, sejak masih bayi sampai pertumbuhannya yang selanjutnya, perkembangan karakternya juga dibentuk oleh berbagai mainan atau permainan yang mereka miliki dan lakukan. Dengan demikian, permainan sudah menjadi bagian kehidupan sehari-hari setiap anak yang sedang berada dalam proses pertumbuhannya. Permainan menjadi hal yang sangat penting dalam mengisi kehidupan anak-anak, terutama permainan anak tradisional yang memiliki fungsi didaktis bagi anak. Yudiwinata dan Handoyo (2014) dalam penelitian mereka yang berjudul Permainan Tradisional dalam Budaya dan Perkembangan Anak sebagai penelitian yang relevan dengan penelitian ini mengungkapkan pernyataan yang mendukung bahwa permainan anak tradisional menawarkan suatu nilai yang amat positif bagi anak. Permainan tersebut merupakan warisan budaya yang sangat bermanfaat bagi anak karena mengajarkan berbagai nilai karakter melalui aktivitas yang dilakukan. Penelitian Yudiwinata dan Handoyo tersebut mengamati perkembangan anak ketika melakukan permianan tradisional, sedangkan penelitian ini mengarah pada kajian nilai karakter dalam permainan anak tradisional yang berguna bagi perkembangan anak.
Kehidupan yang dijalani anak sejak permulaannya membutuhkan suasana kehidupan yang kental dengan suasana bermain. Berkaitan dengan karakter anak, hal yang dapat dikaitkan antara nilai karakter dengan permainan anak dapat diperkuat oleh pendapat Dharmamulya, dkk (1993) yang mengatakan bahwa dengan bermain, maka si anak secara otomatis akan bergaul dengan teman-teman sebaya yang lain, yang mungkin memiliki perbedaan latar belakang, pola/gaya hidup, dan pandangan hidup. Tashadi (1993) menambahkan bahwa permainan anak tradisional mempunyai fungsi melatih pemainnya melakukan hal-hal yang akan penting nantinya bagi kehidupan mereka di tengah masyarakat, seperti melatih kecakapan hitung-menghitung, melatih kecakapan berpikir, melatih bandel (tidak cengeng), melatih keberanian, melatih bersikap jujur dan sportif, dan lain-lain. Dari hal-hal tersebut, maka diketahui bahwa secara otomatis pula anak akan belajar secara karakter melalui sarana permainan yang dijalani bersama teman-temannya, maupun dalam hal mempelajari permainan-permainan sosial yang ada, karena bagaimanapun, permainan-permainan sosial yang adalah permainan anak tradisional itu tetap memiliki nilai karakter yang yang kuat.
Kajian Dharmamulya dkk (1993) kembali menguatkan bahwa permainan anak tradisional sungguh memiliki maksud yang terkandung di dalamnya yang bersifat didaktis. Permainan anak tradisional dapat dibagi menurut maksud yang terkandung di dalamnya, seperti; menirukan suatu perbuatan yang positif, melatih kekuatan dan kecakapan, melatih panca indera, melatih bahasa, dan melibatkan gerak lagu dan irama. Lalu, beliau juga menambahkan bahwa permainan anak tradisional dapat diidentifikasi jenis-jenisnya berdasarkan kategorisasi menurut
pola permainan, seperti; bermain dengan bernyanyi atau dialog, bermain dengan olah pikir, dan bermain dengan adu ketangkasan.
JSIT (2015) juga memiliki daftar permainan anak tradisional yang dibagi atas tiga kategori yang menunjukkan sifat didaktis dari setiap permainan. Kategori tersebut mencangkup permainan asah keterampilan dan kerajinan, asah fisik, dan asah otak. Kategori permainan asah keterampilan dan kerajinan terdiri dari bandul sada, cublak-cublak suweng, jamuran, jaranan bongkok, keris janur, kitiran godhong tela, kitiran janur, kupluk mahkota godhong, layangan, mercon bumbung, plintheng, dan pong-pong bolong. Kategori permainan asah fisik terdiri dari bentengan, benthik, dhelikan, angklek, boi boinan, gobag sodor, kasti, lompat tali, dan ular naga. Kategori permainan asah otak terdiri dari bekelan, dakon, dan macanan.
Dharmamulya dkk (1993) kembali menambahkan bahwa ada unsur nilai budaya yang terkandung dalam permainan anak tradisional secara lebih rinci yang bersifat positif sehingga dapat diarahkan kepada generasi muda dewasa ini sampai ke depannya dalam mengisi dan mendukung gerak langkah bangsa kita dalam usaha menuju cita-cita masyarakat adil dan makmur (nilai mulia) seperti; menumbuhkan rasa senang, kreativitas, pergaulan, demokrasi, perngertian (bawang kothong - sistem dalam permainan anak tradisional yang memberi status pada anak yang masih kurang umur dan kemampuan, namun tetap sangat ingin ikut bermain sehingga diberlakukanlah aturan belum dikenakannya anak itu terhadap sangsi kalah, maka sistem ini mirip dengan sistem magang jika dibandingkan dengan dunia kerja orang dewasa), sifat kepemimpinan, rasa
tanggung jawab, rasa saling membantu atau saling menjaga, rasa patuh terhadap peraturan, melatih keseimbangan tubuh atau keterampilan memperkirakan, melatih kemampuan berhitung, melatih kecakapan berpikir secara tepat atau intuitif, melatih mental, melatih keberanian, melatih mengenal lingkungan, sifat jujur dan sportif, dan sopan santun.
Unsur nilai budaya berkaitan erat dengan nilai karakter secara konkrit yang perlu ditanamkan sejak dini. Kemendiknas (2011) mengidentifikasi nilai karakter bangsa menjadi 18 nilai, yaitu (1) religius, (2) jujur, (3) toleransi, (4) disiplin, (5) kerja keras, (6) kreatif, (7) mandiri, (8) demokratis, (9) rasa ingin tahu, (10) semangat kebangsaan, (11) cinta tanah air, (12) menghargai prestasi, (13) bersahabat/komunikatif, (14) cinta damai, (15) gemar membaca, (16) peduli lingkungan, (17) peduli sosial, dan (18) tanggung jawab. Dalam konteks permainan anak tradisional, ada beberapa nilai karakter lain selain dari kedelapanbelas tersebut, namun tetap relevan. Nilai karakter yang akan dirumuskan berdasar pada teori Dharmamulya (1993) tentang nilai budaya dalam permainan anak tradisional. Unsur nilai budaya tersebut dapat dirumuskan menjadi poin-poin nilai karakter oleh penulis melalui tabel yang dipaparkan berikut ini.
Tabel 2.1 Perumusan Nilai Karakter Berdasarkan Unsur Nilai Budaya yang Terkandung dalam Permainan
No. Nilai Budaya (Dharmamulya dkk, 1993)
Rumusan Nilai Karakter 1 Rasa senang Semangat
2 Rasa bebas berkreativitas Kreatif 3 Rasa berteman Bersahabat 4 Rasa demokrasi Demokratis
5 Bawang kothong Toleransi
6 Sifat kepemimpinan Kepemimpinan 7 Penuh tanggung jawab Tanggung jawab 8 Rasa saling membantu dan saling
menjaga
Peduli 9 Rasa patuh terhadap peraturan Disiplin 10 Melatih keseimbangan tubuh dan
keterampilan memperkirakan
Terampil 11 Melatih kemampuan berhitung Cerdas 12 Melatih kecakapan berpikir secara
tepat
Intuitif 13 Melatih mental Kompetitif 14 Melatih keberanian Berani
15 Melatih mengenal lingkungan Sayang lingkungan 16 Sifat sportif Sportif
17 Bertingkah sopan Sopan
Nilai budaya yang terkandung di dalam permainan anak tradisional berdasarkan pandangan Dharmamulya (1993) menunjukkan hal-hal yang dialami oleh anak ketika bermain. Hal itu telah berlangsung secara turun-temurun, yang mana nilai budaya itu tidak dapat disangkal lagi eksistensinya dan perannya bagi anak-anak. Hal itu menunjukkan indikasi kehadiran konteks budaya (Song, 2010) dalam permainan anak tradisional. Rumusan nilai karakter berdasarkan kandungan nilai budaya yang terdapat di dalam permainan anak tradisional merupakan cermin kebudayaan yang menunjukkan nilai positif di masyarakat.
Rasa senang menghasilkan rumusan nilai karakter semangat karena anak akan merasa bersemangat melalui rasa senang yang mereka alami ketika bermain. Rasa bebas berkreativitas menghasilkan rumusan nilai karakter kreatif karena anak akan tergerak untuk menghasilkan sesuatu melalui aktivitas bermain mereka. Rasa berteman menghasilkan rumusan nilai karakter bersahabat karena anak secara otomatis akan berinteraksi dan berkomunikasi dengan teman sepermainannya. Rasa demokrasi menghasilkan rumusan nilai karakter demokratis karena anak akan berlatih untuk bersikap terbuka atau menerima saran dari teman dan kesepakatan yang dibuat dalam permainan.
Bawang kothong dalam bahasa Indonesia berarti anak yang dianggap belum sepenuhnya layak untuk berpartisipasi dalam permainan karena alasan usia yang masih terlalu kecil, pemahaman yang belum sempurna untuk mengerti aturan permainan, atau faktor lain. Maka, dalam bahasa Indonesia, istilah tersebut lebih dikenal dengan sebutan anak bawang. Istilah tersebut menunjukkan bahwa anak akan berlatih untuk memiliki sikap toleransi kepada teman yang masih kecil atau belum mengerti aturan permainan yang sedang berlangsung. Hal itu sekaligus mengajarkan kerukunan antarteman.
Sifat kepemimpinan menghasilkan rumusan nilai karakter kepemimpinan karena anak juga akan berlatih untuk menjadi seorang pemimpin ketika mendapatkan tugas sebagai ketua atau pemimpin jalannya permainan. Nilai penuh tanggung jawab menghasilkan rumusan nilai karakter tanggung jawab karena anak berlatih untuk menanggung konsekuensi yang diterima sesuai dengan aturan permainan. Rasa saling membantu dan saling menjaga menghasilkan rumusan
nilai karakter peduli karena permainan seringkali dilakukan secara bersama-sama sehingga anak akan tergerak untuk saling bekerja sama pada kelompoknya untuk meraih kemenangan atau mencapai tujuan tertentu. Rasa patuh terhadap peraturan menghasilkan rumusan nilai karakter disiplin karena anak belajar untuk menaati peraturan yang berlaku di dalam permainan. Nilai dalam melatih keseimbangan tubuh dan keterampilan memperkirakan menghasilkan rumusan nilai karakter terampil karena anak berlatih untuk mengasah keterampilan fisik (berunsur olahraga) maupun keterampilan tangan (dalam hal kerajinan) sesuai dengan aktivitas di dalam permainan.
Nilai dalam melatih kemampuan berhitung menghasilkan rumusan nilai karakter cerdas karena anak terstimulasi untuk berlatih atau menggunakan kemampuan otaknya ketika bermain. Nilai dalam melatih kecakapan berpikir secara tepat menghasilkan rumusan nilai karakter intuitif karena anak berlatih untuk mengasah kemampuan intuisinya (prediksi, perkiraan, dan keputusan secara tepat) dalam bermain. Nilai dalam melatih mental menghasilkan rumusan nilai karakter kompetitif karena anak tergerak untuk bersaing secara sehat dalam usahanya untuk meraih kemenangan atau tujuan tertentu ketika bermain. Nilai dalam melatih keberanian menghasilkan rumusan nilai karakter berani karena anak berlatih untuk mengasah keberaniannya ketika melakukan aktivitas yang menantang di dalam permainan. Nilai melatih mengenal lingkungan menghasilkan rumusan nilai karakter sayang lingkungan karena pengenalan anak terhadap lingkungan dapat menstimulasi anak untuk peduli, menjaga, dan memanfaatkan sumber daya alam secara bijaksana. Sifat sportif menghasilkan rumusan nilai
karakter sportif karena anak berlatih untuk bersikap jujur dan mau menerima konsekuensi dalam bermain. Nilai bertingkat sopan menghasilkan rumusan nilai karakter sopan karena anak juga berlaith untuk memiliki sikap sopan santun ketika bermain, khususnya dalam permainan yang mengandung unsur bermain peran (role play).
Selain poin-poin di atas, perlu disinggung pula bahwa nilai karakter yang terkandung dalam permainan anak tradisional berkaitan juga dengan melihat unsur kognitif, psikomotorik, dan afektif dalam permainan anak tradisional sebagai unsur edukatif yang terkandung (Ismail, 2012). Maka, jenis-jenis permainan anak tradisional dapat digolongkan berdasarkan ketiga unsur tersebut yang dikaitkan dengan pernyataan Dharmamulya (1993) tentang jenis permainan dan temuan tim penulis JSIT (2015) seperti pemaparan berikut ini.
Tabel 2.2 Penggolongan Jenis Permainan Berdasarkan Pandangan Ahli
No. Unsur Edukatif (Ismail, 2012) Maksud/Tujuan Permainan (Dharmamulya, 1993) Kategori Permainan (JSIT, 2015) 1 Kognitif Bermain dengan olah
pikir
Permainan asah otak 2 Psikomotorik Bermain dengan adu
ketangkasan
Permainan asah fisik Permainan keterampilan
tangan 3 Afektif Bermain dengan
bernyanyi atau dialog
Permainan dengan nyanyian atau dialog
Tabel di atas menunjukkan relevansi dan keselarasan pandangan dan temuan para ahli di atas. Berdasarkan identifikasi teori dan temuan di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa permainan anak tradisional terdiri atas tiga jenis,
yaitu (1) permainan asah otak, (2) permainan asah fisik, (3) permainan dengan nyanyian atau dialog, dan (4) permainan keterampilan tangan.
2.1.6 Antropolinguistik dalam Kaitannya dengan Konteks Budaya, Nilai