• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V. INTERNALISASI PENGGUNAAN AYAT-AYAT

D. Makna Penggunaan Ayat-ayat Al-Qur’an dalam Ritus Mandi

3. Makna Kebudayaan

Agama telah membentuk konsep-konsep tentang tatanan umum eksistensi. Dengan teori ini Geertz ingin mengatakan bahwa agama mencoba memberikan “penjelasan hidup-mati” tentang dunia. Maksud agama bukan ditujukan untuk menyatakan kepada kita tentang persoalan hidup sehari-hari, akan tetapi terpusat pada makna final (ultimate meaning), suatu tujuan pasti bagi dunia.61 Agama memiliki peran yang sangat penting bagi masyarakat Desa Air Hitam Laut. Melalui konsep-konsep agama masyarakat Desa Air Hitam Laut mendapat ide yang memiliki makna final yang kemudian dirumuskan ke dalam beberapa simbol. Konsep-konsep tersebut adalah:

a. Tolak Balak

Salah satu konsep makna yang terdapat dalam penggunaan ayat-ayat Al-Qur’an dalam ritus Mandi Safar di Desa Air Hitam Laut adalah sebuah

59 Fatmawati Nasution, Wawancara Fungsi Ayat Alquran dalam Ritus Mandi Safar, 03 November 2020 .

60 Fatmawati Nasution, Wawancara Fungsi Ayat Alquran dalam Ritus Mandi Safar, 03 November 2020 .

61Daniel L Pals, Seven Theories of Religion, hlm. 344.

ajaran yang ditanamkan orang terdahulu sehingga berubah menjadi tradisi yang dilakukan setiap pada bulan safar tepatnya pada hari Rabu terakhir bulan Safar, fungsinya tidak lain adalah untuk menolak bencana yang sudah menjadi keyakian masyarakat bahwa akan banyak bencana yangakan turun pada saat itu.

Menurut Kyai As’ad Arsyad, pada awal diselenggarkannya ritus ini, masyarakat sangat memegang prinsip bahwa pada hari itu adalah hari sial.

Namun dengan melihat pertimbangan dan beberapa kajian, ritus ini memang tidak ada dijelaskan di dalam Al-Qur’an dan hadis. Kemudian diberikan pemahaman kembali kepada masyarakat sehingga ini bisa menjadi wasilah untuk memohon keselamatan kita hidup di dunia, terutama keselamatan untuk Desa Air Hitam Laut. Statement ini juga diperkuat dengan adanya penggunaan sumber agama di dalam ritus ini. Menurut beliau, point penting dalam ritus ini adalah penggunaan 7 ayat salamun dalam ritus ini. karena jika dilihat maknanya sangat bagus, menceritakan kisah Nabi-nabi yang selamat dengan pertolongan dari Allah. Untuk tradisi diluar ini sebenarnya hanya inisiatif saja. Karena point pentingnya ini adalah pada ayat tersebut.62 Tetapi diluar itu juga beliau tidak dapat mengingkari bahwa ayat ini sesuai dengan ajaran yang ada di buku Taj al-Mulk.

Selain itu, mengenai konsep ini juga di paparkan oleh salah satu warga Desa Air Hitam Laut yang mengatakan :

“Tradisi ini sudah lama ada dan kami sangat antusias dengan tradisi yang terus diadakan tiap tahunnya khususnya di Rabu terakhir bulan safar. Menurut saya kegiatan yang paling inti ini adalah pada ayat-ayat Al-Qur’an tersebut karena ada kata salamun nya. Meskipun saya tidak tau kapan pastinya bencana itu datang tetapi apasalahnya kita berikhtiyar mencoba memohon keselamatan. Mungkin setiap habis doa kita tetap berikhtiyar tapi secara aktifitas bisa dibungkus dengan

62 As’ad Arsyad, Wawancara Fungsi Ayat Alquran dalam Ritus Mandi Safar, 20 Oktober 2020.

kegiatan seperti ini sebagai bentuk memohon untuk keselamatan Desa juga.63

Hal senada juga disampaikan oleh Bapak Zainuddin sebagai Guru di Desa Air Hitam Laut :

“Mungkin kalo kata orang-orang memang ritus ini tidak ada perintah di dalam Al-Qur’an tentang diturunkannya tolak balak. Tapi kalo saya dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung, ya inilah salah satu kekayaan Desa Air Hitam Laut. Yang paling penting sih niatnya. Dari ayat itu kan jelas ada cerita dibalik ayat yang mana Nabi-nabi sudah diberikan keselamatan oleh Allah. Tinggal niat kita bagaimana. Saya sih diniatkan sebagai salah satu perantara memohon keselamatan dunia akhirat aja. Dalam artian tolak balak disini menghindarkan balak agar Desa terhindar dari segala macam bencana dan juga penyakit. Salah satu bentuk ikhtiyar masyarakat juga.”64

Jika dianalisis dari kedua informan mengenai makna ayat tersebut bisa disimpulkan bahwasanya, segala sesuatu kembali kepada niat yaitu untuk memohon keselamatan. Tidak hanya terpaku pada keselamatan pada hari itu tapi untuk keselamatan di setiap harinya. Terkhususnya disini adalah tolak balak sebagai wasilah memohon keselamatan terutama untuk Desa Air Hitam Laut dan pribadi masing-masing.

b. Konsep Memuliakan Ayat

Al-Qur’an menghimpun berbagai macam ilmu yang terkait dengan persoalan hidup di dunia, yang membuktikan kebenaran perkataan Abdullah bin Mas‟ud radhiyallahu’anhu, baik secara langsung, samar, isyarat maupun tersirat. Maka segala hal yang terkait dengan kebutuhan manusia, untuk memperbaiki keadaannya (di dunia) dan untuk hari esoknya (akhirat), seluruhnya terdapat dalam Al-Qur’an.

63 Wawancara dengan Awaluddin, Wawancara Makna Ayat Alquran dalam Ritus Mandi Safar., tanggal 10 November 2020

64 Zainuddin, Wawancara Makna Ayat Alquran dalam Ritus Mandi Safar, 09 November 2020.

Menurut hasil dari wawancara dengan warga bahwa memandang ayat ini sebagai salah satu bentuk untuk memuliakan kalam-kalam Allah. Sesuai dengan pendapat pak Ulwan Afifi,

“Al-Qur’an kan merupakan kalam-kalam Allah, sebaiknya ketika dalam kondisi apapun kita patut memuliakannya, mungkin dengan ayat-ayat ini bisa dipercaya sebagai obat. Dan balik lagi ketika ayat Al-Qur’an yang digunakan berarti kita percaya dan sebagai pembuktian bahwa kita sangat memuliakan ayat-ayat Allah.”

Jadi dalam konteks ini ada beberapa masyarakat melihat ayat tersebut sebagai hal untuk memuliakan ayat, dan jika dilhat dari segi pelaksanaan memang ayat ini sangat dimuliakaan dengan konsep peletakkan ayat di atas kepada dan ditangan. Seperti yang dikatakan oleh Ardan Arsyad,

“Saya memang gak ahli bidang ini cuman saya melihat bahwa ada ayat Al-Qur’an yang dipakai dalam ritus ini sangat dimuliakan sekali karena ayat ini menjadi titik penting ritus apalagi ditaruh di kepala dengan dibalut kain putih berartikan di taruh di atas, dan saya sangat yakin bahwa ayat-ayat tersebut kadang bisa dibuat untuk doa, obat dan lain-lain. dan ini merupakan salah satu alasan sebagai salah satu untuk memuliakan ayat-ayat Al-Qur’an”.

Jadi memang ayat tersebut dipandang masyarakat sebagai wadah untuk memuliakan ayat, karena jika dilihat dari segi maknanya bahwa ayat tersebut menjadi sebuah doa dan harapan sehingga digunakan dalam tradisi ini sekaligus melihat posisi ayat tersebut ketika ritus.65

c. Konsep Dakwah

Ada berapa masyarakat mengatakan bahwa simbol ini memberikan pengetahuan kepada masyarakat Desa Air Hitam Laut khusunya, mengenai beberapa pengetahuan agama. Secara garis besarnya, ayat inilah yang pertama kali membuka wawasan masyarakat mengenai pengetahuan tentang wawasan keagaman. Menurut Ardan Arsyad masyarakat sekaligu keluarga

65 M. Ulwan Afifi, Makna Ayat Alquran dalam Ritus Mandi Safar, 27 Oktober 2020.

dari pimpinan Pondok Pesantren, ayat ini juga termasuk menjadi dakwah mereka kepada masyarakat Desa Air Hitam Laut.

“Sejak berdirinya ritus Mandi Safar ini masyarakat semakin semangat dalam mempelajari ilmu agama bersama-sama, ini merupakan dakwah untuk tetap selalu percaya akan ketetapannya dan kita sebagai manusia harus terus berdoa dan berikhtiyar. Selain itu juga yang dicari dari ayat tersebut adalah silaturahminya. Ritus inilah yang menyatukan kami dengan warga di Luar Desa Air Hitam.66

Selain itu juga pernyataan dari salah satu warga yaitu Ibu Nur Hidayah, ia menyatakan bahwa ayat dan ritus ini merupakan salah satu usaha dakwah masyarakat Desa Air Hitam Laut,

“Menurut saya ini merupakan salah satu bentuk dakwah untuk masyarakat Desa Air Hitam Laut khusunya dan umumnya masyarakat diluar Desa, bahwa sesuai dengan buku tersebut bahwa bulan ini adalah bulan bala, terlepas dari benar atau tidaknya kan yang penting kami sudah berusaha memohon ya dengan cara seperti ini. jadi doa kan bisa dimana saja, apalagi ini momen bersama-sama”67

Selanjutnya, agama membungkus konsepsi ini dengan aura faktualitas. Geertz mengatakan bahwa agama atau perspektif religius memperdalam pemusatan perhatiannya kepada fakta dan berusaha menciptakan aura faktualitas (mengandung kenyataan atau kebenaran).

Pengertian tentang sesuatu yang “sungguh nyata” ini adalah pusat dari kegiatan-kegiatan yang disimbolkan oleh agama.68

Konsep tentang tolak balak yang ada di masyarakat Desa Air Hitam Laut memunculkan aura faktualitas, sehingga akan tampak sebagai konsep yang dipercaya mengandung kebenaran. Konsep tolak balak ini sebagaimana

66 Wawancara dengan M. Ardan Arsyad, Makna Ayat Alquran dalam Ritus Mandi Safar tanggal 27 Oktober 2020.

67 Nur Hidayah, Wawancara Makna Ayat Alquran dalam Ritus Mandi Safar, 10 November 2020.

68 Clifford Geertz, Kebudayaan dan Agama, terj. Francisco Budi Hardiman (Yogyakarta: Kanisius, 1992), hlm

yang telah dijelaskan di dalam sub bab sebelumnya, memiliki dogma di masyarakat yang menyatakan jika pada hari itu sebaiknya masyarakat tidak bekerja dan tidak melaksanakan sesuatu yang berbahaya karena jika terjadi sesuatu maka peristiwa ini akan disangkutpautkan terhadap bala. Dogma inilah yang membuat konsep tersebut memunculkan aura faktualitas, sehingga dipercaya sebagai konsep yang benar dan nyata.69

Begitu juga dengan konsep tentang spiritual dan dakwah. Kedua konsep tersebut juga memiliki dogma yang menyatakan bahwa dengan dengan sama-sama berikhtiyar demi keselamatan desa dan pribadi masing-masing maka tidak enak jika tidak melaksanakannya. Terlebih ini merupakan sejarah peninggalan dari tetua desa yang sudah sangat berjasa dalam berdakwah di Desa ini. sekaligus jika dilihat ayat ini sangat bagus maknanya karena Allah memberi keselamatan kepada Nabi-Nabi. Semua konsep tersebut bersumber dari dogma yang kemudian memunculkan aura faktualitas. Dogma membuat konsep-konsep tersebut memunculkan aura faktualitas. Dengan munculnya aura ini, konsep-konsep agama tersebut dipercaya oleh masyarakat sebagai sesuatu yang benar dan nyata.70

Menurut Geertz, motivasi adalah “suatu kecenderungan yang tahan lama, suatu kecondongan yang terus-menerus muncul untuk menampilkan jenis-jenis tindakan tertentu dan mengalami jenis-jenis perasaan tertentu dalam jenis situasi-situasi tertentu”.71 Dalam konteks ini, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam sub bab konsepsi, masyarakat Desa Air Hitam Laut mengenal konsep tentang Tolak Balak, Spiritual dan dakwah. Konsep-konsep tersebut kemudian memunculkan aura faktualitas dan dirumuskan ke dalam

69 Ardiansyah, Wawancara Makna Ayat Alquran dalam Ritus Mandi Safar, 27 Oktober 2020.

70 Muhammad Asror, Wawancara Makna Ayat Alquran dalam Ritus Mandi Safar, 03 November 2020.

71 Clifford Geertz, Kebudayaan dan Agama, terj. Francisco Budi Hardiman (Yogyakarta: Kanisius, 1992), hlm. 14.

simbol- simbol. Simbol-simbol yang dirumuskan tersebut, disampaikan secara persuasif oleh para kiai atau ketua adat dan masyarakat pada umumnya. Mereka mengajarkan, mengajak, dan memberikan motivasi dan arahan kepada generasi penerus agar mereka melakukan tradisi ritus Mandi Safar. Penyampaian simbol-simbol tersebut, kemudian memotivasi seseorang untuk melakukan tradisi ritus Mandi Safar.

Perasaan yang dialami atau dirasakan oleh masyarakat Desa Air Hitam Laut ketika melakukan tradisi ritus Mandi Safar ini kemudian direfleksikan dalam kehidupan sehari-hari. Melalui perasaan yang muncul tersebut, agama membentuk suatu tatanan kehidupan. Pelaksanaan tradisi ritus Mandi Safar ini memiliki suatu implikasi sosial. Melalui pelaksanaan ritus Mandi Safar, konsep- konsep yang dirumuskan dalam simbol tersebut seolah-olah menegaskan kebenarannya.

Ketika Ardiansyah tidak melakukan tradisi yang biasa dilakukan oleh orang tuanya, jika terjadi hal-hal yang tidak diharapkan, orang-orang akan mengaitkannya dengan tradisi tersebut. Sebaliknya, dengan melakukan tradisi ritus Mandi Safar, maka ketenangan dan rasa optimis akan muncul dalam diri masyarakat. Dengan demikian, mereka akan percaya bahwa segala sesuatunya akan berlangsung dengan lancar. Bahkan sampai mengajak sanak saudara yang lain.72

Begitu juga dengan yang dialami oleh Pak Muhammad Asror. Ketika melakukan ritus Mandi Safar, beliau seolah menemukan optimismenya lewat ayat-ayat Al-Qur’an yang digunakan. Perasaan beliau ditemukan dan kemudian dapat memotivasi beliau untuk selalu mengikutinya.73

72 Ardianysah, Wawancara Makna Ayat Alquran dalam Ritus Mandi Safar, 27 Oktober 2020.

73 Muhammad Asror, Wawancara Makna Ayat Alquran dalam Ritus Mandi Safar, 03 November 2020.

Konsepsi tentang tatanan umum eksistensi

Aura

faktualitas Motivasi

Ritual yang melibatkan

simbol

Perasaan

Refleksi

Perasaan yang menciptakan suatu tatanan kehidupan inilah yang menjadikan pelaksanaan tradisi ritus Mandi Safar secara unik terlihat realistis. Konsep yang mendasari pelaksanaan tradisi ritus Mandi Safar terlihat nyata dalam kehidupan masyarakat Desa Air Hitam Laut. Perasaan yang direfleksikan dalam kehidupan itu, seolah-olah membenarkan konsep-konsep tersebut. Dengan demikian, simbol-simbol yang dirumuskan dari konsep-konsep agama, yang dilibatkan dalam pelaksanaan tradisi ritus Mandi Safar, yang kemudian memotivasi seseorang untuk melakukan tradisi ritus Mandi Safar sehingga memunculkan perasaan tertentu, yang direfleksikan dalam kehidupan masyarakat, secara unik terlihat sebagai sesuatu yang realistis. Aplikasi teori Clifford Geertz dalam tradisi ritus Mandi Safar ini dapat digambarkan dalam bagan di bawah ini

E. Temuan Kajian ini dalam Wacana Praktik Ritus Keagamaan di Indonesia

Setelah dilakukan penelitian secara deskripsitif pada bab dua sampai lima, terlihat secara jelas bahwa ayat-ayat Al-Qur’an mempunyai pengaruh besar terhadap Ritus Keagamaan. Salah satu asumsi dasar dari paradigma antropologi interpretif adalah bahwa manusia adalah animal symbolicum atau hewan yang mampu menggunakan, menciptakan dan mengembangkan simbol-simbol untuk menyampaikan pesan dari individu satu ke individu yang lain. Simbol di sini diartikan sebagai 7 ayat salamun yang mempunyai makna tersendiri untuk masyarakat Desa Air Hitam Laut, sehingga pemaknaan merupakan proses yang sangat penting dalam kehidupan manusia.

Melalui bahasa atau agama inilah Desa Air Hitam Laut saling berinteraksi dengan lainnya, Sehingga terbangunnya kehidupan sosial dan kebudayaan. Tanpa bahasa dan agama tidak akan ada kehidupan sosial, tidak akan ada kebudayaan.

Kehidupan sosial yang menghasilkan kebudayaan hanya bisa lahir karena adanya interaksi sosial yang simbolik, dan interaksi simbolik ini hanya dapat berlangsung jika ada bahasa. Adanya kemampuan berbahasa pada setiap manusia yang normal menunjukkan bahwa kemampuan simbolik atau kemampuan memberikan makna ini diwarisi oleh manusia secara genetis.

Dengan kemampuan ini manusia tidak pernah lagi melihat segala sesuatu ‘sebagaimana adanya’, tetapi sebagai sesuatu yang telah diberi makna, karena segala sesuatu dalam kehidupan manusia selalu menjadi objek atau tujuan pemaknaannya. Pemaknaan atau pemberian makna pada dasarnya adalah kegiatan menghubungkan sesuatu yaitu simbol itu sendiri dengan sesuatu yang lain, yaitu maknanya, pada tataran kognisi (pikiran). Kalau

kemampuan memaknai bersifat genetis, kerangka pemaknaan dan hasil pemaknaan bersifat budaya boleh dikatakan semacam ‘wadah’ yang diperoleh lewat keturunan, sedang isi yang digunakan untuk memberikan,

‘menempelkan’ makna-makna, merupakan sesuatu yang didapat lewat kehidupan sosial, lewat proses sosialisasi dan enkulturasi. Melalui pengetahuan yang diperoleh lewat bahasa inilah manusia memberikan pemaknaan kepada segala sesuatu, bahkan juga kepada dirinyasendiri.

Oleh karena sifatnya yang kultural maka pemaknaan terhadap sesuatu tidak pernah bisa bersifat universal. Dia selalu terperangkap dalam sebuah wadah pemaknaan tertentu, dalam bahasa tertentu. Dengan bekal kemampuan simbolisasi dan kerangka pemaknaan tersebut maka manusia selalu memandang dunia sekelilingnya sebagai dunia simbol, sebagai belantara simbol dengan berbagai macam maknanya.

Di tengah-tengah masyarakat khususnya Indonesia yang merupakan animal symbolicum, sebuah benda seperti Kitab Al-Qur’an tidak lagi dapat hadir tanpa makna. Begitu pula perlakuan manusia terhadap Al-Qur’an itu sendiri. Jika Al-Qur’an sebagai kitab yang merupakan kumpulan, jaringan dan susunan simbol-simbol -yaitu huruf-huruf Arab- adalah sebuah teks, demikian pula halnya dengan berbagai macam perlakuan manusia terhadap Al-Qur’an sebagai sebuah jaringan dan susunan simbol.74

Berdasarkan uraian di atas maka secara tak langsung bisa dinyatakan bahwa antara ibadah dan pelaksanaan ritus atau ritual berdiri dalam satu entitas yang tak bisa dipisahkan satu dengan yang lainya. Ritus selalu menyertai pelaksanaan ibadah, ibadah merupakan perilaku keagamaan yang harus dilakukan oleh setiap musim kapanpun dan dimanapun mereka besada.

Ibadah adalah sebagai suatu keharusan untuk dilaksanakan.

74 Siti Solikhati, Simbol Keagamaan Dalam Islam dan Ideologi Televisi, Islamic Communication Journal, Volume 02, Nomor 02, Juli-Desember 2017,

Dengan demikian maka apabila ibadah harus dilaksanakan sampai kapanpun maka pelaksanaan ritus yang direfleksikan dengan simbol-simbol perbuatan atau upacara yang ada di dalamnya tak dapat ditinggalkan dan akan tetap sesuai untuk dilaksanakan.

Pelaksanaan ritus cenderung tetap sebagaimana pendapat Catherine Bell, bahwa : “Aktivitas ritual pada umumnya cenderung untuk menolak perubahan dan lebih sering dilakukan dari pada bentuk-bentuk lain dari pada kebiasaan-kebiasaan lainnya (social customs).” 75

Pada sisi yang lain, bahwa ritus dalam Islam adalah sesuatu yang signifikan, yang tak hanya memiliki nilai fisik tetapi juga menjelaskan aspek-aspek spiritual tertentu,18 sikap-sikap tertentu yang membuat kehidupan ini lebih bermakna setelah kita memahami dan menghayati semangat yang terkndung di dalamnya.

Ritus sebagai sebuah system of symbol and actions ternyata juga memainkan peranan yang penting dalam menegaskan kepada dunia akan kekayaan pemikiran dan kultur Islam sehingga Islam sepanjang masa memberikan kontribusi tentang pemikiran, budaya, dan literatur-literatur yang berkonsentrasi pada persoalan ini.76

Penulis dengan mengutip pendapat ali Syariati, seorang pemikir besar Modern dari Iran, terkait dengan pembahasan relevansi dan peranan ritus masa kini. Dia menyatakan bahwa : ”Keselamatan seseorang berada pada keberhasilannya dalam mengatasi tantangan antara komponen spiritual dan material yang membuat kepribadian manusia (human personality) tercermin

75 Catherine Bell, Ritual : Perspective and Dimensions, (New York : Oxford University Press, 1997), hlm.241

76John L. Esposto, The Oxford Encyclopedia of The Modern Islamic World, Vol.III, (New York : Oxford niversity Press, 1995), hlm.442

dalam ketundukan dan ungkapan rasa syukur pada Tuhan yang diekspresika secara simbolik (melalui ritus).”77

bahwa ritus dalam keberagamaan Islam di Indonesia adalah bagian yang tak terpisahkan dari ibadah dan ritus sebagai sebuah sistem simbol yang mengandung nilai-nilai spriritual dan makna terdalam, yang realisasinya berupa perilaku dan upacara-upacara keagamaan.

Nilai- nilai spriritual dan makna terdalam di balik simbol ritus itulah yang seharusnya dikembangkan dan diaktualisasikan dalam kehidupan konkret, setelah kita melakukan perilaku ritual dan menghayati semangatnya, sehingga di sinilah maka ritus dalam keberagamaan Islam akan tetap relevan, bermakna, dan penting di setiap perjalanan rentang sejarah manusia.

Termasuk tradisi ritus ini, dari segi pengunaan simbol ayat Al-Qur’an pada bulan safar ini memiliki relevansi dan persamaan pada tradisi ritus keagmaan Mandi Safar di Indonesia. Penggunaan simbol berupa 7 ayat yang berawalan salamun yang digunakan sebagai wadah untuk tolak balak atau memohon keselamatan di bulan Safar.

Dan jika dilihat dari ritus bulan safar di berbagai daerah juga beberapa memiliki persamaan hanya saja menyesuaikan kearifan lokal yang berlaku dimasyarakat setempat sehingga menghasilkan output budaya berbeda-beda baik dari segi pemahaman simbol ayat, proses ritus dan adat istiadatnya. Tetapi pada bagian yang lain tetap perlu diwaspadai bahwa manusia adalah makhluk sosial (zoon politicon) yang selalu berinteraksi dengan lingkungan, kultur, tradisi serta pemeluk agama atau kepercayaan lain sehingga tidak berlebihan jika muncul harapan agar kita tetap bersama-sama menjaga ritus dalam keberagamaan Islam tetap pada kesuciannya, tidak sengaja atau sengaja dilakukan sinkritisme dengan kultur atau tradisi lain

77 John L. Esposto, The Oxford Encyclopedia of The Modern Islamic World, Vol.III, (New York : Oxford niversity Press, 1995), hlm.442

yang tidak islami yang menyebabkan ritus Islam tidak terjamin kemurniannya lagi. Meskipun yang demikian itu kita seharusnya tetap berada dalam kesadaran bahwa manusia itu bagai astronot, yang keberadaannya tergantung dan dipengaruhi oleh hal-hal lain yang ada di sekitarnya.

Kata al-Jabiri bahwa : “Manusia dianalogikan dengan astronot.

Sebagai astronot maka manusia sebagai penafsir akan selalu bergerak, diserap, dan ditarik ke dalam arus gerak rotasi iklim intelektual, sosial, maupun politis yang dikondisikan oleh sejarah, yang disebutnya sebagai al-itar al-marji’i (bingkai rujukan)”.78

78 Muḥammad Abid al-Jabiri, Takwin al- Aql al-Arabi (Beirut : al-Markaz as-Saqafi al-Arabi, 1991), hlm.61.

161 BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

Dari pembahasam tentang Fungsi Al-Qur’an dalam Ritus Mandi safar yang dilakukan oleh masyarakat Desa Air Hitam Laut Kelurahan Tanjung Jabung Timur dapat disimpulkan bahwa:

1. Temuan pertama, ini adalah Internalisasi dua tradisi leluhur yaitu praktik ritus yang menggabungkan antara unsur budaya dan unsur agama dalam satu ritus kegiatan rutin tahunan. Dengan menggunakan 7 ayat salamun seperti; QS. Ya>si>n (58), QS. as}- S}a>ffa>t (79), QS. as}- S}a>ffa>t (109), QS. as}- S}a>ffa>t (120), QS. as}- S}a>ffa>t (130), QS. Az-Zumar (73) dan QS. Al-Qadr (5), dan ketujuh ayat tersebut dituliskan di atas daun mangga dengan menggunakan tinta yang mudah hilang.

Adapun penggunaan ayat tersebut bagi panitia laki-laki daunnya diselipkan di tanjak kepala sedangkan untuk kalangan dari peserta baik laki-laki maupun perempuan daun tersebut hanya digenggam

Adapun penggunaan ayat tersebut bagi panitia laki-laki daunnya diselipkan di tanjak kepala sedangkan untuk kalangan dari peserta baik laki-laki maupun perempuan daun tersebut hanya digenggam