ekspansi jaringan penerbangan dan jumlah armada.
Operasional
Laporan Keuangan Konsolidasian Data Perusahaan
Selain melakukan ekspansi rute, Perusahaan juga meningkatkan frekuensi penerbangan, baik di sektor domestik maupun internasional demi memperkokoh posisi Perusahaan di sektor domestik dan mendominasi frequency share di sektor domestik.
Selama tahun 2013, total frekuensi meningkat sebesar 21,9% menjadi 78.697 penerbangan. Jumlah frekuensi penerbangan domestik pada tahun 2013 adalah 65.131 penerbangan atau 83% dari total frekuensi penerbangan mainbrand. Peningkatan frekuensi ini merupakan hasil kajian Perusahaan atas permintaan terhadap sarana transportasi udara. Perusahaan senantiasa melakukan studi Pada bulan Juni 2013, perusahaan mendatangkan pesawat
Boeing 777-300ER dan pada bulan November 2013
perusahaan menambah jumlah armadanya dengan pesawat ATR72-600 yang memulai penerbangan perdananya pada tanggal 3 Desember 2013.
Rute dan Jaringan
Pada tahun 2013 Garuda Indonesia membuka 28 rute baru yang terdiri dari 24 rute di Domestik (juga terdapat 1 rute re-instate) dan 4 rute di Internasional. Rute baru tersebut melayani 11 kota tujuan baru – yaitu Bengkulu, Tanjung Pinang, Tanjung Pandan, Berau, Sorong, Manokwari, Bima, Labuan Bajo, Ende, Penang dan Brisbane.
Laporan Keuangan Konsolidasian Data Perusahaan
dalam upaya menciptakan kenyamanan penumpang. Semua aktivitas yang dilakukan sejalan dengan target Perusahaan untuk mencapai 5 Star Airline dari Skytrax pada tahun 2015.
Pencapaian Aircraft Maintenance Management secara umum meliputi pemenuhan pesawat, fungsional kabin dan penampilan interior kabin dan eksterior.
Aircraft Availability
Pemenuhan pesawat di tahun 2013 mencapai 99,54%, mengalami penurunan dibandingkan tahun 2012 yang sebesar 99,65%. Penurunan ini disebabkan oleh beberapa kejadian AOG (Aircraft on Ground) di tahun 2013 terutama untuk tipe pesawat Airbus A330-300.
Cabin Functionality
Kinerja fungsional kabin rata-rata di tahun 2013 tercatat sebesar 99,81% meningkat dari 99,38% di tahun 2012.
Penambahan stok material baik dalam hal jenis maupun jumlah di Cengkareng dan beberapa lokasi diluar Cengkareng, permintaan Free of Charge (FOC) material untuk roll over program dan percepatan pengiriman stok material consignment adalah beberapa strategi yang dilakukan untuk mencapai kinerja ini.
Cabin Interior and Exterior Appearance
Pencapaian indikator penampilan interior kabin di tahun 2013 mempunyai nilai rata-rata sebesar 95,01%, meningkat darii 94,83% di tahun 2012. Hal ini terkait erat dengan implementasi penuh Aircraft Interior Maintenance Program (AIMP) yang sudah dimulai pada akhir tahun 2012.
Di tahun 2014, Garuda Indonesia juga akan
mengembangkan kemampuan perawatan kabin di 5 lokasi besar, yaitu Medan, Balikpapan, Surabaya, Denpasar dan Makassar sebagai upaya menjaga fungsionalitas dan penampilan di area kabin.
Kinerja Operasional
Secara umum kinerja operasional mengalami perbaikan di tahun 2013 kecuali indikator On Time Performance yang mengalami penurunan terutama karena faktor fasilitas bandara.
kelayakan sebelum membuka rute baru atau meningkatkan frekuensi untuk memastikan bahwa penambahan rute dan peningkatan frekuensi ini akan berdampak positif terhadap kinerja operasional Perusahaan.
Aircraft Maintenance Management
Mengacu pada visi Garuda Indonesia yaitu menjadi
perusahaan penerbangan yang handal dengan menawarkan pelayanan berkualitas kepada masyarakat dunia dengan menggunakan keramahan Indonesia, maka Aircraft Maintenance Management sebagai bagian dari Direktorat Teknik bertanggung jawab dalam mendukung operasional penerbangan Garuda Indonesia, baik domestik maupun internasional melalui penyediaan pesawat yang handal serta kondisi kabin yang prima. Aircraft Maintenance Management memastikan bahwa pengaturan serta pemeliharaan pesawat dilakukan dan dilaksanakan sesuai dengan Company Maintenance Manual (CMM) serta Continuing Airworthiness Maintenance Program (CAMP) yang telah disahkan oleh Authority serta persyaratan keselamatan dan kelaikan udara lainnya untuk masing-masing tipe pesawat.
Perawatan pesawat secara terencana dan terkendali perlu dilakukan agar pemenuhan jumlah dan tipe pesawat setiap harinya sesuai dengan rencana penerbangan unit Operasi dan Niaga, baik rute domestik maupun internasional.
Kontribusi keterlambatan jadwal penerbangan yang disebabkan oleh kerusakan pesawat atau penyebab teknis lainnya, harus diminimalkan untuk mendukung target ketepatan penerbangan Garuda Indonesia. Ground time yang memadai untuk pemeliharaan dan perawatan sangat diperlukan, guna memastikan dilaksanakan pekerjaannya dengan benar sehingga pesawat selalu berada dalam kondisi layak terbang.
Kondisi kabin pesawat berikut penampilan interior dan eksterior pesawat juga harus dijaga dan dirawat agar selalu memberikan kenyamanan kepada penumpang. Peralatan yang ada di dalam pesawat seperti “Seat, Passenger Entertainment System/ PES, Cabin Light, Lavatory, Galley, Luggage Bin” harus dipastikan berfungsi dengan baik agar dapat memberikan kenyamanan kepada penumpang.
Kebersihan dan kerapihan kondisi “Carpet, Seat Cover, Curtain, Sidewall, Cabin Partition, Ceiling” juga harus terus dijaga untuk memenuhi standar tampilan interior kabin airline bintang lima. Demikian pula dengan tampilan eksterior atau bagian luar pesawat juga menjadi ukuran
Operasional
Produktivitas Awak Kokpit dan Awak Kabin Produktivitas awak pesawat yang dihitung berdasarkan total block hours dibandingkan dengan jumlah awak pesawat yang berproduksi mengalami sedikit penurunan di tahun 2013 dibandingkan dengan tahun 2012. Hal tersebut dikarenakan jumlah penambahan awak kabin dan kokpit yang lebih besar dari penambahan jumlah jadwal penerbangan. Penambahan awak pesawat ini dilakukan sebagai persiapan penambahan jadwal penerbangan pada tahun berikutnya mengingat proses training crew yang membutuhkan waktu lama.
Produktivitas Awak Kabin tercatat sebesar 84 jam 34 menit di tahun 2013, menurun dibandingkan dengan 86 jam 39 menit di tahun 2012. Penurunan produktivitas terutama terjadi di bandara Cengkareng dan Jepang. Sementara itu, produktivitas awak kokpit juga menurun dari 67 jam 01 On Time Performance
Tingkat ketepatan penerbangan On Time Performance (OTP) Garuda Indonesia tercatat sebesar 83,79%,
mengalami penurunan dari 84,9% di tahun 2012. Penyebab penurunan OTP antara lain adalah faktor fasilitas bandara 9,71%, faktor teknik 1,77% dan faktor cuaca 1,16%. Perbaikan tingkat OTP dilakukan dengan peningkatan operational monitoring and control serta dengan station management control. Garuda Indonesia juga terus melakukan program OTP enhancement dan monitoring terhadap 2 faktor penyebab keterlambatan.
Jika memperhatikan OTP pada setiap stasiun pada periode Januari - Desember 2013, maka Perth merupakan bandara dengan OTP tertinggi yaitu 96,5%. Sedangkan Jeddah adalah bandara dengan OTP terendah: 53,08%. Untuk stasiun domestik, OTP tertinggi adalah Banda Aceh yaitu 94,13% dan OTP terendah adalah Sorong, yaitu 46,34%.
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des
On Time Performance Penyebab Keterlambatan
2012 2013
Apt.
Fac.
Technic Flops Comm. Weather Sta Handl
System Other 9,13
1,58 0,98 0,81 1,09 0,76
0,37 0,23 9,71
1,77
0,98 0,83 1,16 0,99
0,36 0,17 2012 2013
Utilisasi Pesawat
Tingkat utilisasi armada mainbrand secara rata-rata stabil pada 10 jam 44 menit per hari di tahun 2012 maupun di tahun 2013. Kenaikan yang cukup signifikan terjadi pada tipe pesawat Boeing 737-800 dan pesawat berbadan lebar. Sementara tipe pesawat Boeing 737-300 mengalami penurunan akibat pengalihan operasi ke pesawat baru dan kebijakan stand by. Garuda Indonesia akan terus mengembangkan rute dan jaringan penerbangannya ke seluruh propinsi di Indonesia untuk meningkatkan tingkat utilisasi pesawat di masa yang akan datang.
menit menjadi 66 jam 51 menit. Penurunan produktivitas ini terutama terjadi di tipe pesawat Boeing 737-800 dan Boeing 737.
Jumlah Awak Kabin perusahaan tercatat sebanyak 3.332 orang di tahun 2013, meningkat dari 2.376 orang di tahun 2012, seiring dengan peningkatan jumlah armada serta penambahan rute penerbangan.
Laporan Keuangan Konsolidasian Data Perusahaan
Zero Flight Time Training merupakan Flight Training yang semula harus menerbangkan pesawat digantikan secara simulator.
e-Learning DG and AVSEC, Recurrent Dangerous Good dan AVSEC yang diwajibkan untuk Flight Operation Officer (FOO) sekali setahun dilakukan secara e-learning.
Penghematan yang diperoleh meliputi biaya transportasi, akomodasi, SPPD, biaya instruktur dan biaya penggunaan kelas.
Efisiensi biaya yang diperoleh pada tahun 2013 mencapai Rp 124 miliar, mengalami peningkatan 41% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp 88 miliar.
Sementara itu, Flight Fuel Conservation berhasil menghemat penggunaan bahan bakar pada tahun 2013 sebesar 18,5 juta liter, lebih rendah 24% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 24,2 juta liter. Penurunan ini dimungkinkan oleh meningkatnya flight time yang disebabkan oleh meningkatnya kepadatan lalu-lintas udara. Total pemakaian bahan bakar (fuel burn) di tahun 2013 tercatat sebesar 1.371 juta liter, meningkat sebesar 16% dibandingkan tahun sebelumnya yaitu 1.183 juta liter. Peningkatan ini dipicu oleh peningkatan produksi dimana frekuensi penerbangan mengalami peningkatan sebesar 22% sedangkan Available Tonne Kilometer (ATK) mengalami peningkatan sebesar 16%.
Rencana Tahun 2014
Untuk menjaga konsistensi terhadap kualitas produk dan pelayanan dari sisi operasional, Garuda Indonesia akan tetap menargetkan ketepatan penerbangan (On Time Performance/OTP) sebesar 85%. Target OTP tersebut akan dicapai melalui peningkatan manajemen operasional yaitu dengan pengalihan beberapa rute penerbangan dari Bandara Soekarno-Hatta ke Bandara Halim Perdana Kusuma, penempatan Base Pesawat dan awak pesawat di luar Cengkareng. Hal ini guna menghindari kepadatan arus penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta. Selain itu di Tahun 2014 dilakukan pengoperasian dedicated gate Garuda di beberapa bandara domestik.
Efisiensi Biaya
Program Efisiensi Biaya yang dilakukan oleh jajaran Direktorat Operasi pada tahun 2013 merupakan kelanjutan dari apa yang telah diterapkan pada tahun 2012 dengan program tambahan e-Learning DG & AVSEC agar dapat dicapai hasil yang lebih optimal. Program efisiensi yang dijalankan adalah melalui penerapan Economical Tanking, Optimalisasi penggunaan Ground Power Unit (GPU), Flight Fuel Conservation, Centralized Flight Planning, Crew Transport dan Zero Flight Time Training.
Economical Tanking, yaitu program untuk menghemat biaya bahan bakar dengan menerapkan prosedur tankering dengan tujuan memperoleh keuntungan dari perbedaan harga bahan bakar diantara dua stasiun (departure dan arrival). Selama tahun 2013 program ini diterapkan di station Balikpapan, Jakarta, Jayapura, Denpasar, Manado, Medan, Surabaya, Ujung Pandang, Kuala Lumpur, Penang dan Singapura.
Optimalisasi Penggunaan GPU merupakan upaya mengoptimalkan penggunaan GPU sebagai pengganti Auxiliary Power Unit (APU) di bandara domestik dan Internasional untuk pesawat yang RON (Remain Over Night; Pesawat yang menginap di bandara hingga melewati hari), pesawat penerbangan pertama setelah selesai RON dan untuk pesawat yang transit lebih dari 2 jam. Station yang melakukan optimalisasi penggunaan GPU selama tahun 2013 adalah stasiun domestik (Ambon, Banjarmasin, Balikpapan, Batam, Jakarta, Denpasar, Yogyakarta,
Mataram, Manado, Medan, Padang, Pekanbaru, Palembang, Pontianak, Semarang, Surabaya, SOC dan Ujung Padang) dan Internasional (Amsterdam, Guangzhou, Korea, Osaka, Tokyo, Sydney, Beijing dan Shanghai).
Flight Fuel Conservation, merupakan penghematan penggunaan bahan bakar yang diperoleh dari selisih Flight Plan Trip Fuel (yang selanjutnya disebut sebagai Plan Fuel) dengan Fuel Burn (yang selanjutnya disebut sebagai Actual Fuel). Fuel saving terjadi ketika actual fuel lebih kecil dibandingkan plan fuel. Upaya-upaya yang dilakukan untuk memperoleh penghematan tersebut adalah Potable Water Management, Optimum Centre of Gravity, Nearest alternate, Implementasi Cost Index, Peningkatan Koordinasi dengan ATC untuk mendapatkan optimum flight level dan direct routes, CANPA (Constant Angle Non Precision Approach) dan IFP Cat.D, ETOPS untuk pesawat A330, PBN (RNPAR, STAR CGK), Optimasi route Jeddah-Cengkarang dan Conservation yang dilakukan dalam Maintenance Program.
Operasional
bahan bakar pesawat di perusahaan dan mencari inisiatif baru dalam program penghematan fuel (Fuel conservation program).
Aspek Keselamatan Penerbangan
Garuda Indonesia berkomitmen untuk mengutamakan aspek keselamatan dan keamanan, dengan senantiasa mengacu pada SOP maupun standard dan best practices yang berlaku di setiap kegiatan operasionalnya. Garuda Indonesia sebagai IOSA (IATA Operational Safety Audit) Operator mematuhi standar keselamatan IOSA Standards yang merupakan acuan/standar internasional tertinggi dan digunakan oleh maskapai bertaraf internasional lainnya.
Peningkatan manajemen Operasional di bidang tekhologi akan dilakukan dengan melengkapi teknologi terbaru di pesawat dengan pemasangan electronic flight bag (EFB) dan implementasi Centralized Flight Planning/Dispatch (CFP/D). Implementasi CFP/D yang telah dilakukan di Australia akan dilanjutkan di Haneda, Taipei, dan Halim Perdana Kusuma. Peningkatan manajemen operasional juga akan dilakukan untuk domestik Hub yang baru saja dibentuk di Makassar, Balikpapan, dan Medan dan akan dilanjutkan di tahun 2014 di Surabaya dan Denpasar. Efisiensi biaya menjadi perhatian yang sangat besar. Selain melanjutkan program efisiensi yang sudah ada seperti Fuel Conservation Program, Centralized Flight Dispatch Document Service, Zero Flight Time Training dan e-learning DG and AVSEC, Garuda Indonesia bekerjasama dengan General Electric (GE) untuk melakukan kajian terhadap pengelolaan pemakaian
2012 2013 0,29
0,76
0,25 0,72
Incident Rate
per 1.000 keberangkatan
Safety Achievement Safety Target
2012 2013 1.944
867 2.490
1.320