RUANG LINGKUP OBJEK KAJIAN STUDI ISLAM
C. Cara Beragama
Agama pada hakikatnya adalah jalan menuju Tuhan. Cara-cara yang ditempuh setiap pemeluk agama dalam pengembara-annya menuju Tuhan bisa berbeda-beda satu dengan yang lain, sesuai dengan pemahaman, penghayatan, dan pengamalannya masing-masing. Setiap orang membutuhkan cara beragama (
be-ing religious) atau bentuk penghayatan yang selaras dengan ke-peribadiannya dan situasi dalam kehidupan.
Dale Cannon (2002) menjelaskan tentang enam cara beragama yang dapat dijumpai hampir di semua agama-agama yang hidup di dunia, tak terkecuali Islam. Enam cara beragama itu adalah sebagai berikut: Pertama, jalan menuju Tuhan melalui pelaksanaan kewajiban tanpa pamrih, termasuk sejumlah ritual dan perbuatan baik. Cara beragama semacam ini disebut juga cara perbuatan benar (way of right action). Tujuannya ialah memenuhi peran dalam hidup ini sebagai sebuah kemestian Ilahi, menunaikan semuanya dengan kesadaran bahwa peran seseorang telah ditetapkan oleh Tuhan sejak zaman azali.
Cara beragama ini dalam konteks Islam memusatkan per-hatian pada perbuatan dan tingkah laku yang benar. Itulah etika atau akhlak, baik yang sifatnya individual maupun kolektif. Ia mencakup prinsip-prinsip moral yang mendasar, aturan-aturan kelembagaan dan kewajiban-kewajiban khusus.
Kedua, jalan menuju Tuhan melalui pemujaan dan ketaatan. Ini biasa disebut cara ketaatan (way of devotion). Tujuan ketaatan adalah menjadikan perasaan seseorang terbakar oleh cinta kepada Tuhan (mahabbah) semata, meniadakan semua perasaan yang lain dalam merespons karunia-Nya yang penuh kasih dan sayang.
Ketiga, jalan menuju Tuhan melalui disiplin ruhani dan asketik yang dirancang untuk menarik keluar seseorang dari kesadaran duniawi (isolasi diri dari dunia) yang berpusat pada ego, menuju ke subjek dalam jiwa yang tak terbatas dan Ilahi. Inilah yang disebut sebagai cara pencarian mistik (way of mystical quest). Tujuan dari cara beragama ini ialah kesatuan mistik antara Tuhan dan hamba-Nya.
Dalam Islam, cara pencarian mistik dikenal dengan tradisi tasawuf dan tarekat. Para mistikus atau sufi berupaya melalui disiplin mujahadah melampaui maqam-maqam zuhud dan zikir untuk meraih dan merasakan hakikat Yang Maha Mutlak, Allah swt. Untuk mencapai ini para pencari (salik) biasanya membutuhkan bimbingan spirtual dari guru, wali, mursyid atau
qutub.
Keempat, jalan menuju Tuhan melalui kegiatan rasional, argumentatif, dan pemahaman intelektual. Cara beragama ini bertujuan untuk meraih perubahan pandangan hidup menuju dasar mutlak segala sesuatu; supaya akal manusia mencapai perspektif dan pengetahuan “akal absolut”. Cara beragama ini disebut cara penelitian akal (way of reasoned inquiry).
Dalam sejarah Islam, kita menjumpai ada sebagian indivi-du dan kelompok Muslim yang mementingkan upaya pencarian petunjuk-petunjuk untuk memahami masalah-masalah kognitif kehidupan, bayang-bayang argumentasi rasional dan pandangan dunia yang komprehensif serta sistematik sebagai sarana menuju Tuhan. Individu ataupun kelompok semacam ini dalam lintasan sejarah Islam dikenal dengan kelompok Mu’tazilah dan Qada-riah misalnya. Juga para filosof yang mengedepankan penelitian intelektual untuk memahami fenomena kehidupan.
Kelima, jalan menuju Tuhan melalui partisipasi dalam pelak-sanaan ritual-ritual yang telah ditetapkan (ibadah mahdah, me-minjam istilah dalam Islam), yang menjanjikan tata tertib dan vitalitas dengan mengantarkan seseorang masuk ke dalam pola-pola Ilahiah yang orisinal dari kehidupan yang penuh makna melalui sakramen. Ini disebut sebagai cara ritus suci (way of sacred rite).
Ritus suci dalam Islam adalah semua bentuk ibadah mahdah
yang telah ditetapkan cara-caranya, waktu-waktunya, maupun tempat-tempatnya. Dalam ritus suci ini juga termasuk ritus peralihan (rites de passage) seperti upacara kelahiran, aqiqah, pernikahan, dan kematian; upacara-upacara peneguhan dan pembatalan, seperti pernikahan, perceraian, adopsi, kontrak, persetujuan; dan ritual-ritual suci yang mengakui hal-hal yang suci dan menjaganya agar terpisah dari yang profan.
Keenam, jalan menuju Tuhan dengan membuka hubungan ke sumber-sumber supranatural dari imajinasi dan kekuatan, seperti peminjaman kekuatan ilahiah (kesurupan), lupa daratan, meracau, dan pengembaraan spiritual. Ini disebut sebagai cara mediasi samanik (way of shamanic mediation).
Dalam konteks Islam, kita bisa menyaksikan bagaimana sebagian orang memanfaatkan perantara orang-orang suci (shaman: wali, mursyid, dukun, guru) untuk menyampaikan hajatnya kepada Tuhan. Ini yang dikenal dengan tawasul. Termasuk dalam tradisi ini pula ialah orang-orang yang mempergunakan kekuatan supranatural (melalui mantra, aji-aji, jimat, doa-doa tertentu) untuk meraih tujuan-tujuan yang sifatnya natural.
Enam cara beragama di atas, dalam komunitas Islam dapat menjadi objek kajian Studi Islam. Ada kemungkinan melalui penelitian dan kajian lebih lanjut dan serius, akan dijumpai cara beragama lain yang belum disebutkan dalam kajian Dale Cannon di atas. Ini tentu saja memberikan manfaat besar bagi pemahaman kita tentang perbedaan dan keanekaragaman cara berislam di kalangan Muslim, dan menjadi bahan perbandingan pula dengan cara beragama non-Muslim dalam kerangka dialog antar agama.[]
S
tudi Islam mulai muncul pada abad ke-9 di Irak, ketika ilmu-ilmu agama Islam mulai memperoleh bentuknya dan berkembang di dalam sekolah-sekolah hingga terbentuknya tradisi literer di kawasan Arab masa pertengahan. Studi Islam bukan hanya berjalan di dalam peradaban Islam itu sendiri bahkan juga menjadi fokus diskusi di negara-negara Barat.Bahkan, sebelum kemunculan Islam pada abad ke-7, orang-orang Arab sudah dikenal oleh bangsa Israel dan Yunani Kuno serta para pendiri gereja. Pandangan orang-orang Eropa tentang Islam sepanjang masa pertengahan diambil dari konstruk Injili dan teologis. Mitologi, teologi, dan missionarisme menyediakan formulasi utama tentang apa yang diketahui gereja mengenai Muslim sekaligus alasan-asalan bagi perkembangan wacana resmi tentang Islam. Secara mitologis, Muslim dipandang