STUDI ISLAM
B. Pendekatan Sastra Modern
Apa yang dikemukakan di atas adalah sekadar contoh bagai-mana perdebatan tentang kemukijzatan Al-Qur’an telah dimu-lai sejak awal. Pendekatan i`jaz adalah salah satu cara yang di-pergunakan oleh para sarjana Muslim awal untuk membuktikan kebenaran al-Qur’an.
Pada masa modern, pendekatan kesusastraan terhadap al- Qur’an juga berkembang bahkan lebih kompleks dari yang su-dah ada. Misalnya, Muhammad Abduh menggunakan me-tode sastra ini untuk menafsirkan al-Qur’an yang sangat erat hubun-gannya dengan pemahaman rasionalnya tentang Islam. Namun pertanyaan-pertanyaan Abduh bukan semata terbatas pada per-soalan i`jaz. Ia mengajukan beberapa pertanyaan: tentang mo-dernitas, apakah Islam sesuai dengan modernitas atau tidak? Bagaimana seorang Muslim yang taat dapat hidup di lingkun-gan sosial-politik modern tanpa kehilanlingkun-gan identitasnya seb-agai Muslim? Apakah Islam mengakomodasi sains dan filsafat? Tentang ketidakselarasan antara syariah yang menjadi dasar masyarakat tradisional dan hukum positif yang merupakan lan-dasan bagi masyarakat modern: apakah lembaga-lembaga poli-tik modern seperti demokrasi, pemilu, dan parlemen diterima oleh Islam, dan dapatkah lembaga-lembaga itu menggantikan lembaga-lembaga tradisional syura dan ulama (ahl hall wa al-`aqd)?
Minat utama Abduh ialah membuka kembali pintu ijtihad dalam semua aspek kehidupan sosial dan intelektual. Karena agama merupakan bagian utama dari eksistensi manusia, maka satu-satunya reformasi yang nyata adalah reformasi pemikiran Islam. Apa yang dibawa Jamal al-Din al-Afghani ke Mesir ialah gagasan tentang panfsiran modern tentang Islam yang kemudian menjadi perhatian penuh Abduh. Kombinasi antara rasionalisme klasik dan kesadaran sosial-politik modern diadopsi oleh Abduh. Kombinasi ini membuatnya mungkin untuk memperkenalkan penafsiran semi rasional atas Al-Qur’an. Kontribusi Abduh yang paling penting adalah pernyataannya bahwa Al-Qur’an tidak dimaksudkan untuk menjadi kitab sejarah. NarasiAal-Qur’an karena itu, tidak mesti dipandang sebagai dokumen sejarah. Peristiwa-peristiwa sejarah yang disebut dalam narasi Al-Qur’an disajikan dalam gaya sastra untuk menyampaikan pelajaran tentang peringatan dan nasihat. Berkenaan dengan kisah-kisah dalam Al-Qur’an, Abduh, dengan sangat jelas membedakan antara historiografi kisah-kisah Al-Qur’an. Historiografi adalah bidang ilmiah yang didasarkan atas pencarian dan penyelidikan kritis terhadap data yang tersedia, seperti laporan-laporan, kesaksian, ingatan, dan buktik-bukti geografis atas material (Abduh, tth. Vol. 5: 30). Dengan kata lain, kisah-kisah Al-Qur’an adalah sarana untuk menyampaikan tujuan-tujuan etis, spiritual dan keagamaan. Kisah-kisah bisa berdasarkan pada peristiwa sejarah, namun tujuannya bukan untuk menyediakan pengetahuan tentang sejarah.
Abduh jelas menentang metode tafsir klasik yang menjelas-kan tentang hal-hal yang mubhamat. Pentingnya sebuah kisah tidak tergantung pada pengetahuan tentang kisah itu sendiri, namun pada pelajaran yang dapat diambil darinya. Semua
ayat-ayat dalam Tafsir al-Manar kemudian dikutip oleh Khalafallah dengan maksud untuk memperkuat argumentasinya dalam per-soalan berikut ini.
Khalafallah, dengan bersandar pada perbedaan dalam teori sastra antara sejarah dan kesusastraan, mengembangkan pembedaan yang jelas antara sejarah dan Al-Qur’an. Yaitu fakta bahwa Al-Qur’an berhadapan dengan bangsa Arab pagan pada abad ke-7. Apa pun yang tampak irasional dan bertentangan dengan logika dan sains dalam Al-Qur’an dipahami sebagai refleksi visi bangsa Arab tentang dunia. Figur-figur dalam sastra yang berbicara dengan menggunakan metafora dan alegori sebagaimana digunakan dalam Tafsir al-Manar, adalah untuk menyajikan penjelasan rasional bagi seluruh peristiwa dan tindakan mukjizat yang disebut dalam Qur’an. Semua ayat Al-Qur’an yang merujuk kepada takhayul seperti sihir, mata syetan, atau sentuhan syetan, adalah untuk menjelaskan ekspresi bangsa Arab tentang apa yang mereka percayai. Ayat-ayat Al-Qur’an yang bicara tentang mengirim malaikat turun dari surga untuk melawan kekafiran dijelaskan oleh Abduh sebagai ungkapan dukungan bagi orang-orang beriman agar mereka berjuang memperoleh kemenangan (Tafsir al-Manar, vol. 1, 19-21, 210-11, 215). Apa yang sudah dikemukakan oleh Abduh ini, kemudian dikembangkan oleh Taha Husayn dan Amin al-Khuli.
Taha Husayn sangat menekankan dimensi estetika gaya al-Qur’an yang sangat unik dan asing; i`jaznya menampilkan genre sastra itu sendiri. Sebagai seorang sejarawan sastra dan kritikus sastra, ia mengklaim bahwa al-Qur’an bukanlah puisi maupu prosa; ia adalah al-Qur’an. Lebih lanjut, Husayn memahami kisah al-Qur’an berkaitan dengan kedatangan Ibrahim, istrinya Hajar, dan anaknya Ismail ke Mekkah, sebagai suatu narasi
oral yang telah ada sebelum wahyu al-Qur’an turun. Husayn (1996: 33-35) menyatakan bahwa kisah ini telah ditemukan jauh-jauh hari sebelum wahyu al-Qur’an. Kisah ini bertujuan untuk menghapuskan ketegangan antara bangsa Arab pagan, penduduk pribumi Yathrib, dan suku-suku Yahudi yang datang untuk bermukim di kota ini. Al-Qur’an mempergunakan kisah bukan hanya mensituasikan Islam dalam konteks tradisi Yahudi-Kristen, bahkan juga untuk memapankan prioritasnya sebagai agama monoteistik. Pandangan Husayn di sini menekankan bahwa kisah tersebut tidak harus dipahami sebagai sarana menyampaikan realitas historis sesuai dengan asumsi-asumsi tentang situasi kebahasaan di semenanjung Arabia telah diterima tanpa persoalan.
Karya-karya Ahmad Amin tentang sejarah perdaban Islam merupakan contoh lain kecenderungan baru kesarjanaan dalam institusi akademik. Mempertimbangkan kembali sejarah Islam secara keseluruhan, biografi Nabi khususnya, dari perspektif kritis secara terbatas dipengaruhi oleh minat sejarah abad ke-19, khususnya sejarah Islam dan kehidupan Nabi. Biografi Nabi yang ditulis oleh Muhammad Husayn Haykal (1888- 1956) dan Taha Husayn dipandang sebagian sarjana Muslim salah satu alasan di balik perubahan besar dalam level diskusi tentang kehidupan Nabi. Diskusi ini berpindah secara signifikan dari konfrontasi menuju dialog.