• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keesaan Tuhan

III. Cemburu Tuhan

Shema tidak memberi ruang bagi umat untuk berbagi kasih dengan ilah lain, sebab menyembah ilah lain berarti tidak setia dan membangkitkan cemburu Tuhan (bdk. McBride). Keesaan Tuhan bukan kesetiaan buta. Apabila Kitab Ulangan memakai metafora kasih untuk relasi umat dengan Tuhan, Kitab Hosea memakai metafora pernikahan (Reuter, 54). Tuhan meminang (memilih sebagai) umat untuk suatu hubungan eksklusif.

Aku akan menjadikan engkau istri-Ku untuk selama-lamanya dan Aku akan menjadikan engkau istri-Ku dalam keadilan dan kebenaran, dalam kasih setia dan kasih sayang. Aku akan menjadikan engkau istri-Ku dalam kesetiaan, sehingga engkau akan mengenal TUHAN. (Hos. 2:18-19)

Eksklusivitas relasi umat dengan Tuhan memunculkan metafora cemburu Tuhan (jauh lebih banyak dalam PL daripada PB).

Dalam PL, cemburu dikaitkan langsung dengan Tuhan, tujuh kali dalam ungkapan ’el qanna’ (Kel. 20:5//Ul. 5:9; Kel. 34:14; Ul.

4:24; 6:15 “Allah yang cemburu”; Yos. 24:19; Nah. 1:2 ’el qanno’) dan empat kali qin’at yhwh (Ul. 29:20; 2Raj. 19:31; Yes. 37:32

“cemburu TUHAN”; Yes. 9:6 “kecemburuan TUHAN”).6 Lebih sekadar atribut, cemburu adalah esensi YHWH (Kel. 34:14 šěmo ’el qanna’ “nama-Nya Cemburuan”).7

Tempat terbaik untuk memahami cemburu Tuhan adalah kali pertama metafora itu disebut terkait Perintah Pertama dan Kedua Dekalog (sembahlah YHWH dengan cara benar).

Akulah TUHAN, ’elohim-mu ... yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir ... tempat perbudakan:

6 Ada juga bentuk verbalnya (Yl. 2:18 “TUHAN menjadi cemburu”; Mzm. 78:58

“membuat Dia cemburu”). Hanya sekali “cemburu Tuhan” (1Kor. 10:22) dalam PB dengan makna sejalan dengan PL (bdk. Rosner).

7 Sufiks pronominal di sini menegaskan relasi eksklusif umat Israel dengan YHWH (Reuter, 54).

64 jangan membuat bagimu patung atau rupa apa pun (pesel wĕkol-tĕmuna) yang ada di langit atas, di bumi bawah, atau di air bawah bumi

jangan ada padamu ’elohim lain di hadapan-Ku ... sebab Aku, TUHAN ...

Allah yang cemburu. (Kel. 20:2-5//Ul. 5:6-9)

Karena Tuhan tak identik dengan representasi fisik apa pun, umat dilarang membuat patung (pesel; LXX eidolon; Ing. idol) sebagai representasi Tuhan, apakah itu dipahat dari kayu, batu, atau logam. Sebutan khusus untuk patung dari logam adalah masseka (Ul. 27:15; bdk. *Kel. 34:17 ’elohe masseka “ilah-ilah dari logam”), ilah dari perak atau emas (Kel. 20:23 ’elohe kesep we’lohe zahab).

Untuk rupa fisik biasanya dipakai kata Ibrani tĕmuna (Ul. 4:12;

Ayb. 4:16 “sosok”) atau pane (Est. 1:14; Ams. 16:15 “wajah”).

Namun, rupa (Bil. 12:8) atau wajah Tuhan (Mzm. 34:17) tak

“menyerupai apa pun yang ada di langit ... di bumi ... atau ... di bawah bumi” (Kel. 20:4). Hal “melihat” Tuhan juga tak diikuti deskripsi fisik (Kel. 24:10-11; Yes. 6:1), mungkin karena maksudnya Tuhan berkenan ditemui sebagaimana Tuhan menyembunyikan wajah-Nya berarti tak berkenan untuk ditemui (Ayb. 13:24; Mzm. 27:9; 30:7; 44:24; 88:15; 104:29; Yes. 64:7).8

YHWH secara kualitatif berbeda dari ciptaan-Nya, sekaligus membedakan-Nya dari sembahan politeisme. Menyembah YHWH dalam bentuk patung sama dengan membandingkan Sang Pencipta dengan sesuatu dari dunia ciptaan, menurunkan derajat Dia yang tak terlihat menjadi terlihat, Dia yang sempurna menjadi yang tak sempurna. Dalam PL, teofani pun dalam sosok tersembunyi, tak tertangkap jelas (the elusive Presence). Alam semesta pun tercipta oleh kuasa firman Tuhan (fiat creation; bdk. Kej. 1:3 “jadilah terang”; Vg fiat lux). Abraham pergi ke tempat yang belum diketahuinya juga karena petunjuk firman Tuhan (Kej. 12:1-4).

Maka, menyembah patung adalah sebuah cara penyembahan yang keliru untuk Tuhan yang menyatakan diri dengan berfirman, tak terlihat tetapi terdengar (Ul. 4:15).

Perintah Kedua relevan dengan kecenderungan orang Israel untuk membayangkan yang disembahnya dalam suatu rupa

8 Dari alam semesta hanya samar-samar dapat dilihat kuasa dan sifat-sifat Tuhan (Rm. 1:20).

65 bentuk, seperti banyak sembahan orang Mesir. Patung anak lembu emas sering dipahami sebagai representasi salah satu dewa Mesir.9 Di Timur Tengah kuno, lembu melambangkan keilahian, kepemimpinan, kekuatan, vitalitas, atau kesuburan. Namun, sering juga patung dewa didirikan di atas patung lembu (tingginya melebihi manusia), hewan yang ada hubungannya dengan atribut dewa yang berdiri di atasnya. Maka, mungkin patung lembu emas hanya berfungsi sebagai alas untuk Tuhan yang tanpa bentuk (Sarna 1991, 202f). Itu sebabnya Harun tak memperlakukan patung anak lembu emas untuk disembah, melainkan hanya sebagai representasi Tuhan yang hadir di antara mereka dan berjalan di depan mereka, seperti pernyataannya kepada bani Israel, “Inilah Allahmu yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir”

(Kel. 32:8). Meski patung itu hanya sebuah representasi, Tuhan menolak representasi itu.

Lima kali frasa “Allah yang cemburu” (’el qanna’) menjadi bagian dari konteks larangan menyembah ilah lain (Kel. 20:4-5//Ul. 6:14-15; Kel. 34:14; Ul. 4:23-24; 5:9). Alasan teologis larangan itu adalah Israel ada sebagai umat karena pembebasan Tuhan dalam peristiwa Eksodus. Namun, tak seperti kasih, cemburu berkonotasi negatif (pencemburu, cemburu buta, iri, perasaan tak senang atas kebaikan yang dimiliki atau dialami orang lain). Metafora cemburu Tuhan dianggap menurunkan derajat Tuhan.10 Di dunia manusia, memang tipis dinding antara cinta dan cemburu. Cemburu berasal dari relasi cinta di dalamnya yang satu merasa memiliki pasangannya secara eksklusif. Akar kata Ibrani untuk cemburu adalah qn’ dan secara fonologis sama dengan akar qnh (memiliki). Untuk manusia, qn’ terutama diasosiasikan dengan perasaan kuat mempertahankan sesuatu yang menjadi haknya, bentuknya bisa cemburu atau marah (Reuter, 49).11 Bandingkan TNK untuk cemburu Tuhan ayat (Kel.

9 Dewi Hathor (bentuknya sapi) melambangkan dewi cinta, kecantikan, dan musik.

10 Cemburu (Yun. zeloo) dalam PB dipertentangkan dengan kasih (1Kor. 13:4

“kasih itu ... tidak cemburu”; bdk. Kis. 7:9; 17:5; Yak. 4:2 “iri hati”). Nissim Amzallag menilai secara semantik terjemahan “cemburu” untuk Tuhan tidak tepat, dibantah secara semantik oleh Matthew Schlimm.

11 Menjelaskan kerancuan tulisan (Yeh. 8:3 haqqin’a hammaqne “cemburuan, yang menimbulkan cemburu itu”; Ezr. 7:17 tiqne’ “membeli”). Akar qnh

66 34:14; 20:5//Ul. 5:9 “impassioned”; Nah. 1:2 “passionate”; Mzm.

79:5 “indignation”; Yeh. 36:5 “wrath”; NIV “zeal”). Kata Ibrani qin’a untuk manusia dalam konteks suami-istri adalah “cemburu”

(Ams. 6:34; Kid. 8:6 “jealousy”, JPSV, KJV, NIV, RSV) dan untuk Tuhan “nyala cinta” (Mzm. 119:139; TNK, NAB “rage”; JPSV, NIV, NJB, N/RSV “zeal”).

Konotasi negatif cemburu manusia tak berlaku untuk cemburu Tuhan yang menggambarkan respons afektif kepada umat yang sudah berubah setia meski kedua pihak sudah terikat perjanjian amat kuat. Cemburu Tuhan dibaca dalam konteks diri-Nya “tak mau disamakan dengan apa pun” (*Kel. 20:5//*Ul. 5:9).

Ia akan bertindak dengan hukuman serius apabila perjanjian sakral itu dikhianati. Cemburu Tuhan adalah reaksi-Nya saat menghukum umat yang mencobai-Nya. Hukuman itu bukan tujuan melainkan cara memperbarui kehidupan umat. Metafora itu membangkitkan tanggung jawab umat untuk memelihara relasi eksklusifnya dengan Tuhan sekaligus adil dalam relasi dengan sesama. Kewajiban vertikal tak boleh terpisah dari kewajiban horizontal untuk berlaku baik dan adil kepada sesama (Buber, 203-8).12