• Tidak ada hasil yang ditemukan

Alam Semesta

C. Cemburu Suami

V. Unsur-unsur (non)Patriarki

Meski Alkitab dalam keyakinan gereja diilhami Tuhan secara dinamis, sebagai sebuah tulisan, Alkitab merupakan sebuah karya sastra yang tak terpisah dari budaya zaman kuno di Timur Tengah.

Dalam budaya itu, tubuh perempuan bukan milik sendiri, selalu di bawah kuasa laki-laki, ayahnya (sebelum menikah) atau suaminya (sesudah menikah). Hukum dan aturan dalam PL sedikit banyak dari perspektif nilai-nilai patriarki, yang terbawa ke dalam PB.

Agama Yahudi dan Kristen meneguhkan nilai-nilai itu (Moltmann-Wendel and Moltmann, 112).

Dalam kepungan nilai-nilai patriarki, kehadiran sedikit teks dalam narasi penciptaan yang menegaskan kesetaraan atau prinsip depatriarki merupakan upaya kecil mengoreksi dominasi patriarki (bdk. Emmerson). Namun, teks preskriptif hanya arus kecil dalam arus besar patriarki dan bias gender. Meski pengaruhnya lemah, prinsip depatriarki menantang dan melampaui patriarki (Trible, 966). Menurut Hans Küng (h. 30), monoteisme tak harus melahirkan budaya patriarki yang sebenarnya sebuah ciri pramodern, tetapi memang ketika monoteisme dan pramodernisme bersekutu, budaya patriarki menjadi agresif dan mereduksi kodrat perempuan ke wilayah domestik (melahirkan dan membesarkan anak, mengurus rumah tangga, dengan suami sebagai kepala rumah tangga). Dalam budaya patriarki seperti itu, perempuan belum dihargai sepenuhnya sebelum bersuami atau melahirkan.

Penekanan sifat-sifat feminin membatasi peran perempuan di wilayah domestik, tidak melihatnya sebagai makhluk dengan potensi membangun dan memimpin. Fenomena sosial itu adalah konstruksi budaya patriarki (bdk. Utami).

Reinterpretasi teks mendekonstruksi pembacaan lama untuk memperlihatkan kodrat perempuan bukan subordinat laki-laki.

177 Fakta kultural patriarki terlihat dari teks-teks terkait kenajisan, nilai tebusan. Demikian pendukung patriarki di lingkungan gereja memaknai subordinasi istri (perempuan). Di Indonesia, superioritas suami dilestarikan dengan statusnya sebagai kepala rumah tangga (istri sebagai ibu rumah tangga), meski istri sebenarnya lebih menguasai permasalahan rumah tangga dan layak menjadi kepalanya.

Dalam PL dijumpai stigmatisasi perempuan sebagai sumber kenajisan terkait gejala biologis normal tubuh perempuan. Untuk terhindar dari menjadi najis, pria dilarang menyentuh perempuan yang sedang haid (Im. 15:19-24). Dalam masyarakat kuno, ada tiga faktor yang membuat seorang perempuan jarang mendapat haid: nikah dalam usia puber, masa menyapih yang lama, dan memiliki banyak anak. Yang sering haid adalah perempuan muda yang belum menikah. Hukum kenajisan terkait haid mungkin untuk memperingatkan pria muda agar dalam pergaulan dengan perempuan muda tidak sampai jatuh ke dalam hubungan yang tak diperkenan Tuhan (Wenham 1979, 224).

Kelahiran pun dikaitkan sebagai sebuah peristiwa perempuan. Secara konsisten, peristiwa kelahiran digambarkan dengan tangan bayi yang lebih dulu keluar (Kej. 25:26; 38:28-30).

Biasanya kepala dulu yang keluar, diikuti leher, bahu satu per satu, tubuh atas beserta tangan dalam posisi lurus ke arah kaki di samping tubuh. Hanya dalam sedikit kasus, pantat dulu yang keluar, diikuti tangan dan kaki. Namun, tidak pernah tangan dulu yang keluar. Catatan ini memperlihatkan minimnya pengetahuan para penulis Alkitab (maskulin) tentang pengalaman perempuan melahirkan, sementara mereka mengenal baik kelahiran ternak karena bagian pekerjaan mereka sehari-hari sehingga anak domba atau sapi digambarkan terlahir dengan kaki depan yang lebih dulu keluar (bdk. Viezel). Minimnya pengetahuan laki-laki kuno tentang proses kelahiran anak ditambah lagi dengan ketidakhadirannya dalam proses itu, sebab yang hadir biasanya hanya kaum perempuan (bdk. 1Sam. 4:20) atau bidan (bdk. Kej.

35:17; 38:28; Kel. 1:15-21). Laki-laki di luar kamar menunggu sampai orang memberitahukan kepadanya anak sudah lahir disertai gendernya (bdk. Yer. 20:15). Ketidakhadiran laki-laki di

178 sisi istrinya saat melahirkan karena peristiwa kelahiran dianggap mengandung unsur najis, demikian ritus penyucian sesudah melahirkan (Im. 12).

Lama masa penahiran ibu yang baru melahirkan tergantung gender bayi.

Kelahiran Masa penahiran pertama Masa penahiran kedua laki-laki 7 hari (sunat hari ke-8) + 33 hari

perempuan 14 hari + 66 hari

Secara eksplisit, tak dijelaskan alasan perbedaan lama proses penahiran kecuali lantaran perbedaan gender. Ada tafsir hendak menepis bias gender teks ini dengan merujuk nilai kurban penghapus dosa untuk melahirkan anak laki-laki atau perempuan sama: seekor domba berumur setahun sebagai kurban bakaran atau seekor anak burung merpati atau burung tekukur jika dari keluarga miskin (Kaiser 1983, 206). Sunat hari ke-8 dibaca sebagai faktor berkurangnya masa najis melahirkan anak laki-laki menjadi separuh (40 hari) dari periode normal (80 hari). Sunat sendiri secara teologis sebuah tanda lahiriah untuk keturunan laki-laki sebagai simbol relasi perjanjian dengan Tuhan (Kej.

17:10-12). Praktik sunat biasa dalam banyak kultur kuno, bahkan sebagian memberlakukan juga untuk perempuan (ODJR, 161).

Dalam PL, sunat tak berlaku pada perempuan. Secara psikologis dan medis, sunat perempuan jika tidak hati-hati bisa berdampak baik langsung maupun jangka panjang (bdk. Munir). Dampak langsung adalah rasa sakit, pendarahan, syok, tertahannya urine, luka pada jaringan sekitar. Dampak jangka panjang adalah timbulnya kista dan abses, keloid dan cacat, rasa sakit saat hubungan seksual, kesulitan saat melahirkan. Karena itu, pemerintah Indonesia melalui Menteri Kesehatan sudah melarang rumah sakit melakukan praktik sunat perempuan.

Tidak jelas apakah pertimbangan kemanusiaan sudah masuk dalam PL, yang jelas ibu menanggung beban ritual berbentuk masa penahiran lebih lama.

Menurut catatan Alkitab edisi studi New Geneva Study Bible, mungkin bayi perempuan berpotensi menjadi ibu sehingga ibu yang melahirkan bayi perempuan lebih najis daripada ibu yang

179 melahirkan bayi laki-laki. Pendapat lain, bayi perempuan nanti mengeluarkan cairan darah dalam proses menstruasi dan dalam melahirkan, sedangkan darah adalah wahana pembawa kecemaran yang darinya orang perlu ditahirkan melalui suatu ritus (Harrison, 135; Wenham 1979, 188; Hartley 1992, 168;

Paterson, 174). Meski tak dilarang untuk berpartisipasi dalam ritus keagamaan (Ul. 12:12; 31:12), perempuan sebagai peserta ibadah berstatus inferior dibandingkan laki-laki. Inferioritas itu terlihat dari aturan-aturan ibadah yang diskriminatif karena dirumuskan kaum laki-laki (Bloesch, 41). Jauh lebih buruk lagi, perempuan yang dianiaya harus pasrah tanpa perlindungan hukum yang memadai (Kej. 19:8; Hak. 11:29-40; 19:1-30; 2Sam.

13:1-22).

Meski orang bisa mempersembahkan anggota keluarganya (Samuel) dan perempuan bisa bernazar mempersembahkan diri (Bil. 30), kaum Lewi dikhususkan untuk pelayanan Bait Suci.

Hukum Taurat memelihara tradisi kuno itu dengan nilai tebusan yang berbeda-beda sesuai usia dan gender (Im. 27:1-8).

Usia Laki-laki Perempuan

di atas 60 tahun 15 syikal 10 syikal 20-60 tahun 50 syikal 30 syikal 5-20 tahun 20 syikal 10 syikal 1 bulan-5 tahun 5 syikal 3 syikal

Orang tidak harus secara fisik menyerahkan diri dan nazarnya dapat dibayar dengan “uang tebusan jiwa menurut penilaian yang berlaku untuk seseorang”, yang termasuk persembahan kudus untuk mendanai perbaikan kerusakan Rumah Allah (2Raj. 12:4).

Usia produktif untuk tugas itu adalah 20-60 tahun dan itu nilai harga tebusan tertinggi dibandingkan dengan anak-anak, dengan orang yang berusia 5-20 tahun, dan dengan orang yang berusia di atas 60 tahun. Usia wajib melakukan pekerjaan di Rumah Allah adalah 30-50 tahun (Bil. 4:3, 23, 39). Daripada membicarakan nazar tentang orang (Im. 27:2), teks kita sebenarnya berbicara tentang nazar nilai tebusan seseorang (TNK, NJB). Memang perbedaan nilai tebusan dikarenakan jenis pekerjaan di Rumah Allah di antaranya menyangkut pekerjaan kasar yang

180 mengandalkan kekuatan fisik seperti membunuh dan mengurbankan hewan, sehingga wajar jika gender menjadi bahan pertimbangan (Kaiser 1983, 206f). Namun, tak semua pekerjaan di Rumah Allah bergantung pada kekuatan fisik sehingga dapat dikatakan teks ini bias gender dan mengasumsikan produktivitas laki-laki lebih daripada perempuan (Levine, 193).

Tak dimungkiri, PL bukan kitab ramah perempuan (bdk.

Wahid). Kepemimpinan diklaim sebagai milik laki-laki, baik di keluarga maupun lingkungan agama, lebih buruk jika dibandingkan dengan bangsa lain (de Vaux 1997, 39f). Di Mesir, istri sering menjadi kepala rumah tangga. Perempuan Israel tak punya hak waris atas tanah keluarga, kecuali tak ada laki-laki dalam keluarga itu (Bil. 27:1-11; 36:1-9). Kekecualian itu pun tak berarti perempuan punya hak waris atas tanah, hanya agar tanah tak pindah ke suku lain dan tetap di lingkungan sendiri. Perempuan Israel harus menikah “di lingkungan salah satu kaum dari suku ayah mereka” (Bil. 36:9). Di Babilonia, istri bisa memperoleh harta, menuntut secara hukum, menjadi bagian dari kontrak, bahkan memiliki warisan suami. Bangsa Israel tak mengenal perempuan imam, sesuatu yang bisa ditemui pada agama lain.

Meski kepemimpinan perempuan langka, dalam semua periode penting sejarah Israel hadir sosok perempuan yang kadang-kadang mengambil keputusan dengan otoritas yang biasanya dimiliki kaum laki-laki. Semasa kepemimpinan Musa, ada Miriam, kakak Musa (Kel. 15:20). Dalam kapasitas sebagai salah seorang pemimpin umat, ia mempersoalkan apakah Allah hanya berfirman kepada Musa (Bil. 12:2), tak sekeras judul TB “pemberontakan Miryam”.

Meski dalam kasus itu Allah membela Musa dan Miriam dikucilkan dari komunitas karena sakit kulitnya, bangsa Israel tidak berangkat sebelum Miriam bebas dari hukuman pengucilan (Bil. 12:15), pertanda kepemimpinannya diakui (bdk. Mi. 6:4). Semasa periode pemerintahan para šopeṭ (Kitab Hakim-hakim), Debora tercatat sebagai šopeṭ sekaligus nabiah (Hak. 4:4). Semasa periode pemerintahan para melek (Kitab Raja-raja), Nabiah Hulda mengesahkan keaslian nubuat dari gulungan kitab suci yang ditemukan (2Raj. 22:14-20//2Taw. 34:22-28), secara tak langsung memulai konsep firman dalam bentuk kitab (Trible, 965). Efek

181 tindakan Hulda adalah reformasi keagamaan semasa Raja Yosia.

Istri Nabi Yesaya juga tercatat sebagai nabiah (Yes. 8:3 hanněbi’a;

“the prophetess”). Pascapembuangan, ada Nabiah Noaja musuh Nehemia (Neh. 6:14), tetapi tak banyak diketahui tentang nabiah itu. Total lima nabiah.

Kendati dominasi patriarki, terselip juga unsur-unsur nonpatriarki dalam Kitab Kejadian (Teubal, 53-64). Tak jelas apakah itu kultur matriarki, yang jelas ada fenomena sosial yang tak lazim dalam patrilineal (sistem kekeluargaan yang pertalian anggotanya menurut garis pria atau bapak). Dalam sistem matrilineal, yang dianggap saudara kandung adalah anak-anak satu ibu (uterine siblings), dengan ayah sama atau berbeda.

Pertama, adik dapat lebih penting dari kakak sulung dan mewakili orang tuanya. Us anak sulung dan Betuel adalah adiknya (Kej. 22:21), tetapi Abraham berbesan dengan keluarga Betuel (Kej. 24:15). Yakub lebih menonjol dan menjadi cikal bakal Israel, padahal Esau adalah kakak kembarnya (Kej. 25:25-26). Ruben anak sulung Lea dan Yehuda adiknya yang ketiga (Kej. 29:32-35), tetapi Yehuda menjadi leluhur Dinasti Daud (1Taw. 2:1-15). Yusuf anak sulung Rahel dan Benyamin adiknya (Kej. 30:23-24; 35:18), tetapi Benyamin terpilih sebagai leluhur Saul, raja pertama di Israel (1Sam. 9:1-2). Efraim anak sulung Yusuf dan Manase adiknya, tetapi Manase menerima berkat dari Yakub (Kej. 48:14).

Kedua, istri dapat berperan sebagai penentu. Rahel dan Lea memutuskan siapa di antara mereka akan tidur dengan Yakub (Kej. 30:15-16). Keduanya berhak menamai anak, termasuk anak dari pelayan yang diberikan kepada Yakub (Kej. 29:31-30:24).

Rahel berani mengambil terafim, semacam jimat keluarga (Kej.

31:19). Rahel dan Lea berhak atas warisan. Ini tidak biasa pada zaman Musa. Anak perempuan tidak memperoleh warisan, kecuali tidak ada anak laki-laki. Laban memiliki beberapa putra (Kej. 30:35; 31:1).

Ketiga, kisah perempuan pemberani, tak hanya menjadi objek pasif keputusan yang dibuat laki-laki, penting untuk dicatat meski sedikit dan tak mengubah kultur patriarki. Bidan-bidan Israel melakukan pembangkangan sipil melawan perintah Firaun, representasi titisan dewa maskulin (Kel. 1:15-21). Seorang ibu

182 menyusun rencana cerdik untuk menyelamatkan bayinya yang kemudian dikenal sebagai Musa (Kel. 2:1-10). Betapa cerdiknya perempuan bijak dari Tekoa (2Sam. 14:1-20) dan Abel (2Sam.

20:14-22). Rut janda mandiri dalam mencari nafkah dan menjadi berkat bagi ibu mertuanya yang miskin.

183

7 Dosa

“Hanya ketika membunuh itu saja dia tak merasa bahwa dia berdosa.

Tetapi bila orang sudah lepas dari rangsangan, dosa itu tetap memburu-buru dalam ingatan. Dan ini akan menambahi kehebatan sakitnya.”

(Pramoedya, Mereka yang Dilumpuhkan, 62)

Apa itu dosa dan bagaimana solusinya merupakan pokok ajaran penting setiap agama meski didefinisikan berbeda-beda.

Agama Kristen juga tertarik menjelaskan asal-usul dosa dari narasi penciptaan tetapi dengan formulasi teologi sistematika.

Dari ungkapan Paulus tentang manusia pertama “jatuh ke dalam dosa” (1Tim. 2:14 parabasis; NJB “fell into sin”; tetapi KJV, NASB

“transgression”; BIMK “melanggar perintah Allah”),1 berkembang ajaran tentang kejatuhan manusia ke dalam dosa (Ing. Fall; Jer.

Sündenfall). Sesuai gaya tulisannya, Kejadian 3 lebih tepat dibaca dari perspektif teologi naratif (Preuss, II.171f). Dosa serta konsekuensinya digambarkan secara kronologis dalam bentuk narasi yang bercampur unsur-unsur etiologis dan psikologis (Smith 2018, 216, 219). Tidak seperti Kejadian 2 yang menggambarkan relasi ideal suami-istri sesuai desain penciptaan, Kejadian 3 menggambarkan realitasnya di dunia patriarki (Schüngel-Straumann, 4-7).