• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keesaan Tuhan

IV. Monoteisme Perjanjian Lama

Monoteisme (monotheism; Yun. monos “tunggal, esa, wahid”;

theos “Tuhan”), terbilang kosakata modern, pertama kali dipakai oleh Henry More (1614-1687), filsuf Inggris beraliran Platonisme.

Biasanya monoteisme dipahami sebagai kontras ateisme atau politeisme, bahkan dalam studi perbandingan agama sempat berkembang pandangan bahwa monoteisme (dalam bentuk primitif) merupakan asal mula agama-agama. Sebagai kontras paham yang tak mengakui realitas ilah apa pun, monoteisme mengakui dan menyembah hanya satu ilah dalam wujud person.

Sebagai kontras paham yang mengakui realitas ilah lebih dari satu atau banyak, monoteisme tak hanya berbeda secara berarti memperoleh (Kel. 15:16; Mzm. 78:54; Ams. 15:32; 16:16; bdk. Yes.

1:3 qone “pemilik”), dengan gagasan kepemilikan yang kuat sehingga juga berarti membeli (Kej. 25:10) dan mencipta (Ul. 32:6).

12 Untuk cemburu Tuhan, bahasa Inggris membedakan antara zeal dan jealous.

67 kuantitatif (jumlah yang disembah), tetapi juga kualitatif (transendensi Tuhan mengatasi alam semesta).

Karena Tuhan PL tanpa istri atau ilah lain yang ikut disembah, awalnya berkembang anggapan bahwa bapak leluhur Israel menganut monoteisme seperti dalam pemahaman modern.

Kemudian, berkembang anggapan bahwa monoteisme lebih merupakan klimaks perkembangan agama Israel, sebagaimana monoteisme dalam studi perbandingan agama lebih merupakan tahap akhir (bentuk tertinggi) perkembangan agama secara evolusioner.13 Dari dukungan fakta-fakta arkeologis, kini para ahli PL (sebagiannya termasuk kalangan konservatif) mengakui orang Israel di Kanaan tak bebas dari pengaruh politeisme. Sejauh pengaruh itu positif bagi perkembangan agama Israel, terjadi akomodasi; sejauh negatif dan melegitimasi penindasan atau ketidakadilan, terjadi oposisi (Goldingay & Wright).

PL pada umumnya memperlihatkan bangsa Israel dan bapak leluhurnya menyembah satu ilah secara eksklusif, tetapi belum sampai menyangkal realitas sembahan bangsa-bangsa lain.14 Sejauh ini, ada dua penelitian penting terkait sembahan bapak leluhur Israel. Pertama, penelitian berdasarkan kritik tradisi yang dipelopori Albrecht Alt dan temuan adanya kemajemukan tradisi bapak leluhur tetapi tradisi-tradisi itu hidup berdampingan.

Kedua, penelitian berdasarkan studi perbandingan agama yang dipelopori Frank M. Cross dan temuan jejak-jejak iman bapak leluhur (Kej. 12-50), bahwa ada perkembangan agama Israel sebelum akhirnya menjadi monoteisme.15 Praktik monolatri sudah mulai dengan bapak leluhur dan dalam praktiknya mudah bergeser menjadi sinkretisme sehingga ilah lain ikut disembah (Vriezen, 75-77). Karena itu, Yosua dalam pidato perpisahannya mengingatkan bangsa Israel untuk tidak mengikuti sembahan lain

13 Küng, 27-30; Smith 2002; Levenson 1994, 131-39.

14 Rowley 1961, 71-73; LaSor, I.162; Craigie 1976, 169; Kaufmann, 23f; de Vaux 1978, 266-87.

15 Politeisme memiliki rasionalitasnya sendiri. Bangsa-bangsa kuno tak hanya perlu menang perang. Kekeringan hebat dapat menghancurkan perekonomian dan kehidupan bangsa, sehingga mereka menyembah banyak ilah yang masing-masing memiliki kekhususan sesuai keperluan hidup manusia. Ada dewa penguasa hujan, kesuburan (tanah, perempuan), laut, peperangan, dst. Semua dewa relevan untuk disembah.

68 (Yos. 24:14 ’elohim; ay. 2 ’elohim

’aḥerim), seperti sembahan bapak leluhur mereka ketika masih politeis di seberang Sungai Efrat.16

Dalam bahasa Asyur-Babilonia, uri (atau urim dalam bahasa Sumeria) berarti kota. Kasdim sebenarnya nama suku bangsa,17 sehingga Ur-Kasdim berarti Ur tempat (yang dihuni) orang Kasdim. Ur (Tell el-Miqayyar), sebuah kota-kerajaan yang terkenal pada milenium ke-4 SM, di selatan Mesopotamia (Kerajaan Babilonia), selatan Irak (± 320 km tenggara Baghdad), dekat bagian utara garis pantai Teluk Persia. Dari banyak catatan peninggalan tentang Ur, penyebutan orang Kasdim di selatan baru sekitar awal milenium pertama Sebelum Masehi, sebagai kelompok berkuasa pada abad ke-7 dan ke-6 SM di era neo-Babilonia (626-539 SM). Abraham sendiri digambarkan hidup pada abad ke-19 atau ke-18 SM. Karena itu, Ur ini mungkin bukan yang di selatan, melainkan yang di utara (ada beberapa situs di utara Mesopotamia bernama Ur), juga didirikan orang-orang Kasdim yang kemudian mendirikan Ur di selatan (Sarna 1989, 87). Ur yang di utara (16 km utara Suriah, berbatasan dengan Turki, di kiri Sungai Balik), jauh lebih dekat ke Haran dibandingkan dengan Ur yang di selatan (885 km), didukung kredo tertua Israel (Ul. 26:5-9), yang menerangkan bapak leluhur adalah “seorang Aram” (LXX Syria; Ar. Suriya).

Orang kuno terikat pada tanah kelahirannya, sehingga migrasi bukan suatu kelaziman

selain tak mudah. Alkitab tak menjelaskan alasan migrasi Terah, ayah Abraham,

memboyong keluarga

meninggalkan Ur dengan tujuan

16 Sungai terpanjang (2.800 km) dan paling bersejarah di barat laut Asia (melintasi Irak, Turki, dan Suriah).

17 Bisa juga merujuk negeri (Yer. 50:10; 51:24, 35; bdk. Yeh. 11:24 kaśdima “ke negeri Kasdim”; 23:16 “ke tanah Kasdim”).

69 tanah Kanaan (Kej. 11:31), hanya disebut bahwa perjalanan itu dilakukan setelah kematian Haran, putranya.18 Dalam perjalanan ke Kanaan, Terah sekeluarga sampai di Haran (kini perbatasan Irak-Turki) dan memilih tidak melanjutkan perjalanan, menetap di sana tanpa disebut alasannya.19 Mungkin faktor kesamaan dewa sembahan, sebab kepala dari panteon Kota Haran adalah Sin, dewa bulan, dan Ur dikenal sebagai kota yang penduduknya menyembah Dewa Sin.20 Haran selanjutnya menjadi nama tempat yang penting dalam narasi-narasi bapak leluhur.21 Setelah Terah meninggal, Tuhan berfirman kepada Abraham agar ia pergi ke suatu tanah yang akan ditunjukkan kepadanya disertai sebuah janji bahwa ia akan menjadi bapak sebuah bangsa besar melalui keturunannya (Kej. 12:1-3).

Abraham keluar dari Haran belum berarti putus hubungan dengan politeisme. Dalam agama kuno Israel (sebelum perjanjian di Sinai), wahyu diterima langsung tanpa perantaraan imam atau nabi (Hamilton 1990, 67f). Sembahan bapak leluhur bukan penghuni dunia nun jauh di sana, melainkan cukup dekat sebagai tempat mengadu atau meminta petunjuk saat dibutuhkan, dalam komunikasi sederhana di lingkungan keluarga. Relasi bapak leluhur dengan Tuhan lebih personal (seperti orang Kanaan dengan Ba‘al atau Asyera), belum terikat waktu dan tempat (berbeda dari ilah-ilah Kanaan yang terikat lokasi).22 Mereka cukup membuat mezbah penyembahan di banyak tempat untuk menandai Tuhan telah menyatakan diri kepada mereka di tempat-tempat itu (Kej. 12:7; 22:13; 31:54). Kepercayaan bapak leluhur pada tahap ini langsung terkait kebutuhan hidup sehari-hari sehingga mereka merasa lebih dekat dengan Tuhan

18 Menurut Yosefus, Terah meninggalkan Ur-Kasdim karena tak suka orang Kasdim (Antiq. 1.6.5).

19 Tak ada hubungan antara nama Haran (Ibr. haran) dan Kota Haran (Ibr.

ḥaran).

20 Ada indikasi Kota Haran didirikan oleh Dinasti Ketiga Ur (bdk. Gordon).

21 Meski Tuhan berfirman kepada Abraham di Haran, tradisi Yahudi mengingat Abraham dipanggil Tuhan dari Ur dan tradisi itu berlanjut sampai PB (Kej.

15:7; Neh. 9:7; Kis. 7:2), mungkin karena perjalanan dari Ur ke Haran dipandang sebagai bagian dari rencana Tuhan (Sarna 1989, 89).

22 Ilah teritorial (bdk. Hak. 11:25 Kamos, dewa tanah Moab) kelak berlaku dalam Yahwisme. Di luar tanah Israel, YHWH tak disembah (bdk. 1Sam.

26:19; 2Raj. 5:17).

70 (pelindung) keluarga, yang disembah kepala keluarga, daripada dengan Tuhan (pelindung) suku atau bangsa (Alt, 3-77). Tuhan keluarga lebih berperan terutama dalam soal kesuburan tanah (pangan) dan rahim (keturunan). Sebutan Tuhan pun memakai kata ’ab yang bisa merujuk bapak, kakek (buyut), atau leluhur (Kej. 31:5, 42 “Allah ayahku”; 50:17; 31:29 ’elohe ’abikem “Allah ayahmu”; 43:23 “Allahmu dan Allah bapakmu”; 31:53 “Allah ayah mereka”; Ul. 1:11 ’elohe ’abotekem “Allah nenek moyangmu”).

Bisa juga ’ab yang dimaksud eksplisit (Kej. 31:53 “Allah Nahor”;

26:24 “Allah ayahmu Abraham”; 24:12 “Allah tuanku Abraham”;

28:13 “Allah Abraham, nenekmu, dan Allah Ishak”; 32:9 “Allah nenekku Abraham dan Allah ayahku Ishak”; 31:42 “Yang Disegani oleh Ishak”; 49:24 “Yang Mahakuat Pelindung Yakub”). Formula paling lengkap dengan nama bapak leluhur (Kel. 3:6; 4:5 “Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub”). Meski sudah mengenal YHWH sebagai Tuhan bangsa, orang Israel masih mempertahankan sebutan Tuhan keluarga (1Taw. 12:17; Ezr.

7:27), menegaskan kontinuitas generasi masa itu dengan generasi bapak leluhur, terkait Tuhan yang disembah dan sejarah sebagai bangsa (Ringgren, I.10f). Sembahan bapak leluhur kemudian menjadi sembahan suku (seperti dalam agama suku), sebelum semua suku Israel bersatu sebagai bangsa (pra-Eksodus), sampai akhirnya sembahan bangsa (pasca-Eksodus).

Semasa Musa, terbentuk kesatuan suku-suku Israel. Totalitas keunggulan ilah-ilah lain mewujud dalam sosok YHWH sebagai sumber semua kebutuhan hidup mereka. Monoteisme Musa sering dibaca sebagai produk agama Mesir, dari penyembahan Aton pemuja matahari (berlambang cakram), dengan Akh-en-aton atau Amenhotep IV (±1380-1362 SM) sebagai salah satu pengikut fanatiknya. Namun, monoteisme Akh-en-aton dan monoteisme Musa pada dasarnya berbeda (Anderson, II.428). Dua fakta penting menyangkal pengaruh Mesir dalam monoteisme Musa (Orlinsky, 35). Pertama, penyembahan Aton hanya berlaku di lingkungan keluarga Akh-en-aton dan berakhir sepeninggalnya.

Kedua, Musa merintis penyembahan untuk YHWH saja tanpa menyangkal realitas ilah lain. YHWH diimani sebagai yang utama

71 di antara ilah-ilah.23 Perjanjian di Sinai masih merupakan kelanjutan kepercayaan bapak leluhur.

William F. Albright (1891-1971) menolak kajian PL yang terlalu kritis dan ahistoris (1957, 252-54). Ia mengidentifikasi agama Israel dengan teks Ugarit sebagai bahan kajian utama, diperkuat data arkeologis. Dengan kritik tradisi yang didukung arkeologi dan studi Perbandingan Agama, Albright memperlihatkan bahwa kelompok imam (P) sudah ada semasa prapembuangan sebagai bagian dari kelompok juru tulis kitab suci yang tertarik dengan kronologi, topografi, ritus, dan liturgi.

Mereka memiliki akses ke sumber-sumber sebelumnya. Bahasa dan gayanya secara umum lebih tua daripada Sumber D, tetapi Sumber P dalam daftar sensus

suku-suku Israel (Bil. 2, 26) tak terlalu tua, meski komposisi bentuk finalnya semasa pascapembuangan. Sensus pertama terjadi semasa monarki bersatu, mungkin semasa Daud (2Sam. 24). Sumber P dalam daftar kepala-kepala suku dan

persembahan (Bil. 7) mustahil berasal dari waktu yang lebih kemudian. Albright juga berpendapat, narasi-narasi bapak leluhur awalnya mungkin dari puisi-puisi lisan Zaman Tembaga Tengah, baru kemudian dalam bentuk prosa. Historisitas tradisi Israel sejak Musa diteguhkan bukti-bukti filologis dan arkeologis.

Secara filologis, ada petunjuk bahwa Musa adalah orang Ibrani yang lahir di Mesir dan amat dipengaruhi kultur Mesir. Sesudah abad ke-12 SM, ada nama Mesir Mase (Ibr. moše) dengan lafal mose; satu dua abad sebelumnya lafalnya di Delta mungkin kurang lebih juga begitu.

Frank M. Cross membantah Wright melalui karya monumentalnya Canaanite Myth and Hebrew Epic (1973),24 judul yang sepintas mengikuti dikotomi Wright, tetapi dia sebenarnya

23 Orlinsky, 21-24; Kugel, 243-47.

24 Mite adalah cerita berlatar sejarah dan mengandung hal-hal ajaib, dianggap benar terjadi oleh masyarakatnya.

72 yang pertama menyimpulkan iman Ibrani secara substansial menerima unsur-unsur mite Kanaan. Kesimpulan Cross diperkuat dengan banyak temuan naskah kuno di timur Mediterania (Levant),25 termasuk temuan lempengan-lempengan tanah liat beraksara Ugarit sejak 1929 di Ras Shamra (pesisir Syria). Teks Ugarit berasal dari paruh kedua milenium ke-2 SM dan menjadi sumber informasi cukup detail tentang mite Kanaan sebagai tradisi jauh lebih tua daripada tradisi Ibrani dan tak dapat diabaikan untuk memahami iman luluhur Israel. Narasi eksodus Israel, misalnya, sangat dekat teks-teks tentang Ba‘al dan Anat dalam mite Kanaan. Laut Teberau dapat dibaca sebagai Yam, dewa laut yang biasa ditemui dalam mite Kanaan (Kel. 15:1, 4, 8, 10 yam “laut”). Pemahaman tentang dewa-dewa Kanaan terkait YHWH membantu para ahli untuk memetakan relasi antara agama Kanaan dengan agama Israel.

Ada karakteristik monolatri PL yang kemudian menjadi monoteisme. Pertama, ungkapan-ungkapan yang meninggikan YHWH di atas sembahan lain sekaligus menyatakan superioritas.

siapakah yang seperti Engkau di antara para ilah, ya TUHAN? (Kel.

15:11)

siapakah seperti TUHAN, Allah kita? (Mzm. 113:5) di atas segala ilah dan melebihi segala kuasa (*Ul. 10:17)

dengan siapa hendak kamu samakan Aku, seakan-akan Aku seperti dia? (Yes. 40:25)

Kedua, ungkapan-ungkapan yang menyatakan kebesaran YHWH sebagai Pencipta dan Penguasa seluruh bumi.

yang empunya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit, dan bumi dengan segala isinya (Ul. 10:14)

Allah yang agung ... mengatasi segala dewa (*Mzm. 95:3)

Superioritas YHWH juga digambarkan sebagai penguasa dunia yang juga menuntun orang Filistin keluar dari Kaftor dan orang Aram dari Kir (Am. 9:7). Imperium adidaya Asyur hanya “cambuk

25 Levant adalah wilayah di Asia Barat yang meliputi Lebanon, Suriah, Jordania, dan Palestina (kadang juga termasuk Siprus, Sinai, dan Irak).

73 murka” YHWH untuk menghukum Samaria (Yes. 10:5). Pada abad ke-8 SM, Yahwisme semakin monoteistis meski mungkin masih minoritas di lingkungan nabi seperti Hosea (utara) atau Yesaya (selatan). Ilah-ilah lain dianggap seperti tidak ada artinya karena

“buatan tangan” sendiri (Yes. 2:8; Mi. 5:12), “dibuat manusia”

(Yes. 2:20), “dibuat oleh tukang” (Hos. 8:6; 13:2). Superioritas YHWH bisa membuat sembahan lain seperti tidak ada artinya (Yer. 2:5 hebel; 10:8 habalim “sia-sia”). Perhatikan kemiripan bunyi antara ’elohim dan ’elilim pada ayat berikut, “Segala ilah (’elohim) bangsa-bangsa adalah hampa (’elilim), tetapi YHWH telah menjadikan langit” (Mzm. 96:5; bdk. Yer. 14:14 ’elil

“kosong”; Yes. 10:10 “insignificant,” TNK). Dari situ, ’elilim juga berarti “berhala” (Yes. 2:8, 18; 19:3), berlanjut sampai menjelang akhir monarki dengan ilah lain dianggap sebagai “bukan Allah”

(Hos. 8:6; *Yer. 2:11; *5:7 lo’ ’elohim; Ul. 32:17 lo’ ’eloah). Pada abad ke-7 SM, monoteisme YHWH semakin mapan dan mencapai klimaks semasa reformasi keagamaan oleh Yosia (640-609 SM), raja Yehuda yang memelopori pemurnian agama dan pemusatan tempat ibadah di Yerusalem.

Ketiga, monisme ketuhanan menggambarkan YHWH sebagai asal mula segala sesuatu, baik atau buruk, kehidupan atau kematian, keselamatan atau kemalangan (Ul. 32:39; 1Sam. 2:6-7;

Yes. 45:7; Am. 3:6). Dalam perkembangan agama Yahudi pascapembuangan yang kian monoteistis, segala sesuatu yang buruk tidak lagi diasalkan kepada Tuhan melainkan kepada suatu entitas spiritual terpisah dengan berbagai sebutan (Setan, Mastema,26 malaikat gelap,27 dst.). Atribut dan manifestasi Tuhan pun mengalami personifikasi dengan status semi-independen, juga dengan berbagai sebutan (Hikmat, Firman/memra, peran malaikat semakin penting).

Selanjutnya, agama Israel pascapembuangan semakin monoteistis dan menjadi inti agama Yahudi selanjutnya (Anderson, II.428). Kebanyakan teolog PL sepakat bahwa deklarasi monoteistis dalam PL tak lebih awal daripada Deutero-Yesaya, bahkan diteruskan Trito-Yesaya. Dalam Deutero-Deutero-Yesaya,

26 Malaikat yang menyusahkan manusia dengan kemalangan.

27 Bdk. “malaikat terang” (2Kor. 11:14).

74 patung berhala hanya buatan tangan manusia (bukan realitas), tak bisa melihat, tak tahu apa-apa, tiada gunanya (Yes. 40:20;

41:29; 42:17; 45:16; 46:1; 48:5; 44:9-20). “AKU ADALAH AKU”

(Kel. 3:14) kini meliputi masa lampau, kini, dan akan datang (Childs 2001, 335). Yang membuat monolatri semakin monoteistis adalah universalitas YHWH, “Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang daripada-Ku sampai ke ujung bumi” (Yes. 49:6), agar bangsa-bangsa mengakui, “Hanya di tengah-tengahmu ada Allah dan tidak ada yang lain; di samping Dia tidak ada Allah” (Yes.

45:14).28

Deklarasi universalisme seperti itu biasanya dari bangsa yang memuliakan sembahan yang dianggap telah membuat mereka menang perang. Faktanya, bangsa Israel tak pernah menjadi sebuah kerajaan besar di Timur Tengah kuno, kalah perang dan terbuang.

Kekalahan itu tak membuat jatuh pamor YHWH (yang memang bukan dewa perang), melainkan hukuman atas sebuah bangsa yang seharusnya hanya menyembah YHWH (superioritas Yahwisme atas politeisme), justru kesempatan bagi mereka untuk mengimani kuasa YHWH dalam dimensi seluas-luasnya. Demikian superioritas Yahwisme tanpa benih-benih triumfalisme.

Monoteisme Yahudi selanjutnya eksklusif tetapi ke dalam, bukan ke luar (ekspansif, dalam bentuk yahudisasi). Monoteisme ini yang kemudian memengaruhi peredaksian final Tanakh. Alih-alih sebuah kitab monoteisme, tanakh merupakan kitab hasil proses kompleks dan panjang monoteisasi kaum ortodoks-nasionalis Yahudi pascapembuangan (Scullion, 1041-48).

Menurut catatan Kitab Keluaran, nama YHWH baru dikenal orang Israel sejak Musa terlibat memimpin dalam Eksodus (Kel.

3:14-15; 6:3). Namun, menurut catatan Kitab Kejadian, “orang mulai memanggil nama TUHAN” jauh sebelum Musa, sejak masa Enos (Kej. 4:26). Kedua catatan ini sering dipertentangkan karena memunculkan pertanyaan kapan sebenarnya nama YHWH dinyatakan dan dikenal manusia. Untuk itu, harus diperhatikan bahwa konteks kedua kitab itu berbeda.

28 Bdk. Za. 14:9 “TUHAN akan menjadi Raja atas seluruh bumi; pada waktu itu TUHAN adalah satu-satunya dan nama-Nya satu-satunya”.

75 Konteks penyataan nama YHWH dalam Kitab Keluaran adalah peristiwa khusus dalam sejarah pembentukan Israel sebagai umat. Konteks pemanggilan nama YHWH dalam Kitab Kejadian adalah Sejarah Purba yang isinya berurusan dengan pranata-pranata sosial dan pengalaman-pengalaman manusia secara universal (Kej. 1-11). Karena itu, narator Kejadian mengaitkan pemanggilan nama YHWH itu dengan sosok bernama Enos (bdk. Mzm. 8:5 ’enoš “manusia”), anak Set, keturunan langsung Adam dan Hawa (Kej. 4:25). Dalam konteks Kejadian 4, dua hal perlu dicatat. Pertama, sebelum Enos, Hawa sudah memanggil nama YHWH saat memaknai kelahiran Kain sebagai

“dengan pertolongan TUHAN” (Kej. 4:1). Kedua, ayat-ayat sebelum catatan itu menerangkan asal mula orang tinggal dalam kemah, beternak, bermusik, dan membuat perkakas dari logam (Kej. 4:20-22). Jadi, “orang mulai memanggil nama TUHAN” sejak masa Enos maksudnya orang mulai menyembah secara reguler (bdk. Kej. 9:20; 10:8), mungkin sebatas kumpulan kecil orang di antara pendahulu bapak leluhur (Speiser, 37f), belum penyembahan YHWH oleh Israel secara kolektif (Wenham 1987, 116f). Dalam konteks Kitab Kejadian, bapak leluhur (Abraham, Ishak) “memanggil nama TUHAN” di tempat-tempat sakral dalam arti melakukan penyembahan (Kej. 12:8; 13:4; 21:33; 26:25).

Narator Kejadian hendak mengatakan bahwa sebelum orang Israel menyembah YHWH secara khusus, manusia sebagai makhluk religius dalam Sejarah Purba sudah beragama dengan berbagai cara meski belum terstruktur (Westermann 1984, 339-41). YHWH memang Tuhan orang Israel tetapi juga Tuhan umat manusia, dan relasi manusia dengan YHWH, disadari atau tidak oleh yang bersangkutan, sudah berlangsung jauh sebelum Eksodus (Anderson, II.409).

76

4