Alam Semesta
B. Yerusalem Baru
IV. Hukum terkait Pernikahan
Karena begitu pentingnya tujuan pernikahan, PL mencermati hal-hal yang potensial merusak ikatan suami-istri dan melindungi kesakralan pernikahan dengan berbagai aturan, seperti hukum terkait kegadisan, zina, dan cemburu suami.
A. Kegadisan
Kata Ibrani untuk gadis belia adalah bĕtula. Kata itu mungkin berasal dari akar kata Semit btl yang dalam bahasa Arab berarti memisahkan, dalam arti seorang laki-laki atau perempuan sudah cukup umur untuk suatu hubungan seksual, tetapi belum memiliki pengalaman seksual (Baab, IV.787). Pemahaman itu tampak dari kata Yunani bergender maskulin parthenos (Kej.
24:16). Dalam PB, parthenos diterjemahkan “orang-orang yang belum kawin” (*1Kor. 7:25, RSV, NJB; bdk. ay. 28). Dalam Wahyu
165 14:4, parthenos adalah “orang-orang yang tidak mencemarkan dirinya dengan perempuan-perempuan”.
Kendati demikian, tuntutan kegadisan dalam PL bukan demi kepentingan perempuan melainkan demi kepentingan suami ataupun reputasi kepala keluarga yang tak mampu menjaga miliknya. Isu kegadisan mengatasi isu keperjakaan. Keperjakaan tak dipersoalkan, tetapi tidak demikian dengan kegadisan. Suami berhak mencurigai istrinya sudah tidak gadis lagi ketika kawin dan membawa kasusnya itu kepada tua-tua kota. Apabila sang mertua dapat menunjukkan tanda-tanda kegadisan putrinya (Ibr.
bĕtulim), sang suami akan dihajar oleh tua-tua kota dan denda 100 syikal perak yang diberikan kepada ayah mertua karena suami itu telah merusak reputasi seorang perempuan Israel (Ul.
22:13-21). Apabila kecurigaan suami benar, perempuan itu dibawa ke depan pintu rumah ayahnya dan orang-orang sekota melempari dia dengan batu sampai mati, sebab ia diam-diam melakukan yang jahat dan memalukan bangsanya yakni bersetubuh dengan laki-laki yang bukan suaminya selagi masih dalam kekuasaan (tinggal serumah dengan) ayahnya. Demikian juga hukuman mati berlaku bagi laki-laki yang bersetubuh dengan perempuan yang telah bertunangan.
Untuk laki-laki yang tertangkap basah bersetubuh dengan perempuan yang belum bertunangan atau bersuami, sanksinya jauh lebih ringan (Ul. 5:28-29). Ia wajib mengawininya dengan membayar mohar, sebuah istilah Ibrani yang hanya muncul di tiga tempat (Kej. 34:12 “mahar”; Kel. 22:16-17/15-16; 1Sam. 18:25
“maskawin”).29 Kata Ibrani mohar merujuk suatu kompensasi yang ditentukan langsung oleh ayah atau wali mempelai wanita karena keluarga wanita kehilangan semua pelayanan yang sebenarnya dapat dilakukan wanita itu termasuk potensi keturunannya yang akan lahir dari rahimnya, berhubung sejak menikah ia menjadi bagian dari keluarga suami seperti dalam sistem patrilokal (Lipiński, VIII.143f). Bentuk mohar biasanya uang, tetapi bisa juga suatu tindakan (Kej. 34:12) atau suatu pengabdian (1Sam. 18:25) yang diminta oleh ayah calon mertua.
29 Mahar adalah pemberian wajib berupa uang atau barang dari mempelai pria kepada mempelai perempuan ketika akad nikah berlangsung.
166 Yakub harus bekerja tanpa upah untuk calon mertuanya selama 14 tahun demi memperistri Rahel (Kej. 29:18-28).
Dalam kasus Sikhem memerkosa Dina, lalu ingin mengawininya karena cinta, ia siap membayar mohar umattan (Kej. 34:12 “uang jujuran dan uang mahar”) berapa pun besarnya.
Jujuran adalah hasil bagi secara ikhlas atas usaha kerja sama (yang satu mendapat sepertiga bagian dan lainnya dua pertiga).
Meski TB di sini tidak tepat, dibedakan dua macam pemberian.
Ada sebuah contoh saat Ribka dilamar (Kej. 24:53), ada pemberian untuk Ribka dan yang untuk keluarganya (saudara laki-laki dan ibunya). Dalam bahasa Akkadia, terhatum adalah pemberian oleh mempelai pria untuk mempelai wanita dan biblum untuk keluarga mempelai wanita (Sarna 1989, 168).
Berdasarkan itu, mohar umattan dimaknai sebagai dua pemberian; mohar (jumlahnya sesuai ketentuan adat) bukan uang untuk membeli istri melainkan pemberian untuk mempelai wanita dan mattan untuk keluarga mempelai wanita (KD, I.200;
Sarna 1989, 235). Namun, ada juga yang memaknai mohar untuk keluarga mempelai wanita (diberikan saat melamar), sedangkan mattan pemberian untuk menopang kehidupan wanita itu apabila menjanda karena diceraikan seperti praktik di Mesopotamia (Wenham 1987, 313). Demikian beberapa terjemahan lain memaknainya demikian (TNK “a bride-price ... as well as gifts”;
N/RSV “present and gift”). Alternatif tafsir mohar umattan adalah membaca kedua kata itu sebagai sinonim yang membentuk hendiadis untuk maskawin (NJB “a bride-price”; NAB “the bridal price”).30
Dalam hukum Taurat (Kel. 22:16-17), apabila laki-laki membujuk gadis yang belum bertunangan hingga bersetubuh, ia harus mengawininya dengan “maskawin anak perawan” (ay. 17 mohar habbĕtulot). Namun, kalau ayah perempuan itu tidak merestui anaknya menikah dengan laki-laki itu, maskawin tetap dibayar, bukan sebagai mahar, melainkan uang kompensasi atau sejenis sanksi adat (Lat. pretium virginitatis), yang memang besarnya sama dengan mahar.31 Alasan penolakan sang ayah
30 Speiser, 265; Hamilton 1995, 358, 361.
31 KD, I.413; Childs 1974, 477.
167 mungkin karena laki-laki itu memiliki iktikad buruk.32 Hukum Yahudi di kemudian hari (halaka) memberi hak kepada sang ayah untuk tidak membiarkan putrinya menikah dengan orang yang telah memerkosanya (Tigay, 208). Mungkin bĕtula dalam frasa mohar habbĕtulot tak persis berarti kegadisan, sebagaimana kata itu bisa merujuk perempuan sudah menikah (Yl. 1:8), melainkan merujuk perempuan yang sudah memenuhi syarat untuk menikah.33
Meski bukan uang untuk membeli istri, mohar dalam praktiknya diperlakukan sebagai harga pembelian calon istri. Lea dan Rahel mengeluh kepada suaminya tentang ayah mereka,
“Bukankah kami ini dianggapnya sebagai orang asing, karena ia telah menjual kami? Juga bagian kami telah dihabiskannya sama sekali” (Kej. 31:15; har. “... juga uang kami telah dihabiskannya sama sekali”). Uang apa yang dimaksud kedua putri Laban? Jelas Laban tidak menjual kedua putrinya kepada Yakub yang waktu datang dalam keadaan tidak punya apa-apa dan karena itu ia bersedia bekerja untuk calon mertuanya sampai 14 tahun demi memperoleh Rahel. Ungkapan kedua putri Laban ini merefleksikan setidaknya dalam masyarakat kuno Israel, ayah mempelai perempuan boleh memakai sebentar uang mahar. Uang itu, sebagian atau seluruhnya, harus kembali kepada putrinya pada waktu menerima warisan atau waktu ia jatuh miskin karena suaminya meninggal. Namun, Laban tak meninggalkan apa-apa bagi kedua putrinya yang mungkin merasa berhak atas nilai ekonomis pengabdian Yakub selama 14 tahun. Maka, Laban
32 Di Timur Tengah sampai sekarang, hubungan seks di luar nikah masih menjadi aib besar bagi keluarga perempuan, yang hanya dapat dipulihkan dengan pernikahan. Namun, kewajiban mengawini itu buah simalakama bagi perempuan. Amina Filali, gadis Maroko berusia 15 tahun, dipaksa menikah dengan pemerkosanya atas desakan ibunya yang tidak ingin melihat putrinya seumur hidup melajang karena sudah bukan gadis lagi, juga atas desakan keluarganya dan seorang hakim. Dalam masyarakat patriarki yang secara irasional menjunjung kegadisan, kans Amina untuk menikah dengan pria lain memang menjadi sangat sempit. Apalagi di Maroko, ada pasal hukum pidana yang membebaskan pemerkosa anak di bawah umur jika sang pemerkosa menikahinya. Namun, Amina mendapati rumah tangganya jauh dari bahagia. Karena tidak tahan lagi dengan kekerasan dalam rumah tangga yang dialaminya, saat berusia 16 tahun, ia hanya melihat satu jalan keluar.
Bunuh diri. Sebuah tragedi pada abad ke-21!
33 Lipiński, VIII.144; Durham, 327.
168
“menjual” kedua putrinya tak dimengerti secara harfiah melainkan bahasa protes anak kepada sang ayah yang menelantarkan masa depan (Hamilton 1995, 289f).
B. Zina
Zina adalah hubungan seksual yang dilakukan atas dasar suka sama suka oleh seorang laki-laki dan istri orang (masih hidup), tak soal apakah status laki-laki itu sudah atau belum menikah. Suami perempuan itu berhak marah besar dengan sanksi amat serius: laki-laki dan istri yang berzina dihukum mati (Im. 20:10-12; Ul. 22:22;
LXX moicheuo; bdk. Yoh. 8:4).
bila seorang laki-laki berzina (yin’ap) dengan istri orang lain, yakni berzina (yin’ap) dengan istri sesamanya manusia, pastilah keduanya dihukum mati, baik laki-laki (no’ep) maupun perempuan yang berzina (no’epet) itu. (Im. 20:10)
Laki-laki yang berzina digambarkan berada di jalan kematian (Ams.
2:16-19; 5:3-14; 7:5-27).34
Zina (n’p) di sini lebih dilihat sebagai pelanggaran sosial, melanggar hak eksklusif suami untuk tubuh istrinya dan untuk memiliki jaminan bahwa anak yang lahir dari istrinya itu benar anaknya, bukan benih laki-laki lain (Baab, I.51). Apabila laki-laki yang berzina sudah beristri, kesalahannya bukan terutama kepada istri sendiri (mengkhianati pernikahan), melainkan kepada suami perempuan itu, sebab ia telah mengambil yang bukan miliknya dan merusak sebuah relasi suami-istri (Freedman, IX.114). Demikian bias jender dalam hukum larangan berzina.
Apabila perintah kelima Dekalog (hormatilah orang tuamu) melindungi keutuhan internal keluarga (relasi anak dan orang tua), maka Perintah Ketujuh (Kel. 20:14//Ul. 5:18 lo’ tin’ap “jangan berzina”) melindungi keutuhan keluarga (relasi suami-istri) dari
34 Ketika para ayah atau suami berharap Tuhan menghukum perempuan-perempuan Israel yang berzina ataupun melacur, Nabi Hosea justru tidak terlalu menyalahkan perempuan-perempuan itu karena mereka sudah dinodai oleh laki-laki Israel (Hos. 4:13-14).
169 gangguan eksternal. Karena kuatnya status pertunangan seperti relasi suami-istri, pria yang bersetubuh dengan perempuan yang sudah bertunangan, keduanya terkena sanksi hukuman mati (Ul.
22:23-24). Kalau seorang laki-laki memerkosa perempuan yang sudah bertunangan, laki-laki itu saja yang dihukum mati (Ul. 22:25-27). Beratnya hukuman zina mengindikasikan kekudusan lembaga pernikahan. Melanggar kesucian pernikahan adalah dosa serius (bdk. Kej. 20:9; 39:9). Raja pun tidak boleh melanggar kesakralan nikah (bdk. Kej. 12:10-20; 20:2-18; 2Sam. 11-12), ia bisa dihukum Allah. Lembaga pernikahan dalam PL bersifat otonom, mungkin sejajar dengan lembaga kerajaan.
Zina dalam PL tak sama dengan melakukan hubungan seksual di luar nikah seperti dalam melacur (Kej. 38:24 zana).35 Kadang zana tak dibedakan dari na’ap dan diterjemahkan sebagai berzina (Ul. 31:16; tetapi NIV, NRSV “to prostitute oneself”; RSV, NKJV, NJB
“to play the harlot”). Dalam melacur, hubungan seksual dijual kepada orang yang membayar “upah sundal” (Hos. 9:1; Yeh. 16:41
’etnan), tanpa prasyarat cinta dan karena itu tidak harus merusak hubungan pernikahan yang ada. Akan tetapi, setiap hubungan zina melibatkan cinta dan tanpa bayaran dan karena itu pasti merusak hubungan cinta dengan pasangan hidup. Meski tak direstui agama, dunia kuno masih memberi toleransi kepada pria yang melakukan hubungan seksual dengan pelacur. Namun, Rasul Paulus dalam 1 Korintus 6 memandang serius dosa berhubungan dengan pelacur,
“orang yang bercampur dengan seorang pelacur menjadi satu dengan pelacur itu … semua dosa lain yang dilakukan orang terjadi di luar tubuh orang itu, tetapi orang yang berbuat yang cabul berarti berbuat dosa terhadap tubuhnya sendiri” (*ay. 16, 18). Pelacuran juga dipakai Paulus sebagai metafora untuk relasi umat-Tuhan,
“orang yang menyatukan dirinya dengan Tuhan, Roh Tuhan dengan roh orang itu menjadi satu” (*ay. 17). Karena Tuhan tak bertubuh, kesatuan umat dengan Tuhan bukan “menjadi satu daging”
melainkan “satu roh” (ay. 16-17, TB). Umat Israel PL ketika melacurkan diri kepada ilah lain (merusak hubungan perjanjian dengan Tuhan) digambarkan sebagai tidak setia dan ketidaksetiaan
35 Nomina untuk pelacuran bisa zĕnunim (Hos. 1:2), zĕnut (Yer. 13:27), atau taznut (Yeh. 16:26).
170 itu dipandang sebagai zina rohani (Hos. 2:1; 3:1-3). Umat yang melanggar perjanjian itu dimetaforakan sebagai “istri yang berzina”
(Yeh. 16:32; bdk. Yer. 5:7-8). Begitu bersemangatnya mereka menyembah ilah lain, sehingga mereka digambarkan melacurkan diri tanpa dibayar, malah membayar (Yeh. 16:31-34).
Larangan zina diperkuat dengan perintah kesepuluh Dekalog (Kel. 20:17/Ul. 5:21 lo’ taḥmod “jangan mengingini”), dengan verba Ibrani ḥamad sejajar dengan ’wh (Ul. 5:21
“menghasratkan”). Verba ḥamad dalam konteks ini tidak merujuk kecenderungan manusiawi untuk serakah, juga bukan karena tingginya nilai ekonomis istri (Baker 2009, 31f), melainkan kuatnya hasrat memiliki sesuatu milik orang lain menjadi miliknya (Sarna 1991, 114), yang soal waktu saja untuk mengambil sesuatu yang bukan miliknya. Keinginan, emosi, dan pikiran adalah tiga unsur penting di pusat kepribadian. Perintah Kesepuluh hendak mengatakan bahwa keinginan yang beroperasi di pusat kepribadian tak kalah seriusnya dengan tindakan (Yak.
1:14-15 “tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri … dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa”).
Keinginan yang begitu kuat untuk memiliki yang dimiliki orang lain sama salahnya dengan tindakan konkret sebagai buah keinginan seperti itu. Yang berbeda hanya ongkos sosialnya.
Keunikan Perintah Kesepuluh di antara hukum-hukum kuno Timur Tengah adalah menyangkut (etika) keinginan, sementara sembilan perintah Dekalog lainnya juga menyangkut perbuatan dan perkataan (Baker 2009, 30-36). Dosa juga soal keinginan dan tak boleh dianggap sepele. Kendati tiada sanksi fisik untuk dosa keinginan,36 Allah menilai manusia secara holistik termasuk aktivitas hati yang tak kasatmata tetapi tak tersembunyi dari mata Allah (bdk. Kej. 6:5; 1Sam. 16:7).
Yesus Kristus mengaitkan keinginan seperti itu dengan memandang (Wallis, 457f).
36 Ada sanksi fisik untuk sembilan perintah Dekalog lainnya (Kel. 22:20; Ul.
17:2-7 menyembah ilah lain; Im. 24:16 menyebut nama TUHAN dengan sia-sia; Kel. 31:14-15 melanggar hari sabat; Kel. 21:15, 17; Im. 20:9; Ul. 21:18-21 tak menghormati orang tua sendiri; Kel. 21:12; Im. 24:21 membunuh; Im.
20:10; Ul. 22:22 berzina; Kel. 22:1-4 mencuri; Ul. 19:16-21 bersaksi dusta).
171 kamu telah mendengar firman: jangan berzinah, tetapi Aku berkata kepadamu: setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzina dengan dia di dalam hatinya. (Mat.
5:27-28)
Bukan cuma cinta yang turun dari mata ke hati tetapi juga nafsu liar. Karena itu, Yesus melanjutkan dengan mengawasi mata kita,
“Jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, daripada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka” (ay. 29). Di sini tentu tidak boleh dimaknai sepenuhnya harfiah. Maksudnya adalah mata adalah pintu bagi keinginan, maka hati-hatilah melihat dengan mata agar tidak muncul hasrat mengingini istri orang dan kemudian melahirkan perbuatan zina. Ini sebuah pengandaian hipotetis (“jika ....”).
Maka, bukan kedua mata dicungkil melainkan cukup satu saja.
Zina Daud berawal ketika ia “melihat” (*2Sam. 11:2), lalu menginginkan istri Uria. Hawa juga awalnya “melihat” buah pohon terlarang dan kemudian mengingininya (Kej. 3:6).
Tujuan hukum Taurat adalah menyatakan pelanggaran moral sebagai dosa (bdk. Yak. 2:9). Perintah Kesepuluh bertujuan preventif untuk mencegah perzinaan. Untuk itu, mata (sebagai gerbang hasrat) dikontrol agar tak terjadi zina di hati yang kualitasnya sama dengan zina aktual, hanya berbeda konsekuensi sosial. Hukum sekuler tidak mengadili pikiran atau niat seseorang sejauh belum membuahkan tindakan kriminal, tetapi hukum Taurat dan Yesus melihat pelanggaran manusia secara holistik. Dosa bukan hanya perbuatan tetapi juga keinginan. Jika sudah beres dengan keinginan sendiri, zina dan pencurian tak akan terjadi. Tidak benar seluruhnya bahwa hukum Taurat hanya berurusan dengan tindakan lahiriah (ortopraksis) sehingga dianggap lebih rendah dari hukum-hukum dalam PB yang dianggap lebih rohani.
Dekalog ditutup dengan kendali atas keinginan yang dalam PL terpusat di hati (ortokardia).