• Tidak ada hasil yang ditemukan

Alam Semesta

B. Yerusalem Baru

IV. Kesetaraan Gender

Karena status wahyunya, teks kitab suci sering dibaca apa adanya. Pengaruh kultur yang dipakai sebagai wahana pewahyuan cenderung diabaikan. Subordinasi perempuan pun diimani sebagai sudah kodrat (sesuai tata cipta) dan tak perlu dipersoalkan (Jewett, 86-94). Kodrat laki-laki memimpin dan perempuan dipimpin. Moralitas patriarki dalam PL (juga PB) seperti itu lalu dipelihara gereja. Otoritas tafsir dikuasai laki-laki.

Menggugat supremasi laki-laki dan tafsir tradisional pendukungnya dipandang melawan kodrat. Tafsir bias gender diperlakukan sebagai kebenaran, meski berimplikasi diskriminasi peran perempuan di ruang publik. Tiada sikap membela hak perempuan dari diskriminasi, malah sikap masa bodoh ketika perempuan menjadi korban kekerasan. Tentu saja tafsir bias gender harus dikoreksi, terlebih apabila dasarnya adalah teks-teks deskriptif. Koreksi tafsir bukan revisi teks-teks. Tidak bisa atas 144), dan karena itu maknanya tak sekadar perasaan tetapi juga membela objek bela rasa, sayangnya makna itu berada di luar medan semantik akar rḥm.

22 Hubungan itu ditegaskan Trible (1978, 31-71), tetapi dibantah Kronholm (h.

454).

23 Ungkapan raḥamatayim (*Hak. 5:30 raḥam raḥamatayim “satu atau dua perawan”) termasuk kasar, berlaku di kalangan tentara untuk teman kencan wanita (CHALOT, 337).

138 nama progresivisme, teks bias gender dianggap firman laki-laki (boleh dibuang) dan teks tak bias gender dianggap firman Tuhan.

Karena kultur kuno Timur Tengah (termasuk yang melatari penulisan PL) memberi ruang bagi eksploitasi perempuan, kesetaraan gender dalam narasi penciptaan merupakan terobosan sangat penting. Karena ketegangan di antara teks deskriptif dan teks preskriptif (ideal), perlu strategi pembacaan yang memihak teks pendukung kesetaraan dan keadilan gender.

Teologi gender yang berdasarkan kesetaraan hakikat perlu ditonjolkan karena terlalu banyak teks Alkitab menegaskan subordinasi perempuan dalam status sosial, kedudukan hukum, dan martabat. Reformasi Protestan disinyalir memunculkan sebuah kekristenan berkualitas maskulin, dengan menyingkirkan kualitas seperti dalam devosi Maria yang merepresentasikan rahmat dan kasih tanpa syarat (Fromm 1987, 177-79). Hilangnya karakter feminin di dalam Kristen Protestan membuat kerja keras jadi penting sebagai bentuk panggilan Tuhan (lutheranisme) dan kekayaan penting tidak hanya sebagai hasil kerja keras tetapi juga sebuah tanda duniawi umat terpilih (Calvinisme).

Protestanisme kompatibel dengan dunia kerja dan industri, berwajah agama industri, meski dengan ekses mereduksi manusia menjadi budak ekonomi untuk mekanisme buatan manusia sendiri.

Tanpa menyingkirkan teks deskriptif Alkitab atau menafsirnya secara alegoris, dasar kesetaraan gender adalah teks preskriptif (manusia tercipta menurut citra Allah). Isu kesetaraan gender sepatutnya tidak hanya dibela kaum feminis, tetapi juga semua orang yang membela kemanusiaan, sebab isu itu menyangkut Hak Asasi Manusia (HAM) yang tak hanya melekat pada perempuan (private property), melainkan milik bersama semua orang (common property). Perjuangan untuk kesetaraan gender adalah urusan semua orang yang melek gender. Itu butuh kerja keras, tidak cukup hanya merujuk teks preskriptif Alkitab, sebab tafsir bias gender mengokohkan patriarki (bdk. Muttaqin) dan perlu kritik dari tafsir sensitif gender. Nilai-nilai dasar patriarki tak cocok dengan modernitas berbasis kesetaraan gender dan HAM yang tak berbasis gender.

139 Kendati disanjung dalam puisi dan lagu, perempuan sering diposisikan sebagai pelengkap hidup (lebih malang lagi pelengkap penderita) bagi laki-laki. Tidak semua haknya diakui sehingga tetap marak kasus-kasus kekerasan, pemerkosaan, perdagangan perempuan, atau diskriminasi apresiasi. Padahal, stereotip ketidakadilan gender itu dipengaruhi banyak faktor (ideologi, ekonomi, sosial, dan budaya) dan tersosialisasi sejak usia dini, dari generasi ke generasi. Bias gender dalam peran dan kedudukan masih berlangsung. Perempuan dianggap sebagai “benda”. Istri ideal menurut Serat Centhini digambarkan dengan lima jari tangan.

Ibarat jempol, ia harus pol sepenuhnya mengabdi kepada suami.

Ibarat telunjuk, ia harus patuh kepada petunjuk dan perintah suami.

Ibarat panunggul (jari tengah), ia harus mengunggulkan dan menghargai hasil kerja suami betapa pun tak berartinya. Ibarat jari manis, ia harus bersikap manis kepada suami apa pun rasa di hati.

Ibarat jenthik, ia harus selalu othak-athik hati-hati dan teliti, rajin dan terampil melayani dan menjalankan tugas dari suami.

Subordinasi perempuan yang tak sesuai tata cipta ini dilestarikan kultur manusia.

Di Indonesia sudah berkembang pendekatan atas masalah sosial dan tafsir kitab suci dari perspektif gender. Namun, hak asasi perempuan secara struktural masih rentan dilanggar dan itu tak selalu terkait kemiskinan (bdk. Sadli). Raden Ayu Kartini, istri keempat seorang bupati, yang relatif memiliki akses fasilitas kesehatan, meninggal pada usia 25 tahun, sepuluh bulan setelah menikah dan sakit-sakitan selama hamil, menjadi kian parah menjelang bersalin. Tradisi menempatkan dirinya menjadi milik laki-laki, dipaksa nikah, dan terpaksa mengubur cita-citanya menjadi perempuan mandiri. Ia mati muda karena penderitaan fisik dan psikologis. Tak banyak laki-laki yang serius berbagi kuasa dengan perempuan. Keadaan itu lebih diperparah dengan keengganan perempuan untuk menjemput hak-haknya yang dibatasi. Alhasil, perempuan selalu menjadi kelompok terbesar masyarakat yang hak-haknya terpinggirkan. Terlahir sebagai perempuan memiliki implikasi baik sosial maupun ekonomi. Maka, harus ada upaya terorganisir untuk memperjuangkan dan memasyarakatkan kesetaraan gender.

140 Gerakan feminis di Barat merupakan reaksi melawan dominasi laki-laki dengan kritik terhadap kategori-kategori feminin produk kultur maskulin. Sumber gerakan emansipatif itu adalah eksistensialisme yang menolak kodrat bawaan manusia. Ironisnya, hal-hal yang dijunjung laki-laki (kebendaan, status, kekuasaan, kekuatan fisik, kompetisi, dst.) malah mendapat legitimasi baru dan dilestarikan. Yang biasa dijunjung laki-laki namun dikritik feminisme sebagai membatasi ruang gerak dan menindas perempuan, justru sekarang diingini perempuan demi sebuah pengakuan. Sukses perempuan dikaitkan dengan bisnis. Perempuan berpolitik dianggap luar biasa. Ibu rumah tangga, guru, atau perawat yang baik tidak menjadi bahan berita, seolah-olah biasa.

Akibatnya, tidak sedikit perempuan yang bimbang dengan peran tradisionalnya, sampai-sampai ada yang merasa tak berguna karena hanya mengasuh anak. Salah kaprah feminisme terjadi ketika itu disederhanakan sebagai sikap antilelaki atau menolak peran ibu rumah tangga. Keberadaan kementerian khusus mengurusi perempuan tidak lantas berarti kemajuan dalam emansipasi perempuan, apabila menterinya masih terkungkung nilai-nilai maskulin. Sementara itu, eksploitasi alam, perebutan kekuasaan, korupsi, kemerosotan akhlak, brutalitas, dan kekerasan tetap berlangsung, malah ditambah peran dari perempuan. Terlahir sebagai perempuan atau laki-laki mestinya sama baik. Tidak apa-apa juga menjadi ibu atau istri, sejauh itu sebuah pilihan hidup yang diambil seorang wanita dewasa (bdk. Marching).

Dunia politik didominasi nilai-nilai maskulin (agresif, mendominasi, berkompetisi, asertif) dan tak memberi ruang untuk nilai-nilai feminin (bdk. Endriani). Politik pun disederhanakan sebagai urusan menang kalah. Wajah maskulin dunia politik hasil konstruksi sosial androsentris yang menampilkan sisi otoriter kekuasaan (power over), berkuasa untuk memaksakan keinginan, tak sensitif dengan kepentingan rakyat yang dipimpin, lebih mengutamakan kepentingan sesaat.

Namun, ada sisi lain kekuasaan, berkuasa untuk melakukan kebaikan (power to), sebuah karakteristik feminin politik yang menyelesaikan masalah dengan lebih mengedepankan negosiasi, lobi, perundingan, kompromi, kebersamaan, dan empati. Itu juga

141 mungkin salah satu alasan tak terungkap bahwa perempuan enggan memasuki dunia politik dan pada gilirannya membuat suaranya tidak menentukan.

Namun, dunia yang dikuasai sifat-sifat maskulin membuat dunia dengan segala kemajuannya juga mengalami kemunduran.

Karena itu, selain argumentasi kesetaraan kodrat, ada upaya mempromosikan dan melestarikan sifat-sifat feminin (pasif, sabar, memelihara, lembut, memelihara harmoni, tidak eksploitatif) untuk mengimbangi dominasi maskulin, untuk menahan laju kehancuran dunia, untuk masa depan dunia yang lebih baik (bdk. Megawangi; Sukidi). Dari penelitian Cantor dan Bernay terhadap 24 perempuan politisi di berbagai negara bagian di Amerika Serikat, disimpulkan, “Sumbangan terbesar perempuan berpolitik dikarenakan kepeduliannya yang besar pada nasib rakyat, bukan dikarenakan naluri memperkuat jaring-jaring kekuasaan.”

Sejak 1979, Indonesia sudah meratifikasi konvensi yang disusun Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan. Ada Hari Perempuan Internasional (8 Maret),24 Hari Ibu (22 Desember), dan Hari Kartini (21 April), tetapi hakikat perempuan tak lantas membaik.

Untuk memperingati Kartini, diadakan lomba berbusana tradisional atau kewajiban berkebaya. Untuk memperingati Hari Ibu, digelar lomba masak untuk bapak, seolah-olah soal kesetaraan gender selesai dengan pria memasak. Cita-cita perjuangan Kartini adalah memperjuangkan kesempatan sama untuk perempuan dalam pendidikan. Akses sama untuk perempuan ke dunia kerja, dunia politik, dan kepemimpinan juga harus diperjuangkan. Tak relevan alasan bahwa perempuan memiliki kendala partisipasi di luar rumah karena fungsi reproduksinya.

Masalah gender bersifat kultural dan struktural. Masyarakat dan gereja sering membatasi peran perempuan hanya di wilayah domestik. Konsentrasi tertinggi pegawai negeri perempuan masih

24 Hari Malala (12 Juli) dideklarasikan PBB mulai 2013, bertepatan dengan hari lahir Malala Yousafzai, gadis Pakistan (16) yang ditembak Taliban di dahi kirinya pada 12 Oktober 2012, karena aktivitasnya memperjuangkan hak anak perempuan di wilayahnya agar kembali bisa bersekolah.

142 di departemen yang mengurusi kesehatan dan pendidikan. Hal merawat dan mengajar merupakan kepanjangan tugas perempuan secara tradisional. Solusi pemberdayaan potensi-potensi perempuan juga harus struktural. Perlu pendekatan struktural sebagai terobosan untuk mendorong partisipasi perempuan. Struktur-struktur yang adil perlu disengajakan.

Emansipasi terjadi dengan peningkatan keterlibatan perempuan dalam politik, lembaga administrasi sipil, serikat kerja, wartawan, dan wilayah kerja lain yang biasa didominasi laki-laki. Moto

“surga di bawah telapak kaki ibu” tak boleh menguatkan asumsi bahwa hanya ibu yang bertanggung jawab penuh mengasuh anak.

Ayah sama bertanggung jawabnya dalam mengasuh anak, terutama jika istri juga mencari nafkah. Sudah ada sanksi hukum bagi tindak kekerasan dalam rumah tangga, tetapi sayang akar kekerasan itu masih terstruktur dalam Undang-Undang Perkawinan yang mengatur tegas pembagian kerja stereotip laki-laki sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab atas nafkah keluarga dan perempuan sebagai ibu rumah tangga yang bertanggung jawab atas urusan domestik. Stereotip yang memojokkan posisi perempuan perlu dihapus, sebab konsekuensi legalisasi pembagian kerja jadi tak adil bagi perempuan. Apabila cerai atas inisiatif istri atau tuduhan mendurhakai suami, ia layak tak dinafkahi suami, padahal mungkin ada alasan fundamental istri minta cerai.